SEVEN YEARS LOVE (Part 2)

Author              : Park Yeorum

FB                     : Bummie Viethree

Twitter             : @green_viethree

Email                 : bummie_viethree@yahoo.com

Yeorum POV

Flashback

Aku pertama kali mengenal Kyuhyun dan keluarganya sekitar tujuh tahun silam. Waktu itu aku baru berumur 16 tahun. Orang tua Kyuhyun adalah sahabat terdekat orang tuaku. Sejak orang tuaku meninggal aku harus meninggalkan tanah kelahiranku, Indonesia, untuk dititipkan kepada orang tua Kyuhyun. Keluarga mereka sangat baik padaku. Aku diperlakukan tidak bedanya seperti anak kandung.

Kyuhyun memang sudah seperti itu adanya sejak pertama aku mengenalnya. Ketus, dingin, dan ingin menang sendiri. Dia seperti punya dunianya sendiri. Jarang sekali memiliki teman. Tapi yang ku heran orang seperti dia mengapa bisa dieluh-eluhkan semua orang dimanapun dia berada. Ku akui dia cerdas dan sangat tampan. Tapi bagiku tak lebih dari itu. Hampir semua murid perempuan di sekolah kami menyukainya. Tapi bukan Kyuhyun namanya kalau tidak menaggapi mereka dengan dingin.

Awalnya aku sangat terganggu dengan sikapnya yang dingin dan ketus. Tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Aku tak mau cari masalah dengannya. Jadi ku hindari saja dia. Kalau tak benar-benar penting aku tak mau bicara padanya.

Sampai suatu hari sebuah kejadian mengubah segalanya. Saat itu aku mau menyeberang jalan. Tapi tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku. Seketika aku jadi mati langkah. Aku tak beranjak dari tempatku berdiri. Sementara mobil yang lepas kendali itu tinggal beberapa meter di depanku. Kyuhyun yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arahku dan mendorong tubuhku ke tepi jalan. Tapi malang, dia tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri sehingga bagian depan mobil itu menghantam tubuhnya sebelum sang pengemudi berhasil mengerem. Dengan mataku sendiri aku melihat tubuh Kyuhyun terlempar beberapa meter sebelum mendarat keras di aspal. Aku langsung berlari mendekatinya. Aku melihat darah segar mengalir dari kepalanya. Setelah itu aku menangis histeris sambil memeluk tubuhnya.

Karena kecelakaan mengerikan itu, Kyuhyun mengalami koma selama sepuluh hari. Aku sangat merasa bersalah padanya. Karena untuk menyelamatkanku dia harus mengalami semua ini. Aku tak mau beranjak sedikitpun dari sisinya.

Setelah sepuluh hari Kyuhyun baru siuman. Tapi masalah baru muncul. Kyuhyun kesulitan bernapas. Kata dokter ini disebabkan karena Kyuhyun menderita pneumothorax sejak kecil dan kondisinya semakin diperparah dengan kecelakaan yang dialaminya.

Akhirnya tim dokter memutuskan untuk memasang sebuah pipa kecil ke saluran pernapasannya dengan jalan operasi untuk membantunya bernapas. Untunglah operasi ini berhasil. Tapi dokter mengingatkankan kami bahwa kondisi ini akan mempengaruhi Kyuhyun seumur hidupnya. Di saat-saat tertentu apabila terlalu lelah dan melakukan aktivitas yang terlalu berat dapat membuatnya kesulitan bernapas. Karena itu Kyuhyun akan selalu tergantung kepada alat bantu pernapasan.

Setelah hampir dua bulan di rawat di rumah sakit, Kyuhyun akhirnya diperbolehkan pulang. Sejak saat itu aku selalu membuntutinya kemanapun dia pergi. Aku juga menyiapkan semua yang dibutuhkannya. Aku mengingatkannya untuk minum obat, makan, bahkan minum susu.

Pada awalnya dia merasa sangat terganggu dengan ulahku dan dia semakin sering marah-marah padaku. Tapi aku tak menghiraukannya. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri kalau aku akan selalu menjaganya. Gara-gara kecelakaan itu aku seperti punya keterikatan padanya.

Karena aku tak pernah menuruti perintahnya untuk menjauh darinya, akhirnya Kyuhyun memilih diam dan membiarkanku membuntuti ke mana pun dia pergi. Aku tahu bukan karena dia menyukaiku. Dia hanya merasa terbiasa dengan kehadiranku.

Aku pun menjadi sangat terbiasa selalu berada di sisinya. Semakin aku mengenalnya, semakin aku menemukan sisi lain di dalam dirinya. Di balik sikapnya yang dingin dan ketus itu tersimpan sebuah pribadi yang mengagumkan. Dia tidak akan pernah bisa berpangku tangan apabila orang-orang yang ada di sekelilingnya mengalami kesulitan. Dia pernah memberikan semua uang jajannya kepada seorang anak penjual permen di jalanan lantaran anak tersebut tidak menggunakan alas kaki. Dan walaupun dia terlihat sangat manja, tapi dia sangat mencintai keluarganya, terutama ibunya. Kyuhyun takkan pernah bisa menolak permintaan ibunya. Dulu, sehabis kecelakaan, Kyuhyun diharuskan mengikuti terapi agar dia dapat berjalan dengan normal lagi. Karena terapi itu sangat menyakitkan, Kyuhyun paling tak suka menjalankannya. Berbagai macam cara sudah dilakukan untuk membujuknya agar mengikuti terapi itu, tapi semuanya percuma. Sampai akhirnya Cho ahjumma hanya bisa menangis saking frustasinya. Tak disangka, Kyuhyun langsung mengatakan ya saat malihat air mata ibunya. Mungkin hal inilah yang membuatku jatuh cinta padanya.

Waktu kelas 3 SMA, secara mengejutkan Kyuhyun menerima cinta salah seorang siswi di sekolah kami. Namanya Kim Tae Hae. Dia siswi tercantik di sekolah kami. Waktu itu Tae Hae lah yang nembak Kyuhyun duluan.

Itu pertama kalinya aku merasa patah hati. Terus terang aku sangat cemburu dengannya. Dia berani mengungkapkan perasaannya dan Kyuhyun menerimanya. Suatu hal yang tak mungkin terjadi pada diriku.

Inilah sulitnya menjadi orang Indonesia. Bundaku mengajarkanku untuk tidak bersikap agresif pada seorang laki-laki. Kata bunda, itu tidak baik. Bukan budaya orang timur. Laki-laki harus mengatakan perasaan mereka terlebih dahulu. Sungguh hal yang tak mungkin terjadi pada seorang Cho Kyuhyun yang angkuh dan sombong.

Lambat laun aku bisa mengikhlaskan kebersamaan mereka. Ada dua alasan sebenarnya. Yang pertama, ku lihat Kyuhyun bahagia bersamanya. Dan yang kedua, Tae Hae adalah gadis yang sangat baik. Jadi kupikir dia sangat layak untuk bersama Kyuhyun.

Tapi kebahagiaan Kyuhyun hanya bertahan selama beberapa bulan. Setelah itu, tanpa sebab dan kabar, Tae Hae menghilang begitu saja. Kyuhyun mencoba mencari ke rumahnya, tapi ternyata keluarganya juga pindah. Itu kali pertama aku melihat Kyuhyun sangat marah. Dia melemparkan semua perabotan yang ada di kamarnya. Membuat semua orang di rumah sangat khawatir karenanya.

Kyuhyun memang pemarah. Tapi dia tak pernah bersikap seperti itu selama ini. Biasanya kalau dia marah dia hanya akan bicara ketus dan kemudian dia akan mendiamkan semua orang dengan memasang wajah dinginnya. Aku bisa merasakan dia sangat terluka saat itu.

Butuh waktu lama bagi Kyuhyun untuk bersikap seperti biasa lagi sejak kejadian itu. Walaupun dia tak pernah mengungkitnya lagi, tapi aku tahu dia tak pernah melupakannya.

End of flashback…

******

“Hei, apa yang sedang kau lamunkan?” tiba-tiba jentikan jari seseorang membuyarkan lamunanku.

“Donghae oppa,” ujarku terkejut. “Apa acaranya sudah selesai?”

“Tuh kan, kau ngelamun.” Aku hanya nyengir menanggapi ucapannya.

“Kyuhyun mana, oppa?” tanyaku padanya.

“Ck ck ck… Yang ada di otakmu memang cuma Kyuhyun seorang,” jawabnya keheranan sambil mengeleng-gelengkan kepala.

“Kau sepertinya benar-benar jatuh cinta padanya ya?” ujar Donghae oppa membuatku kaget setengah mati.

“Oppa ngomong apa sih?” jawabku gugup. “Aku cuma tak mau dia marah-marah padaku lagi.”

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan untuk menghindari tatapan jahil Donghae oppa. Akhirnya aku menemukan sosok Kyuhyun sedang terduduk lemas di sebuah sofa di sudut ruangan. Aku langsung berpamitan kepada Donghae oppa dan pergi menghampiri Kyuhyun.

Betapa terkejutnya aku saat sudah berada di dekatnya dan dapat melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya tampak pucat.

“Kyuhyun~a, kau kenapa? Mengapa wajahmu pucat? Apa napasmu sesak lagi?” tanyaku panik.

“Aniyo,” ujarnya sambil menepiskan tanganku yang sedang meraba keningnya, memeriksa apakah dia demam. “Aku hanya kelaparan!”

“MWO!” ujarku terkejut. “Bagaimana bisa kau kelaparan? Apa kau tidak sarapan tadi pagi?”

“Kyu tidak makan atau minum apapun sejak tadi pagi,” Donghae oppa yang menjawab pertanyaanku. “Aku sudah berusaha memaksanya. Tapi sepertinya hanya kau satu-satunya orang yang bisa memaksanya. Usahaku gagal total.”

“Aishh…kau ini! Seharusnya kau tak berbuat begitu. Kau kan tahu sendiri dengan kondisi tubuhmu. Kau mau membuatku mati ketakutan ya?” omelku kesal sekaligus prihatin padanya.

“Kau tunggu di sini dulu. Aku akan membelikan makanan untukmu,” ujarku lagi dan segera berlari ke luar untuk membeli makanan untuknya.

Tak berapa lama aku kembali dengan dua bungkusan besar di kedua tanganku. Kibum oppa yang melihatku kerepotan membawanya, langsung membantuku.

“Aku tak jadi membelinya. Ternyata produser acara ini menyiapkan makan siang untuk kalian. Waktu aku ke luar tadi makanannya baru saja datang. Sebaiknya kalian segera makan. Sudah waktunya makan siang,” ujarku sambil meletakkan bungkusan di atas meja. Aku mengambil satu kotak dan memberikannya pada Kyuhyun.

“Ayo dimakan!” perintahku padanya. “Awas kalau kau sampai bertingkah seperti ini lagi!”

“Heh, kalau kau terus ngomel seperti itu, kau bisa membuat nafsu makanku hilang,” hardiknya.

“Ck ck ck. Dalam keadaan kelaparan seperti ini saja kau bisa tetap memiliki energi sebesar itu untuk marah-marah. Penyakitmu sudah benar-benar akut,” sindirku.

“Arasseo! Arasseo! Aku diam!” lanjutku kemudian saat dia melotot padaku dan hendak meletakkan makanannya kembali di atas meja.

“Benar-benar kekanak-kanakan,” omelku pelan. Kyuhyun menatapku tajam. “Oke, makanlah!” ujarku lagi sambil menjauh darinya dan duduk di sebelah Kibum oppa.

“Kau juga makan. Oppa tak mau adik kesayangan oppa ikut sakit.” Kibum oppa menyodorkan sekotak makanan kepadaku.

“Gomawo oppa,” ujarku tersenyum manis padanya dan mengambil makanan yang diberikannya padaku.

Seusai makan siang kami segera meluncur ke lokasi kegiatan berikutnya, pemotretan untuk sebuah majalah terbesar dari Cina sekaligus wawancara eksklusif.

Setelah pemotretan dan wawancara, Super Junior M yang terdiri dari Hangeng oppa, Donghae oppa, Ryewook oppa, Shiwon oppa, Kyuhyun, Zhou mi, dan Henry melanjutkan mengisi acara pembukaan sebuah hotel berbintang lima di kota Seoul. Sementara member yang lain juga pergi ke tempat aktivitas mereka masing-masing.

Acara pembukaan hotel itu baru selesai jam 11 malam. Dan kami baru tiba di dorm suju sekitar jam 12 malam.

Karena sangat kelelahan dan sempat kelaparan tadi siang, Kyu jadi muntah-muntah. Aku sangat panik dibuatnya. Aku memberinya obat penghilang rasa mual. Setelah satu jam barulah dia dapat tertidur.

“Apa dia sudah baikan?” tanya Donghae oppa saat aku ke luar dari kamar Kyuhyun.

“Sudah mendingan. Setidaknya dia sudah bisa tidur,” jawabku sambil duduk di samping Donghae oppa.

“Tadi pagi dia sangat panik karena kau datang terlambat. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Dia pikir kau sakit. Berkali-kali dia mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Waktu kau tiba tadi pagi, dia baru saja mau menyusul ke apartemenmu.”

Aku terkejut sekaligus terharu mendengar cerita Donghae oppa. Ternyata dia tidak sarapan karena mencemaskanku. Ada rasa bersalah menyelip di hatiku. Aku terus mengomelinya sepanjang hari karena mengira dia sedang berulah padaku.

“Sebaiknya kau pulang sekarang. Sudah jam satu malam. Istirahatlah yang cukup malam ini. Besok kau bisa datang agak siang. Kita cuma ada jadwal latihan besok. Jadi bisa sedikit agak santai.”

“Tak perlu mengkhawatirkan Kyuhyun. Aku akan menjaganya untukmu,” tambahnya lagi saat melihat keraguan di wajahku.

“Baiklah oppa, aku pulang dulu.” Aku beranjak dari dudukku dan meraih tasku yang tergeletak di atas meja.

“Kalau kau mau, aku bisa mengantarkanmu dengan mobilku?” dia tersenyum jahil kepadaku.

“Terima kasih oppa. Sepertinya aku akan lebih aman kalau naik bis daripada diantar oppa,” ujarku, balas tersenyum padanya. Reputasi Donghae oppa dalam hal menyetir mobil sangat buruk. Selain memang tak begitu pandai menyetir ditambah dengan gaya menyetirnya yang suka seenaknya. Dulu dia dan Eunhyuk oppa pernah hampir mengalami kecelakaan karena ulahnya. Dan sejak kejadian itu tak seorangpun mau menaiki mobil yang dikendarainya, kecuali kalau orang itu memang sudah bosan hidup.

******

Aku benar-benar tak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah Kyuhyun yang pucat dan muntah-muntah tadi malam terus menghantuiku. Aku sangat mengkhawatirkan kondisinya. Karena itu hari ini pagi-pagi sekali aku sudah tiba di depan pintu dorm suju.

Ku tekan bel berkali-kali dengan tidak sabaran, tapi tak ada yang membukakan pintu untukku. Mereka pasti masih tidur, pikirku. Setelah hampir sepuluh menit, barulah ada yang membukakan pintu untukku.

Heechul oppa muncul di ambang pintu dengan tampang sangat kusut dan mata masih mengantuk.

“Ini kan baru jam setengah tujuh pagi. Mengapa kau datang sepagi ini? Bukankah jadwal latihannya hari ini jam 11 siang nanti?” ujarnya saat aku melewatinya.

“Tadi malam Kyuhyun muntah-muntah, oppa. Aku mau melihat keadaannya,” ujarku tanpa menghentikan langkahku.

Aku langsung menuju ke kamar Kyuhyun.  Ternyata dia masih tertidur pulas. Sepertinya dia lelah sekali. Ku dekati dia perlahan. Berusaha sebisa mungkin agar tak membuat suara berisik. Ku perhatikan wajahnya lekat-lekat. Sepertinya sudah membaik, pikirku. Hatiku jadi tenang karenanya. Kemudian aku keluar dari kamarnya.

Di luar kamar aku mendapati Heechul oppa tertidur kembali di sofa. Ku biarkan saja dia, sepertinya dia juga sangat lelah. Kemudian aku beranjak ke dapur. Aku bermaksud membuatkan bubur untuk Kyuhyun dan tak lupa sarapan pagi untuk member lainnya.

Tak lama kemudian aku bisa mendengar para member mulai bangun. Seketika dorm menjadi ramai dengan aktivitas pagi mereka.

“Hei Yeorum~a, pagi sekali kau datang?” ujar Kibum oppa terkejut dengan keberadaanku sepagi ini di dorm mereka.

“Pagi oppa,” sapaku ceria.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya mengamati kesibukanku.

“Aku sedang membuatkan sandwich untuk kalian,” jawabku masih berkutat dengan kesibukanku.

“Wah…kalau begitu aku harus segera mandi nih. Aku tak mau ketinggalan sarapan istimewa hari ini,” ujarnya, kemudian segera berbalik ke kamarnya untuk mandi.

Akhirnya pekerjaanku selesai. Aku langsung membawa sandwich buatanku ke ruang santai. Semua member sudah berkumpul di sana. Termasuk Kyuhyun. Dia duduk di sofa. Sepertinya baru saja bangun.

Sorak-sorai langsung menyambutku saat aku meletakkan nampan yang berisi sarapan untuk mereka. “Wah…pagi ini kita sarapan ala bule,” ujar Shindong oppa langsung mencomot jatah sandwich-nya dan diikuti oleh member yang lain.

“Kau belum mencuci mukamu ya?” ujarku pada Kyuhyun. “Aishhh…. Kau ini jorok sekali. Cuci muka sana! Setelah itu baru sarapan.”

Sedikit mengejutkan, kali ini dia tak membantah sedikitpun. Dia langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.

Sementara itu aku kembali ke dapur untuk menyiapkan bubur yang kumasak untuknya dan mengambilkan susu untuk semua member.

Saat aku kembali ke ruang santai, Kyuhyun sudah berada di sana lagi. Ku tuangkan susu ke dalam gelas dan ku ambil segelas untuk Kyuhyun. Kemudian ku berikan padanya bersama bubur yang ku buat tadi.

“Kenapa kau memberiku bubur?” protesnya. “Yang lain kan makan sandwich. Kalau begitu aku juga mau sandwich.”

“Apa kau lupa kalau tadi malam kau muntah-muntah? Kau harus makan bubur. Lagian kau yakin mau makan sandwich? Sejak kapan kau suka sayuran?” ujarku kesal.

Setelah aku menyebut-nyebut sayuran, Kyuhyun langsung berhenti protes dan dia mulai memakan bubur yang ku berikan padanya. “Dasar!” omelku pelan. Sementara member yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.

“Apa perutmu masih mual?” tanyaku saat dia selasai makan. “Kalau masih mual, sebaiknya kau minum obat penghilang rasa mual lagi.”

“Perutku baik-baik saja,” ujarnya Sambil mengalihkan tatapannya dariku.

“Kau tidak sedang berbohong padaku kan?” selidikku sambil memaksanya untuk kembali menatapku.

“Aishh….kau ini, tidak percaya sekali kepadaku. Kalau ku bilang baik-baik saja, ya baik-baik saja!” Sifat garangnya muncul lagi.

“Ku rasa juga begitu. Kau memang benar-benar sudah baikan. Lihatlah sifat burukmu itu sudah muncul lagi,” sindirku.

To Be Continue…..

SEVEN YEARS LOVE (Part 1)

Author              : Park Yeorum

FB                   : Bummie Viethree

Twitter             : @green_viethree

Email   : bummie_viethree@yahoo.com

Note                            : FF ini punya arti yang cukup mendalam bagiku dimana saat aku menuliskan karakter Kyuhyun, aku seperti menuliskan karakterku sendiri. Selamat membaca …..^_^

 

 

Yeorum POV….

 

Aku berlari menuju dorm Super Junior. Aku terlambat! Hari ini Super Junior diundang dalam acara talk show di SBS TV. Dan karena tadi malam aku baru pulang ke apartemenku sekitar jam dua pagi, aku jadi bangun kesiangan.

“Ya Tuhan tolong selamatkan aku dari amukan macan,” aku bicara sendiri.

Akhirnya elevator yang ku naiki sampai di lantai 11. Ketika pintu lift terbuka secara otomatis, aku langsung disambut dengan dinding dorm yang penuh dengan coretan para fans mereka.

Aku berjalan menyusuri lorong sekitar lima menit lamanya hingga akhirnya aku tiba di depan pintu kamar dorm suju. Ku tekan belnya dan tak berapa lama pintu pun terbuka.

Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Dari ekspresinya aku tahu kalau dia sedang marah.

“Kau dari mana saja?” hardiknya kemudian.

“Mianhae,” ujarku sambil melewatinya dan buru-buru masuk ke dalam dorm.

Di dalam seluruh member yang lain sudah siap untuk berangkat. “Mianhae,” ujarku sambil membungkukkan badan sebagai tanda permohonan maafku pada mereka.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Kita masih keburu kok,” ujar Leeteuk oppa menenangkanku.

Aku meninggalkan mereka dan langsung menuju ke kamar Kyuhyun dengan dia masih mengikutiku dari belakang sambil marah-marah.

“Seharusnya kau datang lebih pagi agar semua orang tidak harus menunggumu,” omelnya di belakangku. Sementara aku sibuk memasukkan barang-barang keperluannya ke dalam tas.

“Aku kan sudah bilang mianhae. Apa itu tak cukup untuk membuatmu berhenti marah-marah?” ujarku mulai kesal. Tujuh tahun bersamanya, dia sama sekali tak berubah. Suka marah-marah dan bicara ketus. Aku juga tak mengerti kenapa aku mau saja waktu Cho ahjumma dan adjussi memintaku untuk menjadi asisten pribadinya.

“Bagaimana bisa kau memintaku berhenti marah-marah? Kau sudah membuat semua orang terlambat,” omelnya lagi.

Sekarang aku benar-benar kesal padanya. Ku balikkan tubuhku ke arahnya. Dan ku tatap dia dengan garang. “Kau pikir ini sepenuhnya salahku? Seharusnya kau bisa membereskan barang-barangmu sendiri. Tak perlu menungguku kan? Seharusnya kau tahu keperluan pribadimu sendiri. Tak perlu selalu aku yang menyiapkannya untukmu. Aku ini asisten pribadi, bukan baby sitter!” aku berteriak kepadanya.

“MWO!!” ujarnya gusar. “Kau pikir aku bayi?”

“Ya! Kau tak ubahnya seperti bayi. Bayi macan yang siap menerkam siapa saja. ARASSEO!!!” Aku benar-benar tak mau mengalah lagi padanya.

Kyuhyun baru saja mau membalas ucapanku ketika Leeteuk oppa masuk.

“Hei, kalian mau bertengkar sampai kapan? Kalau begini, kita benar-benar akan terlambat,” ujarnya melerai pertengkaran kami. Kemudian dia bicara padaku. “Apa sudah siap?” Dan aku hanya mengangguk. “Kalau begitu ayo berangkat,” ujarnya lagi sembari ke luar kamar. Aku mengikutinya dari belakang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kyuhyun. Aku sangat kesal padanya.

Sepanjang perjalanan Kyuhyun tak mau bicara padaku. Aku pun tak mempedulikan sikapnya. Dia memang selalu seperti itu kalau sedang marah padaku. Nanti juga dia akan menyerah kalau dia membutuhkan sesuatu.

Akhirnya kami sampai di SBS TV. Kami langsung menuju ruang ganti yang khusus disediakan untuk para member suju.

Aku membiarkan Kyuhyun menyiapkan dirinya sendiri. Aku mau lihat sampai berapa lama dia bisa bertahan tanpa bantuanku.

Aku menyibukkan diriku untuk membantu member yang lain. Daripada tak ada kerjaan, pikirku.

“Kenapa kau tak membantu Kyuhyun?” tanya Kibum oppa saat aku sedang membantunya memasangkan dasi.

“Coba kau lihat, dia kerepotan dengan dasinya. Sepertinya dia tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri?” tambah Kibum oppa lagi.

“Biar saja oppa!” jawabku cuek. “Dia sedang ngambek padaku. Seperti anak kecil saja. Aku tak mau bicara padanya sebelum dia yang bicara duluan padaku.”

“Tumben?” Kibum oppa mengerutkan keningnya. “Biasanya kau paling tak tahan melihat dia kerepotan seperti itu.”

“Aku mau memberikan pelajaran padanya. Dia setiap hari merepotkanku. Aku selalu bekerja dengan baik kok. Sesekali melakukan kesalahan itu manusiawi. Tapi dia malah langsung marah-marah. Padahal selama ini aku selalu bersabar menghadapi sikapnya yang ketus dan mau menang sendiri itu,” ujarku kesal.

“Ya sudah, terserah kau saja,” ujar Kibum oppa sambil mengacak-acak rambutku.

“YA, YEORUM~A! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA? CEPAT KEMARI! BANTU AKU!” tiba-tiba suara Kyuhyun berteriak dari seberang ruangan. Aku memandang kesal ke arahnya sejenak dan kemudian kembali menghadap ke arah Kibum oppa.

“Sudah ku bilang kan, oppa. Dia tidak akan tahan lama mendiamkanku. Dasar manusia egois! Pura-pura tak butuh padahal butuh,” ujarku sembari menyelesaikan memasang dasi Kibum oppa.

“Sudah pergi sana!” perintah Kibum oppa padaku. “Jangan sampai dia semakin marah padamu.”

Aku meninggalkan Kibum oppa dan menghampiri Kyuhyun. “Ada perlu apa?” tanyaku ketus.

“Pasangkan dasiku!” perintahnya.

“Untuk apa aku membantu orang yang sedang marah padaku?” jawabku angkuh dan bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu.

“Arasseo! Arasseo!” ujarnya tiba-tiba. “Aku tidak marah lagi padamu.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kemudian buru-buru ku hapus senyum di wajahku agar dia tak melihatnya dan berbalik menghadapnya lagi dengan ekspresi datar.

“Tapi sepertinya, bukan seperti itu caranya minta bantuan pada orang lain?” Keinginan jahilku muncul. Aku mengambil kesempatan ini untuk membuatnya memohon kepadaku. Jarang-jarang aku mendapatkan kesempatan emas untuk mengerjainya.

“Arasseo! Arasseo! Yeorum~a tolong pakaikan dasiku,” ujarnya dengan manis.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya meminta tolong dengan sopan padaku. Ini benar-benar sangat jarang terjadi.

“Waeeee!!!” tanyanya tak suka.

“Kau seperti orang yang sedang kerasukan kalau bersikap manis seperti itu,” ujarku masih tertawa.

“Aku lakukan sendiri saja!” ujarnya kembali ngambek dan mau melangkah pergi.

Aku buru-buru menarik lengannya. “Sudahlah, biar aku membantumu. Kalau menunggumu menyelesaikannya sendiri, bisa-bisa suju tak jadi manggung,” ujarku seraya mulai memasangkan dasinya. Aku masih menahan senyum melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan sementara dia membuang muka dariku.

Akhirnya acara pun dimulai. Dibuka oleh penampilan suju yang menyanyikan lagu sorry-sorry. Aku menonton mereka dari belakang panggung. Mereka memang mengagumkan. Begitu kompak, sangat menghibur, dan penuh kasih baik pada semua fans mereka maupun di antara mereka sendiri. Bagiku mereka benar-benar ’miracle’.

Kemudian acara dilanjutkan dengan talk show. MC yang memandu acara itu mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada semua member. Mulai dari yang sifatnya sangat umum sampai ke yang bersifat pribadi. Semua member yang lain menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh MC kecuali Kibum oppa. Dia hanya mau menjawab pertanyaan yang bersifat umum saja, sisanya dia hanya bungkam. Aku sangat mengenal oppa kesayanganku ini. Dia memang sangat sedikit bicara. Dan dia paling tidak suka kalau ditanya-tanya tentang masalah pribadi. Tak ada yang bisa membuatnya buka mulut kalau dia tak mau melakukannya. Tapi dia adalah orang yang sangat baik.

Sekarang tiba saatnya MC menanyakan tentang kehidupan cinta semua member. Mereka semua menjawabnya dengan malu-malu. Tapi di luar dugaan, tak seperti biasanya, Kibum oppa mau menjawab pertanyaan itu. Dia mengaku bahwa waktu SMA dulu dia pernah mengencani wanita yang sembilan tahun lebih tua darinya. Dan katanya saat itu dia berbohong tentang umurnya yang sebenarnya.

Aku sangat kaget dengan pengakuan Kibum oppa. Oh tidak….ternyata oppaku yang alim ini juga pernah berbuat nakal.

Sekarang giliran Kyuhyun yang menjawab. Seperti biasa dia menjawab dengan ekspresi datar. “Aku pernah jatuh cinta sekali sewaktu masih SMA,” jawabnya. “Dan aku rasa takkan ada yang kedua kalinya.”

Aku tahu persis siapa orang yang dimaksudnya. Satu-satunya orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta hanyalah Kim Tae Hae.

To Be Continue…

MY EVERYTHING

Theme     : Romance

By             : Park Yeorum

FB             : Bummie Viethree

Twitter    : @green_viethree

Email        : bummie_viethree@yahoo.com

Note         : FF ini adalah ff pertama yang bisa ku selesaikan dengan sempurna. Butuh waktu kurang ± 1 minggu bagiku untuk menyelesaikan kerangka besarnya dan hampir satu bulan masa editing. So selamat membaca. Semoga kalian suka dan jangan lupa tinggalkan kiritik serta saran kalian di kotak comment ^_^

 

 

Donghae POV….

Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit secepat yang bisa kuusahakan. Tapi semakin kupacu, kakiku terasa semakin lambat. Sementara itu, Kibum dan Kyuhyun berlari di belakangku. Mereka berusaha mengimbangi langkahku. Ku pacu lebih cepat lagi langkah kakiku. Rasa sakit yang menyeruak di dadaku tak ku hiraukan. Yang aku tahu aku harus segera sampai ke tempat tujuanku.

*****

1 jam yang lalu…..

Aku sedang berlatih dance di studio SM bersama-sama dengan member Super Junior yang lain. Besok kami harus tampil di acara tahunan dream consert dan hari ini latihan kami yang terakhir untuk acara itu.

Tiba-tiba menejer Lee yang sedari tadi mengawasi kami memanggilku.

“Donghae~a, ada telepon untukmu,” ujarnya sembari mengulurkan ponselku yang dipegangnya.

Aku segera menghampirinya dan mengambil ponsel yang diulurkannya padaku. “Gamsahamnida,” ujarku pada menejer lee.

Yoboseyo,” sapaku saat kutempelkan ponsel itu di telingaku. Suara Jinho hyung, kakaknya Gaeul, menyambutku dari seberang.

“Hyung, ada apa menelponku malam-malam begini? Kau kangen padaku ya? Atau Ara yang memintamu melakukan ini? Karena dia malu mengatakan kalau dia merindukanku sehingga dia memintamu yang melakukan ini untuknya?” candaku.

Aku dan Jinho hyung memang suka sekali menggoda Gaeul. Terlebih saat dia gengsian untuk mengungkapkan perasaanya secara terbuka terhadapku.

“Donghae ah, dengarkan aku!” Suara Jinho hyung terdengar sangat serius. Aku sedikit terkejut mendengar nada bicaranya. Tidak biasanya dia berbicara dengan nada seperti itu. Biasanya calon iparku ini suka sekali kalau diajak menggoda adik kesayangannya itu.

“Hyung ada apa?” tanyaku, mengubah nada bicaraku sedikit lebih serius karena sepertinya Jinho hyung sedang tidak berniat untuk bercanda.

“Apa kau bisa ke rumah sakit sekarang juga?” tanyanya padaku.

“Ada apa sebenarnya, hyung?” Kini aku mulai cemas karena dia menyebut-nyebut rumah sakit .

“Donghae~a,” Jinho hyung menghela napas panjang, “Gaeul… Dia mengalami kecelakaan. Sekarang dia dirawat di Hangyang University Hospital. Aku harap kau bisa ke sini secepatnya.”

Kepalaku serasa dihantam benda keras mendengar ucapan Jinho hyung barusan.

“Gaeul kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku panik.

“Aku tak bisa menjelaskannya lewat telepon. Apa kau bisa ke sini sekarang?”

“Ya,” jawabku cepat.

“Usahakan secepatnya!” Jinho hyung mengakhiri pembicaraan kami.

Aku termangu di tempatku berdiri dengan ponsel masih menempel di telingaku. Otakku masih mencoba mencerna kata-kata Jinho hyung barusan. Perlahan-lahan akhirnya aku mulai mengerti. Gaeul, satu-satunya gadis yang berhasil mengisi relung hatiku selama tujuh tahun ini mengalami kecelakaan. Tapi bagaimana mungkin bisa terjadi? Baru sekitar satu jam yang lalu aku menelponnya. Mendengar suara tawanya yang ceria. Tapi sekarang entah bagaimana keadaannya.

“Hyung, ada apa?” tiba-tiba Kibum sudah berada di sampingku, menyadarkanku.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya bergegas mengemasi barang-barangku. Pikiranku juga masih linglung.

“Donghae~a, ada apa?” Leeteuk hyung mengulangi pertanyaan Kibum.

Setelah mamasukkan semua barang-barangku ke dalam tas, akhirnya aku berbalik menghadapi mereka. Semua member kini sedang menatap kepadaku dengan rasa ingin tahu.

“Gaeul mengalami kecelakaan,” ujarku dengan suara tercekat. “Aku harus ke rumah sakit sekarang juga!”

Semua member sangat terkejut mendengar jawabanku.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Eunhyuk prihatin.

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak tahu bagaimana persisnya.”

“Aku pergi…” Aku membalikkan badanku untuk meninggalkan mereka.

“Hyung,” panggil seseorang ketika aku sampai di ambang pintu. Ku balikkan lagi badanku dan ternyata Kibum yang memanggilku.

“Aku ikut. Kau tak boleh nyetir dalam kondisi panik seperti ini,”ujarnya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan permintaannya.

“Aku juga,” kali ini si bungsu Kyuhyun juga ikut bersuara.

*****

Kembali ke masa sekarang….

Akhirnya aku sampai di depan ruang ICCU. Di sana sudah ada Paman dan Bibi Cho, orang tuanya Gaeul. Mereka terduduk lemas di kursi ruang tunggu, saling bersandar satu sama lain. Di wajah mereka tersirat kesedihan yang bercampur kecemasan yang amat sangat.

Jinho hyung yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang ICCU langsung menghampiriku saat melihat kedatanganku.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku masih dengan napas ngos-ngosan.

“Kami belum tahu. Dokter masih memeriksanya,” jawabnya.

Tiba-tiba seorang dokter ke luar dari ruang ICCU. Paman dan Bibi Cho yang sedari tadi duduk saling bersandar, langsung berdiri. Aku, Jinho hyung, Kibum dan Kyuhyun juga ikut mengerubungi dokter itu.

“Bagaimana keadaan putri kami, Dok?” ujar Paman Cho penuh harap.

“Saya harap semuanya bisa tenang. Kecelakaan yang dialami pasien sangat serius. Kecelakaan itu menghancurkan kaki kirinya. Dan tidak ada pilihan lain…. kakinya harus diamputasi,” ujar dokter itu.

Bibi Cho tak mampu lagi membendung air matanya. Seketika tangisnya pecah mendengar kondisi putri kesayangannya saat ini. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.

Sementara aku hanya berdiri kaku di tempatku. Aku tak mampu mempercayai apa yang baru saja ku dengar. Kakiku serasa tak mampu lagi menopang tubuhku agar tetap berdiri tegak. Untung ada Kibum dan Kyuhyun memegangiku dari belakang.

Hatiku benar-benar sakit membayangkan orang yang sangat aku cintai harus melalui sisa hidupnya hanya dengan satu kaki. Penderitaan seperti apa yang akan dia rasakan setiap harinya. Terlebih dia takkan bisa menari lagi. Sementara balet adalah hidupnya. Bagaimana dia bisa melewati semua ini? Bagaimana dengan impiannya? ‘Ya Tuhan, ini akan sangat menyakitkan baginya,” jeritku dalam hati.

“Operasi ini harus dilakukan sesegera mungkin,” dokter menjelaskan lagi. “Pasien saat ini masih dalam kondisi kritis. Kalau ditunda-tunda kakinya akan membusuk. Dan ini akan lebih membahayakan nyawanya.”

Seketika aku langsung maju ke hadapan dokter dan menggenggam tangannya. “Dok, pasti ada cara lain untuk menolongnya kan? Tidak harus dengan amputasikan, Dok? Dia seorang penari. Mana mungkin hanya dengan sebelah kaki, Dok.”

Dokter menggelengkan kepalanya. “Ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya. Jangan terlalu lama mengambil keputusan.”

Dokter itu kembali masuk ke ruang ICCU. Kini aku benar-benar kehilangan semua kekuatanku. Pertahanan yang kubangun sejak tadipun akhirnya runtuh. Dan tanpa ku sadari setetes air mata jatuh dipipiku. Aku mengerang, mencoba menghilangkan rasa sakit di dadaku. Tapi rasa sakit itu malah bertambah parah sekarang.

Kibum dan Kyuhyun yang dari tadi berdiri tak jauh dariku, menghampiriku. “Hyung duduklah dulu,” ujar Kyuhyun sembari membawaku ke kursi yang ada di dekat kami berdiri. Aku benar-benar kacau sekarang.

“Hyung, kau harus tegar. Kau tidak boleh ikut-ikutan menjadi lemah. Kalau kau lemah siapa yang akan menopang Gaeul nantinya? Siapa yang akan menjadi tempat bersandarnya?” ujar Kibum bijak. Anak ini jarang sekali berbicara, tapi kalau sudah bicara setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti mutiara.

Jinho hyung memelukku, menepuk-nepuk punggungku, mencoba memberikan ketenangan padaku, walaupun hatinya sendiri pasti sedang sangat hancur mengingat kondisi adik yang sangat disayanginya saat ini.

“Kau harus lebih tabah Donghae~a. Mulai hari ini kaulah yang akan menjadi penopang bagi Gaeul. Jadi kau harus lebih kuat. Jangan membuat Gaeul menjadi lebih hancur karena harus melihatmu seperti ini,” ujarnya di telingaku.

Apa yang dikatakan Kibum dan Jinho hyung benar. Aku harus kuat! Gaeul butuh penopang yang kuat untuk hidupnya di masa mendatang. Pikiran ini berhasil membuatku sedikit lebih tegar.

*****

Satu minggu sudah Gaeul terbaring di ruang ICCU dan tak sadarkan diri. Operasi sudah dilakukan sesuai dengan saran dokter. Semua berjalan dengan lancar. Sekarang kami hanya bisa menunggunya sadar untuk melihat bagaimana reaksinya nanti. Dan tak seorang pun yang berani membayangkan reaksi seperti apa yang akan diberikan Gaeul ketika mengetahui bahwa kaki kirinya sudah tak ada. Ini akan menjadi sangat sulit, pikirku.

Aku sengaja meminta izin kepada menejer untuk tidak mengikuti semua jadwal manggung super junior sejak malam Ara kecelakaan. Aku ingin selalu berada di sisinya. Aku tak mau meninggalkannya sendirian.

Aku tercenung memandangi wajah gadis yang sangat ku cintai, yang sekarang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Matanya yang biasanya berbinar indah, kini tertutup rapat. Bibirnya yang selalu membentuk senyum indah untukku, kini diam tak bergerak. Wajahnya yang selalu merona kemerahan, kini begitu pucat. Begitu banyak kabel-kabel alat bantu yang dipasangkan ke tubuhnya. Namun bagiku dia tetap gadis tercantik yang memiliki jiwa terindah yang pernah ku kenal.

*****

Tujuh tahun yang lalu….

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru. Seperti biasa, kegiatan sekolah dibuka dengan upacara penyambutan para siswa baru. Dan ini adalah kali pertama aku melihatnya.

Dia berdiri di barisan paling depan di antara murid-murid baru. Dia begitu menonjol di antara yang lainnya. Wajahnya sangat cantik dan lembut. Sikap tubuhnya penuh dengan keanggunan. Pribadinya yang menyenangkan membuatnya sangat mudah untuk disukai oleh teman-temannya.

Gaeul adalah juniorku saat aku masih bersekolah di Sun Hwa Arts Senior High School, sebuah sekolah khusus seni yang terdapat di kota Seoul. Aku sudah menyukainya sejak pertama aku melihatnya. Tapi dia begitu sulit untuk didekati. Dia sedikit tertutup dengan makhluk yang berjenis kelamin laki-laki. Selain itu sikapnya yang begitu anggun dan bijaksana membuatku tak percaya diri untuk mendekatinya. Aku tidak yakin dia akan menyukai seorang yang childish seperti aku.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Sekarang aku sudah duduk di kelas tiga, sementara Gaeul di kelas dua. Tapi sampai saat ini aku masih saja hanya berani memandanginya dari kejauhan.

Gaeul mengambil jurusan khusus clasical ballet di sekolah kami, sementara aku mengambil jurusan khusus modern dance. Gaeul sangat menyukai balet dan impian terbesarnya adalah menjadi seorang penari balet profesional. Gerakan tarinya sangat indah. Aku sering melihatnya latihan secara diam-diam. Ini sangat mudah bagiku karena studio latihan jurusan modern dance dan clasical ballet terletak bersebelahan.

Suatu hari aku sedang latihan dance sendirian di studio. Saat itu perhatianku sedang benar-benar tercurah pada gerakan-gerakan rumit yang coba kuciptakan sampai-sampai aku tak menyadari kehadiran seseorang di ruangan itu. Aku baru menyadarinya ketika latihanku usai dan ada yang bertepuk tangan dari arah belakangku.

Aku membalikkan tubuhku, mencari asal suara dan Gaeul ada di sana.

“Tarian Sunbaenim sangat bagus,” ujarnya tersenyum padaku.

Ini kali pertama aku melihatnya tersenyum langsung padaku dalam jarak yang relatif dekat. Ternyata aku telah salah mengapresiasikan dirinya selama ini. Dia jauh lebih cantik dari yang telah ku lihat setahun belakangan ini. Seketika aku menjadi begitu gugup dan tak bisa berkata apa-apa.

“Aku sering memperhatikan dari luar saat Sunbaenim sedang berlatih. Gerakan-gerakan yang Sunbaenim ciptakan sangat berenergi dan bersemangat. Aku sangat menyukainya,” ujarnya lagi masih tetap tersenyum kepadaku.

“Kau sering memperhatikanku latihan?” tanyaku tak percaya. Dan dia mengangguk mengiyakan.

“Apa kau mengenalku?” tanyaku lagi masih dengan nada tak percaya.

Dia tertawa mendengar pertanyaanku. “ Bagaimana mungkin aku tidak mengenal Sunbaenim? Sunbaenim sangat terkenal di kalangan para cewek di sekolah kita. Aku sering sekali mendengar nama Sunbaenim disebut-sebut oleh teman-temanku saat mereka sedang menggosip.”

“Perkenalkan namaku Gaeul. Cho Gaeul,” tiba-tiba dia mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya dengan kikuk.

“Lee… Donghae,” ujarku terbata.

“Maukah Sunbaenim mengajariku ngedance?”

“Kau mau belajar dance?” ujarku, surprise saat mendengar permintaannya. “Bukankah kau menyukai balet? Kau tidak berniat untuk ke luar dari balet dan pindah jurusan kan?”

Sunbaenim tahu kalau aku sangat menyukai balet???” Matanya membesar karena terkejut. Membuatnya terlihat lucu.

“Ah… aniyo!!! Aku hanya pernah melihatmu latihan dan gerakanmu sangat indah. Ku pikir tidak mungkin kau bisa menari seindah itu kalau tidak sangat menyukainya,” ujarku mengelak, mencoba menutupi kenyataan bahwa aku sering memperhatikannya.

“Analisa Sunbaenim tepat sekali. Aku sangat menyukai balet, tapi bukan berarti aku tidak boleh belajar tarian yang lain kan?”

“Kau serius mau belajar?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk bersemangat.

“Kalau begitu datanglah kemari setiap kali kau punya waktu luang.”

Singkat kata, sejak hari itu kami semakin dekat. Awalnya hanya menari kegiatan yang kami lakukan bersama. Lama-lama kami sering menghabiskan waktu berdua.

Setelah enam bulan hubungan kami menjadi begitu dekat. Aku memberanikan diri untuk mengatakan perasaanku terhadapnya. Dan tak disangka-sangka ternyata Gaeul memiliki perasaan yang sama terhadapku. Ternyata dia juga sudah menyukaiku sejak pertama kali dia melihatku.

Selanjutnya Gaeul menjadi bagian penting dalam hidupku. Dia selalu ada di sisiku, disetiap moment penting dalam hidupku. Dia yang begitu mendukungku untuk mengikuti audisi yang diadakan SM Entertainment sampai akhirnya aku menjadi seperti sekarang.

Gaeul juga setia berada di sisiku disaat terhancur dalam hidupku yaitu ketika Appa yang begitu aku cintai meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dia begitu sabar mendampingiku. Tak sekejap pun dia membiarkan aku sendirian dalam keterpurukanku. Sampai-sampai saat itu dia membatalkan keberangkatannya ke Canada untuk mengikuti sebuah kompetisi balet internasional. Kompetisi yang sudah menjadi impiannya sejak lama.

“Aku akan punya kesempatan yang jauh lebih baik suatu saat nanti. Saat ini yang terpenting dalam hidupku adalah tetap berada di samping Oppa,” ujarnya saat mencoba meyakinkanku bahwa keputusannya itu adalah yang terbaik untuk saat itu. Dan dia membuktikan ucapannya. Beberapa bulan berikutnya dia berhasil memenangkan kompetisi balet terbesar tingkat dunia di Jerman. Saat menerima trofi kemenangan dia menyebutkan namaku di urutan pertama dalam pidato kemenangannya dan dia mempersembahkan kemenangan itu sebagai kado ulang tahun terindah untukku.

Begitu besar cinta yang Gaeul berikan untukku, hingga aku merasa sudah memiliki semua cinta yang ada di dunia ini. Dan aku pun mencintainya begitu dalam. Memberikan seluruh kebahagiaan yang aku miliki dalam hidupku kepadanya menjadi impian terbesar dalam hudupku.

*****

Kembali ke masa sekarang…

Pagi ini aku kembali ke dorm Suju. Hanya untuk membersihkan badan dan berganti pakaian. Setelah itu aku langsung kembali lagi ke rumah sakit yang terletak di Haenghang-dong District itu. Aku tak mau ketika Gaeul sadar aku tak berada di sampingnya.

Saat aku sampai di depan kamar tempat Gaeul di rawat, aku mendengar kegaduhan dari dalam kamar. Ada suara yang begitu aku kenal. Suara yang selalu memberikan kebahagiaan tersendiri bagiku saat aku mendengarnya. Ya…itu suara Gaeul. “Dia sudah sadar sekarang,” pikirku. Tapi suaranya sekarang terdengar begitu memilukan bagiku. Gaeul sedang menangis.

Menyadari apa yang sedang terjadi, aku semakin mempercepat langkahku. Tanpa pikir panjang ku putar knop pintu dan ku dorong daun pintu hingga terbuka.

Di dalam aku melihat Paman dan Bibi Cho serta Jinho hyung sedang berkutat mencoba menenangkan Gaeul yang menangis histeris. Tak seorang pun menyadari kehadiranku sampai aku bersuara.

“Gaeul~a….” Ucapanku menggantung, karena saat itu aku memang tak tahu harus mengatakan apa lagi. Tapi suaraku mampu membuat semua orang yang ada di ruangan ini menyadari kehadiranku.

Seketika semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, termasuk Gaeul. Aku melangkahkan kakiku untuk mendekatinya. Aku ingin sekali memeluknya. Menyandarkan semua kepedihannya saat ini di dadaku. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, “ANDWE!!!” Gaeul menjerit histeris. Melarangku untuk mendekatinya.

ANDWE! JANGAN MENDEKATIKU!” teriaknya sekali lagi.

Teriakannya itu membuat langkahku terhenti. Aku tak percaya dengan reaksi yang diberikan Gaeul. Aku benar-benar tak menyangka dia akan bersikap seperti ini terhadapku.

“Gaeul~a…ini aku. Donghae Oppamu,” ujarku mencoba menenangkannya sembari kembali melangkahkan kakiku untuk mendekatinya.

ANDWE!!!” teriaknya lagi dan jauh lebih memilukan dari yang tadi. Gaeul mencoba menjauhkan dirinya sejauh mungkin dariku sampai dia terjatuh ke lantai.

Seketika aku dan semua orang yang berada di ruangan itu tersentak kaget. Aku segera berlari ke arahnya untuk memeriksa apakah dia terluka dan mencoba untuk membantunya kembali ke tempat tidur. Tapi tangis Gaeul semakin menjadi ketika aku mencoba mengangkatnya. Dia menepiskan tanganku dan mendorong tubuhku agar berada sejauh mungkin darinya.

“Gaeul~a biarkan oppa membantumu naik ke tempat tidur,” bujukku.

Andwe... Jangan mendekat padaku Oppa. Aku bukan Gaeul yang dulu lagi. Gaeul yang begitu sempurna di mata Oppa. Gaeul yang membuat Oppa bangga karena tariannya kini sudah mati. Gaeul yang sekarang adalah Gaeul yang cacat. Gaeul yang tak pantas di sandingkan dengan seorang Lee Donghae.” Ucapan Gaeul seperi sebilah pedang menancap tepat di jantungku.

“Tidak Gaeul~a. Gaeul yang dulu ataupun Gaeul yang sekarang adalah orang yang sama. Tetap gadis yang paling Oppa cintai dalam hidup Oppa. Tetap gadis yang oppa inginkan selalu berada di sisi Oppa,” ujarku terus berusaha meyakinkannya.

Aku kembali mencoba mengangkat tubuhnya. Tapi dia kembali menepiskan tanganku dan mendorongku sejauh mungkin darinya.

“Tidak Oppa. Oppa harus melupakanku. Oppa harus berhenti mencintaiku. Aku bukan gadis yang pantas untuk Oppa. Oppa harus dapatkan yang terbaik. Dan yang jelas gadis itu bukan gadis cacat seperti aku,” tangisnya memilukan.

Sekujur tubuhku serasa kaku mendengar ucapannya. Dia menginginkan aku untuk berhenti mencintainya. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang ku dengar. Bagaimana mungkin dia meminta hal seperti itu dariku? Sementara dia tahu persis seberapa besar aku telah mencintainya selama tujuh tahun ini. Kini aku hanya bisa terduduk lemas di lantai. Sementara itu, tak jauh dari tempatku berada Gaeul menangis tertelungkup di lantai.

“Sebaiknya kau keluar dulu. Tunggu sampai Gaeul tenang. Saat ini dia masih shock. Kita tak bisa terlalu memaksanya sekarang,” ujar Jinho hyung sambil membantuku berdiri.

“Eunhyuk, Kyuhyun, tolong bawa Donghae keluar dulu,” ujarnya kepada Eunhyuk dan Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan ini.

Tanpa menjawab Eunhyuk dan Kyuhyun langsung menggantikan Jinho hyung memegangiku dan mereka menuntunku berjalan ke luar dari kamar itu. Aku sudah tak punya pilihan lain lagi selain mengikuti mereka. Saat ini aku sudah tak punya cukup tenaga lagi untuk melawan. Reaksi Gaeul tadi sudah melemahkan semua sistem sarafku. Yang tertinggal sekarang hanyalah rasa sakit yang menusuk-nusuk di dadaku.

*****

Sejak hari itu, tak sekalipun aku berhasil menemui Gaeul. Kalau aku memaksa, dia akan menangis histeris seperti saat itu. Bahkan sampai sekarang, saat Gaeul sudah diperbolehkan pulang, dia tetap menolak menemuiku. Berbagai cara sudah coba ku lakukan, tapi semuanya sia-sia.

Hari ini aku bermaksud untuk kembali mencoba menemui Gaeul di rumahnya. Walau berkali-kali usahaku gagal, tapi aku menolak untuk menyerah. Yang aku tahu, aku harus membuat Gaeul mengerti bahwa dia orang yang paling aku inginkan dan paling pantas berada di sisiku selamanya. Tak peduli apapun kondisinya. Aku ingin meyakinkannya bahwa tak ada hal apapun di dunia ini yang dapat membuatku berhenti untuk mencintainya.

Bibi Cho yang menyambut kedatanganku dan dia mempersilahkanku masuk.

“Bagaimana keadaan gaeul, Ahjumah?” tanyaku sopan.

Bibi Cho memperlihatkan ekspresi seperti ingin meminta maaf padaku. “Donghae ah, Gaeul sudah tidak ada di sini lagi.”

Aku tersentak mendengar ucapannya. Apa sebenarnya yang dia maksud dengan Gaeul sudah tak ada di rumah mereka lagi?

“Apa maksud Ahjumah?” tanyaku tak yakin dengan ucapannya tadi.

“Sejak kemarin Gaeul sudah pindah dan tidak tinggal di rumah ini lagi?” ujarnya sedih.

“Tapi dia pindah ke mana? Bukankah dalam kondisi sekarang ini seharusnya dia harus tinggal bersama keluarganya?” ujarku semakin tak mengerti.

Bibi Cho hanya diam menanggapi pertanyaanku. Sepertinya dia tak tahu lagi harus mengatakan apa padaku.

Perlahan aku mengerti apa maksud perkataan Bibi Cho tadi.

“Maksud Ahjumah, gaeul pergi untuk menghindariku? Agar aku tak menemukannya?” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Gaeul meninggalkan surat ini untukmu.”

Bibi Cho menyerahkan sepucuk surat padaku. Dan aku langsung membukanya.

Donghae Oppa….

Mian aku harus melakukan ini padamu. Tidak ada niatku untuk menyakiti hati Oppa. Tapi percayalah, ini yang terbaik untukku dan terutama untuk Oppa. Aku tak mau menjadi sumber penderitaan bagi Oppa. Aku tahu kondisiku saat ini sangat melukai perasaan Oppa. Karena itulah aku mengambil keputusan ini.

Aku sama sekali tak meragukan perasaan Oppa terhadapku. Tapi aku yakin keberadaanku akan sangat menyulitkan Oppa untuk ke depannya. Aku tak mau jadi beban bagi Oppa. Karena itu jalan ini adalah yang terbaik.

Aku berharap Oppa segera melupakanku. Oppa layak mendapatkan gadis yang sempurna. Gadis yang dapat menjadi kebanggaan bagi Oppa untuk mencintainya.

Mian jika aku harus memilih jalan seperti ini untuk mencintai Oppa. Aku harap Oppa dapat mengerti.

Gaeul

Aku terpaku menatap surat yang ditulis Gaeul untukku. Tak pernah terlintas di benakku Gaeul akan menggunakan cara ini untuk memaksaku melupakannya. Pikiranku benar-benar kacau sekarang. Rasa sakit di hatiku menjadi-jadi. Aku sungguh tak menyangka bahwa aku akan kehilangan gadis yang sangat aku cintai dengan cara seperti ini.

Aku menatap penuh harap pada bibi Cho.

Mian Donghae~a, aku tak dapat memberitahukan kepadamu ke mana Gaeul pergi,” ujarnya menjawab pertanyaan yang tak terungkapkan dari mulutku.

“Aku mengerti, Ahjumah. Mungkin Gaeul butuh waktu untuk berfikir. Tolong katakan padanya aku akan menunggunya,” ujarku sembari berpamitan.

*****

Tiga bulan sudah berlalu sejak kepergian Gaeul. Sejak saat itu tak sekalipun aku bertemu dengannya. Tapi hal ini sama sekali tak melunturkan perasaanku terhadapnya. Aku tetap mencintainya seperti dulu, bahkan lebih besar. Tak sekalipun pula aku menyerah untuk mencarinya. Aku yakin suatu saat akan menemukannya karena hatiku akan menuntunku kepadanya.

Akhir-akhir ini hari-hariku sangat melelahkan. Rangkaian Tour Super Show Consert akan segera dimulai. Semua member berlatih keras untuk memberikan penampilan yang terbaik bagi para fans.

Malam ini kami baru kembali ke dorm sekitar jam dua pagi. Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa di ruang tamu. Sementara Kibum langsung menyalakan komputernya karena harus mengirimkan tugas kuliahnya yang sudah deadline kepada dosennya. Leeteuk hyung, Heechul hyung, Kangin hyung, Shindong hyung, Yesung hyung, Sungmin hyung, Hangeng hyung, Eunhyuk, Siwon, dan Ryewook ikut-ikutan tiduran di permadani. Dan si bungsu Kyuhyun, seperti biasa, langsung sibuk dengan PSP-nya.

“Donghae~a, bagaimana, apa kau sudah dapat kabar tentang Gaeul?” tanya Heechul hyung padaku tiba-tiba.

Pertanyaan Heechul hyung membuatku sangat terkejut. Biasanya dia yang paling berhati-hati menyebut nama Gaeul di hadapanku.

“Ah… anni, hyung. Aku belum dapat kabar apapun tentangnya,” jawabku tergagap.

“Jangan menyerah Donghae~a. Kau harus membawanya kembali, Ok. Aishh…aku jadi merindukannya sekarang!” keluh Heechul hyung.

“Benar Donghae~a, kau jangan menyerah. Sudah lama sekali aku tak menyanyikan sebuah lagu untuknya. Biasanya dia selalu memintaku.” Yesung hyung ikut berkomentar.

Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan mereka. Aku tahu semua member merindukannya. Gaeul begitu dekat dengan mereka. Bagi mereka, Gaeul adalah adik dan teman mereka. Mendengar antusiasme mereka dalam menemukan Gaeul membuatku semakin merindukan kehadiran gadis itu di sisiku lagi.

Aku tak mau kelemahan hatiku terlihat oleh mereka. Akhirnya aku pamit ke kamarku untuk menyembunyikan raut sedih di wajahku dari mereka semua.

Di kamar aku membaringkan tubuhku di ranjang. Berusaha mengangkat beban berat yang menghimpit di dadaku. Ku ambil foto Gaeul yang selalu terpajang di meja, di samping tempat tidurku. Kemudian ku tatap lekat-lekat.

Tak terasa setetes air mataku mengalir tanpa disadari. Kerinduanku padanya begitu besar hingga rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk menahannya. Selama ini kesibukanlah yang sedikit mengalihkan perhatianku. Namun apabila tiba saatnya beristirahat seperti ini, tak sekali pun aku mampu menepis bayangannya dari pikiranku.

Ku dekap foto Gaeul erat-erat. Berharap dengan begitu aku dapat merasakannya lebih dekat denganku. Dan aku terus mendekapnya hingga aku tertidur. Begitulah selama tiga bulan ini aku mampu bertahan dalam penantianku.

*****

Akhirnya rangkaian Tour Asia Super Show Consert di mulai. Kami tampil di banyak negara di Asia. Dan konser kami sukses besar di semua negara yang kami datangi.

Berbeda dengan tour-tour yang pernah ada sebelumnya. Biasanya tour akan dibuka di negara asal. Tapi untuk Super  Show ini, justru di tutup di negara asal kami, Korea Selatan.

Konser penutupan diadakan besar-besaran dengan panggung termegah yang pernah ada. Konser diadakan di Olympic Fencing Gymnasium, sebuah arena olah raga indoor yang berlokasi di Olympic Park, Seoul, Korea Selatan. Arena ini mampu menampung sekitar 6.341 orang. Dan panggung untuk konser ini di set sedemikian rupa agar semua member dapat menjamah seluruh penonton yang hadir. Alhasil, seluruh member harus mengerahkan tenaga lebih untuk mengelilingi panggung agar dapat langsung melakukan kontak dengan penonton.

Seperti rencana, dalam konser ini aku akan tampil solo dengan menyanyikan lagu My Everything. Menjelang penampilan soloku itu, tiba-tiba muncul perasaan yang aneh. Perasaan ini adalah perasaan yang dulu selalu muncul saat Ara ada di dekatku. Begitu nyaman dan tenang. Dan saat aku melangkah memasuki panggung, perasaan ini semakin kuat.

Kini aku berdiri di tengah-tengah panggung utama. Ku angkat mikrofon yang ku pegang dan ku dekatkan ke mulutku. Aku tahu di manapun Ara berada, dia pasti sedang melihatku. Ini saat terpenting dalam karirku dan Ara takkan melewatkan hal apapun yang penting dalam hidupku.

Seketika aku merasa ini kesempatan terakhir bagiku untuk dapat menemukannya. Jadi ku putuskan mengawali penampilanku untuk mengatakan tentang perasaanku padanya karena aku yakin saat ini dia sedang mendengarkanku.

“Aku persembahkan lagu ini untuk seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Seseorang yang selama tujuh tahun ini selalu menyertaiku dalam setiap moment indah dalam hidupku. Seseorang yang selalu menemaniku dalam setiap keterpurukanku. Seseorang yang memberikan semua kebahagiaannya untukku dan mengambil semua kesedihanku untuk dirinya. Seseorang yang selalu mengangkatku saat terjatuh. Dan seseorang yang akan selalu aku cintai baik dimasa laluku, sekarang, dan juga masa depanku.

Aku yakin di manapun dia berada, dia sedang mendengarkanku. Kau adalah yang paling pantas berada di sisiku. Tak pernah ada orang lain yang bisa melakukan begitu banyak hal untukku, sebanyak yang telah kau lakukan. Tak ada pula orang yang bisa mencintaiku sebesar engkau mencintaiku. Karena itu izinkan aku mendampingimu di masa sulitmu seperti dulu kau mendampingiku di saat hidupku diambang kehancuran. Izinkan aku mewujudkan impian terbesar dalam hidupku. Memberikan semua kebahagiaan dalam hidupku kepadamu. Dan aku yakin aku dapat menemukanmu dengan hatiku.”

Kemudian denting piano mulai mengawali lagu My Everything…..

The loneloness of nights alone

The search for strength to carry on

My every hope has seemed to die

My eyes had no more tears to cry

Then like the sun shining up above

You surrounded me

With your endless love

Coz all the things I couldn’t see

Now so clear to me

………………………………………..

Aku mengelilingi panggung dan mencoba menyapa setiap penonton sampai akhirnya pandanganku tertuju pada satu titik. Dia berada di tengah-tengah penonton tepat di tribun di hadapanku. Dia duduk di atas kursi rodanya dan kepalanya tertunduk begitu dalam. Walau pun aku tak dapat melihat wajahnya, tapi aku tahu saat ini dia sedang menangis.

Perlahan aku berjalan mendekatinya. Sementara dia masih belum menyadari kehadiranku. Hingga saat aku berlutut di hadapannya dan kuulurkan tangan kananku kepadanya, barulah dia mengangkat wajahnya yang kini bersimbah dengan air mata.

Saat ini jarak antara kami begitu dekat, tapi aku masih belum berani menyentuhnya. Aku begitu berhati-hati, sebisa mungkin menjaga agar dia tidak merasa terdesak.

Dia tak juga menyambut tanganku yang kini terulur kepadanya. Dia hanya menatapku sambil menggeleng perlahan sebagai tanda penolakannya.

Ku tatap lekat-lekat wajahnya yang kini mengkilap karena air matanya yang terus mengalir. Sekuat tenaga ku tahan keinginan hatiku untuk memeluknya. Sementara mulutku tetap menyenandungkan syair lagu yang sedang kubawakan.

……………………………………………

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is your alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me trough

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be

My everything

Oooh….my everything

Aku menyudahi nyanyianku dengan tetap berlutut di hadapannya. Suasana Olympic Fencing Gymnasium yang dipadati oleh ELF pun kini sunyi-senyap. Lebih dari 6.400 pasang mata sedang tertuju pada kami.

Aku masih tetap diam menunggu reaksinya. Tapi setelah lewat beberapa menit, Gaeul masih tak memberikan respon apapun. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Dia mencoba menjauhkan tangannya dari jangkauanku. Tapi tak banyak tenaga yang bisa dia kerahkan hingga sekarang aku berhasil menggenggam tangannya.

Aku meletakkan tangan kami di dadaku. Sementara Gaeul tetap menolak menatapku sehingga dia hanya menundukkan kepalanya.

“Gaeul~a, aku mohon jangan menolakku lagi. Aku sudah cukup menderita beberapa bulan ini. Dan aku yakin kaupun juga sangat menderita.” Aku memohon kepadanya.

“Apa kau belum juga menyadarinya? Berpisah bukan jalan yang terbaik untuk kita. Kita sudah mencobanya beberapa bulan ini. Apa kau lihat diantara kita ada yang bisa hidup dengan baik? Tidak Gaeul~a, beberapa bulan ini kita tidak hidup dengan baik. Tidak aku. Tidak juga kau. Kita sudah sangat menderita Gaeul~a. Aku… juga kau, Gaeul~a. Kita benar-benar sangat menderita.”

Gaeul tetap menunduk. Dan dia tetap tidak memberikan respon apapun.

Sekarang aku mulai merasa putus asa. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi padanya agar dia mengerti. Sebagai gantinya aku hanya bisa menangis.

Mendengar isakanku, akhirnya Gaeul mengangkat wajahnya dan menatap tepat ke mataku yang kini basah karena air mata..

Saranghaeyo, Gaeul~a…. Saranghaeyo….Jeongmal sarangheyo,” ucapku sepenuh hati mencoba menggunakan kesempatan terakhirku untuk meluluhkan hatinya.

“Aku mohon, izinkanlah aku yang menjadi tongkatmu mulai detik ini,” ujarku sembari menatap wajahnya lekat-lekat.

Seketika dia langsung memelukku begitu erat. Air matanya yang dari tadi sudah mengalir kini semakin deras dan aku bisa merasakannya membasahi kaos putih yang ku kenakan. Beban berat yang menghimpitku selama ini serasa terangkat sudah. Dan untuk pertama kalinya, hari ini aku bisa bernapas lega.

Aku mendekapnya erat di dadaku. Ku biarkan dia menumpahkan semua sisa kesedihannya di sana.

Akhirnya setelah beberapa lama Gaeul menjauhkan tubuhnya dari dekapanku dan menatapku begitu lekat. Seluruh wajahnya kini bengkak karena terlalu banyak menangis. Akupun menatapnya dengan penuh kasih. “Ya Tuhan, aku tak tahu seberapa besar aku sudah merindukan wajah ini.”

Mianhe, Oppa…. Mianhe…. Jeongmal mianhe. Aku sudah membuat Oppa sangat bersedih. Aku sudah begitu egois memaksakan kehendakku kepada Oppa. Aku hanya memikirkan bagaimana membuat hatiku merasa lebih tenang tanpa memikirkan perasaan Oppa. Aku ingin Oppa mendapatkan yang terbaik, tapi malah aku sendirilah yang memberikan yang terburuk untuk Oppa. Mianhe… Jeongmal mianhe,” ujarnya masih terisak.

Aku bangkit dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kemudian aku mencium setiap titik air mata yang mengalir di pipinya.

“Oppa senang gadis kesayangan oppa sudah kembali lagi seperti dulu. Semua ini takkan terulang lagi. Tidak akan ada lagi kesedihan dan perpisahan. Mulai hari ini kita akan selalu bersama.”

Dia hanya mengangguk. Kemudian aku menggendongnya. Mengangkat tubuhnya dari kursi rodanya. Ketika berdiri barulah aku menyadari bahwa Jinho hyung sudah berdiri di sana sejak tadi. Dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumannya.

Ku bawa Gaeul ke tengah-tengah panggung, tempat di mana semua member super junior sudah menantikan kami. Mereka semua menyambut kedatangan kami dengan senyuman bahagia. Seperti biasa Leeteuk hyung adalah orang yang hatinya sangat peka. Aku bisa melihat dia menghapus air matanya. Tapi bukan hanya dia yang menangis. Hampir semua member lain juga menangis walaupun tidak separah Leeteuk Hyung. Hanya si cool Kibum dan si aneh Heechul  hyung yang tidak menangis. Begitu pula dengan para penonton, suasana haru masih meliputi mereka saat aku dan Ara sudah di tengah-tengah panggung.

“Selamat datang kembali Gaeul~a,” ujar Heechul hyung sembari menggenggam tangan Gaeul dengan lembut.

Cukhae hyung,” ujar Kibum sambil meremas bahuku.

Gomawo,” jawabku sembari tersenyum kepada semua member.

Kemudian seorang security membawakan kursi roda ke atas panggung dan aku mendudukkan Gaeul di sana.

Sementara itu musik lagu “Miracle” yang akan menutup konser kali ini mulai terdengar dan semua member mulai berlarian menyebar menuju bagian-bagian panggung yang kosong.

Aku hanya berjongkok di hadapan Gaeul sambil terus menatapi wajahnya. Aku begitu merindukannya sampai aku tak sanggup beranjak dari sisinya. Sesekali aku memeluknya dan mencium puncak kepalanya.

Ketika lagu hampir habis, semua member berlarian kembali, berkumpul di dekat aku dan Gaeul. Dan sebagai ucapan terima kasih kepada para penggemar yang sudah mendukung kami selama ini, di akhir lagu aku dan seluruh member Super Junior membungukkan tubuh sedalam-dalamnya untuk menghormati mereka.

“Terima kasih kuucapkan kepada kalian semua. Berkat dukungan kalian sehingga kini aku dapat menemukan kembali orang yang sangat aku cintai. Senang sekali aku bisa membagi kebahagiaan ini kepada kalian semua,” ujarku kepada semua yang hadir di stadion ini.

SARANGHAEYO….” Teriakanku membahana mengakhiri konser super show dan diikuti oleh semua member yang mengucapkan kata yang sama.

*****

Setahun kemudian….

Kini, aku sudah melewati setahun yang sangat membahagiakan setelah saat yang menyedihkan itu. Tentu saja bersama gadis yang sangat ku cintai dan bersama saudara-saudaraku di Super Junior. Masa-masa yang menyedihkan saat aku kehilangan Gaeul kini sudah ku kikis habis dari memoriku. Yang tertinggal hanyalah kenangan yang sangat membahagiakan bersamanya.

Hari ini adalah pernikahan kami. Seperti yang ku katakan saat wawancara di suatu stasiun televisi, bahwa aku siap menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah di usiaku yang relatif masih muda seperti saat ini. Aku mewujudkannya sekarang. Dan aku memutuskan untuk menikahi satu-satunya gadis yang aku cintai sepanjang hidupku. Pernah merasakan kehilangannya selama beberapa bulan membuatku yakin bahwa aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya.

Pada awalnya aku bermaksud menjadikan Kibum dan Kyuhyun sebagai pendampingku saat pernikahan. Tapi ternyata rencana ini di tentang keras oleh ke sepuluh member yang lain.

“Kau tidak boleh hanya melibatkan Kyuhyun dan Kibum dalam pernikahanmu,” protes Heechul Hyung saat itu.

“Ya benar. Kita semua kan Super Junior. Itu berarti kita semua adalah satu keluarga. Dan kalau kami semua adalah  keluargamu. Artinya kami semua harus terlibat aktif dalam pernikahanmu. Mana boleh kami hanya menjadi penonton saja,” ujar Siwon berapi-api yang langsung di sambut oleh koor persetujuan dari semua member yang lain.

Akhirnya karena aku tidak mau dimusuhi oleh mereka semua (karena mereka mengancam akan memusuhiku jika tidak melibatkan mereka), aku memutuskan, mereka semua akan menjadi pendampingku saat pernikahanku dan Gaeul. Dan ini akan menjadikanku satu-satunya pengantin pria yang memiliki pendamping terbanyak saat pernikahan.

Upacara pernikahan berlangsung dengan sangat lancar dan pestanya pun sangat meriah. Bagaimana tidak, empat belas member Super Junior (Henry dan Zou Mi khusus datang dari Cina) yang super heboh menghadiri pernikahanku.

Gaeul juga terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin putihnya yang sederhana tapi tetap tampak elegant di tubuhnya. Dia sudah cukup terbiasa mengenakan kaki palsunya sehingga dia sama sekali tak tampak seperti orang yang hanya memiliki satu kaki. Aku sendiri tak mampu memalingkan pandanganku dari wajahnya yang tampak bersinar karena bahagia. Bibirnya selalu tersenyum. Dan itu adalah senyum terindah yang pernah ku lihat seumur hidupku.

Potongan gambar-gambar saat pernikahan dan bulan madu kami akhirnya dijadikan MV lagu “My Everything” yang kunyanyikan sendiri. Dan lagu ini seketika menduduki tangga lagu teratas di Korea Selatan dan di beberapa negara asia lainnya.

THE END

Introduction

 

Annyeong chingudeul sekalian…

Perkenalkan Viethree Imnida. Lahir di Suatu kota di Indonesia yang keindahan pantainya tak kalah dengan keindahan pantai yang sering kita lihat di drama2 Korea. Bengkulu city tercinta ^_^ Aku lahir tanggal 16 Juni 19.. *hehe…pada penasaran kan ma tahunnya?? Ayo coba tebak tahun berapa??*. Menamatkan S3-ku (S3 alias SD, SMP, SMA) di kota kelahiran tercinta dan ketika kuliah di beri kesempatan untuk menjelajahi SumBar oleh Tuhan. Alhamdulillah.

Di dunia per-ff-an aku paling suka memperkenalkan diriku sebagai Park Yeorum, adiknya Park Jungsoo, dan istri kesayangannya Cho Kyuhyun….*hahaha….pasti udah pada gatalkan mau bejeg-bejeg aku ^_^*

Blog ini aku dedikasikan khusus untuk para namja yang sangat aku sayangi. Terutama untuk naui yeobo tercinta, Cho Kyuhyun…

Aku kenal suju sejak tahun 2009. Pertama kali tertarik dengan pria aneh Kim Heechul yang sukses mengocok perutku di reality show mereka, full house. Kemudian sempat tertarik juga dengan pria pendiam si pemilik killer smile Kim Kibum karena kecerdasannya. N sekarang dan aku yakin untuk selamanya, mataku kecolok oleh makhluk paling evil di super junior. Sepertinya dia tidak hanya telah mencolok mataku agar aku tidak jelalatan lagi untuk melihat member yang lain, tapi dia sudah memenjarakan hatiku sehingga aku bahkan tak bisa menarik napasku tanpa menyebut namanya, memikirkan tentangnya, dan mendengarkan suara nyanyiannya *Jiahhh…sejak kapan aku jadi gombal gini hehehe….*

Tapi di balik semua yang ku ceritakan di atas, aku sejatinya adalah seorang ELF. Sapphire blue yang selalu akan menghiasi langit, bersatu padu dengan warna biru lainnya. Bagiku biru akan tetap menjadi biru dan ELF hanya untuk super junior, bukan yang lainnya. YEONGWONHI….FOREVER…..SELAMANYA…^_^

Demikian dulu perkenalan dariku. Senang bisa mengenal orang2 hebat yang ternaung di bawah bendera ELF. Senang bisa menjadi bagian dari kalian. Senang bisa berbagi harapan dengan kalian. Saranghae…..*Jiahhh…ngegombal lagi ^_^*

Bye Bye….