LISTEN TO YOU

Huwaa…tak punya ide untuk ultah biasku tersayang, jadilah aku mengubek2 ff lama yang tak penah berani ku publish ini. Mian kalo g ada hubungannya dengan ultah sama sekali. Anggap aja ini persembahanku untuk ultahnya Kyu ditengah kebuntuan otakku. Mian juga kalo ceritanya ngawur n picisan. Sekali lagi ini hanya demi merayakan ultahnya Kyu. Saengil Chukhae My EvilKyu. Semoga kau selalu di beri kebahagiaan  dan banyak cinta di sepanjang usiamu. Amin. Saranghae…^_^

Kyuhyun POV…

“KYUHYUN OPPAAAA….SARANGHAEYOOOOO…..!!! JEONGMAL SARANGHAEYOOOO……!!!” Dia berteriak ke arah laut lepas dan aku hanya tersenyum kecil melihat ulahnya. Kekanak-kanakan sekali!

Namanya Yeorum. Umurnya 20 tahun. Umur kami hanya terpaut tiga tahun. Aku pertama kali mengenalnya saat aku berumur sepuluh tahun. Dia adalah tetanggaku. Saat itu dia baru saja pindah dari Indonesia bersama keluarganya.

Lincah, ceria, manja, kekanak-kanakan, keras kepala, ceroboh, pantang menyerah, egois, namun tetap sangat manis. Begitulah aku mengapresiasikan dirinya.

Aku sudah sangat mengenal sifatnya karena kami memang sudah bersama selama 13 tahun. Ani! Lebih tepatnya lagi dia yang memaksaku untuk sangat mengenal sifatnya karena dia selalu mengikutiku ke mana saja aku pergi.

Saat ulang tahunnya  yang ke-17 dia memaksaku untuk mengabulkan sebuah permohonan yang dibuatnya sendiri di hari lahirnya itu. Katanya anggap saja ini sebagai kado ulang tahun dariku.

Awalnya aku tidak menyetujuinya karena aku yakin dia akan meminta yang aneh-aneh seperti kebiasaannya. Tapi dia terus memaksaku. Sampai akhirnya aku mengiyakan. Dan seperti yang kuduga dia meminta hal yang sungguh membuatku tercengang. Dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Sungguh sangat membuatku kesal saat itu. Namun aku tak punya pilihan lain selain mengabulkannya.

Satu hal lagi yang sangat menonjol dari dirinya. Dia sepertinya dianugerahi kemampuan untuk membuat orang lain tidak mampu menolak setiap permintaannya. Bahkan aku sendiri yang amat sangat tidak bisa dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak ku sukai, sering tak sanggup menolak permintaannya.

Contohnya saja seperti saat ini. Dia berhasil memaksaku berjanji bahwa aku akan mengantarnya ke pantai setiap hari minggu hanya untuk mendengarkan dia meneriakkan kata “saranghae” kepadaku. Tapi satu hal yang tak pernah bisa dia lakukan sampai saat ini. Dia tak pernah bisa memaksaku untuk mengatakan cinta padanya.

“Oppa ayo kemari,” panggilnya menoleh ke arahku.

“Aku tidak mau!” ujarku acuh.

“Ayolah oppa. Sekali iniiiiii saja. Kau harus berteriak bahwa kau mencintaiku,” dia memohon padaku.

“Sudahlah, jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Aku kan sudah katakan kalau aku tak mau melakukannya. Jadi jangan memaksaku. Kau sudah selesai kan? Ayo kita pulang!” ajakku dan membalikkan tubuh membelakanginya. Aku sempat melihat kalau dia memasang wajah cemberutnya sebelum aku membelakanginya.

Aku berjalan hati-hati menapaki batu-batu karang. Sejenak aku teringat sesuatu dan kembali menoleh ke arahnya. Dia berada sekitar sepuluh meter di belakangku dan wajahnya masih saja cemberut. “Yeorum~a, hati-hati. Jangan sampai kau terjatuh lagi,” seruku memperingatkannya. Tapi belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba aku melihat tubuhnya oleng dan akhirnya dia tersungkur di atas batu karang.

Aku sangat terkejut melihatnya dan langsung berlari mendekatinya. Kemudian ku bantu dia untuk duduk. “Aish, kau ini! Mengapa setiap kali selalu tak berhati-hati. Setiap hari kau sibuk saja memberikan luka pada tubuhmu ini,” ujarku kesal sambil memeriksa keadaannya.

“Coba kau lihat, lukamu yang lama belum juga sembuh, tapi sekarang sudah kau timpa lagi dengan luka yang baru. Aish jincha!!!” Aku bertambah kesal saat melihat kedua lutut dan sikunya terluka.

“Ayo kita cari obat untuk mengobati lukamu,” ujarku lagi berusaha membantunya berdiri.

“Oppa, perih sekali,” keluhnya.

“Aish…merepotkan sekali!” ujarku sambil segera menaikkan dia ke punggungku dan menggendongnya sampai ke mobilku yang ku parkir cukup jauh dari tempat kami berada.

******

Yeoreum POV

“Yeorum~a, apa kau sudah berhasil membuat Kyu oppa mengatakan cintanya kepadamu? Kalau belum, kau harus memaksanya. Masa sudah tiga tahun berpacaran dia masih belum juga mengatakannya? Itu sangat mengkhawatirkan. Jangan-jangan dia tidak pernah mencintaimu. Jangan-jangan dia mencintai orang lain.

Kau tahu tidak? Kuperhatikan akhir-akhir ini Kyu oppa menjadi sangat dekat dengan Zhang Li Yin si penyanyi asal Cina itu. Aku sangat mencurigai mereka. Pasalnya Kyu oppa perhatian sekali padanya. Aku tidak pernah melihat Kyu oppa seperhatian itu padamu. Kau harus sangat hati-hati. Jangan sampai dia merebut Kyu oppa darimu, sementara kau sama sekali tak menyadarinya. Kalau kau tak percaya, kau datang saja ke studio SM. Kau harus menyaksikannya sendiri,” kata-kata Jessica di telepon tadi terdengar sangat mengerikan di telingaku.

Apa mungkin Kyu oppa tega berbuat seperti itu terhadapku? Apa mungkin Kyu oppa benar-benar jatuh cinta pada Zhang Li Yin?” pertanyaan-pertanyaan itu sungguh memusingkan kepalaku.

“AISHH… JESSICA~YA!!! MENGAPA KAU MENGATAKAN HAL MENGERIKAN ITU PADAKU?! SAHABAT MACAM APA KAU INI?!” teriakku kesal kepada Jessica yang jelas tak ada di hadapanku saat ini.

******

Hari ini pelajaranku cepat berakhir, jadi aku bisa pulang cepat. “Apa ya yang harus ku lakukan untuk mengisi waktu senggangku yang sangat berharga ini?” tanyaku pada diriku sendiri.

Aku berpikir sejenak. “Yihaaaa!” seruku kemudian. “Kenapa aku tak ke studio SM saja? Aku sudah lama tidak bertemu dengan para oppa. Aku kangen sekali pada mereka terutama pada Kyuhyun oppa. Sekalian membuktikan bahwa ucapan Jessica tempo hari tidak benar. Selanjutnya aku langsung melajukan mobilku ke studio SM.

 

“AKU DATANG!!” seruku menggelegar kepada seisi studio saat aku memasuki ambang pintu dan berjalan berjingkat-jingkat memasuki ruangan.

“Kakimu kenapa lagi dongsaeng?” tanya Donghae oppa tiba-tiba sudah berada di hadapanku.

“Oh ini,” ujarku sambil menunjukkan kaki kananku yang diperban dan hanya beralaskan sandal rumah. “Kemarin aku mengembalikan anak burung yang terjatuh dari sarangnya yang berada di atas pohon di belakang rumahku. Tapi saat mau turun kakiku tergelincir dan aku terjatuh deh,” ujarku mengangkat bahu.

KEPLAKK!!!

Tiba-tiba saja si aneh Heechul oppa sudah mendaratkan sebuah pukulan yang cukup kuat di atas kepalaku dan sukses membuatku menggosok-gosok kepalaku karena sakit. “Dasar babo! Wanita seperti apa kau ini? Kerjaanmu kalau tidak memanjat pohon ya terjatuh. Aku sangat prihatin pada Kyu karena harus mendapatkan pacar sepertimu,” ejeknya.

“Kim Heechul!” bentakku kesal. “Kenapa kau selalu saja memukul kepalaku?”

“Aish kau ini! Sama saja dengan pacarmu itu. Selalu tidak sopan. Selalu memanggilku tanpa embel-embel oppa atau hyung di belakang namaku. Aku ini jauh lebih tua darimu gadis babo!” dia balas marah-marah padaku. Sementara yang lain tertawa melihat ulah kami.

“Kau yang duluan. Kau kan tahu kalau aku tidak suka kau memukul kepalaku. Jelek-jelek begini, kepalaku ini hanya satu-satunya. Kalau rusak tak ada gantinya tau!” balasku tak kalah sengit.

“Aish, sudahlah! Masa tiap kali bertemu kalian harus bertengkar terus. Sekali-kali damai kan tak ada ruginya,” ujar Hangeng oppa menengahi. “Dan kau ini Chulie, benar-benar tidak bisa bersikap dewasa. Masa kau tak mau mengalah pada dongsaengmu?”

“Cih, dongsaeng?! Mana sudi aku memiliki dongsaeng yang tak tahu sopan santun seperti dia!” ejeknya lagi.

“Aku juga tidak mau punya oppa sepertimu! Membayangkannya saja sudah mengerikan,” balasku tak mau kalah.

“Aish…sudahlah!” ujar Hangeng oppa lagi sambil menarik lengan Heechul oppa menjauh dariku dengan dibantu oleh Donghae oppa.

“Chingu~ya!” tiba-tiba Jessica yang sejak tadi entah ke mana sudah berada di hadapanku dan memelukku setelah Hangeng oppa berhasil menjauhkan Heechul oppa dariku.

“Jessica~ya! Berhati-hatilah. Kau bisa menginjak kakiku, babo!” ujarku sembari menjauhkan tubuhku darinya.

“Aish kau ini! Aku kan hanya mengekspresikan rasa rinduku pada sahabatku. Kita kan sudah lama tak bertemu. Jadwal showku padat sekali sementara kuliahmu juga menyita banyak waktu,” ujarnya pura-pura ngambek.

“Eh, kau datang mau membuktikan ucapanku tempo hari kan?” tanyanya memelankan volume suaranya.

“Coba kau lihat!” ujarnya lagi mengarahkan dagunya ke seberang ruangan dari tempat kami berdiri. “Mereka terlihat sangat akrab kan?”

Aku menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh Jessica. Dan benar saja….., Kyu oppa dan Zhang Li Yin sedang asyik ngobrol di sana. Saking asyiknya, Kyu oppa sampai tak menyambut kedatanganku. Padahal kan tak mungkin dia tak tahu kehadiranku. La wong teriakanku tadi bisa mengalahkan bunyi petasan.

Kemudian aku berjalan ke arah mereka dan meninggalkan Jessica yang sibuk memanggil-manggilku.

“KYU OPPA!” teriakku memanggilnya, walaupun sudah berada sangat dekat dengannya. Dan baik Kyu oppa maupun Zhang Li Yin menoleh ke arahku.

“Aishh…kau ini! Selalu saja berteriak-teriak. Lama-lama gendang telingaku bisa pecah karenamu,” ujarnya kesal padaku. Aku langsung cemberut mendengar jawabannya. Bukannya senang bertemu dengan pacarnya, eh malah marah-marah.

“Annyeonghaseyo,” sapa Zhang Li Yin kepadaku dan aku memamerkan senyum terpaksaku padanya.

“Oppa, aku ke sana dulu. Aku mau latihan lagi,” pamitnya kemudian kepada Kyu oppa. Kyu oppa mengangguk dan tersenyum manis padanya.

“Kenapa kau ada di sini? Kau tidak kuliah?” tanya Kyu oppa, matanya masih tetap memandang ke arah Zhang Li Yin yang sekarang sudah memulai latihan koreonya.

“Hari ini kuliahku cepat selesai. Jadi aku pulang cepat,” ujarku bosan karena dia sama sekali tak menoleh ke arahku saat aku bicara.

“Oooo…” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya, membuatku semakin kesal.

AUUUUU!!!

Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari tengah arena latihan. Zhang Li Yin terduduk di lantai dan dia merintih karena sakit. Sepertinya kakinya terkilir. Dan yang membuatku sangat tak percaya, Kyu oppa langsung berlari mendekatinya.

“Gwaenchanayo?” tanya Kyu oppa lembut saat sudah berada di dekatnya dan segera memeriksa cideranya dengan sangat hati-hati. Kyu oppa memperlakukannya bak boneka porselin yang mudah pecah.

Hatiku sangat miris melihat pemandangan itu. Kyu oppa tak pernah terlihat sekhawatir itu saat aku terjatuh dan terluka. Dia bahkan akan langsung memarahiku. Berbeda dengan perlakuannya terhadap Zhang Li Yin. Dia sangat lembut dan merawatnya dengan sangat hati-hati.

Aku benar-benar seperti bom yang akan segera meledak saat ini. Sebisa mungkin ku tahan gemuruh hatiku. Aku tak mau berteriak-teriak di depan orang banyak. Itu bisa menjatuhkan harga diriku sendiri. Kemudian ku dekati mereka dengan wajah cemberut.

“Kyu oppa, sebaiknya aku pulang saja. Sepertinya oppa sedang sangat sibuk.” Maksud hati sih ingin menyindirnya.

“Ne,” jawabnya ringan.

Aku sunggguh terkejut dengan jawaban Kyu oppa. Dia membiarkanku pulang begitu saja. Padahal kan aku baru saja datang. Dan yang lebih menyakitkan, dia sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari merawat cidera Zhang Li Yin.

Tiba-tiba saja aku merasakan mataku memanas sebagai efek dari rasa sakit hati yang ku derita. Buru-buru ku balikkan tubuhku untuk menyembunyikannya. Kemudian aku berjalan ke arah pintu. “Aku pulang dulu,” pamitku pada Jessica saat berpapasan dengannya. Kentara sekali dia ingin menahanku. Tapi tak ada yang bisa membuatnya untuk memaksaku tetap tinggal.

******

“Aish… Kemana sih Kyu oppa?” ujarku modar-mandir di teras rumahku.

“Ya, Yeorum~a, kau belum juga berangkat?” tanya oemma yang saat itu berpakaian sangat rapi dan cantik.

“Belum oemma. Kyu oppa belum datang,” jawabku. “Oemma dan appa mau ke mana?”

“Oemma dan appa mau pergi berkunjung ke rumah rekan bisnis appa. Mereka mengundang oemma dan appa makan siang di rumah mereka,” kali ini appa yang menjelaskan.

“Ya, oemma dan appa berangkat duluan ya Yoreum~a,” ujar appa sambil menepu-nepuk sayang puncak kepalaku.

“Ne. Hati-hati di jalan,” jawabku mengantar kepergian mereka. Setelah itu aku kembali melanjutkan kegiatan mondar-mandirku yang tertunda tadi.

Pyongsaeng gyeoteh issulge I do…

Nan saranghaneun geol I do….

Tiba-tiba lagu Marry U Super Junior mengalun indah menandakan ada sms masuk di ponselku. Kemudian buru-buru kubuka pesan itu.

‘Yeorum~a, aku benar-benar minta maaf. Hari ini aku tak bisa mengantarmu ke pantai. Ada keperluan yang sangat mendesak yang tak bisa ku tinggalkan. Mianhae, jeongmal mianhae.”

“WHAT??!!” pekikku tak percaya. Aku sampai tak bisa berkata-kata saking kesalnya. Bisa-bisanya oppa melanggar janjinya padaku. Aku kan tidak meminta hal yang muluk-muluk. Aku tidak pernah meminta kencan romantis yang menghabiskan banyak waktu dan biaya seperti gadis-gadis lain. Aku cuma minta dia mengantarku ke pantai. Dan itu tak pernah menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Setelah itu dia bisa langsung mengantarkanku pulang dan melanjutkan kesibukannya lagi. “AISHH JINCHA!!!” teriakku sambil mengacak-acak rambutku.

Sudah lebih dari dua jam aku sibuk menenangkan kemarahanku dengan berdiam diri di teras rumahku. Dan sekarang aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tak bisa melakukannya dengan cara ini. Ya…aku harus mengalihkan perhatianku dengan cara lain.

Ku raih dengan kasar ponselku yang tergelatak di atas meja dan segera ku hubungi nomor Jessica.

“Yoboseyo,” sapanya di seberang.

“Jessica~ya, kau sibuk hari ini?” tanyaku kemudian.

“Aniyo. Waeyo?” jawabnya.

“Mau menemaniku minum kopi di coffee shop?” tanyaku lagi.

“Ok!”

Kemudian aku langsung melarikan mobilku menuju coffee shop tempat aku dan Jessica janjian.

******

“Waeyo?” tanya Jessica sambil mengamati wajahku.

Saat ini kami sudah berada di coffee shop di pusat kota Seoul. Suasananya tak terlalu ramai sore ini. Tempat ini adalah tempat favoritku karena selain kopinya sangat enak, blackforestnya juga membuat aku ketagihan.

“Apa karena Kyu oppa lagi?” tanyanya lagi karena tak ada jawaban dariku.

“Kyu oppa melanggar janjinya padaku untuk pertama kalinya hari ini. Dia bilang dia tak bisa mengantarku ke pantai hari ini,” ujarku sambil menatap etalase.

“Apa artis SM yang lain sibuk hari ini?” tanyaku padanya, tiba-tiba menatap ke arahnya.

Jessica menggeleng lemah. “Hari ini libur nasional dan setahuku seluruh artis SM diberi kesempatan libur khusus hari ini,” ujarnya seperti sedang berpikir.

“Tapi Kyu oppa bilang dia sibuk?” tanyaku tak mengerti.

“Mungkin dia sedang ada urusan lain di luar pekerjaan,” jawabnya lagi dan aku menyetujui kesimpulannya.

Setelah itu aku dan Jessica hanya terdiam. Aku tak semangat untuk mengobrol saat ini. Dan sepertinya Jessica sedang keletihan. Aku jadi merasa bersalah memintanya untuk menemaniku.

“Lihat!” Tiba-tiba Jessica memekik tertahan dan menunjuk ke arah pintu masuk coffee shop. “Bukankah itu Kyu oppa dan….” Ucapan Jessica terputus.

Aku langsung menoleh ke arah pintu masuk untuk mengetahui apa sebenarnya maksud Jessica. Dan aku sangat terkejut mengetahui siapa yang baru saja melewati pintu itu. Kyu oppa dan Zhang Li Yin.

Mataku terus mengikuti gerakan mereka. Kemudian mereka memilih tempat duduk yang berada di pojok ruangan dan agak tertutup dari pengunjung lain, terkesan sangat pribadi.

Seketika itu juga amarah meledak-ledak dalam dadaku. Aku segara bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju ke bangku di pojok ruangan tempat di mana Kyu oppa dan Zhang Li Yin berada.

“Oppa!!!” panggilku saat sampai di depan meja mereka, berusaha mengatur volume suaraku. Dadaku kini naik turun karena menahan emosi.

Kyu oppa dan Zhang Li Yin menoleh ke arahku. Dan kentara sekali dari tatapan mereka bahwa mereka sangat terkejut karena kehadiranku.

“Yeorum~a, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya padaku sembari bangkit dari duduknya.

“Wae? Memangnya hanya kalian yang bisa berada di sini? Bukankah ini tempat umum? Rasanya siapa saja boleh datang ke sini kok?” tanyaku penuh dengan nada sindiran.

“Jadi ini urusan oppa yang sangat penting itu?” sindirku lagi.

“Biar aku jelaskan,” ujarnya hendak menarik tanganku. Tapi aku menepiskannya.

“Oppa tega padaku!” ujarku sebisa mungkin mengatur volume suaraku agar tak menarik perhatian orang lain.

“Dan kau…” lanjutku lagi kepada Zhang Li Yin. “Apa kau tidak punya kerjaan lain selain menempel terus pada Kyu oppa? Apa kau sengaja menutup mata dan telingamu untuk berpura-pura tidak tahu bahwa Kyu oppa sudah punya aku?” ujarku tajam. Aku bisa melihat wajahnya memucat karena ucapanku.

“Yeoreum~a, jaga ucapanmu,” ujar Kyu oppa mencoba menghentikanku.

“Waeee? Kenapa oppa membelanya? Oppa tak pernah bersikap seperti ini terhadapku,” ujarku tak terima atas sikap Kyu oppa. Aku bisa merasakan mataku mulai memanas kini.

“Aisshhh…jincha!” keluh Kyu oppa lalu menarik tanganku dengan paksa.

Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya. Tapi genggamannya terlalu kuat dan aku bisa merasakan rasa nyeri di pergelangan tanganku akibat genggamannya.

Aku terus mencoba meronta tapi Kyu oppa terus berjalan dengan langkah cepat menuju ke bagian belakang coffee shop. Dia membawaku masuk ke dalam toilet laki-laki yang kebetulan sedang kosong. Kemudian dia mengunci pintunya dari dalam.

“Kau ini apa-apaan?! Mengapa bicara seperti itu pada Zhang Li Yin?” tanyanya dengan emosi kepadaku.

“Wae? Apa aku tak boleh marah pada wanita yang membuat namjachinguku mengingkari janjinya padaku?” ujarku menahan air mataku.

“Kau tidak menempatkan rasa cemburumu di tempat yang seharusnya. Benar-benar kekanak-kanakan. Seharusnya kau malu padanya. Dia baru 18 tahun tapi dia bahkan bisa bersikap jauh lebih dewasa darimu,” ujarnya benar-benar marah.

“MWO?!” ujarku terkejut mendengarnya membandingkan antara aku dan Zhang Li Yin. “Ne! Aku memang kekanak-kanakan, ceroboh, egois, dan mau menang sendiri. Itulah aku yang sebenarnya. Oppa menyesalkan pacaran denganku? Kalau memang dia bisa bersikap dewasa seperti harapan oppa, kenapa oppa tidak pacaran saja dengannya?” air mataku benar-benar tak tertahankan lagi. Sementara pintu dibelakang kami terus digedor-gedor dari luar.

“Arasseo! Apa yang dikatakan Jessica memang benar,” ujarku mulai memikirkan ucapan Jessica selama ini. “Inilah alasan yang sebenarnya mengapa oppa tak pernah mengatakan cinta padaku. Sejak awal oppa memang tak mencintaiku kan?”

“Selama ini aku tak mendengarkan peringatan dari Jessica karena aku sangat mempercayai oppa. Tapi hari ini aku harus memikirkan kembali ucapannya,” ujarku sementara air mata telah membanjiri pipiku.

“Dasar Babo!” bentaknya marah sambil mengalihkan tatapannya dariku sejenak. Kemudian kembali menatap serius padaku. “Seharusnya kau bisa lebih pintar dalam memilih teman. Menjadikan seorang Jessica Jung sebagai sahabat, sungguh perbuatan bodoh!”

“Waee? Apa salahnya dengan Jessica?” teriakku marah.

“Dia bad girl! Tabiatnya sangat buruk. Apa kau tak menyadari bahwa dia selalu menyulut permusuhan di mana-mana?” jawab Kyu oppa cepat.

“Semua orang boleh saja memandangnya seperti itu. Tapi bagiku dia adalah sahabat yang baik. Setidaknya dia selalu ada disisiku saat aku membutuhkannya. Setidaknya dia selalu berada dipihakku saat semua orang menyudutkanku. Dia memang suka berpikir negatif. Tapi itu dilakukannya semata-mata karena ingin waspada terhadap kemungkinan ditikam dari belakang. Aku tak peduli walaupun dia memiliki begitu banyak sifat buruk seperti yang oppa katakan. Yang jelas dia memberikan kesetiaannya sebagai seorang sahabat padaku. KESETIAAN YANG BAHKAN TIDAK DIBERIKAN NAMJACHINGU-KU SENDIRI KEPADAKU!!!” teriakku mengakhiri pertengkaran kami.

Dengan kasar kubalikkan badanku, dan aku berjalan menuju pintu. Ku lepaskan pengait kunci yang dipasangnya tadi dan ku tarik knop pintu hingga terbuka.

Aku dapat melihat keterkejutan di wajah orang-orang yang sedari tadi menggedor-gedor pintu saat melihatku yang seorang wanita, keluar dari toilet laki-laki. Ku abaikan saja tatapan keheranan mereka dan aku bergegas menuju ke tempat aku meninggalkan Sangmi tadi.

“Onnie…” panggil Zang Li Yin saat melihat kedatanganku tapi tak sedikitpun aku menghiraukannya. Aku berjalan melewatinya dan mendekati Jessica. “Kita pulang saja!” ujarku sembari menarik paksa tangannya agar dia mengikutiku keluar dari coffee shop itu.

******

Jessica POV

Yeorum menepikan mobilnya ke tepi jalan, mematikan mesin mobilnya, kemudian meneggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Aku tahu sejak keluar dari coffe shop tadi dia berusaha keras untuk menahan emosinya. Wajahnya tampak begitu menderita. Apakah mencintai seseorang bisa semenderita ini???

”Apakah sudah saatnya aku harus melepaskannya??” ujarnya tiba-tiba membuatku terkejut.

”Aku sudah berusaha sekuat tenaga dan kini aku sudah sangat lelah,” ujarnya lagi, kini sudah menurunkan tangannya dari wajahnya sehingga aku bisa melihat wajahnya yang basah karena air mata.

”Aku rasa tidak harus seperti itu,” jawabku bingung menghadapi situasi seperti ini. ”Kau akan hancur bila tak ada dia, Yeorum~a.”

”Aku tahu. Tapi apa yang aku lakukan selama ini sudah benar?? Memaksanya berada di sisiku tanpa mempedulikan perasaannya yang sebenarnya. Awalnya aku memang berfikir dengan terus memaksanya berada di sisiku, aku bisa membuatnya mencintaiku. Tapi kau lihat kan apa yang telah ku perbuat?? Aku membuat kami berdua sama-sama terluka,” ujarnya, sementara itu air matanya terus mengalir walau tanpa suara tangisan.

”Tapi aku tetap merasa keputusan seperti itu tidak benar, Yeorum~a. Kau takkan sanggup,” ujarku tak menyetujui keputusannya. Aku tahu persis seperti apa sahabatku ini. Dia sangat mencintai Kyu oppa. Bukan hanya dengan segenap hatinya, tapi dengan seluruh oksigen yang dihirupnya untuk bernapas dan aliran darahnya yang mengalir ke setiap sel-sel dalam tubuhnya. Dia akan hancur bila harus kehilangan Kyu oppa. Aku tahu pasti itu.

”Lalu apa yang harus kulakukan, Jessica~ya??” ucapnya hampir histeris. ”Aku telah melakukan segalanya agar dia dapat mendengarkan hatiku. Tapi sepertinya dia sudah mematikan seluruh alat inderanya untuk bisa merasakan apa yang ku rasakan.”

”Bertahanlah. Meski begitu banyak wanita yang ada di dekatnya selama ini, tapi bukankah tak pernah ada wanita yang benar-benar berada di sisinya selain kau? Bertahanlah sebentar lagi,” ujarku mencoba meyakinkannya.

”Apakah aku masih punya kekuatan untuk itu??” tanyanya, meragukan dirinya sendiri.

Dan aku mengangguk walau sebenarnya tak yakin dengan apa yang kukatakan. Tapi entahlah, aku benar-benar tak rela melihat sahabatku ini harus kehilangan orang yang sangat dicintainya. Dia telah terlalu keras memperjuangkan cintanya selama ini. Dan akan sangat tidak adil jika pada akhirnya dia tetap harus kehilangan cintanya itu.

”Kau yakin??” tanya lagi. Kali ini suaranya sudah tak terdengar terlalu lemah seperti tadi. Aku tahu rasa optimis di dalam hatinya sudah mulai muncul lagi.

”Ne. Kau bisa melakukannya. Kyuhyun oppa pasti akan mendengarkan hatimu,” jawabku sembari mencoba tersenyum padanya.

”Gomawo, Jessica~ya,” ujarnya sembari menghapus air matanya dan tersenyum padaku. ”Gomawo sudah selalu mendukungku.”

******

Kyuhyun POV

“Aishh….dasar gadis babo!” ujarku sembari melemparkan ponselku ke atas tempat tidur.

“Apa dia benar-benar marah padaku? Setiap kali ada kesalahpahaman kenapa dia tak pernah bisa membicarakannya secara baik-baik padaku. Sekarang malah menghilang.  Aishh…membuatku khawatir saja!” ujarku sembari mengacak-acak rambutku.

Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian di coffee shop waktu itu. Sejak hari itu dia memutuskan segala bentuk komunikasi denganku.

Aku berusaha untuk menghubunginya tapi sia-sia. Aku telepon, tak diangkatnya. Aku sms, tak dibalas. Aku datang ke rumahnya, dia tak mau menemuiku. Pokoknya dia seperti hilang ditelan bumi.

Aku juga sudah menanyakan tentang keberadaan Yeorum kepada Jessica. Tapi semuanya sia-sia. Hasil yang kudapatkan malah memperburuk keadaan. Aku bertengkar hebat dengan Jessica. Dia menuduhku telah bersikap begitu egois terhadap Yeorum selama ini. Dia menuduhku telah mematikan semua alat inderaku untuk merasakan apa yang Yeorum rasakan. Aku tak mendengarkan hatinya.

”Aniyo Yeorum~a. Aku selalu mendengarkan hatimu. Aku selalu membuka lebar semua alat inderaku setiap kau berada didekatku. Aku selalu mendengarkan setiap tarikan napasmu dan penciumanku selalu peka terhadap setiap aroma yang keluar dari tubuhmu. Tapi sebaliknya, apakah kau tak bisa mendengarkan hatiku sehingga aku harus mengumbar kata-kata itu dari mulutku?? Apakah kau tak tahu alasanku untuk tetap bertahan di sisimu?? Yeorum~a, aku takkan pernah bertahan untuk sesuatu yang tidak aku inginkan. Apakah kau juga tak tahu tentang itu??”

******

Yeorum POV

“Yeorum~a, kita harus bicara!”

Tiba-tiba seorang pria memakai topi dan berkaca mata hitam mengejutkanku, membuatku menjatuhkan kertas-kertas yang sedang ku pegang.

“KAU?!” ujarku terkejut saat menyadari bahwa orang itu adalah Kyu oppa.

Aku buru-buru mengumpulkan kertas-kertas yang jatuh berserakan itu dan dia membantuku.

“Mianhae, aku tak punya waktu untuk bicara dengan oppa saat ini,” ujarku saat selesai mengumpulkan kertas-kertas itu dan kembali berdiri. “Aku masih ada kuliah setelah ini,” ujarku lagi dan berbalik untuk meninggalkannya. Tapi dia menahan lenganku.

“Lepaskan oppa!” perintahku sembari memandangi sekelilingku. Dan dia tak ada pilihan lain selain melepaskanku dan membiarkanku pergi karena saat ini begitu banyak orang yang sedang memandang ke arah kami dengan rasa ingin tahu.

“Aku datang untuk menanyakan padamu apakah kau mau ikut denganku ke Cina minggu depan?” teriaknya saat aku sudah cukup jauh. “Kalau kau mau hubungi aku,” tambahnya lagi.

******

“Mwo?! Kyu oppa mau mengajakmu untuk ikut ke Cina? Lalu apa jawabanmu?” tanya Jessica bersemangat saat aku menelponnya.

“Aku tak menjawab apapun,” ujarku malas.

“Oke, aku ganti pertanyaannya. Lalu apa keputusanmu sekarang?” tanyanya lagi masih dengan nada bersemangat.

“Tentu saja aku tidak akan ikut! Apa kau lupa kalau aku sedang marah padanya?” jawabku ketus.

“Yeorum~a, kau harus ikut. Ini adalah kesempatanmu untuk memperbaiki hubungan kalian. Lagipula Zhang Li Yin kan juga akan ikut ke China untuk promosi mini album terbarunya. Itu bisa memberikan mereka banyak kesempatan untuk berduaan. Apa kau sudah siap untuk kehilangan Kyu oppa?” ujarnya menakut-nakutiku.

“Aishh…percuma saja aku cerita padamu! Kau sama sekali tak menenangkanku. Kau malah membuat perasaanku semakin kacau,” ujarku, kemudian mematikan ponselku.

Ku hempaskan tubuhku di ranjangku. “Dasar Jessica babo! Bukannya mengucapkan kata-kata yang bisa membuatku merasa lebih tenang, malah mengucapkan kata-kata yang semakin membuatku gelisah.” Kemudian aku terdiam karena memikirkan perkataan Jessica tadi.

“Ani! Aku memang sedang marah pada Kyu oppa, tapi aku tak bermaksud untuk putus darinya. Yah lebih tepatnya aku sudah membatalkan keputusanku untuk melepaskannya. Aku tak mau kehilangan dia. Seperti kata Jessica, aku takkan sanggup!” ujarku pada diri sendiri.

“Ne. Jessica benar. Aku harus ikut ke Cina.” Aku mengubah kembali posisiku yang tiduran menjadi duduk. Ku raih kembali ponsel yang kulemparkan tadi. Ku cari nomor Kyu oppa di dalam kontak, ku pencet tombol call, dan ku dekatkan ke telingaku.

Baru beberapa detik, aku langsung menekan kembali tombol reject sebelum nada sambung terdengar. “Ani! Aku tak boleh menelponnya. Sms saja!” ujarku pada diri sendiri. Kemudian ku angkat lagi ponselku dan ku ketik sebuah sms yang sangat singkat.

‘Aku akan ikut.’

******

Sungguh menyebalkan! Keputusanku untuk ikut ke Cina sama sekali tak memperbaiki keadaan karena ada ataupun tak ada aku, mereka tetap saja semakin dekat sementara aku tak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya.

Saat ini aku sedang duduk di kursi paling depan untuk menyaksikan promo mini album Super Junior M dan Zhang Li Yin. Sebenarnya ini sangat membuatku tidak nyaman karena aku berada di tengah-tengah orang yang sama sekali tak kukenal. Sementara semua member Super Junior M dan tentu saja Zhang Li Yin kini berada di belakang panggung.

“Aturan seperti apa itu? Sejak kapan orang yang datang bersama artis pengisi acara tidak diperbolehkan berada di belakang panggung. Benar-benar aneh!” gerutuku. Kemudian ku edarkan pandangan ke sekelilingku agar tak kelihatan bengong sendirian.

Promosi mini album Super Junior M dan Zhang Li Yin ini di adakan di sebuah stasiun swasta terbesar di Cina dan disiarkan secara langsung ke seluruh penjuru negeri. Tempat shownya ditata sedemikian rupa. Kursi-kursi di bagian tengah yang berada tepat di depan panggung utama, tempat aku duduk sekarang, akan ditempati oleh para tamu penting sementara penonton-penonton biasa ditempatkan di tribun-tribun yang dibuat mengelilingi bagian tengahnya.

Tepat jam delapan malam acara promo ini dimulai. Penonton langsung histeris saat seluruh member Super Junior M naik ke atas panggung dan membuka acara dengan menyanyikan lagu ‘U’ versi mandarin. Selain kualitas vokal yang prima, mereka juga menyuguhkan tarian yang sangat energik dan indah. Alhasil para penonton menjadi sangat terpukau karena telah disuguhkan sebuah pertunjukan yang sangat berkualitas.

Selanjutnya acara terus berjalan dengan meriah. Jeritan histeris para fans suju M terdengar disepanjang acara. Penampilan demi penampilan disajikan dengan sempurna oleh mereka. Dan malam ini mereka menyanyikan semua lagu yang terdapat dalam mini album mereka.

Zhang Li Yin pun tak mau kalah. Dia membawakan lagu-lagunya dengan memukau. Suara emasnya sukses menghanyutkan seluruh penonton yang hadir saat itu termasuk aku. Walaupun aku sangat membencinya tapi aku tak bisa mengingkari bahwa suaranya sangat indah. Dan menurutku dia memang pantas dinobatkan sebagai seorang diva.

Di akhir acara, MC mengumumkan ada sebuah kejutan yang akan mengakhiri show malam ini. Kyuhyun oppa akan menyanyikan single terbarunya yang bahkan baru akan dirilis minggu depan di Korea. Akupun belum pernah mendengarkan single ini sebelumnya karena Kyu oppa memang tidak pernah membiarkanku untuk mendengarkannya selama proses rekaman. Dia selalu bilang ini proyek rahasia.

Seisi ruangan yang sangat luas itu seketika menjadi hening saat Kyuhyun oppa naik ke atas panggung dan mengawali penampilan solonya itu dengan sedikit berkata-kata.

“Single yang sebentar lagi akan kunyanyikan ini berjudul “Listen To You”. Lagu ini adalah single terbaruku yang bahkan baru akan rilis minggu depan. Tapi syukurlah pihak produser mengizinkanku untuk membawakan single ini lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan,” ucapan kyuhyun oppa akhirnya menyentakkan lamunanku.

“Single ini sangat istimewa artinya bagiku karena bait demi baitnya mewakili isi hatiku. Aku mendedikasikan single ini untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Melalui single ini aku ingin mengabulkan satu-satunya permintaannya yang tak pernah aku penuhi selama ini. Aku harap dia akan menyukainya,” ujar Kyuhyun oppa menutup kata-kata pembukanya.

Kemudian irama musik yang indah mulai mengalun untuk mengiringi single itu. Dan saat Kyu oppa mulai menyanyikan bait-baitnya dengan suaranya yang lembut dan hangat membuat keduanya membaur menjadi suatu harmoni yang sangat indah sehingga membuat semua orang terhanyut ke dalamnya.

No, I’m not.. It really doesn’t make sense
Even when I’m eating or falling asleep, I keep thinking about you like crazy
All the time I keep hating myself so badly
How could I, how could I fall in love with you? That’s a bit weird

My heart hears you.. from head to toe
My friends tease me for this but my heart only listens to you
You smile and I think I lost my breath
Forever I love you love you
love you love you love you~

Why don’t you stop me? Why don’t you ignore me?
I feel depressed and dumbfounded but my heart only calls for you
Seeing your bright smile and holdings your hands makes my heart feels happy

Di tengah-tengah lagu, Kyuhyun oppa turun dari panggung dan berjalan mendekatiku. Setelah berada tepat di hadapanku dia meraih tanganku dengan lembut dan membimbingku untuk naik ke atas panggung. Setelah sampai di tengah-tengah panggung dia tak melepaskan tanganku, bahkan dia menggenggamnya di dadanya sambil terus menyanyikan bait demi bait single ‘Listen To You’ yang sangat romantis.

My heart hears you.. from head to toe
My friends tease me for this but my heart only listens to you
One two three, you smile and I think I lost my breath
By seeing you’re smile, I’ll cook with love everyday

I went through the night, and another night, and another night
My memories are getting blurred
But you always stay in my heart and in my smiling eyes
You’re the one forever~

My heart hears you.. from head to toe
Although the whole world laughs at me, my heart only listens to you
One two three, you smile and I think I lost my breath
Stay the way you are, I’m gonna say ‘I Love You’ and kiss you everyday
Forever I love you love you love you
love you love you love you~

oh my baby my love

Akhirnya Kyuhyun oppa mengakhiri lagunya dengan terus menatap ke dalam mataku.

Single ‘Listen To You’ sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Tapi, sampai saat ini dia masih tetap menatap ke dalam mataku. Tatapannya begitu lembut dan hangat. Dan aku dapat melihat ada cinta yang begitu besar untukku di sana.

“Saranghaeyo, Yeorum~a. Jeongmal saranghaeyo,” ujarnya akhirnya memecahkan keheningan yang menyelimuti ruangan pertunjukkan. Air mataku yang sudah mengalir sejak tadi kini semakin deras karena rasa haru. Ada sebuah kelegaan yang amat sangat merayapi hatiku saat aku mendengar kata-kata itu langsung dari mulutnya. Kata yang sudah kunantikan selama tiga tahun ini untuk dinyatakannya hanya padaku.

“Mianhae, sudah membuatmu menunggu lama untuk mendengarkan kata itu. Kau adalah gadis yang sangat istimewa di hatiku. Karena itu aku juga ingin mengatakannya padamu dengan cara yang istimewa pula,” ujarnya sungguh-sungguh.

“Dan satu lagi,” ujarnya buru-buru. “Aku juga mau minta maaf karena aku membiarkanmu berprasangka yang bukan-bukan terhadap aku dan Zhang Li Yin. Aku tahu pikiran-pikiran itu sudah sangat melukaimu. Tapi aku tak bisa menjelaskannya padamu karena saat itu Zhang Li Yin sedang membantuku untuk mewujudkan rencana hari ini. Mianhae, jeongmal mianhae.” ujarnya untuk kesekian kalinya.

Kemudian aku langsung menghambur ke dalam pelukannya dan dia pun mendekapku erat di dadanya sehingga aku dapat merasakan kehangatannya.

Malam ini adalah malam yang paling bahagia bagiku. Untuk pertama kalinya orang yang sangat ku cintai menyatakan cintanya padaku dengan cara yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Dan kini dia mendekapku begitu lama di depan ribuan pasang mata. Sungguh bukan Kyuhyun oppa yang ku kenal selama ini. Kyuhyun oppa yang tak pernah merasa nyaman menunjukkan perasaannya di depan umum, malam ini mengesampingkan semua ketidaknyamanannya demi diriku, wanita yang sangat dicintainya. Dan aku takkan meragukan lagi tentang hal itu.

******

“KYUHYUN OPPAAAA….SARANGHAEYOOOOO…..!!! JEONGMAL SARANGHAEYOOOO……!!!” teriakku keras sekali. Kemudian aku menoleh kepada kyu oppa yang berada tak jauh di belakangku.

”Oppa, apa kau tak mau mencoba melakukannya?” tanyaku padanya.

Dia tersenyum padaku ” Ani. Biarkan itu menjadi caramu yang unik untuk mengungkapkan perasaan cintamu padaku. Aku punya cara sendiri!”

”Memangnya seperti apa cara oppa mengungkapkannya?” tanyaku ingin tahu.

”Kau yakin kalau aku harus menunjukkannya di sini?” ujarnya sambil memamerkan evil smile-nya padaku.

”Tidak usah,” ujarku cemas. Melihat senyumnya itu benar-benar membuatku yakin bahwa cara yang digunakannya itu akan membuatku syok.

”Aaahh…kau yakin tidak mau aku menunjukkannya padamu???” godanya lagi, senyum iblisnya itu semakin mengembang.

”Aku yakin oppa. Aku punya firasat buruk tentang caramu itu,” ujarku waspada. ”Aku sudah selesai oppa. Kajja kita pulang!!!”

Aku hendak berjalan mendahuluinya, tapi tiba-tiba dia menahan tanganku dan memegang kedua pipiku, dan dalam hitungan detik dia sudah mencium bibirku dengan lembut. Aku sangat terkejut. Saking terkejutnya aku tak bergeming sedikitpun dari posisiku. Barulah setelah beberapa saat dia melepaskan ciumannya, sementara aku tetap terpaku pada posisiku semula. ”Inilah caraku untuk mengungkapkan perasaanku terhadapmu,” ujarnya sambil tersenyum padaku. ”Ini yang pertama kali. Tapi kupastikan ini bukan yang terakhir. Aku akan melakukannya di sini setiap minggu setelah kau meneriakkan kata keramatmu itu di sini.”

”MWO?!” ujarku terkejut.

”Dan satu lagi…. Aku selalu bisa mendengar hatimu. Jadi jangan khawatir lagi tentang itu,” ujarnya tersenyum kepadaku dan seketika kehangatan menyelimuti hatiku saat menatap senyuman itu.

”Ayo pulang!!” ajaknya sambil menarik tanganku dengan lembut agar aku mengikuti langkahnya.

”Melangkahlah dengan hati-hati!” perintahnya. ”Jangan sampai terjatuh lagi. Itu akan membuatku sangat khawatir,” tambahnya lagi dan aku hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya.

THE END

MY PARENTS AND YOUR SISTER

Author POV

“OEMMAAAAA….” Hyera menjerit ketakutan. Kobaran api yang begitu besar tengah mengelilinginya, menggapai-gapai ke arahnya seakan-akan siap menjilati kulit putihnya yang masih sangat muda.

Jerit ketakutan tak pernah berhenti keluar dari mulut kecil Hyera. Berkali-kali dia memanggil oemma dan appanya. Memohon pertolongan. Tapi tak seorangpun yang datang untuk menolongnya. Setelah beberapa lama barulah dia melihat kedua orang tuanya berhasil membuka pintu kamarnya. Tapi sayang… langkah mereka terhenti karena kobaran api yang begitu besar menghalangi mereka. Saat ini si jago merah itu hampir melahap semua yang ada di dalam rumah mereka, dan seakan tak mau meninggalkan sisa sedikitpun.

”HYERAAAAA….” teriak oemmanya histeris melihat kondisi putri tunggalnya yang baru berumur tujuh tahun itu mulai melemah. Asap yang sejak tadi terus-menerus dihisapnya mulai menurunkan kerja sistem pernapasannya.

”Oemma…” panggil Hyera lagi, dengan suara mulai melemah.

”Hyera sayang, bertahanlah. Appa akan ke sana untuk menolongmu,” ujar ayahnya panik. Ayah dan ibunya kembali mencoba menerobos kobaran api yang menghalangi mereka.

KRAAAAAK!!!!

Tiba-tiba terdengar suara mengerikan dari atas kepala mereka. Seketika keduanya melihat ke atas, dan saat itu sebuah balok kayu besar dengan kobaran api sedang meluncur ke bawah, tepat ke arah mereka, dan akhirnya menimpa keduanya.

Hyera yang sekarang jatuh tertelungkup di lantai dengan kondisi yang sudah sangat lemah dan mulai kehilangan kesadarannya sempat melihat balok kayu itu menghantam tubuh ke dua orang tuanya sebelum matanya terpejam. ”Oemma…. Appa….” panggilnya sekali lagi, masih setengah sadar.

Tiba-tiba Hyera merasakan sepasang tangan mengangkat tubuh kecilnya, mendekap Hyera begitu erat di dadanya. Dan membawanya berlari dalam dekapannya. Orang itu kemudian memecahkan sesuatu yang Hyera tak tahu apa itu karena saat ini Hyera sudah tak sanggup lagi untuk membuka matanya. Hyera juga dapat merasakan hentakan keras saat orang itu membawanya terjun dari ketinggian , atau setidaknya seperti itulah sensasi yang Hyera rasakan. Dan saat sensasi itu menghilang, Hyera dapat merasakan udara yang jauh lebih bersih dan lebih segar menerpa kulit dan saluran pernapasannya.

Kemudian orang yang menggendongnya tadi membaringkannya di atas rerumputan dan menepuk-nepuk pelan pipi mungilnya. ”Apa kau baik-baik saja?” tanya orang itu yang ternyata adalah seorang namja. Dan itu adalah suara terakhir yang didengarnya sebelum akhirnya kesadarannya benar-benar menghilang.

 

******

Hyera POV

Aku membuka mataku. Napasku sangat tak beraturan saat ini. Ku angkat tubuhku dan ku sandarkan kepalaku yang agak pusing ke bagian kepala tempat tidurku. Lalu ku nyalakan lampu baca yang terletak di sampingku untuk memberi sedikit penerangan.

”Huuuhhh…!!! Mimpi itu lagi, ” keluhku sambil berusaha mengatur kembali napasku dan mengusap keringat dingin yang membanjiri dahiku dengan telapak tangan.

Kejadian dalam mimpiku tadi adalah nyata. Terjadi sekitar 11 tahun yang lalu. Saat itu umurku baru 7 tahun. Sudah cukup lama. Tapi masih sangat segar di dalam ingatanku. Seakan-akan baru saja terjadi kemarin. Hal ini dikarenakan aku selalu memimpikannya hampir setiap malam. Walaupun sudah berusaha, tapi aku tetap tak bisa melupakannya.

Memang tak mudah bagiku melupakan peristiwa yang membuatku kehilangan kedua orang tuaku dan membuatku harus hidup sebatang kara di dunia ini. Dan satu hal lagi, aku juga tak bisa melupakan dewa penolongku malam itu. Aku tak pernah berhasil mengetahui apapun tentang dirinya. Siapa namanya, di mana rumahnya, ataupun bagaimana wajahnya, aku benar-benar tak tahu karena tak sekalipun dia menunjukkan dirinya di hadapanku. Yang dapat ku ingat hanyalah dekapan lengannya yang kokoh, yang membuatku merasa sangat aman dan terlindungi malam itu.

******

”Hyera, kepala asrama menyuruhmu ke ruangannya,” ujar Yoorin saat berpapasan denganku di koridor asrama. Sejak kedua orang tuaku meninggal 11 tahun yang lalu aku memang selalu tinggal di asrama sekolahku. Seorang yang tak pernah ku ketahui dengan sukarela telah menjadi donatur bagi semua kebutuhan hidupku. Tak tanggung-tanggung, dia bahkan rela mengeluarkan begitu banyak uang untuk memberikan segala fasilitas dengan kualitas terbaik bagiku. Termasuk asrama dan sekolah elite tempat aku tinggal dan menempuh pendidikan sekarang ini.

”Ada apa?” tanyaku sedikit heran.

”Ada yang mau bertemu denganmu katanya,” jawab Gaeul tersenyum padaku.

”Gomawo,” ujarku balik tersenyum padanya.

”Hyera ah,” panggil Yoorin lagi saat aku sudah mau berbelok di ujung koridor dan aku kembali menoleh ke arahnya.

”Saenggil chukhae,” ujarnya dengan senyum manis terkembang di kedua sudut bibirnya. ”Hari ini 18 tahun kan?”

Aku mengangguk. ”Gomawo,” ujarku lagi, kemudian melanjutkan langkahku menuju ke ruangan kepala asrama.

 

Tok…tok…

Ku ketuk pelan pintu ruang kepala asrama. ”Siapa?” suara berwibawa seorang perempuan menyahutiku dari dalam.

”Lee Hyera, sosaengnim,” jawabku sopan.

”Masuklah,” ujarnya lagi.

Aku membuka pintu ruangan itu perlahan dan melangkah masuk setelah sebelumnya aku menutup kembali pintu yang sekarang berada di belakangku.

”Kim Ahjussi,” ujarku sedikit kaget, melihat seorang pria paruh baya yang sekarang berada di hadapanku.

”Kalian silakan mengobrol. Saya ada sedikit urusan, jadi mohon maaf karena tak bisa menyambut kedatangan Tuan Kim dengan baik,” ujar Park Sosaengnim dengan sopan.

”Ah, tidak apa-apa. Saya yang seharusnya meminta maaf kepada Anda karena telah merepotkan Anda selama beberapa tahun ini,” jawab Kim Ahjussi tak kalah sopannya.

Park Sosaengnin tersenyum. ”Kalau begitu saya permisi dulu,” ujarnya dan meninggalkan aku dan Kim Ahjussi berdua saja di ruangan itu.

Aku sedikit menundukkan badanku untuk memberi hormat kepada Kim Ahjussi. ”Duduklah,” katanya kemudian dan aku duduk di kursi yang berseberangan dengannya.

”Tuan kami mengirimkan bingkisan kecil ini sebagai kado ulang tahun untuk nona,” ujar Kim Ahjussi sembari meletakkan sebuah kotak berwarna biru lengkap dengan hiasan pita yang juga berwarna senada di atasnya.

”Apa ini?” ujarku sedikit kecewa karena lagi-lagi dia hanya mengirimkan sebuah kado di hari ulang tahunku. Sebenarnya daripada menerima kado-kado darinya aku lebih berharap dia mau menemuiku sekali saja dalam hidupnya. Aku ingin sekali menemui orang ini. Dan aku sering menyampaikan keinginanku itu kepada Kim Ahjussi yang merupakan orang kercayaan si tuan misterius ini. Tapi dia tak pernah mengabulkannya.

Tuan misterius, begitulah aku memanggil orang yang selama ini telah menaggung semua biaya hidupku. Aku tak tahu siapa dia dan apa hubungannya denganku ataupun dengan orang tuaku. Yang aku tahu dia adalah waliku, itupun aku ketahui dari Kim Ahjussi. Dan Kim Ahjussi tak pernah menjelaskan apapun tentang hubungan kami sehingga tuan misterius itu bisa menjadi waliku. Pokoknya semua tentang orang ini sangat misterius bahkan hingga saat ini tak sekalipun aku bisa bertemu dengannya karena dia melarangku.

”Nona tak mau membukanya?” tanya Kim Ahjussi lagi saat melihat kebisuanku.

”Tidak perlu,” ujarku dingin. ”Apapun yang ada di dalam sana, aku takkan membutuhkannya. Sebaiknya Ahjussi bawa saja kembali.”

”Isi kado itu adalah sebuah gaun. Tuan kami ingin nona memakainya saat makan malam bersamanya malam ini,” ujar Kim Ahjussi membuatku sangat terkejut sekaligus senang.

”Jeongmal?,” ujarku kelewat bersemangat. ”Benarkah dia mau menemuiku malam ini?”

”Tuan kami mengundang nona untuk makan malam di rumahnya malam ini dan beliau ingin nona memakai gaun  yang sudah dipilihkannya untuk nona,” jelas Kim Ahjussi sembari tersenyum teduh kepadaku.

”Kalau begitu aku akan segera bersiap-siap,” ujarku bersemangat sembari meraih bungkusan berwarna biru itu.

”Aku ke kamar dulu,” pamitku, kembali menundukkan tubuhku kepada Kim Ahjussi dan segera berlari menuju pintu.

”Aku akan menunggu Anda di halaman depan, nona,” ujarnya sebelum aku menutup pintu di belakangku.

******

Matahari sudah benar-benar tenggelam saat Mercedes CLS 350 yang membawaku sejak dari asrama tadi memasuki pintu gerbang sebuah istana, atau setidaknya begitulah aku mendiskripsikannya. Perlu sekitar sepuluh menit untuk benar-benar sampai di gedung utama. Dan akhirnya mobil yang membawaku berhenti tepat di depan terasnya.

”Kita sudah sampai, nona,” ujar Kim Ahjussi saat membukakan pintu mobil untukku. Akupun turun dari mobil mewah itu dan sedikit merapikan gaun biru pemberian tuan misterius yang saat ini ku kenakan. Ku edarkan sejenak pandanganku ke sekitarku. Dan sejauh ini hanya kemewahanlah yang bisa di tangkap oleh mataku.

“Mari nona, Tuan kami sudah menunggu Anda di ruang makan,” ujar Kim Ahjussi menghentikan kegiatan melihat-lihatku dan kembali fokus pada tujuan utamaku datang ke tempat ini.

”Ne,” ujarku. Kemudian Kim Ahjussi berjalan mendahuluiku dan aku mengikutinya dari belakang. Kim Ahjussi membawaku ke bagian dalam istana itu. Kami melewati sebuah ruangan tamu yang sangat luas dan mewah, dan beberapa ruangan lainnya yang juga tak kalah mewahnya sampai akhirnya kami berhenti di sebuah ruang makan yang juga sangat luas dan mewah.

Di seberang ruangan sana, tepat lurus berhadapan dengan tempatku berdiri sekarang, tampak seorang pria yang mengenakan pakaian resmi, jas dan celana hitam, berdiri tegap membelakangiku. Dia sedang menatap ke arah sebuah lukisan besar. Lukisan yang memuat sepasang suami-istri paruh baya dengan seorang gadis yang saat itu berumur sekitar 20 tahun dan seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 10 tahun mengapit mereka. Keempatnya sedang tersenyum bahagia di dalam lukisan itu.

”Tuan Choi, nona Lee Hyera sudah tiba,” ujar Kim Ahjussi, mengabarkan padanya.

”Aku tahu,” ujarnya dingin.

”Silahkan nona,” ujar Kim Ahjussi padaku, kemudian meninggalkan aku beserta orang yang sampai saat ini masih berdiri membelakangiku berdua saja di ruangan itu.

Aku hanya berdiri mematung, tak berani bergerak sedikitpun dari tempatku berada dan orang itu pun masih belum berbalik menghadap ke arahku.

”Selamat datang.” Akhirnya suara dingin orang itu memecahkan keheningan di antara kami. ”Selamat datang di rumah kami dan maaf baru bisa mengabulkan permintaanmu sekarang.” Orang itu akhirnya membalikkan badannya menghadap ke arahku. Sejenak aku tertegun memandangnya. Hal pertama yang terlintas di pikiranku saat melihat wajahnya adalah bahwa dia sangat tampan. Postur tubuhnya yang tinggi dan atletis memberikannya nilai sempurna untuk penampilan fisiknya. Aku mencoba menafsirkan umurnya, kira-kira akan memasuki tiga puluh atau di awal tiga puluh, itu tebakanku. Walaupun sikapnya sangat dingin, tapi tampak jelas kalau dia sangat berwibawa.

”Apa kau baik-baik saja nona Lee Hyera?” ujarnya lagi masih dengan nada dingin dan berwibawa, membuatku meninggalkan semua pikiranku yang lain dan kembali fokus pada pertanyaannya.

”Ne,” ujarku sangat gugup.

”Maaf karena selama ini selalu memaksa Anda untuk bertemu denganku. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada Anda karena selama sebelas tahun ini telah sudi merawatku dengan baik. Walaupun aku tak tahu untuk apa Anda melakukan semua itu karena sampai saat ini aku tak tahu apa hubungan antara kita hingga membuat Anda merasa perlu untuk menjagaku, tapi aku ingin tetap berterima kasih pada Anda,” ujarku panjang lebar, entah mendapatkan keberanian dari mana sehingga aku bisa berbicara sebanyak itu di bawah sorot matanya yang tajam ke arahku.

”Kau tak perlu merasa sungkan karena itu. Itu adalah kewajibanku untuk melakukannya,” ujarnya lagi, membuatku semakin tak mengerti. Tapi kali ini aku tak berani bicara banyak lagi. Keberanian yang tadi ku miliki tiba-tiba menguap begitu saja.

”Sebaiknya kita segera memulai acara makan malamnya. Sekarang sudah lewat waktu makan malam. Aku yakin kau sudah lapar,” ujarnya lagi sembari duduk di kursi paling ujung yang berada di dekatnya dan akupun duduk di kursi yang paling ujung yang berada di seberangnya. Sekarang kami dipisahkan oleh meja makan yang panjangnya sekitar 10 meter.

Dua orang pelayan menghidangkan makanan pembuka untukku dan dua orang pelayan yang lainnya melayaninya di seberang. Suasana makan malam ini sama sekali tak seperti yang kubayangkan. Sangat hening dan kaku. Kami tak bicara banyak selama makan malam berlangsung. Dia hanya sibuk dengan hidangan yang ada di hadapannya dan akupun tak memiliki pilihan lain selain juga menyibukkan diri dengan hidangan yang ada di hadapanku.

”Kau bisa menginap di sini sampai liburanmu berakhir. Tuan Kim akan mengurus semua keperluanmu selama di sini,” ucapnya saat acara makan malam berakhir. Dan aku hanya mengagguk pasrah menyetujui segala ucapannya tanpa bisa menolak karena setiap kali dia menatapku, tatapannya selalu seolah-olah mengintimidasiku.

”Sekarang sudah malam, kau pasti lelah dan perlu beristirahat. Tuan Kim akan mengantarkanmu ke kamarmu dan menjelaskan beberapa hal kepadamu,” ujarnya beranjak dari tempat duduknya dan berdiri membelakangiku, kembali menatap lukisan besar tadi.

”Mari nona,” ujar Kim Ahjussi tiba-tiba sudah berada di belakangku. Aku hanya menganggukkan kepala dan mengikutinya ke luar dari ruangan itu.

Kim Ahjussi membawaku ke sebuah kamar yang lagi-lagi sangat besar dan mewah yang terletak di lantai dua istana itu. ”Ini kamar Anda nona,” ujarnya saat membukakan pintu kamar itu. Aku melangkah masuk dan mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan.

”Saya harap nona bisa nyaman selama berada di sini. Bila nona membutuhkan sesuatu, jangan sungkan-sungkan untuk mengatakannya kepada saya.”

“Ne,” jawabku sembari tersenyum padanya. “Khamsahamnida.”

“Oh ya, nona,” ujar Kim Ahjussi lagi saat baru saja akan melangkah pergi. “Tolong jangan naik ke lantai tiga. Ini pesan Tuan Choi.”

”Ne,” ucapku walaupun sebenarnya sedikit bingung dengan peringatannya.

******

Malam ini aku tak bisa tidur. Walaupun kamar yang disediakan untukku sangat luas, begitu pula dengan ranjangnya yang besar dan empuk, tapi tetap tak bisa memberikan kenyamanan untukku. Berbagai pertanyaan berputar-putar di dalam kepalaku. Aku merasa ada sesuatu yang janggal di rumah ini. Suasana rumah ini memberikan aura yang membuatku merinding. Walaupun mewah dan sangat modern, tapi rumah ini terlalu besar dan hampa sehingga memberikan kesan menyeramkan.

Ku lirik jam dinding  yang berada di kamarku. Sudah lewat tengah malam. Namun demikian, mataku tetap tak mau dipejamkan. Dan walaupun ruangan ini full AC, tapi aku tetap merasa kegerahan.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar ke luar kamar. Aku menuju sebuah teras yang berada tak jauh dari kamarku. Cukup lama aku berdiri di sana menikmati angin malam yang membelai wajahku dengan lembut sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamarku. Tapi ketika aku baru membalikkan tubuhku, aku mendengar alunan piano. Lagu yang dimainkan syarat dengan perasaan terluka dan kemarahan. Aku menajamkan pendengaranku untuk mencari asal suara. Ternyata berasal dari ruangan yang tepat berada di atas tempat aku berdiri sekarang. Tanpa ku sadari kakiku terus berjalan dan sekarang aku sudah berada di hadapan sebuah tangga yang akan membawaku ke lantai tiga. Aku menapaki satu persatu anak tangga itu, sampai akhirnya ketika aku sudah berada di anak tangga terakhir seseorang mengejutkanku.

”Apa yang kau lakukan malam-malam begini di sini nona Lee Hyera?” ujar suara dingin itu mengejutkanku. Aku langsung membalikkan badanku ke arah asal suara dan Tuan Choi sedang berada di sana dengan tatapan marah kepadaku.

”Apa Tuan Kim tidak memberitahukan padamu kalau kau tidak diizinkan untuk naik ke lantai tiga selama berada di sini?” Nada suaranya sarat dengan kemarahan.

”Mian,” jawabku takut-takut. ”Aku hanya merasa heran ada orang yang memainkan piano semalam ini.”

”Apapun alasannya, kau tetap tak diizinkan untuk pergi ke sana. Ini peraturan di rumah ini. Dan sebagai seorang tamu, aku harap kau dapat menghormati peraturan itu,” ujarnya dingin dan penuh dengan nada ancaman.

”Mian,” jawabku menundukkan kepala. Ada rasa bersalah bercampur sakit hati saat mendengar ucapannya barusan.

”Sebaiknya kau kembali ke kamarmu sekarang,” ujarnya lagi. Aku berjalan kembali menuruni anak tangga. Saat melewatinya aku tak berani menatapnya. Aku benar-benar ingin menangis karena perlakuannya. Aku tahu ini kesalahanku karena tak mengindahkan peringatan Kim Ahjussi. Tapi apa perlu dia bicara sekeras itu padaku?

*******

Sejak malam itu aku tak berani untuk kembali naik ke lantai tiga. Walaupun setiap malam aku tetap mendengar alunan piano yang sama seperti malam itu, aku mencoba mengabaikannya. Aku sungguh tak mau kalau sampai Tuan Choi berbicara seperti itu lagi padaku. Itu akan membuatku semakin sakit hati padanya. Aku tak mau melunturkan rasa hormatku terhadapnya gara-gara masalah ini.

Ini adalah malam ke lima aku tinggal di rumah ini. Liburanku hanya tinggal beberapa hari lagi. Sebenarnya aku ingin segera ke luar dari rumah ini. Tapi aku sungguh tak enak hati jika harus menyampaikannya pada Tuan Choi. Itu akan memberi kesan bahwa aku sangat tak tahu berterima kasih. Jadi ku simpan saja niatku itu di dalam hati.

Malam ini seperti malam-malam biasanya sejak aku tinggal di rumah yang bak istana ini. Aku tak bisa tidur dan merasa kegerahan. Dan ini sudah tak tertolong lagi.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan keluar kamar seperti malam itu. Untuk menjaga jarak sejauh mungkin dari lantai tiga, aku memutuskan untuk berjalan-jalan di taman samping saja.

Ternyata taman yang berada di samping rumah ini sangat indah. Taman ini diterangi begitu banyak lampu dan begitu banyak bunga mawar merah terdapat di sana. Cantik sekali, pikirku. Aku terus berjalan-jalan mengitari taman ini hingga akhirnya aku dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sangat asing di sana.

Dia seorang wanita. Dia memakai gaun panjang berwarna hitam dengan rambut panjangnya dibiarkan tergerai ke belakang. Saat ini dia sedang memotong bunga-bunga mawar merah itu dengan menggunakan gunting tanaman.

”Anyeonghaseyo,” sapaku ramah padanya. Dan wanita itu membalikkan tubuhnya ke arahku. Dia tersenyum padaku sejenak, tapi tiba-tiba ekspresi wajahnya langsung berubah menjadi sangat marah dan mengerikan.

”Apa yang kau lakukan di sini?” geramnya sambil mengacungkan gunting tanaman yang sedang dipegangnya itu ke arahku. Dia memandangku penuh dengan kebencian.

”A-aku… sedang berjalan-jalan,” ujarku ketakutan.

Lalu tiba-tiba, tanpa sempat aku melindungi diriku, wanita itu menerjangku. Dia menekankan jari-jari tangan kirinya ke leherku sekuat-kuatnya. Sementara itu, tangan kanannya yang memegang gunting tanaman, di arahkannya tepat ke dadaku. Aku mencoba menahan tangan kanannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku berusaha menjauhkan tangan kirinya yang mencekik leherku. Tapi semua usahaku sia-sia. Dia terlalu kuat untukku. Dan sekarang dia berhasil menyudutkanku ke arah air mancur yang berada tak jauh di belakangku dan bagian semen air mancur itu menghantam keras di bagian belakang kepalaku saat kami bersentuhan. Aku bisa merasakan darah merembes mengalir di bagian belakang kepalaku dan aku sekarang mulai kehilangan kekuatanku seiring dengan mulai hilangnya pula kesadaranku.

Akhirnya di saat-saat terakhir pertahananku, aku bisa merasakan seseorang menarik tubuh wanita itu menjauh dariku dan menghempaskannya ke tanah yang tak begitu jauh dariku.

”Noona, kau tak boleh melakukan itu padanya.” Aku dapat mendengar suara Tuan Choi di sisa-sisa kesadaranku. Dia memanggil wanita itu dengan sebutan noona.

”Siwon ah, kenapa kau membawa wanita itu ke rumah kita?” ujar wanita itu marah kepada Tuan Choi.

”Noona, dia bukan wanita itu. Dia bukan Lee Sooran. Apa kau lupa kalau wanita itu sudah meninggal 11 tahun yang lalu dalam kebakaran itu. Apa kau lupa kau lah penyebab kematiannya. Kaulah yang membunuhnya beserta suaminya, Lee Hyukjae. Dan kau juga yang membuat putri tunggal mereka menjadi yatim piatu,” ujar Tuan Choi lagi dengan nada sangat marah kepada wanita itu.

”Hyera~a, apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba Tuan Choi sudah berada di dekatku. Dia mengangkat tubuhku dan mendekapku di dadanya. Seketika aku bisa merasakan kembali perasaan nyaman itu. Perasaan merasa terlindungi yang ku rasakan seperti 11 tahun lalu saat dewa penolongku menggendongku di dalam dekapannya dan menyelamatkan aku dari dalam kobaran api.

”Aku akan membawamu ke rumah sakit,” ujarnya lagi padaku. Walaupun aku tak bisa lagi melihatnya karena saat ini aku tak bisa membuka mataku sebagai akibat rasa sakit yang sedang ku alami, tapi aku masih tetap bisa mendengar perkataannya dengan jelas. Dan dari nada bicaranya aku bisa menangkap kekhawatiran yang amat sangat di sana.

”AAAAAAAAAAA……….”

”AAAAAAAAAAA……….”

Tiba-tiba aku mendengar wanita tadi berteriak marah dan disusul oleh teriakan kesakitan Tuan Choi. Aku bisa merasakan Tuan Choi kembali membalikkan tubuhnya ke arah wanita itu dengan masih menggendongku.

”Noona, aku tidak akan membiarkan kau membunuh putri mereka juga,” suara Tuan Choi terdengar seperti sedang menahan sakit. ”Aku mencintainya, noona. Tidakkah kau mengerti? Aku sangat mencintai putri Lee Sooran dan Lee Hyukjae, noona. Jika kau ingin membunuh satu orang lagi, lebih baik kau membunuhku saja. Tapi kau harus ingat, kalau aku akan melindungi putri mereka. Aku takkan membiarkan kau membunuhnya seperti kau telah membunuh kedua orang tuanya.”

Dan ”AAAAAAAAAA……..”

”NOONAAAAAA…………”

Aku mendengarkan jeritan kesakitan wanita itu dan disusul teriakan Tuan Choi yang memilukan di akhir kesadaranku.

******

Aku membuka mataku. Kini aku berada di sebuah kamar yang dekorasinya di dominasi oleh warna putih.

”Apa kau sudah sadar?” tanya seseorang yang sekarang tengah duduk di samping tempat tidur dan tangannya menggenggam erat tanganku.

”Di mana aku?” tanyaku pada orang itu yang ternyata adalah Choi Siwon.

”Sekarang kau berada di rumah sakit,” jawabnya sambil menyentuh pipiku dengan lembut.

”Apa yang terjadi?” tanyaku lagi, mencoba mengembalikan ingatanku.

”Kepalamu terbentur keras. Kau mengeluarkan begitu banyak darah dan kau tak sadarkan diri selama tiga hari,” dia menjelaskan padaku.

Perlahan-lahan aku mulai mengingat kejadian malam itu. Satu persatu potongan gambar dan percakapan malam itu berhasil ku tarik kembali ke dalam ingatanku. Dan ketika aku berhasil mengingat segalanya, aku tak mampu membendung air mataku.

”Mian atas apa yang dilakukan noonaku terhadap keluargamu. Aku tahu ini tak bisa dimaafkan, tapi aku sungguh-sungguh memohon padamu agar kau mau memaafkannya,” ujarnya memelas padaku.

”Apa alasan dia melakukan semua ini pada keluargaku?” tanyaku lagi dengan air mata yang semakin deras mengalir di pipiku.

”Noonaku sangat mencintai appamu. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Dan appamu tahu persis kalau noonaku sangat mencintainya. Namun appamu hanya menyayanginya sebagai seorang sahabat, tak lebih dari itu,” Choi Siwon mulai menceritakan kisah kedua orang tuaku dan noonanya.

”Sampai akhirnya appamu bertemu dengan oemmamu dan jatuh cinta padanya. Itu permulaan depresi yang dihadapi noonaku. Rasa cintanya yang terlalu besar kepada appamu membuatnya tak bisa menerima kenyataan ketika appamu memutuskan untuk menikah dengan oemmamu. Kami harus membawanya ke psikiater saat itu. Oemma kami sangat menderita melihat kondisi noona. Kekhawatiran oemma akan noona membuatnya jatuh sakit dan meninggal tak berapa lama kemudian. Setelah kepergian oemma, noona sedikit melupakan masalah appamu dan dia beralih menangisi kepergian oemma. Perlu beberapa lama bagi kami untuk bisa membuatnya menerima kepergian oemma.” Dia berhenti sejenak. Tangan kirinya menghapus air mata yang masih mengalir di kedua pipiku dengan lembut.

”Setelah itu noona menjadi sedikit lebih tenang dan tidak pernah mengungkit-ungkit tentang appamu lagi. Hal ini membuatku dan appa  sedikit bernapas lega, sampai pada kejadian malam itu menjadi puncak segalanya. Malam itu aku terlambat pulang karena ada pelajaran tambahan di sekolah dan ketika aku pulang semua pelayan di rumah sudah panik karena noona menghilang setelah sebelumnya dia sempat mengamuk dan selalu menyebut-nyebut nama kedua orang tuamu sebagai penyabab kematian oemma kami. Sementara itu appaku sedang berada di luar negeri karena ada pertemuan bisnis. Aku tak tahu apa sebenarnya yang ada di dalam fikiranku saat itu. Tapi naluriku membawaku ke rumah keluargamu. Dan ketika sampai di sana semuanya sudah terlambat. Rumah kalian sudah terbakar habis. Saat aku menemukan kedua orang tuamu, mereka sudah meninggal. Aku hanya sempat menyelamatkanmu dari dalam kobaran api.

Setelah aku mengantarmu ke rumah sakit, aku kembali ke rumahku. Dan malam itu juga aku memutuskan untuk mengirim noonaku ke rumah sakit jiwa. Appa sempat memarahiku saat mengetahui apa yang telah aku lakukan terhadap noona. Tapi appa malah mengalami serang jantung yang sangat hebat saat mengetahui apa yang telah dilakukan noona terhadap kedua orang tuamu sehingga harus membuatku mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Appaku tak tertolong saat itu. Namun sebelum meninggal appa sempat berpesan agar aku dapat bertanggungjawab penuh terhadap masa depanmu dan aku juga harus menjaga noonaku dengan baik,” ujarnya mengakhiri ceritanya.

Hatiku sangat sakit mengetahui semua kenyataan ini. Mengetahui bahwa noonanyalah yang membuatku harus hidup tanpa kedua orang tuaku. Tapi aku tak bisa membencinya karena semua ini memang bukanlah kesalahannya. Dia sama seperti aku. Menjadi pihak yang paling menderita karena kejadian malam 11 tahun yang lalu. Sama sepertiku, dia juga kehilangan segala yang paling berharga dalam hidupnya saat itu. Dan yang semakin membuatku tak dapat membencinya adalah karena dia telah menjagaku dengan sangat baik selama 11 tahun ini. Terlebih lagi dia adalah dewa penolongku yang menyelamatkan nyawaku malam itu.

”Lalu kenapa dia menyerangku?” tanyaku.

”Karena wajahmu sangat mirip dengan oemmamu.”

”Di mana noonamu sekarang?” tanyaku lagi saat tangisku sedikit mereda.

”Aku telah memakamkannya beberapa hari yang lalu,” ujarnya sedih.

”Mwo?! Apa…” aku tak bisa meneruskan ucapanku.

”Noona bunuh diri karena sudah tak sanggup lagi menanggung beban fikiran dan perasaannya selama ini. Dia menikamkan gunting tanaman yang saat itu sedang di pegangnya tepat ke jantungnya. Dan aku menyaksikan sendiri saat gunting itu berhasil menembus dadanya.” Dia menundukkan kapalanya, berusaha menyembunyikan air mata yang kini tengah menggenang di kedua pelupuk matanya.

Dengan susah payah ku angkat tubuhku agar dapat duduk. Dan aku dapat merasakan tubuhnya yang bergetar hebat saat aku memeluk tubuh kekarnya. Dia menangis di dalam pelukanku. Aku membiarkannya menumpahkan semua yang sudah ditahannya selama 11 tahun ini. Beban yang dipikulnya sudah sangat berat, tapi dia tetap dipaksa tegar untuk menghadapi semua masalah yang sebenarnya bukanlah kesalahannya.

Setelah beberapa lama barulah dia melapaskan pelukanku. Kini dia menatapku dengan sangat lembut. Aku tak menemukan sorot mata dingin itu lagi ketika dia menatapku. Tatapannya saat ini begitu hangat, membuatku merasa sangat nyaman saat menatap ke dalamnya.

”Apa lenganmu baik-baik saja?” tanyaku saat menyadari bahwa lengan kanannya kini sedang terbungkus perban.

”Aku baik-baik saja,” jawabnya dan untuk pertama kalinya dia tersenyum padaku. ”Gunting tanaman yang berusaha ditikamkan noona ke tubuhmu hanya berhasil mengenai lenganku dan meninggalkan luka kecil.”

”Boleh aku mengatakan satu hal lagi padamu?” tanyanya mengalihkan pembicaraan kami dengan cepat. Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tak mengerti.

”Aku hanya ingin menyesaikan segalanya malam ini,” ujarnya serius kepadaku dan kali ini aku megangguk mengiyakan.

Kemudian dia menggenggam lembut kedua tanganku dengan tangan kirinya. ”Tolong biarkan aku menjagamu selamanya. Aku mohon menikahlah denganku?” ujarnya membuatku sangat terkejut. Aku tahu tentang perasaannya terhadapku. Aku mendengarkan dengan sangat jelas saat dia memohon kepada noonanya agar tidak membunuhku dengan alasan dia sangat mencintaiku. Tapi mendengarkannya mengatakan semua ini secara langsung padaku tetap saja membuatku sangat terkejut. Apa lagi sekarang dia memintaku menikah dengannya.

”Eh…. tapi aku baru delapan belas tahun,” ujarku tergagap. ”Aku bahkan baru akan lulus SMA beberapa bulan lagi.”

Untuk kedua kalinya senyuman itu menghiasi wajah tampannya. ”Kalau itu masalahnya, aku bisa menunggumu beberapa tahun lagi sampai kau menamatkan kuliahmu. Aku hanya ingin memastikan, apakah kau bersedia menjadi istriku suatu saat nanti?”

Aku menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan pipiku yang kini merona merah karena malu. Dan aku mengangguk perlahan. Setelah itu aku merasakan lengan kokohnya merangkul tubuh mungilku. Rasanya begitu aman dan terlindungi saat berada di dekapannya. Membuatku tak ingin melepaskannya.

”Gomawo,” bisiknya di telingaku dan mempererat pelukannya. ”Ternyata selama ini aku sudah membesarkan calon istriku dengan tanganku sendiri,” ujarnya lagi, membuatku tersenyum di dalam dekapannya yang hangat.

THE END

MY EVERYTHING

Theme     : Romance

By             : Park Yeorum

FB             : Bummie Viethree

Twitter    : @green_viethree

Email        : bummie_viethree@yahoo.com

Note         : FF ini adalah ff pertama yang bisa ku selesaikan dengan sempurna. Butuh waktu kurang ± 1 minggu bagiku untuk menyelesaikan kerangka besarnya dan hampir satu bulan masa editing. So selamat membaca. Semoga kalian suka dan jangan lupa tinggalkan kiritik serta saran kalian di kotak comment ^_^

 

 

Donghae POV….

Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit secepat yang bisa kuusahakan. Tapi semakin kupacu, kakiku terasa semakin lambat. Sementara itu, Kibum dan Kyuhyun berlari di belakangku. Mereka berusaha mengimbangi langkahku. Ku pacu lebih cepat lagi langkah kakiku. Rasa sakit yang menyeruak di dadaku tak ku hiraukan. Yang aku tahu aku harus segera sampai ke tempat tujuanku.

*****

1 jam yang lalu…..

Aku sedang berlatih dance di studio SM bersama-sama dengan member Super Junior yang lain. Besok kami harus tampil di acara tahunan dream consert dan hari ini latihan kami yang terakhir untuk acara itu.

Tiba-tiba menejer Lee yang sedari tadi mengawasi kami memanggilku.

“Donghae~a, ada telepon untukmu,” ujarnya sembari mengulurkan ponselku yang dipegangnya.

Aku segera menghampirinya dan mengambil ponsel yang diulurkannya padaku. “Gamsahamnida,” ujarku pada menejer lee.

Yoboseyo,” sapaku saat kutempelkan ponsel itu di telingaku. Suara Jinho hyung, kakaknya Gaeul, menyambutku dari seberang.

“Hyung, ada apa menelponku malam-malam begini? Kau kangen padaku ya? Atau Ara yang memintamu melakukan ini? Karena dia malu mengatakan kalau dia merindukanku sehingga dia memintamu yang melakukan ini untuknya?” candaku.

Aku dan Jinho hyung memang suka sekali menggoda Gaeul. Terlebih saat dia gengsian untuk mengungkapkan perasaanya secara terbuka terhadapku.

“Donghae ah, dengarkan aku!” Suara Jinho hyung terdengar sangat serius. Aku sedikit terkejut mendengar nada bicaranya. Tidak biasanya dia berbicara dengan nada seperti itu. Biasanya calon iparku ini suka sekali kalau diajak menggoda adik kesayangannya itu.

“Hyung ada apa?” tanyaku, mengubah nada bicaraku sedikit lebih serius karena sepertinya Jinho hyung sedang tidak berniat untuk bercanda.

“Apa kau bisa ke rumah sakit sekarang juga?” tanyanya padaku.

“Ada apa sebenarnya, hyung?” Kini aku mulai cemas karena dia menyebut-nyebut rumah sakit .

“Donghae~a,” Jinho hyung menghela napas panjang, “Gaeul… Dia mengalami kecelakaan. Sekarang dia dirawat di Hangyang University Hospital. Aku harap kau bisa ke sini secepatnya.”

Kepalaku serasa dihantam benda keras mendengar ucapan Jinho hyung barusan.

“Gaeul kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku panik.

“Aku tak bisa menjelaskannya lewat telepon. Apa kau bisa ke sini sekarang?”

“Ya,” jawabku cepat.

“Usahakan secepatnya!” Jinho hyung mengakhiri pembicaraan kami.

Aku termangu di tempatku berdiri dengan ponsel masih menempel di telingaku. Otakku masih mencoba mencerna kata-kata Jinho hyung barusan. Perlahan-lahan akhirnya aku mulai mengerti. Gaeul, satu-satunya gadis yang berhasil mengisi relung hatiku selama tujuh tahun ini mengalami kecelakaan. Tapi bagaimana mungkin bisa terjadi? Baru sekitar satu jam yang lalu aku menelponnya. Mendengar suara tawanya yang ceria. Tapi sekarang entah bagaimana keadaannya.

“Hyung, ada apa?” tiba-tiba Kibum sudah berada di sampingku, menyadarkanku.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya bergegas mengemasi barang-barangku. Pikiranku juga masih linglung.

“Donghae~a, ada apa?” Leeteuk hyung mengulangi pertanyaan Kibum.

Setelah mamasukkan semua barang-barangku ke dalam tas, akhirnya aku berbalik menghadapi mereka. Semua member kini sedang menatap kepadaku dengan rasa ingin tahu.

“Gaeul mengalami kecelakaan,” ujarku dengan suara tercekat. “Aku harus ke rumah sakit sekarang juga!”

Semua member sangat terkejut mendengar jawabanku.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Eunhyuk prihatin.

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak tahu bagaimana persisnya.”

“Aku pergi…” Aku membalikkan badanku untuk meninggalkan mereka.

“Hyung,” panggil seseorang ketika aku sampai di ambang pintu. Ku balikkan lagi badanku dan ternyata Kibum yang memanggilku.

“Aku ikut. Kau tak boleh nyetir dalam kondisi panik seperti ini,”ujarnya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan permintaannya.

“Aku juga,” kali ini si bungsu Kyuhyun juga ikut bersuara.

*****

Kembali ke masa sekarang….

Akhirnya aku sampai di depan ruang ICCU. Di sana sudah ada Paman dan Bibi Cho, orang tuanya Gaeul. Mereka terduduk lemas di kursi ruang tunggu, saling bersandar satu sama lain. Di wajah mereka tersirat kesedihan yang bercampur kecemasan yang amat sangat.

Jinho hyung yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang ICCU langsung menghampiriku saat melihat kedatanganku.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku masih dengan napas ngos-ngosan.

“Kami belum tahu. Dokter masih memeriksanya,” jawabnya.

Tiba-tiba seorang dokter ke luar dari ruang ICCU. Paman dan Bibi Cho yang sedari tadi duduk saling bersandar, langsung berdiri. Aku, Jinho hyung, Kibum dan Kyuhyun juga ikut mengerubungi dokter itu.

“Bagaimana keadaan putri kami, Dok?” ujar Paman Cho penuh harap.

“Saya harap semuanya bisa tenang. Kecelakaan yang dialami pasien sangat serius. Kecelakaan itu menghancurkan kaki kirinya. Dan tidak ada pilihan lain…. kakinya harus diamputasi,” ujar dokter itu.

Bibi Cho tak mampu lagi membendung air matanya. Seketika tangisnya pecah mendengar kondisi putri kesayangannya saat ini. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.

Sementara aku hanya berdiri kaku di tempatku. Aku tak mampu mempercayai apa yang baru saja ku dengar. Kakiku serasa tak mampu lagi menopang tubuhku agar tetap berdiri tegak. Untung ada Kibum dan Kyuhyun memegangiku dari belakang.

Hatiku benar-benar sakit membayangkan orang yang sangat aku cintai harus melalui sisa hidupnya hanya dengan satu kaki. Penderitaan seperti apa yang akan dia rasakan setiap harinya. Terlebih dia takkan bisa menari lagi. Sementara balet adalah hidupnya. Bagaimana dia bisa melewati semua ini? Bagaimana dengan impiannya? ‘Ya Tuhan, ini akan sangat menyakitkan baginya,” jeritku dalam hati.

“Operasi ini harus dilakukan sesegera mungkin,” dokter menjelaskan lagi. “Pasien saat ini masih dalam kondisi kritis. Kalau ditunda-tunda kakinya akan membusuk. Dan ini akan lebih membahayakan nyawanya.”

Seketika aku langsung maju ke hadapan dokter dan menggenggam tangannya. “Dok, pasti ada cara lain untuk menolongnya kan? Tidak harus dengan amputasikan, Dok? Dia seorang penari. Mana mungkin hanya dengan sebelah kaki, Dok.”

Dokter menggelengkan kepalanya. “Ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya. Jangan terlalu lama mengambil keputusan.”

Dokter itu kembali masuk ke ruang ICCU. Kini aku benar-benar kehilangan semua kekuatanku. Pertahanan yang kubangun sejak tadipun akhirnya runtuh. Dan tanpa ku sadari setetes air mata jatuh dipipiku. Aku mengerang, mencoba menghilangkan rasa sakit di dadaku. Tapi rasa sakit itu malah bertambah parah sekarang.

Kibum dan Kyuhyun yang dari tadi berdiri tak jauh dariku, menghampiriku. “Hyung duduklah dulu,” ujar Kyuhyun sembari membawaku ke kursi yang ada di dekat kami berdiri. Aku benar-benar kacau sekarang.

“Hyung, kau harus tegar. Kau tidak boleh ikut-ikutan menjadi lemah. Kalau kau lemah siapa yang akan menopang Gaeul nantinya? Siapa yang akan menjadi tempat bersandarnya?” ujar Kibum bijak. Anak ini jarang sekali berbicara, tapi kalau sudah bicara setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti mutiara.

Jinho hyung memelukku, menepuk-nepuk punggungku, mencoba memberikan ketenangan padaku, walaupun hatinya sendiri pasti sedang sangat hancur mengingat kondisi adik yang sangat disayanginya saat ini.

“Kau harus lebih tabah Donghae~a. Mulai hari ini kaulah yang akan menjadi penopang bagi Gaeul. Jadi kau harus lebih kuat. Jangan membuat Gaeul menjadi lebih hancur karena harus melihatmu seperti ini,” ujarnya di telingaku.

Apa yang dikatakan Kibum dan Jinho hyung benar. Aku harus kuat! Gaeul butuh penopang yang kuat untuk hidupnya di masa mendatang. Pikiran ini berhasil membuatku sedikit lebih tegar.

*****

Satu minggu sudah Gaeul terbaring di ruang ICCU dan tak sadarkan diri. Operasi sudah dilakukan sesuai dengan saran dokter. Semua berjalan dengan lancar. Sekarang kami hanya bisa menunggunya sadar untuk melihat bagaimana reaksinya nanti. Dan tak seorang pun yang berani membayangkan reaksi seperti apa yang akan diberikan Gaeul ketika mengetahui bahwa kaki kirinya sudah tak ada. Ini akan menjadi sangat sulit, pikirku.

Aku sengaja meminta izin kepada menejer untuk tidak mengikuti semua jadwal manggung super junior sejak malam Ara kecelakaan. Aku ingin selalu berada di sisinya. Aku tak mau meninggalkannya sendirian.

Aku tercenung memandangi wajah gadis yang sangat ku cintai, yang sekarang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Matanya yang biasanya berbinar indah, kini tertutup rapat. Bibirnya yang selalu membentuk senyum indah untukku, kini diam tak bergerak. Wajahnya yang selalu merona kemerahan, kini begitu pucat. Begitu banyak kabel-kabel alat bantu yang dipasangkan ke tubuhnya. Namun bagiku dia tetap gadis tercantik yang memiliki jiwa terindah yang pernah ku kenal.

*****

Tujuh tahun yang lalu….

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru. Seperti biasa, kegiatan sekolah dibuka dengan upacara penyambutan para siswa baru. Dan ini adalah kali pertama aku melihatnya.

Dia berdiri di barisan paling depan di antara murid-murid baru. Dia begitu menonjol di antara yang lainnya. Wajahnya sangat cantik dan lembut. Sikap tubuhnya penuh dengan keanggunan. Pribadinya yang menyenangkan membuatnya sangat mudah untuk disukai oleh teman-temannya.

Gaeul adalah juniorku saat aku masih bersekolah di Sun Hwa Arts Senior High School, sebuah sekolah khusus seni yang terdapat di kota Seoul. Aku sudah menyukainya sejak pertama aku melihatnya. Tapi dia begitu sulit untuk didekati. Dia sedikit tertutup dengan makhluk yang berjenis kelamin laki-laki. Selain itu sikapnya yang begitu anggun dan bijaksana membuatku tak percaya diri untuk mendekatinya. Aku tidak yakin dia akan menyukai seorang yang childish seperti aku.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Sekarang aku sudah duduk di kelas tiga, sementara Gaeul di kelas dua. Tapi sampai saat ini aku masih saja hanya berani memandanginya dari kejauhan.

Gaeul mengambil jurusan khusus clasical ballet di sekolah kami, sementara aku mengambil jurusan khusus modern dance. Gaeul sangat menyukai balet dan impian terbesarnya adalah menjadi seorang penari balet profesional. Gerakan tarinya sangat indah. Aku sering melihatnya latihan secara diam-diam. Ini sangat mudah bagiku karena studio latihan jurusan modern dance dan clasical ballet terletak bersebelahan.

Suatu hari aku sedang latihan dance sendirian di studio. Saat itu perhatianku sedang benar-benar tercurah pada gerakan-gerakan rumit yang coba kuciptakan sampai-sampai aku tak menyadari kehadiran seseorang di ruangan itu. Aku baru menyadarinya ketika latihanku usai dan ada yang bertepuk tangan dari arah belakangku.

Aku membalikkan tubuhku, mencari asal suara dan Gaeul ada di sana.

“Tarian Sunbaenim sangat bagus,” ujarnya tersenyum padaku.

Ini kali pertama aku melihatnya tersenyum langsung padaku dalam jarak yang relatif dekat. Ternyata aku telah salah mengapresiasikan dirinya selama ini. Dia jauh lebih cantik dari yang telah ku lihat setahun belakangan ini. Seketika aku menjadi begitu gugup dan tak bisa berkata apa-apa.

“Aku sering memperhatikan dari luar saat Sunbaenim sedang berlatih. Gerakan-gerakan yang Sunbaenim ciptakan sangat berenergi dan bersemangat. Aku sangat menyukainya,” ujarnya lagi masih tetap tersenyum kepadaku.

“Kau sering memperhatikanku latihan?” tanyaku tak percaya. Dan dia mengangguk mengiyakan.

“Apa kau mengenalku?” tanyaku lagi masih dengan nada tak percaya.

Dia tertawa mendengar pertanyaanku. “ Bagaimana mungkin aku tidak mengenal Sunbaenim? Sunbaenim sangat terkenal di kalangan para cewek di sekolah kita. Aku sering sekali mendengar nama Sunbaenim disebut-sebut oleh teman-temanku saat mereka sedang menggosip.”

“Perkenalkan namaku Gaeul. Cho Gaeul,” tiba-tiba dia mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya dengan kikuk.

“Lee… Donghae,” ujarku terbata.

“Maukah Sunbaenim mengajariku ngedance?”

“Kau mau belajar dance?” ujarku, surprise saat mendengar permintaannya. “Bukankah kau menyukai balet? Kau tidak berniat untuk ke luar dari balet dan pindah jurusan kan?”

Sunbaenim tahu kalau aku sangat menyukai balet???” Matanya membesar karena terkejut. Membuatnya terlihat lucu.

“Ah… aniyo!!! Aku hanya pernah melihatmu latihan dan gerakanmu sangat indah. Ku pikir tidak mungkin kau bisa menari seindah itu kalau tidak sangat menyukainya,” ujarku mengelak, mencoba menutupi kenyataan bahwa aku sering memperhatikannya.

“Analisa Sunbaenim tepat sekali. Aku sangat menyukai balet, tapi bukan berarti aku tidak boleh belajar tarian yang lain kan?”

“Kau serius mau belajar?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk bersemangat.

“Kalau begitu datanglah kemari setiap kali kau punya waktu luang.”

Singkat kata, sejak hari itu kami semakin dekat. Awalnya hanya menari kegiatan yang kami lakukan bersama. Lama-lama kami sering menghabiskan waktu berdua.

Setelah enam bulan hubungan kami menjadi begitu dekat. Aku memberanikan diri untuk mengatakan perasaanku terhadapnya. Dan tak disangka-sangka ternyata Gaeul memiliki perasaan yang sama terhadapku. Ternyata dia juga sudah menyukaiku sejak pertama kali dia melihatku.

Selanjutnya Gaeul menjadi bagian penting dalam hidupku. Dia selalu ada di sisiku, disetiap moment penting dalam hidupku. Dia yang begitu mendukungku untuk mengikuti audisi yang diadakan SM Entertainment sampai akhirnya aku menjadi seperti sekarang.

Gaeul juga setia berada di sisiku disaat terhancur dalam hidupku yaitu ketika Appa yang begitu aku cintai meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dia begitu sabar mendampingiku. Tak sekejap pun dia membiarkan aku sendirian dalam keterpurukanku. Sampai-sampai saat itu dia membatalkan keberangkatannya ke Canada untuk mengikuti sebuah kompetisi balet internasional. Kompetisi yang sudah menjadi impiannya sejak lama.

“Aku akan punya kesempatan yang jauh lebih baik suatu saat nanti. Saat ini yang terpenting dalam hidupku adalah tetap berada di samping Oppa,” ujarnya saat mencoba meyakinkanku bahwa keputusannya itu adalah yang terbaik untuk saat itu. Dan dia membuktikan ucapannya. Beberapa bulan berikutnya dia berhasil memenangkan kompetisi balet terbesar tingkat dunia di Jerman. Saat menerima trofi kemenangan dia menyebutkan namaku di urutan pertama dalam pidato kemenangannya dan dia mempersembahkan kemenangan itu sebagai kado ulang tahun terindah untukku.

Begitu besar cinta yang Gaeul berikan untukku, hingga aku merasa sudah memiliki semua cinta yang ada di dunia ini. Dan aku pun mencintainya begitu dalam. Memberikan seluruh kebahagiaan yang aku miliki dalam hidupku kepadanya menjadi impian terbesar dalam hudupku.

*****

Kembali ke masa sekarang…

Pagi ini aku kembali ke dorm Suju. Hanya untuk membersihkan badan dan berganti pakaian. Setelah itu aku langsung kembali lagi ke rumah sakit yang terletak di Haenghang-dong District itu. Aku tak mau ketika Gaeul sadar aku tak berada di sampingnya.

Saat aku sampai di depan kamar tempat Gaeul di rawat, aku mendengar kegaduhan dari dalam kamar. Ada suara yang begitu aku kenal. Suara yang selalu memberikan kebahagiaan tersendiri bagiku saat aku mendengarnya. Ya…itu suara Gaeul. “Dia sudah sadar sekarang,” pikirku. Tapi suaranya sekarang terdengar begitu memilukan bagiku. Gaeul sedang menangis.

Menyadari apa yang sedang terjadi, aku semakin mempercepat langkahku. Tanpa pikir panjang ku putar knop pintu dan ku dorong daun pintu hingga terbuka.

Di dalam aku melihat Paman dan Bibi Cho serta Jinho hyung sedang berkutat mencoba menenangkan Gaeul yang menangis histeris. Tak seorang pun menyadari kehadiranku sampai aku bersuara.

“Gaeul~a….” Ucapanku menggantung, karena saat itu aku memang tak tahu harus mengatakan apa lagi. Tapi suaraku mampu membuat semua orang yang ada di ruangan ini menyadari kehadiranku.

Seketika semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, termasuk Gaeul. Aku melangkahkan kakiku untuk mendekatinya. Aku ingin sekali memeluknya. Menyandarkan semua kepedihannya saat ini di dadaku. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, “ANDWE!!!” Gaeul menjerit histeris. Melarangku untuk mendekatinya.

ANDWE! JANGAN MENDEKATIKU!” teriaknya sekali lagi.

Teriakannya itu membuat langkahku terhenti. Aku tak percaya dengan reaksi yang diberikan Gaeul. Aku benar-benar tak menyangka dia akan bersikap seperti ini terhadapku.

“Gaeul~a…ini aku. Donghae Oppamu,” ujarku mencoba menenangkannya sembari kembali melangkahkan kakiku untuk mendekatinya.

ANDWE!!!” teriaknya lagi dan jauh lebih memilukan dari yang tadi. Gaeul mencoba menjauhkan dirinya sejauh mungkin dariku sampai dia terjatuh ke lantai.

Seketika aku dan semua orang yang berada di ruangan itu tersentak kaget. Aku segera berlari ke arahnya untuk memeriksa apakah dia terluka dan mencoba untuk membantunya kembali ke tempat tidur. Tapi tangis Gaeul semakin menjadi ketika aku mencoba mengangkatnya. Dia menepiskan tanganku dan mendorong tubuhku agar berada sejauh mungkin darinya.

“Gaeul~a biarkan oppa membantumu naik ke tempat tidur,” bujukku.

Andwe... Jangan mendekat padaku Oppa. Aku bukan Gaeul yang dulu lagi. Gaeul yang begitu sempurna di mata Oppa. Gaeul yang membuat Oppa bangga karena tariannya kini sudah mati. Gaeul yang sekarang adalah Gaeul yang cacat. Gaeul yang tak pantas di sandingkan dengan seorang Lee Donghae.” Ucapan Gaeul seperi sebilah pedang menancap tepat di jantungku.

“Tidak Gaeul~a. Gaeul yang dulu ataupun Gaeul yang sekarang adalah orang yang sama. Tetap gadis yang paling Oppa cintai dalam hidup Oppa. Tetap gadis yang oppa inginkan selalu berada di sisi Oppa,” ujarku terus berusaha meyakinkannya.

Aku kembali mencoba mengangkat tubuhnya. Tapi dia kembali menepiskan tanganku dan mendorongku sejauh mungkin darinya.

“Tidak Oppa. Oppa harus melupakanku. Oppa harus berhenti mencintaiku. Aku bukan gadis yang pantas untuk Oppa. Oppa harus dapatkan yang terbaik. Dan yang jelas gadis itu bukan gadis cacat seperti aku,” tangisnya memilukan.

Sekujur tubuhku serasa kaku mendengar ucapannya. Dia menginginkan aku untuk berhenti mencintainya. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang ku dengar. Bagaimana mungkin dia meminta hal seperti itu dariku? Sementara dia tahu persis seberapa besar aku telah mencintainya selama tujuh tahun ini. Kini aku hanya bisa terduduk lemas di lantai. Sementara itu, tak jauh dari tempatku berada Gaeul menangis tertelungkup di lantai.

“Sebaiknya kau keluar dulu. Tunggu sampai Gaeul tenang. Saat ini dia masih shock. Kita tak bisa terlalu memaksanya sekarang,” ujar Jinho hyung sambil membantuku berdiri.

“Eunhyuk, Kyuhyun, tolong bawa Donghae keluar dulu,” ujarnya kepada Eunhyuk dan Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan ini.

Tanpa menjawab Eunhyuk dan Kyuhyun langsung menggantikan Jinho hyung memegangiku dan mereka menuntunku berjalan ke luar dari kamar itu. Aku sudah tak punya pilihan lain lagi selain mengikuti mereka. Saat ini aku sudah tak punya cukup tenaga lagi untuk melawan. Reaksi Gaeul tadi sudah melemahkan semua sistem sarafku. Yang tertinggal sekarang hanyalah rasa sakit yang menusuk-nusuk di dadaku.

*****

Sejak hari itu, tak sekalipun aku berhasil menemui Gaeul. Kalau aku memaksa, dia akan menangis histeris seperti saat itu. Bahkan sampai sekarang, saat Gaeul sudah diperbolehkan pulang, dia tetap menolak menemuiku. Berbagai cara sudah coba ku lakukan, tapi semuanya sia-sia.

Hari ini aku bermaksud untuk kembali mencoba menemui Gaeul di rumahnya. Walau berkali-kali usahaku gagal, tapi aku menolak untuk menyerah. Yang aku tahu, aku harus membuat Gaeul mengerti bahwa dia orang yang paling aku inginkan dan paling pantas berada di sisiku selamanya. Tak peduli apapun kondisinya. Aku ingin meyakinkannya bahwa tak ada hal apapun di dunia ini yang dapat membuatku berhenti untuk mencintainya.

Bibi Cho yang menyambut kedatanganku dan dia mempersilahkanku masuk.

“Bagaimana keadaan gaeul, Ahjumah?” tanyaku sopan.

Bibi Cho memperlihatkan ekspresi seperti ingin meminta maaf padaku. “Donghae ah, Gaeul sudah tidak ada di sini lagi.”

Aku tersentak mendengar ucapannya. Apa sebenarnya yang dia maksud dengan Gaeul sudah tak ada di rumah mereka lagi?

“Apa maksud Ahjumah?” tanyaku tak yakin dengan ucapannya tadi.

“Sejak kemarin Gaeul sudah pindah dan tidak tinggal di rumah ini lagi?” ujarnya sedih.

“Tapi dia pindah ke mana? Bukankah dalam kondisi sekarang ini seharusnya dia harus tinggal bersama keluarganya?” ujarku semakin tak mengerti.

Bibi Cho hanya diam menanggapi pertanyaanku. Sepertinya dia tak tahu lagi harus mengatakan apa padaku.

Perlahan aku mengerti apa maksud perkataan Bibi Cho tadi.

“Maksud Ahjumah, gaeul pergi untuk menghindariku? Agar aku tak menemukannya?” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Gaeul meninggalkan surat ini untukmu.”

Bibi Cho menyerahkan sepucuk surat padaku. Dan aku langsung membukanya.

Donghae Oppa….

Mian aku harus melakukan ini padamu. Tidak ada niatku untuk menyakiti hati Oppa. Tapi percayalah, ini yang terbaik untukku dan terutama untuk Oppa. Aku tak mau menjadi sumber penderitaan bagi Oppa. Aku tahu kondisiku saat ini sangat melukai perasaan Oppa. Karena itulah aku mengambil keputusan ini.

Aku sama sekali tak meragukan perasaan Oppa terhadapku. Tapi aku yakin keberadaanku akan sangat menyulitkan Oppa untuk ke depannya. Aku tak mau jadi beban bagi Oppa. Karena itu jalan ini adalah yang terbaik.

Aku berharap Oppa segera melupakanku. Oppa layak mendapatkan gadis yang sempurna. Gadis yang dapat menjadi kebanggaan bagi Oppa untuk mencintainya.

Mian jika aku harus memilih jalan seperti ini untuk mencintai Oppa. Aku harap Oppa dapat mengerti.

Gaeul

Aku terpaku menatap surat yang ditulis Gaeul untukku. Tak pernah terlintas di benakku Gaeul akan menggunakan cara ini untuk memaksaku melupakannya. Pikiranku benar-benar kacau sekarang. Rasa sakit di hatiku menjadi-jadi. Aku sungguh tak menyangka bahwa aku akan kehilangan gadis yang sangat aku cintai dengan cara seperti ini.

Aku menatap penuh harap pada bibi Cho.

Mian Donghae~a, aku tak dapat memberitahukan kepadamu ke mana Gaeul pergi,” ujarnya menjawab pertanyaan yang tak terungkapkan dari mulutku.

“Aku mengerti, Ahjumah. Mungkin Gaeul butuh waktu untuk berfikir. Tolong katakan padanya aku akan menunggunya,” ujarku sembari berpamitan.

*****

Tiga bulan sudah berlalu sejak kepergian Gaeul. Sejak saat itu tak sekalipun aku bertemu dengannya. Tapi hal ini sama sekali tak melunturkan perasaanku terhadapnya. Aku tetap mencintainya seperti dulu, bahkan lebih besar. Tak sekalipun pula aku menyerah untuk mencarinya. Aku yakin suatu saat akan menemukannya karena hatiku akan menuntunku kepadanya.

Akhir-akhir ini hari-hariku sangat melelahkan. Rangkaian Tour Super Show Consert akan segera dimulai. Semua member berlatih keras untuk memberikan penampilan yang terbaik bagi para fans.

Malam ini kami baru kembali ke dorm sekitar jam dua pagi. Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa di ruang tamu. Sementara Kibum langsung menyalakan komputernya karena harus mengirimkan tugas kuliahnya yang sudah deadline kepada dosennya. Leeteuk hyung, Heechul hyung, Kangin hyung, Shindong hyung, Yesung hyung, Sungmin hyung, Hangeng hyung, Eunhyuk, Siwon, dan Ryewook ikut-ikutan tiduran di permadani. Dan si bungsu Kyuhyun, seperti biasa, langsung sibuk dengan PSP-nya.

“Donghae~a, bagaimana, apa kau sudah dapat kabar tentang Gaeul?” tanya Heechul hyung padaku tiba-tiba.

Pertanyaan Heechul hyung membuatku sangat terkejut. Biasanya dia yang paling berhati-hati menyebut nama Gaeul di hadapanku.

“Ah… anni, hyung. Aku belum dapat kabar apapun tentangnya,” jawabku tergagap.

“Jangan menyerah Donghae~a. Kau harus membawanya kembali, Ok. Aishh…aku jadi merindukannya sekarang!” keluh Heechul hyung.

“Benar Donghae~a, kau jangan menyerah. Sudah lama sekali aku tak menyanyikan sebuah lagu untuknya. Biasanya dia selalu memintaku.” Yesung hyung ikut berkomentar.

Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan mereka. Aku tahu semua member merindukannya. Gaeul begitu dekat dengan mereka. Bagi mereka, Gaeul adalah adik dan teman mereka. Mendengar antusiasme mereka dalam menemukan Gaeul membuatku semakin merindukan kehadiran gadis itu di sisiku lagi.

Aku tak mau kelemahan hatiku terlihat oleh mereka. Akhirnya aku pamit ke kamarku untuk menyembunyikan raut sedih di wajahku dari mereka semua.

Di kamar aku membaringkan tubuhku di ranjang. Berusaha mengangkat beban berat yang menghimpit di dadaku. Ku ambil foto Gaeul yang selalu terpajang di meja, di samping tempat tidurku. Kemudian ku tatap lekat-lekat.

Tak terasa setetes air mataku mengalir tanpa disadari. Kerinduanku padanya begitu besar hingga rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk menahannya. Selama ini kesibukanlah yang sedikit mengalihkan perhatianku. Namun apabila tiba saatnya beristirahat seperti ini, tak sekali pun aku mampu menepis bayangannya dari pikiranku.

Ku dekap foto Gaeul erat-erat. Berharap dengan begitu aku dapat merasakannya lebih dekat denganku. Dan aku terus mendekapnya hingga aku tertidur. Begitulah selama tiga bulan ini aku mampu bertahan dalam penantianku.

*****

Akhirnya rangkaian Tour Asia Super Show Consert di mulai. Kami tampil di banyak negara di Asia. Dan konser kami sukses besar di semua negara yang kami datangi.

Berbeda dengan tour-tour yang pernah ada sebelumnya. Biasanya tour akan dibuka di negara asal. Tapi untuk Super  Show ini, justru di tutup di negara asal kami, Korea Selatan.

Konser penutupan diadakan besar-besaran dengan panggung termegah yang pernah ada. Konser diadakan di Olympic Fencing Gymnasium, sebuah arena olah raga indoor yang berlokasi di Olympic Park, Seoul, Korea Selatan. Arena ini mampu menampung sekitar 6.341 orang. Dan panggung untuk konser ini di set sedemikian rupa agar semua member dapat menjamah seluruh penonton yang hadir. Alhasil, seluruh member harus mengerahkan tenaga lebih untuk mengelilingi panggung agar dapat langsung melakukan kontak dengan penonton.

Seperti rencana, dalam konser ini aku akan tampil solo dengan menyanyikan lagu My Everything. Menjelang penampilan soloku itu, tiba-tiba muncul perasaan yang aneh. Perasaan ini adalah perasaan yang dulu selalu muncul saat Ara ada di dekatku. Begitu nyaman dan tenang. Dan saat aku melangkah memasuki panggung, perasaan ini semakin kuat.

Kini aku berdiri di tengah-tengah panggung utama. Ku angkat mikrofon yang ku pegang dan ku dekatkan ke mulutku. Aku tahu di manapun Ara berada, dia pasti sedang melihatku. Ini saat terpenting dalam karirku dan Ara takkan melewatkan hal apapun yang penting dalam hidupku.

Seketika aku merasa ini kesempatan terakhir bagiku untuk dapat menemukannya. Jadi ku putuskan mengawali penampilanku untuk mengatakan tentang perasaanku padanya karena aku yakin saat ini dia sedang mendengarkanku.

“Aku persembahkan lagu ini untuk seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Seseorang yang selama tujuh tahun ini selalu menyertaiku dalam setiap moment indah dalam hidupku. Seseorang yang selalu menemaniku dalam setiap keterpurukanku. Seseorang yang memberikan semua kebahagiaannya untukku dan mengambil semua kesedihanku untuk dirinya. Seseorang yang selalu mengangkatku saat terjatuh. Dan seseorang yang akan selalu aku cintai baik dimasa laluku, sekarang, dan juga masa depanku.

Aku yakin di manapun dia berada, dia sedang mendengarkanku. Kau adalah yang paling pantas berada di sisiku. Tak pernah ada orang lain yang bisa melakukan begitu banyak hal untukku, sebanyak yang telah kau lakukan. Tak ada pula orang yang bisa mencintaiku sebesar engkau mencintaiku. Karena itu izinkan aku mendampingimu di masa sulitmu seperti dulu kau mendampingiku di saat hidupku diambang kehancuran. Izinkan aku mewujudkan impian terbesar dalam hidupku. Memberikan semua kebahagiaan dalam hidupku kepadamu. Dan aku yakin aku dapat menemukanmu dengan hatiku.”

Kemudian denting piano mulai mengawali lagu My Everything…..

The loneloness of nights alone

The search for strength to carry on

My every hope has seemed to die

My eyes had no more tears to cry

Then like the sun shining up above

You surrounded me

With your endless love

Coz all the things I couldn’t see

Now so clear to me

………………………………………..

Aku mengelilingi panggung dan mencoba menyapa setiap penonton sampai akhirnya pandanganku tertuju pada satu titik. Dia berada di tengah-tengah penonton tepat di tribun di hadapanku. Dia duduk di atas kursi rodanya dan kepalanya tertunduk begitu dalam. Walau pun aku tak dapat melihat wajahnya, tapi aku tahu saat ini dia sedang menangis.

Perlahan aku berjalan mendekatinya. Sementara dia masih belum menyadari kehadiranku. Hingga saat aku berlutut di hadapannya dan kuulurkan tangan kananku kepadanya, barulah dia mengangkat wajahnya yang kini bersimbah dengan air mata.

Saat ini jarak antara kami begitu dekat, tapi aku masih belum berani menyentuhnya. Aku begitu berhati-hati, sebisa mungkin menjaga agar dia tidak merasa terdesak.

Dia tak juga menyambut tanganku yang kini terulur kepadanya. Dia hanya menatapku sambil menggeleng perlahan sebagai tanda penolakannya.

Ku tatap lekat-lekat wajahnya yang kini mengkilap karena air matanya yang terus mengalir. Sekuat tenaga ku tahan keinginan hatiku untuk memeluknya. Sementara mulutku tetap menyenandungkan syair lagu yang sedang kubawakan.

……………………………………………

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is your alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me trough

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be

My everything

Oooh….my everything

Aku menyudahi nyanyianku dengan tetap berlutut di hadapannya. Suasana Olympic Fencing Gymnasium yang dipadati oleh ELF pun kini sunyi-senyap. Lebih dari 6.400 pasang mata sedang tertuju pada kami.

Aku masih tetap diam menunggu reaksinya. Tapi setelah lewat beberapa menit, Gaeul masih tak memberikan respon apapun. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Dia mencoba menjauhkan tangannya dari jangkauanku. Tapi tak banyak tenaga yang bisa dia kerahkan hingga sekarang aku berhasil menggenggam tangannya.

Aku meletakkan tangan kami di dadaku. Sementara Gaeul tetap menolak menatapku sehingga dia hanya menundukkan kepalanya.

“Gaeul~a, aku mohon jangan menolakku lagi. Aku sudah cukup menderita beberapa bulan ini. Dan aku yakin kaupun juga sangat menderita.” Aku memohon kepadanya.

“Apa kau belum juga menyadarinya? Berpisah bukan jalan yang terbaik untuk kita. Kita sudah mencobanya beberapa bulan ini. Apa kau lihat diantara kita ada yang bisa hidup dengan baik? Tidak Gaeul~a, beberapa bulan ini kita tidak hidup dengan baik. Tidak aku. Tidak juga kau. Kita sudah sangat menderita Gaeul~a. Aku… juga kau, Gaeul~a. Kita benar-benar sangat menderita.”

Gaeul tetap menunduk. Dan dia tetap tidak memberikan respon apapun.

Sekarang aku mulai merasa putus asa. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi padanya agar dia mengerti. Sebagai gantinya aku hanya bisa menangis.

Mendengar isakanku, akhirnya Gaeul mengangkat wajahnya dan menatap tepat ke mataku yang kini basah karena air mata..

Saranghaeyo, Gaeul~a…. Saranghaeyo….Jeongmal sarangheyo,” ucapku sepenuh hati mencoba menggunakan kesempatan terakhirku untuk meluluhkan hatinya.

“Aku mohon, izinkanlah aku yang menjadi tongkatmu mulai detik ini,” ujarku sembari menatap wajahnya lekat-lekat.

Seketika dia langsung memelukku begitu erat. Air matanya yang dari tadi sudah mengalir kini semakin deras dan aku bisa merasakannya membasahi kaos putih yang ku kenakan. Beban berat yang menghimpitku selama ini serasa terangkat sudah. Dan untuk pertama kalinya, hari ini aku bisa bernapas lega.

Aku mendekapnya erat di dadaku. Ku biarkan dia menumpahkan semua sisa kesedihannya di sana.

Akhirnya setelah beberapa lama Gaeul menjauhkan tubuhnya dari dekapanku dan menatapku begitu lekat. Seluruh wajahnya kini bengkak karena terlalu banyak menangis. Akupun menatapnya dengan penuh kasih. “Ya Tuhan, aku tak tahu seberapa besar aku sudah merindukan wajah ini.”

Mianhe, Oppa…. Mianhe…. Jeongmal mianhe. Aku sudah membuat Oppa sangat bersedih. Aku sudah begitu egois memaksakan kehendakku kepada Oppa. Aku hanya memikirkan bagaimana membuat hatiku merasa lebih tenang tanpa memikirkan perasaan Oppa. Aku ingin Oppa mendapatkan yang terbaik, tapi malah aku sendirilah yang memberikan yang terburuk untuk Oppa. Mianhe… Jeongmal mianhe,” ujarnya masih terisak.

Aku bangkit dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kemudian aku mencium setiap titik air mata yang mengalir di pipinya.

“Oppa senang gadis kesayangan oppa sudah kembali lagi seperti dulu. Semua ini takkan terulang lagi. Tidak akan ada lagi kesedihan dan perpisahan. Mulai hari ini kita akan selalu bersama.”

Dia hanya mengangguk. Kemudian aku menggendongnya. Mengangkat tubuhnya dari kursi rodanya. Ketika berdiri barulah aku menyadari bahwa Jinho hyung sudah berdiri di sana sejak tadi. Dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumannya.

Ku bawa Gaeul ke tengah-tengah panggung, tempat di mana semua member super junior sudah menantikan kami. Mereka semua menyambut kedatangan kami dengan senyuman bahagia. Seperti biasa Leeteuk hyung adalah orang yang hatinya sangat peka. Aku bisa melihat dia menghapus air matanya. Tapi bukan hanya dia yang menangis. Hampir semua member lain juga menangis walaupun tidak separah Leeteuk Hyung. Hanya si cool Kibum dan si aneh Heechul  hyung yang tidak menangis. Begitu pula dengan para penonton, suasana haru masih meliputi mereka saat aku dan Ara sudah di tengah-tengah panggung.

“Selamat datang kembali Gaeul~a,” ujar Heechul hyung sembari menggenggam tangan Gaeul dengan lembut.

Cukhae hyung,” ujar Kibum sambil meremas bahuku.

Gomawo,” jawabku sembari tersenyum kepada semua member.

Kemudian seorang security membawakan kursi roda ke atas panggung dan aku mendudukkan Gaeul di sana.

Sementara itu musik lagu “Miracle” yang akan menutup konser kali ini mulai terdengar dan semua member mulai berlarian menyebar menuju bagian-bagian panggung yang kosong.

Aku hanya berjongkok di hadapan Gaeul sambil terus menatapi wajahnya. Aku begitu merindukannya sampai aku tak sanggup beranjak dari sisinya. Sesekali aku memeluknya dan mencium puncak kepalanya.

Ketika lagu hampir habis, semua member berlarian kembali, berkumpul di dekat aku dan Gaeul. Dan sebagai ucapan terima kasih kepada para penggemar yang sudah mendukung kami selama ini, di akhir lagu aku dan seluruh member Super Junior membungukkan tubuh sedalam-dalamnya untuk menghormati mereka.

“Terima kasih kuucapkan kepada kalian semua. Berkat dukungan kalian sehingga kini aku dapat menemukan kembali orang yang sangat aku cintai. Senang sekali aku bisa membagi kebahagiaan ini kepada kalian semua,” ujarku kepada semua yang hadir di stadion ini.

SARANGHAEYO….” Teriakanku membahana mengakhiri konser super show dan diikuti oleh semua member yang mengucapkan kata yang sama.

*****

Setahun kemudian….

Kini, aku sudah melewati setahun yang sangat membahagiakan setelah saat yang menyedihkan itu. Tentu saja bersama gadis yang sangat ku cintai dan bersama saudara-saudaraku di Super Junior. Masa-masa yang menyedihkan saat aku kehilangan Gaeul kini sudah ku kikis habis dari memoriku. Yang tertinggal hanyalah kenangan yang sangat membahagiakan bersamanya.

Hari ini adalah pernikahan kami. Seperti yang ku katakan saat wawancara di suatu stasiun televisi, bahwa aku siap menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah di usiaku yang relatif masih muda seperti saat ini. Aku mewujudkannya sekarang. Dan aku memutuskan untuk menikahi satu-satunya gadis yang aku cintai sepanjang hidupku. Pernah merasakan kehilangannya selama beberapa bulan membuatku yakin bahwa aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya.

Pada awalnya aku bermaksud menjadikan Kibum dan Kyuhyun sebagai pendampingku saat pernikahan. Tapi ternyata rencana ini di tentang keras oleh ke sepuluh member yang lain.

“Kau tidak boleh hanya melibatkan Kyuhyun dan Kibum dalam pernikahanmu,” protes Heechul Hyung saat itu.

“Ya benar. Kita semua kan Super Junior. Itu berarti kita semua adalah satu keluarga. Dan kalau kami semua adalah  keluargamu. Artinya kami semua harus terlibat aktif dalam pernikahanmu. Mana boleh kami hanya menjadi penonton saja,” ujar Siwon berapi-api yang langsung di sambut oleh koor persetujuan dari semua member yang lain.

Akhirnya karena aku tidak mau dimusuhi oleh mereka semua (karena mereka mengancam akan memusuhiku jika tidak melibatkan mereka), aku memutuskan, mereka semua akan menjadi pendampingku saat pernikahanku dan Gaeul. Dan ini akan menjadikanku satu-satunya pengantin pria yang memiliki pendamping terbanyak saat pernikahan.

Upacara pernikahan berlangsung dengan sangat lancar dan pestanya pun sangat meriah. Bagaimana tidak, empat belas member Super Junior (Henry dan Zou Mi khusus datang dari Cina) yang super heboh menghadiri pernikahanku.

Gaeul juga terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin putihnya yang sederhana tapi tetap tampak elegant di tubuhnya. Dia sudah cukup terbiasa mengenakan kaki palsunya sehingga dia sama sekali tak tampak seperti orang yang hanya memiliki satu kaki. Aku sendiri tak mampu memalingkan pandanganku dari wajahnya yang tampak bersinar karena bahagia. Bibirnya selalu tersenyum. Dan itu adalah senyum terindah yang pernah ku lihat seumur hidupku.

Potongan gambar-gambar saat pernikahan dan bulan madu kami akhirnya dijadikan MV lagu “My Everything” yang kunyanyikan sendiri. Dan lagu ini seketika menduduki tangga lagu teratas di Korea Selatan dan di beberapa negara asia lainnya.

THE END