Dark Not Allways Black (Part 1)

Author: Kim Ga-Eul a.k.a Quen Bee

Donghae POV

Oppaaaaa……gatchi gabsida…!!”

Mwo…..???” Teriakku saat melihat Yeorum tengah berlari mengejarku.

Gatchi gabsida……”

Palli waaa…”

Desah nafasnya tersengal setelah ia sampai sambil menahan tangan di lutut.

Oppa, waeire…? Kenapa kau meninggalkanku dan pulang duluan.” Rajuknya.

Miyanhae Yorum-a, tadi oppa lihat kapal Choi Ajeossi sudah merapat, mungkin eomma dan appa sudah pulang dan sedang menunggu kita.”

Ongguraeyo? Kalau begitu ayo cepat oppa.” Tariknya.

Gaja…” Balasku. Kamipun berjalan beriringan.

TAR!! Petir di siang hari dalam awan mendung yang sedari tadi menutupi langit mengejutkan kami. Sepertinya badai semalam belum akan berakhir.

Oppaaaa…” Yeorum menggenggam lenganku kuat.

“Kau takut?” Tanyaku.

Dia mengangguk.

“Kau tidak akan merasa takut lagi sekarang.” Ujarku sambil meraih tangannya. “Oppa akan selalu bersamamu.”

Yeorum tersenyum lalu menggenggam jari-jariku.

Tes…tes…tes…perlahan-lahan butiran hujan membasahi bumi.

Palli Yeorumbi.

Ne….”

Kami berlari dengan cepat. Perlahan-lahan semak belukar disekitar kami mulai basah. Hujan benar-benar lebat dan sepanjang jalan setapak ini tak ada tempat berteduh. Tiba-tiba…duk!

“Awwww….”

“Yeorum-a weire?”

Yeorum tersandung batu, dia meringis kesakitan.

Oppa.. apho…apho oppa…” Tangisnya.

Gokjonghajimarayo…gwaenchana. Irona.” Pintaku.

Yeorum mencoba berdiri. Tapi, “Aw…, apho oppa…”

Lututnya berdarah, dia tak mungkin kuat berjalan sampai ke rumah.

Gurae, naiklah, biar oppa menggendongmu.” Pintaku.

“Mmm…” Jawabnya sambil menyeka air mata. Sesekali isak tangis mirisnya menahan sakit terdengar di telingaku.

“Sudahlah, tak apa-apa hanya luka kecil. Nanti sampai di rumah eomma akan mengobati lukamu. Arachi?”

Ara oppa.”

Sunyi sesaat.

Oppa….” Panggil Yeorum lagi.

“Hm…”

“Kenapa eomma dan appa selalu meninggalkan kita dan pergi melaut?”

Waeyo? Kau tidak suka?”

Ong…aku hanya selalu merasa kesepian di rumah kalau tak ada eomma dan appa. Oppa juga akan pergi merajut jala sepulang sekolah. Sedangkan aku hanya sendirian memasak sambil menunggu semuanya pulang. Benar-benar sepi oppa.”

Aku berfikir sebentar.

Arayo, lain kali oppa akan merajut jala di rumah saja menemanimu.”

Guraeyo oppa?” Tanyanya girang dengan gerakan yang membuat aku hampir kehilangan keseimbangan.

Ne… Yeorum-a pegangan yang erat nanti kau bisa jatuh.”  Ingatku padanya.

Arasso oppa…” Yeorum mempererat rangkulannya ke leherku.

Oppa…”

Ne…”

“Aku tak ingin kau menjadi nelayan.”

Waeyo?”

Keunyang…apa oppa tidak merasa kalau menjadi anak nelayan seperti kita sangat kasihan. Apa oppa ingin anak-anakoppa juga kesepian seperti kita?”

“Lalu kau ingin oppa menjadi apa?” Ku hentikan langkahku untuk mengambil nafas. Yeorum berat juga, nafasku mulai tersengal, tapi kakinya pasti masih sakit. Ku pererat gendonganku.

“Aku ingin oppa menjadi polisi, atau tentara, dokter boleh juga. Pokoknya pekerjaan yang tidak membawa oppa ke laut. Atau oppa bisa jadi artis yang muncul di tivi, jadi aku bisa melihat oppa setiap hari di layar kaca, hehehehe…eottohke oppa?”

“Memangnya kau akan seumur hidup tinggal di sisi oppa?”

WaeyoOppa shireoyo?”

Ani…oppa akan senang sekali kalau kita bisa selalu bersama. Tapi kau juga nanti akan tumbuh jadi wanita dewasa, menikah dan punya anak. Kalian akan punya keluarga sendiri. Nah, saat itu kau harus mengurus dan menjaga mereka dengan baik. Apa kau akan membiarkan mereka kesepian seperti kita juga?”

Ani…aku akan menemani mereka, aku akan selalu bersama mereka.”

“Nah itu berarti kau akan berpisah dengan oppa.”

WaeyoOppakan bisa tinggal bersama kami. Aku akan menyiapkan sebuah kamar untuk oppa agar kita bisa tinggal bersama.”

“Lalu apa kau juga akan memboyong istri dan anak-anak oppa semua ke dalam rumahmu?” Tanyaku balik.

“Kalau maebunim tidak keberatan, mengapa tidak?”

“Ah maebunimmu nanti pasti akan keberatan.”

Waeyo oppa?”

Aku berhenti lagi sebentar mengambil nafas.

“Karena kami pasti akan kerepotan menambah satu lagi anak manja sepertimu.” Candaku, sambil tertawa.

“Ahh…oppa aku bukan anak manjaaaa…..”

Gurae, kalau begitu selalulah menjadi anak yang kuat, tegar, dan mandiri. Jangan selalu mengandalkan orang lain. Selagi masih ada oppa, eomma dan appa kau masih bisa berkeluh kesah, tapi kalau kami sudah tak ada kau harus lebih kuat Yeorum-a.Arasso?”

“Mm…arasso oppaGeunde…oppa…”

Ne…”

“Berjanjilah kalau kita akan selalu bersama selamanya.”

Aku terdiam. Maut, jodoh dan rezeki merupakan tiga hal yang tak pernah bisa diketahui kapan datangnya. Jika aku berjanji pada Yeorum lalu suatu hari aku tak menepati, bukankah itu akan menjadi sebuah kebohongan baginya. Apa yang harus kujawab? Haruskah aku mengiyakannya?

Oppa… Kenapa tidak menjawab?”

“Hm…..arasso.” Balasku dalam hujan yang membasahi kami berdua.

Beberapa meter menjelang sampai ke rumah, dari kejauhan kulihat banyak orang yang berkerumun.

“Donghae-ya…..!!!” Teriak Bibi Go. Sontak semua mata memandang ke arah kami. Bibi Go menangis, beberapa wanita lain juga menangis. Kuturunkan Yeorum dari punggungku perlahan.

Ahjuma, weire? Tanyaku cemas.

“Donghae-ya, Yeorum-a, eomma dan appa kalian ….. Eomma dan appa kalian….” Bibi Go bicara terputus-putus, tangisnya makin menjadi.

Weire ahjuma? Eomma, appa waeyo?” Tanyaku bingung.

Yeorum juga diam dalam kebingungannya.

“Yeorum-a, Donghae-ya, badai semalam telah menenggelamkan perahu yang eomma dan appa kalian tumpangi. Sampai tadi pagi orang–orang kampung dan beberapa nelayan desa beserta nelayan dari desa tetangga telah mencarinya. Namun sampai saat ini keduanya tak jua di temukan. Hanya perahu juragan Choi yang selamat beserta lima awaknya, yang lainnya juga tak ditemukan. Kami kira eomma dan appa kalian sudah meninggal, tenggelam bersama ombak yang menerjang perahu mereka semalam.” Bibi Go tetangga kami mengabarkan sambil memeluk Yeorum dalam tangisannya.

Mwo??? Anieyo… ahjuma, ahjuma no nungdamieyo?” Tanyaku meyakinkan diri. Tapi hanya gelengan kepala darinya dan orang-orang disekitar yang kudapatkan. Kakiku mundur beberapa langkah, kepalaku tertunduk lemas, lututku bergetar, aku tersungkur dalam hujan.

ANDWAEEEEEEEEEEEE………EOMMA, APPA…ANDWAEEEEE.” Teriakku.

☺☺☺☺☺

Namaku Lee Donghae. Adikku Lee Yeorum tiga tahun di bawahku, kami baru saja menyelesaikan sekolah menengah kami. Kami telah ditinggal pergi kedua orang tua kami yang bekerja sebagai nelayan beberapa waktu lalu. Seperti yang diberitakan, perahu eomma dan appa tergulung ombak ketika badai menerjang saat itu. Tak ada upacara kematian, tak ada pemakaman, ataupun abu yang bisa disebarkan. Jasad keduanya tak di temukan bersama beberapa nelayan lain yang melaut pada saat yang bersamaan. Ini adalah hal yang biasa terjadi di desa nelayan. Saat kalian turun ke laut, nyawa akan menjadi tak ada harganya, semua orang di desa ini paham sekali akan hal itu. Aku dan Yeorum hanya berusaha tegar untuk melewati hidup kami berikutnya.

Oppa, kita mau kemana?” Tanya Yeorum saat aku mengajaknya berkemas-kemas.

“Ke kota.” Jawabku pelan.

“Ke tempat siapa?” Tanyanya lagi.

Kuhentikan aktifitasku, aku menatapnya dalam. Matanya kecil seperti eomma dengan tulang pipi yang sedikit tinggi sepertiappa. Hidung kami sama, dengan senyum yang kata orang seperti senyum eomma. Memang gen eomma lebih banyak melekat pada kami di banding appa. Sungguh tak tega mengatakan, bahwa kami tak punya tujuan setelah sampai di kota. Aku memeluknya perlahan. Bau tubuh Yeorum seperti eomma, bahkan aku akan memeluknya lebih erat dalam tidur jika aku merindukan eomma danappa.

“Yeorum-a, oppa belum tahu kita akan ke tempat siapa. Karena seperti yang kau tahu kita tak punya saudara di sana. Tapioppa berjanji akan selalu menjagamu. Oppa percaya kita bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik di sana.”

“Tapi aku takut oppa?”

Waeyo?”

“Aku takut jika kita sampai di kota, aku akan kehilanganmu oppa, seperti Bibi Go yang kehilangan putranya.”  Kecemasan tergambar jelas di wajahnya. “Oppa, jika kau tak ada, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Lalu aku harus bagaimana?”

“Yeorum-a tenanglah, kau tak akan pernah kehilangan oppa, kita akan selalu bersama. Kau akan selalu oppa bawa kemana saja, gokjonghajimaseyo.” Pintaku sambil mendekapnya pelan.

Anak Bibi Go tetangga kami, tiga tahun yang lalu juga memutuskan merantau ke kota. Namun setelah beberapa bulan di sana dia dikerjai sekumpulan berandalan dan akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Ini menjadi berita yang menggemparkan desa. Awalnya para tetangga juga melarangku. Beberapa keluarga yang selama ini berhubungan baik dengan kami bersedia menampung Yeorum selama aku ke kota. Tapi untuk berapa lama? Sedangkan Yeorum tak ingin berpisah denganku, akupun tak tega membiarkan dia seorang diri. Ini semua pastilah berat untuknya. Aku telah bertekad tak ingin bergantung pada orang lain. Lagi pula aku berharap Yeorum bisa meneruskan sekolahnya, dan pendidikan di kota jelas jauh lebih baik dari di desa. Pertanyaanya, dengan apa Yeorum akan ku sekolahkan? Sedangkan uang untuk berangkat sekarang saja adalah hasil penjualan ikan eomma dan appa terakhir kali, yang jumlahnya juga tak banyak.

Aku melepas pelukanku sedikit, lalu menatapnya lagi. “Yeorum-a, oppa berjanji apapun yang terjadi kita akan selalu bersama selamanya.”

Yaksok?”

Aku mengagguk.

☺☺☺☺☺

Ibu kota yang menggiurkan, membuat lelaki tanggung sepertiku tergoda untuk mengadu nasib di bawah rengkuhanya. Menjauhi kapal api yang membawa kami meninggalkan desa,  dengan punggung menyandang ransel berisi beberapa helai pakaian, kami saling bergandengan tangan.

Yeorum tertidur dengan kepala menyandar di bahuku saat kami telah berada di dalam bis yang menuju pusat kota. Kelehan tersirat dalam lena tidurnya.

“Yeorum-a, irona…sudah sampai.” Aku membangunkannya ketika bis yang kami tumpangi berhenti di terminal terakhir.

“Oaaaahhhh…. Eodie oppa?” Tanyanya.

“Entahlah,  kita turun saja dulu.”

Ini sudah malam. Saat kami meninggalkan bis itu, lampu-lampu yang terang benderang dengan beraneka warna telah menghiasi Seoul. Lama kami berjalan tak tentu arah.

Eodigayo oppaHimdero oppa.” Yeorum mulai mengeluh.

Mianhae, oppa juga tak tahu kita akan kemana, tapi tenang saja Tuhan bersama eomma dan appa pasti akan melindungi kita.”

Yeorum menggosok-gosok matanya.

“Yeorum-a, ayo naik.” Kataku sambil berjongkok, setelah menurunkan ransel dari punggungku.

“Mmm…???”

“Ayolah, oppa tahu kau masih mengantuk. Biar oppa menggendongmu agar kau bisa tidur.” Pintaku dengan senyum yang tak mungkin dilihatnya.

Ne….” Yeorum merangkulkan lengannya  ke leherku.

Akhirnya setelah lelah berjalan dengan Yeorum yang terlelap di punggungku, aku berhenti di sebuah emperan toko. Kuletakkan dia hati-hati, lalu kualaskan tas yang tadi disandangnya sebagai bantal. Tak jauh, aku melihat seorang ahjuma yang menjual kue. Aku berjalan menuju wanita itu dan segera kembali.

“Yeorum-a, irona. Kau belum mengisi perutmu dengan apapun sejak kita pergi, makanlah ini. Oppa sudah membelikan kue ikan untuk kita.”

Yeorum mengucek-ucek matanya. Lalu mengambil sepotong kue ikan dari tanganku.

☺☺☺☺☺

Sudah berhari-hari berjalan mengitari Seoul yang katanya memiliki banyak lowongan pekerjaan ternyata hanya tipuan belaka. Dan, sudah dua hari ini aku dan Yeorum belum makan apapun juga. Kami hanya tidur di jalanan, saat toko-toko yang tidak buka 24 jam tutup, lalu paginya akan di usir si pemilik karena dianggap mengganggu aktifitas mereka. Malangnya, uang yang kami miliki sudah di copet saat hari ketiga kami sampai di ibu kota. Menjadi pengemis??? Tidak!! Aku tak serendah itu, aku masih kuat dan ingin bekerja menghidupi adikku. Tapi pekerjaan apa yang bisa kulakukan.

Oppaaa…baegophayo…” Yeorum memelas dengan air mata padaku. Kuraba keningnya, sepertinya dia demam. Debu jalanan, mengotori wajahnya yang ayu. Sisa air mata semalam meninggalkan bekas seperti anak sungai yang kering di pipinya. Semalaman dia menangis merindukan eomma dan appa. Kini akulah eomma dan appanya, aku tak akan membiarkan dia menderita. Kupeluk tubuh yang sudah jauh lebih kurus semenjak kami meninggalkan desa. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

Tak jauh dari tempat kami menggelandang, kulihat sesosok ahjuma bertubuh tambun baru saja turun dari mobil mewah yang tak kuketahui mereknya. High heelsnya berdetak-detak, bulu topi di atas kepala berayun-ayun mengikuti langkah kakinya. Dia menuju toko kue yang tampak dari arah sini.

“Pelayan, bungkus ini, ini dan ini.” Katanya yang terdengar sangat jelas di telingaku. Mungkin deretan kue lezat yang menggiurkan hingga membuat air liur Yeorum menetes sedang di borongnya. Dia mengeluarkan dompet. Kupikir dia akan membayar dengan uang tunai, namun ahjoma itu hanya menarik sepotong kartu, lalu memberikannya pada pelayan itu.  Tapi aku jelas melihat lipatan-lipatan uang kertas  mengisi dompet mahalnya yang masih terbuka.

Sekelebat bayangan muncul dalam pikiranku.

“Donghae-ya, sesulit apapun hidup yang kau alami nantinya, jangan pernah melakukan perbuatan tercela. Kita boleh miskin harta, namun haruslah kaya jiwa.” Nasehat appa terakhir kali sebelum badai itu.

Oppa, bae gophayo….” Yeorum menatap mataku sayu.

Hatiku teriris-iris melihatnya. Kutarik nafasku dalam-dalam.

“Yeorum-a, gidariseyo, jangan kemana-mana, oppa akan segera kembali. Arachi?”

“Mmm….” Sahutnya dengan tatapan sayu.

Entah setan dari mana yang berbisik padaku. Tanpa pertimbangan aku menuju ke arah ahjoma itu, dan dengan cepat menyambar dompet, lalu berlari sekuat tenaga menjauhinya. Ya Tuhan, aku baru saja mencuri, bisik hatiku.

“Copet….copet…!!” Kudengar teriakan ahjoma itu, namun aku berusaha untuk tak perduli. Tapi aku salah perhitungan. Secepat semut yang mengerubungi gula, secepat itu pula orang-orang mengepung dan menyeretku ke kantor polisi.

Buk….buk…buk… Entah sudah berapa pukulan yang kuterima. Ini adalah pertama kalinya perbuatan hina ini kulakukan, dan aku langsung tertangkap. Para petugas itu menuduhku komplotan pencopet jalanan dan ingin membuatku mengaku dengan terus memukuliku. Tapi apa yang bisa kukatakan, aku tak tahu menahu tentang orang-orang yang mereka bicarakan.

Dalam dinginnya sel penjara, eomma datang padaku.

“Donghae-ya anakku sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kalian berdua baik-baik saja?” Tanyanya. ”Eomma dan appasangat merindukan kalian.”

Eomma, aku dan Yeorum sangat merindukanmu, saaangaaat merindukamu.”

“Donghae-ya, eomma dan appa sangat sedih dan kecewa atas apa yang terjadi pada kalian. Eomma merasa malu untuk menemui Tuhan karena telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang tak menyenangkan. Begitu singkat waktu kita untuk bersama namun hanya jalan keluar yang buruk yang bisa kau lakukan untuk bertahan  hidup bersama adikmu. Eomma benar-benar merasa bersalah telah meninggalkan kalian seperti sekarang.”

Eomma, mian…mianhae eomma, jongmal mianhae eomma. Aku berjanji tak akan pernah melakukan perbuatan itu lagi. Aku menyesal, sungguh-sungguh menyesal eomma.” Pintaku pada eomma.

Eommaku terus menangis sambil menggeleng.  Perlahan-lahan kabut tebal membuat jarak diantara kami. Seolah ada sebuah kereta tak terlihat yang menarik eomma pergi, beliaupun menghilang dari hadapanku.

Eomma…eomma.” Aku berusaha menggapainya namun sia-sia.

Akupun tersentak dari tidurku.

Eommaappa aku berjanji kalau aku tak akan pernah mengecewakan kalian berdua lagi. Bisik hatiku lirih.

Tiga hari dalam tahanan, dan entah siapa yang menjadi penjaminku, akhirnya aku keluar dari sel polisi itu.  Setelah membuat laporan, aku melangkah menghirup udara bebas kembali. Di ujung gang tiba-tiba seseorang menutup mataku, menyumpal mulutku, mengikat kaki dan tanganku. Aku mencoba untuk melawan, tapi percuma saja. Kudengar deru suara mobil, aku bisa merasakan kalau aku mulai bergerak meninggalkan tempat semula dan aku dibawa entah kemana.

“Buang dia!” Terdengar perintah seseorang. Tubuhkupun terguling. Aku tak tahu ini dimana, dan mengapa aku di bawa kemari. Tak perlu menunggu lama, hingga kurasa ada orang yang membopongku menjauhi tempat aku ditinggalkan tadi.

Saat mataku bisa bekerja dengan leluasa, aku telah berada di depan sebuah gedung tua yang terkungkung oleh deretan bukit disekitarnya. Tempat yang bersih dengan udara yang segar. Mereka yang tadi menemukanku, mendorongku tanpa suara untuk masuk ke dalam. Lorong-lorong tinggi dengan cahaya seadanya menjadi pemandangan saat aku dipaksa menuju ke sebuah ruangan gelap. Didudukkan di kursi besi yang dingin dengan borgol yang masih melingkar di pergelangan tangan, seolah-olah aku penjahat kelas kakap.

Kemudian seorang pria bertubuh kekar, berpakaian rapi dengan langkah tegap berjalan ke arahku dan duduk tepat di hadapanku. Raut wajahnya tidak menunjukkan kalau dia orang yang ramah.

“Nama?”

“Lee Donghae.”

“Umur?”

“Delapan belas.”

“Asal?”

“Mokpo.”

“Pekerjaan?”

Aku menggeleng.

“Pendidikan?”

“Aku baru menyelesaikan Senior High Schoolku.”

“Kau punya ijazah?”

Aku mengangguk.

Dia membuka rantai borgolku. Pria kekar tadi, sebutlah Mr. X bernegosiasi denganku. Cukup lama kami berdiskusi, iming-iming yang dijanjikannya sangat menarik.

Eottohke??” Tanyanya.

Aku terdiam.

“Bisakah kalian menjamin keamanan adikku?”

“Kami menyanggupinya.” Balas Mr. X.

Tergiur dengan tawarannya, aku mengagguk dan menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan walau itu berbahaya.

“Jadi, kapan kau akan bergabung?” Tanyanya.

Resiko pekerjaan ini sangat tinggi. Aku hanya memiliki Yeorum seorang, dan aku tak ingin sesuatu terjadi padanya.

“Berikan aku waktu untuk mencari dan menempatkan adikku dengan aman.” Pintaku.

“Ok! Orangku, (dia menunjuk seseorang yang entah sejak kapan ada di belakangku) akan memberitahumu pertemuan berikutnya.”

Aku mengangguk, lalu dia menyuruhku keluar.

Sampai di depan bangunan tua itu, perlakuan yang sama kuterima kembali. Diangkut dengan deru mobil dan ditinggalkan di tempat aku diciduk awalnya. Untunglah itu tak jauh dari kantor polisi jadi aku masih bisa mengira-ngira posisiku. Aku melangkah melewati bangunan yang pernah menjadi penginapanku selama beberapa hari kemarin. Tapi, siapa itu? Ah Yeorum, kulihat dia duduk di depan pos penjagaan bersama seorang gadis.

Oppaaaa……” Teriaknya begitu dia melihatku. Kami berpelukan.

Oppa, mereka bilang kau telah pergi sedari tadi. Aku bingung tak tahu harus mencarimu kemana? Oppaa…aku cemas sekali kalau aku tak bisa bertemu kau lagi.” Tangisnya di pelukanku.

Yeorum, mianhae, oppa menyesal telah melakukannya.” Ucapku memohon.

Gwaenchana oppa, arasso.” Ucapnya saat dia melepaskan pelukanku.  “Oppa, ini Gaul Eonni yang menolongku kemarin.”

Aku merendahkan kepalaku sedikit sambil mengucapkan terima kasih.  Dia hanya tersenyum.

Gaja, jibe gayo.” Kata gadis itu.

Jibe???” Tanyaku bingung.

Ne oppa, Gaul Eonni bersedia menerima kita di rumahnya untuk sementara waktu.” Jelas Yeorum padaku.

Jinca?” Tanyaku tak percaya. Gadis yang dipanggil Gaul itu hanya tersenyum.

Aku tak punya pilihan, walau hati berat aku juga tak punya tujuan. Akhirnya aku melangkahkan kaki bersama mereka.

☺☺☺☺☺

“Masuklah.” Ujar Gaul setelah kami sampai di rumahnya.

Gomawo.” Balasku canggung.

Rumah Gaul adalah rumah atap di bagian atas sebuah rumah susun di area sempit yang cukup jauh dari pusat kota. Nasibnya tak jauh berbeda dengan kami. Orang tua sudah tak ada, saudara juga tak punya. Gaul bekerja sebagai pelayan toko kue di tempat pencurian yang kulakukan waktu itu. Dia melihat Yeorum menangis-nangis sambil terus memanggil namaku

“Aku hanya tinggal sendiri. Di sini ada dua kamar, aku akan sekamar dengan Yeorum, sementara kau bisa memakai kamar yang satunya lagi. Ayo kutunjukkan kamarmu.” Ajaknya.

Aku mengikuti langkahnya dengan Yeorum yang menggandeng lenganku. Gaul mengantarku memasuki sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali empat.

“Kau pasti lelah, istirahatlah. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri. Kami akan membangunkanmu setelah menyiapkan makan malam.” Dia tersenyum. Sejujurnya senyuman itu telah menggetarkan hatiku.

Ne oppa, kamar mandinya ada disana, kalau oppa mau bersih-bersih dulu. Aku akan membantu eonni memasak.” Yeorum tertawa kecil lalu mengikuti Gaul menuju dapur. Gaul gadis yang baik hati, walau tak saling kenal, di tambah kasus yang kulakukan kemarin dia masih saja tetap bisa menerima kami.

☺☺☺☺☺

“Gaul-a, nomu-nomu gamsahamnida atas pertolongannya. Aku tak tahu harus bagaimana  membalas budimu.” Ujarku memulai pembicaraan kami di teras depan malam harinya.

Gwaenchana, aku senang kalian ada disini.”

“Soal kejadian kemarin, aku….” Aku bingung harus menjelaskannya.

Gwaenchana, aku tak mempersoalkannya, dan kau tak perlu mengungkitnya lagi. Aku percaya kau bukan orang seperti itu, lagi pula tidak semua yang gelap itu hitam.

Aku tertegun mendengar penuturannya. Yah, tidak semua yang gelap itu hitam, Gaul benar.

“Aku akan segera mencari pekerjaan, agar kami tak merepotkanmu, kemudian kami bisa pergi dari sini.”

“Kalian akan pergi?” Tanyanya.

“Kami tak mungkin selamanya menjadi bebanmu.” Balasku.

Gaul terdiam,wajahnya berubah murung.

“Donghae-ya, aku sadar kita bukan keluarga, dan aku juga tahu akan bagaimana pandangan tetangga tentang kita. Tapi….tidak bisakah kau dan adikmu tinggal bersamaku. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Ketika Yeorum kubawa ke rumah ini, aku telah menjadikannya bagian dari hidupku, tentu saja kau sebagai oppanya juga kuterima dengan hati terbuka. Tapi jika kau berkata ingin pergi, aku merasa akan ada bagian yang hilang dari hidupku. Kuharap kau bisa mengerti.”

Aku tak membalas ucapannya. Dia segera meninggalkanku menuju kamar di tempat Yeorum kini terlelap. Setelah kejadian itu hubungan kami agak sedikit kaku.

Beberapa hari kemudian, seperti yang telah disepakati, aku melihat pria yang waktu itu dijanjikan akan menjemputku. Kuhampiri namun tidak langsung menyapanya. Kami berpapasan lalu dia setengah berbisik di sampingku. “Datanglah dua hari lagi saat tengah malam.”

Aku mengangguk, setelah dia menyelipkan sehelai kertas petunjuk lalu pergi kearah yang berlawanan denganku.

Aku kembali ke rumah. Ini sudah sore, Gaul sudah berganti shift melayani toko majikannya, dan kini ia bersama Yeorum sedang menyiapkan makan malam.

“Gaul-a.” Panggilku. “Aku ingin  bicara denganmu sebentar.”

Ne..” Jawab Gaul sambil membersihkan tangan pada celemek yang tersampir di bahunya. Adikku masih sibuk memotong-motong wortel. Aku mengajak Gaul menjauhi Yeorum.

“Gaul-a, aku tahu kau kecewa dengan ucapanku waktu itu. Tapi sungguh aku tak ingin merepotkanmu. Kami pendatang baru dalam hidupmu, dan aku tak berharap kalau kami akan menjadi beban bagimu.”

“Aku tak pernah mengaggap kalian sebagai beban.” Bantahnya.

Kutatap matanya, kami saling terdiam.

“Baiklah, kalau kau memang tak keberatan, aku dan Yeorum akan tetap bertahan di sini.”

Guraeyo?” Tanyanya tak percaya.

Aku mengagguk.

Gomawo Donghae-ya.” Kebahagiaan kini tergambar lagi di wajahnya.

“Aku yang harusnya berterima kasih.”

Chonmaneyo.” Sahutnya cepat.

“Satu lagi, aku sudah mendapatkan pekerjaan, dan selama beberapa waktu ini mungkin tidak bisa pulang. Setiap bulannya aku berjanji akan mengirimkan uang pada kalian, dan kuharap kau bisa menjaga Yeorum selama aku tak ada.”

Dia mengerinyitkan alis saat aku menyebut kata ‘uang’.

“Kenapa harus mengirim uang? Aku tak suka. Bagiku kalian adalah keluargaku. Kau tak perlu mengkhawatirkan Yeorum lagi. Aku akan berusaha semampuku.”

“Kalau kau menganggapku keluarga, maka kau harus mengijinkan aku membantu biaya hidup kita. Bukankah memang sepantasnya setiap anggota keluarga saling membantu?” Balasku.

Dia berfikir sebentar. “Baiklah, aku mengerti, aku akan sangat menghargai dukunganmu. Gomawo karena bersedia tinggal bersamaku.”

“Aku akan berangkat tengah malam secara diam-diam dua hari lagi. Aku tak ingin Yeorum mengetahuinya, karena mungkin saja adikku itu tak akan mengizinkanku meninggalkannya.”

“Memangnya apa pekerjanmu?”

“Sekarang ini aku belum bisa menjelaskannya, namun suatu hari aku pasti akan memberitahumu. Aku hanya ingin kau percaya padaku.” Aku mencoba untuk meyakinkannya.

“Baiklah, kau bisa mengandalkanku.”

“Maaf jika aku merepotkanmu.” Sesalku.

Ani, kau bisa percayakan Yeorum padaku.” Ujarnya.

Dua hari setelah itu aku berangkat seperti yang direncanakan. Dalam kegelapan malam saat menuruni tangga, dari lampu kamar mereka aku bisa melihat sosok Gaul mengantar kepergianku. Gomawo Gaul-a, bisik hatiku.

☺☺☺☺☺

Tiga tahun kemudian.

Ya…jebloskan dia ke dalam penjara!!!” Pria berseragam yang tadi menangkapku memerintahkan anak buahnya untuk membawaku ke ruangan dingin berjeruji besi. Persis seperti tiga tahun yang lalu. Pukulan, cacian, makian menemani hari-hariku selama interogasi. Tuduhan yang dilontarkan padaku kali ini adalah gembong pengedar narkotika. Hahahaha….cocok sekali mungkin. Rambut panjang berantakan, dengan jambang yang tak terurus, selain itu tubuh kurusku terkesan seperti seorang pemakai. Kurasa tuduhan itu masuk akal. Orang yang melihat pertama kali pasti juga akan langsung mencuirigaiku sebagai penjahat.

Mereka menangkapku di pasar kumuh saat aku sedang buang air kecil di sudut kios yang gelap. Mungkin memang ada yang baru bertransaksi, karena aku memang berpapasan dengan dua orang yang sekilas dapat kulihat wajahnya. Tapi…hei bukankah itu dia? Pria yang tadi?

Ya…kau gembel yang tadi di belakang kami ya?” Tanyanya.

Aku mengagguk. “ Huh…gara-gara kalian aku jadi tertangkap.” Balasku.

Pria itu berkulit putih, dengan baju tanpa lengan yang jelas kebesaran serta jins belel yang robek di bagian paha dan lutut. Tulang pipa terlihat di lehernya. Mengingat tubuh cekingnya yang amat sangat kurus. Jika ia adalah pengedar, mungkin dia juga pemakai, pikirku. Wajahnya tak jauh berbeda denganku, lebam dengan bengkak biru serta darah merah yang masih segar di bibirnya. Baru dipukuli juga.

“Hyukjae.” Ucapnya sambil mengangsurkan tangan dengan percaya diri.

“Fishy…” Balasku.

“Tenang saja, kita akan segera keluar.” Ujarnya.

“Kita?”

“Hm…aggap saja kita berteman sekarang.”

Aku hanya mengangguk tak percaya sambil menggaruk kepalaku yang gatal. Mungkin makhluk kecil yang disebut kutu juga sudah bersarang di sana.

Hyukjae benar, esoknya polisi yang berjaga hari itu meminta kami keluar tahanan.

“Apa ku bilang, mereka tak akan bisa menyentuh hyong.” Kata Hyuk yang kini melangkah dengan ringan. “No, odigayo?” Tanyanya padaku saat kami sudah di luar gerbang.

Aku menggeleng.

“Aku mengamati kau sudah menggelandang selama ini. Kupikir kau lumayan. Ikutlah denganku, hyong pasti tak keberatan menambah satu orang lagi.”

Aku tak menunjukkan minatku, namun aku juga tidak menolak. Hanya mengikuti arah kakinya melangkah.

☺☺☺☺☺

Beberapa bulan kemudian.

Kami berdiri berjauhan (aku dan Hyukjae) di bawah sebuah jembatan di pinggir Sungai Han. Riak air yang dihembus angin terdengar merdu di telingaku. Ini sudah dini hari, dan transaksi akan terjadi beberapa saat lagi. Dari kerlap-kerlip lampu jembatan aku bisa melihat Hyuk memainkan batangan korek api di mulutnya. Tubuhnya bersandar malas. Dia hanya memakai kaos tanpa lengan yang kebesaran (favoritnya). Yah ini sudah musim panas. Yeorum, apa yang sedang kau lakukan. Oppa sangat merindukanmu, bisik hatiku. Lalu anganku melayang.

==========================================================

Kenangan Donghae sepuluh tahun lalu.

“Oppa…palli wa!” Panggil Yeorum padaku

“Waeyo?” Tanyaku tergesa-gesa  keluar kamar.

“Tadaaa….” Yeorum mengangsurkan sebungkus gulungan harum manis berwarna merah jambu dari balik punggungnya padaku.

“Darimana kau mendapatkannya?” Tanyaku penasaran.

“Aku membelinya di pasar bersama appa tadi siang.”

“Mmm…, makanlah.” Ujarku.

“Ani…aku mau memakannya bersama oppa. Ja oppa kita duduk di teras sambil memandang laut dan langit musim panas, lalu mendoakan eomma dan appa supaya bisa pulang  dengan selamat dengan membawa tangkapan ikan yang baaanyak.” Cerocosnya sambil menarik paksa tanganku menuju beranda.

Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahnya.

“Yeorum-a.”

“Ne…” Yeorum menoleh sambil terus mengemut harum manis di tangannya.

“Kalau sudah besar kau ingin jadi apa?” Tanyaku.

“Nanun?” Tanyanya balik.

Aku mengangguk, sambil mencomot harum manis  dalam plastik. Manis sekali.

“Akuuu…mau jadi orang kaya.”

“Waeyo?”

“Karena orang kaya punya banyak uang.”

“Ong…lalu uangnya akan kau apakan?”

“Aku akan belikan eomma dan appa rumah yang besar dan kapal yang besar, supaya eomma dan appa tak perlu bekerja lagi. Dan aku juga akan membelikan oppa motor yang  paling bagus, jadi oppa tak perlu meminjam sepeda Choi Ajeossi lagi untuk pergi menjahit jala ke desa sebelah. Kita sekeluarga bisa selalu berkumpul bersama. Eottohke oppa?”

“Guraeyo?”

“Hmm… Oahh…..” Yeorum mulai mengantuk, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kau sudah mengantuk? Ayo kita masuk.”

“Ani, aku mau disini dulu bersama oppa.” Pintanya.

“Arasso.”

Bintang-bintang berkelap-kelip dengan indahnya, bulan purnama juga bersinar dengan terangnya. Eomma, appa semoga tangkapan kalian kali ini lebih banyak dari biasanya, doaku dalam hati.

Malam itu Yeorum tertidur nyenyak di bahuku.

==========================================================

“Ehem…ehem…” Hyuk memberi sinyal padaku. Seorang pria mendekatinya, lalu barang haram itu telah berpindah tangan ke pemiliknya yang baru. Kami segera meninggalkan tempat itu.

Esoknya.

“Hyukjae-ya, aku tidak akan bekerja dalam beberapa hari ini.”

Wae?”

“Aku ingin pulang sebentar.”

“Tapi pesanan kita sedang banyak.” Bantahnya.

“Ah…kau saja yang bekerja sendiri. Beberapa hari lagi adalah peringatan kematian orang tuaku. Aku ingin mengunjungi makam mereka.” Aku berbohong.

Arasso.” Dia mengakhiri pembicaraan kami. Lalu turun ke bawah.

Hyukjae, teman yang membawaku ke dalam dunia kelam ini. Dia mengenalkanku pada bosnya yang salah satu bandar besar narkotika di Seoul. Mereka mempercayaiku dan menerimaku sebagai bagian dari mereka. Sejak hari itu aku bergabung dengan sindikat yang masuk dalah daftar hitam target pencarian polisi saat ini.

Di luar perkiraanku, Hyukjae, walau awalnya hanya seorang kurir pengantar, namun tak pernah memakai barang haram itu untuk dirinya sendiri. Dia hanya bekerja untuk mendapatkan uang demi kebutuhan hidup. Dunia memang kejam. Hyuk juga tak punya siapa-siapa lagi. Appanya mati karena over dosis, eommanya yang juga pemakai tewas saat menyayat diri sendiri untuk mengatasi sakaunya karena tak sanggup untuk membeli barang itu.  Hyuk melihat semua itu didepan matanya. Sebenarnya Hyuk sangat benci pekerjaan ini, namun lilitan hutang yang ditinggalkan orang tuanya  membuat Hyuk nekad menjadi pengedar.

☺☺☺☺☺

 

Aku kembali ke toko kue tempat aku melakukan aksi pencopetanku yang pertama. Toko itu sudah sedikit berbeda, tapi aku tahu itu tempat yang sama. Mengulang kejadian yang dimainkan ajuma tambun, aku memesan sekotak cake besar yang berhiaskan cream dengan lingkaran stroberi yang menggiurkan. Tak lupa kutanyakan perihal Gaul. Namun ternyata Gaul sudah tak bekerja di sana lagi sejak setahun yang lalu.  Pelayan ini tak mengetahui kemana Gaul pergi, namun seorang pelayan senior memberitahuku alamat Gaul yang bisa di kunjungi. Aku bisa merasakan kedua pelayan tadi ketakutan saat menatapku.

Berbekal secarik kertas petunjuk, aku menyusuri jalanan mencari toko kue milik Gaul sendiri. Cukup lama berputar-putar di kawasan yang baru kali ini kulewati. Aku melihat papan toko bertuliskan “YEORUM CAKE”. Yeorum Cake? Mungkin ini maksudnya. Begitu kulongokkan kepala mengintip melalui etalase kaca, aku melihat seorang wanita memakai celemek berenda menyampingiku sedang menghias kue bundar penuh cream berlemak.

Kutarik bel yang  berada di depan pintu. Seorang gadis keluar dengan tergesa menuju kaca etalase tempat kue-kue dipamerkan.

Ne….ada yang bisa saya bantu ajossi?” Serunya ramah. “Yang istimewa di hari ini,  kami punya cake pelangi dengan strawberry di atasnya, puding cokelat serta…..” Gadis itu berhenti bicara saat dia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya.

Mata itu, hidung itu, bibir itu, seperti lukisan ganda yang dulu pernah kulihat. Ini Yeorum, Yeorum nae dongsaeng. Yeorum yang kini sudah tumbuh besar dengan raut wajah yang mengingatakanku pada sosok wanita yang telah melahirkanku. Lama aku menatapnya. Bahkan air mata yang tumpah tak terasa telah menganak sungai.

Ajeossi…ajeossi…..?? Waeyo?” Panggilnya.

Bruk…. Kotak kue yang kubawa terjatuh, isinya mungkin sudah berantakan.

Dia tak mengenaliku. Tentu saja, aku juga sudah jauh berubah. Jambang lebat yang tumbuh di wajahku menyamarkan siapa aku.

TBC

Credit: http://elfalwayslovesuperjunior.wordpress.com/

Chingu ya, ff ini buatan dr sahabatku Kim Ga-Eul. Udh pernah publish di blog kami bersama. Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya ya . Selamat membaca ^_^

MY EVERYTHING

Theme     : Romance

By             : Park Yeorum

FB             : Bummie Viethree

Twitter    : @green_viethree

Email        : bummie_viethree@yahoo.com

Note         : FF ini adalah ff pertama yang bisa ku selesaikan dengan sempurna. Butuh waktu kurang ± 1 minggu bagiku untuk menyelesaikan kerangka besarnya dan hampir satu bulan masa editing. So selamat membaca. Semoga kalian suka dan jangan lupa tinggalkan kiritik serta saran kalian di kotak comment ^_^

 

 

Donghae POV….

Aku berlari menyusuri koridor rumah sakit secepat yang bisa kuusahakan. Tapi semakin kupacu, kakiku terasa semakin lambat. Sementara itu, Kibum dan Kyuhyun berlari di belakangku. Mereka berusaha mengimbangi langkahku. Ku pacu lebih cepat lagi langkah kakiku. Rasa sakit yang menyeruak di dadaku tak ku hiraukan. Yang aku tahu aku harus segera sampai ke tempat tujuanku.

*****

1 jam yang lalu…..

Aku sedang berlatih dance di studio SM bersama-sama dengan member Super Junior yang lain. Besok kami harus tampil di acara tahunan dream consert dan hari ini latihan kami yang terakhir untuk acara itu.

Tiba-tiba menejer Lee yang sedari tadi mengawasi kami memanggilku.

“Donghae~a, ada telepon untukmu,” ujarnya sembari mengulurkan ponselku yang dipegangnya.

Aku segera menghampirinya dan mengambil ponsel yang diulurkannya padaku. “Gamsahamnida,” ujarku pada menejer lee.

Yoboseyo,” sapaku saat kutempelkan ponsel itu di telingaku. Suara Jinho hyung, kakaknya Gaeul, menyambutku dari seberang.

“Hyung, ada apa menelponku malam-malam begini? Kau kangen padaku ya? Atau Ara yang memintamu melakukan ini? Karena dia malu mengatakan kalau dia merindukanku sehingga dia memintamu yang melakukan ini untuknya?” candaku.

Aku dan Jinho hyung memang suka sekali menggoda Gaeul. Terlebih saat dia gengsian untuk mengungkapkan perasaanya secara terbuka terhadapku.

“Donghae ah, dengarkan aku!” Suara Jinho hyung terdengar sangat serius. Aku sedikit terkejut mendengar nada bicaranya. Tidak biasanya dia berbicara dengan nada seperti itu. Biasanya calon iparku ini suka sekali kalau diajak menggoda adik kesayangannya itu.

“Hyung ada apa?” tanyaku, mengubah nada bicaraku sedikit lebih serius karena sepertinya Jinho hyung sedang tidak berniat untuk bercanda.

“Apa kau bisa ke rumah sakit sekarang juga?” tanyanya padaku.

“Ada apa sebenarnya, hyung?” Kini aku mulai cemas karena dia menyebut-nyebut rumah sakit .

“Donghae~a,” Jinho hyung menghela napas panjang, “Gaeul… Dia mengalami kecelakaan. Sekarang dia dirawat di Hangyang University Hospital. Aku harap kau bisa ke sini secepatnya.”

Kepalaku serasa dihantam benda keras mendengar ucapan Jinho hyung barusan.

“Gaeul kecelakaan? Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyaku panik.

“Aku tak bisa menjelaskannya lewat telepon. Apa kau bisa ke sini sekarang?”

“Ya,” jawabku cepat.

“Usahakan secepatnya!” Jinho hyung mengakhiri pembicaraan kami.

Aku termangu di tempatku berdiri dengan ponsel masih menempel di telingaku. Otakku masih mencoba mencerna kata-kata Jinho hyung barusan. Perlahan-lahan akhirnya aku mulai mengerti. Gaeul, satu-satunya gadis yang berhasil mengisi relung hatiku selama tujuh tahun ini mengalami kecelakaan. Tapi bagaimana mungkin bisa terjadi? Baru sekitar satu jam yang lalu aku menelponnya. Mendengar suara tawanya yang ceria. Tapi sekarang entah bagaimana keadaannya.

“Hyung, ada apa?” tiba-tiba Kibum sudah berada di sampingku, menyadarkanku.

Aku tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya bergegas mengemasi barang-barangku. Pikiranku juga masih linglung.

“Donghae~a, ada apa?” Leeteuk hyung mengulangi pertanyaan Kibum.

Setelah mamasukkan semua barang-barangku ke dalam tas, akhirnya aku berbalik menghadapi mereka. Semua member kini sedang menatap kepadaku dengan rasa ingin tahu.

“Gaeul mengalami kecelakaan,” ujarku dengan suara tercekat. “Aku harus ke rumah sakit sekarang juga!”

Semua member sangat terkejut mendengar jawabanku.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanya Eunhyuk prihatin.

Aku menggeleng lemah. “Aku tidak tahu bagaimana persisnya.”

“Aku pergi…” Aku membalikkan badanku untuk meninggalkan mereka.

“Hyung,” panggil seseorang ketika aku sampai di ambang pintu. Ku balikkan lagi badanku dan ternyata Kibum yang memanggilku.

“Aku ikut. Kau tak boleh nyetir dalam kondisi panik seperti ini,”ujarnya lagi.

Aku mengangguk mengiyakan permintaannya.

“Aku juga,” kali ini si bungsu Kyuhyun juga ikut bersuara.

*****

Kembali ke masa sekarang….

Akhirnya aku sampai di depan ruang ICCU. Di sana sudah ada Paman dan Bibi Cho, orang tuanya Gaeul. Mereka terduduk lemas di kursi ruang tunggu, saling bersandar satu sama lain. Di wajah mereka tersirat kesedihan yang bercampur kecemasan yang amat sangat.

Jinho hyung yang sedari tadi berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang ICCU langsung menghampiriku saat melihat kedatanganku.

“Bagaimana keadaannya?” tanyaku masih dengan napas ngos-ngosan.

“Kami belum tahu. Dokter masih memeriksanya,” jawabnya.

Tiba-tiba seorang dokter ke luar dari ruang ICCU. Paman dan Bibi Cho yang sedari tadi duduk saling bersandar, langsung berdiri. Aku, Jinho hyung, Kibum dan Kyuhyun juga ikut mengerubungi dokter itu.

“Bagaimana keadaan putri kami, Dok?” ujar Paman Cho penuh harap.

“Saya harap semuanya bisa tenang. Kecelakaan yang dialami pasien sangat serius. Kecelakaan itu menghancurkan kaki kirinya. Dan tidak ada pilihan lain…. kakinya harus diamputasi,” ujar dokter itu.

Bibi Cho tak mampu lagi membendung air matanya. Seketika tangisnya pecah mendengar kondisi putri kesayangannya saat ini. Dia menangis tersedu-sedu dalam pelukan suaminya.

Sementara aku hanya berdiri kaku di tempatku. Aku tak mampu mempercayai apa yang baru saja ku dengar. Kakiku serasa tak mampu lagi menopang tubuhku agar tetap berdiri tegak. Untung ada Kibum dan Kyuhyun memegangiku dari belakang.

Hatiku benar-benar sakit membayangkan orang yang sangat aku cintai harus melalui sisa hidupnya hanya dengan satu kaki. Penderitaan seperti apa yang akan dia rasakan setiap harinya. Terlebih dia takkan bisa menari lagi. Sementara balet adalah hidupnya. Bagaimana dia bisa melewati semua ini? Bagaimana dengan impiannya? ‘Ya Tuhan, ini akan sangat menyakitkan baginya,” jeritku dalam hati.

“Operasi ini harus dilakukan sesegera mungkin,” dokter menjelaskan lagi. “Pasien saat ini masih dalam kondisi kritis. Kalau ditunda-tunda kakinya akan membusuk. Dan ini akan lebih membahayakan nyawanya.”

Seketika aku langsung maju ke hadapan dokter dan menggenggam tangannya. “Dok, pasti ada cara lain untuk menolongnya kan? Tidak harus dengan amputasikan, Dok? Dia seorang penari. Mana mungkin hanya dengan sebelah kaki, Dok.”

Dokter menggelengkan kepalanya. “Ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya. Jangan terlalu lama mengambil keputusan.”

Dokter itu kembali masuk ke ruang ICCU. Kini aku benar-benar kehilangan semua kekuatanku. Pertahanan yang kubangun sejak tadipun akhirnya runtuh. Dan tanpa ku sadari setetes air mata jatuh dipipiku. Aku mengerang, mencoba menghilangkan rasa sakit di dadaku. Tapi rasa sakit itu malah bertambah parah sekarang.

Kibum dan Kyuhyun yang dari tadi berdiri tak jauh dariku, menghampiriku. “Hyung duduklah dulu,” ujar Kyuhyun sembari membawaku ke kursi yang ada di dekat kami berdiri. Aku benar-benar kacau sekarang.

“Hyung, kau harus tegar. Kau tidak boleh ikut-ikutan menjadi lemah. Kalau kau lemah siapa yang akan menopang Gaeul nantinya? Siapa yang akan menjadi tempat bersandarnya?” ujar Kibum bijak. Anak ini jarang sekali berbicara, tapi kalau sudah bicara setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti mutiara.

Jinho hyung memelukku, menepuk-nepuk punggungku, mencoba memberikan ketenangan padaku, walaupun hatinya sendiri pasti sedang sangat hancur mengingat kondisi adik yang sangat disayanginya saat ini.

“Kau harus lebih tabah Donghae~a. Mulai hari ini kaulah yang akan menjadi penopang bagi Gaeul. Jadi kau harus lebih kuat. Jangan membuat Gaeul menjadi lebih hancur karena harus melihatmu seperti ini,” ujarnya di telingaku.

Apa yang dikatakan Kibum dan Jinho hyung benar. Aku harus kuat! Gaeul butuh penopang yang kuat untuk hidupnya di masa mendatang. Pikiran ini berhasil membuatku sedikit lebih tegar.

*****

Satu minggu sudah Gaeul terbaring di ruang ICCU dan tak sadarkan diri. Operasi sudah dilakukan sesuai dengan saran dokter. Semua berjalan dengan lancar. Sekarang kami hanya bisa menunggunya sadar untuk melihat bagaimana reaksinya nanti. Dan tak seorang pun yang berani membayangkan reaksi seperti apa yang akan diberikan Gaeul ketika mengetahui bahwa kaki kirinya sudah tak ada. Ini akan menjadi sangat sulit, pikirku.

Aku sengaja meminta izin kepada menejer untuk tidak mengikuti semua jadwal manggung super junior sejak malam Ara kecelakaan. Aku ingin selalu berada di sisinya. Aku tak mau meninggalkannya sendirian.

Aku tercenung memandangi wajah gadis yang sangat ku cintai, yang sekarang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Matanya yang biasanya berbinar indah, kini tertutup rapat. Bibirnya yang selalu membentuk senyum indah untukku, kini diam tak bergerak. Wajahnya yang selalu merona kemerahan, kini begitu pucat. Begitu banyak kabel-kabel alat bantu yang dipasangkan ke tubuhnya. Namun bagiku dia tetap gadis tercantik yang memiliki jiwa terindah yang pernah ku kenal.

*****

Tujuh tahun yang lalu….

Hari ini adalah hari pertama tahun ajaran baru. Seperti biasa, kegiatan sekolah dibuka dengan upacara penyambutan para siswa baru. Dan ini adalah kali pertama aku melihatnya.

Dia berdiri di barisan paling depan di antara murid-murid baru. Dia begitu menonjol di antara yang lainnya. Wajahnya sangat cantik dan lembut. Sikap tubuhnya penuh dengan keanggunan. Pribadinya yang menyenangkan membuatnya sangat mudah untuk disukai oleh teman-temannya.

Gaeul adalah juniorku saat aku masih bersekolah di Sun Hwa Arts Senior High School, sebuah sekolah khusus seni yang terdapat di kota Seoul. Aku sudah menyukainya sejak pertama aku melihatnya. Tapi dia begitu sulit untuk didekati. Dia sedikit tertutup dengan makhluk yang berjenis kelamin laki-laki. Selain itu sikapnya yang begitu anggun dan bijaksana membuatku tak percaya diri untuk mendekatinya. Aku tidak yakin dia akan menyukai seorang yang childish seperti aku.

Waktu pun berlalu dengan cepat. Sekarang aku sudah duduk di kelas tiga, sementara Gaeul di kelas dua. Tapi sampai saat ini aku masih saja hanya berani memandanginya dari kejauhan.

Gaeul mengambil jurusan khusus clasical ballet di sekolah kami, sementara aku mengambil jurusan khusus modern dance. Gaeul sangat menyukai balet dan impian terbesarnya adalah menjadi seorang penari balet profesional. Gerakan tarinya sangat indah. Aku sering melihatnya latihan secara diam-diam. Ini sangat mudah bagiku karena studio latihan jurusan modern dance dan clasical ballet terletak bersebelahan.

Suatu hari aku sedang latihan dance sendirian di studio. Saat itu perhatianku sedang benar-benar tercurah pada gerakan-gerakan rumit yang coba kuciptakan sampai-sampai aku tak menyadari kehadiran seseorang di ruangan itu. Aku baru menyadarinya ketika latihanku usai dan ada yang bertepuk tangan dari arah belakangku.

Aku membalikkan tubuhku, mencari asal suara dan Gaeul ada di sana.

“Tarian Sunbaenim sangat bagus,” ujarnya tersenyum padaku.

Ini kali pertama aku melihatnya tersenyum langsung padaku dalam jarak yang relatif dekat. Ternyata aku telah salah mengapresiasikan dirinya selama ini. Dia jauh lebih cantik dari yang telah ku lihat setahun belakangan ini. Seketika aku menjadi begitu gugup dan tak bisa berkata apa-apa.

“Aku sering memperhatikan dari luar saat Sunbaenim sedang berlatih. Gerakan-gerakan yang Sunbaenim ciptakan sangat berenergi dan bersemangat. Aku sangat menyukainya,” ujarnya lagi masih tetap tersenyum kepadaku.

“Kau sering memperhatikanku latihan?” tanyaku tak percaya. Dan dia mengangguk mengiyakan.

“Apa kau mengenalku?” tanyaku lagi masih dengan nada tak percaya.

Dia tertawa mendengar pertanyaanku. “ Bagaimana mungkin aku tidak mengenal Sunbaenim? Sunbaenim sangat terkenal di kalangan para cewek di sekolah kita. Aku sering sekali mendengar nama Sunbaenim disebut-sebut oleh teman-temanku saat mereka sedang menggosip.”

“Perkenalkan namaku Gaeul. Cho Gaeul,” tiba-tiba dia mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya dengan kikuk.

“Lee… Donghae,” ujarku terbata.

“Maukah Sunbaenim mengajariku ngedance?”

“Kau mau belajar dance?” ujarku, surprise saat mendengar permintaannya. “Bukankah kau menyukai balet? Kau tidak berniat untuk ke luar dari balet dan pindah jurusan kan?”

Sunbaenim tahu kalau aku sangat menyukai balet???” Matanya membesar karena terkejut. Membuatnya terlihat lucu.

“Ah… aniyo!!! Aku hanya pernah melihatmu latihan dan gerakanmu sangat indah. Ku pikir tidak mungkin kau bisa menari seindah itu kalau tidak sangat menyukainya,” ujarku mengelak, mencoba menutupi kenyataan bahwa aku sering memperhatikannya.

“Analisa Sunbaenim tepat sekali. Aku sangat menyukai balet, tapi bukan berarti aku tidak boleh belajar tarian yang lain kan?”

“Kau serius mau belajar?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk bersemangat.

“Kalau begitu datanglah kemari setiap kali kau punya waktu luang.”

Singkat kata, sejak hari itu kami semakin dekat. Awalnya hanya menari kegiatan yang kami lakukan bersama. Lama-lama kami sering menghabiskan waktu berdua.

Setelah enam bulan hubungan kami menjadi begitu dekat. Aku memberanikan diri untuk mengatakan perasaanku terhadapnya. Dan tak disangka-sangka ternyata Gaeul memiliki perasaan yang sama terhadapku. Ternyata dia juga sudah menyukaiku sejak pertama kali dia melihatku.

Selanjutnya Gaeul menjadi bagian penting dalam hidupku. Dia selalu ada di sisiku, disetiap moment penting dalam hidupku. Dia yang begitu mendukungku untuk mengikuti audisi yang diadakan SM Entertainment sampai akhirnya aku menjadi seperti sekarang.

Gaeul juga setia berada di sisiku disaat terhancur dalam hidupku yaitu ketika Appa yang begitu aku cintai meninggalkanku untuk selama-lamanya. Dia begitu sabar mendampingiku. Tak sekejap pun dia membiarkan aku sendirian dalam keterpurukanku. Sampai-sampai saat itu dia membatalkan keberangkatannya ke Canada untuk mengikuti sebuah kompetisi balet internasional. Kompetisi yang sudah menjadi impiannya sejak lama.

“Aku akan punya kesempatan yang jauh lebih baik suatu saat nanti. Saat ini yang terpenting dalam hidupku adalah tetap berada di samping Oppa,” ujarnya saat mencoba meyakinkanku bahwa keputusannya itu adalah yang terbaik untuk saat itu. Dan dia membuktikan ucapannya. Beberapa bulan berikutnya dia berhasil memenangkan kompetisi balet terbesar tingkat dunia di Jerman. Saat menerima trofi kemenangan dia menyebutkan namaku di urutan pertama dalam pidato kemenangannya dan dia mempersembahkan kemenangan itu sebagai kado ulang tahun terindah untukku.

Begitu besar cinta yang Gaeul berikan untukku, hingga aku merasa sudah memiliki semua cinta yang ada di dunia ini. Dan aku pun mencintainya begitu dalam. Memberikan seluruh kebahagiaan yang aku miliki dalam hidupku kepadanya menjadi impian terbesar dalam hudupku.

*****

Kembali ke masa sekarang…

Pagi ini aku kembali ke dorm Suju. Hanya untuk membersihkan badan dan berganti pakaian. Setelah itu aku langsung kembali lagi ke rumah sakit yang terletak di Haenghang-dong District itu. Aku tak mau ketika Gaeul sadar aku tak berada di sampingnya.

Saat aku sampai di depan kamar tempat Gaeul di rawat, aku mendengar kegaduhan dari dalam kamar. Ada suara yang begitu aku kenal. Suara yang selalu memberikan kebahagiaan tersendiri bagiku saat aku mendengarnya. Ya…itu suara Gaeul. “Dia sudah sadar sekarang,” pikirku. Tapi suaranya sekarang terdengar begitu memilukan bagiku. Gaeul sedang menangis.

Menyadari apa yang sedang terjadi, aku semakin mempercepat langkahku. Tanpa pikir panjang ku putar knop pintu dan ku dorong daun pintu hingga terbuka.

Di dalam aku melihat Paman dan Bibi Cho serta Jinho hyung sedang berkutat mencoba menenangkan Gaeul yang menangis histeris. Tak seorang pun menyadari kehadiranku sampai aku bersuara.

“Gaeul~a….” Ucapanku menggantung, karena saat itu aku memang tak tahu harus mengatakan apa lagi. Tapi suaraku mampu membuat semua orang yang ada di ruangan ini menyadari kehadiranku.

Seketika semua orang yang ada di ruangan itu terdiam, termasuk Gaeul. Aku melangkahkan kakiku untuk mendekatinya. Aku ingin sekali memeluknya. Menyandarkan semua kepedihannya saat ini di dadaku. Tapi baru beberapa langkah aku berjalan, “ANDWE!!!” Gaeul menjerit histeris. Melarangku untuk mendekatinya.

ANDWE! JANGAN MENDEKATIKU!” teriaknya sekali lagi.

Teriakannya itu membuat langkahku terhenti. Aku tak percaya dengan reaksi yang diberikan Gaeul. Aku benar-benar tak menyangka dia akan bersikap seperti ini terhadapku.

“Gaeul~a…ini aku. Donghae Oppamu,” ujarku mencoba menenangkannya sembari kembali melangkahkan kakiku untuk mendekatinya.

ANDWE!!!” teriaknya lagi dan jauh lebih memilukan dari yang tadi. Gaeul mencoba menjauhkan dirinya sejauh mungkin dariku sampai dia terjatuh ke lantai.

Seketika aku dan semua orang yang berada di ruangan itu tersentak kaget. Aku segera berlari ke arahnya untuk memeriksa apakah dia terluka dan mencoba untuk membantunya kembali ke tempat tidur. Tapi tangis Gaeul semakin menjadi ketika aku mencoba mengangkatnya. Dia menepiskan tanganku dan mendorong tubuhku agar berada sejauh mungkin darinya.

“Gaeul~a biarkan oppa membantumu naik ke tempat tidur,” bujukku.

Andwe... Jangan mendekat padaku Oppa. Aku bukan Gaeul yang dulu lagi. Gaeul yang begitu sempurna di mata Oppa. Gaeul yang membuat Oppa bangga karena tariannya kini sudah mati. Gaeul yang sekarang adalah Gaeul yang cacat. Gaeul yang tak pantas di sandingkan dengan seorang Lee Donghae.” Ucapan Gaeul seperi sebilah pedang menancap tepat di jantungku.

“Tidak Gaeul~a. Gaeul yang dulu ataupun Gaeul yang sekarang adalah orang yang sama. Tetap gadis yang paling Oppa cintai dalam hidup Oppa. Tetap gadis yang oppa inginkan selalu berada di sisi Oppa,” ujarku terus berusaha meyakinkannya.

Aku kembali mencoba mengangkat tubuhnya. Tapi dia kembali menepiskan tanganku dan mendorongku sejauh mungkin darinya.

“Tidak Oppa. Oppa harus melupakanku. Oppa harus berhenti mencintaiku. Aku bukan gadis yang pantas untuk Oppa. Oppa harus dapatkan yang terbaik. Dan yang jelas gadis itu bukan gadis cacat seperti aku,” tangisnya memilukan.

Sekujur tubuhku serasa kaku mendengar ucapannya. Dia menginginkan aku untuk berhenti mencintainya. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang ku dengar. Bagaimana mungkin dia meminta hal seperti itu dariku? Sementara dia tahu persis seberapa besar aku telah mencintainya selama tujuh tahun ini. Kini aku hanya bisa terduduk lemas di lantai. Sementara itu, tak jauh dari tempatku berada Gaeul menangis tertelungkup di lantai.

“Sebaiknya kau keluar dulu. Tunggu sampai Gaeul tenang. Saat ini dia masih shock. Kita tak bisa terlalu memaksanya sekarang,” ujar Jinho hyung sambil membantuku berdiri.

“Eunhyuk, Kyuhyun, tolong bawa Donghae keluar dulu,” ujarnya kepada Eunhyuk dan Kyuhyun yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan ini.

Tanpa menjawab Eunhyuk dan Kyuhyun langsung menggantikan Jinho hyung memegangiku dan mereka menuntunku berjalan ke luar dari kamar itu. Aku sudah tak punya pilihan lain lagi selain mengikuti mereka. Saat ini aku sudah tak punya cukup tenaga lagi untuk melawan. Reaksi Gaeul tadi sudah melemahkan semua sistem sarafku. Yang tertinggal sekarang hanyalah rasa sakit yang menusuk-nusuk di dadaku.

*****

Sejak hari itu, tak sekalipun aku berhasil menemui Gaeul. Kalau aku memaksa, dia akan menangis histeris seperti saat itu. Bahkan sampai sekarang, saat Gaeul sudah diperbolehkan pulang, dia tetap menolak menemuiku. Berbagai cara sudah coba ku lakukan, tapi semuanya sia-sia.

Hari ini aku bermaksud untuk kembali mencoba menemui Gaeul di rumahnya. Walau berkali-kali usahaku gagal, tapi aku menolak untuk menyerah. Yang aku tahu, aku harus membuat Gaeul mengerti bahwa dia orang yang paling aku inginkan dan paling pantas berada di sisiku selamanya. Tak peduli apapun kondisinya. Aku ingin meyakinkannya bahwa tak ada hal apapun di dunia ini yang dapat membuatku berhenti untuk mencintainya.

Bibi Cho yang menyambut kedatanganku dan dia mempersilahkanku masuk.

“Bagaimana keadaan gaeul, Ahjumah?” tanyaku sopan.

Bibi Cho memperlihatkan ekspresi seperti ingin meminta maaf padaku. “Donghae ah, Gaeul sudah tidak ada di sini lagi.”

Aku tersentak mendengar ucapannya. Apa sebenarnya yang dia maksud dengan Gaeul sudah tak ada di rumah mereka lagi?

“Apa maksud Ahjumah?” tanyaku tak yakin dengan ucapannya tadi.

“Sejak kemarin Gaeul sudah pindah dan tidak tinggal di rumah ini lagi?” ujarnya sedih.

“Tapi dia pindah ke mana? Bukankah dalam kondisi sekarang ini seharusnya dia harus tinggal bersama keluarganya?” ujarku semakin tak mengerti.

Bibi Cho hanya diam menanggapi pertanyaanku. Sepertinya dia tak tahu lagi harus mengatakan apa padaku.

Perlahan aku mengerti apa maksud perkataan Bibi Cho tadi.

“Maksud Ahjumah, gaeul pergi untuk menghindariku? Agar aku tak menemukannya?” Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku.

“Gaeul meninggalkan surat ini untukmu.”

Bibi Cho menyerahkan sepucuk surat padaku. Dan aku langsung membukanya.

Donghae Oppa….

Mian aku harus melakukan ini padamu. Tidak ada niatku untuk menyakiti hati Oppa. Tapi percayalah, ini yang terbaik untukku dan terutama untuk Oppa. Aku tak mau menjadi sumber penderitaan bagi Oppa. Aku tahu kondisiku saat ini sangat melukai perasaan Oppa. Karena itulah aku mengambil keputusan ini.

Aku sama sekali tak meragukan perasaan Oppa terhadapku. Tapi aku yakin keberadaanku akan sangat menyulitkan Oppa untuk ke depannya. Aku tak mau jadi beban bagi Oppa. Karena itu jalan ini adalah yang terbaik.

Aku berharap Oppa segera melupakanku. Oppa layak mendapatkan gadis yang sempurna. Gadis yang dapat menjadi kebanggaan bagi Oppa untuk mencintainya.

Mian jika aku harus memilih jalan seperti ini untuk mencintai Oppa. Aku harap Oppa dapat mengerti.

Gaeul

Aku terpaku menatap surat yang ditulis Gaeul untukku. Tak pernah terlintas di benakku Gaeul akan menggunakan cara ini untuk memaksaku melupakannya. Pikiranku benar-benar kacau sekarang. Rasa sakit di hatiku menjadi-jadi. Aku sungguh tak menyangka bahwa aku akan kehilangan gadis yang sangat aku cintai dengan cara seperti ini.

Aku menatap penuh harap pada bibi Cho.

Mian Donghae~a, aku tak dapat memberitahukan kepadamu ke mana Gaeul pergi,” ujarnya menjawab pertanyaan yang tak terungkapkan dari mulutku.

“Aku mengerti, Ahjumah. Mungkin Gaeul butuh waktu untuk berfikir. Tolong katakan padanya aku akan menunggunya,” ujarku sembari berpamitan.

*****

Tiga bulan sudah berlalu sejak kepergian Gaeul. Sejak saat itu tak sekalipun aku bertemu dengannya. Tapi hal ini sama sekali tak melunturkan perasaanku terhadapnya. Aku tetap mencintainya seperti dulu, bahkan lebih besar. Tak sekalipun pula aku menyerah untuk mencarinya. Aku yakin suatu saat akan menemukannya karena hatiku akan menuntunku kepadanya.

Akhir-akhir ini hari-hariku sangat melelahkan. Rangkaian Tour Super Show Consert akan segera dimulai. Semua member berlatih keras untuk memberikan penampilan yang terbaik bagi para fans.

Malam ini kami baru kembali ke dorm sekitar jam dua pagi. Aku langsung merebahkan tubuhku di sofa di ruang tamu. Sementara Kibum langsung menyalakan komputernya karena harus mengirimkan tugas kuliahnya yang sudah deadline kepada dosennya. Leeteuk hyung, Heechul hyung, Kangin hyung, Shindong hyung, Yesung hyung, Sungmin hyung, Hangeng hyung, Eunhyuk, Siwon, dan Ryewook ikut-ikutan tiduran di permadani. Dan si bungsu Kyuhyun, seperti biasa, langsung sibuk dengan PSP-nya.

“Donghae~a, bagaimana, apa kau sudah dapat kabar tentang Gaeul?” tanya Heechul hyung padaku tiba-tiba.

Pertanyaan Heechul hyung membuatku sangat terkejut. Biasanya dia yang paling berhati-hati menyebut nama Gaeul di hadapanku.

“Ah… anni, hyung. Aku belum dapat kabar apapun tentangnya,” jawabku tergagap.

“Jangan menyerah Donghae~a. Kau harus membawanya kembali, Ok. Aishh…aku jadi merindukannya sekarang!” keluh Heechul hyung.

“Benar Donghae~a, kau jangan menyerah. Sudah lama sekali aku tak menyanyikan sebuah lagu untuknya. Biasanya dia selalu memintaku.” Yesung hyung ikut berkomentar.

Aku hanya mengangguk menanggapi ucapan mereka. Aku tahu semua member merindukannya. Gaeul begitu dekat dengan mereka. Bagi mereka, Gaeul adalah adik dan teman mereka. Mendengar antusiasme mereka dalam menemukan Gaeul membuatku semakin merindukan kehadiran gadis itu di sisiku lagi.

Aku tak mau kelemahan hatiku terlihat oleh mereka. Akhirnya aku pamit ke kamarku untuk menyembunyikan raut sedih di wajahku dari mereka semua.

Di kamar aku membaringkan tubuhku di ranjang. Berusaha mengangkat beban berat yang menghimpit di dadaku. Ku ambil foto Gaeul yang selalu terpajang di meja, di samping tempat tidurku. Kemudian ku tatap lekat-lekat.

Tak terasa setetes air mataku mengalir tanpa disadari. Kerinduanku padanya begitu besar hingga rasanya aku sudah tak sanggup lagi untuk menahannya. Selama ini kesibukanlah yang sedikit mengalihkan perhatianku. Namun apabila tiba saatnya beristirahat seperti ini, tak sekali pun aku mampu menepis bayangannya dari pikiranku.

Ku dekap foto Gaeul erat-erat. Berharap dengan begitu aku dapat merasakannya lebih dekat denganku. Dan aku terus mendekapnya hingga aku tertidur. Begitulah selama tiga bulan ini aku mampu bertahan dalam penantianku.

*****

Akhirnya rangkaian Tour Asia Super Show Consert di mulai. Kami tampil di banyak negara di Asia. Dan konser kami sukses besar di semua negara yang kami datangi.

Berbeda dengan tour-tour yang pernah ada sebelumnya. Biasanya tour akan dibuka di negara asal. Tapi untuk Super  Show ini, justru di tutup di negara asal kami, Korea Selatan.

Konser penutupan diadakan besar-besaran dengan panggung termegah yang pernah ada. Konser diadakan di Olympic Fencing Gymnasium, sebuah arena olah raga indoor yang berlokasi di Olympic Park, Seoul, Korea Selatan. Arena ini mampu menampung sekitar 6.341 orang. Dan panggung untuk konser ini di set sedemikian rupa agar semua member dapat menjamah seluruh penonton yang hadir. Alhasil, seluruh member harus mengerahkan tenaga lebih untuk mengelilingi panggung agar dapat langsung melakukan kontak dengan penonton.

Seperti rencana, dalam konser ini aku akan tampil solo dengan menyanyikan lagu My Everything. Menjelang penampilan soloku itu, tiba-tiba muncul perasaan yang aneh. Perasaan ini adalah perasaan yang dulu selalu muncul saat Ara ada di dekatku. Begitu nyaman dan tenang. Dan saat aku melangkah memasuki panggung, perasaan ini semakin kuat.

Kini aku berdiri di tengah-tengah panggung utama. Ku angkat mikrofon yang ku pegang dan ku dekatkan ke mulutku. Aku tahu di manapun Ara berada, dia pasti sedang melihatku. Ini saat terpenting dalam karirku dan Ara takkan melewatkan hal apapun yang penting dalam hidupku.

Seketika aku merasa ini kesempatan terakhir bagiku untuk dapat menemukannya. Jadi ku putuskan mengawali penampilanku untuk mengatakan tentang perasaanku padanya karena aku yakin saat ini dia sedang mendengarkanku.

“Aku persembahkan lagu ini untuk seseorang yang sangat penting dalam hidupku. Seseorang yang selama tujuh tahun ini selalu menyertaiku dalam setiap moment indah dalam hidupku. Seseorang yang selalu menemaniku dalam setiap keterpurukanku. Seseorang yang memberikan semua kebahagiaannya untukku dan mengambil semua kesedihanku untuk dirinya. Seseorang yang selalu mengangkatku saat terjatuh. Dan seseorang yang akan selalu aku cintai baik dimasa laluku, sekarang, dan juga masa depanku.

Aku yakin di manapun dia berada, dia sedang mendengarkanku. Kau adalah yang paling pantas berada di sisiku. Tak pernah ada orang lain yang bisa melakukan begitu banyak hal untukku, sebanyak yang telah kau lakukan. Tak ada pula orang yang bisa mencintaiku sebesar engkau mencintaiku. Karena itu izinkan aku mendampingimu di masa sulitmu seperti dulu kau mendampingiku di saat hidupku diambang kehancuran. Izinkan aku mewujudkan impian terbesar dalam hidupku. Memberikan semua kebahagiaan dalam hidupku kepadamu. Dan aku yakin aku dapat menemukanmu dengan hatiku.”

Kemudian denting piano mulai mengawali lagu My Everything…..

The loneloness of nights alone

The search for strength to carry on

My every hope has seemed to die

My eyes had no more tears to cry

Then like the sun shining up above

You surrounded me

With your endless love

Coz all the things I couldn’t see

Now so clear to me

………………………………………..

Aku mengelilingi panggung dan mencoba menyapa setiap penonton sampai akhirnya pandanganku tertuju pada satu titik. Dia berada di tengah-tengah penonton tepat di tribun di hadapanku. Dia duduk di atas kursi rodanya dan kepalanya tertunduk begitu dalam. Walau pun aku tak dapat melihat wajahnya, tapi aku tahu saat ini dia sedang menangis.

Perlahan aku berjalan mendekatinya. Sementara dia masih belum menyadari kehadiranku. Hingga saat aku berlutut di hadapannya dan kuulurkan tangan kananku kepadanya, barulah dia mengangkat wajahnya yang kini bersimbah dengan air mata.

Saat ini jarak antara kami begitu dekat, tapi aku masih belum berani menyentuhnya. Aku begitu berhati-hati, sebisa mungkin menjaga agar dia tidak merasa terdesak.

Dia tak juga menyambut tanganku yang kini terulur kepadanya. Dia hanya menatapku sambil menggeleng perlahan sebagai tanda penolakannya.

Ku tatap lekat-lekat wajahnya yang kini mengkilap karena air matanya yang terus mengalir. Sekuat tenaga ku tahan keinginan hatiku untuk memeluknya. Sementara mulutku tetap menyenandungkan syair lagu yang sedang kubawakan.

……………………………………………

You are my everything

Nothing your love won’t bring

My life is your alone

The only love I’ve ever known

Your spirit pulls me trough

When nothing else will do

Every night I pray

On bended knee

That you will always be

My everything

Oooh….my everything

Aku menyudahi nyanyianku dengan tetap berlutut di hadapannya. Suasana Olympic Fencing Gymnasium yang dipadati oleh ELF pun kini sunyi-senyap. Lebih dari 6.400 pasang mata sedang tertuju pada kami.

Aku masih tetap diam menunggu reaksinya. Tapi setelah lewat beberapa menit, Gaeul masih tak memberikan respon apapun. Akhirnya aku memberanikan diri untuk menggenggam tangannya. Dia mencoba menjauhkan tangannya dari jangkauanku. Tapi tak banyak tenaga yang bisa dia kerahkan hingga sekarang aku berhasil menggenggam tangannya.

Aku meletakkan tangan kami di dadaku. Sementara Gaeul tetap menolak menatapku sehingga dia hanya menundukkan kepalanya.

“Gaeul~a, aku mohon jangan menolakku lagi. Aku sudah cukup menderita beberapa bulan ini. Dan aku yakin kaupun juga sangat menderita.” Aku memohon kepadanya.

“Apa kau belum juga menyadarinya? Berpisah bukan jalan yang terbaik untuk kita. Kita sudah mencobanya beberapa bulan ini. Apa kau lihat diantara kita ada yang bisa hidup dengan baik? Tidak Gaeul~a, beberapa bulan ini kita tidak hidup dengan baik. Tidak aku. Tidak juga kau. Kita sudah sangat menderita Gaeul~a. Aku… juga kau, Gaeul~a. Kita benar-benar sangat menderita.”

Gaeul tetap menunduk. Dan dia tetap tidak memberikan respon apapun.

Sekarang aku mulai merasa putus asa. Aku tak tahu harus mengatakan apa lagi padanya agar dia mengerti. Sebagai gantinya aku hanya bisa menangis.

Mendengar isakanku, akhirnya Gaeul mengangkat wajahnya dan menatap tepat ke mataku yang kini basah karena air mata..

Saranghaeyo, Gaeul~a…. Saranghaeyo….Jeongmal sarangheyo,” ucapku sepenuh hati mencoba menggunakan kesempatan terakhirku untuk meluluhkan hatinya.

“Aku mohon, izinkanlah aku yang menjadi tongkatmu mulai detik ini,” ujarku sembari menatap wajahnya lekat-lekat.

Seketika dia langsung memelukku begitu erat. Air matanya yang dari tadi sudah mengalir kini semakin deras dan aku bisa merasakannya membasahi kaos putih yang ku kenakan. Beban berat yang menghimpitku selama ini serasa terangkat sudah. Dan untuk pertama kalinya, hari ini aku bisa bernapas lega.

Aku mendekapnya erat di dadaku. Ku biarkan dia menumpahkan semua sisa kesedihannya di sana.

Akhirnya setelah beberapa lama Gaeul menjauhkan tubuhnya dari dekapanku dan menatapku begitu lekat. Seluruh wajahnya kini bengkak karena terlalu banyak menangis. Akupun menatapnya dengan penuh kasih. “Ya Tuhan, aku tak tahu seberapa besar aku sudah merindukan wajah ini.”

Mianhe, Oppa…. Mianhe…. Jeongmal mianhe. Aku sudah membuat Oppa sangat bersedih. Aku sudah begitu egois memaksakan kehendakku kepada Oppa. Aku hanya memikirkan bagaimana membuat hatiku merasa lebih tenang tanpa memikirkan perasaan Oppa. Aku ingin Oppa mendapatkan yang terbaik, tapi malah aku sendirilah yang memberikan yang terburuk untuk Oppa. Mianhe… Jeongmal mianhe,” ujarnya masih terisak.

Aku bangkit dan mendekatkan wajahku ke wajahnya. Kemudian aku mencium setiap titik air mata yang mengalir di pipinya.

“Oppa senang gadis kesayangan oppa sudah kembali lagi seperti dulu. Semua ini takkan terulang lagi. Tidak akan ada lagi kesedihan dan perpisahan. Mulai hari ini kita akan selalu bersama.”

Dia hanya mengangguk. Kemudian aku menggendongnya. Mengangkat tubuhnya dari kursi rodanya. Ketika berdiri barulah aku menyadari bahwa Jinho hyung sudah berdiri di sana sejak tadi. Dia tersenyum padaku dan aku membalas senyumannya.

Ku bawa Gaeul ke tengah-tengah panggung, tempat di mana semua member super junior sudah menantikan kami. Mereka semua menyambut kedatangan kami dengan senyuman bahagia. Seperti biasa Leeteuk hyung adalah orang yang hatinya sangat peka. Aku bisa melihat dia menghapus air matanya. Tapi bukan hanya dia yang menangis. Hampir semua member lain juga menangis walaupun tidak separah Leeteuk Hyung. Hanya si cool Kibum dan si aneh Heechul  hyung yang tidak menangis. Begitu pula dengan para penonton, suasana haru masih meliputi mereka saat aku dan Ara sudah di tengah-tengah panggung.

“Selamat datang kembali Gaeul~a,” ujar Heechul hyung sembari menggenggam tangan Gaeul dengan lembut.

Cukhae hyung,” ujar Kibum sambil meremas bahuku.

Gomawo,” jawabku sembari tersenyum kepada semua member.

Kemudian seorang security membawakan kursi roda ke atas panggung dan aku mendudukkan Gaeul di sana.

Sementara itu musik lagu “Miracle” yang akan menutup konser kali ini mulai terdengar dan semua member mulai berlarian menyebar menuju bagian-bagian panggung yang kosong.

Aku hanya berjongkok di hadapan Gaeul sambil terus menatapi wajahnya. Aku begitu merindukannya sampai aku tak sanggup beranjak dari sisinya. Sesekali aku memeluknya dan mencium puncak kepalanya.

Ketika lagu hampir habis, semua member berlarian kembali, berkumpul di dekat aku dan Gaeul. Dan sebagai ucapan terima kasih kepada para penggemar yang sudah mendukung kami selama ini, di akhir lagu aku dan seluruh member Super Junior membungukkan tubuh sedalam-dalamnya untuk menghormati mereka.

“Terima kasih kuucapkan kepada kalian semua. Berkat dukungan kalian sehingga kini aku dapat menemukan kembali orang yang sangat aku cintai. Senang sekali aku bisa membagi kebahagiaan ini kepada kalian semua,” ujarku kepada semua yang hadir di stadion ini.

SARANGHAEYO….” Teriakanku membahana mengakhiri konser super show dan diikuti oleh semua member yang mengucapkan kata yang sama.

*****

Setahun kemudian….

Kini, aku sudah melewati setahun yang sangat membahagiakan setelah saat yang menyedihkan itu. Tentu saja bersama gadis yang sangat ku cintai dan bersama saudara-saudaraku di Super Junior. Masa-masa yang menyedihkan saat aku kehilangan Gaeul kini sudah ku kikis habis dari memoriku. Yang tertinggal hanyalah kenangan yang sangat membahagiakan bersamanya.

Hari ini adalah pernikahan kami. Seperti yang ku katakan saat wawancara di suatu stasiun televisi, bahwa aku siap menjadi seorang suami sekaligus seorang ayah di usiaku yang relatif masih muda seperti saat ini. Aku mewujudkannya sekarang. Dan aku memutuskan untuk menikahi satu-satunya gadis yang aku cintai sepanjang hidupku. Pernah merasakan kehilangannya selama beberapa bulan membuatku yakin bahwa aku hanya ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya.

Pada awalnya aku bermaksud menjadikan Kibum dan Kyuhyun sebagai pendampingku saat pernikahan. Tapi ternyata rencana ini di tentang keras oleh ke sepuluh member yang lain.

“Kau tidak boleh hanya melibatkan Kyuhyun dan Kibum dalam pernikahanmu,” protes Heechul Hyung saat itu.

“Ya benar. Kita semua kan Super Junior. Itu berarti kita semua adalah satu keluarga. Dan kalau kami semua adalah  keluargamu. Artinya kami semua harus terlibat aktif dalam pernikahanmu. Mana boleh kami hanya menjadi penonton saja,” ujar Siwon berapi-api yang langsung di sambut oleh koor persetujuan dari semua member yang lain.

Akhirnya karena aku tidak mau dimusuhi oleh mereka semua (karena mereka mengancam akan memusuhiku jika tidak melibatkan mereka), aku memutuskan, mereka semua akan menjadi pendampingku saat pernikahanku dan Gaeul. Dan ini akan menjadikanku satu-satunya pengantin pria yang memiliki pendamping terbanyak saat pernikahan.

Upacara pernikahan berlangsung dengan sangat lancar dan pestanya pun sangat meriah. Bagaimana tidak, empat belas member Super Junior (Henry dan Zou Mi khusus datang dari Cina) yang super heboh menghadiri pernikahanku.

Gaeul juga terlihat sangat cantik dalam balutan gaun pengantin putihnya yang sederhana tapi tetap tampak elegant di tubuhnya. Dia sudah cukup terbiasa mengenakan kaki palsunya sehingga dia sama sekali tak tampak seperti orang yang hanya memiliki satu kaki. Aku sendiri tak mampu memalingkan pandanganku dari wajahnya yang tampak bersinar karena bahagia. Bibirnya selalu tersenyum. Dan itu adalah senyum terindah yang pernah ku lihat seumur hidupku.

Potongan gambar-gambar saat pernikahan dan bulan madu kami akhirnya dijadikan MV lagu “My Everything” yang kunyanyikan sendiri. Dan lagu ini seketika menduduki tangga lagu teratas di Korea Selatan dan di beberapa negara asia lainnya.

THE END