BELIEVE YOUR HEART (Part 4 End)

Yeorum POV

Hari ini adalah hari terpenting dalam club kami. Hari ini adalah hari perlombaan yang kami tunggu-tunggu. Hari ini juga kami akan menunjukkan pada dunia bahwa kami adalah yang terbaik.

“Yeorum~a, apa kau yakin tetap akan ikut serta dalam perlombaan itu?” tanya Teuki oppa saat aku sedang memasukkan barang-barangku ke dalam tas.

“Ne oppa. Kalau aku tak ikut, formasi tim kami akan jadi tak sempurna,” jawabku.

“Tapi bagaimana dengan kakimu?”

“Tenang saja oppa. Kakiku baik-baik saja kok.”

“Kalau begitu biar oppa yang mengantarmu ke sana,” ujarnya kemudian.

“Gomawo oppa,” teriakku kegirangan.

******

“Ku pikir kau tak akan datang,” ujar Gaeul saat aku tiba di lokasi lomba.

“Tentu saja aku akan datang. Aku kan sudah berjanji?” ujarku.

“Ya, Donghae~a, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Teukie oppa pada pria yang dari tadi berdiri di belakang Gaeul.

“Biasa hyung, mensupport chagiya-ku,” jawabnya sambil memamerkan senyum childishnya.

“Kau ini! Apa kau tak bisa menemukan gadis yang lebih pintar darinya di Amrik sana?” ujar Teukie oppa mengerling nakal pada Gaeul.

“Tak ada yang seperti dia hyung,” jawabnya lagi.

“Kalau kau mencari yang seperti dia, jangankan di Amrik, di belahan dunia manapun kau takkan menemukannya. Mana ada gadis sebodoh dia di dunia ini,” ledek Teukie oppa lagi yang langsung dihujami oleh pukulan oleh Gaeul.

“Justru karena kebodohannya itulah yang membuatku tak bisa pindah ke lain hati hyung.”

“Oppa…kenapa ikut-ikutan Teukie oppa mengataiku pabo,” protes Gaeul manja pada namjachingu-nya itu.

“Anni, chagiya. Oppa hanya bercanda,” ujar Donghae oppa membujuk gadis kesayangannya itu.

“Dimana yang lain?” tanyaku mengalihkan pembicaraan mereka.

“Mereka sudah di dalam,” jawab Gaeul.

“Kalau begitu kaza kita temui mereka,” ajakku.

 

“Kau datang juga?” ujar Hyukjae oppa saat melihat kedatanganku sambil membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Teuki dan Donghae oppa.

“Aku takkan membiarkan tim kita tak lengkap oppa,” jawabku.

“Tapi bagaimana dengan kakimu?”

“Tidak apa-apa. Kakiku akan baik-baik saja,” jawabku berusaha menghilangkan kekhawatirannya.

“Ya, Kim Cheon Sa, apa yang kau lakukan disini?” teriak Teukie oppa tiba-tiba.

“Aishh…mimpi apa aku semalam sampai bisa berjumpa lagi dengan makhluk ini setelah bertahun-tahun lamanya,” ujar Cheon Sa sunbaenim terlihat sangat kesal.

“Ini yang namanya jodoh Cheon Sa~ya,” ujar Teukie oppa bersemangat.

“Apa kau bilang? Ini jodoh? Ini musibah!” ujar Cheon Sa sunbaenim semakin kesal.

“Cheon Sa sunbaenim, kau mengenal oppaku?” tanyaku menyela pertengkaran mereka.

“Jadi makhluk menyebalkan ini oppamu?” tanya Cheon Sa sunbaenim tak percaya. Dan aku mengangguk mantap.

“Aishh…” teriaknya frustasi sambil meninggalkan kami begitu saja dan Teukie oppa mengikutinya dari belakang.

“Apa nama asli oppamu Park Jung Soo?” tanya Hyukjae oppa setelah itu.

“Ne,” jawabku tak mengerti.

“Berarti memang dia orangnya,” Hyukjae oppa seperti bicara pada dirinya sendiri kemudian dia berbisik di telingaku. “Oppamu senior Sangmi saat di Senior High School dulu.”

“Aah…aku tahu. Ternyata Cheon Sa sunbaenim adalah gadis yang di sukai Teuki oppa sejak masih di Senior High School dulu.” Hyukjae oppa mengangguk membenarkan tebakanku.

“Pantas saja sejak dulu dia tidak pernah sukses mendapatkannya. Caranya mengejar seorang gadis sangat mengerikan,” tambahku lagi.

“Apa itu penyakit turunan?” tanyanya tiba-tiba sambil menyunggingkan senyum jahilnya.

“Maksud oppa?” tanyaku tak mengerti.

“Kalau itu penyakit turunan, berarti kau akan berbuat seperti itu juga terhadap pria yang akan kau sukai nanti,” ujarnya lagi.

“Oppa…” aku memanyunkan bibirku tanda tak terima diledek seperti itu. Sementara Hyukjae oppa tertawa melihat ekspresiku.

“Tapi sepertinya cara itu manjur juga,” ujarnya lagi. Aku menatap tak mengerti kepadanya.

“Cheon Sa sebenarnya juga menyukai oppamu. Hanya saja selama ini dia terlalu gengsi mengakui perasaannya,” bisiknya di telingaku, membuatku terkejut bercampur senang.

 

Akhirnya perlombaan pun dimulai. Satu per satu peserta lomba di panggil naik ke atas pentas untuk mempertunjukkan kemampuan mereka. Penonton yang membanjiri stadion terbesar di kota Seoul ini berteriak-teriak histeris saat tim yang mereka dukung naik ke atas pentas.

Perlombaan tari ini memang merupakan ajang terbesar di Korea selatan. Maka wajar kalau acara ini disiarkan langsung oleh seluruh stasiun tv dalam negeri dan ada beberapa dari luar negeri. Pesertanya pun meliputi tim-tim terbaik utusan dari seluruh kota yang ada di Korea selatan.

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya tiba giliran tim kami untuk memperlihatkan hasil latihan keras kami selama ini. Aku dan seluruh anggota tim naik ke atas panggung. Begitu banyak penonton yang mendukung kami karena club kami memang merupakan juara bertahan selama dua tahu berturut-turut.

Ketika musik di mulai kami langsung mempertunjukkan gerakan-gerakan tari kami dengan energik. Rasa nervous yang melanda kami tak menghalangi kami untuk memberikan penampilan yang terbaik.

Penampilan kami diakhiri dengan di sambut oleh suara sorak-sorai penonton yang mendukung tim kami. Saat kami kembali ke back stage, Hyukjae oppa dan Cheon Sa sunbaenim langsung mengacungi kerja keras kami dengan dua jempol. “Benar-benar good job,” ujar Hyukjae oppa sangat puas dengan penampilan kami. “Sekarang kita tinggal menunggu hasilnya.”

 

Sekarang tiba saatnya pengumuman hasil lomba. Aku menundukkan kepalaku saat posisi juara pertama akan dibacakan.

“Juara pertama, diraih oleh……… SEOUL DANCER GROUP!!!”

Seketika suasana menjadi riuh. Semua anggota tim dan member club kami langsung berteriak histeris mendengar nama club kami yang disebut oleh MC sebagai juara pertama dalam ajang perlombaan tari tingkat nasional tahun ini.

Sementara yang lain bersorak-sorai dengan kemenangan yang kami raih, aku hanya bisa terdiam di posisiku semula. Aku sangat syok dengan kemenangan itu. Saking tak percayanya aku sampai tak bisa berkata-kata karenanya.

Ku pandangi sekelilingku. Air mata bahagia mulai membanjir pada sebagian besar anggota tim. Gaeul terus menangis di pelukan Donghae oppa. Sementara itu aku juga bisa melihat rasa puas dan bangga yang terpancar dari wajah Hyukjae oppa. Kemudian Teuki oppa memeluk tubuhku dengan sangat erat.

“Kau memang dongasaeng oppa. Oppa sangat bangga padamu,” teriaknya sembari mengangkat tubuhku.

Kemudian kami beramai-ramai naik ke atas pentas untuk menerima trofi kemenangan dan berbagai hadiah lainnya. Hyukjae oppa sebagai pelatih mewakili kami semua untuk menyampaikan pidato kemenangan dan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kami. Setelah itu kami melanjutkan pesta kemenangan tim kami.

 

Malam sudah sangat larut saat pesta kemenangan tim kami usai. Semua anggota tim yang lain sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu pula dengan Gaeul yang pulang diantar oleh Donghae oppanya.

Sekarang hanya tinggal aku, Teuki oppa, Hyukjae oppa, dan Cheon Sa sunbaenim. Saat ini kami sedang berada di pinggir jalan bersiap-siap untuk pulang.

“Aku pulang duluan ya,” Sangmi sunbaenim berpamitan pada kami dan langsung berjalan menjauh meninggalkan kami.

“Hyukjae~ya, tolong kau antar adikku pulang ke rumah dengan selamat. Ini pakai saja mobilku,” ujar Teuki oppa tiba-tiba sembari memberikan kunci mobilnya kepada Hyukjae dan segera berlari menyusul Sangmi sunbaenim.

“Cheon Sa~ya, tunggu aku. Biar aku antar kau sampai ke rumah,” teriak Teuki oppa memanggil Cheon Sa sanbaenim.

“Aku tidak mau diantar olehmu! Aku bisa pulang sendirian,” Cheon Sa sunbaenim balas berteriak.

“Ya! Mana boleh seorang gadis pulang sendirian semalam ini,” ucap Teuki oppa.

Aku dan Hyukjae oppa hanya bisa geleng kepala melihat tingkah mereka.

 

“Besok aku akan kembali ke Amrik,” ujar Hyukjae oppa tiba-tiba membuatku sangat terkejut.

Kami sudah tiba di rumahku sejak 15 menit yang lalu. Hyukjae oppa menolak meninggalkan aku sendirian. Dia memetuskan untuk menemaniku sampai Teuki oppa kembali. Dan sekarang kami sedang duduk di ayunan besi di halaman rumahku.

Aku menatap lurus ke wajahnya. Mengamatinya, mencoba mencari kebohongan yang ada di sana. Tapi aku tak berhasil menemukannya. Apa yang dikatakannya barusan adalah sebuah kebenaran.

“Yooran datang ke Seoul untuk mengajakku kembali. Dia berharap kami bisa bersama lagi seperti dulu. Dua hari lalu dia datang ke studio untuk berpamitan. Dia sudah kembali ke Amrik kemarin. Tapi dia bilang dia akan menungguku.

“Lalu ini keputusan oppa?” tanyaku kemudian.

“Ne,” jawab Hyukjae oppa lirih.

Seketika ada perasaan perih merayapi hatiku. Hyukjae oppa sangat mencintai wanita itu. Takkan ada tempat bagiku di hatinya selamanya.

Kemudian kami terdiam lama. Kami hanyut dalam pikiran masing-masing.

“Mungkin ini pertemuan terakhir kita,” Hyukjae oppa memecahkan keheningan antara kami. “Senang sekali aku bisa mengenal gadis sebrilian kau.”

Aku mencoba tersenyum menanggapi ucapannya walaupun dapat ku rasakan senyuman yang kini menghiasi bibirku adalah senyuman terpaksa. Dan aku berharap Hyukjae oppa tidak mengetahui hal ini.

******

“Yeorum~a, kenapa mukamu di tekuk seperti itu?” tanya Teuki oppa, tak tahan lagi dengan sikapku yang hanya manyun seharian.

Hari ini Hyukjae oppa akan kembali ke Amrik. Hatiku terasa hampa sejak aku mengetahui kabar itu tadi malam langsung dari mulutnya sendiri. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku tak punya alasan untuk mencegahnya pergi.

“Yeorum~a, ada apa?” tanya Teuki oppa lagi, kini dia duduk di sampingku dan sedang memandangi wajahku yang murung lekat-lekat.

“Hyukjae oppa akan kembali ke Amrik hari ini, oppa. Dia pergi untuk mengejar gadis yang dicintainya. Dia tidak akan kembali lagi oppa,” ceritaku tanpa memandang wajahnya.

“Apa kau telah mengatakan perasaanmu padanya?” tanya Teukie oppa hati-hati.

“Ani. Takkan ada gunanya oppa. Itu tidak akan bisa mengubah apapun!” jawabku sambil menahan air mataku.

“Memang tidak akan bisa mengubah apapun. Tapi setidaknya bisa membuat hatimu menjadi lebih ringan,” ujar Teuki oppa menatapku dengan tatapan lembut.

“Kalau kau menyukai seseorang, katakan! Jangan menjadikannya beban dengan hanya menyimpannya di dalam hati. Itu akan membuatmu semakin sulit untuk melepaskannya. Jadi katakanlah, katakan tentang perasaanmu yang sebenarnya agar kau bisa melepaskannya.”

“Oppa benar!” ujarku seketika. “Aku harus menyampaikan perasaanku padanya!”

“Oppa, maukah kau mengantarku ke bandara sekarang? Waktunya tinggal sedikit lagi. Hyukjae oppa akan segera berangkat dan takkan kembali lagi ke sini,” ujarku sambil menghapus air mata yang sempat mengalir di pipiku.

“Kaza,” ujarnya sambil menarik tanganku.

 

Aku langsung turun dari mobil saat Teuki oppa baru saja menghentikan mobilnya di parkiran bandara. Aku meninggalkannya begitu saja tanpa menghiraukan panggilannya.

Aku berlari memasuki bandara dan langsung mengarahkan langkahku ke bagian keberangkatan internasional.

Ku lirik jam tanganku. Waktu menunjukkan jam sepuluh lewat dua puluh menit. Waktuku hanya tinggal sedikit lagi. Ku pacu langkahku lebih cepat lagi. Tak ku hiraukan rasa sesak di dadaku. Yang penting bagiku, aku harus bisa bertemu dengannya sebelum dia benar-benar pergi.

Aku terus berlari hingga akhirnya aku sampai di pintu keberangkatan internasional. Sekarang aku dapat melihat sosoknya yang sedang berjalan untuk memasuki pintu itu.

“Hyukjae oppa!” teriakku memanggilnya. Seketika dia membalikkan badannya ke arahku. Kemudian aku berjalan mendekat ke arahnya hingga jarak antara kami hanya tinggal beberapa meter.

“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanyanya.

“Aku ingin melepas kepergian oppa,” jawabku. “Dan sebelum oppa pergi aku ingin menyampaikan sesuatu kepada oppa.”

Aku diam beberapa saat. Sementara Hyukjae oppa menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulutku.

“Sarangheyo oppa,” tiba-tiba kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku.

Aku kembali terdiam untuk melihat reaksinya sebelum kembali melanjutkan ucapanku.

“Aku sudah jatuh cinta pada oppa sejak pertama kali aku melihat oppa di taman. Aku begitu mengagumi setiap gerakan tubuh oppa. Di mataku tampak begitu ringan dan natural. Setelah oppa tidak datang lagi ke taman itu aku tetap menunggu oppa. Aku datang setiap hari ke sana dengan harapan aku bisa melihat oppa lagi. Tapi oppa tetap tidak datang. Tapi aku tetap menunggu hingga akhirnya kita bertemu di club. Dan oppa jugalah alasan utamaku untuk bergabung dengan club,” ujarku panjang lebar.

“Mianhae Yeorum~a,” ujarnya penuh penyesalan. “Kalau saja aku bisa menggantikan posisinya di hatiku dengan orang lain, aku pasti akan menggantikannya denganmu.”

“Ani,” ujarku menggeleng. “Jangan pernah merasa bersalah padaku oppa. Aku mengatakan ini bukan untuk membebani oppa. Aku mengatakan semua ini untuk membuat agar hatiku bisa terasa lebih ringan. Agar hatiku bisa melepaskan oppa dengan ikhlas.”

Aku kembali terdiam. Sementara Hyukjae oppa tetap menatap lurus ke arahku. Aku tak bisa membaca arti dari tatapannya itu.

“Pergilah oppa. Pergilah ke tempat yang oppa yakini oppa dapat menemukan kebahagiaan di sana. Percayalah selalu pada kata hati oppa. Believe your heart oppa!” ujarku mengakhiri kata-kataku.

“Gomawo Yeorum~a. Gomawo sudah bersikap arif terhadapku. Gomawo juga untuk mencintaiku. Aku akan selalu mengingatnya. Bisa dicintai oleh gadis sepertimu adalah keberuntungan dalam hidupku.” Hyukjae oppa tersenyum kepadaku. Kemudian dia membalikkan badannya dan melangkah maju memasuki pintu keberangkatan internasional. Sementara aku tetap terpaku di tempatku, menatap lurus ke arah punggungnya yang kini menjauh hingga akhirnya dia hilang dari pandanganku.

******

Masa sekarang…

Aku tersadar dari lamunanku oleh pukulan pelan di lututku. Seorang anak kecil kini berdiri tepat di hadapanku sambil mengulurkan sebuah balon biru kepadaku.

“Apa ini untuk noona?” tanyaku ramah sambil menerima balon itu darinya. Anak itu hanya mengangguk kemudian dia langsung berlari meninggalkanku tanpa mengatakan sepatah katapun. Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

Aku kembali mengedarkan pandanganku ke seluruh taman. Tak jauh dari tempatku duduk aku melihat sebuah keramaian kecil di sana. Kemudian aku beranjak dari dudukku dan berjalan menghampiri keramaian itu.

Setelah aku berada di dekat kerumunan itu barulah aku bisa melihat ada seorang pria berjas hitam sedang mempertunjukkan gerakan tarinya kepada pengunjung taman yang mengerubunginya. Pria itu membelakangiku.

Aku memuji tarian yang dipertunjukkannya. Gerakannya sangat indah. Membuat semua orang yang memandangnya terpukau karenanya.

Di akhir pertunjukkannya barulah dia berbalik menghadapku dan membungkukkan tebuhnya tepat di hadapanku bak seorang pangeran yang sedang menyambut kedatangan putrinya.

“Hyukjae oppa!” ujarku terkejut.

******

“Apa yang oppa lakukan di Seoul?” tanyaku saat kami sudah duduk di kursi taman yang ku duduki tadi.

“Menemui gadis yang kucintai,” ujar Hyukjae oppa menatap tepat ke mataku.

“Apa Yooran onnie ada di sini sekarang?” tanyaku lagi.

“Ani,” dia menggelengkan kepala. Kemudian dia menghembuskan napasnya dengan kencang dan mengalihkan tatapannya dariku. “Lima tahun ini aku selalu merasa ada seseorang yang memanggilku untuk kembali ke sini. Makanya aku kembali .”

Aku menatap ke arahnya. Dan tiba-tiba dia duduk berjongkok di hadapanku sambil menggenggam kedua tanganku.

”Gomawo Yeorum~a,” ujarnya kemudian sambil menatap ke dalam mataku. ”Gomawo sudah menungguku selama lima tahun ini.”

Aku tetap terdiam mendengar ucapannya.

“Saranghaeyo Yeorum~a,” ujarnya kemudian membuatku sangat terkejut.

“Yoorin onnie?” tanyaku bingung.

”Aku tak pernah kembali padanya selama lima tahun ini,” ujarnya menjelaskan. ” Saat aku tiba di sana, aku baru menyadari bahwa ada sisi hatiku yang hilang. Dan aku tahu persis sisi hatiku yang hilang itu telah tertinggal bersamamu di sini. Aku bermaksud langsung kembali saat menyadarinya. Tapi tiba-tiba ayahku jatuh sakit. Dan aku harus menggantikannya untuk memimpin perusahaan yang telah dibangunnya dengan darah dan keringatnya. Aku sudah begitu lama meninggalkan keluargaku. Dan saat itu aku menyadari bahwa sudah saatnya aku menjalankan kewajibanku sebagai seorang anak yang sudah lama aku tinggalkan. Akhirnya aku memutuskan untuk tetap tinggal saat itu. Walaupun demikian aku tetap berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu saat nanti aku akan kembali. Aku akan kembali hanya untuk seseorang. Aku akan kembali untukmu karena aku percaya kau akan tetap menungguku. Seperti kata terakhir yang kau ucapkan di bandara saat itu. Aku harus mempercayai hatiku. Dan aku mempercayainya,” ujarnya menyelesaikan ceritanya.

”Saranghaeyo Yeorum~a. Jeongmal saranghaeyo,” ujarnya lagi menatap sungguh-sungguh ke dalam mataku.

Aku balas menatap ke dalam matanya dan aku menemukan kejujuran dan kesungguhan hatinya di sana.

”Nado saranghaeyo oppa,” ujarku akhirnya.

Kemudian dia bangkit mendekapku ke dadanya. Aku bisa merasakan kelegaan di sana. Dekapannya yang hangat memberikan ketenangan bagi hatiku yang sudah menunggu tanpa kepastian selama lima tahun ini. ”Aku selalu percaya kau pasti akan kembali oppa,” bisikku di dadanya.

”Gomawo sudah percaya pada hatimu, Yeorum~a,” ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.

THE END

BELIEVE YOUR HEART (Part 3)

Yeorum POV

Aku berpapasan dengan seorang wanita cantik saat akan memasuki studio latihan. Aku menundukkan tubuhku sedikit untuk menghormatinya dan dia tersenyum padaku.

“Dia siapa?” tanyaku pada Gaeul saat tiba di dekatnya.

Gaeul mengangkat bahunya. “Dia datang menemui Hyukjae sunbaenim. Kata anak-anak sih mantan pacarnya Hyukjae sunbaenim. Dia baru datang dari Amrik,” ujar Gaeul setengah berbisik padaku.

“Cheongmal?!” tanyaku terkejut.

“Jangan patah hati dulu, chingu. Statusnya kan mantan pacar, bukan pacar,” Gaeul menepuk-nepuk bahuku bermaksud hendak menenangkanku.

“Kaza, kita ganti baju dulu,” ajaknya kemudian dan aku mengangguk mengiyakan.

Latihan hari ini aku tak bisa konsentrasi. Otakku selalu memikirkan cerita Gaeul tadi. Ini membuatku sangat sering melakukan kesalahan dalam gerakanku. “Untuk apa mantan pacar Hyukjae oppa datang jauh-jauh dari Amrik?” tanyaku dalam hati.

Hyukjae oppa pun sepertinya juga sedang ada masalah hari ini. Mungkin masalah mantan pacarnya itu, tebakku. Emosinya sangat tak terkendali. Sejak awal latihan tadi dia selalu marah-marah dan berteriak kepada member yang melakukan kesalahan. Dan entah sudah berapa kali dia meneriakiku dengan kata-kata yang tak enak di dengar. Pokoknya dia tidak seperti Hyukjae oppa yang biasanya, yang selalu tenang dan sabar saat melatih kami.

“Yeorum~a! Apa yang sedang kau pikirkan? Mengapa kau sibuk melakukan kesalahan sejak tadi? Gunakan feel-mu saat menari,” lagi-lagi dia meneriakiku.

“Kita mulai lagi dari awal!” perintahnya kemudian dan kami kembali melatih gerakan tari tadi dari awal.

Beberapa menit kemudian aku kembali melakukan kesalahan.

“DASAR IDIOT!!!” teriaknya sangat marah dan melemparkan handuk kecil yang dipegangnya sejak tadi kepadaku. Secara refleks aku menghindari lemparannya agar tak mengenai wajahku sehingga handuk itu hanya mengenai bahu kananku. “Apa kau tak dengar kalau dari tadi aku menyuruhmu berkonsentrasi. Dan mana feel-mu? Semua gerakanmu itu hampa!!!”

Kali ini aku sungguh tak tahan lagi mendengar setiap kata-kata marahnya itu. Aku sangat tersinggung karena dia mengataiku idiot. Sementara itu mataku mulai berkaca-kaca sekarang. Akhirnya tanpa mengatakan apapun aku langsung beranjak dari posisiku dan berjalan menuju pinggir arena. Gaeul sempat menahanku saat itu tapi aku langsung menepiskan tangannya yang memegang lenganku.

“Ya, Yeorum~a! Mau kemana kau? Latihan belum usai,” teriaknya lagi padaku. Tapi aku tak menggubrisnya sama sekali. Hatiku benar-benar sakit karena ucapannya. Ku masukkan semua barang-barangku dan berjalan menuju pintu ke luar studio untuk meninggalkan tempat itu.

“Aaaaa…” Aku masih sempat mendengar teriakan frustasinya saat pintu studio menutup di belakangku. Kemudian aku menyusuri trotoar menuju ke halte bis. Saat itu hari sudah mulai gelap. Sementara air mataku semakin menggenang sebagai akibat rasa sakit di hatiku. Sesampainya di halte aku tak sanggup lagi menahannya sehingga akhirnya tangisku pecah.

Aku duduk di bangku halte sambil menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku. Untung saja tak ada seorang pun kecuali aku di halte saat itu. Kalau tidak, aku pasti akan menjadi tontonan umum.

Entah berapa lama aku menangis sendiri di halte itu. Aku baru menegakkan tubuhku saat aku mendengar ada langkah-langkah yang menuju ke arahku. Buru-buru ku hapus sisa air mataku agar orang itu tak melihat bahwa aku sedang menangis. Dan kubalikkan tubuhku sehingga membelakangi orang yang baru datang itu agar dia tak dapat melihat mataku yang bengkak karena habis menangis.

Aku dapat merasakan orang yang baru datang itu duduk tak jauh dari tempatku. Dan tiba-tiba….

“Mianhae…” ujar sebuah suara yang sangat ku kenal. Pemilik suara itu tak lain adalah Hyukjae oppa.

“Cheongmal mianhae,” ulangnya lagi. “Aku tak bermaksud mengataimu seperti itu. Juga tak seharusnya aku menumpahkan kekesalanku kepadamu ataupun kepada member yang lainnya. Mianhae, jeongmal mianhae,” ujarnya terdengar sangat menyesal. Sementara aku tetap duduk membelakanginya.

Tiba-tiba dia mengulurkan sesuatu dari balik bahuku. Ku tatap tak percaya benda yang diulurkannya itu. Sebuah balon biru?!

Aku langsung membalikkan badanku untuk menatapnya dengan mataku yang bengkak. “Bisa-bisanya oppa berpikir untuk membujukku dengan barang seperti ini,” ujarku seketika, sebuah senyum mengembang di bibirku.

“Apa itu berarti kau sudah tak marah lagi padaku?” tanyanya sambil menunjuk lengkungan yang menghiasi daerah sekitar mulutku. Pertanyaannya itu membuat senyumanku semakin lebar.

“Aaahh… Ternyata analisaku selama ini benar,” ujarnya sambil meregangkan tubuhnya.

“Analisa tentang apa?” Aku menatap ingin tahu padanya.

“Ternyata hampir semua wanita di dunia ini memiliki sisi kekanakan,” dia mengerling jahil kepadaku. “Kalau mereka marah, cukup menghibur mereka hanya dengan hal sepele, mereka akan langsung memaafkan semua kesalahan. Buktinya kau, cukup diberi sebuah balon biru saja kau langsung bisa tersenyum begitu manisnya padaku sekarang.”

“Mwo?!” ujarku tak suka dengan analisanya.

“Berarti analisaku tentang pria juga benar dong?!” balasku tak mau kalah. Hyukjae oppa mengerutkan keningnya mendengar ucapanku.

“Sebagian besar pria selalu melampiaskan emosi mereka dengan mengkambinghitamkan orang lain yang ada di sekitarnya,” ujarku sengit.

Seketika tawanya meledak mendengar ucapanku. “Ternyata kau lebih cerdas dari apa yang kupikirkan selama ini,” ujarnya lagi sambil menepuk-nepuk pelan kepalaku. Dan aku hanya menatapnya tak percaya.

“Ngomong-ngomong dimana oppa mendapatkan balon biru ini?” tanyaku saat tawanya mereda.

“Oh…itu…tadi aku memohon kepada seorang adik kecil yang kebetulan lewat di depan studio. Untung saja dia bersedia memberikannya padaku. Kalau tidak…entah sampai kapan kau akan marah padaku?” dia kembali menyunggingkan senyum jahilnya itu padaku.

“Oppa…kau ini benar-benar tidak modal,” ujarku sambil memukulinya dengan balon yang diberikannya tadi.

“Sudah, sudah. Kalau balonnya pecah oppa tak punya gantinya,” ujarnya masih terus menggodaku.

“Dasar pelit!” rutukku kemudian sambil menjulurkan lidah padanya. Kemudian kami terdiam beberapa saat.

“Apakah wanita yang tadi siang itu yang membuat oppa resah?” tanyaku mencoba memberanikan diri.

“Ne,” jawabnya singkat dengan pandangan tetap lurus ke depan.

“Apa dia mantan pacar oppa?” tanyaku lagi.

“Hmmm”

“Apa oppa masih mencintainya?”

“Ne,” jawabnya, masih tanpa menatapku. Sebuah luka tergores di hatiku saat ini dan rasanya amat perih.

“Itu bismu tiba,” ujarnya tiba-tiba. Aku tahu dia sedang menghindari percakapan ini. Aku pun tak bermaksud untuk melanjutkannya. Aku tak mau luka ini akan semakin membuat luka di hatiku menganga lebar.

“Ne,” jawabku seraya berdiri dari dudukku dan melangkah maju mendekati bis yang sudah menungguku.

“Yeorum~a, beristirahatlah lebih awal malam ini,” ujar Hyukjae oppa saat aku hampir mencapai pintu bis. “Besok latihan kita yang terakhir, pasti akan sangat melelahkan.”

Aku mengangguk ke arahnya, kemudian aku masuk ke dalam bis. Aku terus menatap ke arahnya sementara bis yang kutumpangi terus berjalan menjauh dari halte itu.

******

Hari ini hari terakhir latihan kami. Keesokan harinya kami sudah harus bertempur. Semua member yang akan turun berlatih dengan keras. Dan sepertinya suasana hati Hyukjae oppa sudah sedikit membaik. Dia sudah tak marah-marah lagi hari ini.

Tapi pada saat sedang asyik-asyiknya latihan, tiba-tiba…..

“Au…” aku berteriak dan jatuh terduduk karena kakiku terkilir dan rasanya sakit sekali. Semua anggota tim langsung menghampiriku begitu juga dengan Hyukjae oppa.

“Gwaenchanayo?” tanyanya panik sambil memeriksa pergelangan kakiku. Sementara aku terus meringis menahan sakitnya.

“Sepertinya kau terkilir,” ujarnya kemudian.

“Kau istirahat dulu di pinggir arena agar aku bisa memeriksa pergelangan kakimu,” ujarnya lagi sambil melingkarkan lenganku di bahunya dan membantuku berdiri.

“Yang lain tetap lanjutkan latihan!” perintahnya kepada anggota tim yang lain dan membawaku ke pinggir arena.

Saat Hyukjae oppa sedang memeriksa pergelangan kakiku Cheon Sa sunbaenim menghampiri kami.

“Gwaenchanayo?” tanyanya kepada Hyukjae oppa.

“Dia terkilir,” jawab Hyukjae oppa tanpa mengalihkan perhatiannya dari pergelangan kakiku.

“Bagaimana kalau aku saja yang merawatnya?” usul Cheon Sa sunbaenim membuatku dan Hyukjae oppa sama-sama terkejut.

“Gwaenchanayo?” tanya Hyukjae oppa ragu.

“Ya Hyukie~a, apa kau pikir aku akan mematahkan kakinya?” Cheon Sa sunbaenim mendengus kesal. “Aku ini juga pelatih di club kita. Tentu saja aku menginginkan semua member club kita dalam keadaan baik-baik saja.”

“Sudah sana!” perintahnya kemudian saat melihat Hyukjae oppa yang masih terbengong-bengong. “Kau latih saja yang lain dengan baik. Jangan sampai tim kita kalah besok.”

Cheon Sa sunbaenim menarik tangan Hyukjae oppa sampai berdiri dan mendorongnya agar pergi ke tengah arena latihan.

“Coba ku periksa pergelangan kakimu,” ujarnya setelah berhasil membujuk Hyukjae oppa meninggalkan kami.

“Pergelangan kakimu benar-benar terkilir dan sepertinya keadaanya cukup parah.” Cheon Sa sunbaenim mengurut pergelangan kakiku dengan sangat hati-hati. Aku meringis karena menahan sakitnya.

“Mianhae,” ujar Cheon Sa sunbaenim tiba-tiba membuatku terkejut.

“Untuk apa?” tanyaku tak mengerti.

“Karena bersikap kurang baik terhadapmu,” ujarnya tanpa mengalihkan perhatiannya dari pergelangan kakiku. “Saat itu aku benar-benar tidak bisa melihat bakatmu dalam menari. Tapi si Hyukjae itu terus saja membelamu. Dia benar-benar membuatku kesal!”

“Jadi…benar kalau sunbaenim tak menyukaiku karena itu?” tanyaku mencoba memberanikan diri.

“Hmmmm,” jawabnya tetap  berkonsentrasi pada pergelangan kakiku.

“Jadi benar alasan sunbaenim tak menyukaiku karena…”

“…..karena aku menyukai Hyukjae,” ujarnya seketika memandangku. Kemudian tiba-tiba dia tertawa, menertawakan ucapanku.

“Ternyata kau juga termakan oleh gosip yang beredar di club,” ujarnya disela-sela tawanya. Sementara aku hanya memandang tak mengerti kepadanya.

Kemudian Cheon Sa sunbaenim menghentikan tawanya dan berdehem. ” Ehm… Dia terus membelamu waktu itu, seketika aku tahu ada yang spesial dari dirimu. Tapi bukan karena itu aku aku keberatan menerimamu. Keberatanku murni karena penilaianku, karena aku merasa kau tak berbakat di dunia tari. Tapi penilaianku salah. Sekarang kau telah berhasil membuktikan bahwa kau memang berbakat. Hanya dalam beberapa minggu saja kau mampu menguasai gerakan rumit hasil ciptaan Hyukie, yang biasanya selalu sulit untuk diikuti oleh orang lain, terutama orang yang baru saja mengenal dunia tari sepertimu. Aku benar-benar kagum padamu dan aku sama sekali sudah tak mempermasalahkan keberadaanmu di club kami. Kau memang layak untuk itu.

Tapi soal gosip aku menyukainya. Itu sama sekali tidak benar. Aku menyayanginya hanya sebagai seorang sahabat. Sama seperti kau menyayangi Gaeul. Aku hanya takut kehadiranmu mengganggunya,” jelasnya panjang lebar.

“Apa maksud sunbaenim dengan kehadiranku mengganggunya?” tanyaku tak mengerti.

“Kau akan mengerti sendiri suatu saat nanti,” ujarnya penuh tanda tanya.. “Tunggu sebentar! Aku ambil kotak obat dulu.”

Cheon Sa sunbaenim pergi meninggalkanku dan kembali beberapa saat kemudian dengan membawa kotak obat di tangannya. Kemudian dia kembali berjongkok di depanku dan menempelkan koyo yang diambilnya dari dalam kotak obat itu ke pergelangan kakiku.

“Nah, semoga ini bisa membantu meringankan rasa sakitnya. Bagaimana rasanya?” tanyanya kemudian.

“Rasanya lebih baik,” aku tersenyum padanya.

 

Para anggota tim di beri waktu istirahat selama 15 menit sebelum mereka kembali berlatih.

“Ok, ini latihan kita terakhir. Aku harap gerakan kalian benar-benar bersih. Tak ada lagi kesalahan. Anggap di latihan ini kalian sudah berada di atas panggung perlombaan. Arasseo?” tanya Hyukjae oppa kepada semua member yang langsung di jawab kompak oleh semua anggota tim.

“Sunbaenim, izinkan aku ikut latihan terakhir ini,” ujarku ketika mereka akan memulai latihan.

“Andwe!” tolak Hyukjae oppa. “Bisa-bisa kakimu akan semakin parah kalau di paksa bergerak.”

“Tidak apa-apa sunbaenim. Kakiku sudah sedikit membaik,” paksaku.

“Kau yakin?” tanyanya tak percaya. Aku mengangguk untuk meyakinkannya hingga akhirnya Hyukjae oppa mengizinkanku untuk ikut dalam latihan itu.

******

“Gwaenchanayo?” tanya Hyukjae saat aku baru keluar dari ruang ganti dan menghampirinya yang menungguku di depan pintu ke luar studio.

“Ne,” jawabku menenangkannya.

“Tapi sepertinya sangat sakit,” ujarnya sambil mengamati ekspresiku yang kesakitan.

“Yeorum~a, bagaimana keadaan kakimu? Gwaenchanayo?” Hyukjae oppa tiba-tiba sudah berada di dekat kami.

“Oppa?! Kau belum pulang?” tanyaku.

“Aku sengaja menunggumu,” ujarnya sambil berjongkok dan menggulung sedikit jins yang ku kenakan tanpa sempat ku cegah.

“Aigo…! Kakimu bengkak Yeorum~a,” ujarnya panik.

“Gwaenchana oppa,” ujarku mencoba menenangkannya.

“Apanya yang tidak apa-apa?” bentaknya padaku dan kemudian dia beralih kepada Gaeul. “Gael~a, kau pulang saja. Sudah malam. Beristirahatlah yang baik agar besok bisa tampil fresh. Biar aku yang mengantarkan Yeorum pulang. Lagi pula kalau kau yang mengantarnya, kau takkan kuat menggendongnya.”

“Mwo?” ujarku kaget dengan ucapan Hyukjae oppa tadi. “Apa maksud oppa dengan kata menggendong tadi?”

“Tentu saja aku akan menggendongmu pulang. Mana mungkin kau berjalan dengan kaki seperti ini. Bisa-bisa kau baru sampai besok pagi,” omelnya panjang lebar. Gaeul sibuk menahan senyum gara-gara ucapannya. Sementara wajahku jadi memerah karena malu.

“Baiklah oppa. Kalau begitu sahabatku yang satu ini aku titipkan pada oppa. Tolong antarkan dia dengan selamat sampai ke rumah ya oppa. Anyeong…” ujarnya segera berlari meninggalkan kami berdua.

“Ayo naik ke punggungku!” kemudian Hyukjae oppa berjongkok di depanku.

“Tapi oppa,”

“Aishh…kau ini!” ujarnya geram sambil menarik tanganku hingga aku jatuh di punggungnya dan dia langsung mengangkat tubuhku.

Hyukjae oppa menggendongku sepanjang perjalanan pulang ke rumahku. Bahkan dia masih tidak mengizinkanku turun dari punggungnya saat kami sudah berada di depan pintu rumahku.

“Aigo… Yeorum~a! Apa yang terjadi padamu? Kenapa kau bisa digendong pulang seperti ini?” Teukie oppa langsung panik saat melihat aku yang pulang digendong dengan pria yang tak dikenalnya.

“Oppa biarkan kami masuk dulu. Hyukjae oppa sudah keberatan karena harus menggendongku sepanjang jalan,” ujarku padanya.

“Ne, ne. Silakan masuk,” ujarnya memberi jalan agar kami bisa lewat.

“Turunkan saja dia di sofa itu,” ujarnya sambil menunjuk ke sofa panjang yang ada di ruang tamu. “Apa yang terjadi padanya?”

“Kaki Yeorum terkilir,” ujar Hyukjae oppa sambil menggulung celana jinsku.

“Huwaaa…kakinya bengkak,” teriak Teuki oppa kemudian saat melihat pergelangan kaki kananku.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanyanya panik.

“Tolong ambilkan air hangat untuk mengompres kakinya,” ujar Hyukjae oppa sopan.

“Ok, ok. Tunggu sebentar. Aku akan segera kembali,” ujar Teuki oppa masih panik dan segera berlari ke dapur.

“Oppamu sangat menyayangimu,” ujar Hyukjae oppa padaku kemudian.

“Teuki oppa terlalu over protective,” jawabku.

Tak lama kemudian Teuki oppa muncul dengan membawa baskom yang berisi air hangat. Dia memberikannya kepada Hyukjae oppa dan Hyukjae oppa langsung mengompres kakiku.

“Apa akan baik-baik saja?” Tanya Teukie oppa lagi.

“Akan lebih baik kalau di bawa ke rumah sakit,” Hyukjae oppa menyarankan.

“Kalau begitu kita ke rumah sakit saja, Yeorum~a?” sambar Teuki oppa.

“Aku tidak mau! Dikompres juga bisa baik kok,” bantahku.

“Aishh…kau ini! Keras kepala sekali,” ujar Teuki oppa kesal.

“Usahakan agar semalaman ini tetap dikompres. Mudah-mudahan besok sudah lebih baik,” ujar Hyukjae oppa sambil bangkit dari jongkoknya.

“Kalau begitu aku pulang dulu. Maaf mengganggu. Selamat beristirahat,” sambungnya lagi.

“Kalau begitu aku antar kau ke depan pintu,” ujar Teuki oppa ramah. “Tapi ngomong-ngomong siapa namamu?”

“Mianhaeyo telah berbuat tidak sopan,” Hyukjae oppa langsung membungkukkan tubuhnya di hadapan Teuki oppa. “Annyeonghaseyo, choneun Hyukjae imnida.”

“Aaahh…sudahlah. Aku sama sekali tak menganggap kau tidak sopan,” Teukie oppa mengibaskan tangannya. “Kondisinya sudah seperti ini. Wajar kalau kau lupa memperkenalkan namamu.”

“Gomawo hyung atas pengertiannya. Kalau begitu aku pulang dulu.”

“Mari,” Teuki oppa mempersilahkan Hyukjae oppa dengan sopan.

“Oppa,” panggilku saat dia sudah di ambang pintu dan dia kembali membalikkan badannya ke arahku. “Aku akan datang besok!”

“Sudahlah, jangan terlalu memikirkan perlombaan dulu. Yang penting sekarang kakimu lekas sembuh,” jawabnya.

“Anni… Aku sudah berjanji. Jadi aku pasti datang,” ujarku keras kepala.

“Aishh…kau ini!” ujar Teuki oppa geram melihat kekeraskepalaanku. “Sudahlah Hyukjae ah, tak perlu membujuknya lagi. Penyakit keras kepalanya itu benar-benar sudah akut. Tak ada obatnya lagi.”

Hyukjae oppa hanya tersenyum mendengarkan ucapan Teukie oppa. “Beristirahatlah!” ujarnya padaku.

“Aku pulang dulu hyung. Selamat malam,” pamitnya lagi pada teukie oppa.

“Ne,” jawab teuki oppa.

“Khamsahamnida,” teriak Teuki oppa saat aku tak lagi dapat melihat Hyukjae oppa.

“Kau mau ke mana?” tanya Teuki oppa saat melihat aku mencoba beranjak dari tempatku berada sekarang.

“Mau ke kamar,” jawabku.

“Tetaplah duduk di situ!” perintah oppa sambil buru-buru mengunci pintu rumah kami dan berlari ke dekatku. Kemudian Teukie oppa berjongkok di depanku.

“Naiklah ke punggung oppa! Oppa akan menggendongmu sampai ke kamar,” perintahnya lagi.

“Ok,” teriakku kegirangan dan menaiki punggungnya.

“Aigo, aigo…! Sudah lama tak menggendongmu, ternyata berat badanmu bertambah banyak,” ujarnya saat berusaha berdiri dengan aku berada dipunggungnya.

“Apa dia pelatihmu?” tanya Teuki oppa saat kami menaiki tangga menuju ke kamarku di lantai dua.

“Hmmm,” jawabku. “Dan dia adalah pria tamanku.”

Teukie oppa mendudukkanku di atas tempat tidurku. “Benarkah?” tanyanya dengan napas ngos-ngosan. Kenapa kau tak memberi tahu oppa kalau perkembangannya sudah sejauh ini?”

“Jangan menduga yang aneh-aneh oppa. Antara kami tak terjadi apa-apa. Dia sudah mempunyai wanita yang dicintainya,” aku bisa merasakan perubahan ekspresi wajahku.

Teukie oppa duduk di sampingku dan kemudian dia memelukku. “Sayang sekali kalau begitu. Padahal menurut oppa dia pria yang baik. Tapi pasti akan datang pria yang lebih baik lagi nantinya,” ujar Teuki oppa menghiburku.

“Gomawo oppa,” ujarku sambil melepaskan pelukannya agar aku bisa melihat wajah oppa yang sangat kusayangi ini.

Keningnya berkerut tanda dia tak mengerti dengan apa yang sedang ku katakan. “Gomawo karena telah menjadi oppaku,” ujarku meneruskan ucapanku.

“Tidak perlu berterima kasih. Suatu kebanggaan bagi oppa memiliki dongsaeng secantik dan secerdas kau,” ujarnya sambil membelai lembut kepalaku.

“Istirahatlah,” ujarnya kemudian sambil mengecup keningku dan melangkah ke luar dari kamarku.

To Be Continue…..

BELIEVE YOUR HEART (Part 2)

Yeorum POV

“Kau tunggu di sini sebentar ya chingu. Aku mau ganti baju dulu,” ujar Gaeul saat kami tiba di studio latihan mereka.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Suasana studio masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang ada di tengah-tengah arena latihan. Mereka sedang melakukan pemanasan.

“Hmm….ternyata anggota club ini sangat disiplin. Walaupun pelatih mereka belum datang, mereka sudah langsung melakukan pemanasan tanpa diperintah,” pikirku.

“Kau sedang lihat apa?” Gaeul berbicara tepat di telingaku. Membuatku kaget saja.

“Aigo…. Gaeul~a! Bisa tidak kau berhenti bersikap seperti hantu? Selalu muncul tiba-tiba. Membuat orang kaget saja!” aku mengelus-elus dadaku, berusaha menenangkan jantungku yang berdetak kencang karena terkejut.

“Hehehe… Sorry, chingu. Aku tak bermaksud mengagetkanmu.” Aku memanyunkan bibirku tanda kesal.

“Yeorum~a, kau duduk di sini saja dulu. Aku mau pemanasan dulu ok,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku dan langsung berlari menuju ke tengah-tengah arena latihan yang kini mulai ramai.

Aku memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan Gaeul. Diam-diam dalam hati aku memujinya. Sepertinya Gaeul memang dilahirkan untuk menjadi seorang dancer.

Ceklek!!!

Beberapa saat kemudian aku mendengar pintu studio terbuka. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang. Sepasang laki-laki dan perempuan sedang berjalan menuju ke tengah-tengah arena latihan sambil mendiskusikan sesuatu.

Jantungku langsung berdegup kencang saat mengenali laki-laki yang baru saja datang itu. “Bukankah itu dia?!” jerit hatiku. “Dia pria tamanku!”

“Annyeong,” ujar laki-laki itu menyapa semua member. Member club yang tadi sibuk pemanasan langsung berkumpul di hadapannya.

“Ok, hari ini kita lanjutkan latihan gerakan yang kemarin. Waktu kita tinggal dua bulan lagi untuk mengikuti perlombaan itu. Jadi ku harap tak ada yang main-main lagi sejak saat ini karena perlombaan ini sangat penting bagi club kita. Kita harus bisa mempertahankan gelar juara kita. Arasseo?” ujarnya lagi kepada seluruh member.

“Ne sunbaenim,” ujar seluruh member serentak.

“Kalau sudah mengerti ambil posisi kalian masing-masing!” perintahnya lagi.

Semua member langsung dengan sigap mengambil posisi mereka masing-masing. Kemudian mereka memulai latihan mereka.

Selama latihan semua member club mengikuti setiap gerakan sang pelatih dengan serius. Sementara mataku tak pernah bisa beranjak dari sang pelatih yang tak lain adalah pria tamanku. Dalam hatiku, aku tak henti-hentinya memuji gerakannya. Begitu ringan dan natural. “Pantas saja aku sudah menyukai setiap gerak tubuhnya sejak aku melihatnya pertama kali. Ternyata dia adalah seorang pelatih dance,” ucapku dalam hati.

Mataku begitu lekat memperhatikannya sampai-sampai aku tak menyadari bahwa latihan sudah usai.

“Bagaimana? Pelatih baru kami cakep kan?” tiba-tiba saja Gaeul sudah ada di dekatku.

“Eh…oh… latihannya sudah selesai ya?” ujarku gugup.

“Waahhh… Kenapa kau jadi gugup begitu? Kau naksir ya pada pelatih baru kami?” Gaeul tersenyum jahil. “Kan sudah ku bilang…kau pasti akan menyu….hmmph,” aku langsung membekap mulut Gaeul karena ku lihat pelatih itu sedang mendekat ke arah kami. Dan tiba-tiba jantungku kembali berdebar tak karuan.

“Gaeul ssi, aku minta kau berlatih lebih keras lagi. Aku sudah memutuskan kalau kau akan diikutsertakan dalam perlombaan kali ini. Gerakanmu sangat alami. Aku menyukainya,” ujarnya saat sampai di hadapan kami.

“Kau mengerti apa yang ku katakan Gaeul ssi?” tanyanya lagi saat melihat ekspresi Gaeul yang terbengong-bengong karena ucapannya tadi.

“Jeongmal sanbaenim?” tanya Gaeul tak percaya.

“Ne,” ujarnya mengangguk.

Seketika Gaeul langsung menjerit kegirangan dan memeluk tubuhku. Aku yang dari tadi hanya bengong menjadi sangat terkejut mendengar teriakannya.

“Apa kau dengar apa yang dikatakan Hyukjae sanbaenim tadi?” tanyanya bersemangat padaku. “Aku akan ikut dalam perlombaan kali ini Yeorum~a. Aku akan ikut!”

“Cukhaeyo…cukhaeyo…,” ujarku ikut bahagia untuknya.

“Kau?” Hyukjae sanbaenim tiba-tiba menunjuk ke arahku. “Kau temannya Gaeul ssi yang katanya mau ikut seleksi untuk masuk club kami kan?”

“MWO!!!” ujarku kaget setengah mati. Aku menatap sengit ke arah Gaeul. Minta penjelasan!

“Kemarin Gaeul ssi bilang ada temannya yang tertarik untuk bergabung dengan club kami. Apakah kau orangnya?” tanyanya lagi.

“Aaah… Ne sanbaenim. Yeorum-lah orangnya,” ujar Gaeul semakin membuatku terkejut. Aku menatap tak percaya kepadanya. Dia berpura-pura tak melihat tatapan memperingatkanku.

“Kalau begitu kita test sekarang saja,” ujar Hyukjae sunbaenim. Dalam waktu beberapa menit saja aku sudah mengalami tiga kali serangan jantung.

“Di sana saja.”

Kemudian Hyukjae sunbaenim berjalan menuju ke tengah arena latihan dan memanggil sang pelatih wanita yang sekarang sedang mengobrol dengan beberapa member club yang lain.

“Gaeul~a, kau apa-apaan sih? Apa maksudmu dengan mengatakan kalau aku ingin bergabung dengan club?” ujarku sambil menarik lengannya agar kami lebih ke pinggir arena.

“Mianhaeyo chingu. Aku cuma merasa kau sangat cocok dengan Hyukjae sunbaenim.”

“Aisshhh kau ini! Apa yang ada di dalam otakmu itu? Bisa-bisanya kau lakukan semua ini padaku hanya dengan alasan kau merasa kalau aku cocok dengannya. Otakmu itu memang benar-banar perlu diobati. Pabo!” omelku panjang lebar.

“Aigo… Ngomelnya nanti saja. Sekarang mereka sedang menunggumu untuk seleksi,” Gaeul menarikku menuju ke tengah arena latihan tempat di mana Hyukjae sunbaenim dan pelatih wanita yang aku tak tahu siapa namanya, sedang menungguku.

“Apa bisa dimulai sekarang?” tanya Hyukjae sunbaenim saat kami sudah berada di dekatnya dan aku langsung meringis mendengar ucapannya.

“Apa kau punya musik pengiring sendiri untuk mengiringi tarianmu?” Aku tak memperhatikan pertanyaannya. Aku hanya sibuk menatap ke arah Gaeul dengan tatapan mengancam.

“Apa kau punya musik pengiring sendiri?” tanyanya lagi, dan kali ini dia berhasil memfokuskan perhatianku kembali kepadanya.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya lagi secara perlahan untuk menenangkan hatiku. “Aku akan mencoba gerakan yang kalian pelajari saat latihan tadi saja,” akhirnya aku memutuskan.

“Ok, mulai!” Hyukjae sunbaenim langsung menghidupkan tape yang ada di sampingnya.

Aku mencoba menirukan gerakan yang mereka latih saat latihan tadi. Aku baru melihatnya sekali, tapi itulah satu-satunya tarian yang bisa ku ingat saat ini walaupun aku tahu gerakanku sangat kaku. Aku memang sangat suka kalau melihat dancer-dancer sedang menari dengan gerakan yang rumit dan indah. Tapi sumpah, aku hanyalah seorang penikmat. Sama sekali tak pernah terpikir olehku kalau aku akan menjadi seorang dancer.

Kegugupanku semakin bertambah parah karena pandangan Hyukjae sunbaenim sama sekali tak pernah berpaling dariku. Tentu saja bukan karena dia jatuh cinta padaku seperti aku jatuh cinta padanya tapi melainkan karena dia sedang menilai gerakanku.

Akhirnya siksaan ini berakhir juga saat musik pengiring berhenti. Aku menarik napas lega karenanya. Sementara ku lihat Hyukjae sunbaenim dan pelatih wanita itu sedang berunding.

“Aku sangat terkejut karena kau bisa menghafal gerakan yang kami latih saat latihan tadi. Apa kau pernah mempelajarinya sebelumnya?” tanyanya.

“Mungkin dari Gaeul ssi?” tambahnya lagi dan aku menggeleng.

“Ne sunbaenim, aku tak pernah menunjukkannya kepada Yeorum sebelumnya,” ujar Gaeul bersemangat.

“Daya tangkapmu terhadap gerakan yang baru kau lihat satu kali sungguh mengesankan,” komentarnya.

“Bagaimana menurut pendapatmu Cheon Sa~ya?” tanyanya kemudian kepada pelatih wanita yang sejak tadi berdiri di sampingnya.

“Gerakannya masih sangat mentah. Aku tak mau mengambil resiko untuk memasukkannya ke dalam club kita. Kita hanya akan membuang banyak waktu untuk melatihnya” ujar Cheon Sa sunbaenim tajam.

“Tapi menurutku tidak begitu. Dia bisa menghapal gerakan rumit hanya dalam waktu singkat. Itu adalah modal besar untuk menjadi seorang dancer,” bela Hyukjae sunbaenim.

“Tapi daya ingat bukan modal utama dalam menari Hyukjae~ya. Aku tak bisa merasakan bakatnya dalam menari. Dia hanya akan merepotkan kita saja untuk mengajarinya.” ucapan Cheon Sa sunbaenim sangat membuatku sakit hati.

“Tidak ada orang berbakat manapun bisa menjadi luar biasa tanpa latihan, Cheon Sa~ya. Dan kau salah kalau mengatakannya tak berbakat. Menurutku justru dia sangat berbakat. Gerakannya cukup baik untuk seorang pemula,” Hyukjae sunbaenim terus membelaku. Membuatku Ge Er saja.

“Feelingku mengatakan dia tidak akan bisa!” ujar Cheon Sa sunbaenim tegas.

Hyukjae sunbaenim langsung tertawa mendengar ucapan Cheon Sa sunbaenim. Tawanya sangat renyah. Membuatku semakin terpesona padanya. “Sejak kapan kau mulai meragukan penilaianku, chingu? Dan sejak kapan kau begitu meyakini feelingmu itu?” goda Hyukjae sunbenim.

“Aishh…Hyukjae~ya! Kenapa kau selalu menggunakan kalimat itu untuk memaksaku menyetujui pendapatmu?” Cheon Sa sunbaenim terlihat kesal padanya.

“Tapi itu fakta, chingu. Feelingmu selalu meleset,” ledek Hyukjae sunbaenim.

“Kalau begitu kau putuskan sendiri saja!” ujar Cheon Sa sunbaenim, kemudian meninggalkan arena latihan begitu saja.

“Ok, Yeorum ssi, mulai saat ini kau adalah member club kami dan mulai besok kau harus ikut latihan bersama member yang lain. Kita latihan tiga kali seminggu. Informasi lebih detil tentang jadwal latihan, aku rasa Gaeul ssi bisa membantuku untuk menjelaskannya padamu.”

“Ne sunbaenim, aku pasti akan menjelaskannya pada Yeorum. Sunbaenim tenang saja,” jawab Gaeul bersemangat. Wajahnya yang tampak bersinar tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.

“Baiklah kalau begitu. Aku duluan. Anyeong…”

“Anyeong…” jawabku dan Gaeul serentak saat Hyukjae sunbaenim berbalik dan meninggalkan arena latihan.

******

“Yeorum~a, aku senang sekali karena kau sekarang sudah menjadi member club kami. Itu berarti mulai besok aku akan berlatih bersama chingu-ku ini.” Gaeul tak henti-hentinya mengoceh tentang hal yang sama sejak kami meninggalkan studio latihan tadi.

“Tapi bagaimana kalau kau justru kehilangan sahabatmu ini tadi?” ujarku kesal padanya.

“Nde… Memangnya kenapa aku harus kehilangan kau?” tanyanya polos.

“Bagaimana kalau aku tiba-tiba terkena serangan jantung dan meninggal gara-gara ulahmu tadi?” aku pura-pura merajuk padanya.

“Anniyo… Aku tahu persis kalau jantung chinguku ini sangan sehat dan kuat,” ujarnya sambil memukul pelan dadaku.

“Cih… Kau ini!” kelakuannya membuatku kehilangan kata-kata.

“Tapi gomawo chingu!” ujarku kemudian sembari melingkarkan lenganku ke bahunya.

“Gomawo? Waeyo?” tanyanya dengan tampang bodohnya. Aku jadi bertanya-tanya kenapa Donghae oppa yang sekeren itu bisa cinta mati dengan gadis sebodoh ini.

“Tanpa kau sadari, kau telah membantuku untuk lebih dekat dengan pria tamanku,” aku mengedipkan mataku padanya.

“Pria tamanmu? Apa hubungannya? Yeorum~a, aku tak mengerti,” Gaeul menghentikan langkahnya dan menjatuhkan lenganku yang melingkar di bahunya.

“Dasar pabo! Masa kau tak bisa menebaknya?” aku mendorong jidatnya saking kesalnya.

“Hyukjae sunbaenim adalah pria tamanku itu,” lanjutku.

“JEONGMAL???” teriaknya memekakkan telinga, membuat orang-orang di sekitar kami menoleh ke arah kami.

“Sshh… Pelankan sedikit suaramu,” ujarku membekap mulutnya.

“Jeongmal?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara yang bisa di dengar oleh kuping manusia normal.

“Ne,” jawabku.

“Oooo…. Aku sudah melakukan hal yang benar hari ini,” ujarnya girang.

“Ye… Untuk pertama kalinya,” ledekku.

“Yeorum~a, berhenti meledekku. Kau seharusnya berterima kasih padaku. Kalau bukan karena aku, belum tentu kau bisa bertemu lagi dengan pria tamanmu itu,” rajuknya.

“Ne…ne…ne… Go-ma-wo chingu,” ujarku tepat di depan wajahnya. Gaeul langsung memelukku saking senangnya. Dan kemudian kami melanjutkan perjalanan pulang kami sambil tertawa-tawa.

Singkat kata sejak hari itu aku menjadi member club. Dan yang paling penting aku semakin sering bertemu dengan pria tamanku. Walaupun aku tak bisa bicara akrab dengannya, setidaknya aku bisa memperhatikan gerakan tarinya yang tiada duanya. Dia adalah pelatih yang hebat!

******

Ini adalah minggu keempat aku bergabung di club. Semua member sekarang berlatih keras mempelajari gerakan tari yang akan dibawakan dalam perlombaan nanti. Penyelenggaraan lomba itu hanya tinggal satu bulan lagi.

Walaupun member yang akan diikutsertakan dalam perlombaan nanti semuanya sudah ditetapkan, tapi Hyukjae sunbaenim tetap mengharuskan member yang lain melatih gerakan ini dengan baik. Katanya untuk berjaga-jaga. Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi untuk ke depannya.

Sikap Cheon Sa sunbaenim terhadapku saat ini masih sama dengan sikapnya terhadapku di hari pertama kami bertemu. Dingin dan ketus. Terlihat sekali kalau dia tak menyukaiku.

Gaeul pernah bercerita kalau Cheon Sa sunbaenim dan Hyukjae sunbaenim sudah bersahabat sejak kecil dan mereka sangat dekat. Dan di club menyebar gosip bahwa Sangmi sunbaenim menyukai Hyukjae sunbaenim. Jadi menurutku itulah alasannya mengapa dia tak menyukaiku. Karena saat itu Hyukjae sunbaenim membelaku.

“Yeorum~a, maaf hari ini aku tak bisa pulang denganmu,” ujar Gaeul saat kami baru usai latihan.

“Waeyo?” tanyaku.

“Donghae oppa pulang hari ini. Aku akan menjemputnya di bandara,” ujarnya seperti mau meledak saking girangnya.

“Ne,” jawabku.

“Kau pasti senang sekali,” ujarku lagi dan langsung di sambut dengan senyum lebarnya.

 

Hari mulai gelap saat aku keluar dari studio latihan. Ku langkahkan kakiku menyusuri trotoar menuju ke halte bis terdekat.

Saat aku sampai di halte bis, aku melihat seorang pria sedang duduk sendirian di sana.

“Hyukjae sunbaenim?!” sapaku sembari sedikit membungkukkan badanku.

“Yeorum ssi?!” Hyukjae sunbaenim sedikit terkejut melihat kehadiranku, tapi kemudian dia tersenyum padaku.

“Baru mau pulang sunbaenim?” tanyaku kaku.

“Ne,” jawabnya singkat.

Kemudian aku duduk di bangku halte tak jauh darinya.

“Bagaimana rasanya setelah bergabung di club?” tanyanya kemudian.

“Aku baru tahu kalau menari itu lebih menyenangkan daripada sekedar melihat saja,” ujarku tersenyum.

“Ne. Saat menari kita bisa melepaskan semua emosi kita. Membuat hati merasa ringan karenanya,” ujarnya balas tersenyum padaku.

“Sunbaenim sepertinya sangat menyukai dunia tari?” tanyaku lagi.

“Ne,” ujarnya menganggukkan kepalanya.

”Tarian pula yang telah membuatku nekat meninggalkan keluargaku di Amrik dan datang ke Seoul,” tambahnya dengan mata menerawang.

“Jeongmal?!” tanyaku tak percaya.

“Ne,” jawabnya lagi. “Ayahku melarangku menjadi seorang dancer. Dia sangat membenci dunia yang ku tekuni ini. Setiap kali kami membicarakan masalah ini kami selalu bertengkar. Pemikiran kami sangat bertentangan sehingga aku memutuskan untuk ke luar dari rumah.” Aku hanya terdiam mendengar ceritanya.

“Yeorum ssi?!” panggil Hyukjae sunbaenim saat tak ada reaksi dariku. “Gwenchanayo?” tanyanya lagi

“Ye,” jawabku akhirnya. “Aku hanya merasa sangat sayang.”

“Waeyo?” tanyanya tak mengerti.

“Tentang hubungan sunbaenim dengan ayah sunbaenim.”

“Ooo….” hanya itu yang ke luar dari mulutnya.

“Apa sunbaenim tidak merindukan mereka?” tanyaku lagi.

Hyukjae sunbaenim menarik napas panjang. “Tentu saja aku merindukan mereka. Aku merindukan ibuku yang selalu bersikap hangat. Merindukan adik perempuanku yang sangat manja. Dan tentu saja aku juga merindukan ayahku. Walaupun kami sering bertengkar tapi aku tetap menyayanginya.”

“Sunbaenim sangat beruntung,” ujarku lirih. Hyukjae sunbaenim menatapku dengan penuh tanda tanya.

“Kalau sunbaenim mau memilih, sunbaenim bisa menemui mereka kapan saja sunbaenim mau. Tapi aku, walaupun menginginkannya setengah mati, aku takkan bisa menemui kedua orang tuaku karena mereka sudah tak ada lagi di dunia ini,” air mataku hampir menetes saat mengatakannya. Untung saja bis jurusan ke arah rumahku sudah datang sehingga berhasil membantuku menghalau air mata itu.

“Aku duluan sunbaenim, bis ku sudah datang,” ujarku sambil beranjak dari dudukku dan berjalan menuju bis yang pintunya sudah terbuka.

Saat aku baru saja akan melangkahkan kakiku untuk menaiki bis, Hyukjae sunbaenim memanggilku. “Yeorum~a, lain kali kalau di luar club jangan panggil aku sunbaenim. Panggil saja oppa.”

Aku mengangguk dan kembali melangkahkan kakiku masuk ke dalam bis dan meninggalkannya sendirian di halte itu.

******

Hari demi hari aku semakin dekat dengan Hyukjae oppa. Kami semakin sering saling bercerita saat kami menunggu bis untuk pulang ke rumah. Ya…halte bis seperti menjadi tempat favorit kami.

Sementara itu latihan di club semakin di perketat. Waktu perlombaan hanya tinggal sepuluh hari lagi. Hal ini membuat Hyukjae oppa dan Cheon Sa sunbaenim semakin gila-gilaan menggembleng tim yang akan turun dalam perlombaan itu.

“Ya, semuanya berkumpul dulu di sini,” panggil Hyukjae oppa saat kami baru akan memulai latihan sore ini. Semua anggota club langsung dengan sigap berkumpul di hadapannya.

“Kita sedang dalam masalah besar,” ujarnya dengan wajah sangat serius.

“Kemarin Jessica mengalami kecelakaan dan dipastikan dia tidak akan bisa ikut dalam perlombaan sepuluh hari mendatang,” ucapnya dan langsung disambut riuh oleh seluruh member club.

“Ini artinya kita harus mengadakan seleksi ulang untuk mencari penggantinya dan karena kita tak punya banyak waktu lagi, seleksinya diadakan hari ini juga,” lanjutnya lagi membuat suasana semakin riuh.

Akhirnya seleksi diadakan saat itu juga. Satu persatu member club yang wanita ditest termasuk aku. Dan sekarang kami tinggal menunggu keputusan dari Hyukjae oppa dan Sangmi sunbaenim tentang hasil seleksi itu.

“Siapa kira-kira yang akan terpilih menggantikan Jessica?” ujar Gaeul saat kami duduk di pinggir arena menunggu keputusan.

“Entahlah,” ujarku masih tetap memperhatikan Hyukjae oppa dan Cheon Sa sunbaenim yang terlihat sedang berdebat sengit di pinggir arena tepat di seberang kami.

Tak lama kemudian Hyukjae oppa kembali menyuruh kami berkumpul untuk mengumumkan hasil seleksi.

“Ok, kami sudah berdiskusi tentang hasil seleksi kalian tadi dan kami memutuskan yang akan menggantikan Jessica adalah….” Hyukjae oppa berdehem sejenak. “….. Park Yeorum.”

Seketika suasana menjadi riuh. Seluruh member yang lain langsung menyelamatiku saat itu juga. Sementara Gaeul yang dari tadi ku tahu menahan napas, karena sangat berharap akulah yang akan terpilih, kini meledak kegirangan dan tak henti-hentinya meloncat-loncat sambil merangkulku.

“Yeorum ssi, mulai besok kau akan bergabung dengan tim yang akan turun dalam perlombaan. Latihan akan diadakan tiap hari mulai dari sekarang. Jadi berlatihlah lebih keras,” ujar Hyukjae oppa langsung kepadaku dan aku langsung mengangguk mengiyakan.

“Kita pasti akan memenangkan perlombaan itu oppa,” janjiku dalam hati.

To Be Continue…..

BELIEVE YOUR HEART (Part 1)

Author              : Park Yeorum

FB                     : Bummie Viethree

Twitter             : @green_viethree

Email                : bummie_viethree@yahoo.com

Note                            : FF ini tercipta saat aku seang mabuk ma Unyuk sang mesin dance suju. Gara-garanya aku nonton video SM Town tahun 2008 di Thailand. Aura coolnya si Unyuk membara banget waktu nyanyi one love ma Junsu. Ampe bikin aku termehek-mehek ^_^

Yeorum POV

Ku edarkan pandanganku ke seluruh penjuru taman. Berharap mataku bisa menemukan sosok yang sudah ku nanti selama lima tahun ini. Tapi harapanku selalu berakhir hampa. Karena aku memang tak pernah menemukan sosoknya kembali.

Kemudian aku berjalan ke bangku yang selalu kududuki setiap datang ke taman ini. Di bangku inilah pertama kali aku melihatnya dan sejak saat itu aku selalu memandanginya secara diam-diam, mengagumi setiap gerakannya yang tampak begitu ringan dan natural. Ya…body languege-nyalah yang membuatku selalu tertarik untuk memandanginya.

Sudah lima tahun dia pergi. Tujuannya adalah untuk mengejar wanita yang dicintainya. Walau demikian aku tetap menunggunya. Hatiku selalu mengatakan bahwa aku harus menunggunya. Jadi aku akan tetap menunggunya sampai hatiku mengatakan untuk berhenti menunggunya.

******

Lima tahun lalu….

“Ya, Yeorum~a, kenapa sudah seminggu ini kau berangkat pagi-pagi sekali? seingat oppa tak ada sekolah yang buka sepagi ini,” ujar Teukie oppa tiba-tiba mengagetkanku.

Teukie oppa adalah kakak kandungku. Umur kami terpaut 7 tahun. Dia satu-satunya keluarga yang ku miliki sekarang. Kedua orang tua kami sudah meninggal tiga tahun yang lalu. Sejak saat itu dia adalah segalanya bagiku. Dia menjadi umma, appa, oppa, sekaligus chingu bagiku. Dia selalu menjaga dan menyayangiku. Dia bilang, aku adalah hartanya yang paling berharga di dunia ini.

“Hehe…oppa, sudah bangun ya?” ujarku cengengesan. “Masih pagi oppa. Oppa tidur saja lagi. Maaf telah membuat oppa terbangun.”

“Kau belum jawab pertanyaan oppa. Mau ke mana sepagi ini?” tanyanya lagi padaku.

“Aaah…oppa. Ya ke sekolah lah, memangnya oppa pikir aku mau ke mana?” aku gugup karena harus berbohong padanya.

Teukie oppa memicingkan sebelah matanya dan berjalan mendekatiku. “Yeorum~a, apa kau lupa kalau kau tak bisa berbohong? Lihat hidungmu kembang kempis begitu. Itu tandanya kau sedang berbohong,” Teukie oppa menunjuk hidungku, membuatku secara otomatis memeganginya.

“Oppaaa…” rengekku manja.

“Ayolah jelaskan pada oppa,” Teukie oppa membujukku.

“Aku malu.” Aku bisa merasakan kalau wajahku bersemu merah sekarang.

“Kau ini apa-apaan sih? Aku ini kan oppamu, kenapa kau harus malu? Ayo jelaskan pada oppa,” perintahnya pura-pura galak.

“Sebenarnya…” aku mulai menjelaskan dengan terbata-bata. “…..sebelum ke sekolah aku mau mampir ke taman dulu.”

“Waeeee?” tanya oppa terkejut saat mendengar jawabanku yang memang terasa janggal. Untuk apa kau datang ke taman sepagi ini?”

“Mmmm….karena aku sedang menunggu seseorang,” ucapku pelan.

“Apa dia seorang namja?” oppa bertanya penuh selidik.

Aku mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaannya. Dan seketika muncul ekspresi jahil di wajahnya.

“Ne.. Ne.. Ne. Oppa mengerti sekarang. Ternyata dongsaeng kecil oppa ini sedang jatuh cinta,” oppa mengedipkan matanya untuk menggodaku dan aku hanya tertunduk malu karena kepergok olehnya.

“Ayo ceritakan pada oppa siapa namanya?” tanya oppa lagi. Dan aku menggeleng karena aku memang tak tahu nama pria tamanku itu.

“Apa dia seusiamu?” tanyanya lagi.

“Sepertinya hanya beberapa tahun lebih muda dari oppa,” jawabku.

“Dia tinggal dimana?” Aku kembali menggeleng. “Bekerja atau masih sekolah?” Lagi-lagi aku menggeleng.

“Ya, Yeorum~a, bagaimana kau bisa jatuh cinta pada orang seabstrak itu?” ujar oppa frustasi.

“Kau bahkan tak tahu siapa namanya, apa yang dia kerjakan, dan tinggal di mana. Kau harus berhati-hati. Bagaimana kalau dia seorang penjahat?” omel oppa panjang lebar.

“Aishh oppa ini! Jangan menakutiku. Aku yakin dia orang baik. Tak sedikitpun ada tanda-tanda di wajahnya yang menyatakan bahwa dia seorang penjahat,” ujarku kesal karena ucapannya tadi.

“Memangnya di wajah pria itu tertulis  ‘aku orang baik’ ya?” oppa menggodaku.

“Oppa…” rengekku manja. “Aku hanya belum mengenalnya saja. Selama ini aku hanya melihatnya dari jauh. Aku sama sekali belum pernah bicara padanya.”

“Mwo?” oppa semakin terkejut.

“Sudahlah oppa. Oppa tenang saja. Aku bisa urus masalah percintaanku sendiri. Ok,” ujarku sambil mengedipkan sebelah mataku padanya.

“Aku berangkat dulu ya oppaku sayang. Do’akan agar dongsaengmu yang cantik ini dapat segera bertemu dengan pria abstrak itu hari ini.” Aku mencium pipi oppa sekilas dan langsung meninggalkannya sendiri yang masih terbengong-bengong.

******

“Aduh…dia ke mana sih?” ujarku gelisah karena orang yang kutunggu selama tiga minggu terakhir ini tidak juga muncul.

Ku lirik sejenak jam tanganku. Waktu sudah menunjukkan jam 7 lewat 15 menit. Akhirnya aku memutuskan bahwa penantianku untuk hari ini cukup sampai di sini. Aku harus segera ke sekolah. Aku sudah terlambat.

Ku hampiri sepedaku yang ku sandarkan di kursi taman tempatku duduk tadi. Lalu ku naiki dan ku kayuh sekencang-kencangnya menuju ke sekolahku.

Sampai di sekolah aku langsung berlari menuju ruang kelas setelah aku memarkirkan sepedaku di tempat parkir khusus sepeda. Bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.

Bersyukur sekali rasanya, karena sewaktu aku tiba di kelas Lee sosaengnim belum ada di sana. Kalau tidak aku pasti akan dibantai oleh perawan tua yang kejam itu.

“Kau dari mana saja? Sudah hampir seminggu ini kau selalu datang terlambat tau,” cerocos Gaeul sahabatku. Kami telah bersahabat sejak hari pertama kami bersekolah di sekolah ini.

Aku baru mau menjawab pertanyaannya saat Lee sosaengnim, sang guru killer, memasuki kelas kami. “Nanti saja ku jelaskan padamu. Ok?” ujarku padanya sambil segera mengeluarkan buku pelajaranku.

******

Saat jam istirahat…

“Eit…eit. Kau berhutang penjelasan padaku,” tiba-tiba Gaeul sudah menarik kerah seragamku dari belakang saat aku buru-buru mau ke toilet.

“Gaeul~a…kau tenang saja, aku akan segera membayar hutangku itu padamu. Tapi sebelumnya tolong izinkan aku ke toilet dulu. Kalau tidak aku bisa pipis di sini,” ujarku sambil meringis menahan pipis.

“Ok!” jawab Gaeul singkat menyetujui permohonanku.

Aku langsung berlari ke toilet dan dalam waktu 10 menit aku sudah berada di hadapan Gaeul kembali.

“Nah, kalau sudah lega begini baru bisa bercerita dengan tenang.” Kemudian aku duduk di bangku yang ada di sampingnya.

“Kenapa sudah hampir seminggu ini kau selalu datang terlambat?” Gaeul mengulangi lagi pertanyaannya saat jam pelajaran matematika tadi.

Aku cengar-cengir tak jelas saat menjawab pertanyaannya. “Sebelum berangkat ke sekolah aku mampir dulu ke taman,” ujarku padanya kemudian.

“Waeyo? Apa yang kau lakukan pagi-pagi di sana?” tanyanya heran.

“Aku menunggu pria yang berhasil mencuri hatiku,” ujarku sembari memainkan ujung rambut panjangku.

“Mwo?! Kau sedang jatuh cinta?” Mata Gaeul yang indah seketika membesar saking bersemangatnya mendengar ceritaku.

Aku menganggukkan kepala untuk meyakinkannya. Sementara itu senyuman masih tetap mengembang di bibir mungilku.

“Siapa? Siapa?” tanyanya bersemangat.

“Nah…itu dia masalahnya….sampai sekarang aku belum tahu siapa namanya.” aku memonyongkan bibirku.

“Kok bisa?” tanyanya penasaran.

“Aku pertama kali melihatnya di taman sekitar dua bulan yang lalu. Waktu itu dia sedang joging. Aku sangat suka melihatnya saat dia sedang berlari. Tubuhnya tampak begitu ringan dan semua gerakannya tampak sangat natural,” ujarku mencoba mendiskripsikan sosok pria itu kepada sahabatku.

”Tapi sayang, sudah beberapa minggu ini dia sudah tak datang lagi ke taman,” tambahku lagi dengan nada menyesal.

“Hanya karena gerakan tubuhnya yang ringan bisa membuatmu jatuh cinta padanya?” tanya Gaeul heran.

Aku mengangguk mantap menjawab pertanyaannya.

“Dasar makhluk aneh!” Gaeul mendorong jidatku dengan telunjuknya. “Mana bisa kau jatuh cinta pada orang karena hal sesederhana itu?”

“Memangnya kenapa?!” ujarku tak setuju. ”Cinta bisa saja datang dengan cara yang sederhana kok. Tapi selalu bisa memberikan efek yang luar biasa bagi siapa saja yang merasakannya.”

“Hohoho…. Sejak kapan kau bisa mengatakan kata-kata seperti itu?” Gaeul menertawakan ucapanku barusan.

“Sejak hatiku dicuri oleh si pria taman.” Aku tertawa lepas dan kali ini Gaeul juga ikut tertawa bersamaku.

******

“Yeoreum~a, pokoknya hari ini kau harus ikut aku ke club!” tiba-tiba Gaeul sudah ada di sebelahku.

“Aigo…kau ini seperti hantu saja. Suka datang tiba-tiba. Membuatku terkejut saja.” Aku mengelus-elus dadaku saking kagetnya.

“Memangnya kenapa aku harus ikut ke club dancemu itu?” tanyaku kemudian.

“Kami punya pelatih baru,” ujarnya bersemangat.

“So?” ujarku tak tertarik.

“Pelatihnya cowok, keren, gerakan dancenya cool banget,” ujarnya seperti mau meledak.

“Trus kenapa?” tanyaku lagi masih tetap tak tertarik.

“Aaah…aku tahu,” ujarku tiba-tiba bersemangat. “Kau naksir pada pelatih baru itu kan?”

“Ckckck. Gaeul~a, kau mulai berfikir untuk selingkuh ya?” tuduhku. “Donghae oppa, tabahkan hatimu. Kekasihmu ini sudah mulai bermain hati. Kau juga sih, ngapain coba lama-lama di Amrik sana?” Aku menengadahkan kepalaku ke arah langit dan membuat ekspresi penuh keprihatinan.

“Aniyo…aku takkan menggantikan Donghae oppaku dengan siapapun,” Gaeul menggembungkan pipinya karena kesal. “Aku ingin memperkenalkannya padamu. Siapa tahu kau bisa jatuh cinta dengan orang yang lebih jelas bentuknya. Lebih real!”

“Ya, Gaeul~a! Apa maksudmu bicara seperti itu? Pria tamanku itu sangat nyata. Dia bukan khayalan. Pabo!” aku menjitak kepalanya.

“Aisshh, terserah apa katamu,” ujarnya sambil menggosok-gosok kepalanya yang sakit akibat jitakanku. “Pokoknya kau harus ikut denganku hari ini!” Gaeul menarik tanganku dengan paksa untuk mengikutinya. Sementara aku hanya bisa pasrah karena seperti biasanya aku takkan pernah bisa menang melawannya.

******

“Kau tunggu di sini sebentar ya chingu. Aku mau ganti baju dulu,” ujar Gaeul saat kami tiba di studio latihan mereka.

Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling ruangan. Suasana studio masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang ada di tengah-tengah arena latihan. Mereka sedang melakukan pemanasan.

“Hmm….ternyata anggota club ini sangat disiplin. Walaupun pelatih mereka belum datang, mereka sudah langsung melakukan pemanasan tanpa diperintah,” pikirku.

“Kau sedang lihat apa?” Gaeul berbicara tepat di telingaku. Membuatku kaget saja.

“Aigo…. Gaeul~a! Bisa tidak kau berhenti bersikap seperti hantu? Selalu muncul tiba-tiba. Membuat orang kaget saja!” aku mengelus-elus dadaku, berusaha menenangkan jantungku yang berdetak kencang karena terkejut.

“Hehehe… Sorry, chingu. Aku tak bermaksud mengagetkanmu.” Aku memanyunkan bibirku tanda kesal.

“Yeorum~a, kau duduk di sini saja dulu. Aku mau pemanasan dulu ok,” ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya padaku dan langsung berlari menuju ke tengah-tengah arena latihan yang kini mulai ramai.

Aku memperhatikan gerakan-gerakan yang dilakukan Gaeul. Diam-diam dalam hati aku memujinya. Sepertinya Gaeul memang dilahirkan untuk menjadi seorang dancer.

Ceklek!!!

Beberapa saat kemudian aku mendengar pintu studio terbuka. Aku menoleh untuk melihat siapa yang datang. Sepasang laki-laki dan perempuan sedang berjalan menuju ke tengah-tengah arena latihan sambil mendiskusikan sesuatu.

Jantungku langsung berdegup kencang saat mengenali laki-laki yang baru saja datang itu. “Bukankah itu dia?!” jerit hatiku. “Dia pria tamanku!”

To Be Continue…..

SEVEN YEARS LOVE (Part 5 End)

Kyuhyun POV

”Cho Kyuhyun, bisa kita bicara sebentar?” ujar Changmin padaku dengan nada masam. Saat itu tiba-tiba saja dia menghampiriku yang sedang latihan bersama member suju lainnya di studio SM.
”Kalau mau bicara, bicara saja!” jawabku ketus.
”Kita bicara di luar!” perintahnya dan langsung berbalik untuk pergi.
Aku mendengus kesal melihat tingkahnya. Benar-benar sangat menyebalkan. Memangnya siapa dia seenaknya memerintahku? Tapi karena penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya, akhirnya aku mengikutinya juga.

Dia terus berjalan tanpa ku tahu sebenarnya dia mau mebawaku ke mana. Sekarang kami malah sudah ke luar dari gedung SM. Tapi dia masih saja tetap berjalan sampai akhirnya kami berhenti di taman yang ada di depan gedung SM. Dan dia berbalik menghadap ke arahku dengan ekspresi yang sangat tidak menyenangkan.
”Bagaimana sebenarnya perasaanmu terhadap Yeorum?” tanyanya padaku tanpa basa-basi.

Aku mendengus kesal. ”Itu bukan urusanmu!” jawabku dingin dan berbalik hendak pergi meninggalkannya. Tapi dia langsung menahan bahuku dan kembali memposisikan dirinya berdiri tepat di hadapanku.

”Apa kau mencintainya?” tanyanya, nada bicaranya semakin tajam. Jarak wajah kami sekarang kurang dari satu meter. Dan kami saling melotot antara satu sama lain.

”Itu-bukan-urusanmu!” jawabku lagi, kali ini memberi penekanan pada setiap kata yang kuucapkan.

”APA KAU MENCINTAINYA?” teriaknya dan kini tangannya tengah mencengkeram kerah bajuku dengan kasar. Kemarahan membara dalam sorot matanya.

”KALAU YA KENAPA?” balasku berteriak ikut terpancing emosi.

”Kalau kau mencintainya kenapa tak mengatakannya dari dulu?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara rendah tapi penuh dengan kebencian.

”Karena dia tidak mencintaiku!!!” tegasku dingin. Aku merasakan sakit di dadaku saat aku mengucapkan kata-kata itu. Dan Aku benar-benar benci karena Changmin telah menanyakan hal yang sama sekali bukan urusannya padaku.

”Lalu mengapa tak melepaskannya?”

”Karena aku tak sanggup melepaskannya. Aku tak sanggup membiarkan dia pergi dari sisiku. Aku akan tetap mempertahankannya berada di sisiku seumur hidupnya walaupun untuk itu aku harus memanfaatkan rasa bersalahnya terhadapku. Aku akan melakukannya asal dia tetap bersamaku. Sekalipun dengan begitu akan menyakiti diriku sendiri. Aku akan menaggungnya!” ujarku penuh kemarahan padanya seolah-olah dialah yang bersalah dalam masalah ini.

BUKK!!

Tiba-tiba sebuah tinju mendarat tepat di wajahku. Aku tersungkur ke tanah. Dan aku dapat merasakan rasa perih di sudut bibir.

”APA KAU TAK SADAR KALAU ITU JUGA SANGAT MENYAKITINYA??!!” teriaknya dengan muka merah padam karena marah.

”Kau sudah menyakitinya selama tujuh tahun. Kau membuatnya melewati begitu banyak penderitaan, menangis, dan terluka. Aishhh…. Mengapa dia harus mencintai makhluk egois yang tak punya hati sepertimu?” ujarnya, menunjukkan secara nyata kekesalannya padaku. Tapi tunggu… apa yang dikatakannya di kalimat terakhirnya tadi? Yeorum mencintaiku?! Apa aku tak salah dengar? Kemudian aku mencoba bangkit dan berdiri tegak di hadapannya.

”Apa maksudmu dengan dia mencintaiku?” tanyaku padanya sambil mengguncang bahunya.

Dia menyingkirkan tanganku dari bahunya dengan kasar dan mendengus kesal. ”Kau benar-benar parah!!! Sampai-sampai hal seperti itu saja kau tak bisa merasakannya,” ejeknya.

”Tidak mungkin,” aku menggelengkan kepalaku. ”Tidak mungkin Yeorum mencintaiku!”

”Kau pikir karena apa dia mau bertahan di sisimu? Karena rasa bersalahnya padamu?!” lagi-lagi dia tersenyum mengejek padaku. ”Kau begitu naif berpikiran seperti itu. Butuh hal yang jauh lebih besar dari sekedar rasa bersalah untuk bisa bertahan di samping manusia egois sepertimu selama itu, Kyu. Dia telah menyakiti dirinya sendiri dengan mencintaimu!” Aku hanya bisa terdiam mendengar setiap penjelasan yang keluar dari mulut Changmin.

”Kalau kau benar-benar mencintainya, katakan! katakan padanya sebelum kau benar-benar terlambat!!!” Ucapannya membuatku tersentak. Apa maksudnya dengan kata terlambat?

”Yeorum memutuskan akan berangkat ke Paris tepat jam tujuh malam ini. Tepat saat kau akan melamar Tae Hae. Setidaknya seperti itulah yang ada dalam pikirannya. Kalau kau tak segera mencarinya sekarang, besar kemungkinan kau takkan pernah bertemu lagi dengannya karena dia tidak akan berpamitan denganmu.”

Penjelasan yang diberikan Changmin benar-benar membuatku pusing. Bagaimana mungkin aku membiarkan semua itu terjadi? Tidak, aku tidak akan membiarkan dia pergi di saat aku telah memutuskan untuk mengatakan segalanya. Terlebih setelah aku tahu kalau dia juga mencintaiku dan untuk itu dia sudah begitu banyak terluka selama tujuh tahun ini.

”Ani! Aku takkan membiarkannya pergi!” seketika aku berlari meninggalkan Changmin sendirian. Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah aku harus segera menemukan Yeorum sebelum aku benar-benar kehilangan dia.

Ku hampiri mobilku yang ku parkir di pelataran parkir gedung SM dan aku sangat bersyukur karena telah membawa mobil sendiri hari ini. Kemudian kulajukan dengan kecepatan tinggi menuju ke apartemen Yeorum. Namun sayang sesampainya di sana aku tak dapat menemukannya.

Ku keluarkan ponselku dari saku celanaku, kemudian ku tekan nomor telpon rumahku.

”Yoboseo,” suara Ah Ra noona menyambutku di seberang telepon.

”Noona, apa Yeorum ada di rumah?” tanyaku tanpa menjawab salamnya.

”Ani. Dia belum datang dari pagi tadi. Waeyo?” tanya noona kebingungan.

“Pokoknya kalau dia ke sana langsung hubungi aku!” Kemudian aku langsung menutup ponselku.

Aku kembali berlari ke parkiran tempat aku memarkirkan mobilku. Setelah berada di dalam mobil, sejenak aku berpikir dimana kira-kira aku bisa menemukan Yeorum. Hanya sedikit tempat yang biasa di datanginya. Setidaknya ini mempermudahkanku untuk segera menemukannya.

”Dorm!” ujarku pada diri sendiri. Aku kembali melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi dan kali ini dorm adalah tujuanku.

Sesampai di sana aku langsung memasukkan kode untuk dapat membuka pintu dorm kami ke komputer mini yang ditempel di dinding di samping pintu. Yeorum juga mengetahui kode ini dan mungkin saja dia ada di dalam sekarang.

Saat pintu terbuka aku langsung menerobos masuk ke dalam dorm. Aku memeriksa seluruh ruangan untuk mencarinya tapi semuanya nihil. Yeorum tidak ada di sini.

Kali ini aku tak tahu lagi harus mencarinya ke mana. Dia tak ada di apartemennya ataupun di rumah keluargaku dan dia juga tak datang ke studio SM hari ini. Aku mendudukkan diriku di sofa yang ada di ruang santai dorm kami. Ku pijit-pijit kepalaku yang rasanya seperti mau meledak sambil mencoba berpikir ke mana aku akan mencari Yeorum selanjutnya.

Sorry 4x
Naega 3x meonjeo
Nege 3x ppajyeo 3x
Beoryeo baby

Lagu sorry-sorry berkumandang dari ponselku. Ku lihat layarnya yang kini menampilkan nomor yang tak ku kenal. Buru-buru ku angkat telepon itu. “Siapa tahu ini ada hubungannya dengan Yeorum,” pikirku.

“Yoboseyo,” sapaku saat ponsel itu ku dekatkan ke telingaku.

“Yoboseyo,” balas orang di seberang telepon. “Kyuhyun ssi, ini aku, Changmin. Kalau kau mau bertemu dengan Yeorum, datanglah ke studio latihan sekarang juga. Saat ini dia sedang ada di sini berpamitan dengan member suju yang lain. Usahakan secepatnya. Aku tak bisa berjanji bisa menahannya lama di sini. Tapi akan kuusahan sebisaku,” ujarnya langsung memutuskan sambungan telepon.

Tanpa buang banyak waktu, aku langsung menghambur ke luar dorm dan segera berlari kembali ke parkiran dorm untuk mengambil mobilku. Untuk ke sekian kalinya ku lajukan mobilku dengan kecepatan tinggi kembali ke studio SM.

Sesampainya di sana, aku menghentikan mobilku tepat di depan pintu masuk gedung SM dan dengan tergesa ke luar dari mobil. Ku lemparkan kunci mobilku kepada seorang security yang aku yakini ingin menegurku karena sudah parkir sembarangan. ”Tolong parkirkan mobilku. Khamsahamnida,” ujarku sambil menyerahkan kunci mobilku padanya.

Selanjutnya kupacu langkah kakiku menuju ke studio latihan. Ku abaikan rasa sesak yang kini menyeruak di dadaku. Satu-satunya yang kuinginkan adalah bertemu dengan Yeorum secepat mungkin.

Akhirnya aku sampai di depan pintu studio latihan. Langsung ku putar knop pintu dan ku dorong daun pintu hingga terbuka. Dan Yeorum ada di sana sedang di kelilingi oleh semua member. Dan dia berdiri membelakangiku.

Ku langkahkan kakiku dengan cepat untuk mendekatinya. Sementara itu tak seorang pun di antara mereka menyadari kedatanganku. Kemudian setelah berada di dekatnya, ku raih lengannya, ku balikkan tubuhnya, dan kurengkuh dia ke dalam pelukanku.

”Sarangheyo Yeorum~a, jeongmal sarangheyo!!!”

******

Yeorum POV

Tiba-tiba seseorang menarik lenganku dari belakang, dia membalikkan tubuhku, kemudian memelukku begitu erat.

“Saranghaeyo Yeorum~a, jeongmal saranghaeyo!!!” ujar orang itu membuatku sangat terkejut. Aku tak sempat melihat wajahnya, tapi aku sangat mengenal suara ini.

”Kyu, kau kenapa?” tanyaku, syok dengan kelakuannya ini. Apa dia sedang mengerjaiku lagi? Tapi menggunakan kata-kata ini untuk mengerjaiku benar-benar sudah sangat keterlaluan.

Kyuhyun melepaskan pelukannya, menjauhkan tubuhku darinya tapi tetap memegang kedua bahuku dengan kedua tangannya. ”Aku sedang tidak bercanda,” ujarnya seakan bisa membaca isi pikiranku. ”Ini adalah hal yang paling serius yang pernah ku katakan padamu. Saranghaeyo, jeongmal saranghaeyo!” ujarnya lagi sambil menatap tajam ke dalam mataku.

”Mianhae sudah membuatmu menunggu selama tujuh tahun untuk mendengar kata-kata ini keluar dari mulutku. Mianhae karena telah membiarkanmu begitu banyak menangis selama ini. Mianhae karena telah memanfaatkan rasa bersalahmu padaku untuk menahanmu agar tetap berada di sisiku. Mianhae telah menyembunyikan kenyataan bahwa aku sangat mencintaimu hanya demi melindungi keegoisanku. Mianhae, jeongmal mianhae untuk begitu banyak kesalahanku padamu.”

”Saranghaeyo, jeongmal saranghaeyo,” lagi-lagi Kyuhyun mengulangi kata itu. ”Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kau menginjakkan kaki ke rumah kami waktu itu. Tapi saat itu aku tak tahu bagaimana menyikapi perasaanku terhadapmu. Saat itupun kau seperti menjaga jarak dariku. Sebisa mungkin berada sejauh mungkin dariku sampai-sampai aku meyakini bahwa kau sama sekali tak menyukaiku.

Sampai akhirnya kecelakaan itu berhasil membuatmu selalu berada di sisiku. Walaupun kenyataannya aku sangat sakit hati karena yang membuatmu bertahan di sisiku bukanlah karena kau mencintaiku melainkan rasa bersalah dan tanggung jawabmu terhadapku. Tapi aku tetap menginginkanmu tetap berada di dekatku. Sekalipun aku harus menggunakan rasa bersalahmu itu untuk mengekangmu.”

Aku masih tetap terdiam mendengar setiap ucapannya. Sekarang sedikit demi sedikit otakku mulai dapat mencerna kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sampai pada akhirnya aku memahami secara sempurna maksud dari kata-katanya. Sesuatu mulai berkecamuk di dalam dadaku. Begitu campur aduk sampai-sampai aku tak tahu perasaan seperti apa itu sebenarnya. Yang jelas saat ini dadaku terasa sesak karena tak sanggup menanggung semuanya. Sementara itu air mataku mulai mendesak hendak keluar dari muaranya. Tapi aku menahannya. Aku tak mau menjadi bahan tontonan banyak orang karena adegan ini. Walaupun sebenarnya semua itu sia-sia karena sepertinya Kyuhyun sudah tak memperdulikan lagi keadaan yang ada di sekitarnya saat ini.

Dia kembali memelukku. Kali ini aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan tubuhnya dariku. Hatiku benar-benar sakit oleh pengakuannya. Mengapa dia bisa mencintaiku dengan cara seegois itu. Mengapa dia hanya memikirkan perasaannya sendiri. Mengapa dia tega menyakitiku dengan cintanya itu. Ani, aku tak bisa mempercayainya!

”Aniyo. Aku tak percaya padamu,” lirihku sambil mendorong tubuhnya sekuat tenagaku. Tapi usahaku sia-sia. Dia tak bergeser sedikitpun dan tetap memelukku dengan erat.

”Kalau kau mencintaiku kau tak mungkin melakukan semua ini. Kau tak mungkin menyakitiku sampai seperti ini. Kau takkan membiarkanku salah paham. Kau takkan mungkin sejahat ini padaku!!!” ujarku lagi sambil memukul-mukul lengannya.
Rasa sesak di dadaku yang semakin menjadi-jadi semakin memaksa air mataku untuk mengalir hingga akhirnya pertahananku benar-benar runtuh. Saat ini sama seperti Kyu, aku tak sanggup lagi untuk memperdulikan keadaan yang ada di sekitarku. Aku hanya ingin menangis. Sudah begitu lama aku menahan semua ini. Dan aku yakin dengan menangis aku bisa merasa lega.

”Mianhae, jeongmal mianhae,” ujarnya tercekat. Suaranya terdengar seperti sedang menahan rasa sakit.

******
Kyuhyun POV

”Aniyo. Aku tak percaya padamu,” lirihnya sambil mendorong tubuhku sekuat tenaganya. Tapi aku tetap bertahan dan memeluknya dengan erat. Aku takkan melepaskannya sekalipun dia akan membenciku. Aku takut kalau aku melepaskannya dia akan benar-benar pergi dariku.

”Kalau kau mencintaiku kau tak mungkin melakukan semua ini. Kau tak mungkin menyakitiku sampai seperti ini. Kau takkan membiarkanku salah paham. Kau takkan mungkin sejahat ini padaku!!!” ujarnya lagi sambil memukul-mukul lenganku. Aku tahu dia benar-benar terluka mendengar pengakuanku. Dan ini sangat menyakitiku. Bukan karena dia akan membenciku karena semua ini, tapi lebih karena akulah yang menyakitinya.

”Mianhae, jeongmal mianhae,” ujarku tercekat, menahan rasa sakit di dadaku. Aku semakin mengeratkan pelukanku. Sementara Yeorum kini sudah berhenti memberontak. Dia hanya membenamkan wajahnya di dadaku dan menumpahkan tangisnya di sana.

”Ani, kita tak bisa seperti ini. Kita tak bisa bersama. Aku tak mau melukai Tae Hae. Kalian akan segera bertunangan,” ujarnya tiba-tiba melepaskan pelukanku.
Ucapannya memancing emosiku. ”DASAR BABO! Mengapa kau selalu begitu baik terhadap orang lain? Mengapa kau selalu menyakiti dirimu sendiri demi untuk menjaga perasaan orang lain?” bentakku marah dan dia hanya diam menatapku dengan ekspresi ketakutan.

”Ani! Pesta itu tidak ku rancang untuk pertunanganku dengan Tae Hae, tapi ku rancang sebagai pesta kejutan untukmu. Dan aku bermaksud menyampaikan perasaanku terhadapmu di pesta itu nanti,” ujarku kembali melunak.

”Ne,” ujar Tae Hae yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan ini. ”Kyu sudah menjelaskan semuanya padaku. Aku dan Kyu sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dengan baik-baik. Awalnya aku sangat marah karena dia telah mempermainkan perasaanku selama ini. Dia menerima cintaku hanya untuk melihat reaksi gadis yang dicintainya. Tapi ketika aku tahu kalau gadis itu adalah kau, aku mengikhlaskannya. Setidaknya kami impas karena dulu secara tak sengaja aku juga pernah mencampakkannya. Dan telah membuatnya merasakan sakit hati selama bertahun-tahun karena perasaan dicampakkan itu. Rasanya itu sudah cukup untuk membalas perbuatannya,” ujar Tae Hae tersenyum penuh arti padaku dan Yeorum.

”Tapi cincin itu?” tanyanya lagi masih dengan keraguan di wajahnya.

”Aisssshhh….. mengapa kau jadi keras kepala seperti ini?” ujarku sedikit kesal dengan sikapnya itu.
Ku raih tangan Tae Hae dan kusandingkan dengan tangannya. ”Kau lihat?!” ujarku padanya. ”Jari kalian sama. Makanya aku mencobakannya di jari Tae Hae. Dan saat itu Tae Hae lah yang menemani kita memilih cincin tunangan. Bukan kau!” Dia mulai menangis lagi. Hari ini dia begitu mudah menangis. Berbeda dengan Yeorum yang ku kenal selama ini. Yeorum yang selalu tegar, kini terlihat rapuh dengan tangisannya.

”Mianhae,” ujarku sambil kembali memeluknya. Entahlah mengapa tiba-tiba terbersit rasa senang melihatnya rapuh seperti ini. Aku benar-benar merasa kalau dia sangat memerlukan perlindunganku.

”Nado saranghaeyo Kyuhyun~a, jeongmal saranghaeyo,” ujarnya pelan. Suaranya teredam di dalam dadaku dan terhalang oleh isak tangisnya. Tapi aku tetap dapat mendengarkannya. Dan itu membuatku merasa sangat lega.

”Kalau begitu kau tak boleh pergi meninggalkanku nanti malam,” ujarku tepat di telinganya.

”Mwo??? Apa maksudmu?” ujarnya, tiba-tiba melepaskan pelukanku dan berhenti menangis.

”Bukankah kau akan berangkat ke Paris jam tujuh malam ini? Changmin yang mengatakannya padaku,” ujarku bingung. Dan setelah itu aku mendengar seseorang tertawa dengan sangat puas di tengah-tengah ketegangan yang baru saja terjadi.

”Mianhae Kyu. Aku harus membohongimu untuk mengakhiri semua ini,” ujarnya di sela-sela tawanya. ”Aku sudah benar-benar tak tahan melihat sahabatku menderita lebih lama lagi karena kau. Setiap kali kau menyakitinya, dia selalu datang padaku dan menangis. Aku sangat tak tahan melihatnya. Jeongmal mianhae, Kyu.”

”Jadi kau menipuku?” ucapku menatap Changmin tak percaya dan dia mengangguk mantap.

”Aishhh!!!” ujarku kesal. ”Kau benar benar ingin membuatku mati muda ya??”

”Anggap saja kau sedang menebus dosamu, Kyu. Kau juga pernah membuat Yeorum berlari-lari di tengah malam buta kan? Jadi kalian impas,” ujarnya. Dia terlihat sangat puas sekali karena telah dengan sukses mengerjaiku.

”Ya sudahlah!” ujarku pasrah. “Tapi jika lain kali kau ulangi lagi, aku pasti akan membalasmu lebih sadis dari yang telah kau lakukan padaku!” ancamku.

“Hahaha…kau memang benar-benar evil, Kyu.” Tawanya kembali meledak dan membuatku bertambah kesal padanya.

“Tapi gomawo karena telah mengatakan segalanya padaku,” ujarku, akhirnya tersenyum padanya.

”Ok. Tapi mian juga atas memar di wajahmu itu,” ujarnya lagi dan aku hanya mengangguk padanya.

”Kyu, kau benar-benar harus lebih banyak belajar dariku tentang bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita,” celetuk Donghae hyung yang membuat dia harus menerima jitakan keras dari Hyuk hyung.

”Jangan mengajarinya menjadi seorang pria penggombal sepertimu, Hae,” ujar Hyuk hyung membuat kami tersenyum.

”Benar-benar ajaib! Kenapa kami bisa memiliki seorang magnae sepertimu, Kyu??” ujar Leeteuk hyung sambil geleng-geleng kepala.

”Aku pikir akulah yang paling aneh di Super Junior ini. Ternyata keanehan Kyu jauh lebih ekstrim dibandingkan dengan keanehanku,” komentar Heechul hyung. ”Kalian lihat kan? Keanehan itu bukan hanya milik kami yang bergolongan darah AB,” ujar Heechul hyung lagi yang langsung di setujui oleh Yesung hyung.

******
1 Minggu kemudian

Yeorum POV

“Kau sudah mau berangkat?” suaranya di seberang telepon terdengar tak senang.

“Ne,” jawabku singkat.

“Apa sekarang sudah di bandara?” tanyanya lagi.

”Hmmm…” jawabku kali ini hanya dengan gumaman singkat.

”Mian tak mengantarmu. Aku menyesal sekali!” Nada bicaranya sama sekali tak terdengar seperti seorang yang sedang menyesal.

Aku menarik napas panjang. ”Tak apa. Aku bisa mengerti. Kau tak mungkin dengan leluasa datang ke bandara hanya untuk mengantar kepergian tunanganmu kan?” kali ini aku berbohong padanya. Mana mungkin aku tak apa-apa kalau orang yang aku cintai bahkan tak mau menemuiku di saat kami akan segera berpisah selama tiga tahun penuh. Sekalipun aku melarang yang lain untuk mengantarku, tapi sebenarnya aku sangat ingin dia ada di sini bersamaku walau sekedar untuk memberikan senyum perpisahan.

”Ani, bukan itu alasannya. Kalau cuma masalah fans, aku kan bisa menyamar untuk datang ke sana,” jawabnya.

”Lalu apa alasannya?” tanyaku pura-pura tak tahu

”Kau tahu alasannya!!!”

”Aku benar-benar tak tahu,” jawabku masih berbohong dengan harapan dia akan mengalihkan topik obrolan kami.

”Yeorum~a, kau tahu alasannya!!! Aku tak mengizinkanmu pergi ke Paris atau ke bagian menapun di dunia ini kalau tak bersamaku,” ujarnya sedikit meninggikan suaranya. Dia benar-benar tak berubah. Tetap Cho Kyuhyun-ku yang sangat egois.

”Kyu, kita sudah membicarakan masalah ini berkali-kali kan???” ujarku berusaha bersabar menghadapinya.

”Tapi keputusannya, aku tetap tak mengizinkanmu kan??” ujarnya keras kepala.

”Kyu, aku mohon, untuk sekali ini saja, mengertilah. Belajar mode adalah impianku,” pintaku.

”Aku mengerti! Tapi kan tidak harus ke Paris. Di Seoul juga banyak kok sekolah mode yang berkualitas. Aku takkan terbiasa kalau tak ada kau. Kau tega sekali padaku. Kita kan baru saja bertunangan satu minggu dan belum puas menikmati kebersamaan kita. Tapi sekarang kau sudah mau pergi,” rengeknya.

”Itu kan hanya sementara,” ujarku masih mencoba bersabar.

”IYA, MEMANG SEMENTARA. TAPI TIGA TAHUN ITU WAKTU YANG LAMA, YEORUM~A. CUKUP LAMA UNTUK MEMBUAT HATIMU BERUBAH!!!. BAGAIMANA KALAU KAU MENEMUKAN PRIA LAIN DI SANA??” Teriaknya marah. Aku menjauhkan sedikit ponselku dari telingaku agar suaranya tidak terdengar memekakkan di telingaku.

”Mwo!!! Kau tak percaya padaku??” ujarku dengan nada sedikit meninggi karena kesal dengan keegoisannya.

”A-aku bukannya tak percaya padamu. Tapi aku tak percaya dengan pria-pria yang ada di sekelilingmu nanti. Kau terlalu baik dan sangat mudah untuk disukai orang,” ujarnya kekanak-kanakan.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Kau hanya perlu percaya padaku dan abaikan yang lain!!!” ujarku mantap dan sejenak Kyuhyun kehilangan kata-katanya di seberang sana.

”B-bagaimana kalau aku membatalkan pertunangan kita karena pilihanmu itu? Apa yang akan kau lakukan? Kau akan tetap pergi atau tetap bersamaku?” Pertanyaannya benar-benar membuatku terkejut. Aku sangat kecewa karena dia bisa memikirkan kemungkinan itu untuk menahanku pergi.

”Aku akan memilih tetap bersamamu,” ujarku sedih.

”Kenapa kau lebih memilih bersamaku?” tanyanya lagi. Dia benar-benar manusia yang tak sensitif. Dia sama sekali tak menyadari kalau pertanyaan-pertanyaannya itu menyakitiku.

”Karena aku mencintaimu,” ujarku terluka. ”Tapi jika kau melakukannya….itu sama artinya kau menyakitiku, Kyu.”

”Aissshhh….kau pergilah!!! Segera raih impianmu itu dan segera kembali ke sisiku!!! Setelah itu kau takkan bisa ke mana-mana lagi. Kau harus tetap berada di sisiku!!!” Ujarnya kesal dan aku tersenyum bahagia mendengar ucapannya.

”Aisssshhh…Jinca!!! Mengapa aku semakin lemah di hadapanmu dan semakin sering mengalah padamu?” ujarnya masih dengan nada kesal.

”Itu karena sekarang kau mencintaiku!!!” jawabku.

”Dulu aku juga mencintaimu!!!”

”Tapi sekarang perasaanmu sudah tak terkekang seperti dulu. Sekarang kau bebas mengekspresikan perasaanmu terhadapku. Hatimu telah bebas!!” jawabku sembari tersenyum. Kemudian kami kembali terdiam karena kehabisan kata-kata. Suasana perpisahan kini semakin terasa. Aku benar-benar ingin memeluknya sekarang. Sayang sekali dia tak berada di dekatku.

”Aku akan sangat merindukanmu,” ujarku lirih berusaha menahan air mataku agar tak jatuh.

”Saranghaeyo….”

Tiba-tiba seseorang mengejutkanku dengan membisikkan kata ”saranghaeyo” tepat di telingaku. Aku membalikkan tubuhku ke arah orang itu. Orang itu memakai topi yang menutupi wajahnya dan kaca mata hitam. Sejenak aku terpaku menatapnya dan langsung menghambur ke dalam pelukannya ketika aku menyadari siapa dirinya.

”Kyuhyun~a…” panggilku. Suaraku teredam di dadanya. Air mata yang tadi ku tahan kini mengalir tanpa hambatan. Dan dia membiarkan aku menangis di dalam pelukannya beberapa saat.

”Pergilah!!! Segera wujudkan impianmu dan segera kembali padaku!!!” ujarnya saat melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku dengan kedua tangannya.

”Gomawo,” hanya itu yang bisa ku katakan.

”Mianhae, telah bersikap egois terhadapmu,” ujarnya sambil menatapku lembut. Aku bisa melihat kesungguhan tentang apa yang dikatakannya dari tatapannya.

”Aniyo. Tak ada yang perlu aku maafkan. Aku tahu itu caramu untuk mencintaiku. Dan aku memakluminya.” Aku tersenyum padanya.

“Aishhh…seharusnya kita tidak hanya bertunangan. Seharusnya aku menikahimu sebelum kau berangkat ke Paris. Cincin pertunangan itu takkan cukup untuk mengikatmu agar kembali lagi ke sisiku setelah tiga tahun nanti,” ujarnya kembali menunjukkan sikap egoisnya. Dan senyumku semakin mengembang mendengar ucapannya.

”Kau mungkin tak bisa mengikatku secara fisik. Tapi kau telah mengikat hatiku. Dan itu jauh lebih cukup untuk membuatku kembali setelah tiga tahun nanti,” ujarku kembali menyusup ke dalam pelukannya.

THE END

SEVEN YEARS LOVE (Part 4)

Yeorum POV

 

Hari ini gladi resik untuk persiapan konser SM TOWN yang akan diadakan besok. Semua artis pendukung berlatih keras untuk memberikan penampilan terbaik bagi para fans mereka.

Ini sudah hari kedua sejak kejadian malam itu. Sampai saat ini aku masih menolak untuk bicara pada Kyuhyun. Aku benar-benar kesal karenanya.

Luka di kakiku sudah mulai sembuh walaupun masih meninggalkan sedikit rasa sakit saat aku berjalan. Kemarin Kyuhyun menyuruhku untuk tetap beristirahat di rumah karena luka itu cukup mengangguku.

Tepat jam 12 siang, akhirnya seluruh artis SM yang sejak tadi pagi berlatih, beristirahat. Dan Kyuhyun langsung menghampiriku yang sedang duduk di sudut ruangan.

”Bagaimana lukamu?” tanyanya. Aku tak menjawab pertanyaannya.

”Ya! Yeorum~a, aku sedang bertanya padamu,” ujarnya mulai kesal melihat kebungkamanku. ”Ya! Yeorum~a, aku kan sudah mengobati kakimu. Masa itu tidak juga bisa menghentikan aksi mogok bicaramu itu padaku.”

”Huh, kau pikir hal itu bisa menghapus kesalahanmu begitu saja?” omelku dalam hati.

Aku menatapnya dengan tatapan tak suka, seolah-olah aku mengatakan kalau aku masih sangat marah padamu. Kemudian aku bangkit dari tempat duduk. Dan pergi begitu saja.

”Ya! Yeorum~a….” suara Kyuhyun terputus. Aku sedikit penasaran mengapa dia tidak melanjutkan ucapannya. Jadi aku menoleh ke belakang. Ku lihat dia sedang bersandar ke dinding sambil memegang dadanya. ”Dia pasti sedang mempermainkanku lagi,” pikirku. Aku tak mau tertipu lagi olehnya. Ku balikkan kembali badanku dan bersiap-siap melangkah pergi. Tapi tiba-tiba Siwon oppa memanggilku. ”Ya! Yeorum~a, sepertinya Kyuhyun tak main-main kali ini. Sepertinya napasnya benar-benar sesak.”

Aku kembali menoleh ke arah Kyuhyun. Ku lihat Kyuhyun sekarang sudah terduduk di lantai. Tangannya memegang erat dadanya. Wajahnya pucat dan keringat mengalir deras di dahinya. Aku langsung berlari mendekatinya dengan panik.

”Kyuhyun~a, waeyo? Apa napasmu benar-benar sesak?” ujarku sembari mengusap keringat yang mengalir di dahinya dengan tanganku.

”Yeorum~a, alat bantu pernapasannya,” ujar Siwon oppa juga panik. Sementara member suju yang lain sudah mendekat ke tempat Kyuhyun berada.

”Tas Kyuhyun,” ujarku. Kemudian Donghae oppa memberikannya dengan sigap padaku.

Aku membuka tas itu dan mengaduk-ngaduk semua isinya, tapi aku tak menemukan apa yang aku cari. Aku baru ingat kalau tadi pagi Kyuhyun sendirilah yang mengemasi barang-barangnya. Aku tak mau membantunya karena aku masih marah padanya.

”Oppa, bagaimana ini? Alatnya tidak ada. Mungkin ketinggalan di dorm,” ujarku panik. Air mataku sudah mulai mengalir sekarang.

”Donghae~a, bantu naikkan Kyuhyun ke punggungku. Kita bawa dia ke rumah sakit,” ujar Siwon oppa kemudian.

Donghae oppa menaikkan Kyuhyun ke punggug Siwon oppa dengan dibantu oleh Sungmin oppa. Kemudian Siwon oppa berlari sekencang-kencangnya untuk membawa Kyuhyun ke rumah sakit dan aku beserta member suju lainnya mengikutinya dari belakang.

 

******

 

Hari ini adalah hari dimana konser SM TOWN diadakan. Suju tetap manggung tanpa Kyuhyun. Latihan keras yang dijalaninya selama seminggu ini  sia-sia sudah. Karena saat hari H-nya Kyuhyun justru harus terbaring di rumah sakit.

Aku menunggui Kyuhyun sejak kemarin. Aku tak mau beranjak sedikitpun dari sisinya. Rasa bersalah menyeruak di dadaku. Kalau seandainya aku tak mengabaikannya seperti kemarin, tak membiarkannya mengemasi sendiri barang-barangnya, pasti alat itu tidak akan tertinggal dan Kyuhyun takkan berada di rumah sakit sekarang.

Ku tatap wajahnya yang sedang tertidur pulas lekat-lekat. Sekalipun sudah siuman sejak tadi malam, tapi wajahnya masih pucat. Tarikan napasnya pun masih berat. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Dan tiba-tiba matanya terbuka.

”Kyuhyun~a, kau sudah bangun. Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?” tanyaku sambil mengamati wajahnya.

“Kau sudah mau bicara padaku? Apa sudah tidak marah lagi?” dia balik bertanya.

Seketika rasa bersalahku semakin menyesakkan dadaku. ”Kyuhyun~a, Mianhae. Jeongmal mianhae,” ujarku tertunduk di hadapannya. Air mataku kini mulai jatuh.

”Aishh… tak usah menangis. Aku baik-baik saja kok,” ujarnya panik melihat air mataku.

”Aku berjanji, mulai sekarang kalau aku marah padamu, aku takkan mengabaikanmu lagi. Aku aku akan tetap membantumu mengemasi barang-barangmu agar alat itu takkan ketinggalan lagi,” ucapku sedih.

”Jadi… kau masih berencana untuk marah padaku lagi?”

”Aku tak mungkin tidak marah padamu. Kau selalu membuatku kesal sepanjang waktu,” jawabku cepat.

”Terserah kau saja kalau begitu. Kalau kau masih marah padaku, itu memang nasibku,” ujarnya pasrah. ” Tapi kau duduklah. Jangan berdiri terus. Luka di telapak kakimu kan masih sakit.”

Aku duduk di samping tempat tidurnya dalam diam. Untuk beberapa lama kami tak saling bicara.

“Mianhae,” ujarnya tiba-tiba, mengagetkanku. Ini pertama kalinya Kyuhyun mengucapkan kata maaf padaku. Bukan… bukan hanya padaku. Ini pertama kalinya dia meminta maaf. Aku menatapnya tak percaya.

“Ne,” jawabku tak mengerti.

”Aku minta maaf untuk perkataanku waktu itu,” sambungnya lagi. ”Aku tak bermaksud memarahimu di depan umum. Saat itu aku hanya terkejut melihat apa yang kau lakukan.”

Kyuhyun menarik napasnya yang berat. ” Menonjok wajah orang….itu benar-benar perbuatan yang kasar dan sangat tidak sopan, terlebih kalau dilakukan seorang wanita. Dan yang semakin membuatku kecewa…kaulah orang yang melakukannya. Dalam pikiranku kau takkan pernah bisa melakukan hal seperti itu. Aku jadi menyalahkan diriku karena telah membawamu ke dunia yang seperti ini. Karena aku, kau harus menghadapi orang-orang seperti Jessica. Karena aku, hatimu yang dulu bersih menjadi ternoda. Mianhae….jeongmal mianhae.”

Aku terkejut mendengar penjelasannya. Ternyata dia bersikap seperti itu bukan karena membenciku. Tapi justru dia ingin melindungiku. Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena hal itu.

Aku tak bisa mengatakan apapun. Aku hanya menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya. Menyimpan rasa haruku atas apa yang telah dilakukannya untukku. Aku benar-benar merasa bodoh karena selalu salah mengartikan sikap dan perbuatannya. Aku selalu pikir bahwa aku sangat mengenalnya. Tapi pada kenyataannya, begitu banyak hal yang tak bisa ku pahami dari dirinya.

 

******

 

Hari ini akhirnya Kyuhyun dapat kembali mengikuti jadwal manggung suju. Mereka akan menjadi bintang tamu disebuah acara fashion show. Semua penonton begitu histeris saat mereka naik ke atas panggung. Dan seperti biasa, aku hanya melihat penampilan mereka dari balik panggung. Walupun sudah ratusan kali aku melihat performence mereka tapi aku tetap saja terkagum-kagum karenanya.

Tiba-tiba tak sengaja mataku menangkap sosok seseorang yang cukup ku kenal di barisan tengah penonton. Seorang wanita yang sangat anggun dan cantik. Wanita yang sudah beberapa tahun ini menghilang. Dan kini dia ada di sini, sedang menonton penampilan Kyuhyun.

”Kim Tae Hae,” bisikku pada diriku sendiri.

Seketika aku mengalihkan pandanganku ke arah Kyuhyun. Aku tak tahu apakah Kyuhyun sudah melihat kehadirannya atau belum. Tapi hal ini membuat perasaanku menjadi tak enak. Apa yang akan dilakukan Kyuhyun jika dia mengetahui kehadiran Tae Hae. Apakah dia akan marah, atau bahkan dia akan menerima Tae Hae kembali? Aku tak bisa memastikannya.

Saat penampilan suju berakhir Tae Hae langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang pertunjukkan. Aku langsung berlari menuju ke luar dari pintu belakang untuk menyusulnya.

”Tae Hae,” panggilku saat kami berada di luar ruang pertunjukkan. Dan Tae Hae menoleh ke arahku.

Aku berjalan semakin dekat ke arahnya. ”Kau ke mana saja?” itu adalah pertanyaan pertama yang ke luar dari mulutku.

”Aku…” jawab Tae Hae gelisah.

”Mianhae,” ujarnya akhirnya. ”Jeongmal mianhae. Aku tak bermaksud mengganggunya. Aku hanya ingin melihatnya dari jauh.”

”Kau ke mana saja?’ aku mengulangi pertanyaanku. ”Kenapa waktu itu pergi begitu saja? Apa kau tahu kalau Kyuhyun mencarimu seperti orang gila?”

”Mianhae,” lagi-lagi dia meminta maaf. ”Keluargaku ada masalah. Kami harus pindah. Dan orang tuaku memberi tahu tentang masalah itu secara tiba-tiba sehingga aku tak sempat memberi tahu Kyu.”

Kemudian Tae Hae menceritakan secara detil tentang kondisi keluarganya saat itu. Perusahaan ayahnya bangkrut dan mereka harus ke luar dari rumah mereka karena rumah itu disita bank. Sebelumnya Tae Hae tak pernah tahu tentang masalah yang dihadapi keluarganya karena orang tuanya menutupinya darinya. Ketika dia tahu, dia dan orang tuanya sudah harus ke luar dari rumah mereka dan orang tuanya langsung memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka untuk memulai segalanya dari awal lagi.

“Lalu mengapa tak menghubunginya setelah itu?” tanyaku lagi, masih tak puas dengan penjelasannya.

“Aku tak sanggup menghadapi kemarahan dan kebencian Kyuhyun terhadapku. Aku sangat mengenal Kyuhyun. Dia tidak akan mudah memaafkan kesalahan orang. Dan aku sangat mencintainya, Yeorum~a. Aku takkan sanggup menghadapinya,” ujarnya sembari menangis.

“Kalau begitu kau salah. Kau tak benar-benar mengenalnya. Dia sangat tak suka ketidakjujuran. Kalau saja kau menjelaskannya padanya, dia akan bisa memaklumimu,” ujarku kemudian.

”Aku tahu. Tapi aku terlalu pengecut. Aku begitu malu menceritakan kondisi keluargaku saat itu.”

”Yeorum~a,” tiba-tiba Kyuhyun memanggilku. Aku berbalik menghadapnya. Sejenak dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi marah. Dia menatap tajam ke arah orang yang ada di belakangku.

Kyuhyun langsung membalikkan badannya dengan kasar dan berjalan kembali ke ruang ganti yang disediakan khusus untuk seluruh member suju. Dari ekspresinya tadi, aku tahu saat ini dia sedang sangat marah.

”Aku akan coba menjelaskannya padanya,” ujarku pada Tae Hae dan segera berlari mengejar Kyuhyun.

Berkali-kali aku berusaha untuk menjelaskan tentang Tae Hae kepada Kyuhyun. Dan tiap kali pula dia selalu memotong ucapanku. Bahkan di saat aku baru mengucapkan kalimat pertamaku. Dia sama sekali tak mau mendengarkan apapun tentang itu. Sampai akhirnya aku tak tahan lagi dengan keadaan ini.

Malam ini kami baru saja kembali ke dorm suju setelah mengisi acara di salah satu stasiun televisi. Kyuhyun langsung menghempaskan tubuhnya di sofa sementara member yang lain juga duduk di permadani tebal yang terletak tak jauh dari kami berada.

”Kyuhyun~a, aku sudah tak tahan lagi. Kau harus mendengarkanku!” ujarku langsung menarik tangannya agar dia mau bangkit dari sofa.

”Aku tak mau!” Dia menegaskan dengan nada dingin.

”HARUS!” aku memaksanya dan menarik tangannya sekuat tenagaku sampai dia berdiri. Ku dorong tubuhnya agar mau keluar dari dorm.

”Kau harus bicara padanya!” ujarku lagi, saat kami sudah berada di luar.

”Tidak!” ujarnya, memalingkan wajahnya dariku.

”Harus!” paksaku lagi dan dia tetap mengabaikanku.

Aku menarik napas panjang. ”Ku mohon,” ujarku sambil menatapnya lekat-lekat. ”Masalah kalian harus diselasaikan. Tidak baik kalau harus berakhir seperti ini.”

”Masalah kami sudah selesai saat dia pergi beberapa tahun silam. Aku sudah memutuskan semuanya,” ujar Kyuhyun keras kepala.

”Kyuhyun~a, dia sangat menderita. Dia benar-benar merasa bersalah padamu.”

Kyuhyun hanya diam tak menanggapiku.

”Kyuhyun~a, aku tahu kau sangat mencintainya. Jika tidak, kau tidak akan semarah ini padanya,” ujarku lagi dan dia masih tetap diam.

”Jika memang ingin mengakhirinya, setidaknya akhirilah dengan baik,” sekarang aku mulai membujuknya.

”Please….!” aku mengeluarkan usaha terakhirku. Kyuhyun menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku mengerti.

”Mengapa kau lakukan semua ini untuknya?” ujarnya dingin padaku.

Aku tak dapat menjawab pertanyaan Kyuhyun. Aku sendiri juga tak mengerti mengapa aku melakukan semua ini. Menginginkan orang yang sangat kucintai untuk kembali bersama mantannya. Ini benar-benar sinting. Tapi aku benar-benar tak tahu cara lain agar Kyuhyun merasa bahagia. Ya… satu-satunya yang aku inginkan hanya melihatnya bahagia sekalipun harus menyakiti perasaanku sendiri.

”Apa kau benar-benar ingin aku kembali padanya? Apa kau akan bahagia kalau aku kembali padanya?” tanyanya lagi padaku. Kali ini aku bisa melihat kemarahan di matanya. Tapi aku tetap tak mengerti ke mana kemarahan itu ditujukan. Pada Tae Hae? atau padaku?.

Aku menatapnya, mencari maksud dari nada bicara yang terselip di balik pertanyaannya barusan.

”Apa kau akan senang jika aku melakukannya?” Aku masih tetap diam sementara dia menatapku tajam.

”Ne…” jawabku akhirnya, setelah beberapa lama. Aku dapat merasakan kehampaan merayapi hatiku saat jawaban itu meluncur dari mulutku.

Kyuhyun menarik napas panjang. “Baiklah jika itu yang kau inginkan. Besok aku akan bicara padanya,” ujar Kyuhyun dingin dan pergi begitu saja meninggalkanku yang masih tertegun sendirian.

******

“Anyeong,” sapaku ceria kepada seluruh member saat memasuki ruang santai dorm suju.

Hari ini seluruh member suju tak ada jadwal manggung ataupun latihan. Makanya semuanya dapat berkumpul di dorm dan menghabiskan waktu bersama. Ini sangat jarang terjadi. Sejak pertama debut benar-benar bisa dihitung dengan jari mereka bisa bersantai-santai seperti hari ini. Itupun waktu libur mereka hanya bisa dihabiskan di dalam dorm karena mereka sangat tak leluasa pergi ke tempat umum.

“Yeorum~a, kau datang juga. Bukankah hari ini libur?” ujar Donghae oppa heran melihat kehadiranku.

”Aaah… aku hanya merasa aneh bila tidak menghabiskan hariku bersama kalian. Ini kan sudah jadi kebiasaanku selama tiga tahun ini.” Aku mengedipkan mataku pada Donghae oppa.

”Lihatlah aku membawakan makanan untuk kalian,” ujarku lagi sambil menunjukkan bungkusan yang ku bawa dan meletakkannya di atas meja. Seluruh member langsung menyerbunya.

”Aku tak melihat Kyuhyun, apa dia belum bangun? Aishh makhluk pemalas itu, sudah sesiang ini masih juga belum bangun,” ujarku hendak pergi ke kamarnya.

”Oh, Kyuhyun ya? Dia sudah keluar sejak pagi tadi,” ujar Hyuk oppa saat aku baru saja akan melangkahkan kakiku.

”Sudah keluar sejak pagi?” tanyaku lagi kembali menghadap ke arah mereka.

”Ne. Kyuhyun pergi bersama Tae Hae.” Kali ini Kangin oppa yang menjawab pertanyaanku.

”Mwo….” ujarku terkejut. ”…Oooh,” tapi hanya itu yang dapat kuucapkan akhirnya.

Sejak malam saat aku berhasil membujuknya untuk menemui Tae Hae, aku tak tahu lagi bagaimana perkembangan masalah mereka. Aku tahu keesokan harinya Kyuhyun memang menemui Tae Hae seperti yang dia katakan padaku. Tapi dia tak pernah menceritakan hasil pertemuan mereka. Dan yang membuatku terkejut adalah hari ini mereka pergi ke luar bersama sejak pagi. Aku sungguh tak menyangka perkembangannya sudah sejauh ini. Apakah mereka pergi berkencan? Apakan mereka kembali bersama-sama lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu sekarang berputar-putar di kepalaku.

Tiba-tiba suara bel berbunyi, membuyarkan semua lamunanku. Ryewooke oppa bangkit untuk membukakan pintu. Sejenak kemudian aku bisa mendengar langkah-langkah yang mendekat ke arah kami.

Wookie oppa muncul di ambang pintu, diikuti Kyuhyun dan juga ada Tae Hae bersamanya.

”Aaah.. kau sudah pulang,” ujar Kangin oppa. Nada suaranya jelas-jelas sedang menggoda Kyuhyun. ”Jadi ini orang yang bisa mebuatmu ke luar rumah pagi-pagi sekali?”

Tae Hae tersenyum mendengar komentar Kangin oppa. ”Choneun Tae Hae imnida.” Kemudian dia memperkenalkan dirinya kepada seluruh member suju.

”Ya! Yeorum~a, kau juga ada di sini? Mengapa kau tak istirahat saja di apartemenmu? Hari ini kan libur. Aish.. Kau ini memang benar-benar tak bisa memanfaatkan waktu luangmu,” ujar Kyuhyun padaku.

”Ne. Aku hanya mengantarkan makanan untuk para oppa. Aku juga sudah mau pulang kok,” ujarku buru-buru berpamitan.

”Yeorum~a,” suara Kibum oppa memanggil saat aku baru melangkah beberapa langkah. ”Biar oppa antar kau pulang.”

”Tak perlu oppa. Aku bisa pulang sendiri. Oppa beristirahatlah baik-baik,” ujarku menolaknya dengan halus. Sejenak mata kami beradu. Kibum oppa seolah-olah ingin mengatakan sesuatu melalui tatapannya. Akupun mencoba mengatakan bahwa aku baik-baik saja melalui tatapanku.

 

******

 

Sejak hari itu, Kyuhyun dan Tae Hae semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Tae Hae juga semakin sering mengikuti jadwal manggung suju.

Rasa sakit yang pernah ku rasakan tujuh tahun lalu, kini kembali menusuk-nusuk di hatiku saat melihat kebersamaan mereka. Bahkan lebih parah karena perasaanku terhadap Kyuhyun jauh lebih dalam sekarang. Aku tahu ini adalah kebodohanku sendiri. Akulah yang memaksa Kyuhyun untuk bertemu Dengan Tae Hae. Itu berarti akulah yang mendorong mereka untuk bersama lagi.

Karena kebersamaan mereka, akhir-akhir ini aku mulai memikirkan kembali rencana yang selalu ku tunda selama ini. Rencana untuk belajar mode di Paris. Kota impian yang selalu ingin ku kunjungi sejak lama. Aku mulai mencari-cari informasi tentang itu. Dan tentu saja semuanya tanpa sepengetahuan Kyuhyun. Aku hanya menceritakan rencanaku ini kepada Changmin. Dan seperti biasa dia selalu mendukung keputusanku apabila keputusan itu yang terbaik untuk hidupku.

 

******

 

Sejak hubungan Kyuhyun dan Tae Hae membaik, sikap Kyuhyun terhadapku semakin menyebalkan. Dia sering meninggalkanku, tak membawaku dalam banyak kegitan yang diikuti suju. Dia lebih sering menyuruhku istirahat di apartemenku. Kalaupun aku ikut, aku hanya bisa bengong menjadi orang tak berguna. Karena semua yang dibutuhkannya sudah ditangani oleh Tae Hae.

Hari inipun tak ada bedanya. Dia menyuruhku tetap tinggal di dorm. Dia hanya menyuruhku untuk menjemput kedua orang tuanya dan Ah Ra onnie yang nanti sore akan tiba dari Swiss.

Bukannya aku tak suka menjemput mereka. Tentu saja aku sangat senang dengan kedatangan paman dan bibi Cho serta Ah Ra onnie. Tapi kekesalanku lebih kepada bahwa hal ini sepertinya dilakukannya hanya agar aku tak mengganggu kedekatannya dan Tae Hae. Ditambah lagi dia sudah berencana akan mengadakan pesta di rumahnya dua hari mendatang yang juga bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke-23. Pesta ini dimaksudkan untuk menyambut kedatangan kembali paman dan bibi Cho serta Ah Ra onnie. Dan di pesta itu juga dia bermaksud memperkenalkan seorang yang spesial kepada keluarga dan seluruh teman terdekatnya.

Ku lirik jam tanganku. Waktu menunjukkan jam 3 lewat 40 menit. Ini berarti sudah waktunya kedatangan mereka, pikirku.

Ku arahkan pandanganku ke arah pintu kedatangan internasional dan tiba-tiba….

”YEORUM~A….” teriak seseorang memanggil namaku. Ku cari asal suara itu dan ku dapati Ah Ra onnie sedang berlari ke arahku sambil mendorong trolinya sekuat tenaganya dengan paman dan bibi Cho mengikutinya dari belakang.

”ONNIE….” aku balas berteriak dan ikut berlari ke arahnya. Setelah berada di dekatnya aku langsung memeluknya dengan erat begitupun dengannya. Setelah beberapa lama barulah kami saling melepaskan pelukan kami.

”Apa kabar dongsaengku yang cantik ini?” tanyanya sambil memegang kedua pipiku.

”Aku baik-baik saja onnie,” jawabku. ” Onnie…bogoshippo,” ujarku lagi dan kembali memeluknya.

”Nado bogoshippo dongsaeng,” balasnya sambil mengelus punggungku.

”Dan bagaimana dengan paman dan bibi?” Tiba-tiba paman dan bibi Cho sudah berada di dekat kami. “Apa kau juga merindukan kami?”

“Ahjuma, adjussi, tentu saja aku juga sangat merindukan kalian. Mana ada seorang anak yang tidak merindukan orang tuanya,” ujarku setelah melepaskan pelukan Ah Ra onnie dan berganti menggenggam tangan paman dan bibi Cho.

”Apa kau sehat?” tanya ahjumah lagi padaku.

”Ne,” jawabku. ”Apa ahjuma dan ahjussi menjaga kesehatan dengan baik selama di Swiss?” Aku menanyakan hal yang sama pada mereka.

”Aishh, kau ini tak pernah berubah. Selalu sangat perhatian. Benar-benar gadis yang baik,” ujar bibi Cho sambil mencubit gemas pipiku.

”Apa kau datang sendirian? Di mana anak manja itu?” tanya paman Cho padaku.

”Kyu tak bisa menjemput kalian. Dia sedang ada show di sebuah stasiun tv bersama member suju lainnya adjussi,” jawabku.

”Aishhh, anak itu! Bagaimana mungkin dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada menyambut kedatangan keluarganya yang sudah bertahun-tahun tak bertemu,” ujar Ah Ra onnie geram.

”Onnie, masa onnie tidak tahu dengan kesibukan super junior?” ujarku menjelaskan.

”Sudahlah, tak perlu dipikirkan bocah itu. Aku ingin cepat sampai di rumah. Aku sudah benar-benar kangen dengan suasananya,” ujar Ah Ra onnie akhirnya.

”Kaza,” ajakku sambil mengambil alih troli barang yang tadinya di dorong oleh paman dan bibi Cho.

 

******

 

”Kyuhyun~a, coba lihat cincin ini,” ujar Tae Hae menunjuk sebuah cincin tunangan di dalam etalase.

Saat ini kami sedang berada di sebuah toko perhiasan di salah satu pusat perbelanjaan di kota Seoul dan aku benar-benar kesal pada Kyuhyun. Untuk apa dia memaksaku ikut kalau hanya untuk memilih cincin tunangan? Kan sudah ada Tae Hae? Yang akan memakainya kan Tae Hae bukan aku. Dia pasti lebih tahu cincin seperti yang dia inginkan. Lagipula dari tadi tak sekalipun mereka menanyakan pendapatku.

”Ku rasa ini terlalu berlebihan. Yang sederhana akan terlihat lebih manis,” ujar Kyuhyun mengomentari pendapat Tae Hae. Dan Tae Hae benar-benar aneh. Kalau dia menyukai cincin itu apa salahnya. Itu kan seleranya. Dia malah menurut begitu saja dengan keinginan Kyuhyun.

Dasar makhluk egois!” makiku dalam hati. Kemudian aku membiarkan mereka memilih sendiri. Aku hanya mengitari toko perhiasan itu tanpa ada rasa ketertarikan sedikit pun. Tapi tiba-tiba aku melihat sepasang cincin tunangan yang sangat sederhana di dalam etalase. Cincin itu hanya bertahtakan sebuah berlian kecil. Dan aku sangat menyukai cincin itu. Kalau saja ini pertunanganku, aku pasti akan memilih cincin ini untuk dipasangkan ke jari manisku. Aku tersenyum menertawakan pikiranku sendiri.

”Ada yang kau suka?” Tiba-tiba Tae Hae sudah ada di sebelahku.

”A-ani,” aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum padanya.

”Tae Hae,” panggil Kyuhyun kemudian dan Tae Hae langsung mengalihkan perhatiannya kepada Kyuhyun lagi.

”Bagaimana kalau yang ini?” tanyanya kemudian menunjuk ke cincin yang ku lihat tadi.

Tae Hae mengangguk. ”Bagus,” ujarnya. ”Sederhana, tapi terlihat sangat manis.” Kemudian Kyuhyun meminta pelayang di toko itu untuk memperlihatkan cincin itu kepada mereka. Kyuhyun mencobakan cincin itu di jari manis Tae Hae.

”Sangat pas,” gumam Kyuhyun dengan ekspresi puas di wajahnya. Dan Kyuhyun langsung meminta pelayan untuk membungkusnya.

Sepulang dari membeli cincin Kyuhyun memintaku untuk pulang sendiri ke apartemenku. Dia bilang dia tak bisa mengantarku karena harus mengantar Tae Hae dan ada yang ingin mereka bicarakan secara pribadi. Aku menyanggupinya walaupun hatiku terasa sangat sakit karenanya.

Aku menyusuri jalan tanpa tahu harus ke mana. Yang jelas pikiranku sedang kacau sekarang. Besok, Kyuhyun bukan saja akan memperkenalkan Tae Hae pada kedua orang tuanya, tapi juga akan bertunangan dengannya. Dan tiba-tiba nama Changminlah yang terlintas dalam pikiranku saat itu. ”Ya…aku harus bertemu Changmin,” pikirku.

 

******

 

”Yeorum~a,” panggil Changmin saat kami sudah berada di atap gedung SM.

”Yeorum~a, ada apa?” katanya lagi saat melihat tak ada reaksi dariku. Dan akhirnya aku menggelengkan kepalaku.

”Tidak mungkin kau memaksaku meninggalkan latihanku bersama member DBSK yang lainnya kalau tak ada apa-apa,” ujarnya lagi.

”Aku sudah memutuskan bahwa aku benar-benar akan pergi ke Paris minggu depan,” ujarku tanpa memandang ke arahnya.

Changmin menghembuskan napasnya kuat-kuat. ”Apa keputusanmu itu berhubungan dengan Kyuhyun?” tanyanya kemudian.

”Dia akan melamar Tae Hae besok. Dia akan melamar Tae Hae tepat di hari ulang tahunku,” semburku tanpa bisa ku tahan dan aku mulai menangis sekarang.

”Memangnya siapa yang mengatakannya padamu,” tanyanya lagi mulai bingung karena tangisanku.

”Aku yang mengantar mereka membeli cincin tunangan mereka. Dan kau tahu….” ucapanku terputus-putus karena isak tangisku. ”…cincin yang mereka pilih itu adalah cincin yang diam-diam aku sukai,” Tangisku semakin kencang.

Changmin tak mengatakan apapun setelah penjelasanku. Dia hanya memelukku dan membiarkanku menangis di sana. Setelah tangisku reda barulah dia berbicara lagi.

”Apa kau yakin benar-benar akan pergi?” tanyanya.

Aku mengangguk. ”Aku akan memesan tiket pesawat untuk minggu depan.”

”Kalau kau rasa itu yang terbaik dan bisa membuatmu merasa lebih baik, pergilah!” ujarnya akhirnya.

Sejak awal aku tahu Changmin takkan pernah menghalangiku. Dia selalu akan mendukungku karena dia hanya menginginkan yang terbaik bagiku. Sebab itulah aku hanya mengatakan tentang keputusanku ini padanya.

To Be Continue….

SEVEN YEARS LOVE (Part 3)

Yeorum POV

Kami baru tiba di studio latihan SM sekitar jam 11 siang. Mulai hari ini sampai seminggu ke depan ada latihan bersama seluruh artis SM karena minggu depan akan diadakan konser SM TOWN di kota Seoul.

Aku mengamati seluruh member latihan dari pinggir ruangan. Juga ada anak DBSK dan SNSD di sana.

“Hei,” sapa seseorang mengagetkanku.

“Changmin ah, kau jahil sekali,” ujarku saat tahu siapa yang mengagetkanku.

“Lagian siang-siang kok bengong,” ujarnya sambil duduk di sebelahku.

“Bagaimana promo albumnya?” tanyaku.

“Sangat melelahkan,” jawabnya sambil menghembuskan napas kencang-kencang.

“Kami tak ada waktu istirahat. Dan satu hal yang membuatku sangat kesal, aku jadi sangat merindukan sahabatku yang satu ini,” ujarnya mengacak-ngacak rambutku. Aku berusaha menghindari jangkauan tangannya.

“Kau sendiri bagaimana? Apa Kyuhyun masih merepotkanmu?” tanyanya lagi.

“Bukan Kyuhyun namanya kalau dia tak merepotkanku.” Changmin tertawa mendengar jawabanku.

“Dan bukan Park Yeorum namanya kalau tak mau direpotkan oleh seorang tuan muda Cho Kyuhyun.”

Aku pun tertawa mendengar ucapannya. Kemudian ku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan, tapi aku tak bisa menemukan Kyuhyun di sana.

“Mungkin dia ke luar sebentar,” ujar Changmin yang langsung bisa menebak siapa yang sedang ku cari. ” Sedetik saja kau tak melihatnya, kau akan langsung panik!”

“Kau ini! Aku cari dia dulu,” ujarku seraya berdiri.

Saat aku berdiri Jessica mendekatiku dan menghalangi jalanku.

“Tolong jangan menghalangi jalanku,” ujarku malas meladeninya.

“Kau pasti mau mencari Kyuhyun oppa kan? Apa kau tak bisa membiarkannya menarik napas lega sebentar saja? Kyuhyun oppa itu sudah terlalu sesak karena harus melihat tampangmu yang menyebalkan itu setiap saat,” ujarnya benar-benar sangat menyebalkan.

“Jess, sudahlah, jangan cari gara-gara,” Changmin mengingatkan.

“Changmin oppa juga membelanya? Aku sangat penasaran, apa sih daya tarik parasit ini sampai-sampai kalian semua membelanya?” ujarnya sambil mendekatkan wajah iblisnya ke wajahku.

“Cih… Parasit?” Aku menarik napas dalam-dalam. “Jess, jangan menguji kesabaranku. Aku sedang tak mau bertengkar denganmu.”

Aku hendak melangkahkan kakiku, tapi Jessica menghalangi ku lagi.

“Wae? Kau marah ku sebut sebagai parasit? Bukankah sebutan untuk orang yang makan, minum, dan tinggal gratis bertahun-tahun di rumah orang lain itu memang parasit?” ucapannya benar-benar membuat telingaku panas. Sekuat tenaga ku coba meredam emosiku yang mulai naik.

“Oh ya, bukan cuma itu. Kau itu juga pantas di sebut si pembawa sial. Bagaimana tidak? Orang-orang di sekelilingmu selalu mengalami nasib sial kan? Orang tuamu meninggal, dan….bukankah kecelakaan yang membuat Kyuhyun oppa seperti sekarang ini karena kau?”

Aku benar-benar tak mampu mengendalikan diriku lagi. Tanpa ku sadari tinjuku sudah melayang ke arah jessica dan menghantam keras wajahnya.

Changmin yang dari tadi berdiri di sampingku langsung menahanku. Sementara Jessica jatuh tersungkur di lantai dan menangis meraung-raung. Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dan melihat ke arah kami.

“Sebaiknya kau jaga mulutmu itu. Jika tidak, kau akan sering mengalami hal seperti ini,” ujarku masih dengan dada naik turun karena menahan marah.

“YA, PARK YEORUM! APA YANG KAU LAKUKAN!” tiba-tiba sebuah suara yang sangat marah mengalihkan perhatianku. Kyuhyun berjalan menghampiriku dengan wajah merah padam.

“SEJAK KAPAN KAU MEMUKUL ORANG?” Tatapannya langsung menghujam ke mataku.

“Kyu, ini bukan salah Yeorum.” Changmin mencoba menjelaskan.

“Kau tak perlu membelanya!” ujarnya dingin kepada Changmin

“SEJAK KAPAN KAU BERUBAH MENJADI KASAR! KENAPA? KAU MAU MENJADI PREMAN YA? KAU BENAR-BENAR MENGERIKAN SEKARANG!” teriaknya kemudian kepadaku.

Ucapan Kyuhyun yang terakhir benar-benar menghantam tepat di ulu hatiku. Dia menganggapku wanita yang mengerikan sekarang. Aku bisa merasakan mataku mulai hangat karena air mata. Aku berusaha untuk menahannya agar tak jatuh. Walaupun aku tahu pasti Kyuhyun bisa melihatnya dengan jelas karena jarak wajah kami sangat dekat sekarang.

“Kyu, dengarkan dulu alasannya,” Changmin kembali mencoba menjelaskan sambil menahan bahu Kyuhyun dengan tangan kirinya. Tampak dia sedikit emosi menghadapi sikap Kyuhyun yang tak mau mendengarkan penjelasannya.

“TAK PERLU MEMBELANYA!” bentak Kyuhyun sambil menepiskan tangannya dengan kasar.

Changmin terlihat sangat marah saat ingin membalas ucapan Kyuhyun, tapi aku buru-buru menahannya. “Changmin ah, tak perlu menjelaskan apapun padanya. Tidak akan ada gunanya,” ujarku balik menatap marah kepada Kyuhyun. Kemudian aku pergi begitu saja meninggalkan studio latihan. Aku tak sanggup lagi membendung air mataku. Air mataku kini mengalir dengan derasnya.

Aku terus berlari. Aku tak tahu mau ke mana menyembunyikan diriku. Ada rasa sakit yang amat sangat di dadaku. Semua itu karena ucapan Kyuhyun tadi. Ucapannya benar-benar telah menyakiti perasaanku.

Akhirnya kakiku berhenti di taman yang berada di seberang gedung SM. Aku mendudukkan diriku di salah satu kursi yang ada di sana. Menyembunyikan wajahku di kedua telapak tanganku. Dan aku terus menangis.

Aku menangis cukup lama hingga akhirnya aku menurunkan kedua telapak tanganku yang tadi kugunakan untuk menutupi wajahku. Aku sangat terkejut saat mengetahui Changmin sudah duduk di sebelahku dan mengulurkan sapu tangannya padaku.

“Sudah baikkah?” tanyanya sambil mengamati wajahku. Aku mengangguk pelan.

“Ini yang kesekian kalinya kau menangis karena dia. Dan setelah ini kau pasti akan langsung memaafkannya,” ujarnya lagi.

“Kau terlalu mencintainya. Karena itulah kau menjadi sangat gampang disakiti olehnya.” Ada kemarahan yang bisa ku tangkap dari nada bicaranya.

Aku sibuk menghapus sisa air mataku dengan sapu tangan yang di berikan Changmin padaku. Aku bisa merasakan kalau mataku sekarang bengkak.

“Apa aku kelihatan sangat jelek?” tanyaku sembari tersenyum lemah padanya.

“Kau ini, dalam keadaan seperti ini saja masih bisa bercanda.” Changmin mengambil sapu tangannya dari tanganku dan membantuku membersihkan air mata yang masih tersisa di wajahku.

“Seharusnya kau menjelaskan sesuatu kepada Kyuhyun,” ujarnya lagi.

“Untuk apa? Apa dia akan percaya begitu saja padaku? Apa kau tidak lihat tadi? Dia memakiku di depan semua orang. Dia bilang aku sangat mengerikan,” ujarku kesal.

“Kami sudah bersama selama tujuh tahun. Aku mengenal setiap detil sifatnya. Seharusnya dia tahu kalau aku takkan mencari gara-gara dengan orang lain kalau bukan orang yang mencari gara-gara denganku.”

“Kau sangat kesal pada Kyuhyun ya?” Changmin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi taman yang kami duduki.

“Huh…. Bukan kesal lagi, tapi sangat kesal padanya. Dasar makhluk egois, dingin, dan suka menang sendiri!” makiku.

“Tapi kau tetap mencintainya kan? Dan kau takkan pernah memutuskan untuk pergi dari sisinya kan?” sindirnya tajam kepadaku.

Aku mengenal Changmin sekitar tiga tahun lalu. Saat itu Kyuhyun baru saja bergabung dengan suju sebagai member termuda. Dia orang yang sangat menyenangkan dan selalu bisa membuatku nyaman saat bicara padanya.

Entah sejak kapan persahabatan kami mulai terjalin. Yang jelas kami sudah sedekat ini saja. Changmin mengetahui semua tentang rahasia perasaanku terhadap Kyuhyun. Karena dia menganggap bahwa Kyuhyun tak pernah bersikap baik padaku, makanya dia sangat membenci Kyuhyun. Dan herannya Kyuhyun juga sangat tak menyukai Changmin.

Persahabatan kami terjalin apa adanya tanpa dibumbui oleh perasaan cinta. Mungkin karena inilah persahabatan kami bisa berjalan sangat natural. Walaupun terkadang Kyuhyun mencurigai bahwa hubungan kami lebih dari sekedar sahabat. Tapi masa bodohlah. Kyuhyun memang orang yang selalu curigaan kok. Lagipula bukan urusannya.

“Sudah siap untuk kembali ke sana?” tanya Changmin beberapa lama kemudian. Dan aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“Kaza,” ajaknya, lalu berdiri sambil menarik tanganku.

“Tunggu sebentar,” ucapku saat dia baru akan berjalan untuk meninggalkan tempat itu.

“Apa sisa air mataku sudah benar-benar bersih?” tanyaku padanya.

Changmin mengamati sebentar wajahku. “Oke,” ujarnya kemudian dan melanjutkan langkahnya sambil menggandeng tanganku.

******

Sejak saat itu aku mendiamkan Kyuhyun. Aku sangat kesal padanya. Bahkan dia tidak minta maaf  karena telah memakiku di depan umum. Aku tetap menjalankan tugasku seperti biasa. Tapi aku tak mau bicara padanya.

Ini hari ke tiga aku mendiamkannya. Kentara sekali dia mulai membuat ulah agar aku mau bicara lagi padanya. Tapi jangan harap sebelum dia meminta maaf padaku. Makhluk egois seperti dia perlu diberi pelajaran!

Malam ini aku pulang ke apartemen lebih awal. Jadwal kegiatan suju berakhir sekitar jam sembilan malam tadi. Jadinya aku bisa cepat-cepat beristirahat.

Aku mengambil desain jas yang ku buat untuk Kyuhyun yang sudah lama tertunda. Tanpa sepengetahuannya aku memang sering mendesainkan kostum untuknya. Hal ini diawali saat konser super show suju yang pertama dulu. Saat penampilan solonya, Kyuhyun diberi kostum yang sangat tidak disukainya. Perlu waktu lama untuk membujuknya agar mau mengenakan kostum itu.

Sejak saat itu sebisa mungkin aku selalu menyempatkan diri untuk membuatkan desain kostum manggung untuknya dan ku berikan ke bagian kostum. Sejauh ini Kyuhyun menyukainya. Dan insiden penolakan kostum seperti waktu itu tak pernah terjadi lagi.

Aku sebenarnya sudah tertarik dengan dunia mode sejak masih SMA. Aku suka sekali dengan tipe pakaian yang elegant namun tetap masih ada sentuhan kesederhanaan sehingga tak terkesan angkuh dan sombong. Dan tipe pakaian seperti itulah yang disukai Kyuhyun. Menurutku sih untuk menutupi sikap angkuh dan sombongnya yang sudah tak tertolong lagi itu.

Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sampingku berbunyi. Ku lirik layarnya, nama Kyuhyun tertera di sana. “Mau apa lagi dia?” pikirku. Aku sedang mogok bicara padanya, jadi ku abaikan saja.

Ponselku sudah berbunyi sebanyak lima kali. Dan semua panggilan dari Kyuhyun. Kemudian panggilan ke enam masuk dengan nama Kyuhyun masih tertera di layar. Aku bermaksud mengabaikannya, tapi tiba-tiba terlintas pikiran yang mengerikan di kepalaku. ”Bagaimana kalau Kyuhyun sakit?” ujarku pada diri sendiri. Akhir-akhir ini kesehatannya agak menurun.

Buru-buru ku angkat ponsel itu dan ku dekatkan ke telingaku.

”Yoboseo,” ujarku.

”Yeo…rum… Tolong cepat kemari.” Suara Kyuhyun terdengar sangat berat dan terputus-putus.

Seketika aku menjadi panik. ”Kyuhyun~a, kau kenapa? Apa dadamu sesak lagi?” tanyaku panik. Tapi tak ada jawaban dari seberang. Aku hanya mendengar tarikan napas yang sangat berat.

”Kyuhyun~a, bertahanlah. Aku segera ke sana,” ujarku langsung menutup telepon.

Tanpa pikir panjang ku raih tasku yang tergeletak di atas ranjang dan langsung berlari ke luar apartemenku. Tiba di pinggir jalan aku menyetop taksi yang melintas di depanku. Tapi tak ada yang mau berhenti dan memberikan tumpangan padaku. Akhirnya aku berlari ke halte bis terdekat. Beruntung sebuah bis jurusan ke arah dorm suju baru saja akan berangkat. Dan aku segera naik ke dalam bis.

Saat aku menyusuri lorong bangku di dalam bis, semua orang melihat ke arahku. Aku tak mempedulikan tatapan aneh mereka. Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah bagaimana agar aku bisa segera sampai ke dorm suju dan melihat bagaimana keadaan Kyuhyun sekarang.

Akhirnya bis yang ku tumpangi berhenti di halte terdekat dorm suju. Aku segera turun dan aku langsung berlari di sepanjang trotoar. Halte itu cukup jauh dari dorm suju. Dan butuh sekitar 15 menit agar sampai ke sana. Aku tak menghiraukan tatapan aneh orang-orang yang berpapasan denganku. Aku juga tak menghiraukan rasa sesak yang menyeruak di dadaku. Keringatku mengalir deras bahkan di suhu yang hanya sekitar 10 oC yang menyelimuti kota Seoul sekarang. Untuk mengambil jarak tersingkat, aku memutuskan untuk melewati jalan di dalam taman yang ada di seberang dorm suju. Aku terus berusaha memacu langkahku secepat mungkin. Tapi tiba-tiba sebuah ranting tajam menusuk telapak kaki kiriku. Rasa sakitnya tak tertahankan. Aku berjongkok melihat keadaannya. Dan aku melihatnya berdarah. Ku cabut ranting yang menancap di sana. Baru saat itulah aku menyadari bahwa aku sama sekali tak memakai alas kaki. Tapi aku tak punya begitu banyak waktu untuk memikirkan semua itu. Kyuhyun membutuhkan pertolonganku. Kemudian aku langsung berlari lagi ke arah dorm.

Kini aku sampai di lobi dorm mewah itu. Aku langsung menuju ke elevator. Tapi ternyata elevatornya masih di lantai atas. Aku menunggu beberapa detik, elevator sialan itu tetap belum datang. Akhirnya aku memutuskan untuk lewat tangga darurat.

Sesampainya di lantai sebelas, tempat dorm suju berada, napasku tersengal-sengal. Sekuat tenaga aku memaksakan kakiku untuk tetap berlari. Akhirnya aku sampai di depan pintu kamar dorm suju. Ku tekan bel berkali-kali dengan tidak sabaran sampai akhirnya pintu itu terbuka.

”Yeorum-a, apa yang kau lakukan semalam ini di sini? Dan kenapa kau berantakan sekali?” tanya Eunhyuk oppa terheran-heran melihatku.

”Oppa, Kyuhyun mana?” tanyaku padanya dengan napas tersengal-sengal.

”Ada di kamarnya,” jawabnya bingung.

Aku langsung menerobos masuk ke dalam dorm, melewati ruang santai tempat di mana seluruh anak suju minus Kyuhyun masih berkumpul. Aku tak menghiraukan tatapan keheranan mereka. Aku terus berjalan lurus menuju kamar Kyuhyun.

”Kyuhyun~a…..” ujarku saat menerobos masuk ke kamarnya. Tapi betapa terkejutnya aku saat aku melihatnya dengan santainya sedang duduk manis di depan komputernya. Aku berjalan mendekatinya.

”Apa kau baik-baik saja?” tanyaku sambil menatapnya nanar.

”Apa aku terlihat seperti dalam keadaan tidak baik?” jawabnya santai.

”Ta-tapi…tadi di telepon…kau bilang….” ucapanku menggantung. Aku semakin tak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi.

”Aaaah…itu. Tiba-tiba aku merasa lapar. Apa kau bisa memasakkan mie ramen untukku?” Dia masih bersikap santai, berlagak seperti tak terjadi apa-apa.

Aku terperangah mendengar jawabannya barusan. Aku mulai mengerti sekarang. Dia sedang mengerjaiku.

”KYUHYUN~A, KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN!!!” Aku berteriak marah sekali padanya. Sekarang dadaku benar-benar sesak karena ulahnya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saking kesalnya. Akhirnya aku menumpahkan semua kekesalanku dengan menangis. Aku menangis sekencang-kencangnya hingga semua member suju yang lain terkejut dan menerobos masuk ke kamar Kyuhyun untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi.

”Apa yang terjadi?” tanya Leeteuk oppa heran.

Baik aku ataupun Kyuhyun tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya terus saja menangis.

”Yeorum~a, jangan menangis seperti itu. Apa kau mau semua hyung ini mengira aku telah berbuat jahat padamu?” tanyanya tanpa rasa bersalah.

”KAU MEMANG JAHAT PADAKU!!!” teriakku sekuat-kuatnya. ”Apa yang ada dalam fikiranmu saat mempermainkanku? Apa kau tahu kalau aku berlari-lari seperti orang gila menuju kemari? Aku sampai lupa mengenakan sepatu saking cemasnya. Semua orang di jalan menatapku aneh. Tapi aku mengabaikan semua itu demi untuk segera sampai kemari dan menolongmu. Tapi apa…. kau hanya mempermainkanku. KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN TUAN MUDA CHO KYUHYUN!!!” Aku terus menangis. Aku tak mempedulikan semua member yang coba membujukku sedangkan Heechul oppa sekarang sedang memarahi Kyuhyun karena ulahnya walaupun dia tak begitu mengerti dengan permasalahan di antara aku dan Kyuhyun.

Setelah beberapa lama menangis dan seluruh wajahku sudah sangat lengket karena air mata yang bercampur keringat, akhirnya aku beranjak dari tempatku. Para oppa juga sudah tak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah ini dan mendamaikan kami. Kemudian aku pergi ke dapur. Memasakkan mie ramen untuk Kyuhyun. Sepanjang aku memasak, air mataku kembali mengalir kalau teringat kejadian barusan. Setelah masak, ku berikan mie ramen itu dengan kasar kepadanya tanpa bicara sepatah katapun. Kemudian aku duduk di sofa yang ada di seberangnya dan menolak menatap ke arahnya.

”Hei, hapus air matamu. Wajahmu kotor dan jorok sekali,” ujarnya sembari mengulurkan sapu tangannya padaku.

”APA PEDULIMU!!” bentakku. Aku segera berdiri dengan kasar dan bermaksud meninggalkan tempat itu ketika Kyuhyun bicara lagi padaku.

”Ya! Yeorum~a,” panggilnya

”ADA APA LAGI!!!” bentakku berbalik lagi kepadanya dan tanpa mempedulikan kasak-kusuk para oppa yang dari tadi menonton pertengkaran kami.

”Kemari!” perintahnya. Dalam posisi bersalah seperti ini saja dia masih bisa memerintahku seenak hatinya. Benar-benar menyebalkan.

“AKU TIDAK MAU MENDEKATI MAKHLUK MENYEBALKAN SEPERTIMU!!!” ujarku masih menggunakan volume suara di atas normal.

“Aishh…!!!” ujarnya, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mendekatiku.

Tiba-tiba dia menggendong tubuhku. Sekuat tenaga aku berusaha untuk memberontak. Tapi dia tak menghiraukanku. Dia membawaku ke kamarnya dan mendudukkanku di atas tempat tidurnya. Kemudian dia pergi ke luar kamar lagi.

Aku mulai merasa waswas dengan sikapnya ini. Jangan-jangan dia mau mengerjaiku lebih parah lagi. Atau bahkan mungkin dia mau memperkosaku. Tidak… tidak…. aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mana berani dia berbuat seperti itu di saat semua hyungnya ada di luar sana. Lagipula aku kenal betul kalau Kyuhyun tidak akan melakukan perbuatan hina itu bahkan kepada orang lain sekalipun. Apa lagi padaku.

Kyuhyun masuk lagi ke dalam kamar dengan membawa sebuah kotak putih. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan menarik kaki kiriku ke arahnya.

Aku menepiskan tangannya dari kakiku dan menjauhkan kakiku darinya. ”Aishh… kalau tak diobati bisa infeksi,” ujarnya sambil kembali menarik kaki kiriku ke arahnya. Kemudian membersihkan lukaku dan mengobatinya.

”Sudah selesai,” ujarnya beberapa lama kemudian. Dia mengemasi isi kotak obat yang digunakannya untuk mengobatiku tadi dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidurnya.

Aku baru mau bangkit dari tempat tidur saat dia langsung menahanku. ”Kau mau ke mana?” tanyanya.

”Aku mau pulang!” jawabku ketus.

”Malam ini kau tidur saja di sini. Aku akan pinjamkan kamarku untukmu. Atau kalau kau memaksa aku bisa mengantarmu pulang,” ujarnya lagi.

”Aku tidak mau tidur di kamarmu ataupun diantar pulang olehmu!” Aku membuang pandanganku darinya.

”Lalu kau mau apa?” tanyanya frustasi.

”Aku mau pulang ke apartemenku, tapi tidak denganmu. Aku bisa minta Kibum oppa mengantarku pulang kok.”

”Itu artinya kau akan menginap di sini malam ini….” ujarnya sembari memaksaku berbaring dan menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal yang hangat. ”….karena oppa kesayanganmu itu sekarang sedang tidak ada dan mungkin baru beberapa hari lagi dia akan pulang. Dia sedang ada syuting drama terbarunya di luar kota.”

Aku mencoba bangkit, tapi tangan Kyuhyun menahanku. ”Kalau kau berusaha bangkit lagi, aku bersumpah aku akan tidur di sampingmu dan memelukmu sampai pagi untuk menahanmu!” Kyuhyun mengancamku.

Aku langsung ketakutan mendengar ancamannya. Biasanya Kyuhyun bersungguh-sungguh kalau sudah mengancam. Akhirnya aku menarik selimut hingga menutupi kepalaku agar aku tak melihat wajahnya yang menyebalkan itu lagi.

To Be Continue….

SEVEN YEARS LOVE (Part 2)

Author              : Park Yeorum

FB                     : Bummie Viethree

Twitter             : @green_viethree

Email                 : bummie_viethree@yahoo.com

Yeorum POV

Flashback

Aku pertama kali mengenal Kyuhyun dan keluarganya sekitar tujuh tahun silam. Waktu itu aku baru berumur 16 tahun. Orang tua Kyuhyun adalah sahabat terdekat orang tuaku. Sejak orang tuaku meninggal aku harus meninggalkan tanah kelahiranku, Indonesia, untuk dititipkan kepada orang tua Kyuhyun. Keluarga mereka sangat baik padaku. Aku diperlakukan tidak bedanya seperti anak kandung.

Kyuhyun memang sudah seperti itu adanya sejak pertama aku mengenalnya. Ketus, dingin, dan ingin menang sendiri. Dia seperti punya dunianya sendiri. Jarang sekali memiliki teman. Tapi yang ku heran orang seperti dia mengapa bisa dieluh-eluhkan semua orang dimanapun dia berada. Ku akui dia cerdas dan sangat tampan. Tapi bagiku tak lebih dari itu. Hampir semua murid perempuan di sekolah kami menyukainya. Tapi bukan Kyuhyun namanya kalau tidak menaggapi mereka dengan dingin.

Awalnya aku sangat terganggu dengan sikapnya yang dingin dan ketus. Tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Aku tak mau cari masalah dengannya. Jadi ku hindari saja dia. Kalau tak benar-benar penting aku tak mau bicara padanya.

Sampai suatu hari sebuah kejadian mengubah segalanya. Saat itu aku mau menyeberang jalan. Tapi tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku. Seketika aku jadi mati langkah. Aku tak beranjak dari tempatku berdiri. Sementara mobil yang lepas kendali itu tinggal beberapa meter di depanku. Kyuhyun yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arahku dan mendorong tubuhku ke tepi jalan. Tapi malang, dia tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri sehingga bagian depan mobil itu menghantam tubuhnya sebelum sang pengemudi berhasil mengerem. Dengan mataku sendiri aku melihat tubuh Kyuhyun terlempar beberapa meter sebelum mendarat keras di aspal. Aku langsung berlari mendekatinya. Aku melihat darah segar mengalir dari kepalanya. Setelah itu aku menangis histeris sambil memeluk tubuhnya.

Karena kecelakaan mengerikan itu, Kyuhyun mengalami koma selama sepuluh hari. Aku sangat merasa bersalah padanya. Karena untuk menyelamatkanku dia harus mengalami semua ini. Aku tak mau beranjak sedikitpun dari sisinya.

Setelah sepuluh hari Kyuhyun baru siuman. Tapi masalah baru muncul. Kyuhyun kesulitan bernapas. Kata dokter ini disebabkan karena Kyuhyun menderita pneumothorax sejak kecil dan kondisinya semakin diperparah dengan kecelakaan yang dialaminya.

Akhirnya tim dokter memutuskan untuk memasang sebuah pipa kecil ke saluran pernapasannya dengan jalan operasi untuk membantunya bernapas. Untunglah operasi ini berhasil. Tapi dokter mengingatkankan kami bahwa kondisi ini akan mempengaruhi Kyuhyun seumur hidupnya. Di saat-saat tertentu apabila terlalu lelah dan melakukan aktivitas yang terlalu berat dapat membuatnya kesulitan bernapas. Karena itu Kyuhyun akan selalu tergantung kepada alat bantu pernapasan.

Setelah hampir dua bulan di rawat di rumah sakit, Kyuhyun akhirnya diperbolehkan pulang. Sejak saat itu aku selalu membuntutinya kemanapun dia pergi. Aku juga menyiapkan semua yang dibutuhkannya. Aku mengingatkannya untuk minum obat, makan, bahkan minum susu.

Pada awalnya dia merasa sangat terganggu dengan ulahku dan dia semakin sering marah-marah padaku. Tapi aku tak menghiraukannya. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri kalau aku akan selalu menjaganya. Gara-gara kecelakaan itu aku seperti punya keterikatan padanya.

Karena aku tak pernah menuruti perintahnya untuk menjauh darinya, akhirnya Kyuhyun memilih diam dan membiarkanku membuntuti ke mana pun dia pergi. Aku tahu bukan karena dia menyukaiku. Dia hanya merasa terbiasa dengan kehadiranku.

Aku pun menjadi sangat terbiasa selalu berada di sisinya. Semakin aku mengenalnya, semakin aku menemukan sisi lain di dalam dirinya. Di balik sikapnya yang dingin dan ketus itu tersimpan sebuah pribadi yang mengagumkan. Dia tidak akan pernah bisa berpangku tangan apabila orang-orang yang ada di sekelilingnya mengalami kesulitan. Dia pernah memberikan semua uang jajannya kepada seorang anak penjual permen di jalanan lantaran anak tersebut tidak menggunakan alas kaki. Dan walaupun dia terlihat sangat manja, tapi dia sangat mencintai keluarganya, terutama ibunya. Kyuhyun takkan pernah bisa menolak permintaan ibunya. Dulu, sehabis kecelakaan, Kyuhyun diharuskan mengikuti terapi agar dia dapat berjalan dengan normal lagi. Karena terapi itu sangat menyakitkan, Kyuhyun paling tak suka menjalankannya. Berbagai macam cara sudah dilakukan untuk membujuknya agar mengikuti terapi itu, tapi semuanya percuma. Sampai akhirnya Cho ahjumma hanya bisa menangis saking frustasinya. Tak disangka, Kyuhyun langsung mengatakan ya saat malihat air mata ibunya. Mungkin hal inilah yang membuatku jatuh cinta padanya.

Waktu kelas 3 SMA, secara mengejutkan Kyuhyun menerima cinta salah seorang siswi di sekolah kami. Namanya Kim Tae Hae. Dia siswi tercantik di sekolah kami. Waktu itu Tae Hae lah yang nembak Kyuhyun duluan.

Itu pertama kalinya aku merasa patah hati. Terus terang aku sangat cemburu dengannya. Dia berani mengungkapkan perasaannya dan Kyuhyun menerimanya. Suatu hal yang tak mungkin terjadi pada diriku.

Inilah sulitnya menjadi orang Indonesia. Bundaku mengajarkanku untuk tidak bersikap agresif pada seorang laki-laki. Kata bunda, itu tidak baik. Bukan budaya orang timur. Laki-laki harus mengatakan perasaan mereka terlebih dahulu. Sungguh hal yang tak mungkin terjadi pada seorang Cho Kyuhyun yang angkuh dan sombong.

Lambat laun aku bisa mengikhlaskan kebersamaan mereka. Ada dua alasan sebenarnya. Yang pertama, ku lihat Kyuhyun bahagia bersamanya. Dan yang kedua, Tae Hae adalah gadis yang sangat baik. Jadi kupikir dia sangat layak untuk bersama Kyuhyun.

Tapi kebahagiaan Kyuhyun hanya bertahan selama beberapa bulan. Setelah itu, tanpa sebab dan kabar, Tae Hae menghilang begitu saja. Kyuhyun mencoba mencari ke rumahnya, tapi ternyata keluarganya juga pindah. Itu kali pertama aku melihat Kyuhyun sangat marah. Dia melemparkan semua perabotan yang ada di kamarnya. Membuat semua orang di rumah sangat khawatir karenanya.

Kyuhyun memang pemarah. Tapi dia tak pernah bersikap seperti itu selama ini. Biasanya kalau dia marah dia hanya akan bicara ketus dan kemudian dia akan mendiamkan semua orang dengan memasang wajah dinginnya. Aku bisa merasakan dia sangat terluka saat itu.

Butuh waktu lama bagi Kyuhyun untuk bersikap seperti biasa lagi sejak kejadian itu. Walaupun dia tak pernah mengungkitnya lagi, tapi aku tahu dia tak pernah melupakannya.

End of flashback…

******

“Hei, apa yang sedang kau lamunkan?” tiba-tiba jentikan jari seseorang membuyarkan lamunanku.

“Donghae oppa,” ujarku terkejut. “Apa acaranya sudah selesai?”

“Tuh kan, kau ngelamun.” Aku hanya nyengir menanggapi ucapannya.

“Kyuhyun mana, oppa?” tanyaku padanya.

“Ck ck ck… Yang ada di otakmu memang cuma Kyuhyun seorang,” jawabnya keheranan sambil mengeleng-gelengkan kepala.

“Kau sepertinya benar-benar jatuh cinta padanya ya?” ujar Donghae oppa membuatku kaget setengah mati.

“Oppa ngomong apa sih?” jawabku gugup. “Aku cuma tak mau dia marah-marah padaku lagi.”

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan untuk menghindari tatapan jahil Donghae oppa. Akhirnya aku menemukan sosok Kyuhyun sedang terduduk lemas di sebuah sofa di sudut ruangan. Aku langsung berpamitan kepada Donghae oppa dan pergi menghampiri Kyuhyun.

Betapa terkejutnya aku saat sudah berada di dekatnya dan dapat melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya tampak pucat.

“Kyuhyun~a, kau kenapa? Mengapa wajahmu pucat? Apa napasmu sesak lagi?” tanyaku panik.

“Aniyo,” ujarnya sambil menepiskan tanganku yang sedang meraba keningnya, memeriksa apakah dia demam. “Aku hanya kelaparan!”

“MWO!” ujarku terkejut. “Bagaimana bisa kau kelaparan? Apa kau tidak sarapan tadi pagi?”

“Kyu tidak makan atau minum apapun sejak tadi pagi,” Donghae oppa yang menjawab pertanyaanku. “Aku sudah berusaha memaksanya. Tapi sepertinya hanya kau satu-satunya orang yang bisa memaksanya. Usahaku gagal total.”

“Aishh…kau ini! Seharusnya kau tak berbuat begitu. Kau kan tahu sendiri dengan kondisi tubuhmu. Kau mau membuatku mati ketakutan ya?” omelku kesal sekaligus prihatin padanya.

“Kau tunggu di sini dulu. Aku akan membelikan makanan untukmu,” ujarku lagi dan segera berlari ke luar untuk membeli makanan untuknya.

Tak berapa lama aku kembali dengan dua bungkusan besar di kedua tanganku. Kibum oppa yang melihatku kerepotan membawanya, langsung membantuku.

“Aku tak jadi membelinya. Ternyata produser acara ini menyiapkan makan siang untuk kalian. Waktu aku ke luar tadi makanannya baru saja datang. Sebaiknya kalian segera makan. Sudah waktunya makan siang,” ujarku sambil meletakkan bungkusan di atas meja. Aku mengambil satu kotak dan memberikannya pada Kyuhyun.

“Ayo dimakan!” perintahku padanya. “Awas kalau kau sampai bertingkah seperti ini lagi!”

“Heh, kalau kau terus ngomel seperti itu, kau bisa membuat nafsu makanku hilang,” hardiknya.

“Ck ck ck. Dalam keadaan kelaparan seperti ini saja kau bisa tetap memiliki energi sebesar itu untuk marah-marah. Penyakitmu sudah benar-benar akut,” sindirku.

“Arasseo! Arasseo! Aku diam!” lanjutku kemudian saat dia melotot padaku dan hendak meletakkan makanannya kembali di atas meja.

“Benar-benar kekanak-kanakan,” omelku pelan. Kyuhyun menatapku tajam. “Oke, makanlah!” ujarku lagi sambil menjauh darinya dan duduk di sebelah Kibum oppa.

“Kau juga makan. Oppa tak mau adik kesayangan oppa ikut sakit.” Kibum oppa menyodorkan sekotak makanan kepadaku.

“Gomawo oppa,” ujarku tersenyum manis padanya dan mengambil makanan yang diberikannya padaku.

Seusai makan siang kami segera meluncur ke lokasi kegiatan berikutnya, pemotretan untuk sebuah majalah terbesar dari Cina sekaligus wawancara eksklusif.

Setelah pemotretan dan wawancara, Super Junior M yang terdiri dari Hangeng oppa, Donghae oppa, Ryewook oppa, Shiwon oppa, Kyuhyun, Zhou mi, dan Henry melanjutkan mengisi acara pembukaan sebuah hotel berbintang lima di kota Seoul. Sementara member yang lain juga pergi ke tempat aktivitas mereka masing-masing.

Acara pembukaan hotel itu baru selesai jam 11 malam. Dan kami baru tiba di dorm suju sekitar jam 12 malam.

Karena sangat kelelahan dan sempat kelaparan tadi siang, Kyu jadi muntah-muntah. Aku sangat panik dibuatnya. Aku memberinya obat penghilang rasa mual. Setelah satu jam barulah dia dapat tertidur.

“Apa dia sudah baikan?” tanya Donghae oppa saat aku ke luar dari kamar Kyuhyun.

“Sudah mendingan. Setidaknya dia sudah bisa tidur,” jawabku sambil duduk di samping Donghae oppa.

“Tadi pagi dia sangat panik karena kau datang terlambat. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Dia pikir kau sakit. Berkali-kali dia mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Waktu kau tiba tadi pagi, dia baru saja mau menyusul ke apartemenmu.”

Aku terkejut sekaligus terharu mendengar cerita Donghae oppa. Ternyata dia tidak sarapan karena mencemaskanku. Ada rasa bersalah menyelip di hatiku. Aku terus mengomelinya sepanjang hari karena mengira dia sedang berulah padaku.

“Sebaiknya kau pulang sekarang. Sudah jam satu malam. Istirahatlah yang cukup malam ini. Besok kau bisa datang agak siang. Kita cuma ada jadwal latihan besok. Jadi bisa sedikit agak santai.”

“Tak perlu mengkhawatirkan Kyuhyun. Aku akan menjaganya untukmu,” tambahnya lagi saat melihat keraguan di wajahku.

“Baiklah oppa, aku pulang dulu.” Aku beranjak dari dudukku dan meraih tasku yang tergeletak di atas meja.

“Kalau kau mau, aku bisa mengantarkanmu dengan mobilku?” dia tersenyum jahil kepadaku.

“Terima kasih oppa. Sepertinya aku akan lebih aman kalau naik bis daripada diantar oppa,” ujarku, balas tersenyum padanya. Reputasi Donghae oppa dalam hal menyetir mobil sangat buruk. Selain memang tak begitu pandai menyetir ditambah dengan gaya menyetirnya yang suka seenaknya. Dulu dia dan Eunhyuk oppa pernah hampir mengalami kecelakaan karena ulahnya. Dan sejak kejadian itu tak seorangpun mau menaiki mobil yang dikendarainya, kecuali kalau orang itu memang sudah bosan hidup.

******

Aku benar-benar tak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah Kyuhyun yang pucat dan muntah-muntah tadi malam terus menghantuiku. Aku sangat mengkhawatirkan kondisinya. Karena itu hari ini pagi-pagi sekali aku sudah tiba di depan pintu dorm suju.

Ku tekan bel berkali-kali dengan tidak sabaran, tapi tak ada yang membukakan pintu untukku. Mereka pasti masih tidur, pikirku. Setelah hampir sepuluh menit, barulah ada yang membukakan pintu untukku.

Heechul oppa muncul di ambang pintu dengan tampang sangat kusut dan mata masih mengantuk.

“Ini kan baru jam setengah tujuh pagi. Mengapa kau datang sepagi ini? Bukankah jadwal latihannya hari ini jam 11 siang nanti?” ujarnya saat aku melewatinya.

“Tadi malam Kyuhyun muntah-muntah, oppa. Aku mau melihat keadaannya,” ujarku tanpa menghentikan langkahku.

Aku langsung menuju ke kamar Kyuhyun.  Ternyata dia masih tertidur pulas. Sepertinya dia lelah sekali. Ku dekati dia perlahan. Berusaha sebisa mungkin agar tak membuat suara berisik. Ku perhatikan wajahnya lekat-lekat. Sepertinya sudah membaik, pikirku. Hatiku jadi tenang karenanya. Kemudian aku keluar dari kamarnya.

Di luar kamar aku mendapati Heechul oppa tertidur kembali di sofa. Ku biarkan saja dia, sepertinya dia juga sangat lelah. Kemudian aku beranjak ke dapur. Aku bermaksud membuatkan bubur untuk Kyuhyun dan tak lupa sarapan pagi untuk member lainnya.

Tak lama kemudian aku bisa mendengar para member mulai bangun. Seketika dorm menjadi ramai dengan aktivitas pagi mereka.

“Hei Yeorum~a, pagi sekali kau datang?” ujar Kibum oppa terkejut dengan keberadaanku sepagi ini di dorm mereka.

“Pagi oppa,” sapaku ceria.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya mengamati kesibukanku.

“Aku sedang membuatkan sandwich untuk kalian,” jawabku masih berkutat dengan kesibukanku.

“Wah…kalau begitu aku harus segera mandi nih. Aku tak mau ketinggalan sarapan istimewa hari ini,” ujarnya, kemudian segera berbalik ke kamarnya untuk mandi.

Akhirnya pekerjaanku selesai. Aku langsung membawa sandwich buatanku ke ruang santai. Semua member sudah berkumpul di sana. Termasuk Kyuhyun. Dia duduk di sofa. Sepertinya baru saja bangun.

Sorak-sorai langsung menyambutku saat aku meletakkan nampan yang berisi sarapan untuk mereka. “Wah…pagi ini kita sarapan ala bule,” ujar Shindong oppa langsung mencomot jatah sandwich-nya dan diikuti oleh member yang lain.

“Kau belum mencuci mukamu ya?” ujarku pada Kyuhyun. “Aishhh…. Kau ini jorok sekali. Cuci muka sana! Setelah itu baru sarapan.”

Sedikit mengejutkan, kali ini dia tak membantah sedikitpun. Dia langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.

Sementara itu aku kembali ke dapur untuk menyiapkan bubur yang kumasak untuknya dan mengambilkan susu untuk semua member.

Saat aku kembali ke ruang santai, Kyuhyun sudah berada di sana lagi. Ku tuangkan susu ke dalam gelas dan ku ambil segelas untuk Kyuhyun. Kemudian ku berikan padanya bersama bubur yang ku buat tadi.

“Kenapa kau memberiku bubur?” protesnya. “Yang lain kan makan sandwich. Kalau begitu aku juga mau sandwich.”

“Apa kau lupa kalau tadi malam kau muntah-muntah? Kau harus makan bubur. Lagian kau yakin mau makan sandwich? Sejak kapan kau suka sayuran?” ujarku kesal.

Setelah aku menyebut-nyebut sayuran, Kyuhyun langsung berhenti protes dan dia mulai memakan bubur yang ku berikan padanya. “Dasar!” omelku pelan. Sementara member yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.

“Apa perutmu masih mual?” tanyaku saat dia selasai makan. “Kalau masih mual, sebaiknya kau minum obat penghilang rasa mual lagi.”

“Perutku baik-baik saja,” ujarnya Sambil mengalihkan tatapannya dariku.

“Kau tidak sedang berbohong padaku kan?” selidikku sambil memaksanya untuk kembali menatapku.

“Aishh….kau ini, tidak percaya sekali kepadaku. Kalau ku bilang baik-baik saja, ya baik-baik saja!” Sifat garangnya muncul lagi.

“Ku rasa juga begitu. Kau memang benar-benar sudah baikan. Lihatlah sifat burukmu itu sudah muncul lagi,” sindirku.

To Be Continue…..

SEVEN YEARS LOVE (Part 1)

Author              : Park Yeorum

FB                   : Bummie Viethree

Twitter             : @green_viethree

Email   : bummie_viethree@yahoo.com

Note                            : FF ini punya arti yang cukup mendalam bagiku dimana saat aku menuliskan karakter Kyuhyun, aku seperti menuliskan karakterku sendiri. Selamat membaca …..^_^

 

 

Yeorum POV….

 

Aku berlari menuju dorm Super Junior. Aku terlambat! Hari ini Super Junior diundang dalam acara talk show di SBS TV. Dan karena tadi malam aku baru pulang ke apartemenku sekitar jam dua pagi, aku jadi bangun kesiangan.

“Ya Tuhan tolong selamatkan aku dari amukan macan,” aku bicara sendiri.

Akhirnya elevator yang ku naiki sampai di lantai 11. Ketika pintu lift terbuka secara otomatis, aku langsung disambut dengan dinding dorm yang penuh dengan coretan para fans mereka.

Aku berjalan menyusuri lorong sekitar lima menit lamanya hingga akhirnya aku tiba di depan pintu kamar dorm suju. Ku tekan belnya dan tak berapa lama pintu pun terbuka.

Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Dari ekspresinya aku tahu kalau dia sedang marah.

“Kau dari mana saja?” hardiknya kemudian.

“Mianhae,” ujarku sambil melewatinya dan buru-buru masuk ke dalam dorm.

Di dalam seluruh member yang lain sudah siap untuk berangkat. “Mianhae,” ujarku sambil membungkukkan badan sebagai tanda permohonan maafku pada mereka.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Kita masih keburu kok,” ujar Leeteuk oppa menenangkanku.

Aku meninggalkan mereka dan langsung menuju ke kamar Kyuhyun dengan dia masih mengikutiku dari belakang sambil marah-marah.

“Seharusnya kau datang lebih pagi agar semua orang tidak harus menunggumu,” omelnya di belakangku. Sementara aku sibuk memasukkan barang-barang keperluannya ke dalam tas.

“Aku kan sudah bilang mianhae. Apa itu tak cukup untuk membuatmu berhenti marah-marah?” ujarku mulai kesal. Tujuh tahun bersamanya, dia sama sekali tak berubah. Suka marah-marah dan bicara ketus. Aku juga tak mengerti kenapa aku mau saja waktu Cho ahjumma dan adjussi memintaku untuk menjadi asisten pribadinya.

“Bagaimana bisa kau memintaku berhenti marah-marah? Kau sudah membuat semua orang terlambat,” omelnya lagi.

Sekarang aku benar-benar kesal padanya. Ku balikkan tubuhku ke arahnya. Dan ku tatap dia dengan garang. “Kau pikir ini sepenuhnya salahku? Seharusnya kau bisa membereskan barang-barangmu sendiri. Tak perlu menungguku kan? Seharusnya kau tahu keperluan pribadimu sendiri. Tak perlu selalu aku yang menyiapkannya untukmu. Aku ini asisten pribadi, bukan baby sitter!” aku berteriak kepadanya.

“MWO!!” ujarnya gusar. “Kau pikir aku bayi?”

“Ya! Kau tak ubahnya seperti bayi. Bayi macan yang siap menerkam siapa saja. ARASSEO!!!” Aku benar-benar tak mau mengalah lagi padanya.

Kyuhyun baru saja mau membalas ucapanku ketika Leeteuk oppa masuk.

“Hei, kalian mau bertengkar sampai kapan? Kalau begini, kita benar-benar akan terlambat,” ujarnya melerai pertengkaran kami. Kemudian dia bicara padaku. “Apa sudah siap?” Dan aku hanya mengangguk. “Kalau begitu ayo berangkat,” ujarnya lagi sembari ke luar kamar. Aku mengikutinya dari belakang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kyuhyun. Aku sangat kesal padanya.

Sepanjang perjalanan Kyuhyun tak mau bicara padaku. Aku pun tak mempedulikan sikapnya. Dia memang selalu seperti itu kalau sedang marah padaku. Nanti juga dia akan menyerah kalau dia membutuhkan sesuatu.

Akhirnya kami sampai di SBS TV. Kami langsung menuju ruang ganti yang khusus disediakan untuk para member suju.

Aku membiarkan Kyuhyun menyiapkan dirinya sendiri. Aku mau lihat sampai berapa lama dia bisa bertahan tanpa bantuanku.

Aku menyibukkan diriku untuk membantu member yang lain. Daripada tak ada kerjaan, pikirku.

“Kenapa kau tak membantu Kyuhyun?” tanya Kibum oppa saat aku sedang membantunya memasangkan dasi.

“Coba kau lihat, dia kerepotan dengan dasinya. Sepertinya dia tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri?” tambah Kibum oppa lagi.

“Biar saja oppa!” jawabku cuek. “Dia sedang ngambek padaku. Seperti anak kecil saja. Aku tak mau bicara padanya sebelum dia yang bicara duluan padaku.”

“Tumben?” Kibum oppa mengerutkan keningnya. “Biasanya kau paling tak tahan melihat dia kerepotan seperti itu.”

“Aku mau memberikan pelajaran padanya. Dia setiap hari merepotkanku. Aku selalu bekerja dengan baik kok. Sesekali melakukan kesalahan itu manusiawi. Tapi dia malah langsung marah-marah. Padahal selama ini aku selalu bersabar menghadapi sikapnya yang ketus dan mau menang sendiri itu,” ujarku kesal.

“Ya sudah, terserah kau saja,” ujar Kibum oppa sambil mengacak-acak rambutku.

“YA, YEORUM~A! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA? CEPAT KEMARI! BANTU AKU!” tiba-tiba suara Kyuhyun berteriak dari seberang ruangan. Aku memandang kesal ke arahnya sejenak dan kemudian kembali menghadap ke arah Kibum oppa.

“Sudah ku bilang kan, oppa. Dia tidak akan tahan lama mendiamkanku. Dasar manusia egois! Pura-pura tak butuh padahal butuh,” ujarku sembari menyelesaikan memasang dasi Kibum oppa.

“Sudah pergi sana!” perintah Kibum oppa padaku. “Jangan sampai dia semakin marah padamu.”

Aku meninggalkan Kibum oppa dan menghampiri Kyuhyun. “Ada perlu apa?” tanyaku ketus.

“Pasangkan dasiku!” perintahnya.

“Untuk apa aku membantu orang yang sedang marah padaku?” jawabku angkuh dan bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu.

“Arasseo! Arasseo!” ujarnya tiba-tiba. “Aku tidak marah lagi padamu.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kemudian buru-buru ku hapus senyum di wajahku agar dia tak melihatnya dan berbalik menghadapnya lagi dengan ekspresi datar.

“Tapi sepertinya, bukan seperti itu caranya minta bantuan pada orang lain?” Keinginan jahilku muncul. Aku mengambil kesempatan ini untuk membuatnya memohon kepadaku. Jarang-jarang aku mendapatkan kesempatan emas untuk mengerjainya.

“Arasseo! Arasseo! Yeorum~a tolong pakaikan dasiku,” ujarnya dengan manis.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya meminta tolong dengan sopan padaku. Ini benar-benar sangat jarang terjadi.

“Waeeee!!!” tanyanya tak suka.

“Kau seperti orang yang sedang kerasukan kalau bersikap manis seperti itu,” ujarku masih tertawa.

“Aku lakukan sendiri saja!” ujarnya kembali ngambek dan mau melangkah pergi.

Aku buru-buru menarik lengannya. “Sudahlah, biar aku membantumu. Kalau menunggumu menyelesaikannya sendiri, bisa-bisa suju tak jadi manggung,” ujarku seraya mulai memasangkan dasinya. Aku masih menahan senyum melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan sementara dia membuang muka dariku.

Akhirnya acara pun dimulai. Dibuka oleh penampilan suju yang menyanyikan lagu sorry-sorry. Aku menonton mereka dari belakang panggung. Mereka memang mengagumkan. Begitu kompak, sangat menghibur, dan penuh kasih baik pada semua fans mereka maupun di antara mereka sendiri. Bagiku mereka benar-benar ’miracle’.

Kemudian acara dilanjutkan dengan talk show. MC yang memandu acara itu mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada semua member. Mulai dari yang sifatnya sangat umum sampai ke yang bersifat pribadi. Semua member yang lain menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh MC kecuali Kibum oppa. Dia hanya mau menjawab pertanyaan yang bersifat umum saja, sisanya dia hanya bungkam. Aku sangat mengenal oppa kesayanganku ini. Dia memang sangat sedikit bicara. Dan dia paling tidak suka kalau ditanya-tanya tentang masalah pribadi. Tak ada yang bisa membuatnya buka mulut kalau dia tak mau melakukannya. Tapi dia adalah orang yang sangat baik.

Sekarang tiba saatnya MC menanyakan tentang kehidupan cinta semua member. Mereka semua menjawabnya dengan malu-malu. Tapi di luar dugaan, tak seperti biasanya, Kibum oppa mau menjawab pertanyaan itu. Dia mengaku bahwa waktu SMA dulu dia pernah mengencani wanita yang sembilan tahun lebih tua darinya. Dan katanya saat itu dia berbohong tentang umurnya yang sebenarnya.

Aku sangat kaget dengan pengakuan Kibum oppa. Oh tidak….ternyata oppaku yang alim ini juga pernah berbuat nakal.

Sekarang giliran Kyuhyun yang menjawab. Seperti biasa dia menjawab dengan ekspresi datar. “Aku pernah jatuh cinta sekali sewaktu masih SMA,” jawabnya. “Dan aku rasa takkan ada yang kedua kalinya.”

Aku tahu persis siapa orang yang dimaksudnya. Satu-satunya orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta hanyalah Kim Tae Hae.

To Be Continue…