Dark Not always Black (Part 4)

Author: Queen Bee

Yeorum POV

“Yeorum Tiaraaaaappppp!” Itu suara Kyuhyun Oppa. Aku  merebahkan tubuhku ke tanah. “Berhenti di sana.” Perintah Kyu Oppa padaku..

TAR!!TAR!!TAR!!!

Aku menutup kupingku menghindari bunyi desingan senjata yang saling beradu di atasku. Tubuhku menggigil. Oppa…eonni jangan tinggalkan aku. Tangisku tertahan. Tanpa kusadari tembak-menembak telah berakhir.

“Yeorum-a, irona.” Kyu Oppa membantuku berdiri.

“Kyu Oppa? Kau?”

“Aku akan menjelaskannya padamu nanti.”

“Tapi oppaku…”

“Kita tinggalkan dulu tempat ini.” Ajaknya.

Ani, aku mau melihat oppa dan eonniku sekarang.”

“Jangan sekarang, nanti saja.” Bantahnya, lalu menarik paksa tubuhku mengikutinya menuju mobil patroli.

Ani…aku mau melihat oppaku sekarang.” Paksaku, lalu memutar balik tubuhku  menuju oppa dan eonni.

Tapi langkahku terhenti. Seorang pria berseragam polisi tengah memeluk kepala oppaku sambil menangis. Eonniku tertidur disebelah oppaku. Tangan mereka saling berpegangan.

Andwae oppa, ANDWAEEEEEEEEEE…!!!” Pandanganku tiba-tiba menjadi gelap.

Saat tersadar aku sudah ada di rumah sakit.

Beberapa waktu kemudian setelah pemakaman.

Kyu Oppa bercerita padaku kalau para penjahat itu tertangkap tak lama kemudian. Bos besar yang juga mantan Jendral dari kepolisian itu sendiri tewas tertembak dengan 12 lubang peluru para sniper di tubuhnya. Hyukjae Oppa di vonis lima tahun penjara. Sedangkan Brandy di jatuhi hukuman mati.

Setelah drama penculikan dan operasi besar yang menyeret kematian Donghae Oppa dan Gaul Nuna, aku dilarikan ke rumah sakit. Jiwaku terpukul untuk yang kedua kalinya. Aku masih tak mengerti apa yang terjadi. Mengapa aku dan Gaul Eonni di culik? Mengapa Donghae Oppa terlibat dalam masalah ini? Mengapa ia berteman dengan Hyukjae Oppa? Apa sebenarnya pekerjaan oppaku selama ini? Mengapa orang-orang yang kucintai harus pergi dengan cara ini? Mengapa harus Hyukjae Oppa yang melakukannya? Mengapa….? Mengapa…?

“Yeorom-a…. bagaimana keadaanmu sekarang?” Kyu Oppa bertanya.

Tak ada jawaban yang bisa kuberikan. Rasa sedih dan kehilangan orang–orang yang paling kucintai setelah ditinggal eomma dan appa kembali merayapi hatiku. Jika saat itu aku masih memiliki Donghae Oppa, aku masih bisa berdiri. Namun saat ini aku hanya sebatang kara, tak ada pegangan, tak ada pelindung dan tak kenal siapapun. Aku harus bagaimana? Aku akan bagaimana? Oh Tuhan, apa yang kau rencanakan untuk hidupku? Air mataku kembali membasahi pipi.

Oppa, kau siapa sebenarnya? Mengapa kau juga ada di sana saat itu?” Tanyaku dalam tatapan yang nanar. Dia hanya menatapku dalam.

Satu menit…

Dua menit….

Tiga menit…

Karena dia masih tak menjawab, aku kembali dalam duniaku.

“Yeorum-a. kau harus kuat.” Suaranya membuyarkan lamunanku. Namun aku masih duduk mematung.

“Yeorum-a…” Panggilnya lagi. Dia mendekatiku lalu memelukku erat. Kalau kau ingin menangis, menangislah di pundakku.” Pintanya.

Aku membalas pelukannya, seketika tangiskupun pecah di dadanya.

“Kyuhyun Oppa, na eottohkeeee…..? Eottohkeeee? Eottohkeeee?

Gwaenchana, masih ada aku. Aku yang akan menjaga dan melindungimu.” Balasnya.

☺☺☺☺☺

Aku duduk memandang taman dari jendela lantai tiga rumah sakit. Di bawah kulihat dua orang kakak beradik sedang bercanda sambil berlarian. Tawa kebahagiaan terlihat jelas dari wajah keduanya. Oppa…aku merindukanmu.

Tanpa sadar aku berjalan keluar kamar. Terus berjalan menuju taman tempat aku melihat kakak beradik tadi. Tapi mereka sudah pergi, akupun terjatuh di atas rumput. Sinar matahari pagi yang hangat sehangat air mata yang membasahi pipiku. Namun udara musim semi yang dingin telah membekukan hatiku. “Oppa, eonni bogosippo…” bisik lirih bibirku yang nyaris tak bersuara.  Tiba-tiba seseorang menyampirkan sweater hangat dipunggungku.

Kyuhyun POV

Aku mengunjunginya ke rumah sakit, namun dia tak ada di ruangannya. Aku mencarinya kemana-mana, ternyata dia sedang berjalan menuju taman. Dia terduduk lemas di atas rumput. Aku melihat kilauan air mata jatuh dari pipinya yang diterpa sinar mentari musim semi ini. Poninya yang panjang menutupi raut wajahnya yang kelelahan. Aku merasakan beban derita yang dipikul hatinya. Yeorum-a, apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu kembali sperti sediakala?

Kulangkahkan kakiku, dan menyampirkan sweater hangat miliknya.

“Yeorum-a, no gwaenchana?” Tanyaku lembut.

Dia menoleh padaku. Matanya sembab karena menangis semalaman. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang amat sangat. Dia semakin kurus, karena sejak kematian oppa dan eonninya dia menolak untuk makan. Karena itu cairan infus menggantikan asupan gizi yang harus masuk ke tubuhnya. Namun selang makanan itu kini sudah terlepas dari lengannya. Tarikan jarum secara paksa meninggalkan bekas luka di pergelangan tangannya.

Oppa…na eottohke…? Eottohke oppa?”

Gwaenchana, oppa akan selalu menemanimu. Kau harus belajar untuk lebih kuat dan tegar menjalani hidup. Donghae Hyong dan Gaul Nuna pastilah tidak suka melihat kau begini.”

“Kau tak tahu perasanku, oppa!! Karennya kau bisa berkata seperti itu. Kau tak tahu bagaimana rasanya kehilangan ibu dan ayah sekaligus, dan kini aku juga sudah kehilangan oppa dan eonniku secara bersamaan. Mereka mati di hadapanku. Katakan oppa, bagaimana kau bisa tahu perasaanku??? Kau tak pernah kehilangan satupun dari mereka oppa!!!” Dia menghardikku. Air mata itu tak berhenti mengalir dari pipinya. Ledakan emosi yang ditahannya keluar seperti semburana larva gunung berapi.

“Yeorum-a, oppa memang tak tahu bagaimana perasaanmu, tapi percayalah oppa akan selalu bersamamu.” Aku mencoba menenangkannya.

“Itu juga yang pernah dikatakan Donghae Oppa padaku. Oppaku telah berjanji akan selalu bersamaku. Oppaku berjanji tak akan pernah pergi dariku. Dulu oppa meninggalkanku bersama Gaul Eonni. Tiga tahun lamanya aku tak pernah melihat wajahnya, lalu dia datang, itu tak apa, yang penting oppaku masih ada. Tapi ….kini oppa meninggalkanku untuk selamanya. Ke ujung dunia mana aku harus mencari agar aku bisa menemukannya, oppaOppaku pembohong, oppaku menipuku.

Oppaaaa…. Kenapa kau tidak membawaku? Eonni kenapa kau meninggalkanku? Alangkah baiknya kalau aku juga tertembak saat itu. Kyuhyun Oppa, mengapa kau menyelamatkanku?? Mengapa?? Apa kau ingin melihatku kesepian seperti ini?!!!” Jeritannya semakin histeris.  Dia memukul-mukul dadaku. Aku memeluknya erat.

“Yeorum-a, jangan berkata begitu. Jangan berkata seolah kau tak ingin hidup lagi. Aku menyelamatkanmu karena itu adalah tugasku. Yeorum-a kumohon jangan pernah berkata seperti itu lagi. Apa kau juga ingin melihatku kesepian jika kau pergi? Yeorum-a aku benar-benar berjanji akan selalu bersamamu. Aku yang akan menjagamu, aku yang akan melindungimu. Aku yang akan menjadi eomma dan appa untukmu, aku yang akan menjadi oppa dan eonni untukmu, karena aku…karena aku mencintaimu Yeorum-a.” Aku masih memeluknya.

“Aku tahu ini bukan saat yang tepat, tapi aku tulus mencintaimu dari hatiku yang terdalam. Yeorum-a lepaskan beban hatimu, sandarkan kelelahanmu padaku. Andalkan aku dalam setiap gerak langkahmu, dan berjanjilah untuk tak akan pernah meninggalkanku. Yeorum-a saranghaeyo, saranghaeyo Yeorum-a.”  Air mataku membasai rambutnya yang panjang.”

Dia tak menjawab perkataanku, akupun tak butuh jawabannya. Yang aku tahu aku mencintainya. Dia hanya memelukku lebih erat, seerat aku memeluknya dalam dekapanku. Panas matahari menghangatkan cinta kami yang tak terucapkan.

Lelah menangis di rumah sakit aku mengajaknya keluar. Walau tak bisa mengikis habis luka hatinya, namun Yeorum terlihat sedikit lega. Kami berjalan sambil bergandengan tangan menuju taman kota. Banyak anak-anak bermain di sana. Saat sedang duduk di bangku taman, seorang anak laki-laki kira-kira berusia tujuh tahun menghampiri kami.

Nuna, apa kau sakit?” Tanyanya pada Yeorum.

“Bagaimana kau tahu?” Tanya Yeorum balik.

Nuna memakai pakaian yang sama dengan eommaku saat akan dioperasi di rumah sakit itu.” Dia menunjuk rumah sakit tempat Yeorum menginap.

Guraeyo, lalu bagaimana keadaan eommamu?”

Eomma…eomma sudah di bawa Tuhan ke langit. Aku tinggal bersama appa di sini sampai Tuhan juga membawa kami bersama untuk berjumpa eomma.” Anak laki-laki itu tersenyum.

Kami hanya terdiam. Mata Yeorum mulai berkaca-kaca lagi.

Nuna jangan menangis, Tuhan tak suka melihat anak yang cengeng.” Anak itu menghapus air mata yang jatuh di pipi Yeorum.

Nuna, cepatlah sembuh dan jangan pernah sakit lagi. Jika kau sehat selalu dan rajin berbuat kebaikan, maka Tuhan akan memanggilmu dengan cara yang indah seperti DIA memanggil eommaku. Dengan begitu kita bisa berjumpa eomma lebih cepat.”

“Yeo Gun-a, jipe gayo.” Seorang pria tampan memanggil anak itu.

Ne appa, jamsiman gidariseyo. Nuna, aku harus pulang, ini untukmu sebagai tanda kebaikanku hari ini. Eomma pasti akan senang melihatku telah menghiburmu. Gyeseyo nuna.” Katanya setelah menyerahkan sebuah balon biru dan gulali merah jambu pada Yeorum.

Gamsahamnida Yeo Gun-a, gaseyo.” Aku membalas ucapan Yeo Gun sambil melambaikan tangan karena Yeorum hanya diam terpaku menatap langkah –langkah kecil Yeo Gun menjauhinya.

Yeorum POV

Tiga bulan telah berlalu sejak kepergian oppa dan eonni. Aku merasa kesepian, Jendral Jung Soo dan istri mengajakku ke rumahnya. Namun aku menolak karena aku lebih merindukan rumah dan tokoku. Kuputuskan untuk kembali dan mengurus semuanya dari awal. Aku tak boleh berpangku tangan dan tenggelam dalam semua kesedihan dan kesepian ini. Oppa dan eonni pasti sangat kecewa jika aku membiarkan toko bangkrut di tanganku. Aku harus bangkit dan berusaha untuk selalu tegar.

Beberapa waktu kemudian.

“Yeorum-a, hati-hati, kau tak boleh meninggalkan kulit telur di dalam adonan, arasso?” Ingatnya saat aku mencoba memecahkan telur di dapur.

Ne oppa.”

Ah…itu Ryewook oppa. Sudah dua tahun ini dia menjadi chef baru di toko kami. Semenjak kepergian eonni, tak ada kue yang bisa ku buat. Toko hampir gulung tikar jika aku tak menemukan pengnganti eonni segera. Untungnya aku bertemu Ryewook Oppa setelah enam bulan kebingungan dengan keadaan toko yang semrawut. Dia chef yang hebat, gerakan tangannya saat mengaduk adonan sangat terampil, ringan, dan lincah. Ryewook oppa menyelamatkan hidupku.

“Yeorum-a……odie?” Suara Kyuhyun Oppa mencariku.

Yogiyo, oppa.” Seruku

“O…kau membuat kue lagi?” Tanyanya.

“O…hehehe hanya mencoba saja oppa.” Ujarku cengengesan.

“Ah….tak usahlah, biarkan Wookie Hyong yang mengerjakannya. Apa kau lupa, kalau kau meledakkan oven saat terakhir kali kau masuk dapur? Ayo keluar, ada yang ingin kubicarakan.”

“Aaaa…oppa kenapa kau mengingatkanku pada kejadian waktu itu. Kau membunuh semangatku. Dasar evil!!!”

Palli wa! Hyong, kupinjam dulu si pembuat onar ini ya.” Katanya lagi sambil menarik paksa tanganku, sedang tangan lainnya melambai pada Wookie Oppa.” Wookie Oppa hanya memamerkan senyum cutenya, lalu menyuruhku pergi.

“Yeorum-a, appaku ingin bicara denganmu.”

Appanya oppa? Wae?” Baru kali ini Kyu Oppa membicarakan perihal keluarganya. Selama ini setiap kali kutanya, jawabannya hanya satu, ‘kau akan bertemu mereka suatu hari nanti’. Apa ini harinya?

Kyu Oppa membawaku ke rumahnya. Rumah ini tak asing bagiku. Rumah ini adalah rumah Jendral Jung Soo. Ya, Jendral Jung Soo adalah appanya Kyu Oppa, aku juga baru mengetahuinya hari ini. Dan Kyu Oppa juga seorang polisi rahasia di bawah bimbingan appanya sendiri. Setelah beberapa waktu berlalu, Jendral Jung Soo baru ingin membicarakan kasus yang di lewati Donghae Oppa sebelumnya denganku.

“Yeorum-a, bagaimana keadaanmu sekarang?” Tanya Jendral Jung Soo saat kami hanya berdua saja duduk di ruang kerjanya.

Dok bune jal jineso ajeossi.”

“Yeorum-a, ada banyak hal yang ingin ku ceritakan padamu. Aku tahu apa yang terjadi padamu sungguh berat, karena itu aku menunggu hingga keadaanmu lebih stabil.”

Diam sejenak.

“Yeorum-a, jika aku menceritakan semuanya, apa kau sudah siap untuk mendengarnya?”

Jantungku berdetak cepat, kecemasan mulai merayapi diriku. Mimpi buruk  kematian oppa dan eonni kembali berkeliaraan di kepalaku. Menceritakan semua? Apa? Apa yang mereka sembunyikan yang aku tak tahu. Nafasku memburu.

“Yeorum-a, gwaenchanayo?”

Aku masih berusaha mengatur nafas dan semua kecemasanku.

“Lain kali aku kan memberi…”

Aniyo! Katakan saja sekarang, aku baik-baik saja dan akan mendengar semua yang ingin ajeossi sampaikan.” Tuturku memaksa.

Gurae, akan kukatakan.”

Jendral Jung Soo membuka fakta mengejutkan tentang siapa oppaku sebenarnya. Donghae Oppa adalah salah satu polisi rahasia yang dilatih secara khusus langsung di bawaah Jendral Jung Soo sebagai atasanya. Terjawab sudah kebingunganku tentang mengapa  Donghae Oppa ada di gudang tua bersama para polisi dan apa pekerjaanya selama ini. Sejak kejadian pencopetan hari itu, Jendral Jung Soo sudah tertarik pada oppa, lalu memerintahkan Kapten Kangin untuk menculiknya dari tahanan. Mereka bernegosiasi, dan oppa menyetujuinya dengan syarat keamananku sebagai jaminannya.

Dua tahun dalam camp pelatihan tersembunyi, lalu oppa menggelandang sebagai informan selama satu tahun dengan identitas sebagi gembel yang berputar-putar di seluruh Seoul. Hingga akhirnya dia menemukan Hyukjae Oppa lalu mengikuti semua gerak-gerik Hyukjae Oppa dan komplotannya. Hari mereka tertangkap bersama di sel tahanan sebagai pengedar narkotika adalah tanda dimulainya drama Donghae Oppa sebagai mata-mata dalam organisasi bandar narkotika itu. Mereka tak pernah mencurigai Donghae Oppa karena ‘permainannya’ yang bersih.

Namun kecerobohan terjadi, Brandy mencuri dengan semua pembicaran Donghae Oppa yang tengah membujuk Hyukjae Oppa untuk segera meninggalkan pekerjaan mereka. Kebocoran itu segera dilaporkan pada bos besar mereka yang memang sudah terdesak saat itu. Penculikanku dan Gaul Eonni adalah aksi balas dendam yang direncanakan. Rencana kedua bos besar mereka memang akan menghabisi kami bertiga jika tuntutan mereka saat itu tak diupayakan segera. Kegegabahan mantan Jendral Soo Man yang juga mantan sniper di kesatuannya dulu membuat nyawa dua orang yang sangat kucintai melayang.

“Dan satu hal lagi yang perlu kau ketahui.” Ujarnya.

Mwo?” Tanyaku cepat.

“Bukan Hyukjae yang membunuh Donghae dan Gaul. Pistolnya telah di kosongkan malam sebelumnya, setelah Soo Man memberikan senjata itu padanya. Hyuk mengatakan semua ini saat di introgasi. Kami memeriksa TKP, dan benar saja tak ada satupun selonsong peluru milik Hyuk yang ditemukan di lokasi kejadian. Peluru itu berasal dari senapan mantan Jendral Soo Man. Dan sebelum kami menangkap mereka semua, Donghae secara pribadi memintaku untuk membersihkan Hyuk dari target kepolisisan.”

Perasaan bersalah memenuhi ruang hatiku.

“Terakhir, Donghae meninggalkan sepucuk surat untukmu.” Jendral Jung Soo mengangsurkan sebuah amplop putih yang hampir usang dengan bercak cokelat di atasnya. Itu adalah bercak darah Donghae Oppa yang melekat saat ia menyerahkan surat itu pada Jendral Jung Soo. Aku membuka surat itu dengan hati-hati

Dear, Yeorum

Apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau baik-baik saja? Saat kau membaca surat ini, oppa tak tahu apa oppa masih ada bersamamu atau tidak? Oppa mohon maaf jika selama ini oppa merahasiakan semua ini padamu. Oppa harap Jendral Jung Soo sudah memberitahumu segalanya. Oppa tak ingin kau merasa di tipu, karena itulah oppa memintanya untuk membongkar identitas oppa hanya padamu, walau itu menyalahi aturan korps.

Yeorum-a, kau satu-satunya yang ku punya, kau adik sekaligus anak juga sahabat bagiku. Kau wanita yang kucintai setelah eomma kita. Aku tak bisa membayangkan apa yang bisa kulakukan tanpamu. Setelah pencurian itu aku malu sekali, karena itu saat Jendral Jung Soo menawariku pekerjaan, tanpa pikir panjang aku mengiyakannya. Aku berjanji akan menebus semua rasa bersalahku saat itu dengan membanggakanmu, walau nyawaku sebagai taruhannya. Ya…aku bangga dengan identitas rahasiaku untuk kau, Yeorum adikku tersayang.

Kau cahaya hidupku. Kau pelita dalam gelapku. Kau harapanku juga harapan orang tua kita satu-satunya. Kau (tetesan air mataku membasahi surat oppa). Kau wanita yang menjadi sumber kebahagiaanku.

Yeorum-a jika oppa benar-benar tak ada lagi, berjanjilah bahwa kau akan selalu hidup sehat dan bahagia selamanya. Jangan bersedih ataupun menangis. Oppa, eomma dan appa akan selalu menjagamu hingga akhir kehidupan mempertemukan kita semua untuk selamanya sebagai satu keluarga lagi.

Berbahagialah adikku Yeorum. Banggakan oppa, dan orang tua kita dengan semua prestasimu.

SARANGHAEYO YEORUM-A…

SARANGHAEYO YONGWOHNI…

Peluk cium dari oppa

Lee Donghae (fishy)

Ku lipat kembali surat itu. Sungguh air mataku tak terbendung lagi saat ini.

“Surat itu diserahkan Donghae sesaat sebelum dia pergi. Demi menjaga keamanan, maaf  tanpa seijinmu aku telah membacanya.”

Hanya suara tangisku yang membalasnya.

Tok…tok…tok…Seseorang mengetuk pintu.

“Masuklah Kyuhyun, putraku.” Ujarnya.

“Siap!!”

Kyu Oppa memasuki ruangan.

Appa, apa appa sudah menanyakannya pada Yeorum?” Tanyanya.

Ajik, sepertinya ini bukan saat yang tepat.” Ujar Jendral Jung Soo pada putera semata wayangnya. “Kau antarlah Yeorum pulang, kita akan bicarakan itu lain kali.” Ajeossi itu meninggalkan kami.

Ne, appa, arasso.” Suaranya terdengar kecewa.

Dalam perjalanan pulang aku meminta Kyu Oppa berhenti di taman di pinggir Sungai Han. Setengah hatiku merasa sangat kehilangan sekaligus ada sedikit kekecewaan dengan jalan yang dipilih Donghae Oppa, namun setengah lainnya merasa sangat bangga dengan pengorbanannya. Angin memainkan helaian rambutku. Matahari senja mulai menuju peraduannya. Surat yang ditinggalkan Donghae Oppa masih dalam genggamanku.

“Yeorum-a?” Panggil Kyu Oppa yang sedari tadi berdiri di belakangku.

Aku menoleh padanya.

No gwaenchana?” Tanyanya lagi.

“Hm…” Balasku lalu menatap sungai Han lagi.

Kyu Oppa kini sudah berdiri di sampingku.

Oppa…”

Ne……”

“Apa kau sudah tahu semuanya?” Tanyaku.

Ne, karena itulah aku dikirim ke rumahmu. Dan aku adalah parter rahasia Letnan Satu Lee Donghae yang tak diketahuinya selama operasi itu.”

“Kenapa kalian punya begitu banyak rahasia?.” Tanyaku bingung.

Dia hanya diam menatap ke depan.

Kukatupkan tanganku di depan mulut membentuk sebuah corong. “DONGHAE OPPA….AKU BANGGA PADAMU, SARANGHAEEEEE..” Teriakku di atas riak Sungai Han, yang kuharap bisa di dengar oppaku.

Ne hyong, SARANGHAEEEEEE…” Kyu Oppa mengiringi ucapanku.

Aku menatap matanya, ada ketulusan di sana.

Oppa, jipe gaja.” Ajakku menggamit lengannya.

“Hm..”

Kami saling tersenyum lega.

☺☺☺☺☺

Hari ini aku dan Kyuhyun Oppa akan mengunjungi makam oppa dan eonni. Aku sering ke makam sendirian saat aku benar-benar sangat merindukan mereka berdua. Tapi hari ini Kyu Oppa memaksa untuk mengantarku. Walau terasa sedikit aneh, tapi aku senang-senang saja diantar dengan motor hijaunya. Oppa dan eonni dikubur bersebelahan.

Oppa, eonni, apa kabar? Aku datang lagi merindukan kalian. Lama tak berjumpa, apa oppa dan eonni bahagia di sana?” Aku tersenyum sendiri, Kyu Oppa berdiri di belakangku.

Oppa, aku sudah membaca suratmu, aku…aku sangat merindukanmu. Oppa, aku akan hidup sehat dan bahagia selamanya, tak akan bersedih dan menangis lagi. Oppa aku bangga padamu, aku akan selalu membanggakanmu. Donghae Oppa, saranghae.”

Eonni, apa kabar? Apa kau selalu menjaga oppaku di sana? Apa eonni selalu menyiapkan sarapan untuk oppa? Apa eonni selalu mengingatkannya untuk merindukanku? Eonni…sejak oppa meninggalkan kita berdua, kau adalah eomma, appa, eonni sekaligus oppa bagiku. Tak ada yang bisa menggantikanmu di hatiku. Eonni…gomawo untuk semua kebaikanmu yang tak pernah terbalas sekalipun olehku. Eonni, bogo sippoo.”

Oppa, mengenai Hyukjae Oppa, aku sudah memaafkannya. Aku tahu dia tak bersalah sama sekali. Aku akan menerimanya sebagai pengganti oppa dengan tangan terbuka. Hyukjae Oppa satu-satunya teman terbaikmu, aku juga akan menjadikan dia oppaku untukmu. A… Gaul Eonni, Hana Eonni titip salam untukmu, dia juga sangat merindukanmu. Oppa, eonni aku pulang dulu ya, lain waktu aku kembali.”

Jamsiman Yeorum-a.” Kyu Oppa memotong ucapanku.

Waeyo oppa?” Tanyaku.

“Ada yang ingin kukatakan pada Donghae Hyong dan Gaul Nuna juga padamu.”

Mwoyeyo?”

Kyu Oppa berlutut di depan makam di sampingku.

Hyong, Nuna, hari ini aku sengaja datang mengunjungi kalian bersama Yeorum, untuk mendapat restu kalian.”

“Restu??” Tanyaku bingung.

Ne…Yeorum jangan memotong ucapanku di depan Hyong dan Nuna. Kau dengarkan saja dengan baik.” Perintahnya.

Mwo?” Dasar aneh.

Hyong, seperti yang kau tahu aku adalah mitra rahasia dalam operasimu. Hubungan kita tak dekat karena kita tak lama bisa bersama. Tapi aku sangat mengenalmu dari cerita appaku. Hyong, aku telah mengundurkan diri sebagai polisi rahasia dan masuk ke dalam kesatuan  biasa. Aku sengaja melakukan hal ini karena aku ingin mendampingi secara penuh orang yang kucintai.”

Sampai disini aku masih tak mengerti.

Nuna, aku datang ke tokomu atas perintah ayahku untuk menjaga kalian berdua mewakili Donghae Hyong. Walau awalnya terasa sedikit canggung, namun lama-kelamaan aku mulai terbiasa berada di dapur bersamamu. Nuna, aku senantiasa melihatmu menjaga Yeorum selama ini. Aku tahu kau sangat menyayanginya. Kau menggantikan posisi eomma, appa,  dan oppa bagi Yeorum saat mereka tak ada.”

Hyong, nuna, kini biarkan aku yang menggantikan kasih sayang kalian untuknya. Aku tak bisa mengatakan kata-kata romantis. Aku juga tak bisa menjajikan banyak hal padanya. Tapi aku akan berusaha selalu membuatnya bahagia dengan caraku. Hyong, nuna, dihadapan kalian secara resmi aku melamar Yeorum untuk menjadi istriku. Aku mohon kalian bisa merestui hubungan kami.” Kyuhyun Oppa bersujud tiga kali di depan makam oppa dan eonni.

Mwo? Kyu Oppa kau sedang melamarku?” Tanyaku bingung.

Ne…..” Dia beralih menatapku. “Yeorum-a, jadilah istriku.” Pintanya sambil membuka sebuah kotak kecil berisi cincin bertahtakan berlian. Kepalanya menunduk tak berani menatapku. Aku diam saja.

Ya….kenapa tidak menjawab? Kau tidak mencintaiku? Kau menolakku?” Kyu Oppa mulai gusar.

Oppa……”

Ne…” Keringat mulai membasahi keningnya, tangannya yang masih memegang kotak cincin itu bergetar. Dia pasti nervous sekali.

Oppa, irona.” Pintaku. Diapun berdiri.

Kutatap matanya dalam, ada kesungguhan di sana. Aku tersenyum. “ Saranghae…” Jawabku lalu memeluknya.

“Yeorum-a, kau menerima lamaranku?” Tanyanya tak percaya.

Ne, saranghaeyo oppa.”

Gomawo Yeorum-a, saranghaeyo, saranghaeyo Yeorum-a.” Dia memelukku lebih erat.

Ah…hari ini begitu indah.

Hyukjae POV

Lima tahun telah berlalu. Esok masa hukumanku berakhir. Aku yang selama bertahun-tahun hidup di kegelapan, merasa takut menuju cahaya terang. Ya Tuhan, ampuni segala kesalahanku.

“Lee Hyukjae ssi!” Panggil seorang sipir penjara setelah membuka kamar tahananku. “Silahkan.” Katanya lagi. Dia membawaku menemui kepala penjara. Sedikit nasehat untuk meneruskan hidup sebagai penguat keraguanku. Sipir penjara yang tadi mengantarku meneruskan sampai gebang keluar. Dia membukakan pintu besi penghubung dunia luar dengan rumah tahanan ini. Ah….sinar matahari menyilaukan mataku. Kulangkahkan kakiku setelah bersalaman sambil mengucapkan terima kasih.

“Hyukjae oppaaaaaa…..” Panggil seseorang.

Yeorum?? Ya itu Yeorum, Lee Yeorum adik sahabatku tercinta Lee Donghae. Aku masih mengingatnya dengan jelas. Apa yang dia lakukan di sini. Tergagap dalam langkah, aku tak tahu harus bersikap apa. Aku harap aku bisa menghilang di telan bumi tanpa harus melihatnya lagi. Aku malu…sungguh aku malu bertemu dengannya.

Brukk…dia menabrak dan masuk dalam pelukanku.

Oppa bogosipo…, no gwaenchana? Apa mereka memperlakukan oppa dengan baik? Apa oppa makan dengan baik?”

Ah, Yeorum-a mana ada perlakuan di penjara yang baik. Kalau kau berfikir begitu maka nama hotel prodeo benar-benar akan enak di dengar para penjahat seperti aku. Jawabku dalam hati. Tapi, mengapa Yeorum datang ke mari?

Kulepaskan pelukannya, air mata membanjiri pipi kami.

“Kau tidak membenciku lagi? Bukankah waktu itu kau bilang aku pembunuh oppamu?” Tanyaku sedih

Mianhae oppa, aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku sudah mengerti sekarang. Maaf atas semua tuduhanku padamu waktu itu. Oppa maukan memaafkanku?”

Ku seka air matanya dengan lembut. “Ani, aku yang seharusnya minta maaf. Aku mengecewakanmu dan Fishy serta Gaul Nuna. Mianhae Yorum-a, jongmal mianhae…” Pelukku padanya lagi.

“Yeorum-a….” Suara seorang pria mengalihkan perhatianku.

“Kau melupakanku setelah bersama pria itu?” Dia merengut. Seorang pria bertubuh tegap memakai seragam polisi. Bukan wajah yang asing, tapi di mana ya aku pernah melihatnya?

Oppa, palli wa….” Ajak Yeorum padanya.

Hyong, annyeong haseyo?” Sapanya padaku. Aaa…majayo, diakan pelayan di toko roti Yeorum. Kenapa dia memakai seragam polisi? O…aku ingat dia yang berteriak tiarap pada Yeorum waktu itu, dan dia pula yang membawa Yeorum ke mobil. Ternyata dia juga polisi rahasia.

Oppa, ini Letnan Kyuhyun, dia pelayan yang waktu itu bekerja di toko, oppa ingat?” Tanya Yeorum padaku. Aku mengagguk.

“Dia ini adalah putra tunggal Jendral Jung Soo. Dan kini pria ini……” Yeorum memutus kalimatnya. Wajahnya bersemu merah.

Waeyo?” Tanyaku penasaran.

“Mohon bimbinganmu kakak ipar.” Seru Kyuhyun cepat.

Mwo??”

Ne oppa, besok kami akan segera menikah, dan aku ingin oppa menjadi waliku. Oppa tak keberatan bukan?”

Air mataku menetes lagi. Kali ini air mata kebahagiaan. Yeorum ingin aku jadi wali dalam pernikahannya.

Oppa?” Tanyanya lagi.

Ne algesumnida, Yeorum-a.”

Gomawo nona pengacara untuk penjelasannya.” Ledek Kyu pada Yeorum. Yeorum balas menyikut Kyu.

“Aku bahagia sekali.” Lalu ku peluk keduanya.

Tiiin…tiiiin….tiiiin….Klakson mobil yang berdiri tak jauh dari kami berbunyi.

Ya, aku masih harus membuat kue pernikahan kalian esok. Ini sudah terlalu siang, PALLI WAAAAAA!!!!” Hardik seseorang yang kepalanya terjulur dari jendela mobil.

Ne, Wookie Oppa, arasso.” Teriak Yeorum dan Kyuhyun bersamaan.

Gaja oppa.” Yeorum menggandeng lenganku. Aku tersenyum mengiyakan ajakannya. Kami melangkah bersama.

Ini bagian putih dalam perjalanan terindah hidupku. Donghae-ya aku kini mengerti, “dark not always black” dan aku berharap warna-warni lain akan menemani perjalanan hidupku selanjutnya. Donghae-ya gomawo telah memberikan seorang Yeorum untukku, Gomawo…gomawo…Donghae-ya.

Esoknya.

Barisan polisi baru saja meninggalkan lapangan tempat upacara pernikahan Yeorum dan Kyuhyun. Keduanya tampak sangat bahagia. Aku yang menjadi saksi sekaligus wali dalam pernikahan adik sahabatku merasa sangat terharu sekaligus bahagia. Kebahagiaan itu terlukis dalam tetesan air mata yang membasuh pipiku.

Oppa….aku akan melakukannya sekarang, oppa juga bersiapalah.” Teriak Yeorum padaku.

Mwo???” Tanyaku lagi.

“Ayo berdiri di sana oppa, palli…!”

Arasso.” Ujarku akhirnya.

“Oke…siap….” Kyuhyun berdiri dengan senyum terkembang di hadapan Yeorum. Lalu mulai menghitung. “ Hana….dul…set….”

Syiuuuuuutttt…….!! Seikat bunga yang tadi di genggam Yeorum melayang di udara. Spontan aku berusaha ikut menangkapnya rebutan bersama para gadis lain yang menginginkanya. Tapi…HUP!!! Seorang gadis dengan baju kotak-kotak merah muda berhasil menangkapnya.

Oppaaaaaaa……” Sesal Yeorum saat melihatku. Aku hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Plok…plok…plok….gemuruh tepuk tangan di hadiahkan pada gadis yang berhasil menangkap bunga Yeorum tadi.

“Hyukjae ssi…” Seseorang menegurku.

Kutolehkan kepalaku, dan gadis yang menangkap bunga tadi sudah berdiri di sampingku.

“Hana ssi…” Aku tersenyum. Kami saling merendahkan kepala.

Tiba-tiba saja Yeorum sudah ada di sampingku bersama suaminya Letnan Kyuhyun.

Eonni…wassoyo…?” Sapanya.

Ne….mianhae, aku terlambat.” Balas Hana.

Gwaenchana nuna, yang penting kau ada di sini sekarang.” Jawab Kyu. Lalu mereka berdua tersenyum-senyum memandang kami.

Eonni, karena kau yang mendapatkan bunganya, berarti setelah ini kami akan menghadiri pernikahan eonni.” Canda Yeorum.

Pernikahan Hana ssi? Dengan siapa? Hatiku merasa cemas dan penasaran.

“Kuharap juga begitu.” Jawabnya.

“Lalu kapan eonni berencana akan menikah?”

“Mmm..asal calon pengantin prianya bersedia, aku kapan saja sudah siap untuk menikah.” Ungkap Hana ssi sambil tersenyum ke arahku. Aku tak mengerti.

Nuna, katakan pada kami siapa orangnya? Siapa tahu aku bisa membantumu.” Kyuhyun penasaran. Aku juga, tapi….

“Mmmm…..”

Aku tak ingin mendengarnya.  Dadaku sesak, aku ingin pergi.

“Permisi , aku mau ke belakang sebentar.” Ujarku memutus pembicaraan mereka.

O…waeyo oppa?” Tanya Yeorum memandangku heran.

Ani, Gwaenchana.” Aku mengambil langkah.

“Hyukjae ssi, jamkanman gidariseyo.” Hana menghentikan langkahku.

Aku tak menoleh.

“Hyukjae-ya.” Dia menggunakan bahasa tak formal. “Hyukjae-ya, aku tak ingin kisah Donghae-Gaul terulang padaku.”

Donghae-Gaul?  “Apa maksudmu?” Aku bingung, lalu berbalik arah.

“Hyukjae-ya……..saranghae.” Ucapannya mengejutkanku.

Sarang???

“Menikahlah denganku.” Pintanya.

Hana ingin aku menikahinya? Kenapa? Sejak kapan?Aku hanya diam menatap wajahnya.

Oppa, weigurae? Kau tak mencintai eonni?” Tanya Gaul memburu. Aku masih bingung dengan semua kejadian ini. “Oppa aku sengaja memaksa Hana Eonni datang walau aku tahu dia sangat sibuk.” Aku masih diam. “Oppa…” Rengeknya lagi.

“Ah…ternyata kau tidak mencintaiku. Cintaku benar-benar bertepuk sebelah tangan.”  Ujarnya pasrah. Hana tersenyum. Senyum yang selalu menghiasi hari-hariku bertahun-tahun belakangan ini. Senyum yang selalu kurindukan, namun tak berani kuharapkan. Hana…satu-satunya wanita yang ingin kudapatkan, dia bilang dia mencintaiku dan kini dia memintaku untuk menikahinya. Apa yang harus kukatakan.

“Baiklah kalau begitu, aku permisi dulu. Hyukjae-ya, mianhae telah membuatmu terkejut. Jangan terlalu dipikirkan. Tapi satu hal yang perlu kau ingat, kalau aku tulus padamu.” Senyum itu sekali lagi terukir di bibirnya.

“Yeorum-a, Kyuhyun-a annyeong, semoga kalian selalu bahagia dan segera di beri baby kecil yang lucu. Annyeong gyeseyo.”

Gaseyo Eonni.” Yeorum-Kyuhyun menjawab kompak namun sendu.

Spontan dengan cepat aku menarik tangannya, kubalik tubuhnya dan kubawa dia dalam pelukanku. “Saranghaeyo, Hana-ya.” Bisikku di telinganya. Aku memeluknya erat, seolah tak ingin melepaskannya. “Saranghaeyo, saranghaeyo, Hana-ya.” Ulangku.

Saranghaeyo Hyukjae-ya.” Balasnya.

THE END

Credit : http://elfalwayslovesuperjunior.wordpress.com/

Advertisements