BELIEVE YOUR HEART (Part 3)

Yeorum POV

Aku berpapasan dengan seorang wanita cantik saat akan memasuki studio latihan. Aku menundukkan tubuhku sedikit untuk menghormatinya dan dia tersenyum padaku.

“Dia siapa?” tanyaku pada Gaeul saat tiba di dekatnya.

Gaeul mengangkat bahunya. “Dia datang menemui Hyukjae sunbaenim. Kata anak-anak sih mantan pacarnya Hyukjae sunbaenim. Dia baru datang dari Amrik,” ujar Gaeul setengah berbisik padaku.

“Cheongmal?!” tanyaku terkejut.

“Jangan patah hati dulu, chingu. Statusnya kan mantan pacar, bukan pacar,” Gaeul menepuk-nepuk bahuku bermaksud hendak menenangkanku.

“Kaza, kita ganti baju dulu,” ajaknya kemudian dan aku mengangguk mengiyakan.

Latihan hari ini aku tak bisa konsentrasi. Otakku selalu memikirkan cerita Gaeul tadi. Ini membuatku sangat sering melakukan kesalahan dalam gerakanku. “Untuk apa mantan pacar Hyukjae oppa datang jauh-jauh dari Amrik?” tanyaku dalam hati.

Hyukjae oppa pun sepertinya juga sedang ada masalah hari ini. Mungkin masalah mantan pacarnya itu, tebakku. Emosinya sangat tak terkendali. Sejak awal latihan tadi dia selalu marah-marah dan berteriak kepada member yang melakukan kesalahan. Dan entah sudah berapa kali dia meneriakiku dengan kata-kata yang tak enak di dengar. Pokoknya dia tidak seperti Hyukjae oppa yang biasanya, yang selalu tenang dan sabar saat melatih kami.

“Yeorum~a! Apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau sibuk melakukan kesalahan sejak tadi? Gunakan feel-mu saat menari,” lagi-lagi dia meneriakiku.

“Kita mulai lagi dari awal!” perintahnya kemudian dan kami kembali melatih gerakan tari tadi dari awal.

Beberapa menit kemudian aku kembali melakukan kesalahan.

“DASAR IDIOT!!!” teriaknya sangat marah dan melemparkan handuk kecil yang dipegangnya sejak tadi kepadaku. Secara refleks aku menghindari lemparannya agar tak mengenai wajahku sehingga handuk itu hanya mengenai bahu kananku. “Apa kau tak dengar kalau dari tadi aku menyuruhmu berkonsentrasi. Dan mana feel-mu? Semua gerakanmu itu hampa!!!”

Kali ini aku sungguh tak tahan lagi mendengar setiap kata-kata marahnya itu. Aku sangat tersinggung karena dia mengataiku idiot. Sementara itu mataku mulai berkaca-kaca sekarang. Akhirnya tanpa mengatakan apapun aku langsung beranjak dari posisiku dan berjalan menuju pinggir arena. Gaeul sempat menahanku saat itu tapi aku langsung menepiskan tangannya yang memegang lenganku.

“Ya, Yeorum~a! Mau kemana kau? Latihan belum usai,” teriaknya lagi padaku. Tapi aku tak menggubrisnya sama sekali. Hatiku benar-benar sakit karena ucapannya. Ku masukkan semua barang-barangku dan berjalan menuju pintu ke luar studio untuk meninggalkan tempat itu.

“Aaaaa…” Aku masih sempat mendengar teriakan frustasinya saat pintu studio menutup di belakangku. Kemudian aku menyusuri trotoar menuju ke halte bis. Saat itu hari sudah mulai gelap. Sementara air mataku semakin menggenang sebagai akibat rasa sakit di hatiku. Sesampainya di halte aku tak sanggup lagi menahannya sehingga akhirnya tangisku pecah.

Aku duduk di bangku halte sambil menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Untung saja tak ada seorang pun kecuali aku di halte saat itu. Kalau tidak, aku pasti akan menjadi tontonan umum.

Entah berapa lama aku menangis sendiri di halte itu. Aku baru menegakkan tubuhku saat aku mendengar ada langkah-langkah yang menuju ke arahku. Buru-buru ku hapus sisa air mataku agar orang itu tak melihat bahwa aku sedang menangis. Dan kubalikkan tubuhku sehingga membelakangi orang yang baru datang itu agar dia tak dapat melihat mataku yang bengkak karena habis menangis.

Aku dapat merasakan orang yang baru datang itu duduk tak jauh dari tempatku. Dan tiba-tiba….

“Mianhae…” ujar sebuah suara yang sangat ku kenal. Pemilik suara itu tak lain adalah Hyukjae oppa.

“Cheongmal mianhae,” ulangnya lagi. “Aku tak bermaksud mengataimu seperti itu. Juga tak seharusnya aku menumpahkan kekesalanku kepadamu ataupun kepada member yang lainnya. Mianhae, jeongmal mianhae,” ujarnya terdengar sangat menyesal. Sementara aku tetap duduk membelakanginya.

Tiba-tiba dia mengulurkan sesuatu dari balik bahuku. Ku tatap tak percaya benda yang diulurkannya itu. Sebuah balon biru?!

Aku langsung membalikkan badanku untuk menatapnya dengan mataku yang bengkak. “Bisa-bisanya oppa berpikir untuk membujukku dengan barang seperti ini,” ujarku seketika, sebuah senyum mengembang di bibirku.

“Apa itu berarti kau sudah tak marah lagi padaku?” tanyanya sambil menunjuk lengkungan yang menghiasi daerah sekitar mulutku. Pertanyaannya itu membuat senyumanku semakin lebar.

“Aaahh… Ternyata analisaku selama ini benar,” ujarnya sambil meregangkan tubuhnya.

“Analisa tentang apa?” Aku menatap ingin tahu padanya.

“Ternyata hampir semua wanita di dunia ini memiliki sisi kekanakan,” dia mengerling jahil kepadaku. “Kalau mereka marah, cukup menghibur mereka hanya dengan hal sepele, mereka akan langsung memaafkan semua kesalahan. Buktinya kau, cukup diberi sebuah balon biru saja kau langsung bisa tersenyum begitu manisnya padaku sekarang.”

“Mwo?!” ujarku tak suka dengan analisanya.

“Berarti analisaku tentang pria juga benar dong?!” balasku tak mau kalah. Hyukjae oppa mengerutkan keningnya mendengar ucapanku.

“Sebagian besar pria selalu melampiaskan emosi mereka dengan mengkambinghitamkan orang lain yang ada di sekitarnya,” ujarku sengit.

Seketika tawanya meledak mendengar ucapanku. “Ternyata kau lebih cerdas dari apa yang kupikirkan selama ini,” ujarnya lagi sambil menepuk-nepuk pelan kepalaku. Dan aku hanya menatapnya tak percaya.

“Ngomong-ngomong dimana oppa mendapatkan balon biru ini?” tanyaku saat tawanya mereda.

“Oh…itu…tadi aku memohon kepada seorang adik kecil yang kebetulan lewat di depan studio. Untung saja dia bersedia memberikannya padaku. Kalau tidak…entah sampai kapan kau akan marah padaku?” dia kembali menyunggingkan senyum jahilnya itu padaku.

“Oppa…kau ini benar-benar tidak modal,” ujarku sambil memukulinya dengan balon yang diberikannya tadi.

“Sudah, sudah. Kalau balonnya pecah oppa tak punya gantinya,” ujarnya masih terus menggodaku.

“Dasar pelit!” rutukku kemudian sambil menjulurkan lidah padanya. Kemudian kami terdiam beberapa saat.

“Apakah wanita yang tadi siang itu yang membuat oppa resah?” tanyaku mencoba memberanikan diri.

“Ne,” jawabnya singkat dengan pandangan tetap lurus ke depan.

“Apa dia mantan pacar oppa?” tanyaku lagi.

“Hmmm”

“Apa oppa masih mencintainya?”

“Ne,” jawabnya, masih tanpa menatapku. Sebuah luka tergores di hatiku saat ini dan rasanya amat perih.

“Itu bismu tiba,” ujarnya tiba-tiba. Aku tahu dia sedang menghindari percakapan ini. Aku pun tak bermaksud untuk melanjutkannya. Aku tak mau luka ini akan semakin membuat luka di hatiku menganga lebar.

“Ne,” jawabku seraya berdiri dari dudukku dan melangkah maju mendekati bis yang sudah menungguku.

“Yeorum~a, beristirahatlah lebih awal malam ini,” ujar Hyukjae oppa saat aku hampir mencapai pintu bis. “Besok latihan kita yang terakhir, pasti akan sangat melelahkan.”

Aku mengangguk ke arahnya, kemudian aku masuk ke dalam bis. Aku terus menatap ke arahnya sementara bis yang kutumpangi terus berjalan menjauh dari halte itu.

******

Hari ini hari terakhir latihan kami. Keesokan harinya kami sudah harus bertempur. Semua member yang akan turun berlatih dengan keras. Dan sepertinya suasana hati Hyukjae oppa sudah sedikit membaik. Dia sudah tak marah-marah lagi hari ini.

Tapi pada saat sedang asyik-asyiknya latihan, tiba-tiba…..

“Au…” aku berteriak dan jatuh terduduk karena kakiku terkilir dan rasanya sakit sekali. Semua anggota tim langsung menghampiriku begitu juga dengan Hyukjae oppa.

“Gwaenchanayo?” tanyanya panik sambil memeriksa pergelangan kakiku. Sementara aku terus meringis menahan sakitnya.

“Sepertinya kau terkilir,” ujarnya kemudian.

“Kau istirahat dulu di pinggir arena agar aku bisa memeriksa pergelangan kakimu,” ujarnya lagi sambil melingkarkan lenganku di bahunya dan membantuku berdiri.

“Yang lain tetap lanjutkan latihan!” perintahnya kepada anggota tim yang lain dan membawaku ke pinggir arena.

Saat Hyukjae oppa sedang memeriksa pergelangan kakiku Cheon Sa sunbaenim menghampiri kami.

“Gwaenchanayo?” tanyanya kepada Hyukjae oppa.

“Dia terkilir,” jawab Hyukjae oppa tanpa mengalihkan perhatiannya dari pergelangan kakiku.

“Bagaimana kalau aku saja yang merawatnya?” usul Cheon Sa sunbaenim membuatku dan Hyukjae oppa sama-sama terkejut.

“Gwaenchanayo?” tanya Hyukjae oppa ragu.

“Ya Hyukie~a, apa kau pikir aku akan mematahkan kakinya?” Cheon Sa sunbaenim mendengus kesal. “Aku ini juga pelatih di club kita. Tentu saja aku menginginkan semua member club kita dalam keadaan baik-baik saja.”

“Sudah sana!” perintahnya kemudian saat melihat Hyukjae oppa yang masih terbengong-bengong. “Kau latih saja yang lain dengan baik. Jangan sampai tim kita kalah besok.”

Cheon Sa sunbaenim menarik tangan Hyukjae oppa sampai berdiri dan mendorongnya agar pergi ke tengah arena latihan.

“Coba ku periksa pergelangan kakimu,” ujarnya setelah berhasil membujuk Hyukjae oppa meninggalkan kami.

“Pergelangan kakimu benar-benar terkilir dan sepertinya keadaanya cukup parah.” Cheon Sa sunbaenim mengurut pergelangan kakiku dengan sangat hati-hati. Aku meringis karena menahan sakitnya.

“Mianhae,” ujar Cheon Sa sunbaenim tiba-tiba membuatku terkejut.

“Untuk apa?” tanyaku tak mengerti.

“Karena bersikap kurang baik terhadapmu,” ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari pergelangan kakiku. “Saat itu aku benar-benar tidak bisa melihat bakatmu dalam menari. Tapi si Hyukjae itu terus saja membelamu. Dia benar-benar membuatku kesal!”

“Jadi…benar kalau sunbaenim tak menyukaiku karena itu?” tanyaku mencoba memberanikan diri.

“Hmmmm,” jawabnya tetapĀ  berkonsentrasi pada pergelangan kakiku.

“Jadi benar alasan sunbaenim tak menyukaiku karena…”

“…..karena aku menyukai Hyukjae,” ujarnya seketika memandangku. Kemudian tiba-tiba dia tertawa, menertawakan ucapanku.

“Ternyata kau juga termakan oleh gosip yang beredar di club,” ujarnya disela-sela tawanya. Sementara aku hanya memandang tak mengerti kepadanya.

Kemudian Cheon Sa sunbaenim menghentikan tawanya dan berdehem. ” Ehm… Dia terus membelamu waktu itu, seketika aku tahu ada yang spesial dari dirimu. Tapi bukan karena itu aku aku keberatan menerimamu. Keberatanku murni karena penilaianku, karena aku merasa kau tak berbakat di dunia tari. Tapi penilaianku salah. Sekarang kau telah berhasil membuktikan bahwa kau memang berbakat. Hanya dalam beberapa minggu saja kau mampu menguasai gerakan rumit hasil ciptaan Hyukie, yang biasanya selalu sulit untuk diikuti oleh orang lain, terutama orang yang baru saja mengenal dunia tari sepertimu. Aku benar-benar kagum padamu dan aku sama sekali sudah tak mempermasalahkan keberadaanmu di club kami. Kau memang layak untuk itu.

Tapi soal gosip aku menyukainya. Itu sama sekali tidak benar. Aku menyayanginya hanya sebagai seorang sahabat. Sama seperti kau menyayangi Gaeul. Aku hanya takut kehadiranmu mengganggunya,” jelasnya panjang lebar.

“Apa maksud sunbaenim dengan kehadiranku mengganggunya?” tanyaku tak mengerti.

“Kau akan mengerti sendiri suatu saat nanti,” ujarnya penuh tanda tanya.. “Tunggu sebentar! Aku ambil kotak obat dulu.”

Cheon Sa sunbaenim pergi meninggalkanku dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa kotak obat di tangannya. Kemudian dia kembali berjongkok di depanku dan menempelkan koyo yang diambilnya dari dalam kotak obat itu ke pergelangan kakiku.

“Nah, semoga ini bisa membantu meringankan rasa sakitnya. Bagaimana rasanya?” tanyanya kemudian.

“Rasanya lebih baik,” aku tersenyum padanya.

 

Para anggota tim di beri waktu istirahat selama 15 menit sebelum mereka kembali berlatih.

“Ok, ini latihan kita terakhir. Aku harap gerakan kalian benar-benar bersih. Tak ada lagi kesalahan. Anggap di latihan ini kalian sudah berada di atas panggung perlombaan. Arasseo?” tanya Hyukjae oppa kepada semua member yang langsung di jawab kompak oleh semua anggota tim.

“Sunbaenim, izinkan aku ikut latihan terakhir ini,” ujarku ketika mereka akan memulai latihan.

“Andwe!” tolak Hyukjae oppa. “Bisa-bisa kakimu akan semakin parah kalau di paksa bergerak.”

“Tidak apa-apa sunbaenim. Kakiku sudah sedikit membaik,” paksaku.

“Kau yakin?” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk untuk meyakinkannya hingga akhirnya Hyukjae oppa mengizinkanku untuk ikut dalam latihan itu.

******

“Gwaenchanayo?” tanya Hyukjae saat aku baru keluar dari ruang ganti dan menghampirinya yang menungguku di depan pintu ke luar studio.

“Ne,” jawabku menenangkannya.

“Tapi sepertinya sangat sakit,” ujarnya sambil mengamati ekspresiku yang kesakitan.

“Yeorum~a, bagaimana keadaan kakimu? Gwaenchanayo?” Hyukjae oppa tiba-tiba sudah berada di dekat kami.

“Oppa?! Kau belum pulang?” tanyaku.

“Aku sengaja menunggumu,” ujarnya sambil berjongkok dan menggulung sedikit jins yang ku kenakan tanpa sempat ku cegah.

“Aigo…! Kakimu bengkak Yeorum~a,” ujarnya panik.

“Gwaenchana oppa,” ujarku mencoba menenangkannya.

“Apanya yang tidak apa-apa?” bentaknya padaku dan kemudian dia beralih kepada Gaeul. “Gael~a, kau pulang saja. Sudah malam. Beristirahatlah yang baik agar besok bisa tampil fresh. Biar aku yang mengantarkan Yeorum pulang. Lagi pula kalau kau yang mengantarnya, kau takkan kuat menggendongnya.”

“Mwo?” ujarku kaget dengan ucapan Hyukjae oppa tadi. “Apa maksud oppa dengan kata menggendong tadi?”

“Tentu saja aku akan menggendongmu pulang. Mana mungkin kau berjalan dengan kaki seperti ini. Bisa-bisa kau baru sampai besok pagi,” omelnya panjang lebar. Gaeul sibuk menahan senyum gara-gara ucapannya. Sementara wajahku jadi memerah karena malu.

“Baiklah oppa. Kalau begitu sahabatku yang satu ini aku titipkan pada oppa. Tolong antarkan dia dengan selamat sampai ke rumah ya oppa. Anyeong…” ujarnya segera berlari meninggalkan kami berdua.

“Ayo naik ke punggungku!” kemudian Hyukjae oppa berjongkok di depanku.

“Tapi oppa,”

“Aishh…kau ini!” ujarnya geram sambil menarik tanganku hingga aku jatuh di punggungnya dan dia langsung mengangkat tubuhku.

Hyukjae oppa menggendongku sepanjang perjalanan pulang ke rumahku. Bahkan dia masih tidak mengizinkanku turun dari punggungnya saat kami sudah berada di depan pintu rumahku.

“Aigo… Yeorum~a! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa digendong pulang seperti ini?” Teukie oppa langsung panik saat melihat aku yang pulang digendong dengan pria yang tak dikenalnya.

“Oppa biarkan kami masuk dulu. Hyukjae oppa sudah keberatan karena harus menggendongku sepanjang jalan,” ujarku padanya.

“Ne, ne. Silakan masuk,” ujarnya memberi jalan agar kami bisa lewat.

“Turunkan saja dia di sofa itu,” ujarnya sambil menunjuk ke sofa panjang yang ada di ruang tamu. “Apa yang terjadi padanya?”

“Kaki Yeorum terkilir,” ujar Hyukjae oppa sambil menggulung celana jinsku.

“Huwaaa…kakinya bengkak,” teriak Teuki oppa kemudian saat melihat pergelangan kaki kananku.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya panik.

“Tolong ambilkan air hangat untuk mengompres kakinya,” ujar Hyukjae oppa sopan.

“Ok, ok. Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali,” ujar Teuki oppa masih panik dan segera berlari ke dapur.

“Oppamu sangat menyayangimu,” ujar Hyukjae oppa padaku kemudian.

“Teuki oppa terlalu over protective,” jawabku.

Tak lama kemudian Teuki oppa muncul dengan membawa baskom yang berisi air hangat. Dia memberikannya kepada Hyukjae oppa dan Hyukjae oppa langsung mengompres kakiku.

“Apa akan baik-baik saja?” Tanya Teukie oppa lagi.

“Akan lebih baik kalau di bawa ke rumah sakit,” Hyukjae oppa menyarankan.

“Kalau begitu kita ke rumah sakit saja, Yeorum~a?” sambar Teuki oppa.

“Aku tidak mau! Dikompres juga bisa baik kok,” bantahku.

“Aishh…kau ini! Keras kepala sekali,” ujar Teuki oppa kesal.

“Usahakan agar semalaman ini tetap dikompres. Mudah-mudahan besok sudah lebih baik,” ujar Hyukjae oppa sambil bangkit dari jongkoknya.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Maaf mengganggu. Selamat beristirahat,” sambungnya lagi.

“Kalau begitu aku antar kau ke depan pintu,” ujar Teuki oppa ramah. “Tapi ngomong-ngomong siapa namamu?”

“Mianhaeyo telah berbuat tidak sopan,” Hyukjae oppa langsung membungkukkan tubuhnya di hadapan Teuki oppa. “Annyeonghaseyo, choneun Hyukjae imnida.”

“Aaahh…sudahlah. Aku sama sekali tak menganggap kau tidak sopan,” Teukie oppa mengibaskan tangannya. “Kondisinya sudah seperti ini. Wajar kalau kau lupa memperkenalkan namamu.”

“Gomawo hyung atas pengertiannya. Kalau begitu aku pulang dulu.”

“Mari,” Teuki oppa mempersilahkan Hyukjae oppa dengan sopan.

“Oppa,” panggilku saat dia sudah di ambang pintu dan dia kembali membalikkan badannya ke arahku. “Aku akan datang besok!”

“Sudahlah, jangan terlalu memikirkan perlombaan dulu. Yang penting sekarang kakimu lekas sembuh,” jawabnya.

“Anni… Aku sudah berjanji. Jadi aku pasti datang,” ujarku keras kepala.

“Aishh…kau ini!” ujar Teuki oppa geram melihat kekeraskepalaanku. “Sudahlah Hyukjae ah, tak perlu membujuknya lagi. Penyakit keras kepalanya itu benar-benar sudah akut. Tak ada obatnya lagi.”

Hyukjae oppa hanya tersenyum mendengarkan ucapan Teukie oppa. “Beristirahatlah!” ujarnya padaku.

“Aku pulang dulu hyung. Selamat malam,” pamitnya lagi pada teukie oppa.

“Ne,” jawab teuki oppa.

“Khamsahamnida,” teriak Teuki oppa saat aku tak lagi dapat melihat Hyukjae oppa.

“Kau mau ke mana?” tanya Teuki oppa saat melihat aku mencoba beranjak dari tempatku berada sekarang.

“Mau ke kamar,” jawabku.

“Tetaplah duduk di situ!” perintah oppa sambil buru-buru mengunci pintu rumah kami dan berlari ke dekatku. Kemudian Teukie oppa berjongkok di depanku.

“Naiklah ke punggung oppa! Oppa akan menggendongmu sampai ke kamar,” perintahnya lagi.

“Ok,” teriakku kegirangan dan menaiki punggungnya.

“Aigo, aigo…! Sudah lama tak menggendongmu, ternyata berat badanmu bertambah banyak,” ujarnya saat berusaha berdiri dengan aku berada dipunggungnya.

“Apa dia pelatihmu?” tanya Teuki oppa saat kami menaiki tangga menuju ke kamarku di lantai dua.

“Hmmm,” jawabku. “Dan dia adalah pria tamanku.”

Teukie oppa mendudukkanku di atas tempat tidurku. “Benarkah?” tanyanya dengan napas ngos-ngosan. Kenapa kau tak memberi tahu oppa kalau perkembangannya sudah sejauh ini?”

“Jangan menduga yang aneh-aneh oppa. Antara kami tak terjadi apa-apa. Dia sudah mempunyai wanita yang dicintainya,” aku bisa merasakan perubahan ekspresi wajahku.

Teukie oppa duduk di sampingku dan kemudian dia memelukku. “Sayang sekali kalau begitu. Padahal menurut oppa dia pria yang baik. Tapi pasti akan datang pria yang lebih baik lagi nantinya,” ujar Teuki oppa menghiburku.

“Gomawo oppa,” ujarku sambil melepaskan pelukannya agar aku bisa melihat wajah oppa yang sangat kusayangi ini.

Keningnya berkerut tanda dia tak mengerti dengan apa yang sedang ku katakan. “Gomawo karena telah menjadi oppaku,” ujarku meneruskan ucapanku.

“Tidak perlu berterima kasih. Suatu kebanggaan bagi oppa memiliki dongsaeng secantik dan secerdas kau,” ujarnya sambil membelai lembut kepalaku.

“Istirahatlah,” ujarnya kemudian sambil mengecup keningku dan melangkah ke luar dari kamarku.

To Be Continue…..