Dark Not Allways Black (Part 1)

Author: Kim Ga-Eul a.k.a Quen Bee

Donghae POV

Oppaaaaa……gatchi gabsida…!!”

Mwo…..???” Teriakku saat melihat Yeorum tengah berlari mengejarku.

Gatchi gabsida……”

Palli waaa…”

Desah nafasnya tersengal setelah ia sampai sambil menahan tangan di lutut.

Oppa, waeire…? Kenapa kau meninggalkanku dan pulang duluan.” Rajuknya.

Miyanhae Yorum-a, tadi oppa lihat kapal Choi Ajeossi sudah merapat, mungkin eomma dan appa sudah pulang dan sedang menunggu kita.”

Ongguraeyo? Kalau begitu ayo cepat oppa.” Tariknya.

Gaja…” Balasku. Kamipun berjalan beriringan.

TAR!! Petir di siang hari dalam awan mendung yang sedari tadi menutupi langit mengejutkan kami. Sepertinya badai semalam belum akan berakhir.

Oppaaaa…” Yeorum menggenggam lenganku kuat.

“Kau takut?” Tanyaku.

Dia mengangguk.

“Kau tidak akan merasa takut lagi sekarang.” Ujarku sambil meraih tangannya. “Oppa akan selalu bersamamu.”

Yeorum tersenyum lalu menggenggam jari-jariku.

Tes…tes…tes…perlahan-lahan butiran hujan membasahi bumi.

Palli Yeorumbi.

Ne….”

Kami berlari dengan cepat. Perlahan-lahan semak belukar disekitar kami mulai basah. Hujan benar-benar lebat dan sepanjang jalan setapak ini tak ada tempat berteduh. Tiba-tiba…duk!

“Awwww….”

“Yeorum-a weire?”

Yeorum tersandung batu, dia meringis kesakitan.

Oppa.. apho…apho oppa…” Tangisnya.

Gokjonghajimarayo…gwaenchana. Irona.” Pintaku.

Yeorum mencoba berdiri. Tapi, “Aw…, apho oppa…”

Lututnya berdarah, dia tak mungkin kuat berjalan sampai ke rumah.

Gurae, naiklah, biar oppa menggendongmu.” Pintaku.

“Mmm…” Jawabnya sambil menyeka air mata. Sesekali isak tangis mirisnya menahan sakit terdengar di telingaku.

“Sudahlah, tak apa-apa hanya luka kecil. Nanti sampai di rumah eomma akan mengobati lukamu. Arachi?”

Ara oppa.”

Sunyi sesaat.

Oppa….” Panggil Yeorum lagi.

“Hm…”

“Kenapa eomma dan appa selalu meninggalkan kita dan pergi melaut?”

Waeyo? Kau tidak suka?”

Ong…aku hanya selalu merasa kesepian di rumah kalau tak ada eomma dan appa. Oppa juga akan pergi merajut jala sepulang sekolah. Sedangkan aku hanya sendirian memasak sambil menunggu semuanya pulang. Benar-benar sepi oppa.”

Aku berfikir sebentar.

Arayo, lain kali oppa akan merajut jala di rumah saja menemanimu.”

Guraeyo oppa?” Tanyanya girang dengan gerakan yang membuat aku hampir kehilangan keseimbangan.

Ne… Yeorum-a pegangan yang erat nanti kau bisa jatuh.”  Ingatku padanya.

Arasso oppa…” Yeorum mempererat rangkulannya ke leherku.

Oppa…”

Ne…”

“Aku tak ingin kau menjadi nelayan.”

Waeyo?”

Keunyang…apa oppa tidak merasa kalau menjadi anak nelayan seperti kita sangat kasihan. Apa oppa ingin anak-anakoppa juga kesepian seperti kita?”

“Lalu kau ingin oppa menjadi apa?” Ku hentikan langkahku untuk mengambil nafas. Yeorum berat juga, nafasku mulai tersengal, tapi kakinya pasti masih sakit. Ku pererat gendonganku.

“Aku ingin oppa menjadi polisi, atau tentara, dokter boleh juga. Pokoknya pekerjaan yang tidak membawa oppa ke laut. Atau oppa bisa jadi artis yang muncul di tivi, jadi aku bisa melihat oppa setiap hari di layar kaca, hehehehe…eottohke oppa?”

“Memangnya kau akan seumur hidup tinggal di sisi oppa?”

WaeyoOppa shireoyo?”

Ani…oppa akan senang sekali kalau kita bisa selalu bersama. Tapi kau juga nanti akan tumbuh jadi wanita dewasa, menikah dan punya anak. Kalian akan punya keluarga sendiri. Nah, saat itu kau harus mengurus dan menjaga mereka dengan baik. Apa kau akan membiarkan mereka kesepian seperti kita juga?”

Ani…aku akan menemani mereka, aku akan selalu bersama mereka.”

“Nah itu berarti kau akan berpisah dengan oppa.”

WaeyoOppakan bisa tinggal bersama kami. Aku akan menyiapkan sebuah kamar untuk oppa agar kita bisa tinggal bersama.”

“Lalu apa kau juga akan memboyong istri dan anak-anak oppa semua ke dalam rumahmu?” Tanyaku balik.

“Kalau maebunim tidak keberatan, mengapa tidak?”

“Ah maebunimmu nanti pasti akan keberatan.”

Waeyo oppa?”

Aku berhenti lagi sebentar mengambil nafas.

“Karena kami pasti akan kerepotan menambah satu lagi anak manja sepertimu.” Candaku, sambil tertawa.

“Ahh…oppa aku bukan anak manjaaaa…..”

Gurae, kalau begitu selalulah menjadi anak yang kuat, tegar, dan mandiri. Jangan selalu mengandalkan orang lain. Selagi masih ada oppa, eomma dan appa kau masih bisa berkeluh kesah, tapi kalau kami sudah tak ada kau harus lebih kuat Yeorum-a.Arasso?”

“Mm…arasso oppaGeunde…oppa…”

Ne…”

“Berjanjilah kalau kita akan selalu bersama selamanya.”

Aku terdiam. Maut, jodoh dan rezeki merupakan tiga hal yang tak pernah bisa diketahui kapan datangnya. Jika aku berjanji pada Yeorum lalu suatu hari aku tak menepati, bukankah itu akan menjadi sebuah kebohongan baginya. Apa yang harus kujawab? Haruskah aku mengiyakannya?

Oppa… Kenapa tidak menjawab?”

“Hm…..arasso.” Balasku dalam hujan yang membasahi kami berdua.

Beberapa meter menjelang sampai ke rumah, dari kejauhan kulihat banyak orang yang berkerumun.

“Donghae-ya…..!!!” Teriak Bibi Go. Sontak semua mata memandang ke arah kami. Bibi Go menangis, beberapa wanita lain juga menangis. Kuturunkan Yeorum dari punggungku perlahan.

Ahjuma, weire? Tanyaku cemas.

“Donghae-ya, Yeorum-a, eomma dan appa kalian ….. Eomma dan appa kalian….” Bibi Go bicara terputus-putus, tangisnya makin menjadi.

Weire ahjuma? Eomma, appa waeyo?” Tanyaku bingung.

Yeorum juga diam dalam kebingungannya.

“Yeorum-a, Donghae-ya, badai semalam telah menenggelamkan perahu yang eomma dan appa kalian tumpangi. Sampai tadi pagi orang–orang kampung dan beberapa nelayan desa beserta nelayan dari desa tetangga telah mencarinya. Namun sampai saat ini keduanya tak jua di temukan. Hanya perahu juragan Choi yang selamat beserta lima awaknya, yang lainnya juga tak ditemukan. Kami kira eomma dan appa kalian sudah meninggal, tenggelam bersama ombak yang menerjang perahu mereka semalam.” Bibi Go tetangga kami mengabarkan sambil memeluk Yeorum dalam tangisannya.

Mwo??? Anieyo… ahjuma, ahjuma no nungdamieyo?” Tanyaku meyakinkan diri. Tapi hanya gelengan kepala darinya dan orang-orang disekitar yang kudapatkan. Kakiku mundur beberapa langkah, kepalaku tertunduk lemas, lututku bergetar, aku tersungkur dalam hujan.

ANDWAEEEEEEEEEEEE………EOMMA, APPA…ANDWAEEEEE.” Teriakku.

☺☺☺☺☺

Namaku Lee Donghae. Adikku Lee Yeorum tiga tahun di bawahku, kami baru saja menyelesaikan sekolah menengah kami. Kami telah ditinggal pergi kedua orang tua kami yang bekerja sebagai nelayan beberapa waktu lalu. Seperti yang diberitakan, perahu eomma dan appa tergulung ombak ketika badai menerjang saat itu. Tak ada upacara kematian, tak ada pemakaman, ataupun abu yang bisa disebarkan. Jasad keduanya tak di temukan bersama beberapa nelayan lain yang melaut pada saat yang bersamaan. Ini adalah hal yang biasa terjadi di desa nelayan. Saat kalian turun ke laut, nyawa akan menjadi tak ada harganya, semua orang di desa ini paham sekali akan hal itu. Aku dan Yeorum hanya berusaha tegar untuk melewati hidup kami berikutnya.

Oppa, kita mau kemana?” Tanya Yeorum saat aku mengajaknya berkemas-kemas.

“Ke kota.” Jawabku pelan.

“Ke tempat siapa?” Tanyanya lagi.

Kuhentikan aktifitasku, aku menatapnya dalam. Matanya kecil seperti eomma dengan tulang pipi yang sedikit tinggi sepertiappa. Hidung kami sama, dengan senyum yang kata orang seperti senyum eomma. Memang gen eomma lebih banyak melekat pada kami di banding appa. Sungguh tak tega mengatakan, bahwa kami tak punya tujuan setelah sampai di kota. Aku memeluknya perlahan. Bau tubuh Yeorum seperti eomma, bahkan aku akan memeluknya lebih erat dalam tidur jika aku merindukan eomma danappa.

“Yeorum-a, oppa belum tahu kita akan ke tempat siapa. Karena seperti yang kau tahu kita tak punya saudara di sana. Tapioppa berjanji akan selalu menjagamu. Oppa percaya kita bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik di sana.”

“Tapi aku takut oppa?”

Waeyo?”

“Aku takut jika kita sampai di kota, aku akan kehilanganmu oppa, seperti Bibi Go yang kehilangan putranya.”  Kecemasan tergambar jelas di wajahnya. “Oppa, jika kau tak ada, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Lalu aku harus bagaimana?”

“Yeorum-a tenanglah, kau tak akan pernah kehilangan oppa, kita akan selalu bersama. Kau akan selalu oppa bawa kemana saja, gokjonghajimaseyo.” Pintaku sambil mendekapnya pelan.

Anak Bibi Go tetangga kami, tiga tahun yang lalu juga memutuskan merantau ke kota. Namun setelah beberapa bulan di sana dia dikerjai sekumpulan berandalan dan akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Ini menjadi berita yang menggemparkan desa. Awalnya para tetangga juga melarangku. Beberapa keluarga yang selama ini berhubungan baik dengan kami bersedia menampung Yeorum selama aku ke kota. Tapi untuk berapa lama? Sedangkan Yeorum tak ingin berpisah denganku, akupun tak tega membiarkan dia seorang diri. Ini semua pastilah berat untuknya. Aku telah bertekad tak ingin bergantung pada orang lain. Lagi pula aku berharap Yeorum bisa meneruskan sekolahnya, dan pendidikan di kota jelas jauh lebih baik dari di desa. Pertanyaanya, dengan apa Yeorum akan ku sekolahkan? Sedangkan uang untuk berangkat sekarang saja adalah hasil penjualan ikan eomma dan appa terakhir kali, yang jumlahnya juga tak banyak.

Aku melepas pelukanku sedikit, lalu menatapnya lagi. “Yeorum-a, oppa berjanji apapun yang terjadi kita akan selalu bersama selamanya.”

Yaksok?”

Aku mengagguk.

☺☺☺☺☺

Ibu kota yang menggiurkan, membuat lelaki tanggung sepertiku tergoda untuk mengadu nasib di bawah rengkuhanya. Menjauhi kapal api yang membawa kami meninggalkan desa,  dengan punggung menyandang ransel berisi beberapa helai pakaian, kami saling bergandengan tangan.

Yeorum tertidur dengan kepala menyandar di bahuku saat kami telah berada di dalam bis yang menuju pusat kota. Kelehan tersirat dalam lena tidurnya.

“Yeorum-a, irona…sudah sampai.” Aku membangunkannya ketika bis yang kami tumpangi berhenti di terminal terakhir.

“Oaaaahhhh…. Eodie oppa?” Tanyanya.

“Entahlah,  kita turun saja dulu.”

Ini sudah malam. Saat kami meninggalkan bis itu, lampu-lampu yang terang benderang dengan beraneka warna telah menghiasi Seoul. Lama kami berjalan tak tentu arah.

Eodigayo oppaHimdero oppa.” Yeorum mulai mengeluh.

Mianhae, oppa juga tak tahu kita akan kemana, tapi tenang saja Tuhan bersama eomma dan appa pasti akan melindungi kita.”

Yeorum menggosok-gosok matanya.

“Yeorum-a, ayo naik.” Kataku sambil berjongkok, setelah menurunkan ransel dari punggungku.

“Mmm…???”

“Ayolah, oppa tahu kau masih mengantuk. Biar oppa menggendongmu agar kau bisa tidur.” Pintaku dengan senyum yang tak mungkin dilihatnya.

Ne….” Yeorum merangkulkan lengannya  ke leherku.

Akhirnya setelah lelah berjalan dengan Yeorum yang terlelap di punggungku, aku berhenti di sebuah emperan toko. Kuletakkan dia hati-hati, lalu kualaskan tas yang tadi disandangnya sebagai bantal. Tak jauh, aku melihat seorang ahjuma yang menjual kue. Aku berjalan menuju wanita itu dan segera kembali.

“Yeorum-a, irona. Kau belum mengisi perutmu dengan apapun sejak kita pergi, makanlah ini. Oppa sudah membelikan kue ikan untuk kita.”

Yeorum mengucek-ucek matanya. Lalu mengambil sepotong kue ikan dari tanganku.

☺☺☺☺☺

Sudah berhari-hari berjalan mengitari Seoul yang katanya memiliki banyak lowongan pekerjaan ternyata hanya tipuan belaka. Dan, sudah dua hari ini aku dan Yeorum belum makan apapun juga. Kami hanya tidur di jalanan, saat toko-toko yang tidak buka 24 jam tutup, lalu paginya akan di usir si pemilik karena dianggap mengganggu aktifitas mereka. Malangnya, uang yang kami miliki sudah di copet saat hari ketiga kami sampai di ibu kota. Menjadi pengemis??? Tidak!! Aku tak serendah itu, aku masih kuat dan ingin bekerja menghidupi adikku. Tapi pekerjaan apa yang bisa kulakukan.

Oppaaa…baegophayo…” Yeorum memelas dengan air mata padaku. Kuraba keningnya, sepertinya dia demam. Debu jalanan, mengotori wajahnya yang ayu. Sisa air mata semalam meninggalkan bekas seperti anak sungai yang kering di pipinya. Semalaman dia menangis merindukan eomma dan appa. Kini akulah eomma dan appanya, aku tak akan membiarkan dia menderita. Kupeluk tubuh yang sudah jauh lebih kurus semenjak kami meninggalkan desa. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

Tak jauh dari tempat kami menggelandang, kulihat sesosok ahjuma bertubuh tambun baru saja turun dari mobil mewah yang tak kuketahui mereknya. High heelsnya berdetak-detak, bulu topi di atas kepala berayun-ayun mengikuti langkah kakinya. Dia menuju toko kue yang tampak dari arah sini.

“Pelayan, bungkus ini, ini dan ini.” Katanya yang terdengar sangat jelas di telingaku. Mungkin deretan kue lezat yang menggiurkan hingga membuat air liur Yeorum menetes sedang di borongnya. Dia mengeluarkan dompet. Kupikir dia akan membayar dengan uang tunai, namun ahjoma itu hanya menarik sepotong kartu, lalu memberikannya pada pelayan itu.  Tapi aku jelas melihat lipatan-lipatan uang kertas  mengisi dompet mahalnya yang masih terbuka.

Sekelebat bayangan muncul dalam pikiranku.

“Donghae-ya, sesulit apapun hidup yang kau alami nantinya, jangan pernah melakukan perbuatan tercela. Kita boleh miskin harta, namun haruslah kaya jiwa.” Nasehat appa terakhir kali sebelum badai itu.

Oppa, bae gophayo….” Yeorum menatap mataku sayu.

Hatiku teriris-iris melihatnya. Kutarik nafasku dalam-dalam.

“Yeorum-a, gidariseyo, jangan kemana-mana, oppa akan segera kembali. Arachi?”

“Mmm….” Sahutnya dengan tatapan sayu.

Entah setan dari mana yang berbisik padaku. Tanpa pertimbangan aku menuju ke arah ahjoma itu, dan dengan cepat menyambar dompet, lalu berlari sekuat tenaga menjauhinya. Ya Tuhan, aku baru saja mencuri, bisik hatiku.

“Copet….copet…!!” Kudengar teriakan ahjoma itu, namun aku berusaha untuk tak perduli. Tapi aku salah perhitungan. Secepat semut yang mengerubungi gula, secepat itu pula orang-orang mengepung dan menyeretku ke kantor polisi.

Buk….buk…buk… Entah sudah berapa pukulan yang kuterima. Ini adalah pertama kalinya perbuatan hina ini kulakukan, dan aku langsung tertangkap. Para petugas itu menuduhku komplotan pencopet jalanan dan ingin membuatku mengaku dengan terus memukuliku. Tapi apa yang bisa kukatakan, aku tak tahu menahu tentang orang-orang yang mereka bicarakan.

Dalam dinginnya sel penjara, eomma datang padaku.

“Donghae-ya anakku sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kalian berdua baik-baik saja?” Tanyanya. ”Eomma dan appasangat merindukan kalian.”

Eomma, aku dan Yeorum sangat merindukanmu, saaangaaat merindukamu.”

“Donghae-ya, eomma dan appa sangat sedih dan kecewa atas apa yang terjadi pada kalian. Eomma merasa malu untuk menemui Tuhan karena telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang tak menyenangkan. Begitu singkat waktu kita untuk bersama namun hanya jalan keluar yang buruk yang bisa kau lakukan untuk bertahan  hidup bersama adikmu. Eomma benar-benar merasa bersalah telah meninggalkan kalian seperti sekarang.”

Eomma, mian…mianhae eomma, jongmal mianhae eomma. Aku berjanji tak akan pernah melakukan perbuatan itu lagi. Aku menyesal, sungguh-sungguh menyesal eomma.” Pintaku pada eomma.

Eommaku terus menangis sambil menggeleng.  Perlahan-lahan kabut tebal membuat jarak diantara kami. Seolah ada sebuah kereta tak terlihat yang menarik eomma pergi, beliaupun menghilang dari hadapanku.

Eomma…eomma.” Aku berusaha menggapainya namun sia-sia.

Akupun tersentak dari tidurku.

Eommaappa aku berjanji kalau aku tak akan pernah mengecewakan kalian berdua lagi. Bisik hatiku lirih.

Tiga hari dalam tahanan, dan entah siapa yang menjadi penjaminku, akhirnya aku keluar dari sel polisi itu.  Setelah membuat laporan, aku melangkah menghirup udara bebas kembali. Di ujung gang tiba-tiba seseorang menutup mataku, menyumpal mulutku, mengikat kaki dan tanganku. Aku mencoba untuk melawan, tapi percuma saja. Kudengar deru suara mobil, aku bisa merasakan kalau aku mulai bergerak meninggalkan tempat semula dan aku dibawa entah kemana.

“Buang dia!” Terdengar perintah seseorang. Tubuhkupun terguling. Aku tak tahu ini dimana, dan mengapa aku di bawa kemari. Tak perlu menunggu lama, hingga kurasa ada orang yang membopongku menjauhi tempat aku ditinggalkan tadi.

Saat mataku bisa bekerja dengan leluasa, aku telah berada di depan sebuah gedung tua yang terkungkung oleh deretan bukit disekitarnya. Tempat yang bersih dengan udara yang segar. Mereka yang tadi menemukanku, mendorongku tanpa suara untuk masuk ke dalam. Lorong-lorong tinggi dengan cahaya seadanya menjadi pemandangan saat aku dipaksa menuju ke sebuah ruangan gelap. Didudukkan di kursi besi yang dingin dengan borgol yang masih melingkar di pergelangan tangan, seolah-olah aku penjahat kelas kakap.

Kemudian seorang pria bertubuh kekar, berpakaian rapi dengan langkah tegap berjalan ke arahku dan duduk tepat di hadapanku. Raut wajahnya tidak menunjukkan kalau dia orang yang ramah.

“Nama?”

“Lee Donghae.”

“Umur?”

“Delapan belas.”

“Asal?”

“Mokpo.”

“Pekerjaan?”

Aku menggeleng.

“Pendidikan?”

“Aku baru menyelesaikan Senior High Schoolku.”

“Kau punya ijazah?”

Aku mengangguk.

Dia membuka rantai borgolku. Pria kekar tadi, sebutlah Mr. X bernegosiasi denganku. Cukup lama kami berdiskusi, iming-iming yang dijanjikannya sangat menarik.

Eottohke??” Tanyanya.

Aku terdiam.

“Bisakah kalian menjamin keamanan adikku?”

“Kami menyanggupinya.” Balas Mr. X.

Tergiur dengan tawarannya, aku mengagguk dan menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan walau itu berbahaya.

“Jadi, kapan kau akan bergabung?” Tanyanya.

Resiko pekerjaan ini sangat tinggi. Aku hanya memiliki Yeorum seorang, dan aku tak ingin sesuatu terjadi padanya.

“Berikan aku waktu untuk mencari dan menempatkan adikku dengan aman.” Pintaku.

“Ok! Orangku, (dia menunjuk seseorang yang entah sejak kapan ada di belakangku) akan memberitahumu pertemuan berikutnya.”

Aku mengangguk, lalu dia menyuruhku keluar.

Sampai di depan bangunan tua itu, perlakuan yang sama kuterima kembali. Diangkut dengan deru mobil dan ditinggalkan di tempat aku diciduk awalnya. Untunglah itu tak jauh dari kantor polisi jadi aku masih bisa mengira-ngira posisiku. Aku melangkah melewati bangunan yang pernah menjadi penginapanku selama beberapa hari kemarin. Tapi, siapa itu? Ah Yeorum, kulihat dia duduk di depan pos penjagaan bersama seorang gadis.

Oppaaaa……” Teriaknya begitu dia melihatku. Kami berpelukan.

Oppa, mereka bilang kau telah pergi sedari tadi. Aku bingung tak tahu harus mencarimu kemana? Oppaa…aku cemas sekali kalau aku tak bisa bertemu kau lagi.” Tangisnya di pelukanku.

Yeorum, mianhae, oppa menyesal telah melakukannya.” Ucapku memohon.

Gwaenchana oppa, arasso.” Ucapnya saat dia melepaskan pelukanku.  “Oppa, ini Gaul Eonni yang menolongku kemarin.”

Aku merendahkan kepalaku sedikit sambil mengucapkan terima kasih.  Dia hanya tersenyum.

Gaja, jibe gayo.” Kata gadis itu.

Jibe???” Tanyaku bingung.

Ne oppa, Gaul Eonni bersedia menerima kita di rumahnya untuk sementara waktu.” Jelas Yeorum padaku.

Jinca?” Tanyaku tak percaya. Gadis yang dipanggil Gaul itu hanya tersenyum.

Aku tak punya pilihan, walau hati berat aku juga tak punya tujuan. Akhirnya aku melangkahkan kaki bersama mereka.

☺☺☺☺☺

“Masuklah.” Ujar Gaul setelah kami sampai di rumahnya.

Gomawo.” Balasku canggung.

Rumah Gaul adalah rumah atap di bagian atas sebuah rumah susun di area sempit yang cukup jauh dari pusat kota. Nasibnya tak jauh berbeda dengan kami. Orang tua sudah tak ada, saudara juga tak punya. Gaul bekerja sebagai pelayan toko kue di tempat pencurian yang kulakukan waktu itu. Dia melihat Yeorum menangis-nangis sambil terus memanggil namaku

“Aku hanya tinggal sendiri. Di sini ada dua kamar, aku akan sekamar dengan Yeorum, sementara kau bisa memakai kamar yang satunya lagi. Ayo kutunjukkan kamarmu.” Ajaknya.

Aku mengikuti langkahnya dengan Yeorum yang menggandeng lenganku. Gaul mengantarku memasuki sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali empat.

“Kau pasti lelah, istirahatlah. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri. Kami akan membangunkanmu setelah menyiapkan makan malam.” Dia tersenyum. Sejujurnya senyuman itu telah menggetarkan hatiku.

Ne oppa, kamar mandinya ada disana, kalau oppa mau bersih-bersih dulu. Aku akan membantu eonni memasak.” Yeorum tertawa kecil lalu mengikuti Gaul menuju dapur. Gaul gadis yang baik hati, walau tak saling kenal, di tambah kasus yang kulakukan kemarin dia masih saja tetap bisa menerima kami.

☺☺☺☺☺

“Gaul-a, nomu-nomu gamsahamnida atas pertolongannya. Aku tak tahu harus bagaimana  membalas budimu.” Ujarku memulai pembicaraan kami di teras depan malam harinya.

Gwaenchana, aku senang kalian ada disini.”

“Soal kejadian kemarin, aku….” Aku bingung harus menjelaskannya.

Gwaenchana, aku tak mempersoalkannya, dan kau tak perlu mengungkitnya lagi. Aku percaya kau bukan orang seperti itu, lagi pula tidak semua yang gelap itu hitam.

Aku tertegun mendengar penuturannya. Yah, tidak semua yang gelap itu hitam, Gaul benar.

“Aku akan segera mencari pekerjaan, agar kami tak merepotkanmu, kemudian kami bisa pergi dari sini.”

“Kalian akan pergi?” Tanyanya.

“Kami tak mungkin selamanya menjadi bebanmu.” Balasku.

Gaul terdiam,wajahnya berubah murung.

“Donghae-ya, aku sadar kita bukan keluarga, dan aku juga tahu akan bagaimana pandangan tetangga tentang kita. Tapi….tidak bisakah kau dan adikmu tinggal bersamaku. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Ketika Yeorum kubawa ke rumah ini, aku telah menjadikannya bagian dari hidupku, tentu saja kau sebagai oppanya juga kuterima dengan hati terbuka. Tapi jika kau berkata ingin pergi, aku merasa akan ada bagian yang hilang dari hidupku. Kuharap kau bisa mengerti.”

Aku tak membalas ucapannya. Dia segera meninggalkanku menuju kamar di tempat Yeorum kini terlelap. Setelah kejadian itu hubungan kami agak sedikit kaku.

Beberapa hari kemudian, seperti yang telah disepakati, aku melihat pria yang waktu itu dijanjikan akan menjemputku. Kuhampiri namun tidak langsung menyapanya. Kami berpapasan lalu dia setengah berbisik di sampingku. “Datanglah dua hari lagi saat tengah malam.”

Aku mengangguk, setelah dia menyelipkan sehelai kertas petunjuk lalu pergi kearah yang berlawanan denganku.

Aku kembali ke rumah. Ini sudah sore, Gaul sudah berganti shift melayani toko majikannya, dan kini ia bersama Yeorum sedang menyiapkan makan malam.

“Gaul-a.” Panggilku. “Aku ingin  bicara denganmu sebentar.”

Ne..” Jawab Gaul sambil membersihkan tangan pada celemek yang tersampir di bahunya. Adikku masih sibuk memotong-motong wortel. Aku mengajak Gaul menjauhi Yeorum.

“Gaul-a, aku tahu kau kecewa dengan ucapanku waktu itu. Tapi sungguh aku tak ingin merepotkanmu. Kami pendatang baru dalam hidupmu, dan aku tak berharap kalau kami akan menjadi beban bagimu.”

“Aku tak pernah mengaggap kalian sebagai beban.” Bantahnya.

Kutatap matanya, kami saling terdiam.

“Baiklah, kalau kau memang tak keberatan, aku dan Yeorum akan tetap bertahan di sini.”

Guraeyo?” Tanyanya tak percaya.

Aku mengagguk.

Gomawo Donghae-ya.” Kebahagiaan kini tergambar lagi di wajahnya.

“Aku yang harusnya berterima kasih.”

Chonmaneyo.” Sahutnya cepat.

“Satu lagi, aku sudah mendapatkan pekerjaan, dan selama beberapa waktu ini mungkin tidak bisa pulang. Setiap bulannya aku berjanji akan mengirimkan uang pada kalian, dan kuharap kau bisa menjaga Yeorum selama aku tak ada.”

Dia mengerinyitkan alis saat aku menyebut kata ‘uang’.

“Kenapa harus mengirim uang? Aku tak suka. Bagiku kalian adalah keluargaku. Kau tak perlu mengkhawatirkan Yeorum lagi. Aku akan berusaha semampuku.”

“Kalau kau menganggapku keluarga, maka kau harus mengijinkan aku membantu biaya hidup kita. Bukankah memang sepantasnya setiap anggota keluarga saling membantu?” Balasku.

Dia berfikir sebentar. “Baiklah, aku mengerti, aku akan sangat menghargai dukunganmu. Gomawo karena bersedia tinggal bersamaku.”

“Aku akan berangkat tengah malam secara diam-diam dua hari lagi. Aku tak ingin Yeorum mengetahuinya, karena mungkin saja adikku itu tak akan mengizinkanku meninggalkannya.”

“Memangnya apa pekerjanmu?”

“Sekarang ini aku belum bisa menjelaskannya, namun suatu hari aku pasti akan memberitahumu. Aku hanya ingin kau percaya padaku.” Aku mencoba untuk meyakinkannya.

“Baiklah, kau bisa mengandalkanku.”

“Maaf jika aku merepotkanmu.” Sesalku.

Ani, kau bisa percayakan Yeorum padaku.” Ujarnya.

Dua hari setelah itu aku berangkat seperti yang direncanakan. Dalam kegelapan malam saat menuruni tangga, dari lampu kamar mereka aku bisa melihat sosok Gaul mengantar kepergianku. Gomawo Gaul-a, bisik hatiku.

☺☺☺☺☺

Tiga tahun kemudian.

Ya…jebloskan dia ke dalam penjara!!!” Pria berseragam yang tadi menangkapku memerintahkan anak buahnya untuk membawaku ke ruangan dingin berjeruji besi. Persis seperti tiga tahun yang lalu. Pukulan, cacian, makian menemani hari-hariku selama interogasi. Tuduhan yang dilontarkan padaku kali ini adalah gembong pengedar narkotika. Hahahaha….cocok sekali mungkin. Rambut panjang berantakan, dengan jambang yang tak terurus, selain itu tubuh kurusku terkesan seperti seorang pemakai. Kurasa tuduhan itu masuk akal. Orang yang melihat pertama kali pasti juga akan langsung mencuirigaiku sebagai penjahat.

Mereka menangkapku di pasar kumuh saat aku sedang buang air kecil di sudut kios yang gelap. Mungkin memang ada yang baru bertransaksi, karena aku memang berpapasan dengan dua orang yang sekilas dapat kulihat wajahnya. Tapi…hei bukankah itu dia? Pria yang tadi?

Ya…kau gembel yang tadi di belakang kami ya?” Tanyanya.

Aku mengagguk. “ Huh…gara-gara kalian aku jadi tertangkap.” Balasku.

Pria itu berkulit putih, dengan baju tanpa lengan yang jelas kebesaran serta jins belel yang robek di bagian paha dan lutut. Tulang pipa terlihat di lehernya. Mengingat tubuh cekingnya yang amat sangat kurus. Jika ia adalah pengedar, mungkin dia juga pemakai, pikirku. Wajahnya tak jauh berbeda denganku, lebam dengan bengkak biru serta darah merah yang masih segar di bibirnya. Baru dipukuli juga.

“Hyukjae.” Ucapnya sambil mengangsurkan tangan dengan percaya diri.

“Fishy…” Balasku.

“Tenang saja, kita akan segera keluar.” Ujarnya.

“Kita?”

“Hm…aggap saja kita berteman sekarang.”

Aku hanya mengangguk tak percaya sambil menggaruk kepalaku yang gatal. Mungkin makhluk kecil yang disebut kutu juga sudah bersarang di sana.

Hyukjae benar, esoknya polisi yang berjaga hari itu meminta kami keluar tahanan.

“Apa ku bilang, mereka tak akan bisa menyentuh hyong.” Kata Hyuk yang kini melangkah dengan ringan. “No, odigayo?” Tanyanya padaku saat kami sudah di luar gerbang.

Aku menggeleng.

“Aku mengamati kau sudah menggelandang selama ini. Kupikir kau lumayan. Ikutlah denganku, hyong pasti tak keberatan menambah satu orang lagi.”

Aku tak menunjukkan minatku, namun aku juga tidak menolak. Hanya mengikuti arah kakinya melangkah.

☺☺☺☺☺

Beberapa bulan kemudian.

Kami berdiri berjauhan (aku dan Hyukjae) di bawah sebuah jembatan di pinggir Sungai Han. Riak air yang dihembus angin terdengar merdu di telingaku. Ini sudah dini hari, dan transaksi akan terjadi beberapa saat lagi. Dari kerlap-kerlip lampu jembatan aku bisa melihat Hyuk memainkan batangan korek api di mulutnya. Tubuhnya bersandar malas. Dia hanya memakai kaos tanpa lengan yang kebesaran (favoritnya). Yah ini sudah musim panas. Yeorum, apa yang sedang kau lakukan. Oppa sangat merindukanmu, bisik hatiku. Lalu anganku melayang.

==========================================================

Kenangan Donghae sepuluh tahun lalu.

“Oppa…palli wa!” Panggil Yeorum padaku

“Waeyo?” Tanyaku tergesa-gesa  keluar kamar.

“Tadaaa….” Yeorum mengangsurkan sebungkus gulungan harum manis berwarna merah jambu dari balik punggungnya padaku.

“Darimana kau mendapatkannya?” Tanyaku penasaran.

“Aku membelinya di pasar bersama appa tadi siang.”

“Mmm…, makanlah.” Ujarku.

“Ani…aku mau memakannya bersama oppa. Ja oppa kita duduk di teras sambil memandang laut dan langit musim panas, lalu mendoakan eomma dan appa supaya bisa pulang  dengan selamat dengan membawa tangkapan ikan yang baaanyak.” Cerocosnya sambil menarik paksa tanganku menuju beranda.

Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahnya.

“Yeorum-a.”

“Ne…” Yeorum menoleh sambil terus mengemut harum manis di tangannya.

“Kalau sudah besar kau ingin jadi apa?” Tanyaku.

“Nanun?” Tanyanya balik.

Aku mengangguk, sambil mencomot harum manis  dalam plastik. Manis sekali.

“Akuuu…mau jadi orang kaya.”

“Waeyo?”

“Karena orang kaya punya banyak uang.”

“Ong…lalu uangnya akan kau apakan?”

“Aku akan belikan eomma dan appa rumah yang besar dan kapal yang besar, supaya eomma dan appa tak perlu bekerja lagi. Dan aku juga akan membelikan oppa motor yang  paling bagus, jadi oppa tak perlu meminjam sepeda Choi Ajeossi lagi untuk pergi menjahit jala ke desa sebelah. Kita sekeluarga bisa selalu berkumpul bersama. Eottohke oppa?”

“Guraeyo?”

“Hmm… Oahh…..” Yeorum mulai mengantuk, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kau sudah mengantuk? Ayo kita masuk.”

“Ani, aku mau disini dulu bersama oppa.” Pintanya.

“Arasso.”

Bintang-bintang berkelap-kelip dengan indahnya, bulan purnama juga bersinar dengan terangnya. Eomma, appa semoga tangkapan kalian kali ini lebih banyak dari biasanya, doaku dalam hati.

Malam itu Yeorum tertidur nyenyak di bahuku.

==========================================================

“Ehem…ehem…” Hyuk memberi sinyal padaku. Seorang pria mendekatinya, lalu barang haram itu telah berpindah tangan ke pemiliknya yang baru. Kami segera meninggalkan tempat itu.

Esoknya.

“Hyukjae-ya, aku tidak akan bekerja dalam beberapa hari ini.”

Wae?”

“Aku ingin pulang sebentar.”

“Tapi pesanan kita sedang banyak.” Bantahnya.

“Ah…kau saja yang bekerja sendiri. Beberapa hari lagi adalah peringatan kematian orang tuaku. Aku ingin mengunjungi makam mereka.” Aku berbohong.

Arasso.” Dia mengakhiri pembicaraan kami. Lalu turun ke bawah.

Hyukjae, teman yang membawaku ke dalam dunia kelam ini. Dia mengenalkanku pada bosnya yang salah satu bandar besar narkotika di Seoul. Mereka mempercayaiku dan menerimaku sebagai bagian dari mereka. Sejak hari itu aku bergabung dengan sindikat yang masuk dalah daftar hitam target pencarian polisi saat ini.

Di luar perkiraanku, Hyukjae, walau awalnya hanya seorang kurir pengantar, namun tak pernah memakai barang haram itu untuk dirinya sendiri. Dia hanya bekerja untuk mendapatkan uang demi kebutuhan hidup. Dunia memang kejam. Hyuk juga tak punya siapa-siapa lagi. Appanya mati karena over dosis, eommanya yang juga pemakai tewas saat menyayat diri sendiri untuk mengatasi sakaunya karena tak sanggup untuk membeli barang itu.  Hyuk melihat semua itu didepan matanya. Sebenarnya Hyuk sangat benci pekerjaan ini, namun lilitan hutang yang ditinggalkan orang tuanya  membuat Hyuk nekad menjadi pengedar.

☺☺☺☺☺

 

Aku kembali ke toko kue tempat aku melakukan aksi pencopetanku yang pertama. Toko itu sudah sedikit berbeda, tapi aku tahu itu tempat yang sama. Mengulang kejadian yang dimainkan ajuma tambun, aku memesan sekotak cake besar yang berhiaskan cream dengan lingkaran stroberi yang menggiurkan. Tak lupa kutanyakan perihal Gaul. Namun ternyata Gaul sudah tak bekerja di sana lagi sejak setahun yang lalu.  Pelayan ini tak mengetahui kemana Gaul pergi, namun seorang pelayan senior memberitahuku alamat Gaul yang bisa di kunjungi. Aku bisa merasakan kedua pelayan tadi ketakutan saat menatapku.

Berbekal secarik kertas petunjuk, aku menyusuri jalanan mencari toko kue milik Gaul sendiri. Cukup lama berputar-putar di kawasan yang baru kali ini kulewati. Aku melihat papan toko bertuliskan “YEORUM CAKE”. Yeorum Cake? Mungkin ini maksudnya. Begitu kulongokkan kepala mengintip melalui etalase kaca, aku melihat seorang wanita memakai celemek berenda menyampingiku sedang menghias kue bundar penuh cream berlemak.

Kutarik bel yang  berada di depan pintu. Seorang gadis keluar dengan tergesa menuju kaca etalase tempat kue-kue dipamerkan.

Ne….ada yang bisa saya bantu ajossi?” Serunya ramah. “Yang istimewa di hari ini,  kami punya cake pelangi dengan strawberry di atasnya, puding cokelat serta…..” Gadis itu berhenti bicara saat dia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya.

Mata itu, hidung itu, bibir itu, seperti lukisan ganda yang dulu pernah kulihat. Ini Yeorum, Yeorum nae dongsaeng. Yeorum yang kini sudah tumbuh besar dengan raut wajah yang mengingatakanku pada sosok wanita yang telah melahirkanku. Lama aku menatapnya. Bahkan air mata yang tumpah tak terasa telah menganak sungai.

Ajeossi…ajeossi…..?? Waeyo?” Panggilnya.

Bruk…. Kotak kue yang kubawa terjatuh, isinya mungkin sudah berantakan.

Dia tak mengenaliku. Tentu saja, aku juga sudah jauh berubah. Jambang lebat yang tumbuh di wajahku menyamarkan siapa aku.

TBC

Credit: http://elfalwayslovesuperjunior.wordpress.com/

Chingu ya, ff ini buatan dr sahabatku Kim Ga-Eul. Udh pernah publish di blog kami bersama. Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya ya . Selamat membaca ^_^

BELIEVE YOUR HEART (Part 4 End)

Yeorum POV

Hari ini adalah hari terpenting dalam club kami. Hari ini adalah hari perlombaan yang kami tunggu-tunggu. Hari ini juga kami akan menunjukkan pada dunia bahwa kami adalah yang terbaik.

“Yeorum~a, apa kau yakin tetap akan ikut serta dalam perlombaan itu?” tanya Teuki oppa saat aku sedang memasukkan barang-barangku ke dalam tas.

“Ne oppa. Kalau aku tak ikut, formasi tim kami akan jadi tak sempurna,” jawabku.

“Tapi bagaimana dengan kakimu?”

“Tenang saja oppa. Kakiku baik-baik saja kok.”

“Kalau begitu biar oppa yang mengantarmu ke sana,” ujarnya kemudian.

“Gomawo oppa,” teriakku kegirangan.

******

“Ku pikir kau tak akan datang,” ujar Gaeul saat aku tiba di lokasi lomba.

“Tentu saja aku akan datang. Aku kan sudah berjanji?” ujarku.

“Ya, Donghae~a, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Teukie oppa pada pria yang dari tadi berdiri di belakang Gaeul.

“Biasa hyung, mensupport chagiya-ku,” jawabnya sambil memamerkan senyum childishnya.

“Kau ini! Apa kau tak bisa menemukan gadis yang lebih pintar darinya di Amrik sana?” ujar Teukie oppa mengerling nakal pada Gaeul.

“Tak ada yang seperti dia hyung,” jawabnya lagi.

“Kalau kau mencari yang seperti dia, jangankan di Amrik, di belahan dunia manapun kau takkan menemukannya. Mana ada gadis sebodoh dia di dunia ini,” ledek Teukie oppa lagi yang langsung dihujami oleh pukulan oleh Gaeul.

“Justru karena kebodohannya itulah yang membuatku tak bisa pindah ke lain hati hyung.”

“Oppa…kenapa ikut-ikutan Teukie oppa mengataiku pabo,” protes Gaeul manja pada namjachingu-nya itu.

“Anni, chagiya. Oppa hanya bercanda,” ujar Donghae oppa membujuk gadis kesayangannya itu.

“Dimana yang lain?” tanyaku mengalihkan pembicaraan mereka.

“Mereka sudah di dalam,” jawab Gaeul.

“Kalau begitu kaza kita temui mereka,” ajakku.

 

“Kau datang juga?” ujar Hyukjae oppa saat melihat kedatanganku sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Teuki dan Donghae oppa.

“Aku takkan membiarkan tim kita tak lengkap oppa,” jawabku.

“Tapi bagaimana dengan kakimu?”

“Tidak apa-apa. Kakiku akan baik-baik saja,” jawabku berusaha menghilangkan kekhawatirannya.

“Ya, Kim Cheon Sa, apa yang kau lakukan disini?” teriak Teukie oppa tiba-tiba.

“Aishh…mimpi apa aku semalam sampai bisa berjumpa lagi dengan makhluk ini setelah bertahun-tahun lamanya,” ujar Cheon Sa sunbaenim terlihat sangat kesal.

“Ini yang namanya jodoh Cheon Sa~ya,” ujar Teukie oppa bersemangat.

“Apa kau bilang? Ini jodoh? Ini musibah!” ujar Cheon Sa sunbaenim semakin kesal.

“Cheon Sa sunbaenim, kau mengenal oppaku?” tanyaku menyela pertengkaran mereka.

“Jadi makhluk menyebalkan ini oppamu?” tanya Cheon Sa sunbaenim tak percaya. Dan aku mengangguk mantap.

“Aishh…” teriaknya frustasi sambil meninggalkan kami begitu saja dan Teukie oppa mengikutinya dari belakang.

“Apa nama asli oppamu Park Jung Soo?” tanya Hyukjae oppa setelah itu.

“Ne,” jawabku tak mengerti.

“Berarti memang dia orangnya,” Hyukjae oppa seperti bicara pada dirinya sendiri kemudian dia berbisik di telingaku. “Oppamu senior Sangmi saat di Senior High School dulu.”

“Aah…aku tahu. Ternyata Cheon Sa sunbaenim adalah gadis yang di sukai Teuki oppa sejak masih di Senior High School dulu.” Hyukjae oppa mengangguk membenarkan tebakanku.

“Pantas saja sejak dulu dia tidak pernah sukses mendapatkannya. Caranya mengejar seorang gadis sangat mengerikan,” tambahku lagi.

“Apa itu penyakit turunan?” tanyanya tiba-tiba sambil menyunggingkan senyum jahilnya.

“Maksud oppa?” tanyaku tak mengerti.

“Kalau itu penyakit turunan, berarti kau akan berbuat seperti itu juga terhadap pria yang akan kau sukai nanti,” ujarnya lagi.

“Oppa…” aku memanyunkan bibirku tanda tak terima diledek seperti itu. Sementara Hyukjae oppa tertawa melihat ekspresiku.

“Tapi sepertinya cara itu manjur juga,” ujarnya lagi. Aku menatap tak mengerti kepadanya.

“Cheon Sa sebenarnya juga menyukai oppamu. Hanya saja selama ini dia terlalu gengsi mengakui perasaannya,” bisiknya di telingaku, membuatku terkejut bercampur senang.

 

Akhirnya perlombaan pun dimulai. Satu per satu peserta lomba di panggil naik ke atas pentas untuk mempertunjukkan kemampuan mereka. Penonton yang membanjiri stadion terbesar di kota Seoul ini berteriak-teriak histeris saat tim yang mereka dukung naik ke atas pentas.

Perlombaan tari ini memang merupakan ajang terbesar di Korea selatan. Maka wajar kalau acara ini disiarkan langsung oleh seluruh stasiun tv dalam negeri dan ada beberapa dari luar negeri. Pesertanya pun meliputi tim-tim terbaik utusan dari seluruh kota yang ada di Korea selatan.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tiba giliran tim kami untuk memperlihatkan hasil latihan keras kami selama ini. Aku dan seluruh anggota tim naik ke atas panggung. Begitu banyak penonton yang mendukung kami karena club kami memang merupakan juara bertahan selama dua tahu berturut-turut.

Ketika musik di mulai kami langsung mempertunjukkan gerakan-gerakan tari kami dengan energik. Rasa nervous yang melanda kami tak menghalangi kami untuk memberikan penampilan yang terbaik.

Penampilan kami diakhiri dengan di sambut oleh suara sorak-sorai penonton yang mendukung tim kami. Saat kami kembali ke back stage, Hyukjae oppa dan Cheon Sa sunbaenim langsung mengacungi kerja keras kami dengan dua jempol. “Benar-benar good job,” ujar Hyukjae oppa sangat puas dengan penampilan kami. “Sekarang kita tinggal menunggu hasilnya.”

 

Sekarang tiba saatnya pengumuman hasil lomba. Aku menundukkan kepalaku saat posisi juara pertama akan dibacakan.

“Juara pertama, diraih oleh……… SEOUL DANCER GROUP!!!”

Seketika suasana menjadi riuh. Semua anggota tim dan member club kami langsung berteriak histeris mendengar nama club kami yang disebut oleh MC sebagai juara pertama dalam ajang perlombaan tari tingkat nasional tahun ini.

Sementara yang lain bersorak-sorai dengan kemenangan yang kami raih, aku hanya bisa terdiam di posisiku semula. Aku sangat syok dengan kemenangan itu. Saking tak percayanya aku sampai tak bisa berkata-kata karenanya.

Ku pandangi sekelilingku. Air mata bahagia mulai membanjir pada sebagian besar anggota tim. Gaeul terus menangis di pelukan Donghae oppa. Sementara itu aku juga bisa melihat rasa puas dan bangga yang terpancar dari wajah Hyukjae oppa. Kemudian Teuki oppa memeluk tubuhku dengan sangat erat.

“Kau memang dongasaeng oppa. Oppa sangat bangga padamu,” teriaknya sembari mengangkat tubuhku.

Kemudian kami beramai-ramai naik ke atas pentas untuk menerima trofi kemenangan dan berbagai hadiah lainnya. Hyukjae oppa sebagai pelatih mewakili kami semua untuk menyampaikan pidato kemenangan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami. Setelah itu kami melanjutkan pesta kemenangan tim kami.

 

Malam sudah sangat larut saat pesta kemenangan tim kami usai. Semua anggota tim yang lain sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu pula dengan Gaeul yang pulang diantar oleh Donghae oppanya.

Sekarang hanya tinggal aku, Teuki oppa, Hyukjae oppa, dan Cheon Sa sunbaenim. Saat ini kami sedang berada di pinggir jalan bersiap-siap untuk pulang.

“Aku pulang duluan ya,” Sangmi sunbaenim berpamitan pada kami dan langsung berjalan menjauh meninggalkan kami.

“Hyukjae~ya, tolong kau antar adikku pulang ke rumah dengan selamat. Ini pakai saja mobilku,” ujar Teuki oppa tiba-tiba sembari memberikan kunci mobilnya kepada Hyukjae dan segera berlari menyusul Sangmi sunbaenim.

“Cheon Sa~ya, tunggu aku. Biar aku antar kau sampai ke rumah,” teriak Teuki oppa memanggil Cheon Sa sanbaenim.

“Aku tidak mau diantar olehmu! Aku bisa pulang sendirian,” Cheon Sa sunbaenim balas berteriak.

“Ya! Mana boleh seorang gadis pulang sendirian semalam ini,” ucap Teuki oppa.

Aku dan Hyukjae oppa hanya bisa geleng kepala melihat tingkah mereka.

 

“Besok aku akan kembali ke Amrik,” ujar Hyukjae oppa tiba-tiba membuatku sangat terkejut.

Kami sudah tiba di rumahku sejak 15 menit yang lalu. Hyukjae oppa menolak meninggalkan aku sendirian. Dia memetuskan untuk menemaniku sampai Teuki oppa kembali. Dan sekarang kami sedang duduk di ayunan besi di halaman rumahku.

Aku menatap lurus ke wajahnya. Mengamatinya, mencoba mencari kebohongan yang ada di sana. Tapi aku tak berhasil menemukannya. Apa yang dikatakannya barusan adalah sebuah kebenaran.

“Yooran datang ke Seoul untuk mengajakku kembali. Dia berharap kami bisa bersama lagi seperti dulu. Dua hari lalu dia datang ke studio untuk berpamitan. Dia sudah kembali ke Amrik kemarin. Tapi dia bilang dia akan menungguku.

“Lalu ini keputusan oppa?” tanyaku kemudian.

“Ne,” jawab Hyukjae oppa lirih.

Seketika ada perasaan perih merayapi hatiku. Hyukjae oppa sangat mencintai wanita itu. Takkan ada tempat bagiku di hatinya selamanya.

Kemudian kami terdiam lama. Kami hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Mungkin ini pertemuan terakhir kita,” Hyukjae oppa memecahkan keheningan antara kami. “Senang sekali aku bisa mengenal gadis sebrilian kau.”

Aku mencoba tersenyum menanggapi ucapannya walaupun dapat ku rasakan senyuman yang kini menghiasi bibirku adalah senyuman terpaksa. Dan aku berharap Hyukjae oppa tidak mengetahui hal ini.

******

“Yeorum~a, kenapa mukamu di tekuk seperti itu?” tanya Teuki oppa, tak tahan lagi dengan sikapku yang hanya manyun seharian.

Hari ini Hyukjae oppa akan kembali ke Amrik. Hatiku terasa hampa sejak aku mengetahui kabar itu tadi malam langsung dari mulutnya sendiri. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tak punya alasan untuk mencegahnya pergi.

“Yeorum~a, ada apa?” tanya Teuki oppa lagi, kini dia duduk di sampingku dan sedang memandangi wajahku yang murung lekat-lekat.

“Hyukjae oppa akan kembali ke Amrik hari ini, oppa. Dia pergi untuk mengejar gadis yang dicintainya. Dia tidak akan kembali lagi oppa,” ceritaku tanpa memandang wajahnya.

“Apa kau telah mengatakan perasaanmu padanya?” tanya Teukie oppa hati-hati.

“Ani. Takkan ada gunanya oppa. Itu tidak akan bisa mengubah apapun!” jawabku sambil menahan air mataku.

“Memang tidak akan bisa mengubah apapun. Tapi setidaknya bisa membuat hatimu menjadi lebih ringan,” ujar Teuki oppa menatapku dengan tatapan lembut.

“Kalau kau menyukai seseorang, katakan! Jangan menjadikannya beban dengan hanya menyimpannya di dalam hati. Itu akan membuatmu semakin sulit untuk melepaskannya. Jadi katakanlah, katakan tentang perasaanmu yang sebenarnya agar kau bisa melepaskannya.”

“Oppa benar!” ujarku seketika. “Aku harus menyampaikan perasaanku padanya!”

“Oppa, maukah kau mengantarku ke bandara sekarang? Waktunya tinggal sedikit lagi. Hyukjae oppa akan segera berangkat dan takkan kembali lagi ke sini,” ujarku sambil menghapus air mata yang sempat mengalir di pipiku.

“Kaza,” ujarnya sambil menarik tanganku.

 

Aku langsung turun dari mobil saat Teuki oppa baru saja menghentikan mobilnya di parkiran bandara. Aku meninggalkannya begitu saja tanpa menghiraukan panggilannya.

Aku berlari memasuki bandara dan langsung mengarahkan langkahku ke bagian keberangkatan internasional.

Ku lirik jam tanganku. Waktu menunjukkan jam sepuluh lewat dua puluh menit. Waktuku hanya tinggal sedikit lagi. Ku pacu langkahku lebih cepat lagi. Tak ku hiraukan rasa sesak di dadaku. Yang penting bagiku, aku harus bisa bertemu dengannya sebelum dia benar-benar pergi.

Aku terus berlari hingga akhirnya aku sampai di pintu keberangkatan internasional. Sekarang aku dapat melihat sosoknya yang sedang berjalan untuk memasuki pintu itu.

“Hyukjae oppa!” teriakku memanggilnya. Seketika dia membalikkan badannya ke arahku. Kemudian aku berjalan mendekat ke arahnya hingga jarak antara kami hanya tinggal beberapa meter.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Aku ingin melepas kepergian oppa,” jawabku. “Dan sebelum oppa pergi aku ingin menyampaikan sesuatu kepada oppa.”

Aku diam beberapa saat. Sementara Hyukjae oppa menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutku.

“Sarangheyo oppa,” tiba-tiba kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Aku kembali terdiam untuk melihat reaksinya sebelum kembali melanjutkan ucapanku.

“Aku sudah jatuh cinta pada oppa sejak pertama kali aku melihat oppa di taman. Aku begitu mengagumi setiap gerakan tubuh oppa. Di mataku tampak begitu ringan dan natural. Setelah oppa tidak datang lagi ke taman itu aku tetap menunggu oppa. Aku datang setiap hari ke sana dengan harapan aku bisa melihat oppa lagi. Tapi oppa tetap tidak datang. Tapi aku tetap menunggu hingga akhirnya kita bertemu di club. Dan oppa jugalah alasan utamaku untuk bergabung dengan club,” ujarku panjang lebar.

“Mianhae Yeorum~a,” ujarnya penuh penyesalan. “Kalau saja aku bisa menggantikan posisinya di hatiku dengan orang lain, aku pasti akan menggantikannya denganmu.”

“Ani,” ujarku menggeleng. “Jangan pernah merasa bersalah padaku oppa. Aku mengatakan ini bukan untuk membebani oppa. Aku mengatakan semua ini untuk membuat agar hatiku bisa terasa lebih ringan. Agar hatiku bisa melepaskan oppa dengan ikhlas.”

Aku kembali terdiam. Sementara Hyukjae oppa tetap menatap lurus ke arahku. Aku tak bisa membaca arti dari tatapannya itu.

“Pergilah oppa. Pergilah ke tempat yang oppa yakini oppa dapat menemukan kebahagiaan di sana. Percayalah selalu pada kata hati oppa. Believe your heart oppa!” ujarku mengakhiri kata-kataku.

“Gomawo Yeorum~a. Gomawo sudah bersikap arif terhadapku. Gomawo juga untuk mencintaiku. Aku akan selalu mengingatnya. Bisa dicintai oleh gadis sepertimu adalah keberuntungan dalam hidupku.” Hyukjae oppa tersenyum kepadaku. Kemudian dia membalikkan badannya dan melangkah maju memasuki pintu keberangkatan internasional. Sementara aku tetap terpaku di tempatku, menatap lurus ke arah punggungnya yang kini menjauh hingga akhirnya dia hilang dari pandanganku.

******

Masa sekarang…

Aku tersadar dari lamunanku oleh pukulan pelan di lututku. Seorang anak kecil kini berdiri tepat di hadapanku sambil mengulurkan sebuah balon biru kepadaku.

“Apa ini untuk noona?” tanyaku ramah sambil menerima balon itu darinya. Anak itu hanya mengangguk kemudian dia langsung berlari meninggalkanku tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Aku kembali mengedarkan pandanganku ke seluruh taman. Tak jauh dari tempatku duduk aku melihat sebuah keramaian kecil di sana. Kemudian aku beranjak dari dudukku dan berjalan menghampiri keramaian itu.

Setelah aku berada di dekat kerumunan itu barulah aku bisa melihat ada seorang pria berjas hitam sedang mempertunjukkan gerakan tarinya kepada pengunjung taman yang mengerubunginya. Pria itu membelakangiku.

Aku memuji tarian yang dipertunjukkannya. Gerakannya sangat indah. Membuat semua orang yang memandangnya terpukau karenanya.

Di akhir pertunjukkannya barulah dia berbalik menghadapku dan membungkukkan tebuhnya tepat di hadapanku bak seorang pangeran yang sedang menyambut kedatangan putrinya.

“Hyukjae oppa!” ujarku terkejut.

******

“Apa yang oppa lakukan di Seoul?” tanyaku saat kami sudah duduk di kursi taman yang ku duduki tadi.

“Menemui gadis yang kucintai,” ujar Hyukjae oppa menatap tepat ke mataku.

“Apa Yooran onnie ada di sini sekarang?” tanyaku lagi.

“Ani,” dia menggelengkan kepala. Kemudian dia menghembuskan napasnya dengan kencang dan mengalihkan tatapannya dariku. “Lima tahun ini aku selalu merasa ada seseorang yang memanggilku untuk kembali ke sini. Makanya aku kembali .”

Aku menatap ke arahnya. Dan tiba-tiba dia duduk berjongkok di hadapanku sambil menggenggam kedua tanganku.

”Gomawo Yeorum~a,” ujarnya kemudian sambil menatap ke dalam mataku. ”Gomawo sudah menungguku selama lima tahun ini.”

Aku tetap terdiam mendengar ucapannya.

“Saranghaeyo Yeorum~a,” ujarnya kemudian membuatku sangat terkejut.

“Yoorin onnie?” tanyaku bingung.

”Aku tak pernah kembali padanya selama lima tahun ini,” ujarnya menjelaskan. ” Saat aku tiba di sana, aku baru menyadari bahwa ada sisi hatiku yang hilang. Dan aku tahu persis sisi hatiku yang hilang itu telah tertinggal bersamamu di sini. Aku bermaksud langsung kembali saat menyadarinya. Tapi tiba-tiba ayahku jatuh sakit. Dan aku harus menggantikannya untuk memimpin perusahaan yang telah dibangunnya dengan darah dan keringatnya. Aku sudah begitu lama meninggalkan keluargaku. Dan saat itu aku menyadari bahwa sudah saatnya aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang anak yang sudah lama aku tinggalkan. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap tinggal saat itu. Walaupun demikian aku tetap berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu saat nanti aku akan kembali. Aku akan kembali hanya untuk seseorang. Aku akan kembali untukmu karena aku percaya kau akan tetap menungguku. Seperti kata terakhir yang kau ucapkan di bandara saat itu. Aku harus mempercayai hatiku. Dan aku mempercayainya,” ujarnya menyelesaikan ceritanya.

”Saranghaeyo Yeorum~a. Jeongmal saranghaeyo,” ujarnya lagi menatap sungguh-sungguh ke dalam mataku.

Aku balas menatap ke dalam matanya dan aku menemukan kejujuran dan kesungguhan hatinya di sana.

”Nado saranghaeyo oppa,” ujarku akhirnya.

Kemudian dia bangkit mendekapku ke dadanya. Aku bisa merasakan kelegaan di sana. Dekapannya yang hangat memberikan ketenangan bagi hatiku yang sudah menunggu tanpa kepastian selama lima tahun ini. ”Aku selalu percaya kau pasti akan kembali oppa,” bisikku di dadanya.

”Gomawo sudah percaya pada hatimu, Yeorum~a,” ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.

THE END

BELIEVE YOUR HEART (Part 3)

Yeorum POV

Aku berpapasan dengan seorang wanita cantik saat akan memasuki studio latihan. Aku menundukkan tubuhku sedikit untuk menghormatinya dan dia tersenyum padaku.

“Dia siapa?” tanyaku pada Gaeul saat tiba di dekatnya.

Gaeul mengangkat bahunya. “Dia datang menemui Hyukjae sunbaenim. Kata anak-anak sih mantan pacarnya Hyukjae sunbaenim. Dia baru datang dari Amrik,” ujar Gaeul setengah berbisik padaku.

“Cheongmal?!” tanyaku terkejut.

“Jangan patah hati dulu, chingu. Statusnya kan mantan pacar, bukan pacar,” Gaeul menepuk-nepuk bahuku bermaksud hendak menenangkanku.

“Kaza, kita ganti baju dulu,” ajaknya kemudian dan aku mengangguk mengiyakan.

Latihan hari ini aku tak bisa konsentrasi. Otakku selalu memikirkan cerita Gaeul tadi. Ini membuatku sangat sering melakukan kesalahan dalam gerakanku. “Untuk apa mantan pacar Hyukjae oppa datang jauh-jauh dari Amrik?” tanyaku dalam hati.

Hyukjae oppa pun sepertinya juga sedang ada masalah hari ini. Mungkin masalah mantan pacarnya itu, tebakku. Emosinya sangat tak terkendali. Sejak awal latihan tadi dia selalu marah-marah dan berteriak kepada member yang melakukan kesalahan. Dan entah sudah berapa kali dia meneriakiku dengan kata-kata yang tak enak di dengar. Pokoknya dia tidak seperti Hyukjae oppa yang biasanya, yang selalu tenang dan sabar saat melatih kami.

“Yeorum~a! Apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau sibuk melakukan kesalahan sejak tadi? Gunakan feel-mu saat menari,” lagi-lagi dia meneriakiku.

“Kita mulai lagi dari awal!” perintahnya kemudian dan kami kembali melatih gerakan tari tadi dari awal.

Beberapa menit kemudian aku kembali melakukan kesalahan.

“DASAR IDIOT!!!” teriaknya sangat marah dan melemparkan handuk kecil yang dipegangnya sejak tadi kepadaku. Secara refleks aku menghindari lemparannya agar tak mengenai wajahku sehingga handuk itu hanya mengenai bahu kananku. “Apa kau tak dengar kalau dari tadi aku menyuruhmu berkonsentrasi. Dan mana feel-mu? Semua gerakanmu itu hampa!!!”

Kali ini aku sungguh tak tahan lagi mendengar setiap kata-kata marahnya itu. Aku sangat tersinggung karena dia mengataiku idiot. Sementara itu mataku mulai berkaca-kaca sekarang. Akhirnya tanpa mengatakan apapun aku langsung beranjak dari posisiku dan berjalan menuju pinggir arena. Gaeul sempat menahanku saat itu tapi aku langsung menepiskan tangannya yang memegang lenganku.

“Ya, Yeorum~a! Mau kemana kau? Latihan belum usai,” teriaknya lagi padaku. Tapi aku tak menggubrisnya sama sekali. Hatiku benar-benar sakit karena ucapannya. Ku masukkan semua barang-barangku dan berjalan menuju pintu ke luar studio untuk meninggalkan tempat itu.

“Aaaaa…” Aku masih sempat mendengar teriakan frustasinya saat pintu studio menutup di belakangku. Kemudian aku menyusuri trotoar menuju ke halte bis. Saat itu hari sudah mulai gelap. Sementara air mataku semakin menggenang sebagai akibat rasa sakit di hatiku. Sesampainya di halte aku tak sanggup lagi menahannya sehingga akhirnya tangisku pecah.

Aku duduk di bangku halte sambil menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Untung saja tak ada seorang pun kecuali aku di halte saat itu. Kalau tidak, aku pasti akan menjadi tontonan umum.

Entah berapa lama aku menangis sendiri di halte itu. Aku baru menegakkan tubuhku saat aku mendengar ada langkah-langkah yang menuju ke arahku. Buru-buru ku hapus sisa air mataku agar orang itu tak melihat bahwa aku sedang menangis. Dan kubalikkan tubuhku sehingga membelakangi orang yang baru datang itu agar dia tak dapat melihat mataku yang bengkak karena habis menangis.

Aku dapat merasakan orang yang baru datang itu duduk tak jauh dari tempatku. Dan tiba-tiba….

“Mianhae…” ujar sebuah suara yang sangat ku kenal. Pemilik suara itu tak lain adalah Hyukjae oppa.

“Cheongmal mianhae,” ulangnya lagi. “Aku tak bermaksud mengataimu seperti itu. Juga tak seharusnya aku menumpahkan kekesalanku kepadamu ataupun kepada member yang lainnya. Mianhae, jeongmal mianhae,” ujarnya terdengar sangat menyesal. Sementara aku tetap duduk membelakanginya.

Tiba-tiba dia mengulurkan sesuatu dari balik bahuku. Ku tatap tak percaya benda yang diulurkannya itu. Sebuah balon biru?!

Aku langsung membalikkan badanku untuk menatapnya dengan mataku yang bengkak. “Bisa-bisanya oppa berpikir untuk membujukku dengan barang seperti ini,” ujarku seketika, sebuah senyum mengembang di bibirku.

“Apa itu berarti kau sudah tak marah lagi padaku?” tanyanya sambil menunjuk lengkungan yang menghiasi daerah sekitar mulutku. Pertanyaannya itu membuat senyumanku semakin lebar.

“Aaahh… Ternyata analisaku selama ini benar,” ujarnya sambil meregangkan tubuhnya.

“Analisa tentang apa?” Aku menatap ingin tahu padanya.

“Ternyata hampir semua wanita di dunia ini memiliki sisi kekanakan,” dia mengerling jahil kepadaku. “Kalau mereka marah, cukup menghibur mereka hanya dengan hal sepele, mereka akan langsung memaafkan semua kesalahan. Buktinya kau, cukup diberi sebuah balon biru saja kau langsung bisa tersenyum begitu manisnya padaku sekarang.”

“Mwo?!” ujarku tak suka dengan analisanya.

“Berarti analisaku tentang pria juga benar dong?!” balasku tak mau kalah. Hyukjae oppa mengerutkan keningnya mendengar ucapanku.

“Sebagian besar pria selalu melampiaskan emosi mereka dengan mengkambinghitamkan orang lain yang ada di sekitarnya,” ujarku sengit.

Seketika tawanya meledak mendengar ucapanku. “Ternyata kau lebih cerdas dari apa yang kupikirkan selama ini,” ujarnya lagi sambil menepuk-nepuk pelan kepalaku. Dan aku hanya menatapnya tak percaya.

“Ngomong-ngomong dimana oppa mendapatkan balon biru ini?” tanyaku saat tawanya mereda.

“Oh…itu…tadi aku memohon kepada seorang adik kecil yang kebetulan lewat di depan studio. Untung saja dia bersedia memberikannya padaku. Kalau tidak…entah sampai kapan kau akan marah padaku?” dia kembali menyunggingkan senyum jahilnya itu padaku.

“Oppa…kau ini benar-benar tidak modal,” ujarku sambil memukulinya dengan balon yang diberikannya tadi.

“Sudah, sudah. Kalau balonnya pecah oppa tak punya gantinya,” ujarnya masih terus menggodaku.

“Dasar pelit!” rutukku kemudian sambil menjulurkan lidah padanya. Kemudian kami terdiam beberapa saat.

“Apakah wanita yang tadi siang itu yang membuat oppa resah?” tanyaku mencoba memberanikan diri.

“Ne,” jawabnya singkat dengan pandangan tetap lurus ke depan.

“Apa dia mantan pacar oppa?” tanyaku lagi.

“Hmmm”

“Apa oppa masih mencintainya?”

“Ne,” jawabnya, masih tanpa menatapku. Sebuah luka tergores di hatiku saat ini dan rasanya amat perih.

“Itu bismu tiba,” ujarnya tiba-tiba. Aku tahu dia sedang menghindari percakapan ini. Aku pun tak bermaksud untuk melanjutkannya. Aku tak mau luka ini akan semakin membuat luka di hatiku menganga lebar.

“Ne,” jawabku seraya berdiri dari dudukku dan melangkah maju mendekati bis yang sudah menungguku.

“Yeorum~a, beristirahatlah lebih awal malam ini,” ujar Hyukjae oppa saat aku hampir mencapai pintu bis. “Besok latihan kita yang terakhir, pasti akan sangat melelahkan.”

Aku mengangguk ke arahnya, kemudian aku masuk ke dalam bis. Aku terus menatap ke arahnya sementara bis yang kutumpangi terus berjalan menjauh dari halte itu.

******

Hari ini hari terakhir latihan kami. Keesokan harinya kami sudah harus bertempur. Semua member yang akan turun berlatih dengan keras. Dan sepertinya suasana hati Hyukjae oppa sudah sedikit membaik. Dia sudah tak marah-marah lagi hari ini.

Tapi pada saat sedang asyik-asyiknya latihan, tiba-tiba…..

“Au…” aku berteriak dan jatuh terduduk karena kakiku terkilir dan rasanya sakit sekali. Semua anggota tim langsung menghampiriku begitu juga dengan Hyukjae oppa.

“Gwaenchanayo?” tanyanya panik sambil memeriksa pergelangan kakiku. Sementara aku terus meringis menahan sakitnya.

“Sepertinya kau terkilir,” ujarnya kemudian.

“Kau istirahat dulu di pinggir arena agar aku bisa memeriksa pergelangan kakimu,” ujarnya lagi sambil melingkarkan lenganku di bahunya dan membantuku berdiri.

“Yang lain tetap lanjutkan latihan!” perintahnya kepada anggota tim yang lain dan membawaku ke pinggir arena.

Saat Hyukjae oppa sedang memeriksa pergelangan kakiku Cheon Sa sunbaenim menghampiri kami.

“Gwaenchanayo?” tanyanya kepada Hyukjae oppa.

“Dia terkilir,” jawab Hyukjae oppa tanpa mengalihkan perhatiannya dari pergelangan kakiku.

“Bagaimana kalau aku saja yang merawatnya?” usul Cheon Sa sunbaenim membuatku dan Hyukjae oppa sama-sama terkejut.

“Gwaenchanayo?” tanya Hyukjae oppa ragu.

“Ya Hyukie~a, apa kau pikir aku akan mematahkan kakinya?” Cheon Sa sunbaenim mendengus kesal. “Aku ini juga pelatih di club kita. Tentu saja aku menginginkan semua member club kita dalam keadaan baik-baik saja.”

“Sudah sana!” perintahnya kemudian saat melihat Hyukjae oppa yang masih terbengong-bengong. “Kau latih saja yang lain dengan baik. Jangan sampai tim kita kalah besok.”

Cheon Sa sunbaenim menarik tangan Hyukjae oppa sampai berdiri dan mendorongnya agar pergi ke tengah arena latihan.

“Coba ku periksa pergelangan kakimu,” ujarnya setelah berhasil membujuk Hyukjae oppa meninggalkan kami.

“Pergelangan kakimu benar-benar terkilir dan sepertinya keadaanya cukup parah.” Cheon Sa sunbaenim mengurut pergelangan kakiku dengan sangat hati-hati. Aku meringis karena menahan sakitnya.

“Mianhae,” ujar Cheon Sa sunbaenim tiba-tiba membuatku terkejut.

“Untuk apa?” tanyaku tak mengerti.

“Karena bersikap kurang baik terhadapmu,” ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari pergelangan kakiku. “Saat itu aku benar-benar tidak bisa melihat bakatmu dalam menari. Tapi si Hyukjae itu terus saja membelamu. Dia benar-benar membuatku kesal!”

“Jadi…benar kalau sunbaenim tak menyukaiku karena itu?” tanyaku mencoba memberanikan diri.

“Hmmmm,” jawabnya tetap  berkonsentrasi pada pergelangan kakiku.

“Jadi benar alasan sunbaenim tak menyukaiku karena…”

“…..karena aku menyukai Hyukjae,” ujarnya seketika memandangku. Kemudian tiba-tiba dia tertawa, menertawakan ucapanku.

“Ternyata kau juga termakan oleh gosip yang beredar di club,” ujarnya disela-sela tawanya. Sementara aku hanya memandang tak mengerti kepadanya.

Kemudian Cheon Sa sunbaenim menghentikan tawanya dan berdehem. ” Ehm… Dia terus membelamu waktu itu, seketika aku tahu ada yang spesial dari dirimu. Tapi bukan karena itu aku aku keberatan menerimamu. Keberatanku murni karena penilaianku, karena aku merasa kau tak berbakat di dunia tari. Tapi penilaianku salah. Sekarang kau telah berhasil membuktikan bahwa kau memang berbakat. Hanya dalam beberapa minggu saja kau mampu menguasai gerakan rumit hasil ciptaan Hyukie, yang biasanya selalu sulit untuk diikuti oleh orang lain, terutama orang yang baru saja mengenal dunia tari sepertimu. Aku benar-benar kagum padamu dan aku sama sekali sudah tak mempermasalahkan keberadaanmu di club kami. Kau memang layak untuk itu.

Tapi soal gosip aku menyukainya. Itu sama sekali tidak benar. Aku menyayanginya hanya sebagai seorang sahabat. Sama seperti kau menyayangi Gaeul. Aku hanya takut kehadiranmu mengganggunya,” jelasnya panjang lebar.

“Apa maksud sunbaenim dengan kehadiranku mengganggunya?” tanyaku tak mengerti.

“Kau akan mengerti sendiri suatu saat nanti,” ujarnya penuh tanda tanya.. “Tunggu sebentar! Aku ambil kotak obat dulu.”

Cheon Sa sunbaenim pergi meninggalkanku dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa kotak obat di tangannya. Kemudian dia kembali berjongkok di depanku dan menempelkan koyo yang diambilnya dari dalam kotak obat itu ke pergelangan kakiku.

“Nah, semoga ini bisa membantu meringankan rasa sakitnya. Bagaimana rasanya?” tanyanya kemudian.

“Rasanya lebih baik,” aku tersenyum padanya.

 

Para anggota tim di beri waktu istirahat selama 15 menit sebelum mereka kembali berlatih.

“Ok, ini latihan kita terakhir. Aku harap gerakan kalian benar-benar bersih. Tak ada lagi kesalahan. Anggap di latihan ini kalian sudah berada di atas panggung perlombaan. Arasseo?” tanya Hyukjae oppa kepada semua member yang langsung di jawab kompak oleh semua anggota tim.

“Sunbaenim, izinkan aku ikut latihan terakhir ini,” ujarku ketika mereka akan memulai latihan.

“Andwe!” tolak Hyukjae oppa. “Bisa-bisa kakimu akan semakin parah kalau di paksa bergerak.”

“Tidak apa-apa sunbaenim. Kakiku sudah sedikit membaik,” paksaku.

“Kau yakin?” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk untuk meyakinkannya hingga akhirnya Hyukjae oppa mengizinkanku untuk ikut dalam latihan itu.

******

“Gwaenchanayo?” tanya Hyukjae saat aku baru keluar dari ruang ganti dan menghampirinya yang menungguku di depan pintu ke luar studio.

“Ne,” jawabku menenangkannya.

“Tapi sepertinya sangat sakit,” ujarnya sambil mengamati ekspresiku yang kesakitan.

“Yeorum~a, bagaimana keadaan kakimu? Gwaenchanayo?” Hyukjae oppa tiba-tiba sudah berada di dekat kami.

“Oppa?! Kau belum pulang?” tanyaku.

“Aku sengaja menunggumu,” ujarnya sambil berjongkok dan menggulung sedikit jins yang ku kenakan tanpa sempat ku cegah.

“Aigo…! Kakimu bengkak Yeorum~a,” ujarnya panik.

“Gwaenchana oppa,” ujarku mencoba menenangkannya.

“Apanya yang tidak apa-apa?” bentaknya padaku dan kemudian dia beralih kepada Gaeul. “Gael~a, kau pulang saja. Sudah malam. Beristirahatlah yang baik agar besok bisa tampil fresh. Biar aku yang mengantarkan Yeorum pulang. Lagi pula kalau kau yang mengantarnya, kau takkan kuat menggendongnya.”

“Mwo?” ujarku kaget dengan ucapan Hyukjae oppa tadi. “Apa maksud oppa dengan kata menggendong tadi?”

“Tentu saja aku akan menggendongmu pulang. Mana mungkin kau berjalan dengan kaki seperti ini. Bisa-bisa kau baru sampai besok pagi,” omelnya panjang lebar. Gaeul sibuk menahan senyum gara-gara ucapannya. Sementara wajahku jadi memerah karena malu.

“Baiklah oppa. Kalau begitu sahabatku yang satu ini aku titipkan pada oppa. Tolong antarkan dia dengan selamat sampai ke rumah ya oppa. Anyeong…” ujarnya segera berlari meninggalkan kami berdua.

“Ayo naik ke punggungku!” kemudian Hyukjae oppa berjongkok di depanku.

“Tapi oppa,”

“Aishh…kau ini!” ujarnya geram sambil menarik tanganku hingga aku jatuh di punggungnya dan dia langsung mengangkat tubuhku.

Hyukjae oppa menggendongku sepanjang perjalanan pulang ke rumahku. Bahkan dia masih tidak mengizinkanku turun dari punggungnya saat kami sudah berada di depan pintu rumahku.

“Aigo… Yeorum~a! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa digendong pulang seperti ini?” Teukie oppa langsung panik saat melihat aku yang pulang digendong dengan pria yang tak dikenalnya.

“Oppa biarkan kami masuk dulu. Hyukjae oppa sudah keberatan karena harus menggendongku sepanjang jalan,” ujarku padanya.

“Ne, ne. Silakan masuk,” ujarnya memberi jalan agar kami bisa lewat.

“Turunkan saja dia di sofa itu,” ujarnya sambil menunjuk ke sofa panjang yang ada di ruang tamu. “Apa yang terjadi padanya?”

“Kaki Yeorum terkilir,” ujar Hyukjae oppa sambil menggulung celana jinsku.

“Huwaaa…kakinya bengkak,” teriak Teuki oppa kemudian saat melihat pergelangan kaki kananku.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya panik.

“Tolong ambilkan air hangat untuk mengompres kakinya,” ujar Hyukjae oppa sopan.

“Ok, ok. Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali,” ujar Teuki oppa masih panik dan segera berlari ke dapur.

“Oppamu sangat menyayangimu,” ujar Hyukjae oppa padaku kemudian.

“Teuki oppa terlalu over protective,” jawabku.

Tak lama kemudian Teuki oppa muncul dengan membawa baskom yang berisi air hangat. Dia memberikannya kepada Hyukjae oppa dan Hyukjae oppa langsung mengompres kakiku.

“Apa akan baik-baik saja?” Tanya Teukie oppa lagi.

“Akan lebih baik kalau di bawa ke rumah sakit,” Hyukjae oppa menyarankan.

“Kalau begitu kita ke rumah sakit saja, Yeorum~a?” sambar Teuki oppa.

“Aku tidak mau! Dikompres juga bisa baik kok,” bantahku.

“Aishh…kau ini! Keras kepala sekali,” ujar Teuki oppa kesal.

“Usahakan agar semalaman ini tetap dikompres. Mudah-mudahan besok sudah lebih baik,” ujar Hyukjae oppa sambil bangkit dari jongkoknya.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Maaf mengganggu. Selamat beristirahat,” sambungnya lagi.

“Kalau begitu aku antar kau ke depan pintu,” ujar Teuki oppa ramah. “Tapi ngomong-ngomong siapa namamu?”

“Mianhaeyo telah berbuat tidak sopan,” Hyukjae oppa langsung membungkukkan tubuhnya di hadapan Teuki oppa. “Annyeonghaseyo, choneun Hyukjae imnida.”

“Aaahh…sudahlah. Aku sama sekali tak menganggap kau tidak sopan,” Teukie oppa mengibaskan tangannya. “Kondisinya sudah seperti ini. Wajar kalau kau lupa memperkenalkan namamu.”

“Gomawo hyung atas pengertiannya. Kalau begitu aku pulang dulu.”

“Mari,” Teuki oppa mempersilahkan Hyukjae oppa dengan sopan.

“Oppa,” panggilku saat dia sudah di ambang pintu dan dia kembali membalikkan badannya ke arahku. “Aku akan datang besok!”

“Sudahlah, jangan terlalu memikirkan perlombaan dulu. Yang penting sekarang kakimu lekas sembuh,” jawabnya.

“Anni… Aku sudah berjanji. Jadi aku pasti datang,” ujarku keras kepala.

“Aishh…kau ini!” ujar Teuki oppa geram melihat kekeraskepalaanku. “Sudahlah Hyukjae ah, tak perlu membujuknya lagi. Penyakit keras kepalanya itu benar-benar sudah akut. Tak ada obatnya lagi.”

Hyukjae oppa hanya tersenyum mendengarkan ucapan Teukie oppa. “Beristirahatlah!” ujarnya padaku.

“Aku pulang dulu hyung. Selamat malam,” pamitnya lagi pada teukie oppa.

“Ne,” jawab teuki oppa.

“Khamsahamnida,” teriak Teuki oppa saat aku tak lagi dapat melihat Hyukjae oppa.

“Kau mau ke mana?” tanya Teuki oppa saat melihat aku mencoba beranjak dari tempatku berada sekarang.

“Mau ke kamar,” jawabku.

“Tetaplah duduk di situ!” perintah oppa sambil buru-buru mengunci pintu rumah kami dan berlari ke dekatku. Kemudian Teukie oppa berjongkok di depanku.

“Naiklah ke punggung oppa! Oppa akan menggendongmu sampai ke kamar,” perintahnya lagi.

“Ok,” teriakku kegirangan dan menaiki punggungnya.

“Aigo, aigo…! Sudah lama tak menggendongmu, ternyata berat badanmu bertambah banyak,” ujarnya saat berusaha berdiri dengan aku berada dipunggungnya.

“Apa dia pelatihmu?” tanya Teuki oppa saat kami menaiki tangga menuju ke kamarku di lantai dua.

“Hmmm,” jawabku. “Dan dia adalah pria tamanku.”

Teukie oppa mendudukkanku di atas tempat tidurku. “Benarkah?” tanyanya dengan napas ngos-ngosan. Kenapa kau tak memberi tahu oppa kalau perkembangannya sudah sejauh ini?”

“Jangan menduga yang aneh-aneh oppa. Antara kami tak terjadi apa-apa. Dia sudah mempunyai wanita yang dicintainya,” aku bisa merasakan perubahan ekspresi wajahku.

Teukie oppa duduk di sampingku dan kemudian dia memelukku. “Sayang sekali kalau begitu. Padahal menurut oppa dia pria yang baik. Tapi pasti akan datang pria yang lebih baik lagi nantinya,” ujar Teuki oppa menghiburku.

“Gomawo oppa,” ujarku sambil melepaskan pelukannya agar aku bisa melihat wajah oppa yang sangat kusayangi ini.

Keningnya berkerut tanda dia tak mengerti dengan apa yang sedang ku katakan. “Gomawo karena telah menjadi oppaku,” ujarku meneruskan ucapanku.

“Tidak perlu berterima kasih. Suatu kebanggaan bagi oppa memiliki dongsaeng secantik dan secerdas kau,” ujarnya sambil membelai lembut kepalaku.

“Istirahatlah,” ujarnya kemudian sambil mengecup keningku dan melangkah ke luar dari kamarku.

To Be Continue…..

BELIEVE YOUR HEART (Part 2)

Yeorum POV

“Kau tunggu di sini sebentar ya chingu. Aku mau ganti baju dulu,” ujar Gaeul saat kami tiba di studio latihan mereka.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Suasana studio masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang ada di tengah-tengah arena latihan. Mereka sedang melakukan pemanasan.

“Hmm….ternyata anggota club ini sangat disiplin. Walaupun pelatih mereka belum datang, mereka sudah langsung melakukan pemanasan tanpa diperintah,” pikirku.

“Kau sedang lihat apa?” Gaeul berbicara tepat di telingaku. Membuatku kaget saja.

“Aigo…. Gaeul~a! Bisa tidak kau berhenti bersikap seperti hantu? Selalu muncul tiba-tiba. Membuat orang kaget saja!” aku mengelus-elus dadaku, berusaha menenangkan jantungku yang berdetak kencang karena terkejut.

“Hehehe… Sorry, chingu. Aku tak bermaksud mengagetkanmu.” Aku memanyunkan bibirku tanda kesal.

“Yeorum~a, kau duduk di sini saja dulu. Aku mau pemanasan dulu ok,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku dan langsung berlari menuju ke tengah-tengah arena latihan yang kini mulai ramai.

Aku memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan Gaeul. Diam-diam dalam hati aku memujinya. Sepertinya Gaeul memang dilahirkan untuk menjadi seorang dancer.

Ceklek!!!

Beberapa saat kemudian aku mendengar pintu studio terbuka. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang. Sepasang laki-laki dan perempuan sedang berjalan menuju ke tengah-tengah arena latihan sambil mendiskusikan sesuatu.

Jantungku langsung berdegup kencang saat mengenali laki-laki yang baru saja datang itu. “Bukankah itu dia?!” jerit hatiku. “Dia pria tamanku!”

“Annyeong,” ujar laki-laki itu menyapa semua member. Member club yang tadi sibuk pemanasan langsung berkumpul di hadapannya.

“Ok, hari ini kita lanjutkan latihan gerakan yang kemarin. Waktu kita tinggal dua bulan lagi untuk mengikuti perlombaan itu. Jadi ku harap tak ada yang main-main lagi sejak saat ini karena perlombaan ini sangat penting bagi club kita. Kita harus bisa mempertahankan gelar juara kita. Arasseo?” ujarnya lagi kepada seluruh member.

“Ne sunbaenim,” ujar seluruh member serentak.

“Kalau sudah mengerti ambil posisi kalian masing-masing!” perintahnya lagi.

Semua member langsung dengan sigap mengambil posisi mereka masing-masing. Kemudian mereka memulai latihan mereka.

Selama latihan semua member club mengikuti setiap gerakan sang pelatih dengan serius. Sementara mataku tak pernah bisa beranjak dari sang pelatih yang tak lain adalah pria tamanku. Dalam hatiku, aku tak henti-hentinya memuji gerakannya. Begitu ringan dan natural. “Pantas saja aku sudah menyukai setiap gerak tubuhnya sejak aku melihatnya pertama kali. Ternyata dia adalah seorang pelatih dance,” ucapku dalam hati.

Mataku begitu lekat memperhatikannya sampai-sampai aku tak menyadari bahwa latihan sudah usai.

“Bagaimana? Pelatih baru kami cakep kan?” tiba-tiba saja Gaeul sudah ada di dekatku.

“Eh…oh… latihannya sudah selesai ya?” ujarku gugup.

“Waahhh… Kenapa kau jadi gugup begitu? Kau naksir ya pada pelatih baru kami?” Gaeul tersenyum jahil. “Kan sudah ku bilang…kau pasti akan menyu….hmmph,” aku langsung membekap mulut Gaeul karena ku lihat pelatih itu sedang mendekat ke arah kami. Dan tiba-tiba jantungku kembali berdebar tak karuan.

“Gaeul ssi, aku minta kau berlatih lebih keras lagi. Aku sudah memutuskan kalau kau akan diikutsertakan dalam perlombaan kali ini. Gerakanmu sangat alami. Aku menyukainya,” ujarnya saat sampai di hadapan kami.

“Kau mengerti apa yang ku katakan Gaeul ssi?” tanyanya lagi saat melihat ekspresi Gaeul yang terbengong-bengong karena ucapannya tadi.

“Jeongmal sanbaenim?” tanya Gaeul tak percaya.

“Ne,” ujarnya mengangguk.

Seketika Gaeul langsung menjerit kegirangan dan memeluk tubuhku. Aku yang dari tadi hanya bengong menjadi sangat terkejut mendengar teriakannya.

“Apa kau dengar apa yang dikatakan Hyukjae sanbaenim tadi?” tanyanya bersemangat padaku. “Aku akan ikut dalam perlombaan kali ini Yeorum~a. Aku akan ikut!”

“Cukhaeyo…cukhaeyo…,” ujarku ikut bahagia untuknya.

“Kau?” Hyukjae sanbaenim tiba-tiba menunjuk ke arahku. “Kau temannya Gaeul ssi yang katanya mau ikut seleksi untuk masuk club kami kan?”

“MWO!!!” ujarku kaget setengah mati. Aku menatap sengit ke arah Gaeul. Minta penjelasan!

“Kemarin Gaeul ssi bilang ada temannya yang tertarik untuk bergabung dengan club kami. Apakah kau orangnya?” tanyanya lagi.

“Aaah… Ne sanbaenim. Yeorum-lah orangnya,” ujar Gaeul semakin membuatku terkejut. Aku menatap tak percaya kepadanya. Dia berpura-pura tak melihat tatapan memperingatkanku.

“Kalau begitu kita test sekarang saja,” ujar Hyukjae sunbaenim. Dalam waktu beberapa menit saja aku sudah mengalami tiga kali serangan jantung.

“Di sana saja.”

Kemudian Hyukjae sunbaenim berjalan menuju ke tengah arena latihan dan memanggil sang pelatih wanita yang sekarang sedang mengobrol dengan beberapa member club yang lain.

“Gaeul~a, kau apa-apaan sih? Apa maksudmu dengan mengatakan kalau aku ingin bergabung dengan club?” ujarku sambil menarik lengannya agar kami lebih ke pinggir arena.

“Mianhaeyo chingu. Aku cuma merasa kau sangat cocok dengan Hyukjae sunbaenim.”

“Aisshhh kau ini! Apa yang ada di dalam otakmu itu? Bisa-bisanya kau lakukan semua ini padaku hanya dengan alasan kau merasa kalau aku cocok dengannya. Otakmu itu memang benar-banar perlu diobati. Pabo!” omelku panjang lebar.

“Aigo… Ngomelnya nanti saja. Sekarang mereka sedang menunggumu untuk seleksi,” Gaeul menarikku menuju ke tengah arena latihan tempat di mana Hyukjae sunbaenim dan pelatih wanita yang aku tak tahu siapa namanya, sedang menungguku.

“Apa bisa dimulai sekarang?” tanya Hyukjae sunbaenim saat kami sudah berada di dekatnya dan aku langsung meringis mendengar ucapannya.

“Apa kau punya musik pengiring sendiri untuk mengiringi tarianmu?” Aku tak memperhatikan pertanyaannya. Aku hanya sibuk menatap ke arah Gaeul dengan tatapan mengancam.

“Apa kau punya musik pengiring sendiri?” tanyanya lagi, dan kali ini dia berhasil memfokuskan perhatianku kembali kepadanya.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi secara perlahan untuk menenangkan hatiku. “Aku akan mencoba gerakan yang kalian pelajari saat latihan tadi saja,” akhirnya aku memutuskan.

“Ok, mulai!” Hyukjae sunbaenim langsung menghidupkan tape yang ada di sampingnya.

Aku mencoba menirukan gerakan yang mereka latih saat latihan tadi. Aku baru melihatnya sekali, tapi itulah satu-satunya tarian yang bisa ku ingat saat ini walaupun aku tahu gerakanku sangat kaku. Aku memang sangat suka kalau melihat dancer-dancer sedang menari dengan gerakan yang rumit dan indah. Tapi sumpah, aku hanyalah seorang penikmat. Sama sekali tak pernah terpikir olehku kalau aku akan menjadi seorang dancer.

Kegugupanku semakin bertambah parah karena pandangan Hyukjae sunbaenim sama sekali tak pernah berpaling dariku. Tentu saja bukan karena dia jatuh cinta padaku seperti aku jatuh cinta padanya tapi melainkan karena dia sedang menilai gerakanku.

Akhirnya siksaan ini berakhir juga saat musik pengiring berhenti. Aku menarik napas lega karenanya. Sementara ku lihat Hyukjae sunbaenim dan pelatih wanita itu sedang berunding.

“Aku sangat terkejut karena kau bisa menghafal gerakan yang kami latih saat latihan tadi. Apa kau pernah mempelajarinya sebelumnya?” tanyanya.

“Mungkin dari Gaeul ssi?” tambahnya lagi dan aku menggeleng.

“Ne sunbaenim, aku tak pernah menunjukkannya kepada Yeorum sebelumnya,” ujar Gaeul bersemangat.

“Daya tangkapmu terhadap gerakan yang baru kau lihat satu kali sungguh mengesankan,” komentarnya.

“Bagaimana menurut pendapatmu Cheon Sa~ya?” tanyanya kemudian kepada pelatih wanita yang sejak tadi berdiri di sampingnya.

“Gerakannya masih sangat mentah. Aku tak mau mengambil resiko untuk memasukkannya ke dalam club kita. Kita hanya akan membuang banyak waktu untuk melatihnya” ujar Cheon Sa sunbaenim tajam.

“Tapi menurutku tidak begitu. Dia bisa menghapal gerakan rumit hanya dalam waktu singkat. Itu adalah modal besar untuk menjadi seorang dancer,” bela Hyukjae sunbaenim.

“Tapi daya ingat bukan modal utama dalam menari Hyukjae~ya. Aku tak bisa merasakan bakatnya dalam menari. Dia hanya akan merepotkan kita saja untuk mengajarinya.” ucapan Cheon Sa sunbaenim sangat membuatku sakit hati.

“Tidak ada orang berbakat manapun bisa menjadi luar biasa tanpa latihan, Cheon Sa~ya. Dan kau salah kalau mengatakannya tak berbakat. Menurutku justru dia sangat berbakat. Gerakannya cukup baik untuk seorang pemula,” Hyukjae sunbaenim terus membelaku. Membuatku Ge Er saja.

“Feelingku mengatakan dia tidak akan bisa!” ujar Cheon Sa sunbaenim tegas.

Hyukjae sunbaenim langsung tertawa mendengar ucapan Cheon Sa sunbaenim. Tawanya sangat renyah. Membuatku semakin terpesona padanya. “Sejak kapan kau mulai meragukan penilaianku, chingu? Dan sejak kapan kau begitu meyakini feelingmu itu?” goda Hyukjae sunbenim.

“Aishh…Hyukjae~ya! Kenapa kau selalu menggunakan kalimat itu untuk memaksaku menyetujui pendapatmu?” Cheon Sa sunbaenim terlihat kesal padanya.

“Tapi itu fakta, chingu. Feelingmu selalu meleset,” ledek Hyukjae sunbaenim.

“Kalau begitu kau putuskan sendiri saja!” ujar Cheon Sa sunbaenim, kemudian meninggalkan arena latihan begitu saja.

“Ok, Yeorum ssi, mulai saat ini kau adalah member club kami dan mulai besok kau harus ikut latihan bersama member yang lain. Kita latihan tiga kali seminggu. Informasi lebih detil tentang jadwal latihan, aku rasa Gaeul ssi bisa membantuku untuk menjelaskannya padamu.”

“Ne sunbaenim, aku pasti akan menjelaskannya pada Yeorum. Sunbaenim tenang saja,” jawab Gaeul bersemangat. Wajahnya yang tampak bersinar tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

“Baiklah kalau begitu. Aku duluan. Anyeong…”

“Anyeong…” jawabku dan Gaeul serentak saat Hyukjae sunbaenim berbalik dan meninggalkan arena latihan.

******

“Yeorum~a, aku senang sekali karena kau sekarang sudah menjadi member club kami. Itu berarti mulai besok aku akan berlatih bersama chingu-ku ini.” Gaeul tak henti-hentinya mengoceh tentang hal yang sama sejak kami meninggalkan studio latihan tadi.

“Tapi bagaimana kalau kau justru kehilangan sahabatmu ini tadi?” ujarku kesal padanya.

“Nde… Memangnya kenapa aku harus kehilangan kau?” tanyanya polos.

“Bagaimana kalau aku tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal gara-gara ulahmu tadi?” aku pura-pura merajuk padanya.

“Anniyo… Aku tahu persis kalau jantung chinguku ini sangan sehat dan kuat,” ujarnya sambil memukul pelan dadaku.

“Cih… Kau ini!” kelakuannya membuatku kehilangan kata-kata.

“Tapi gomawo chingu!” ujarku kemudian sembari melingkarkan lenganku ke bahunya.

“Gomawo? Waeyo?” tanyanya dengan tampang bodohnya. Aku jadi bertanya-tanya kenapa Donghae oppa yang sekeren itu bisa cinta mati dengan gadis sebodoh ini.

“Tanpa kau sadari, kau telah membantuku untuk lebih dekat dengan pria tamanku,” aku mengedipkan mataku padanya.

“Pria tamanmu? Apa hubungannya? Yeorum~a, aku tak mengerti,” Gaeul menghentikan langkahnya dan menjatuhkan lenganku yang melingkar di bahunya.

“Dasar pabo! Masa kau tak bisa menebaknya?” aku mendorong jidatnya saking kesalnya.

“Hyukjae sunbaenim adalah pria tamanku itu,” lanjutku.

“JEONGMAL???” teriaknya memekakkan telinga, membuat orang-orang di sekitar kami menoleh ke arah kami.

“Sshh… Pelankan sedikit suaramu,” ujarku membekap mulutnya.

“Jeongmal?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang bisa di dengar oleh kuping manusia normal.

“Ne,” jawabku.

“Oooo…. Aku sudah melakukan hal yang benar hari ini,” ujarnya girang.

“Ye… Untuk pertama kalinya,” ledekku.

“Yeorum~a, berhenti meledekku. Kau seharusnya berterima kasih padaku. Kalau bukan karena aku, belum tentu kau bisa bertemu lagi dengan pria tamanmu itu,” rajuknya.

“Ne…ne…ne… Go-ma-wo chingu,” ujarku tepat di depan wajahnya. Gaeul langsung memelukku saking senangnya. Dan kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang kami sambil tertawa-tawa.

Singkat kata sejak hari itu aku menjadi member club. Dan yang paling penting aku semakin sering bertemu dengan pria tamanku. Walaupun aku tak bisa bicara akrab dengannya, setidaknya aku bisa memperhatikan gerakan tarinya yang tiada duanya. Dia adalah pelatih yang hebat!

******

Ini adalah minggu keempat aku bergabung di club. Semua member sekarang berlatih keras mempelajari gerakan tari yang akan dibawakan dalam perlombaan nanti. Penyelenggaraan lomba itu hanya tinggal satu bulan lagi.

Walaupun member yang akan diikutsertakan dalam perlombaan nanti semuanya sudah ditetapkan, tapi Hyukjae sunbaenim tetap mengharuskan member yang lain melatih gerakan ini dengan baik. Katanya untuk berjaga-jaga. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi untuk ke depannya.

Sikap Cheon Sa sunbaenim terhadapku saat ini masih sama dengan sikapnya terhadapku di hari pertama kami bertemu. Dingin dan ketus. Terlihat sekali kalau dia tak menyukaiku.

Gaeul pernah bercerita kalau Cheon Sa sunbaenim dan Hyukjae sunbaenim sudah bersahabat sejak kecil dan mereka sangat dekat. Dan di club menyebar gosip bahwa Sangmi sunbaenim menyukai Hyukjae sunbaenim. Jadi menurutku itulah alasannya mengapa dia tak menyukaiku. Karena saat itu Hyukjae sunbaenim membelaku.

“Yeorum~a, maaf hari ini aku tak bisa pulang denganmu,” ujar Gaeul saat kami baru usai latihan.

“Waeyo?” tanyaku.

“Donghae oppa pulang hari ini. Aku akan menjemputnya di bandara,” ujarnya seperti mau meledak saking girangnya.

“Ne,” jawabku.

“Kau pasti senang sekali,” ujarku lagi dan langsung di sambut dengan senyum lebarnya.

 

Hari mulai gelap saat aku keluar dari studio latihan. Ku langkahkan kakiku menyusuri trotoar menuju ke halte bis terdekat.

Saat aku sampai di halte bis, aku melihat seorang pria sedang duduk sendirian di sana.

“Hyukjae sunbaenim?!” sapaku sembari sedikit membungkukkan badanku.

“Yeorum ssi?!” Hyukjae sunbaenim sedikit terkejut melihat kehadiranku, tapi kemudian dia tersenyum padaku.

“Baru mau pulang sunbaenim?” tanyaku kaku.

“Ne,” jawabnya singkat.

Kemudian aku duduk di bangku halte tak jauh darinya.

“Bagaimana rasanya setelah bergabung di club?” tanyanya kemudian.

“Aku baru tahu kalau menari itu lebih menyenangkan daripada sekedar melihat saja,” ujarku tersenyum.

“Ne. Saat menari kita bisa melepaskan semua emosi kita. Membuat hati merasa ringan karenanya,” ujarnya balas tersenyum padaku.

“Sunbaenim sepertinya sangat menyukai dunia tari?” tanyaku lagi.

“Ne,” ujarnya menganggukkan kepalanya.

”Tarian pula yang telah membuatku nekat meninggalkan keluargaku di Amrik dan datang ke Seoul,” tambahnya dengan mata menerawang.

“Jeongmal?!” tanyaku tak percaya.

“Ne,” jawabnya lagi. “Ayahku melarangku menjadi seorang dancer. Dia sangat membenci dunia yang ku tekuni ini. Setiap kali kami membicarakan masalah ini kami selalu bertengkar. Pemikiran kami sangat bertentangan sehingga aku memutuskan untuk ke luar dari rumah.” Aku hanya terdiam mendengar ceritanya.

“Yeorum ssi?!” panggil Hyukjae sunbaenim saat tak ada reaksi dariku. “Gwenchanayo?” tanyanya lagi

“Ye,” jawabku akhirnya. “Aku hanya merasa sangat sayang.”

“Waeyo?” tanyanya tak mengerti.

“Tentang hubungan sunbaenim dengan ayah sunbaenim.”

“Ooo….” hanya itu yang ke luar dari mulutnya.

“Apa sunbaenim tidak merindukan mereka?” tanyaku lagi.

Hyukjae sunbaenim menarik napas panjang. “Tentu saja aku merindukan mereka. Aku merindukan ibuku yang selalu bersikap hangat. Merindukan adik perempuanku yang sangat manja. Dan tentu saja aku juga merindukan ayahku. Walaupun kami sering bertengkar tapi aku tetap menyayanginya.”

“Sunbaenim sangat beruntung,” ujarku lirih. Hyukjae sunbaenim menatapku dengan penuh tanda tanya.

“Kalau sunbaenim mau memilih, sunbaenim bisa menemui mereka kapan saja sunbaenim mau. Tapi aku, walaupun menginginkannya setengah mati, aku takkan bisa menemui kedua orang tuaku karena mereka sudah tak ada lagi di dunia ini,” air mataku hampir menetes saat mengatakannya. Untung saja bis jurusan ke arah rumahku sudah datang sehingga berhasil membantuku menghalau air mata itu.

“Aku duluan sunbaenim, bis ku sudah datang,” ujarku sambil beranjak dari dudukku dan berjalan menuju bis yang pintunya sudah terbuka.

Saat aku baru saja akan melangkahkan kakiku untuk menaiki bis, Hyukjae sunbaenim memanggilku. “Yeorum~a, lain kali kalau di luar club jangan panggil aku sunbaenim. Panggil saja oppa.”

Aku mengangguk dan kembali melangkahkan kakiku masuk ke dalam bis dan meninggalkannya sendirian di halte itu.

******

Hari demi hari aku semakin dekat dengan Hyukjae oppa. Kami semakin sering saling bercerita saat kami menunggu bis untuk pulang ke rumah. Ya…halte bis seperti menjadi tempat favorit kami.

Sementara itu latihan di club semakin di perketat. Waktu perlombaan hanya tinggal sepuluh hari lagi. Hal ini membuat Hyukjae oppa dan Cheon Sa sunbaenim semakin gila-gilaan menggembleng tim yang akan turun dalam perlombaan itu.

“Ya, semuanya berkumpul dulu di sini,” panggil Hyukjae oppa saat kami baru akan memulai latihan sore ini. Semua anggota club langsung dengan sigap berkumpul di hadapannya.

“Kita sedang dalam masalah besar,” ujarnya dengan wajah sangat serius.

“Kemarin Jessica mengalami kecelakaan dan dipastikan dia tidak akan bisa ikut dalam perlombaan sepuluh hari mendatang,” ucapnya dan langsung disambut riuh oleh seluruh member club.

“Ini artinya kita harus mengadakan seleksi ulang untuk mencari penggantinya dan karena kita tak punya banyak waktu lagi, seleksinya diadakan hari ini juga,” lanjutnya lagi membuat suasana semakin riuh.

Akhirnya seleksi diadakan saat itu juga. Satu persatu member club yang wanita ditest termasuk aku. Dan sekarang kami tinggal menunggu keputusan dari Hyukjae oppa dan Sangmi sunbaenim tentang hasil seleksi itu.

“Siapa kira-kira yang akan terpilih menggantikan Jessica?” ujar Gaeul saat kami duduk di pinggir arena menunggu keputusan.

“Entahlah,” ujarku masih tetap memperhatikan Hyukjae oppa dan Cheon Sa sunbaenim yang terlihat sedang berdebat sengit di pinggir arena tepat di seberang kami.

Tak lama kemudian Hyukjae oppa kembali menyuruh kami berkumpul untuk mengumumkan hasil seleksi.

“Ok, kami sudah berdiskusi tentang hasil seleksi kalian tadi dan kami memutuskan yang akan menggantikan Jessica adalah….” Hyukjae oppa berdehem sejenak. “….. Park Yeorum.”

Seketika suasana menjadi riuh. Seluruh member yang lain langsung menyelamatiku saat itu juga. Sementara Gaeul yang dari tadi ku tahu menahan napas, karena sangat berharap akulah yang akan terpilih, kini meledak kegirangan dan tak henti-hentinya meloncat-loncat sambil merangkulku.

“Yeorum ssi, mulai besok kau akan bergabung dengan tim yang akan turun dalam perlombaan. Latihan akan diadakan tiap hari mulai dari sekarang. Jadi berlatihlah lebih keras,” ujar Hyukjae oppa langsung kepadaku dan aku langsung mengangguk mengiyakan.

“Kita pasti akan memenangkan perlombaan itu oppa,” janjiku dalam hati.

To Be Continue…..

BELIEVE YOUR HEART (Part 1)

Author              : Park Yeorum

FB                     : Bummie Viethree

Twitter             : @green_viethree

Email                : bummie_viethree@yahoo.com

Note                            : FF ini tercipta saat aku seang mabuk ma Unyuk sang mesin dance suju. Gara-garanya aku nonton video SM Town tahun 2008 di Thailand. Aura coolnya si Unyuk membara banget waktu nyanyi one love ma Junsu. Ampe bikin aku termehek-mehek ^_^

Yeorum POV

Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru taman. Berharap mataku bisa menemukan sosok yang sudah ku nanti selama lima tahun ini. Tapi harapanku selalu berakhir hampa. Karena aku memang tak pernah menemukan sosoknya kembali.

Kemudian aku berjalan ke bangku yang selalu kududuki setiap datang ke taman ini. Di bangku inilah pertama kali aku melihatnya dan sejak saat itu aku selalu memandanginya secara diam-diam, mengagumi setiap gerakannya yang tampak begitu ringan dan natural. Ya…body languege-nyalah yang membuatku selalu tertarik untuk memandanginya.

Sudah lima tahun dia pergi. Tujuannya adalah untuk mengejar wanita yang dicintainya. Walau demikian aku tetap menunggunya. Hatiku selalu mengatakan bahwa aku harus menunggunya. Jadi aku akan tetap menunggunya sampai hatiku mengatakan untuk berhenti menunggunya.

******

Lima tahun lalu….

“Ya, Yeorum~a, kenapa sudah seminggu ini kau berangkat pagi-pagi sekali? seingat oppa tak ada sekolah yang buka sepagi ini,” ujar Teukie oppa tiba-tiba mengagetkanku.

Teukie oppa adalah kakak kandungku. Umur kami terpaut 7 tahun. Dia satu-satunya keluarga yang ku miliki sekarang. Kedua orang tua kami sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu dia adalah segalanya bagiku. Dia menjadi umma, appa, oppa, sekaligus chingu bagiku. Dia selalu menjaga dan menyayangiku. Dia bilang, aku adalah hartanya yang paling berharga di dunia ini.

“Hehe…oppa, sudah bangun ya?” ujarku cengengesan. “Masih pagi oppa. Oppa tidur saja lagi. Maaf telah membuat oppa terbangun.”

“Kau belum jawab pertanyaan oppa. Mau ke mana sepagi ini?” tanyanya lagi padaku.

“Aaah…oppa. Ya ke sekolah lah, memangnya oppa pikir aku mau ke mana?” aku gugup karena harus berbohong padanya.

Teukie oppa memicingkan sebelah matanya dan berjalan mendekatiku. “Yeorum~a, apa kau lupa kalau kau tak bisa berbohong? Lihat hidungmu kembang kempis begitu. Itu tandanya kau sedang berbohong,” Teukie oppa menunjuk hidungku, membuatku secara otomatis memeganginya.

“Oppaaa…” rengekku manja.

“Ayolah jelaskan pada oppa,” Teukie oppa membujukku.

“Aku malu.” Aku bisa merasakan kalau wajahku bersemu merah sekarang.

“Kau ini apa-apaan sih? Aku ini kan oppamu, kenapa kau harus malu? Ayo jelaskan pada oppa,” perintahnya pura-pura galak.

“Sebenarnya…” aku mulai menjelaskan dengan terbata-bata. “…..sebelum ke sekolah aku mau mampir ke taman dulu.”

“Waeeee?” tanya oppa terkejut saat mendengar jawabanku yang memang terasa janggal. Untuk apa kau datang ke taman sepagi ini?”

“Mmmm….karena aku sedang menunggu seseorang,” ucapku pelan.

“Apa dia seorang namja?” oppa bertanya penuh selidik.

Aku mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaannya. Dan seketika muncul ekspresi jahil di wajahnya.

“Ne.. Ne.. Ne. Oppa mengerti sekarang. Ternyata dongsaeng kecil oppa ini sedang jatuh cinta,” oppa mengedipkan matanya untuk menggodaku dan aku hanya tertunduk malu karena kepergok olehnya.

“Ayo ceritakan pada oppa siapa namanya?” tanya oppa lagi. Dan aku menggeleng karena aku memang tak tahu nama pria tamanku itu.

“Apa dia seusiamu?” tanyanya lagi.

“Sepertinya hanya beberapa tahun lebih muda dari oppa,” jawabku.

“Dia tinggal dimana?” Aku kembali menggeleng. “Bekerja atau masih sekolah?” Lagi-lagi aku menggeleng.

“Ya, Yeorum~a, bagaimana kau bisa jatuh cinta pada orang seabstrak itu?” ujar oppa frustasi.

“Kau bahkan tak tahu siapa namanya, apa yang dia kerjakan, dan tinggal di mana. Kau harus berhati-hati. Bagaimana kalau dia seorang penjahat?” omel oppa panjang lebar.

“Aishh oppa ini! Jangan menakutiku. Aku yakin dia orang baik. Tak sedikitpun ada tanda-tanda di wajahnya yang menyatakan bahwa dia seorang penjahat,” ujarku kesal karena ucapannya tadi.

“Memangnya di wajah pria itu tertulis  ‘aku orang baik’ ya?” oppa menggodaku.

“Oppa…” rengekku manja. “Aku hanya belum mengenalnya saja. Selama ini aku hanya melihatnya dari jauh. Aku sama sekali belum pernah bicara padanya.”

“Mwo?” oppa semakin terkejut.

“Sudahlah oppa. Oppa tenang saja. Aku bisa urus masalah percintaanku sendiri. Ok,” ujarku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya.

“Aku berangkat dulu ya oppaku sayang. Do’akan agar dongsaengmu yang cantik ini dapat segera bertemu dengan pria abstrak itu hari ini.” Aku mencium pipi oppa sekilas dan langsung meninggalkannya sendiri yang masih terbengong-bengong.

******

“Aduh…dia ke mana sih?” ujarku gelisah karena orang yang kutunggu selama tiga minggu terakhir ini tidak juga muncul.

Ku lirik sejenak jam tanganku. Waktu sudah menunjukkan jam 7 lewat 15 menit. Akhirnya aku memutuskan bahwa penantianku untuk hari ini cukup sampai di sini. Aku harus segera ke sekolah. Aku sudah terlambat.

Ku hampiri sepedaku yang ku sandarkan di kursi taman tempatku duduk tadi. Lalu ku naiki dan ku kayuh sekencang-kencangnya menuju ke sekolahku.

Sampai di sekolah aku langsung berlari menuju ruang kelas setelah aku memarkirkan sepedaku di tempat parkir khusus sepeda. Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.

Bersyukur sekali rasanya, karena sewaktu aku tiba di kelas Lee sosaengnim belum ada di sana. Kalau tidak aku pasti akan dibantai oleh perawan tua yang kejam itu.

“Kau dari mana saja? Sudah hampir seminggu ini kau selalu datang terlambat tau,” cerocos Gaeul sahabatku. Kami telah bersahabat sejak hari pertama kami bersekolah di sekolah ini.

Aku baru mau menjawab pertanyaannya saat Lee sosaengnim, sang guru killer, memasuki kelas kami. “Nanti saja ku jelaskan padamu. Ok?” ujarku padanya sambil segera mengeluarkan buku pelajaranku.

******

Saat jam istirahat…

“Eit…eit. Kau berhutang penjelasan padaku,” tiba-tiba Gaeul sudah menarik kerah seragamku dari belakang saat aku buru-buru mau ke toilet.

“Gaeul~a…kau tenang saja, aku akan segera membayar hutangku itu padamu. Tapi sebelumnya tolong izinkan aku ke toilet dulu. Kalau tidak aku bisa pipis di sini,” ujarku sambil meringis menahan pipis.

“Ok!” jawab Gaeul singkat menyetujui permohonanku.

Aku langsung berlari ke toilet dan dalam waktu 10 menit aku sudah berada di hadapan Gaeul kembali.

“Nah, kalau sudah lega begini baru bisa bercerita dengan tenang.” Kemudian aku duduk di bangku yang ada di sampingnya.

“Kenapa sudah hampir seminggu ini kau selalu datang terlambat?” Gaeul mengulangi lagi pertanyaannya saat jam pelajaran matematika tadi.

Aku cengar-cengir tak jelas saat menjawab pertanyaannya. “Sebelum berangkat ke sekolah aku mampir dulu ke taman,” ujarku padanya kemudian.

“Waeyo? Apa yang kau lakukan pagi-pagi di sana?” tanyanya heran.

“Aku menunggu pria yang berhasil mencuri hatiku,” ujarku sembari memainkan ujung rambut panjangku.

“Mwo?! Kau sedang jatuh cinta?” Mata Gaeul yang indah seketika membesar saking bersemangatnya mendengar ceritaku.

Aku menganggukkan kepala untuk meyakinkannya. Sementara itu senyuman masih tetap mengembang di bibir mungilku.

“Siapa? Siapa?” tanyanya bersemangat.

“Nah…itu dia masalahnya….sampai sekarang aku belum tahu siapa namanya.” aku memonyongkan bibirku.

“Kok bisa?” tanyanya penasaran.

“Aku pertama kali melihatnya di taman sekitar dua bulan yang lalu. Waktu itu dia sedang joging. Aku sangat suka melihatnya saat dia sedang berlari. Tubuhnya tampak begitu ringan dan semua gerakannya tampak sangat natural,” ujarku mencoba mendiskripsikan sosok pria itu kepada sahabatku.

”Tapi sayang, sudah beberapa minggu ini dia sudah tak datang lagi ke taman,” tambahku lagi dengan nada menyesal.

“Hanya karena gerakan tubuhnya yang ringan bisa membuatmu jatuh cinta padanya?” tanya Gaeul heran.

Aku mengangguk mantap menjawab pertanyaannya.

“Dasar makhluk aneh!” Gaeul mendorong jidatku dengan telunjuknya. “Mana bisa kau jatuh cinta pada orang karena hal sesederhana itu?”

“Memangnya kenapa?!” ujarku tak setuju. ”Cinta bisa saja datang dengan cara yang sederhana kok. Tapi selalu bisa memberikan efek yang luar biasa bagi siapa saja yang merasakannya.”

“Hohoho…. Sejak kapan kau bisa mengatakan kata-kata seperti itu?” Gaeul menertawakan ucapanku barusan.

“Sejak hatiku dicuri oleh si pria taman.” Aku tertawa lepas dan kali ini Gaeul juga ikut tertawa bersamaku.

******

“Yeoreum~a, pokoknya hari ini kau harus ikut aku ke club!” tiba-tiba Gaeul sudah ada di sebelahku.

“Aigo…kau ini seperti hantu saja. Suka datang tiba-tiba. Membuatku terkejut saja.” Aku mengelus-elus dadaku saking kagetnya.

“Memangnya kenapa aku harus ikut ke club dancemu itu?” tanyaku kemudian.

“Kami punya pelatih baru,” ujarnya bersemangat.

“So?” ujarku tak tertarik.

“Pelatihnya cowok, keren, gerakan dancenya cool banget,” ujarnya seperti mau meledak.

“Trus kenapa?” tanyaku lagi masih tetap tak tertarik.

“Aaah…aku tahu,” ujarku tiba-tiba bersemangat. “Kau naksir pada pelatih baru itu kan?”

“Ckckck. Gaeul~a, kau mulai berfikir untuk selingkuh ya?” tuduhku. “Donghae oppa, tabahkan hatimu. Kekasihmu ini sudah mulai bermain hati. Kau juga sih, ngapain coba lama-lama di Amrik sana?” Aku menengadahkan kepalaku ke arah langit dan membuat ekspresi penuh keprihatinan.

“Aniyo…aku takkan menggantikan Donghae oppaku dengan siapapun,” Gaeul menggembungkan pipinya karena kesal. “Aku ingin memperkenalkannya padamu. Siapa tahu kau bisa jatuh cinta dengan orang yang lebih jelas bentuknya. Lebih real!”

“Ya, Gaeul~a! Apa maksudmu bicara seperti itu? Pria tamanku itu sangat nyata. Dia bukan khayalan. Pabo!” aku menjitak kepalanya.

“Aisshh, terserah apa katamu,” ujarnya sambil menggosok-gosok kepalanya yang sakit akibat jitakanku. “Pokoknya kau harus ikut denganku hari ini!” Gaeul menarik tanganku dengan paksa untuk mengikutinya. Sementara aku hanya bisa pasrah karena seperti biasanya aku takkan pernah bisa menang melawannya.

******

“Kau tunggu di sini sebentar ya chingu. Aku mau ganti baju dulu,” ujar Gaeul saat kami tiba di studio latihan mereka.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Suasana studio masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang ada di tengah-tengah arena latihan. Mereka sedang melakukan pemanasan.

“Hmm….ternyata anggota club ini sangat disiplin. Walaupun pelatih mereka belum datang, mereka sudah langsung melakukan pemanasan tanpa diperintah,” pikirku.

“Kau sedang lihat apa?” Gaeul berbicara tepat di telingaku. Membuatku kaget saja.

“Aigo…. Gaeul~a! Bisa tidak kau berhenti bersikap seperti hantu? Selalu muncul tiba-tiba. Membuat orang kaget saja!” aku mengelus-elus dadaku, berusaha menenangkan jantungku yang berdetak kencang karena terkejut.

“Hehehe… Sorry, chingu. Aku tak bermaksud mengagetkanmu.” Aku memanyunkan bibirku tanda kesal.

“Yeorum~a, kau duduk di sini saja dulu. Aku mau pemanasan dulu ok,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku dan langsung berlari menuju ke tengah-tengah arena latihan yang kini mulai ramai.

Aku memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan Gaeul. Diam-diam dalam hati aku memujinya. Sepertinya Gaeul memang dilahirkan untuk menjadi seorang dancer.

Ceklek!!!

Beberapa saat kemudian aku mendengar pintu studio terbuka. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang. Sepasang laki-laki dan perempuan sedang berjalan menuju ke tengah-tengah arena latihan sambil mendiskusikan sesuatu.

Jantungku langsung berdegup kencang saat mengenali laki-laki yang baru saja datang itu. “Bukankah itu dia?!” jerit hatiku. “Dia pria tamanku!”

To Be Continue…..