NAUI NAMJACHINGU

Yeorum POV

“Noona, saranghae.”

Mataku melotot selebar-lebarnya saat mendengar kata-kata yang ke luar dari mulut namja yang ada di hadapanku saat ini. Jadi ini alasannya memanggilku malam-malam begini? Seenaknya saja menyuruhku menemuinya di taman kota jam 9 malam seperti ini hanya untuk mengulangi kata-kata konyol itu untuk ke sekian kalinya. Aku juga dengan bodohnya mau saja mengikuti keinginannya dan membiarkan diriku lagi-lagi dikerjai olehnya.

”Ya Kau ini benar-benar keterlaluan! Apa kau tidak bisa memilih-milih waktu untuk menjahiliku? Apa kau tidak bisa menunggu sampai besok pagi dan membiarkanku hidup tenang di malam hari hah? Maaf aku sedang benar-benar sedang tidak ada mood untuk meladenimu. Aku mau pulang!” bentakku dan langsung berbalik untuk meninggalkannya. Tapi belum sempat aku beranjak dari tempatku, dia sudah menahan tanganku dan kembali membalikkan tubuhku kembali menghadap ke arahnya.

”Noona, aku serius. Saranghae, jeongmal saranghae,” ujarnya lagi. Raut wajahnya kali ini sangat serius. Hatiku mencelos saat menyadari keseriusan akan kata-katanya itu.

”Kau ditolak!!!” jawabku untuk ke sekian kalinya. Terasa kejam memang menolaknya mentah-mentah seperti ini. Tapi aku benar-benar tak berniat untuk menjalin hubungan dengan namja yang lebih muda dariku. Umur kami bahkan terpaut cukup jauh. Empat tahun. Astaga… aku ingin berpacaran, bukannya mengasuh anak orang. Ditambah lagi dengan tingkah kekanak-kanakannya itu. Aisshhh… Tidak!!!

”Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Bisakah kau membiarkanku pulang sekarang? Aku sangat lelah dan ingin beristirahat,” tambahku lagi sambil menangkupkan kedua tanganku di depan wajahnya. Memohon agar dia mau segera mengakhiri hal konyol ini.

”Tidak akan!” tolaknya cepat. ”Noona tak boleh pergi begitu saja setelah menolakku seperti ini. Noona selama ini tak memberikan alasan apapun padaku. Aku ini tampan, pintar, terkenal, dan suaraku sangat indah. Memangnya apa lagi yang kurang?”

Cih namja ini benar-benar sangat narsis!!! ”Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu itu?” tanyaku kesal.

”Tentu,” jawabnya keras kepala.

”Karena kau lebih muda dariku, ” jawabku singkat, padat, dan jelas.

”Mwo?! Alasan macam apa itu? Noona, sekarang sudah abad 21, tidak ada lagi orang yang berfikir seperti itu. Itu sangat kuno,” ejeknya.

”Ada! Buktinya aku berfikiran seperti itu. Kalau kau menganggap aku kuno, itu bukti nyata kalau kita tidak akan cocok,” ujarku kesal karena ejekannya.

”Bukan maksudku mangatai noona kuno. Tapi rasanya terlalu aneh kalau noona mempermasalahkan perbedaan usia dalam suatu hubungan. Teman-temanku banyak yang punya pacar wanita yang lebih tua dari mereka, dan hubungan mereka baik-baik saja. Aku butuh alasan lain yang lebih meyakinkan,” tuntutnya lagi.

”Tak cocok, ya tak cocok,” jawabku lagi mengulangi jawabanku sebelumnya beberapa kali agar dia bisa mendengarnya dengan jelas.

”Bagian yang mana misalnya yang noona anggap tak cocok?” Pertanyaannya mulai membuatku sebal.

”Banyak!” ujarku sambil merentangkan kedua tanganku untuk mengekspresikan seberapa banyak perbedaan antara kami. ”Dan butuh waktu lama kalau aku harus menjelaskannya padamu satu per satu,” lanjutku.

”Aku punya banyak waktu untuk mendengarkannya,” balasnya membuatku menghela napas panjang.

”Kau suka game, aku sangat tak menyukainya. Aku tak bisa hidup tanpa sayuran, sedangkan kau menyingkirkan segala sesuatu yang berwujud sayuran dari dalam menu makananmu. Aku ingin punya namjachingu yang bisa menjagaku dan memanjakanku, sementara kau malah selalu menjahiliku dan kau jauh lebih manja dariku. Aku ingin memiliki namjachingu yang lebih tua dariku dan bisa memanggilnya oppa, tapi kau malah 4 tahun lebih muda dariku dan tentu saja seumur hidupku tak mungkin memanggilmu dengan sebutan oppa karena itu akan terdengar sangat menggelikan.” Akhirnya aku menjelaskan semua alasanku dengan panjang lebar dan berapi-api.

”Hanya itu?” tanyanya, seketika mendekatkan wajahnya ke wajahku sehingga saat ini wajah kami hanya berjarak beberapa senti saja. Aku refleks mundur selangkah karena merasa tak nyaman. Berada sedekat itu dengannya  membuat jantungku berdegup kencang.

”Apa kau benar Park Yeorum? Semua alasan yang kau berikan sama sekali tak dewasa dan biasa diucapkan oleh orang-orang yang berpikiran dangkal tentang cinta.” Aku berdecak kesal mendengar tanggapannya tentang alasan-alasanku tadi. Enak saja mengataiku berpikiran dangkal!

”Yeorum~a…” Kini dia memasang kembali wajah seriusnya itu dan ya Tuhan…berani sekali dia memanggilku tanpa embel-embel noona di belakang namaku. ”…baiklah jika itu yang kau inginkan. Aku bisa menjagamu jauh lebih baik dari namja manapun di dunia ini. Aku bisa memanjakanmu, bahkan aku akan selalu memperlakukanmu layaknya seorang putri karena kau memang putri di hatiku. Kalau soal game dan sayuran, kita hanya perlu menjadi diri kita sendiri walaupun kita terikat dalam suatu hubungan. Dan masalah umur, aku berjanji umur takkan pernah jadi penghalang dalam hubungan kita nanti. Bagaimana?” Ujarnya mengakhiri kata-katanya dan sukses membuat aku menganga tak percaya kalau kata-kata seperti itu bisa keluar dari bocah setan seperti dia.

Belum sempat aku bangun dari keterkejutanku karena ucapannya yang membuatku harus membungkam mulutku rapat-rapat karena tiba-tiba aku kehilangan alasan-alasanku untuk menolak pernyataan cintanya, sedetik kemudian tanpa bisa kucegah dia sudah mendaratkan sebuah kecupan ringan di pipi kananku dan sukses membuatku semakin ternganga karena ulahnya ini. Tak ada yang bisa ku katakan lagi setelah itu. Yang bisa ku lakukan hanyalah memegangi pipiku yang terkena ciumannya tadi.

”No… Saranghae. Dan mulai malam ini kau adalah yeojachinguku. Jadi, mulai sekarang kau dilarang melihat namja lain selain aku. Dan aku akan memenuhi semua janji yang kuucapkan tadi. Aku akan menjagamu dengan baik,” ujarnya sambil menatap lurus kepadaku. Harus ku akui dia terlihat keren sekali saat mengatakan hal itu. Aishhh…apakah aku benar-benar sudah gila sekarang?

 *****

            Annyeong… Kalian pasti belum mengenalku? Tentu saja. Aku kan memang belum memperkenalkan diri pada kalian. Perkenalkan, namaku Park Yeorum. Aku keturunan Korea-Indonesia. Appaku Korea dan ibuku Indonesia. Saat ini aku bekerja sebagai dosen muda di Seoul University. Bidangku adalah science. Tepatnya biology science.

Di Korea aku hidup sendiri. Orang tuaku menetap di Indonesia. Dulu aku tinggal bersama mereka di Indonesia. Setelah berhasil meraih gelar sarjanaku di Indonesia, aku memutuskan untuk pindah ke Korea dan meneruskan masterku di sana. Namun demikian orang tuaku tetap tinggal di Indonesia hingga saat ini. Meski appa orang Korea asli tapi sejak menikah dengan ibuku appa telah memutuskan untuk menetap di Indonesia dan membangun bisnis keluarga di sana.

Tahun ini adalah tahun ke 5 ku di Korea. Oh ya saat ini aku juga sudah memiliki seorang namjachingu. Ahh…kalian pasti akan sangat terkejut bila aku menyebutkan namanya. Namjachinguku itu adalah Cho Kyuhyun Super Junior. Yups, evil maknae yang sangat digilai oleh yeoja-yeoja itulah orangnya.

Kenapa aku bisa berpacaran dengannya?? Entahlah, sampai saat ini pun aku juga masih belum mengerti. Awalnya ini seperti sebuah bencana bagi hidupku. Tapi pada akhirnya aku menyadari bahwa aku mulai mencintainya.

Aku mengenalnya melalui Ah Ra. Kalian pasti tau siapa dia. Benar sekali, dia adalah kakak kandungnya Kyu. Saat itu Ah Ra mengajakku berkunjung ke rumahnya dan di sanalah aku bertemu dengan Kyu.

Saat melihatnya pertama kali aku sangat yakin namja ini bermasalah. Kami belum saling mengenal, tapi dia dengan sangat terang-terangan memperhatikanku dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia sangat tak sopan. Aku ini kan teman onnienya dan jelas-jelas lebih tua darinya, tapi dia malah berani sekali memperhatikanku dengan cara seperti itu. Dan yang membuatku lebih syok lagi, setelah puas memperhatikanku dengan cara yang tidak sopan, selanjutnya tanpa basa-basi ia langsung menarik tanganku dan menyeretku ke ruang keluarga rumah mereka dan menantangku bermain game. Gila!!! Kelakuannya benar-benar sangat gila. Seumur hidupku aku bahkan tak pernah menyentuh stick PS, tapi dia malah menantangku bermain game. Meski aku tak mau, tapi dia tetap memaksaku sampai akhirnya aku mengiyakan dan tentu saja aku langsung kalah telak dalam hitungan detik. Dan Itu benar-benar membuatku sangat malu. Sementara dia malah menertawakanku sampai puas dan mengataiku babo. Kata babo itu benar-benar membuat darahku menggelegak. Dia benar-benar telah mengibarkan bendera perang dengan mengataiku seperti itu.

Sejak hari itu aku bersumpah tidak mau berurusan lagi dengan namja yang bernama Cho Kyuhyun itu. Ya sangat sulit sih karena Ah Ra adalah sahabatku. Tapi sebisa mungkin aku akan menolak secara halus bila dia mengajakku berkunjung ke rumahnya lagi.

Usahaku untuk menghindari bocah setan itu sia-sia. Aku memang tidak mendatanginya, tapi akan sama saja kalau hampir tiap hari dia yang selalu mendatangiku. Entah bagaimana caranya, ia mengaku kalau dia jatuh cinta pada pandangan pertama padaku. Benar-benar pengakuan yang sama sekali tidak masuk akal. Dan aku berpikir itu hanya karena dia sedang dalam masa puber. Maklum saja saat itu dia baru berumur 17 tahun. Jadi aku menolaknya.

Sayangnya bocah ini tak pernah mengenal kata putus asa. Dan nasib prinsip-prinsipku tentang sebuah hubungan harus berakhir di tangannya pada malam itu. Aku memang tak pernah mengiyakan pernyataan cintanya tapi aku juga tak pernah menyangkalnya saat dia memperkenalkanku kepada orang-orang terdekatnya sebagai yeojachingunya.

Awalnya hubungan kami menjadi suatu peperangan di dalam diriku. Aku antara ingin mengakhiri dan melanjutkan hubungan ini. Tapi kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya saat itu benar- benar menyadarkanku bahwa aku tak mampu bernapas tanpa kehadirannya di sisiku. Bahwa aku sakit saat hanya sekedar memikirkan kalau dia takkan pernah bangun lagi dan tersenyum padaku.

 *****

“Noona…” Aku melihatnya berlari ke arahku dan “PLAKK” aku langsung menggeplak kepalanya ketika dia sampai dalam jangkauan tanganku.

“Auuu…” teriaknya saat pukulan mautku mendarat di atas kepalanya.

“Ya! Kau ini… beberapa hari tak bertemu, bukannya merindukanku tapi malah memukulku. Sepertinya sia-sia saja aku merindukanmu setengah mati beberapa hari ini,” omelnya sambil memegangi kepalanya yang sakit

“Salah sendiri. Kan sudah ku katakan jangan pernah memanggilku noona. Ya Cho Kyuhyun, berpacaran denganmu itu sudah membuatku harus mengubur impianku untuk memanggil namjachinguku dengan sebutan oppa dan kau malah membuat segalanya menjadi semakin buruk dengan memanggilku noona,” sergahku amat sangat sebal padanya.

”Astaga… Mengapa semakin hari kau semakin terlihat seperti ahjumma-ahjumma. Mengomel sepanjak waktu,” dumelnya dengan suara rendah tapi tetap terdengar olehku.

”YA!!! CHO KYUHYUN, APA KAU BENAR-BENAR INGIN MATI. BERANI SEKALI MENGATAIKU AHJUMMA!” teriakku kesal dan wajah Kyu langsung memucat seketika.

”Aishh… Yeorum~a, jangan berteriak-teriak. Kau mau membuat semua orang di taman ini mengenaliku?” ujarnya sambil membekap mulutku.

”M-mianhae,” ujarku terbata karena tiba-tiba ada rasa takut yang menjalari hatiku. Ahh. Yeorum baboya. Mengapa aku bisa berteriak-teriak seperti ini. Hidupku tidak akan tenang kalau sampai ELF mengetahui hubunganku dengan Kyuhyun. Aishhh…berpacaran dengannya saja aku harus menanggung resiko sebesar ini. Aku masih sayang nyawaku.

“K-kalau begitu kita pulang saja,” ujarku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Untung saja siang ini taman kota sepi, hanya tampak beberapa orang yang jaraknya cukup jauh dari tempat kami berada sekarang. Lagi pula apa-apaan namja ini. Pergi ke tempat umum seperti ini hanya menyamar dengan menggunakan kacamata hitam. Dia tidak tau apa kalau kacamata hitam itu justru akan semakin mengundang perhatian orang-orang terhadapnya. Ketampanannya benar-benar sangat mencolok.

”Kajja!” ajaknya menarik tanganku ke arah mobilku yang ku parkir tak jauh dari tempat kami berada.

******

            “Kau baik-baik saja??” tanyaku saat kami sudah berada di restoran favorit kami. Dia bukannya langsung mengantarku pulang malah memaksaku ke sini.

“Ne, waeyo?” tanyanya sambil menyantap makanannya dengan lahap. Aku sangat suka saat melihatnya sedang makan. Semuanya akan tampak baik-baik saja di mataku kalau dia makan dengan lahap seperti ini.

“Aniyo. Hanya saja berita yang menyebar tentang konser di Guang Zhou waktu itu sangat buruk. Konser diadakan outdoor pada saat malam natal dengan cuaca yang sangat buruk. Aku dengar semua member kedinginan karenanya. Kau tidak sakit kan??” tanyaku khawatir mengingat tubuhnya yang sangat rentan terhadap penyakit.

“Aku sehat. Sangat sehat malah. Konser kemarin memang sangat buruk dan tentu saja kami semua kedinginan di cuaca seperti itu. Tapi aku…hanya dengan memikirkanmu saja aku bisa merasa hangat,” jawabnya sembari memamerkan senyum jahilnya padaku.

Akupun tersenyum mendengar ucapannya. Inilah Cho Kyuhyunku, dia selalu bisa membuatku tersenyum dengan celotehan jahilnya.

“Gomawo,” ujarnya kemudian.

“Ne??” tanyaku bingung.

“Telah mengkhawatirkanku. Hanya dengan begitulah aku bisa meyakini bahwa kau benar-benar mencintaiku. Tuhan…aku benar-benar ingin mendengarkan kata-kata itu keluar dari mulutmu.” Dia mendesah panjang sejenak sebelum kembali menekuni makanan yang ada di hadapannya.

 ******

 Kyuhyun POV

“Dari mana saja kau, Kyu??” tegur Sungmin hyung saat aku baru saja memasuki kamar kami.

“Eh hyung, kau belum tidur??” Aku sedikit terkejut karena ku pikir dia sudah tidur.

“Kau dari menemui Yeorum noona ya?” tanyanya lagi.

“Hehe…iya hyung,” jawabku cengengesan.

“Kau ini, menejer hyung benar-benar sangat khawatir saat kau tiba-tiba minta di turunkan di lampu merah. Kalau kau kepergok fans bagaimana??” omelnya.

“Mian hyung. Tapi kan aku sudah menyamar,” jawabku sambil membuka bajuku dan melemparkannya ke sembarang tempat.

“Sekarang sudah bertemu dengannya kan? Bagaimana? apa ada yang kurang pada dirinya gara-gara tak bertemu denganmu selama 3 hari?” goda sungmin hyung, kemudian dia bangun dari tempat tidurnya dan memungut kembali baju yang ku lemparkan sembarangan tadi. Dia memang hyungku yang paling baik ^_^

“Tidak hyung. Tak ada yang kurang dengan dirinya. Aku malah merasa ada sesuatu yang bertambah pada dirinya setelah tiga hari tak bertemu. Dia bertambah cantik,” jawabku dengan nada bercanda.

“Hahaha…Kyu, kau benar-benar sudah mabuk. Mabuk cinta,” ujarnya saat memasukkan bajuku tadi ke dalam keranjang cucian di kamar kami.

“Sudahlah bersihkan dirimu dan segera pergi tidur. Besok kita ada jadwal. Dan ingat langsung tidur. Jangan main game!!!” perintahnya sambil menepuk pundakku dan kembali ke tempat tidurnya.

“Selamat malam, Kyu,” ujarnya lagi kemudian menutupi tubuhnya sendiri dengan selimut.

“Malam hyung,” jawabku saat dia sudah membalikkan badannya ke arah dinding. Hyungku yang satu ini memang sangat mengerti aku. Dia tau saja niat yang terlintas di otakku tadi. Tau saja kalau aku bermaksud main game dulu sebelum pergi tidur ^_^

 ******

Yeorum POV

shining star! like a little diamond, makes me love
nehgen ggoomgyul gateun dalkomhan misolo nal balabomyuh soksakyuhjwuh
hangsang hamggeh halgguhla til the end of time

Aku baru saja menyelesaikan kelas taksonomi saat sebuah panggilan masuk di handphoneku. Ku aduk-aduk isi tasku hingga akhirnya aku menemukan handphone itu. Ku amati layarnya. Di sana tertera nama My EvilKyu.

”Yeoboseo,” sapaku saat ku angkat panggilannya.

”Jagi, kenapa lama sekali mengangkat telepon dariku??” tanyanya dengan nada manja.

”Aku baru selesai memberi kuliah. Dan jangan memanggilku dengan panggilan seperti itu. Aku tak suka!” balasku saat menyusuri koridor menuju ruanganku.

”Aishh..mengapa jutek sekali??”

”Salahkan dirimu sendiri mengapa memaksa berpacaran dengan wanita jutek sepertiku ini,” jawabku bercanda. ”Waeyo?”

”Sibuk siang ini??” ujarnya balik bertanya.

“Ani. Waeyo?” tanyaku untuk kedua kalinya.

“Kau ke studio SM ya? Temani aku,” ujarnya dengan nada memohon.

”Memangnya kau latihan sendiri? Member yang lain mana?”

“Para hyung juga berlatih bersama kok. Hanya mencoba memanfaatkan waktu saja. Sejak album ke-4 super junior keluar, jadwalku bersama para hyung semakin padat. Kita semakin jarang bertemu. Contohnya sekarang, aku baru saja kembali dari China kemarin, tapi besok sudah harus berangkat lagi ke Jepang. Aku tidak mau hubungan kita menjadi tidak sehat karena jarang bertemu.” Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kalau sudah berbicara seperti ini, sebutan EvilKyu untuknya terdengar sangat tak pantas.

”Bagaimana? Kau mau ke sini tidak?” tanyanya lagi karena aku belum juga memberikan jawaban atas pertanyaannya tadi.

”Nee… Baiklah tuan muda Cho,” ujarku menyetujui permintaannya dan aku bisa mendengar tawa bahagianya di seberang sana.

”Jangan lupa tolong buatkan aku jajangmyeon. Sudah lama rasanya tak memakan masakanmu.”

”Jadi ini tujuanmu memaksaku datang ke studio SM sekarang?”

”Aniyo. Tujuan utamanya adalah ingin melihat wajahmu. Jajangmyeon tujuan kedua.”

”Jajangmyeonnya jangan lupa ya?” tambahnya lagi buru-buru.

”Ne arasseo,” jawabku sebelum memutuskan sambungan telepon antara kami berdua.

 ******

             Tepat jam 12 siang aku sampai di studio SM. Mereka masih sibuk latihan. Aku pikir hanya member suju yang latihan tadi, tapi ternyata di sini juga ada Shinee, F (x), SNSD dan artis-artis SM lainnya yang akan mendukung konser SM Town di Jepang dua hari lagi. Aku langsung mengambil tempat di sudut ruangan memperhatikan mereka latihan.

Di sudut ruangan di seberangku terlihat Kyuhyun dan Seohyun sedang berlatih bersama. Mereka sepertinya serius sekali. Beberapa saat kemudian aku melihat Seohyun mengatakan sesuatu kepada Kyuhyun dan Kyuhyun langsung menangangguk. Aku tak tahu apa tepatnya yang mereka sedang bicarakan. Yang aku tahu setelah kyuhyun mengangguk mereka saling tersenyum dan tangan Kyu langsung meraih tangan seohyun untuk menggenggamnya. Darahku seketika mendidih melihat adegan tersebut. Dasar Cho Kyuhyun brengsek!!! Jadi ini maksudnya memaksaku melihatnya latihan? Jadi hanya untuk menunjukkan padaku kemesraannya dengan magnae SNSD itu. Benar-benar menyebalkan!!!

Baru saja aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu, tiba-tiba Yesung memanggilku dan menghampiriku.

”Melihat Kyu latihan eh?” tanyanya saat sampai di hadapanku.

”Ne,” ujarku tersenyum dipaksakan.

”Pantas saja Kyu sampai segitunya menyukaimu. Ternyata kau perhatian sekali,” komentarnya kemudian menenggak minuman yang ada di tangannya.

”Tidak juga. Kyu yang memaksaku,” ujarku dingin.

”Jincha???” ujarnya tak percaya. ”Aishh magnae setan itu ternyata tidak hanya suka memaksa kami para hyungnya, tapi juga suka memaksamu. Padahal ku pikir kau tipe orang yang tak bisa di paksa. Pasti kau sangat mencintainya hingga bisa dipaksa olehnya.” Aku hanya tersenyum hambar mendengar komentarnya yang terakhir. Benar aku sangat mencintainya. Tapi sepertinya hanya aku saja yang sangat mencintainya. Sementara dia tidak cukup besar mencitaiku. Tentu saja, dia punya begitu banyak pilihan. Di sekelilingnya begitu banyak gadis belia yang tentu saja 100 kali lipat lebih cantik dariku yang bahkan lebih tua darinya. Aisshhh…memikirkan hal seperti ini membuatku semakin frustasi saja.

”Eh kau bawa apa??” tanya Yesung lagi saat melihat aku membawa sebuah rantang kecil di tanganku.

”Ah ini jajangmyeon. Tadinya sih untuk Kyu, tapi sepertinya dia sudah punya menu makanan lain siang ini,” ujarku.

”Kau mau?” tawarku kemudian. Setelah apa yang kulihat tadi, aku benar-benar tak sudi memberikan masakanku ini kepada Cho Kyuhyun yang sangat menyebalkan itu.

”Ah tidak. Nanti kalau Kyu ingin memakannya bagaimana?” tolaknya halus.

”Tidak apa-apa. Dia tidak akan mau memakannya. Tadi dia bilang dia lagi tidak mood makan jajangmyeon hari ini,” paksaku sambil menyodorkan rantang itu ke tangannya.

Yesung menatap rantang itu sejenak. ”Kau yakin?? Sangat janggal kalau Kyu bisa tidak mood memakan jajangmyeon. Makanan ini kan kesukaannya,” ucapnya penuh selidik.

”Gwaenchana. Makan saja.” Aku meyakinkannya.

”Jincha??”

”Hmmm…” gumamku sambil menganggukkan kepala dengan semangat sedikit berlebihan.

”Baiklah kalau begitu.” Akhirnya Yesung menyerah dan mengambil rantang makanan yang kuulurkan padanya sejak tadi.

”Hari ini aku benar-benar sedang beruntung. Sedang lapar seperti ni, eh tiba-tiba ada yang menawari jajangmyeon gratis,” gumamnya sambil membawa jajangmyeon yang kuberikan tadi ke sudut ruangan dan memakannya di sana.

Beberapa saat kemudian barulah semua artis SM berhenti latihan dan beristirahat. Aku melihat Kyu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dia langsung tersenyum saat menemukan sosokku. Sementara aku bersikap acuh karena kejengkelanku masih belum mereda.

”Kau sudah datang,” ujarnya saat berada di dekatku. Dan aku hanya diam saja.

”jajangmyeonku mana??” tanyanya menatap kedua tanganku yang kosong.

”Aishh jincha. Tadi katanya ingin bertemu denganku adalah tujuan utama. Tapi sekarang yang ditanyakannya duluan adalah jajangmyeon. Benar-benar menyebalkan!” omelku dalam hati.

”Aku tak sempat pulang ke rumah. Jadi aku tak sempat membuatnya,” jawabku dingin sambil mendekap kedua tanganku di depan dada dan bersikap acuh padanya..

”Ya sudah tak apa-apa. Sebentar lagi makan siang yang disediakan oleh SM juga datang.” Dia menarik tanganku dan mengajakku duduk selonjoran di lantai.

”Moodmu lagi tak bagus ya??” tanyanya lagi setelah mengamati wajahku yang cemberut beberapa saat.

”Hmmm,” gumamku singkat.

”Ada masalah di kampus??”

”Hmmm,” lagi-lagi aku hanya menjawab dengan sebuah gumaman.

”Tenanglah…semuanya akan baik-baik saja,” ujarnya mencoba menenangkanku. Andai saja dia tau kalau sumber masalahnya ada padanya.

”Yeorum-a, gomawo. Jajangmyeonnya enak sekali,” ujar Yesung beberapa saat kemudian sambil mengembalikan rantang makanan yang sekarang sudah kosong.

Kyu menatap tak mengerti ke arahku. Aku pura-pura tak tau saja.

“Kau rugi sekali tidak mau memakan jajangmyeon buatan Yeorum, Kyu. Masakannya enak sekali,” ujar Yesung sekali lagi memuji masakanku.

“Bukankah tadi kau bilang kalau kau tak sempat memasakkan jajangmyeon untukku?” tanya Kyuhyun semakin tak mengerti.

“Ya sudahlah. Aku pulang dulu. Hari ini sangat melelahkan. Aku mau istirahat,” ujarku tanpa menggubris pertanyaan Kyu.

“Ya Yeorum~a, kau belum menjawab pertanyaanku. Kau bilang kau tak sempat membuatkanku jajangmyeon, tapi mengapa justru Yesung hyung memakan jajangmyeon yang kau buat??” tanyanya kini mulai gusar.

“Kyu, jajangmyeonnya sudah habis. Lalu mau diapakan lagi??” jawabku santai.

“Aku pulang dulu. Kau teruskan saja latihanmu dengan Seohyun. Yang mesra ya,” sindirku kemudian berlalu.

”Ya noona, kau ini sebanarnya kenapa sih??” teriaknya lagi saat aku sampai di depan pintu studio.

”Mwo?! Noona?! Ck berani sekali dia memanggilku dengan sebutan noona di depan banyak orang. Apa dia benar-benar ingin menegaskan tentang ketuaanku di depan banyak orang hah?’ omelku dalam hati.

Aku mengurungkan niatku.  Alih-alih membuka pintu di hadapanku, aku malah berjalan kembali ke arahnya dengan cepat. Saat sudah berada di dekatnya, aku langsung menendang kaki panjangnya itu dengan sekuat tenaga hingga membuatnya jatuh terduduk di lantai dan meringis kesakitan.

”Sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan noona di hadapan banyak orang, maka tamatlah riwayatmu, Cho Kyuhyun!” ancamku dan segera berbalik kembali ke arah pintu tanpa menoleh lagi ke arahnya. Ternyata memandang wajah tampannya itu bisa sangat menyebalkan seperti ini.

”Ya ampun, mereka menyeramkan sekali kalau sedang bertengkar.” Aku mendengar bisik-bisik orang yang entah siapa karena aku tak berniat untuk mencari tau tentang hal itu.

”Aishhh…Cho Kyuhyun, kau benar-benar babo. Seenaknya saja memegang tangan wanita lain di depan mataku. Sekarang rasakan kau!!” teriakku dalam hati saat berhasil meninggalkan studio SM.

 ******

            Esoknya aku terbangun dengan rasa sakit yang tak tertahankan di kepalaku. Ya Tuhan…jangan bilang aku demam. Ku raba keningku dan benar saja, badanku panas. Ku ambil termometer yang biasa ku simpan di laci meja samping tempat tidurku, kemudian ku masukkan ke dalam mulutku.

38 derajat celcius. Aku benar-benar demam. Dan akh…kepalaku tak bisa ku angkat saking pusingnya. Ada begitu banyak pekerjaan hari ini dan aku malah tak bisa bangun dari tempat tidurku. Semuanya memang selalu menjadi buruk saat aku sedang bertengkar dengan Kyu.

Ku putuskan untuk menelepon Kim Ga Eul, rekan kerjaku sesama dosen, untuk memintanya menggantikanku mengisi mata kuliah Fisiologi Tumbuhan hari ini. Dan masalah pekerjaan yang lain besok saja setelah sembuh aku pikirkan. Yang penting sudah ada yang menggantikanku di kelas hari ini.

Dengan susah payah akhirnya aku bisa bangkit dari tempat tidur untuk mengambil obat di laci meja kerjaku. Jarak antara meja kerja dengan tempat tidur sebenarnya hanya beberapa meter saja, tapi sukses membuat kepalaku berputar-putar rasanya.

Setelah meminum obat demam, aku kembali ke tempat tidurku dan memejamkan mataku untuk mengurangi rasa sakit di kepalaku hingga akhirnya aku tertidur karena pengaruh obat yang ku minum tadi.

Aku terbangun oleh suara bel apartemen yang berbunyi nyaring. Ku amati jam digital yang terletak di samping tempat tidurku. Astaga jam 7 malam. Itu artinya aku telah tidur seharian. Kemudian aku mencoba untuk bangkit, tapi…akhh obat yang ku minum pagi tadi sama sekali tak bekerja. Sekarang kepalaku semakin terasa sakit dan suhu tubuhku sepertinya semakin tinggi.

Bel apartemenku berbunyi sekali lagi. Benar-benar sial, kenapa di saat-saat seperti ini malah ada orang yang datang bertamu sih?? Kembali aku berusaha bangkit dari tempat tidur dan akhirnya berhasil. Aku berjalan sempoyongan ke luar kamar dan langsung menuju ke pintu apatemenku. Aku tak sempat mengintip siapa yang datang. Yang aku inginkan adalah mengusir sang tamu itu secepatnya.

”Yeorum~a, kau kenapa??” teriak orang itu cemas. Aku hanya bisa mengenali orang itu dari suaranya karena aku benar-benar tak sanggup lagi untuk membuka mataku. Aku hanya menyandarkan kepalaku di kusen pintu.

”Aku hanya demam,” jawabku lemah.

”Hanya demam bagaimana?” ujar Kyu sambil menahan tubuhku yang hampir terjatuh.

”Sekacau ini masih bilang hanya demam. Kondisimu terlihat mengenaskan tau!” bentaknya, kemudian dia langsung menggendongku dan membawaku kembali ke kamar.

Sesampai di kamar dia membaringkanku dengan hati-hati di tempat tidur dan menyelimuti tubuhku yang kini agak menggigil.

”Mengapa handphonemu dimatikan? Aku tak bisa menghubungimu sejak tadi malam,” ujarnya sambil memeriksa suhu badanku dengan termometer yang terletak di meja kecil di samping tempat tidurku. Pagi tadi setelah memeriksa suhu tubuhku sepertinya aku tidak memasukkannya kembali ke dalam laci.

”39,” ujarnya panik.

”Kita ke rumah sakit saja,” ujarnya lagi.

”Aniyo,” jawabku masih dengan mata terpejam. “Aku cuma butuh istirahat di rumah saja. Setelah minum obat pasti suhunya akan turun.”

“Ke rumah sakit akan lebih baik. Bagaimana kalau panasnya bertambah tinggi?” ujarnya cemas.

“Aniyo. Aku benci rumah sakit,” tolakku keras kepala.

”Aishh…kau ini,” ujarnya kesal karena kekeraskepalaanku.

”Kalau begitu minum obat saja,” ujarnya setelah menyerah memaksaku ke rumah sakit. Kemudian beranjak dari sisi tempat tidurku untuk mengambil obat di laci meja kerjaku. Dia memang sudah sangat mengenal seluk-beluk apartemenku.

”Apa kau sudah makan??” Tiba-tiba tangannya yang baru akan menyuapkan obat ke mulutku terhenti. Aku hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan lemah.

”Kalau begitu makan obatnya nanti setelah makan.” Kemudian dia meninggalkanku sendirian di dalam kamar. Hanya sebentar, karena beberapa saat kemudian aku merasakan dia sudah mengangkat tubuhku perlahan dan mendudukkanku dengan menjadikan tubuhnya sendiri sebagai penyangga kepalaku.

”Makanlah dulu,” ujarnya sambil menyentuhkan ujung sendok ke bibirku. Dan aku hanya membuka mulutku tanpa melihat apa yang disuapkan padaku. Saking pusingnya aku bahkan tak bisa merasakan apa yang sedang ku makan.

Aku hanya sanggup menelan makanan yang disuapkannya padaku beberapa ssendok saja karena kepalaku seperti berputar-putar walau sudah disanggahnya dengan tubuhnya. Sebelum membaringkanku kembali di atas tempat tidur, dia meminumkanku obat terlebih dahulu. Dan setelah itu aku benar-benar tertidur seperti orang pingsan karena efek kepalaku yang sangat sakit.

******

            Aku terbangun karena merasakan ada sesuatu yang lembab di dahiku. Ku buka perlahan mataku dan ku ambil sesuatu yang lembab itu dari atas dahiku. Ah ternyata handuk kompresan. Tapi siapa yang mengompresku??? Sebuah pertanyaan muncul di pikiranku yang sudah mulai bisa berpikir jernih kembali karena rasa sakit di kepalaku kemarin sudah menghilang.

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh kamar dan menemukan jawaban atas pertanyaanku tadi. Kyuhyun sedang tertidur di kursi tak jauh dari tempat tidurku. Posisi tidurnya tampak sangat tidak nyaman. Beberapa saat kemudian ku lihat tubuhnya menggeliat dan dia membuka matanya.

”Kau sudah bangun?” tanyanya, langsung menghampiriku saat menyadari kalau aku sudah bangun. Dia duduk di pinggir ranjang menghadap ke arahku.

”Bagaimana perasaanmu?? Kepalamu masih sakit??” tanyanya lagi sambil meraba dahiku untuk memeriksa suhu tubuhku. Aku hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya.

”Sepertinya sudah baikan. Suhu tubuhmu sudah turun. Tapi kau tetap harus istirahat,” ujarnya lembut sambil mengusap bekas air kompresan di dahiku.

”Kapan kau datang?” tanyaku bingung.

”Sepertinya semalaman kau memang tak sadar. Aku datang tadi malam. Kau yang membukakan pintu. Tapi kondisimu kacau sekali. Kau bahkan tak bisa membuka matamu saat aku datang,” jawabnya.

”Aku sepertinya memang membukakan pintu untuk seseorang dan sepertinya aku juga mendengar suaramu. Tapi ku pikir semua itu hanya mimpi,” jawabku.

”Jadi kau menjagaku semalaman??” tanyaku lagi.

”Kondisimu sangat mengkhawatirkan. Aku tak mungkin meninggalkanmu. Tapi tenang saja, aku tak melakukan apapun terhadapmu,” tambahnya cepat, takut aku berpikir yang bukan-bukan tentangnya.

Aku tersenyum mendengarkan ucapannya. ”Tenanglah, aku sama sekali tak berpikir seperti itu. Meski kau kelihatan tak bisa dipercaya, tapi aku sangat mengenalmu. Mana mungkin orang yang begitu takut Tuhan sepertimu sanggup melakukan dosa sebesar itu.”

”Syukurlah kalau kau berpikir seperti itu. Aku tidak perlu menghadapi tuntutanmu kalau sampai kau berpikir demikian.”

”Memangnya, kalau kau melakukannya, kau tak mau bertanggung jawab terhadapku?” pancingku, ingin memastikan jalan pikirannya.

”Bukannya tak mau bertanggung jawab. Tapi kalau aku melakukannya, aku akan melukaimu. Dan hal yang paling ku hindari adalah membuatmu terluka. Aku tau siapa kau. Meski sudah terbiasa dengan kehidupan di sini, kau tetap memegang teguh budaya tanah kelahiranmu. Aku tau kau sangat menjaga kehormatanmu sebagai seorang wanita. Dan aku tak mau menjadi orang yang merenggutnya dengan cara yang tidak seharusnya,” ujarnya sambil menatap ke arahku. Tatapannya begitu lembut dan setiap perkataannya membuatku semakin meyakini bahwa dia yang terbaik untukku.

”Gomawo,” ujarku balas menatapnya dengan lembut.

”Untuk apa??” tanyanya.

”Gomawo karena telah menjaga fisik maupun jiwaku. Terlebih karena telah mencintaiku dengan cara yang agung.” Aku tersenyum padanya.

”Aahhh…cheonmaneyo,” jawabnya salah tingkah dengan sanjunganku.

”Aku sudah berjanji padamu waktu itu, dan sebagai lelaki sejati aku harus menepatinya,” tambahnya lagi dengan nada bercanda.

 ******

            Siangnya, setelah menjagaku semalaman, Kyu harus berangkat ke Jepang bersama semua artis SM lainnya. Sedikit membuatku khawatir karena dia kurang tidur setelah menjagaku semalaman. Jadwalnya selama 3 hari di Jepang akan sangat padat. Dan pasti selama 3 hari itu dia takkan punya cukup waktu untuk beristirahat dengan baik. ”Tidurlah selama di pesawat,” pesanku tadi sebelum dia berangkat.

Saat aku mengkhawatirkannya seperti ini benar-benar membuatku tak bisa memikirkan hal lain selain dia. Dengan menekan segala harga diriku, akhirnya setelah makan malam aku memutuskan untuk meneleponnya.

”Yeoboseyo,” suaranya terdengar antusias di seberang sana. ”Tumben kau meneleponku? Biasanya kan selalu aku yang meneleponmu. Kau terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya selama ini.” Ucapannya benar-benar membuatku terperangah. Sebegitu detilkah dia mengetahui setiap pikiran dan perasaanku selama ini hingga aku tak bisa menyembunyikan apapun darinya. Jadi apa usahaku untuk menyelamatkan harga diriku di hadapannya selama ini sia-sia saja??

”Apa kau sudah makan?” tanyaku mengacuhkan ucapannya tadi untuk menyembunyikan rasa maluku.

”Ne, aku sudah makan, tadi selama di pesawat aku tidur dengan pulas, dan aku juga sudah minum vitaminku. Ada lagi yang ingin kau tanyakan??” tanyanya lagi membuat wajahku semakin memerah. Meski dia tak bisa melihatku, tapi tetap saja aku menyembunyikan wajahku yang sudah seperti kepiting rebus di balik telapak tanganku.

”Tidak ada lagi,” jawabku tergagap. ”Sebentar lagi konsernya akan dimulai bukan? Kau siap-siap saja. Aku takkan mengganggumu lagi.”

”Yeorum-a, aku tidak akan memegang tangan Seohyun saat penampilan kami nanti. Aku tau kau tak menyukainya,” ujarnya tiba-tiba dan menutup teleponnya. Sementara aku tetap tertegun dengan handphone yang masih menempel di telingaku meski sambungan telepon telah diputus. Aku sangat terkejut karena ucapannya. Bagaimana mungkin dia mengetahuinya? Aku kan tak pernah mengatakan tentang hal itu padanya.

           *******

           Hari ini Kyuhyun kembali dari Jepang dan seperti biasa dia langsung menemuiku. Rasanya lebih mudah bagiku untuk berpikir jernih saat dia sudah kembali di sisiku.

”Ini,” ujarnya menyodorkan sebuah amplop putih padaku saat kami sedang menikmati makan malam di pinggir sungai Han.

”Apa ini?” tanyaku sambil memandangi amplop yang di sodorkannya tadi.

”Kalau ingin tau isinya buka saja,” jawabnya dengan mulut penuh.

Aku meletakkan sumpitku. ”Gelagatmu menakutkan sekali. Kau sedang tak mengerjaiku kan?” tanyaku waspada saat meraih amplop itu, sementara dia malah memamerkan senyum misteriusnya padaku.

Aku membuka amplop yang kini sudah di tanganku secara perlahan. Dan….mengeluarkan sebuah tiket dari dalamnya. ”Tiket drama musikal Three Musketeers??” tanyaku dan dia mengagguk mengiyakan.

”Kau belum pernah menontonnya kan?” tanyanya dan ku iyakan. ”Aku bermain di dalamnya dan aku ingin kau menontonnya.”

”Dan memamerkan adegan ciumanmu dengan sang pemeran wanitanya padaku?” potongku.

”Kau tau tentang adegan itu?” tanyanya tak percaya.

”Tentu saja. Mahasiswiku di kampus begitu heboh karena adegan itu.”

”Aku belum pernah melakukan adegan itu secara real selama drama musikal ini berjalan hingga saat ini,” ujarnya menjelaskan.

”Dan kau berharap akan pernah melakukannya?” tanyaku sinis dan lagi-lagi hanya ditanggapinya dengan sebuah senyuman misterius.

”Bagaimana dengan besok? Apakah adegan itu akan dilakukan secara real?” tanyaku lagi.

”Besok adalah pementasan terakhir. Dan sutradara hyung berharap semua adegan dilakukan secara real pada pementasan terakhir. Sampai saat ini memang belum ada keputusan. Tapi besar kemungkinan akan dilakukan secara real.” Sepertinya kali ini dia ingin memanas-manasiku mengingat dia tau kalau aku cemburu setengah mati hanya dengan melihatnya berpegangan tangan dengan Seohyun.

”Oke. Aku berjanji pasti akan datang besok. Aku ingin melihat adegan realnya,” tantangku, menolak untuk mengakui rasa cemburuku terang-terangan padanya.

”Jincha??” jawabnya pura-pura terkejut. ”Senang sekali kau mau mensupportku untuk adegan itu.” Sekarang aku sampai menahan diriku sekuat tenaga untuk tak berteriak padanya.

******

            Saat ini aku sudah berada di dalam gedung teather tempat drama musikal Three Musketeers akan dipentaskan. Dengan kagum aku memandangi poster Kyu di dekat pintu masuk teather. Dia terlihat sangat tampan dalam balutan pakaian ksatria eropa abad  pertengahan. Selanjutnya akupun mengedarkan pandangan ke sekelilingku. Sangat ramai di sini. Dan jika di lihat dari tiket yang mereka pegang, sepertinya mereka semua ingin menonton drama musikal Three Musketeers. Aku juga yakin sebagian besar dari mereka adalah ELF.

”Ahhh…Kyu oppa sangat tampan di poster itu,” ujar salah seorang gadis yang berada di depanku.

”Kyu oppa memang selalu tampan,” ujar salah seorang temannya dengan nada yang memuja.

Aisshhh….aku benar-benar menderita karena mencintai namja itu. Mengapa begitu banyak gadis yang menginginkannya? Dan mereka bisa seenaknya memanggil Kyu dengan sebutan oppa. Satu hal yang takkan pernah bisa ku lakukan. Aku iri sekali pada mereka.

”Tiketnya, nona,” ujar seseorang mengagetkanku. Tanpa ku sadari ternyata aku sudah sampai di pintu masuk teather. Dengan sedikit tergagap ku serahkan tiket yang ku pegang kepada petugas. Kemudian petugas itu merobek tiketku menjadi 2 bagian dan mengembalikan satu bagian kepadaku.

Ruangan sudah remang-remang saat aku masuk ke dalam teather. Aku mengikuti petugas yang akan menunjukkan tempat dudukku. Aku baru tau kalau Kyu memberiku tiket VIP saat petugas itu membawaku ke bagian depan teather dan mempersilahkanku duduk di barisan ke enam tepat di tengah-tengah menghadap panggung. Dari bangku ini aku bisa melihat seluruh isi panggung dengan jelas.

Ku perbaiki posisi dudukku agar merasa nyaman. Tak lama kemudian seorang gadis menduduki bangku di samping kananku.

”Annyeong haseyo,” sapa gadis itu saat aku menoleh ke arahnya.

”Annyeong haseyo,” Jawabku.

”Kau seorang ELF?” tanyanya padaku. Dan aku hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan kepala.

”Lalu mengapa kau di sini?” tanyanya dengan tatapan heran.

”Seorang teman menghadiahiku tiket drama musikal ini,” jawabku dan tersenyum padanya.

”Beruntung sekali. Tiket VIP pula. Kau tau tidak? Untuk mendapatkan tiket VIP ini sulit sekali. Sekian banyak aku menonton drama musikal ini, baru kali ini aku bisa duduk di bangku VIP. Howaaa…dari sini aku bisa melihat wajah Kyu oppa dengan sangat jelas. Aku sangat menyukainya. Ani, tepatnya aku sangat tergila-gila padanya. Oettokeh? Mengapa ada manusia terlahir setampan ini?” oceh gadis di sampingku ini panjang lebar. Dia mengganggu sekali!

”Kau mahasiswi mana?” lagi-lagi dia bertanya padaku

”Aku bukan mahasiswa lagi. Umurku 26,” jawabku sedikit jutek.

”Syukurlah kau bukan seorang ELF, apalagi seorang SparKyu. Lucu sekali kalau kau sampai menyukai Kyu oppa. Yang pantas dengan onnie hanya Yesung, Hangeng, Heechul, dan Teukie oppa,” jawabnya dengan ekspresi yang sangat menyebalkan.

”Mwo?! Gadis ini benar-benar tidak sopan! Kalau kau tau siapa aku, kau akan menyesal mengatakannya!!!” teriakku dalam hati

Aku sangat bersyukur karena tak berapa lama kemudian lampu ruangan teather sudah dipadamkan sebagai tanda bahwa pertunjukkan akan segera di mulai. Kalau obrolanku dengan gadis tak sopan di sampingku ini terus berlanjut, sangat dikhawatirkan akan timbul keributan di ruang teather ini. Itu akan sangat memalukan tentunya.

Sekali lagi ku perbaiki posisi dudukku menghadap lurus ke depan, ke arah panggung yang kini mulai menampilkan adegan awal dalam drama musikal ini. Kyuhyun muncul dengan memakai pakaian ksatria eropa abad pertengahan seperti pada poster di depan pintu masuk tadi. Dia sangat tampan dengan pakaian itu. Tak heran hampir seluruh penonton wanita menjerit menyambut kemunculannya di atas pentas. Dan tentu saja gadis di sebelahku ini juga termasuk diantaranya. Bahkan teriakannya sangat berpotensi  menulikan telingaku setelah pulang dari menonton drama ini nanti.

Adegan demi adegan di tampilkan dengan sempurna. Kyuhyun pun memainkan perannya tanpa cacat. Dan sekarang tibalah adegan percintaan yang membuat hati banyak ELF, terutama SparKyu ketar-ketir.

Kyu sangat menghayati perannya. Dia menatap wanita lawan mainnya dengan penuh perasaan. Kyuhyun seolah benar-benar telah jatuh cinta pada wanita itu. Walaupun aku tau ini hanyalah sebuah adegan dalam drama, tapi adegan ini sukses membuat seluruh isi perutku bergejolak. Dan aku menyesali keputusanku untuk menonton drama musikal ini.

Seolah adegan kemesraan tadi masih belum cukup untuk mempermainkan perasaanku, sekarang tiba waktunya untuk melakukan adegan pamungkas. Kiss scene.

Lagi-lagi Kyu menatap ke dalam mata wanita itu dengan penuh kelembutan. Secara perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajah wanita itu hingga jarak antara wajah mereka hanya tinggal beberapa senti saja. Belum terjadi apapun, tapi sepertinya aku siap untuk meledak sekarang.

Tiba-tiba Kyu mengangkat topi bercaping lebar yang dipegangnya untuk menutupi wajah mereka berdua. Serentak terdengar keluhan dari seluruh ruangan teather karena adegan tersebut.

”Oettokeh? Apakah adegan itu benar-benar dilakukan? Tapi sepertinya adegan itu benar. Topi itu terlalu kecil untuk menutupi segalanya. Mereka pasti benar-benar melakukannya. Aishhh…benci sekali. Mengapa harus seorang ahjumma yang merebut ciuman Kyu oppa?” Ocehan gadis di sampingku ini semakin memperburuk suasana hatiku. Dan refleks aku menatap ke arahnya dengan tatapan tak suka.

”Waeyo?” tanyanya sok polos melihatku menatapnya seperti itu.

”Anda berisik sekali nona,” jawabku sembari beranjak dari tempat dudukku.

Aku tak mau menonton drama musikal itu lebih lama lagi. Jadi kuputuskan untuk ke luar dari ruangan teather meski pertunjukkan belum selesai.

*****

            Aku berjalan tak tentu arah entah sudah berapa lama. Dan yang sangat mengejutkanku, kakiku tanpa diperintah malah membawaku ke tempat ini. Tempat di mana 4 tahun lalu dia memaksaku untuk menjadi pacarnya. Tempat di mana karena ulahnya aku terpaksa melupakan semua prinsip-prinsipku tentang seorang pacar impian.

Tempat ini masih sama. Tak ada yang berubah. Bangku ini masih di posisi yang sama dengan 4 tahun lalu. Sorot lampunya pun masih tetap sama. Suasananya juga sama.

Sejenak aku merasa telah melakukan sebuah kesalahan selama 4 tahun ini. Kesalahan yang benar-benar membuatku terjebak. Begitu banyak rintangan dalam hubungan kami. Usia, karirnya, dan juga perasaan tak pantas yang hingga saat ini masih menggangguku.

Menyaksikan secara langsung bagaimana gadis-gadis belia itu begitu memujanya, begitu menginginkannya, membuatku merasa hubungan kami sebuah kesalahan. Jika tak bersamaku, mungkin saat ini dia akan memilih salah satu dari mereka.

Aku jadi menertawakan fikiran-fikiranku sendiri. Tak salah memang kalau Kyu sering mengejekku bahwa isi kepalaku jauh lebih muda dari umurku sendiri. Sedikit malu rasanya menyadari semua ini. Menyadari bahwa aku sangat kekanak-kanakan berfikir seperti ini. Tapi fikiran-fikiran itu selalu hinggap di kepalaku tanpa bisa ku cegah. Setiap saat fikiran ini selalu menggerogotiku. Benar-benar merasa tak pantas untuk seorang Cho Kyuhyun yang begitu sempurna untuk ukuran seorang manusia.

Merasa letih dengan fikiran-fikiranku sendiri, akhirnya aku memejamkan mataku dan menyandarkan punggungku ke kursi panjang yang ku duduki. Sekuat tenaga menghalau pergi fikiran-fikiran yang selalu menyakitiku ini.

Cukup lama aku dalam posisi seperti ini, hingga tiba-tiba aku merasa suasana di depanku menjadi gelap. ”Apakah lampu tamannya mati?” pikirku kemudian membuka mataku secara perlahan dan menemukan sosoknya yang berdiri menjulang di hadapanku, menghalangi cahaya lampu yang langsung menyorot ke arahku.

”Kyuhyun~a,” ujarku terkejut.

”Mengapa pergi begitu saja bahkan di saat dramanya belum selesai?” tanyanya sambil duduk di sampingku.

Aku menegakkan posisi dudukku. ”Kau bisa tau kalau aku pergi sebelum pertunjukan selesai?” ujarku balik bertanya.

”Tentu saja. Aku bisa melihatmu dengan jelas dari atas panggung. Aku bahkan tau kalau kau pergi saat kiss scene sedang berlangsung,” jawabnya menyabalkan.

”Ah..jadi kau sudah mengatur segalanya,” gumamku.

”Kau cemburu?” tanyanya lagi dengan ekspresi aneh.

”Itu tujuanmu memintaku menontonnya kan? Ingin melihatku cemburu?”

”Bukan itu yang utama. Tapi ku anggap bisa membuatmu cemburu adalah bonusnya,” jawabnya sambil memamerkan senyum jahilnya.

”Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini? Bukannya langsung pulang. Benar-benar membuatku cemas saja,” ujarnya kemudian.

”Tidak ada. Hanya memikirkan sesuatu….”

”Sesuatu yang bodoh tentunya. Dan tidak lupa menyakiti diri sendiri,” potongnya.

Aku menarik napas dalam-dalam. ”Kyuhyun~a, di pertunjukkan tadi kuperhatikan ada begitu banyak gadis yang mengidolakanmu. Sepertinya mereka sangat tergila-gila padamu.”

”Ahh…pesonaku,” celetuknya tapi kuabaikan.

”Aku sempat berfikir, kalau saja saat kita bertemu dulu kau sudah seterkenal ini dan dikelilingi begitu banyak wanita cantik seperti sekarang, kau pasti akan memilih salah satu dari mereka untuk menjadi pacarmu.”

”Tebakanku benar. Kau pasti sedang memikirkan hal seperti itu atau semacamnya. Begitu senang menyakiti diri sendiri dengan pikiran-pikiran konyol. Siapa coba yang tidak dewasa sekarang?” Aku langsung memberengut mendengar ucapannya.

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam kemudian meraih kedua pundakku untuk menghadap tepat ke arahnya.

”Dengarkan aku baik-baik nona Park. Empat tahun lalu aku telah memutuskan untuk memilihmu, bahkan sejak pertama kita bertemu di rumahku. Dan saat ini memang ada begitu banyak yang berubah dalam hidupku. Tapi asal kau tau, aku sama sekali tak berniat untuk mengubah keputusanku. Jadi baik dulu maupun sekarang, ada banyak wanita yang menyukaiku ataupun tidak, aku akan tetap memilihmu dan tolong mulai saat ini berhentilah berfikir yang bukan-bukan. Kalau usiamu lebih tua dariku memangnya mengapa?? Bukankah kau justru lebih kenak-kanakan dariku? Bahkan para hyung sering berkomentar bahwa kita tak tampak seperti pasangan yang wanitanya lebih tua dari sang pria. Mereka bilang kau tampak lebih muda sedangkan aku dikatakan bertampang boros. Tentu saja mereka mengatakan itu dengan tujuan untuk mengejekku. Tapi aku tak marah mereka berkata begitu. Karena menurutku memang begitu kenyataannya,” ujarnya panjang lebar sementara aku hanya bisa menatapnya tanpa berkedip.

”Intinya…usia tak bisa dijadikan alasan untuk memperumit hubungan kita. Aku yang lebih muda darimu saja bisa bersikap lebih bijaksana dalam hal ini,” ujarnya lagi dengan rasa bangga berlebihan.

”Bisakah untuk menghilangkan fikiran-fikiran yang bisa menyakiti dirimu sendiri mulai dari sekarang? Karena kalau tidak, sepertinya kau harus bertahan dengan rasa sakit itu seumur hidupmu. Aku sama sekali tak berniat untuk mengakhiri hubungan kita dengan alasan apapun,” pintanya kemudian.

”Kejam sekali,” ejekku, akhirnya aku bisa juga mengeluarkan suaraku lagi.

”Maaf kalau begitu nona Park,” ujarnya tersenyum padaku. ”Bisakah melakukannya untukku?”

”Mm.” Akhirnya aku mengangguk mengiyakan permintaanya.

”Dan satu lagi, aku memintamu datang untuk menonton drama musikalku agar aku punya alasan untuk tidak melakukan adegan itu secara real.”

”Jadi kau tak melakukannya sekalipun di balik topi?” tanyaku terkejut.

”Tentu saja. Kau pikir aku mau ciuman pertamaku di rampas begitu saja oleh wanita lain? Aku bahkan belum pernah mencium wanita yang aku cintai hingga saat ini,” protesnya. Dan aku tersenyum puas mendengar pengakuannya.

”Lain kali tidak perlu berpura-pura tak cemburu di hadapanku. Kau itu sangat ekspresif kalau mengenai perasaanmu sehingga sangat mudah dibaca. Aku bahkan bisa membaca setiap isi hati dan sikapmu dengan mudah,” ujarnya sembari melingkarkan satu lengannya ke pundakku.

”Benarkah? Jadi usahaku untuk menyelamatkan harga diriku di hadapanmu selama ini sia-sia?” Tanpa perlu dijawab olehnya aku bahkan tau jawaban yang akan ke luar darinya.

”Lagi-lagi berfikir konyol,” keluhnya. ”Harga diri apa? Yang aku lakukan saat ini adalah mencintaimu dan memahamimu, bukan menghancurkan harga dirimu.” lagti-lagi aku hanya tersenyum menanggapi ucapannya yang menurutku sangat keren.

Malam ini, berkat bantuan namja yang saat ini sedang merangkulku, aku jadi memahami segalanya. Aku mencintainya, itu sudah cukup dan tak perlu lagi kutambah dengan memikirkan hal-hal konyol seperti yang dikatakannya tadi.

”Kyuhyun~a,” panggilku.

”Mmm…”

”Ada yang ingin ku katakan.”

”Katakan!” perintahnya

”Saranghae,” ujarku akhirnya. Rasanya malu sekali mengatakan hal seperti ini untuk pertama kalinya. Dan Kyuhyun seolah mengerti, dia tidak berusaha melihat wajahku yang saat ini aku yakin sedang memerah. Dia hanya menarikku ke dalam pelukanya. Dan mendekapku erat.

 The End

By: Park Yeorum a.k.a Bummie Viethree

LISTEN TO YOU

Huwaa…tak punya ide untuk ultah biasku tersayang, jadilah aku mengubek2 ff lama yang tak penah berani ku publish ini. Mian kalo g ada hubungannya dengan ultah sama sekali. Anggap aja ini persembahanku untuk ultahnya Kyu ditengah kebuntuan otakku. Mian juga kalo ceritanya ngawur n picisan. Sekali lagi ini hanya demi merayakan ultahnya Kyu. Saengil Chukhae My EvilKyu. Semoga kau selalu di beri kebahagiaan  dan banyak cinta di sepanjang usiamu. Amin. Saranghae…^_^

Kyuhyun POV…

“KYUHYUN OPPAAAA….SARANGHAEYOOOOO…..!!! JEONGMAL SARANGHAEYOOOO……!!!” Dia berteriak ke arah laut lepas dan aku hanya tersenyum kecil melihat ulahnya. Kekanak-kanakan sekali!

Namanya Yeorum. Umurnya 20 tahun. Umur kami hanya terpaut tiga tahun. Aku pertama kali mengenalnya saat aku berumur sepuluh tahun. Dia adalah tetanggaku. Saat itu dia baru saja pindah dari Indonesia bersama keluarganya.

Lincah, ceria, manja, kekanak-kanakan, keras kepala, ceroboh, pantang menyerah, egois, namun tetap sangat manis. Begitulah aku mengapresiasikan dirinya.

Aku sudah sangat mengenal sifatnya karena kami memang sudah bersama selama 13 tahun. Ani! Lebih tepatnya lagi dia yang memaksaku untuk sangat mengenal sifatnya karena dia selalu mengikutiku ke mana saja aku pergi.

Saat ulang tahunnya  yang ke-17 dia memaksaku untuk mengabulkan sebuah permohonan yang dibuatnya sendiri di hari lahirnya itu. Katanya anggap saja ini sebagai kado ulang tahun dariku.

Awalnya aku tidak menyetujuinya karena aku yakin dia akan meminta yang aneh-aneh seperti kebiasaannya. Tapi dia terus memaksaku. Sampai akhirnya aku mengiyakan. Dan seperti yang kuduga dia meminta hal yang sungguh membuatku tercengang. Dia memintaku untuk menjadi pacarnya. Sungguh sangat membuatku kesal saat itu. Namun aku tak punya pilihan lain selain mengabulkannya.

Satu hal lagi yang sangat menonjol dari dirinya. Dia sepertinya dianugerahi kemampuan untuk membuat orang lain tidak mampu menolak setiap permintaannya. Bahkan aku sendiri yang amat sangat tidak bisa dipaksa untuk melakukan hal-hal yang tidak ku sukai, sering tak sanggup menolak permintaannya.

Contohnya saja seperti saat ini. Dia berhasil memaksaku berjanji bahwa aku akan mengantarnya ke pantai setiap hari minggu hanya untuk mendengarkan dia meneriakkan kata “saranghae” kepadaku. Tapi satu hal yang tak pernah bisa dia lakukan sampai saat ini. Dia tak pernah bisa memaksaku untuk mengatakan cinta padanya.

“Oppa ayo kemari,” panggilnya menoleh ke arahku.

“Aku tidak mau!” ujarku acuh.

“Ayolah oppa. Sekali iniiiiii saja. Kau harus berteriak bahwa kau mencintaiku,” dia memohon padaku.

“Sudahlah, jangan bersikap kekanak-kanakan seperti itu. Aku kan sudah katakan kalau aku tak mau melakukannya. Jadi jangan memaksaku. Kau sudah selesai kan? Ayo kita pulang!” ajakku dan membalikkan tubuh membelakanginya. Aku sempat melihat kalau dia memasang wajah cemberutnya sebelum aku membelakanginya.

Aku berjalan hati-hati menapaki batu-batu karang. Sejenak aku teringat sesuatu dan kembali menoleh ke arahnya. Dia berada sekitar sepuluh meter di belakangku dan wajahnya masih saja cemberut. “Yeorum~a, hati-hati. Jangan sampai kau terjatuh lagi,” seruku memperingatkannya. Tapi belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, tiba-tiba aku melihat tubuhnya oleng dan akhirnya dia tersungkur di atas batu karang.

Aku sangat terkejut melihatnya dan langsung berlari mendekatinya. Kemudian ku bantu dia untuk duduk. “Aish, kau ini! Mengapa setiap kali selalu tak berhati-hati. Setiap hari kau sibuk saja memberikan luka pada tubuhmu ini,” ujarku kesal sambil memeriksa keadaannya.

“Coba kau lihat, lukamu yang lama belum juga sembuh, tapi sekarang sudah kau timpa lagi dengan luka yang baru. Aish jincha!!!” Aku bertambah kesal saat melihat kedua lutut dan sikunya terluka.

“Ayo kita cari obat untuk mengobati lukamu,” ujarku lagi berusaha membantunya berdiri.

“Oppa, perih sekali,” keluhnya.

“Aish…merepotkan sekali!” ujarku sambil segera menaikkan dia ke punggungku dan menggendongnya sampai ke mobilku yang ku parkir cukup jauh dari tempat kami berada.

******

Yeoreum POV

“Yeorum~a, apa kau sudah berhasil membuat Kyu oppa mengatakan cintanya kepadamu? Kalau belum, kau harus memaksanya. Masa sudah tiga tahun berpacaran dia masih belum juga mengatakannya? Itu sangat mengkhawatirkan. Jangan-jangan dia tidak pernah mencintaimu. Jangan-jangan dia mencintai orang lain.

Kau tahu tidak? Kuperhatikan akhir-akhir ini Kyu oppa menjadi sangat dekat dengan Zhang Li Yin si penyanyi asal Cina itu. Aku sangat mencurigai mereka. Pasalnya Kyu oppa perhatian sekali padanya. Aku tidak pernah melihat Kyu oppa seperhatian itu padamu. Kau harus sangat hati-hati. Jangan sampai dia merebut Kyu oppa darimu, sementara kau sama sekali tak menyadarinya. Kalau kau tak percaya, kau datang saja ke studio SM. Kau harus menyaksikannya sendiri,” kata-kata Jessica di telepon tadi terdengar sangat mengerikan di telingaku.

Apa mungkin Kyu oppa tega berbuat seperti itu terhadapku? Apa mungkin Kyu oppa benar-benar jatuh cinta pada Zhang Li Yin?” pertanyaan-pertanyaan itu sungguh memusingkan kepalaku.

“AISHH… JESSICA~YA!!! MENGAPA KAU MENGATAKAN HAL MENGERIKAN ITU PADAKU?! SAHABAT MACAM APA KAU INI?!” teriakku kesal kepada Jessica yang jelas tak ada di hadapanku saat ini.

******

Hari ini pelajaranku cepat berakhir, jadi aku bisa pulang cepat. “Apa ya yang harus ku lakukan untuk mengisi waktu senggangku yang sangat berharga ini?” tanyaku pada diriku sendiri.

Aku berpikir sejenak. “Yihaaaa!” seruku kemudian. “Kenapa aku tak ke studio SM saja? Aku sudah lama tidak bertemu dengan para oppa. Aku kangen sekali pada mereka terutama pada Kyuhyun oppa. Sekalian membuktikan bahwa ucapan Jessica tempo hari tidak benar. Selanjutnya aku langsung melajukan mobilku ke studio SM.

 

“AKU DATANG!!” seruku menggelegar kepada seisi studio saat aku memasuki ambang pintu dan berjalan berjingkat-jingkat memasuki ruangan.

“Kakimu kenapa lagi dongsaeng?” tanya Donghae oppa tiba-tiba sudah berada di hadapanku.

“Oh ini,” ujarku sambil menunjukkan kaki kananku yang diperban dan hanya beralaskan sandal rumah. “Kemarin aku mengembalikan anak burung yang terjatuh dari sarangnya yang berada di atas pohon di belakang rumahku. Tapi saat mau turun kakiku tergelincir dan aku terjatuh deh,” ujarku mengangkat bahu.

KEPLAKK!!!

Tiba-tiba saja si aneh Heechul oppa sudah mendaratkan sebuah pukulan yang cukup kuat di atas kepalaku dan sukses membuatku menggosok-gosok kepalaku karena sakit. “Dasar babo! Wanita seperti apa kau ini? Kerjaanmu kalau tidak memanjat pohon ya terjatuh. Aku sangat prihatin pada Kyu karena harus mendapatkan pacar sepertimu,” ejeknya.

“Kim Heechul!” bentakku kesal. “Kenapa kau selalu saja memukul kepalaku?”

“Aish kau ini! Sama saja dengan pacarmu itu. Selalu tidak sopan. Selalu memanggilku tanpa embel-embel oppa atau hyung di belakang namaku. Aku ini jauh lebih tua darimu gadis babo!” dia balas marah-marah padaku. Sementara yang lain tertawa melihat ulah kami.

“Kau yang duluan. Kau kan tahu kalau aku tidak suka kau memukul kepalaku. Jelek-jelek begini, kepalaku ini hanya satu-satunya. Kalau rusak tak ada gantinya tau!” balasku tak kalah sengit.

“Aish, sudahlah! Masa tiap kali bertemu kalian harus bertengkar terus. Sekali-kali damai kan tak ada ruginya,” ujar Hangeng oppa menengahi. “Dan kau ini Chulie, benar-benar tidak bisa bersikap dewasa. Masa kau tak mau mengalah pada dongsaengmu?”

“Cih, dongsaeng?! Mana sudi aku memiliki dongsaeng yang tak tahu sopan santun seperti dia!” ejeknya lagi.

“Aku juga tidak mau punya oppa sepertimu! Membayangkannya saja sudah mengerikan,” balasku tak mau kalah.

“Aish…sudahlah!” ujar Hangeng oppa lagi sambil menarik lengan Heechul oppa menjauh dariku dengan dibantu oleh Donghae oppa.

“Chingu~ya!” tiba-tiba Jessica yang sejak tadi entah ke mana sudah berada di hadapanku dan memelukku setelah Hangeng oppa berhasil menjauhkan Heechul oppa dariku.

“Jessica~ya! Berhati-hatilah. Kau bisa menginjak kakiku, babo!” ujarku sembari menjauhkan tubuhku darinya.

“Aish kau ini! Aku kan hanya mengekspresikan rasa rinduku pada sahabatku. Kita kan sudah lama tak bertemu. Jadwal showku padat sekali sementara kuliahmu juga menyita banyak waktu,” ujarnya pura-pura ngambek.

“Eh, kau datang mau membuktikan ucapanku tempo hari kan?” tanyanya memelankan volume suaranya.

“Coba kau lihat!” ujarnya lagi mengarahkan dagunya ke seberang ruangan dari tempat kami berdiri. “Mereka terlihat sangat akrab kan?”

Aku menoleh ke arah yang di tunjukkan oleh Jessica. Dan benar saja….., Kyu oppa dan Zhang Li Yin sedang asyik ngobrol di sana. Saking asyiknya, Kyu oppa sampai tak menyambut kedatanganku. Padahal kan tak mungkin dia tak tahu kehadiranku. La wong teriakanku tadi bisa mengalahkan bunyi petasan.

Kemudian aku berjalan ke arah mereka dan meninggalkan Jessica yang sibuk memanggil-manggilku.

“KYU OPPA!” teriakku memanggilnya, walaupun sudah berada sangat dekat dengannya. Dan baik Kyu oppa maupun Zhang Li Yin menoleh ke arahku.

“Aishh…kau ini! Selalu saja berteriak-teriak. Lama-lama gendang telingaku bisa pecah karenamu,” ujarnya kesal padaku. Aku langsung cemberut mendengar jawabannya. Bukannya senang bertemu dengan pacarnya, eh malah marah-marah.

“Annyeonghaseyo,” sapa Zhang Li Yin kepadaku dan aku memamerkan senyum terpaksaku padanya.

“Oppa, aku ke sana dulu. Aku mau latihan lagi,” pamitnya kemudian kepada Kyu oppa. Kyu oppa mengangguk dan tersenyum manis padanya.

“Kenapa kau ada di sini? Kau tidak kuliah?” tanya Kyu oppa, matanya masih tetap memandang ke arah Zhang Li Yin yang sekarang sudah memulai latihan koreonya.

“Hari ini kuliahku cepat selesai. Jadi aku pulang cepat,” ujarku bosan karena dia sama sekali tak menoleh ke arahku saat aku bicara.

“Oooo…” Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya, membuatku semakin kesal.

AUUUUU!!!

Tiba-tiba terdengar jeritan keras dari tengah arena latihan. Zhang Li Yin terduduk di lantai dan dia merintih karena sakit. Sepertinya kakinya terkilir. Dan yang membuatku sangat tak percaya, Kyu oppa langsung berlari mendekatinya.

“Gwaenchanayo?” tanya Kyu oppa lembut saat sudah berada di dekatnya dan segera memeriksa cideranya dengan sangat hati-hati. Kyu oppa memperlakukannya bak boneka porselin yang mudah pecah.

Hatiku sangat miris melihat pemandangan itu. Kyu oppa tak pernah terlihat sekhawatir itu saat aku terjatuh dan terluka. Dia bahkan akan langsung memarahiku. Berbeda dengan perlakuannya terhadap Zhang Li Yin. Dia sangat lembut dan merawatnya dengan sangat hati-hati.

Aku benar-benar seperti bom yang akan segera meledak saat ini. Sebisa mungkin ku tahan gemuruh hatiku. Aku tak mau berteriak-teriak di depan orang banyak. Itu bisa menjatuhkan harga diriku sendiri. Kemudian ku dekati mereka dengan wajah cemberut.

“Kyu oppa, sebaiknya aku pulang saja. Sepertinya oppa sedang sangat sibuk.” Maksud hati sih ingin menyindirnya.

“Ne,” jawabnya ringan.

Aku sunggguh terkejut dengan jawaban Kyu oppa. Dia membiarkanku pulang begitu saja. Padahal kan aku baru saja datang. Dan yang lebih menyakitkan, dia sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari merawat cidera Zhang Li Yin.

Tiba-tiba saja aku merasakan mataku memanas sebagai efek dari rasa sakit hati yang ku derita. Buru-buru ku balikkan tubuhku untuk menyembunyikannya. Kemudian aku berjalan ke arah pintu. “Aku pulang dulu,” pamitku pada Jessica saat berpapasan dengannya. Kentara sekali dia ingin menahanku. Tapi tak ada yang bisa membuatnya untuk memaksaku tetap tinggal.

******

“Aish… Kemana sih Kyu oppa?” ujarku modar-mandir di teras rumahku.

“Ya, Yeorum~a, kau belum juga berangkat?” tanya oemma yang saat itu berpakaian sangat rapi dan cantik.

“Belum oemma. Kyu oppa belum datang,” jawabku. “Oemma dan appa mau ke mana?”

“Oemma dan appa mau pergi berkunjung ke rumah rekan bisnis appa. Mereka mengundang oemma dan appa makan siang di rumah mereka,” kali ini appa yang menjelaskan.

“Ya, oemma dan appa berangkat duluan ya Yoreum~a,” ujar appa sambil menepu-nepuk sayang puncak kepalaku.

“Ne. Hati-hati di jalan,” jawabku mengantar kepergian mereka. Setelah itu aku kembali melanjutkan kegiatan mondar-mandirku yang tertunda tadi.

Pyongsaeng gyeoteh issulge I do…

Nan saranghaneun geol I do….

Tiba-tiba lagu Marry U Super Junior mengalun indah menandakan ada sms masuk di ponselku. Kemudian buru-buru kubuka pesan itu.

‘Yeorum~a, aku benar-benar minta maaf. Hari ini aku tak bisa mengantarmu ke pantai. Ada keperluan yang sangat mendesak yang tak bisa ku tinggalkan. Mianhae, jeongmal mianhae.”

“WHAT??!!” pekikku tak percaya. Aku sampai tak bisa berkata-kata saking kesalnya. Bisa-bisanya oppa melanggar janjinya padaku. Aku kan tidak meminta hal yang muluk-muluk. Aku tidak pernah meminta kencan romantis yang menghabiskan banyak waktu dan biaya seperti gadis-gadis lain. Aku cuma minta dia mengantarku ke pantai. Dan itu tak pernah menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Setelah itu dia bisa langsung mengantarkanku pulang dan melanjutkan kesibukannya lagi. “AISHH JINCHA!!!” teriakku sambil mengacak-acak rambutku.

Sudah lebih dari dua jam aku sibuk menenangkan kemarahanku dengan berdiam diri di teras rumahku. Dan sekarang aku sampai pada kesimpulan bahwa aku tak bisa melakukannya dengan cara ini. Ya…aku harus mengalihkan perhatianku dengan cara lain.

Ku raih dengan kasar ponselku yang tergelatak di atas meja dan segera ku hubungi nomor Jessica.

“Yoboseyo,” sapanya di seberang.

“Jessica~ya, kau sibuk hari ini?” tanyaku kemudian.

“Aniyo. Waeyo?” jawabnya.

“Mau menemaniku minum kopi di coffee shop?” tanyaku lagi.

“Ok!”

Kemudian aku langsung melarikan mobilku menuju coffee shop tempat aku dan Jessica janjian.

******

“Waeyo?” tanya Jessica sambil mengamati wajahku.

Saat ini kami sudah berada di coffee shop di pusat kota Seoul. Suasananya tak terlalu ramai sore ini. Tempat ini adalah tempat favoritku karena selain kopinya sangat enak, blackforestnya juga membuat aku ketagihan.

“Apa karena Kyu oppa lagi?” tanyanya lagi karena tak ada jawaban dariku.

“Kyu oppa melanggar janjinya padaku untuk pertama kalinya hari ini. Dia bilang dia tak bisa mengantarku ke pantai hari ini,” ujarku sambil menatap etalase.

“Apa artis SM yang lain sibuk hari ini?” tanyaku padanya, tiba-tiba menatap ke arahnya.

Jessica menggeleng lemah. “Hari ini libur nasional dan setahuku seluruh artis SM diberi kesempatan libur khusus hari ini,” ujarnya seperti sedang berpikir.

“Tapi Kyu oppa bilang dia sibuk?” tanyaku tak mengerti.

“Mungkin dia sedang ada urusan lain di luar pekerjaan,” jawabnya lagi dan aku menyetujui kesimpulannya.

Setelah itu aku dan Jessica hanya terdiam. Aku tak semangat untuk mengobrol saat ini. Dan sepertinya Jessica sedang keletihan. Aku jadi merasa bersalah memintanya untuk menemaniku.

“Lihat!” Tiba-tiba Jessica memekik tertahan dan menunjuk ke arah pintu masuk coffee shop. “Bukankah itu Kyu oppa dan….” Ucapan Jessica terputus.

Aku langsung menoleh ke arah pintu masuk untuk mengetahui apa sebenarnya maksud Jessica. Dan aku sangat terkejut mengetahui siapa yang baru saja melewati pintu itu. Kyu oppa dan Zhang Li Yin.

Mataku terus mengikuti gerakan mereka. Kemudian mereka memilih tempat duduk yang berada di pojok ruangan dan agak tertutup dari pengunjung lain, terkesan sangat pribadi.

Seketika itu juga amarah meledak-ledak dalam dadaku. Aku segara bangkit dari tempat dudukku dan berjalan menuju ke bangku di pojok ruangan tempat di mana Kyu oppa dan Zhang Li Yin berada.

“Oppa!!!” panggilku saat sampai di depan meja mereka, berusaha mengatur volume suaraku. Dadaku kini naik turun karena menahan emosi.

Kyu oppa dan Zhang Li Yin menoleh ke arahku. Dan kentara sekali dari tatapan mereka bahwa mereka sangat terkejut karena kehadiranku.

“Yeorum~a, apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya padaku sembari bangkit dari duduknya.

“Wae? Memangnya hanya kalian yang bisa berada di sini? Bukankah ini tempat umum? Rasanya siapa saja boleh datang ke sini kok?” tanyaku penuh dengan nada sindiran.

“Jadi ini urusan oppa yang sangat penting itu?” sindirku lagi.

“Biar aku jelaskan,” ujarnya hendak menarik tanganku. Tapi aku menepiskannya.

“Oppa tega padaku!” ujarku sebisa mungkin mengatur volume suaraku agar tak menarik perhatian orang lain.

“Dan kau…” lanjutku lagi kepada Zhang Li Yin. “Apa kau tidak punya kerjaan lain selain menempel terus pada Kyu oppa? Apa kau sengaja menutup mata dan telingamu untuk berpura-pura tidak tahu bahwa Kyu oppa sudah punya aku?” ujarku tajam. Aku bisa melihat wajahnya memucat karena ucapanku.

“Yeoreum~a, jaga ucapanmu,” ujar Kyu oppa mencoba menghentikanku.

“Waeee? Kenapa oppa membelanya? Oppa tak pernah bersikap seperti ini terhadapku,” ujarku tak terima atas sikap Kyu oppa. Aku bisa merasakan mataku mulai memanas kini.

“Aisshhh…jincha!” keluh Kyu oppa lalu menarik tanganku dengan paksa.

Aku mencoba melepaskan tanganku dari genggamannya. Tapi genggamannya terlalu kuat dan aku bisa merasakan rasa nyeri di pergelangan tanganku akibat genggamannya.

Aku terus mencoba meronta tapi Kyu oppa terus berjalan dengan langkah cepat menuju ke bagian belakang coffee shop. Dia membawaku masuk ke dalam toilet laki-laki yang kebetulan sedang kosong. Kemudian dia mengunci pintunya dari dalam.

“Kau ini apa-apaan?! Mengapa bicara seperti itu pada Zhang Li Yin?” tanyanya dengan emosi kepadaku.

“Wae? Apa aku tak boleh marah pada wanita yang membuat namjachinguku mengingkari janjinya padaku?” ujarku menahan air mataku.

“Kau tidak menempatkan rasa cemburumu di tempat yang seharusnya. Benar-benar kekanak-kanakan. Seharusnya kau malu padanya. Dia baru 18 tahun tapi dia bahkan bisa bersikap jauh lebih dewasa darimu,” ujarnya benar-benar marah.

“MWO?!” ujarku terkejut mendengarnya membandingkan antara aku dan Zhang Li Yin. “Ne! Aku memang kekanak-kanakan, ceroboh, egois, dan mau menang sendiri. Itulah aku yang sebenarnya. Oppa menyesalkan pacaran denganku? Kalau memang dia bisa bersikap dewasa seperti harapan oppa, kenapa oppa tidak pacaran saja dengannya?” air mataku benar-benar tak tertahankan lagi. Sementara pintu dibelakang kami terus digedor-gedor dari luar.

“Arasseo! Apa yang dikatakan Jessica memang benar,” ujarku mulai memikirkan ucapan Jessica selama ini. “Inilah alasan yang sebenarnya mengapa oppa tak pernah mengatakan cinta padaku. Sejak awal oppa memang tak mencintaiku kan?”

“Selama ini aku tak mendengarkan peringatan dari Jessica karena aku sangat mempercayai oppa. Tapi hari ini aku harus memikirkan kembali ucapannya,” ujarku sementara air mata telah membanjiri pipiku.

“Dasar Babo!” bentaknya marah sambil mengalihkan tatapannya dariku sejenak. Kemudian kembali menatap serius padaku. “Seharusnya kau bisa lebih pintar dalam memilih teman. Menjadikan seorang Jessica Jung sebagai sahabat, sungguh perbuatan bodoh!”

“Waee? Apa salahnya dengan Jessica?” teriakku marah.

“Dia bad girl! Tabiatnya sangat buruk. Apa kau tak menyadari bahwa dia selalu menyulut permusuhan di mana-mana?” jawab Kyu oppa cepat.

“Semua orang boleh saja memandangnya seperti itu. Tapi bagiku dia adalah sahabat yang baik. Setidaknya dia selalu ada disisiku saat aku membutuhkannya. Setidaknya dia selalu berada dipihakku saat semua orang menyudutkanku. Dia memang suka berpikir negatif. Tapi itu dilakukannya semata-mata karena ingin waspada terhadap kemungkinan ditikam dari belakang. Aku tak peduli walaupun dia memiliki begitu banyak sifat buruk seperti yang oppa katakan. Yang jelas dia memberikan kesetiaannya sebagai seorang sahabat padaku. KESETIAAN YANG BAHKAN TIDAK DIBERIKAN NAMJACHINGU-KU SENDIRI KEPADAKU!!!” teriakku mengakhiri pertengkaran kami.

Dengan kasar kubalikkan badanku, dan aku berjalan menuju pintu. Ku lepaskan pengait kunci yang dipasangnya tadi dan ku tarik knop pintu hingga terbuka.

Aku dapat melihat keterkejutan di wajah orang-orang yang sedari tadi menggedor-gedor pintu saat melihatku yang seorang wanita, keluar dari toilet laki-laki. Ku abaikan saja tatapan keheranan mereka dan aku bergegas menuju ke tempat aku meninggalkan Sangmi tadi.

“Onnie…” panggil Zang Li Yin saat melihat kedatanganku tapi tak sedikitpun aku menghiraukannya. Aku berjalan melewatinya dan mendekati Jessica. “Kita pulang saja!” ujarku sembari menarik paksa tangannya agar dia mengikutiku keluar dari coffee shop itu.

******

Jessica POV

Yeorum menepikan mobilnya ke tepi jalan, mematikan mesin mobilnya, kemudian meneggelamkan wajahnya ke dalam kedua telapak tangannya. Aku tahu sejak keluar dari coffe shop tadi dia berusaha keras untuk menahan emosinya. Wajahnya tampak begitu menderita. Apakah mencintai seseorang bisa semenderita ini???

”Apakah sudah saatnya aku harus melepaskannya??” ujarnya tiba-tiba membuatku terkejut.

”Aku sudah berusaha sekuat tenaga dan kini aku sudah sangat lelah,” ujarnya lagi, kini sudah menurunkan tangannya dari wajahnya sehingga aku bisa melihat wajahnya yang basah karena air mata.

”Aku rasa tidak harus seperti itu,” jawabku bingung menghadapi situasi seperti ini. ”Kau akan hancur bila tak ada dia, Yeorum~a.”

”Aku tahu. Tapi apa yang aku lakukan selama ini sudah benar?? Memaksanya berada di sisiku tanpa mempedulikan perasaannya yang sebenarnya. Awalnya aku memang berfikir dengan terus memaksanya berada di sisiku, aku bisa membuatnya mencintaiku. Tapi kau lihat kan apa yang telah ku perbuat?? Aku membuat kami berdua sama-sama terluka,” ujarnya, sementara itu air matanya terus mengalir walau tanpa suara tangisan.

”Tapi aku tetap merasa keputusan seperti itu tidak benar, Yeorum~a. Kau takkan sanggup,” ujarku tak menyetujui keputusannya. Aku tahu persis seperti apa sahabatku ini. Dia sangat mencintai Kyu oppa. Bukan hanya dengan segenap hatinya, tapi dengan seluruh oksigen yang dihirupnya untuk bernapas dan aliran darahnya yang mengalir ke setiap sel-sel dalam tubuhnya. Dia akan hancur bila harus kehilangan Kyu oppa. Aku tahu pasti itu.

”Lalu apa yang harus kulakukan, Jessica~ya??” ucapnya hampir histeris. ”Aku telah melakukan segalanya agar dia dapat mendengarkan hatiku. Tapi sepertinya dia sudah mematikan seluruh alat inderanya untuk bisa merasakan apa yang ku rasakan.”

”Bertahanlah. Meski begitu banyak wanita yang ada di dekatnya selama ini, tapi bukankah tak pernah ada wanita yang benar-benar berada di sisinya selain kau? Bertahanlah sebentar lagi,” ujarku mencoba meyakinkannya.

”Apakah aku masih punya kekuatan untuk itu??” tanyanya, meragukan dirinya sendiri.

Dan aku mengangguk walau sebenarnya tak yakin dengan apa yang kukatakan. Tapi entahlah, aku benar-benar tak rela melihat sahabatku ini harus kehilangan orang yang sangat dicintainya. Dia telah terlalu keras memperjuangkan cintanya selama ini. Dan akan sangat tidak adil jika pada akhirnya dia tetap harus kehilangan cintanya itu.

”Kau yakin??” tanya lagi. Kali ini suaranya sudah tak terdengar terlalu lemah seperti tadi. Aku tahu rasa optimis di dalam hatinya sudah mulai muncul lagi.

”Ne. Kau bisa melakukannya. Kyuhyun oppa pasti akan mendengarkan hatimu,” jawabku sembari mencoba tersenyum padanya.

”Gomawo, Jessica~ya,” ujarnya sembari menghapus air matanya dan tersenyum padaku. ”Gomawo sudah selalu mendukungku.”

******

Kyuhyun POV

“Aishh….dasar gadis babo!” ujarku sembari melemparkan ponselku ke atas tempat tidur.

“Apa dia benar-benar marah padaku? Setiap kali ada kesalahpahaman kenapa dia tak pernah bisa membicarakannya secara baik-baik padaku. Sekarang malah menghilang.  Aishh…membuatku khawatir saja!” ujarku sembari mengacak-acak rambutku.

Sudah dua minggu berlalu sejak kejadian di coffee shop waktu itu. Sejak hari itu dia memutuskan segala bentuk komunikasi denganku.

Aku berusaha untuk menghubunginya tapi sia-sia. Aku telepon, tak diangkatnya. Aku sms, tak dibalas. Aku datang ke rumahnya, dia tak mau menemuiku. Pokoknya dia seperti hilang ditelan bumi.

Aku juga sudah menanyakan tentang keberadaan Yeorum kepada Jessica. Tapi semuanya sia-sia. Hasil yang kudapatkan malah memperburuk keadaan. Aku bertengkar hebat dengan Jessica. Dia menuduhku telah bersikap begitu egois terhadap Yeorum selama ini. Dia menuduhku telah mematikan semua alat inderaku untuk merasakan apa yang Yeorum rasakan. Aku tak mendengarkan hatinya.

”Aniyo Yeorum~a. Aku selalu mendengarkan hatimu. Aku selalu membuka lebar semua alat inderaku setiap kau berada didekatku. Aku selalu mendengarkan setiap tarikan napasmu dan penciumanku selalu peka terhadap setiap aroma yang keluar dari tubuhmu. Tapi sebaliknya, apakah kau tak bisa mendengarkan hatiku sehingga aku harus mengumbar kata-kata itu dari mulutku?? Apakah kau tak tahu alasanku untuk tetap bertahan di sisimu?? Yeorum~a, aku takkan pernah bertahan untuk sesuatu yang tidak aku inginkan. Apakah kau juga tak tahu tentang itu??”

******

Yeorum POV

“Yeorum~a, kita harus bicara!”

Tiba-tiba seorang pria memakai topi dan berkaca mata hitam mengejutkanku, membuatku menjatuhkan kertas-kertas yang sedang ku pegang.

“KAU?!” ujarku terkejut saat menyadari bahwa orang itu adalah Kyu oppa.

Aku buru-buru mengumpulkan kertas-kertas yang jatuh berserakan itu dan dia membantuku.

“Mianhae, aku tak punya waktu untuk bicara dengan oppa saat ini,” ujarku saat selesai mengumpulkan kertas-kertas itu dan kembali berdiri. “Aku masih ada kuliah setelah ini,” ujarku lagi dan berbalik untuk meninggalkannya. Tapi dia menahan lenganku.

“Lepaskan oppa!” perintahku sembari memandangi sekelilingku. Dan dia tak ada pilihan lain selain melepaskanku dan membiarkanku pergi karena saat ini begitu banyak orang yang sedang memandang ke arah kami dengan rasa ingin tahu.

“Aku datang untuk menanyakan padamu apakah kau mau ikut denganku ke Cina minggu depan?” teriaknya saat aku sudah cukup jauh. “Kalau kau mau hubungi aku,” tambahnya lagi.

******

“Mwo?! Kyu oppa mau mengajakmu untuk ikut ke Cina? Lalu apa jawabanmu?” tanya Jessica bersemangat saat aku menelponnya.

“Aku tak menjawab apapun,” ujarku malas.

“Oke, aku ganti pertanyaannya. Lalu apa keputusanmu sekarang?” tanyanya lagi masih dengan nada bersemangat.

“Tentu saja aku tidak akan ikut! Apa kau lupa kalau aku sedang marah padanya?” jawabku ketus.

“Yeorum~a, kau harus ikut. Ini adalah kesempatanmu untuk memperbaiki hubungan kalian. Lagipula Zhang Li Yin kan juga akan ikut ke China untuk promosi mini album terbarunya. Itu bisa memberikan mereka banyak kesempatan untuk berduaan. Apa kau sudah siap untuk kehilangan Kyu oppa?” ujarnya menakut-nakutiku.

“Aishh…percuma saja aku cerita padamu! Kau sama sekali tak menenangkanku. Kau malah membuat perasaanku semakin kacau,” ujarku, kemudian mematikan ponselku.

Ku hempaskan tubuhku di ranjangku. “Dasar Jessica babo! Bukannya mengucapkan kata-kata yang bisa membuatku merasa lebih tenang, malah mengucapkan kata-kata yang semakin membuatku gelisah.” Kemudian aku terdiam karena memikirkan perkataan Jessica tadi.

“Ani! Aku memang sedang marah pada Kyu oppa, tapi aku tak bermaksud untuk putus darinya. Yah lebih tepatnya aku sudah membatalkan keputusanku untuk melepaskannya. Aku tak mau kehilangan dia. Seperti kata Jessica, aku takkan sanggup!” ujarku pada diri sendiri.

“Ne. Jessica benar. Aku harus ikut ke Cina.” Aku mengubah kembali posisiku yang tiduran menjadi duduk. Ku raih kembali ponsel yang kulemparkan tadi. Ku cari nomor Kyu oppa di dalam kontak, ku pencet tombol call, dan ku dekatkan ke telingaku.

Baru beberapa detik, aku langsung menekan kembali tombol reject sebelum nada sambung terdengar. “Ani! Aku tak boleh menelponnya. Sms saja!” ujarku pada diri sendiri. Kemudian ku angkat lagi ponselku dan ku ketik sebuah sms yang sangat singkat.

‘Aku akan ikut.’

******

Sungguh menyebalkan! Keputusanku untuk ikut ke Cina sama sekali tak memperbaiki keadaan karena ada ataupun tak ada aku, mereka tetap saja semakin dekat sementara aku tak bisa berbuat apapun untuk mencegahnya.

Saat ini aku sedang duduk di kursi paling depan untuk menyaksikan promo mini album Super Junior M dan Zhang Li Yin. Sebenarnya ini sangat membuatku tidak nyaman karena aku berada di tengah-tengah orang yang sama sekali tak kukenal. Sementara semua member Super Junior M dan tentu saja Zhang Li Yin kini berada di belakang panggung.

“Aturan seperti apa itu? Sejak kapan orang yang datang bersama artis pengisi acara tidak diperbolehkan berada di belakang panggung. Benar-benar aneh!” gerutuku. Kemudian ku edarkan pandangan ke sekelilingku agar tak kelihatan bengong sendirian.

Promosi mini album Super Junior M dan Zhang Li Yin ini di adakan di sebuah stasiun swasta terbesar di Cina dan disiarkan secara langsung ke seluruh penjuru negeri. Tempat shownya ditata sedemikian rupa. Kursi-kursi di bagian tengah yang berada tepat di depan panggung utama, tempat aku duduk sekarang, akan ditempati oleh para tamu penting sementara penonton-penonton biasa ditempatkan di tribun-tribun yang dibuat mengelilingi bagian tengahnya.

Tepat jam delapan malam acara promo ini dimulai. Penonton langsung histeris saat seluruh member Super Junior M naik ke atas panggung dan membuka acara dengan menyanyikan lagu ‘U’ versi mandarin. Selain kualitas vokal yang prima, mereka juga menyuguhkan tarian yang sangat energik dan indah. Alhasil para penonton menjadi sangat terpukau karena telah disuguhkan sebuah pertunjukan yang sangat berkualitas.

Selanjutnya acara terus berjalan dengan meriah. Jeritan histeris para fans suju M terdengar disepanjang acara. Penampilan demi penampilan disajikan dengan sempurna oleh mereka. Dan malam ini mereka menyanyikan semua lagu yang terdapat dalam mini album mereka.

Zhang Li Yin pun tak mau kalah. Dia membawakan lagu-lagunya dengan memukau. Suara emasnya sukses menghanyutkan seluruh penonton yang hadir saat itu termasuk aku. Walaupun aku sangat membencinya tapi aku tak bisa mengingkari bahwa suaranya sangat indah. Dan menurutku dia memang pantas dinobatkan sebagai seorang diva.

Di akhir acara, MC mengumumkan ada sebuah kejutan yang akan mengakhiri show malam ini. Kyuhyun oppa akan menyanyikan single terbarunya yang bahkan baru akan dirilis minggu depan di Korea. Akupun belum pernah mendengarkan single ini sebelumnya karena Kyu oppa memang tidak pernah membiarkanku untuk mendengarkannya selama proses rekaman. Dia selalu bilang ini proyek rahasia.

Seisi ruangan yang sangat luas itu seketika menjadi hening saat Kyuhyun oppa naik ke atas panggung dan mengawali penampilan solonya itu dengan sedikit berkata-kata.

“Single yang sebentar lagi akan kunyanyikan ini berjudul “Listen To You”. Lagu ini adalah single terbaruku yang bahkan baru akan rilis minggu depan. Tapi syukurlah pihak produser mengizinkanku untuk membawakan single ini lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan,” ucapan kyuhyun oppa akhirnya menyentakkan lamunanku.

“Single ini sangat istimewa artinya bagiku karena bait demi baitnya mewakili isi hatiku. Aku mendedikasikan single ini untuk seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Melalui single ini aku ingin mengabulkan satu-satunya permintaannya yang tak pernah aku penuhi selama ini. Aku harap dia akan menyukainya,” ujar Kyuhyun oppa menutup kata-kata pembukanya.

Kemudian irama musik yang indah mulai mengalun untuk mengiringi single itu. Dan saat Kyu oppa mulai menyanyikan bait-baitnya dengan suaranya yang lembut dan hangat membuat keduanya membaur menjadi suatu harmoni yang sangat indah sehingga membuat semua orang terhanyut ke dalamnya.

No, I’m not.. It really doesn’t make sense
Even when I’m eating or falling asleep, I keep thinking about you like crazy
All the time I keep hating myself so badly
How could I, how could I fall in love with you? That’s a bit weird

My heart hears you.. from head to toe
My friends tease me for this but my heart only listens to you
You smile and I think I lost my breath
Forever I love you love you
love you love you love you~

Why don’t you stop me? Why don’t you ignore me?
I feel depressed and dumbfounded but my heart only calls for you
Seeing your bright smile and holdings your hands makes my heart feels happy

Di tengah-tengah lagu, Kyuhyun oppa turun dari panggung dan berjalan mendekatiku. Setelah berada tepat di hadapanku dia meraih tanganku dengan lembut dan membimbingku untuk naik ke atas panggung. Setelah sampai di tengah-tengah panggung dia tak melepaskan tanganku, bahkan dia menggenggamnya di dadanya sambil terus menyanyikan bait demi bait single ‘Listen To You’ yang sangat romantis.

My heart hears you.. from head to toe
My friends tease me for this but my heart only listens to you
One two three, you smile and I think I lost my breath
By seeing you’re smile, I’ll cook with love everyday

I went through the night, and another night, and another night
My memories are getting blurred
But you always stay in my heart and in my smiling eyes
You’re the one forever~

My heart hears you.. from head to toe
Although the whole world laughs at me, my heart only listens to you
One two three, you smile and I think I lost my breath
Stay the way you are, I’m gonna say ‘I Love You’ and kiss you everyday
Forever I love you love you love you
love you love you love you~

oh my baby my love

Akhirnya Kyuhyun oppa mengakhiri lagunya dengan terus menatap ke dalam mataku.

Single ‘Listen To You’ sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Tapi, sampai saat ini dia masih tetap menatap ke dalam mataku. Tatapannya begitu lembut dan hangat. Dan aku dapat melihat ada cinta yang begitu besar untukku di sana.

“Saranghaeyo, Yeorum~a. Jeongmal saranghaeyo,” ujarnya akhirnya memecahkan keheningan yang menyelimuti ruangan pertunjukkan. Air mataku yang sudah mengalir sejak tadi kini semakin deras karena rasa haru. Ada sebuah kelegaan yang amat sangat merayapi hatiku saat aku mendengar kata-kata itu langsung dari mulutnya. Kata yang sudah kunantikan selama tiga tahun ini untuk dinyatakannya hanya padaku.

“Mianhae, sudah membuatmu menunggu lama untuk mendengarkan kata itu. Kau adalah gadis yang sangat istimewa di hatiku. Karena itu aku juga ingin mengatakannya padamu dengan cara yang istimewa pula,” ujarnya sungguh-sungguh.

“Dan satu lagi,” ujarnya buru-buru. “Aku juga mau minta maaf karena aku membiarkanmu berprasangka yang bukan-bukan terhadap aku dan Zhang Li Yin. Aku tahu pikiran-pikiran itu sudah sangat melukaimu. Tapi aku tak bisa menjelaskannya padamu karena saat itu Zhang Li Yin sedang membantuku untuk mewujudkan rencana hari ini. Mianhae, jeongmal mianhae.” ujarnya untuk kesekian kalinya.

Kemudian aku langsung menghambur ke dalam pelukannya dan dia pun mendekapku erat di dadanya sehingga aku dapat merasakan kehangatannya.

Malam ini adalah malam yang paling bahagia bagiku. Untuk pertama kalinya orang yang sangat ku cintai menyatakan cintanya padaku dengan cara yang tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Dan kini dia mendekapku begitu lama di depan ribuan pasang mata. Sungguh bukan Kyuhyun oppa yang ku kenal selama ini. Kyuhyun oppa yang tak pernah merasa nyaman menunjukkan perasaannya di depan umum, malam ini mengesampingkan semua ketidaknyamanannya demi diriku, wanita yang sangat dicintainya. Dan aku takkan meragukan lagi tentang hal itu.

******

“KYUHYUN OPPAAAA….SARANGHAEYOOOOO…..!!! JEONGMAL SARANGHAEYOOOO……!!!” teriakku keras sekali. Kemudian aku menoleh kepada kyu oppa yang berada tak jauh di belakangku.

”Oppa, apa kau tak mau mencoba melakukannya?” tanyaku padanya.

Dia tersenyum padaku ” Ani. Biarkan itu menjadi caramu yang unik untuk mengungkapkan perasaan cintamu padaku. Aku punya cara sendiri!”

”Memangnya seperti apa cara oppa mengungkapkannya?” tanyaku ingin tahu.

”Kau yakin kalau aku harus menunjukkannya di sini?” ujarnya sambil memamerkan evil smile-nya padaku.

”Tidak usah,” ujarku cemas. Melihat senyumnya itu benar-benar membuatku yakin bahwa cara yang digunakannya itu akan membuatku syok.

”Aaahh…kau yakin tidak mau aku menunjukkannya padamu???” godanya lagi, senyum iblisnya itu semakin mengembang.

”Aku yakin oppa. Aku punya firasat buruk tentang caramu itu,” ujarku waspada. ”Aku sudah selesai oppa. Kajja kita pulang!!!”

Aku hendak berjalan mendahuluinya, tapi tiba-tiba dia menahan tanganku dan memegang kedua pipiku, dan dalam hitungan detik dia sudah mencium bibirku dengan lembut. Aku sangat terkejut. Saking terkejutnya aku tak bergeming sedikitpun dari posisiku. Barulah setelah beberapa saat dia melepaskan ciumannya, sementara aku tetap terpaku pada posisiku semula. ”Inilah caraku untuk mengungkapkan perasaanku terhadapmu,” ujarnya sambil tersenyum padaku. ”Ini yang pertama kali. Tapi kupastikan ini bukan yang terakhir. Aku akan melakukannya di sini setiap minggu setelah kau meneriakkan kata keramatmu itu di sini.”

”MWO?!” ujarku terkejut.

”Dan satu lagi…. Aku selalu bisa mendengar hatimu. Jadi jangan khawatir lagi tentang itu,” ujarnya tersenyum kepadaku dan seketika kehangatan menyelimuti hatiku saat menatap senyuman itu.

”Ayo pulang!!” ajaknya sambil menarik tanganku dengan lembut agar aku mengikuti langkahnya.

”Melangkahlah dengan hati-hati!” perintahnya. ”Jangan sampai terjatuh lagi. Itu akan membuatku sangat khawatir,” tambahnya lagi dan aku hanya mengangguk mengiyakan kata-katanya.

THE END

SEVEN YEARS LOVE (Part 5 End)

Kyuhyun POV

”Cho Kyuhyun, bisa kita bicara sebentar?” ujar Changmin padaku dengan nada masam. Saat itu tiba-tiba saja dia menghampiriku yang sedang latihan bersama member suju lainnya di studio SM.
”Kalau mau bicara, bicara saja!” jawabku ketus.
”Kita bicara di luar!” perintahnya dan langsung berbalik untuk pergi.
Aku mendengus kesal melihat tingkahnya. Benar-benar sangat menyebalkan. Memangnya siapa dia seenaknya memerintahku? Tapi karena penasaran dengan apa yang ingin dikatakannya, akhirnya aku mengikutinya juga.

Dia terus berjalan tanpa ku tahu sebenarnya dia mau mebawaku ke mana. Sekarang kami malah sudah ke luar dari gedung SM. Tapi dia masih saja tetap berjalan sampai akhirnya kami berhenti di taman yang ada di depan gedung SM. Dan dia berbalik menghadap ke arahku dengan ekspresi yang sangat tidak menyenangkan.
”Bagaimana sebenarnya perasaanmu terhadap Yeorum?” tanyanya padaku tanpa basa-basi.

Aku mendengus kesal. ”Itu bukan urusanmu!” jawabku dingin dan berbalik hendak pergi meninggalkannya. Tapi dia langsung menahan bahuku dan kembali memposisikan dirinya berdiri tepat di hadapanku.

”Apa kau mencintainya?” tanyanya, nada bicaranya semakin tajam. Jarak wajah kami sekarang kurang dari satu meter. Dan kami saling melotot antara satu sama lain.

”Itu-bukan-urusanmu!” jawabku lagi, kali ini memberi penekanan pada setiap kata yang kuucapkan.

”APA KAU MENCINTAINYA?” teriaknya dan kini tangannya tengah mencengkeram kerah bajuku dengan kasar. Kemarahan membara dalam sorot matanya.

”KALAU YA KENAPA?” balasku berteriak ikut terpancing emosi.

”Kalau kau mencintainya kenapa tak mengatakannya dari dulu?” tanyanya lagi, kali ini dengan suara rendah tapi penuh dengan kebencian.

”Karena dia tidak mencintaiku!!!” tegasku dingin. Aku merasakan sakit di dadaku saat aku mengucapkan kata-kata itu. Dan Aku benar-benar benci karena Changmin telah menanyakan hal yang sama sekali bukan urusannya padaku.

”Lalu mengapa tak melepaskannya?”

”Karena aku tak sanggup melepaskannya. Aku tak sanggup membiarkan dia pergi dari sisiku. Aku akan tetap mempertahankannya berada di sisiku seumur hidupnya walaupun untuk itu aku harus memanfaatkan rasa bersalahnya terhadapku. Aku akan melakukannya asal dia tetap bersamaku. Sekalipun dengan begitu akan menyakiti diriku sendiri. Aku akan menaggungnya!” ujarku penuh kemarahan padanya seolah-olah dialah yang bersalah dalam masalah ini.

BUKK!!

Tiba-tiba sebuah tinju mendarat tepat di wajahku. Aku tersungkur ke tanah. Dan aku dapat merasakan rasa perih di sudut bibir.

”APA KAU TAK SADAR KALAU ITU JUGA SANGAT MENYAKITINYA??!!” teriaknya dengan muka merah padam karena marah.

”Kau sudah menyakitinya selama tujuh tahun. Kau membuatnya melewati begitu banyak penderitaan, menangis, dan terluka. Aishhh…. Mengapa dia harus mencintai makhluk egois yang tak punya hati sepertimu?” ujarnya, menunjukkan secara nyata kekesalannya padaku. Tapi tunggu… apa yang dikatakannya di kalimat terakhirnya tadi? Yeorum mencintaiku?! Apa aku tak salah dengar? Kemudian aku mencoba bangkit dan berdiri tegak di hadapannya.

”Apa maksudmu dengan dia mencintaiku?” tanyaku padanya sambil mengguncang bahunya.

Dia menyingkirkan tanganku dari bahunya dengan kasar dan mendengus kesal. ”Kau benar-benar parah!!! Sampai-sampai hal seperti itu saja kau tak bisa merasakannya,” ejeknya.

”Tidak mungkin,” aku menggelengkan kepalaku. ”Tidak mungkin Yeorum mencintaiku!”

”Kau pikir karena apa dia mau bertahan di sisimu? Karena rasa bersalahnya padamu?!” lagi-lagi dia tersenyum mengejek padaku. ”Kau begitu naif berpikiran seperti itu. Butuh hal yang jauh lebih besar dari sekedar rasa bersalah untuk bisa bertahan di samping manusia egois sepertimu selama itu, Kyu. Dia telah menyakiti dirinya sendiri dengan mencintaimu!” Aku hanya bisa terdiam mendengar setiap penjelasan yang keluar dari mulut Changmin.

”Kalau kau benar-benar mencintainya, katakan! katakan padanya sebelum kau benar-benar terlambat!!!” Ucapannya membuatku tersentak. Apa maksudnya dengan kata terlambat?

”Yeorum memutuskan akan berangkat ke Paris tepat jam tujuh malam ini. Tepat saat kau akan melamar Tae Hae. Setidaknya seperti itulah yang ada dalam pikirannya. Kalau kau tak segera mencarinya sekarang, besar kemungkinan kau takkan pernah bertemu lagi dengannya karena dia tidak akan berpamitan denganmu.”

Penjelasan yang diberikan Changmin benar-benar membuatku pusing. Bagaimana mungkin aku membiarkan semua itu terjadi? Tidak, aku tidak akan membiarkan dia pergi di saat aku telah memutuskan untuk mengatakan segalanya. Terlebih setelah aku tahu kalau dia juga mencintaiku dan untuk itu dia sudah begitu banyak terluka selama tujuh tahun ini.

”Ani! Aku takkan membiarkannya pergi!” seketika aku berlari meninggalkan Changmin sendirian. Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah aku harus segera menemukan Yeorum sebelum aku benar-benar kehilangan dia.

Ku hampiri mobilku yang ku parkir di pelataran parkir gedung SM dan aku sangat bersyukur karena telah membawa mobil sendiri hari ini. Kemudian kulajukan dengan kecepatan tinggi menuju ke apartemen Yeorum. Namun sayang sesampainya di sana aku tak dapat menemukannya.

Ku keluarkan ponselku dari saku celanaku, kemudian ku tekan nomor telpon rumahku.

”Yoboseo,” suara Ah Ra noona menyambutku di seberang telepon.

”Noona, apa Yeorum ada di rumah?” tanyaku tanpa menjawab salamnya.

”Ani. Dia belum datang dari pagi tadi. Waeyo?” tanya noona kebingungan.

“Pokoknya kalau dia ke sana langsung hubungi aku!” Kemudian aku langsung menutup ponselku.

Aku kembali berlari ke parkiran tempat aku memarkirkan mobilku. Setelah berada di dalam mobil, sejenak aku berpikir dimana kira-kira aku bisa menemukan Yeorum. Hanya sedikit tempat yang biasa di datanginya. Setidaknya ini mempermudahkanku untuk segera menemukannya.

”Dorm!” ujarku pada diri sendiri. Aku kembali melajukan mobilku dengan kecepatan tinggi dan kali ini dorm adalah tujuanku.

Sesampai di sana aku langsung memasukkan kode untuk dapat membuka pintu dorm kami ke komputer mini yang ditempel di dinding di samping pintu. Yeorum juga mengetahui kode ini dan mungkin saja dia ada di dalam sekarang.

Saat pintu terbuka aku langsung menerobos masuk ke dalam dorm. Aku memeriksa seluruh ruangan untuk mencarinya tapi semuanya nihil. Yeorum tidak ada di sini.

Kali ini aku tak tahu lagi harus mencarinya ke mana. Dia tak ada di apartemennya ataupun di rumah keluargaku dan dia juga tak datang ke studio SM hari ini. Aku mendudukkan diriku di sofa yang ada di ruang santai dorm kami. Ku pijit-pijit kepalaku yang rasanya seperti mau meledak sambil mencoba berpikir ke mana aku akan mencari Yeorum selanjutnya.

Sorry 4x
Naega 3x meonjeo
Nege 3x ppajyeo 3x
Beoryeo baby

Lagu sorry-sorry berkumandang dari ponselku. Ku lihat layarnya yang kini menampilkan nomor yang tak ku kenal. Buru-buru ku angkat telepon itu. “Siapa tahu ini ada hubungannya dengan Yeorum,” pikirku.

“Yoboseyo,” sapaku saat ponsel itu ku dekatkan ke telingaku.

“Yoboseyo,” balas orang di seberang telepon. “Kyuhyun ssi, ini aku, Changmin. Kalau kau mau bertemu dengan Yeorum, datanglah ke studio latihan sekarang juga. Saat ini dia sedang ada di sini berpamitan dengan member suju yang lain. Usahakan secepatnya. Aku tak bisa berjanji bisa menahannya lama di sini. Tapi akan kuusahan sebisaku,” ujarnya langsung memutuskan sambungan telepon.

Tanpa buang banyak waktu, aku langsung menghambur ke luar dorm dan segera berlari kembali ke parkiran dorm untuk mengambil mobilku. Untuk ke sekian kalinya ku lajukan mobilku dengan kecepatan tinggi kembali ke studio SM.

Sesampainya di sana, aku menghentikan mobilku tepat di depan pintu masuk gedung SM dan dengan tergesa ke luar dari mobil. Ku lemparkan kunci mobilku kepada seorang security yang aku yakini ingin menegurku karena sudah parkir sembarangan. ”Tolong parkirkan mobilku. Khamsahamnida,” ujarku sambil menyerahkan kunci mobilku padanya.

Selanjutnya kupacu langkah kakiku menuju ke studio latihan. Ku abaikan rasa sesak yang kini menyeruak di dadaku. Satu-satunya yang kuinginkan adalah bertemu dengan Yeorum secepat mungkin.

Akhirnya aku sampai di depan pintu studio latihan. Langsung ku putar knop pintu dan ku dorong daun pintu hingga terbuka. Dan Yeorum ada di sana sedang di kelilingi oleh semua member. Dan dia berdiri membelakangiku.

Ku langkahkan kakiku dengan cepat untuk mendekatinya. Sementara itu tak seorang pun di antara mereka menyadari kedatanganku. Kemudian setelah berada di dekatnya, ku raih lengannya, ku balikkan tubuhnya, dan kurengkuh dia ke dalam pelukanku.

”Sarangheyo Yeorum~a, jeongmal sarangheyo!!!”

******

Yeorum POV

Tiba-tiba seseorang menarik lenganku dari belakang, dia membalikkan tubuhku, kemudian memelukku begitu erat.

“Saranghaeyo Yeorum~a, jeongmal saranghaeyo!!!” ujar orang itu membuatku sangat terkejut. Aku tak sempat melihat wajahnya, tapi aku sangat mengenal suara ini.

”Kyu, kau kenapa?” tanyaku, syok dengan kelakuannya ini. Apa dia sedang mengerjaiku lagi? Tapi menggunakan kata-kata ini untuk mengerjaiku benar-benar sudah sangat keterlaluan.

Kyuhyun melepaskan pelukannya, menjauhkan tubuhku darinya tapi tetap memegang kedua bahuku dengan kedua tangannya. ”Aku sedang tidak bercanda,” ujarnya seakan bisa membaca isi pikiranku. ”Ini adalah hal yang paling serius yang pernah ku katakan padamu. Saranghaeyo, jeongmal saranghaeyo!” ujarnya lagi sambil menatap tajam ke dalam mataku.

”Mianhae sudah membuatmu menunggu selama tujuh tahun untuk mendengar kata-kata ini keluar dari mulutku. Mianhae karena telah membiarkanmu begitu banyak menangis selama ini. Mianhae karena telah memanfaatkan rasa bersalahmu padaku untuk menahanmu agar tetap berada di sisiku. Mianhae telah menyembunyikan kenyataan bahwa aku sangat mencintaimu hanya demi melindungi keegoisanku. Mianhae, jeongmal mianhae untuk begitu banyak kesalahanku padamu.”

”Saranghaeyo, jeongmal saranghaeyo,” lagi-lagi Kyuhyun mengulangi kata itu. ”Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kau menginjakkan kaki ke rumah kami waktu itu. Tapi saat itu aku tak tahu bagaimana menyikapi perasaanku terhadapmu. Saat itupun kau seperti menjaga jarak dariku. Sebisa mungkin berada sejauh mungkin dariku sampai-sampai aku meyakini bahwa kau sama sekali tak menyukaiku.

Sampai akhirnya kecelakaan itu berhasil membuatmu selalu berada di sisiku. Walaupun kenyataannya aku sangat sakit hati karena yang membuatmu bertahan di sisiku bukanlah karena kau mencintaiku melainkan rasa bersalah dan tanggung jawabmu terhadapku. Tapi aku tetap menginginkanmu tetap berada di dekatku. Sekalipun aku harus menggunakan rasa bersalahmu itu untuk mengekangmu.”

Aku masih tetap terdiam mendengar setiap ucapannya. Sekarang sedikit demi sedikit otakku mulai dapat mencerna kata-kata yang keluar dari mulutnya. Sampai pada akhirnya aku memahami secara sempurna maksud dari kata-katanya. Sesuatu mulai berkecamuk di dalam dadaku. Begitu campur aduk sampai-sampai aku tak tahu perasaan seperti apa itu sebenarnya. Yang jelas saat ini dadaku terasa sesak karena tak sanggup menanggung semuanya. Sementara itu air mataku mulai mendesak hendak keluar dari muaranya. Tapi aku menahannya. Aku tak mau menjadi bahan tontonan banyak orang karena adegan ini. Walaupun sebenarnya semua itu sia-sia karena sepertinya Kyuhyun sudah tak memperdulikan lagi keadaan yang ada di sekitarnya saat ini.

Dia kembali memelukku. Kali ini aku berusaha sekuat tenaga untuk menjauhkan tubuhnya dariku. Hatiku benar-benar sakit oleh pengakuannya. Mengapa dia bisa mencintaiku dengan cara seegois itu. Mengapa dia hanya memikirkan perasaannya sendiri. Mengapa dia tega menyakitiku dengan cintanya itu. Ani, aku tak bisa mempercayainya!

”Aniyo. Aku tak percaya padamu,” lirihku sambil mendorong tubuhnya sekuat tenagaku. Tapi usahaku sia-sia. Dia tak bergeser sedikitpun dan tetap memelukku dengan erat.

”Kalau kau mencintaiku kau tak mungkin melakukan semua ini. Kau tak mungkin menyakitiku sampai seperti ini. Kau takkan membiarkanku salah paham. Kau takkan mungkin sejahat ini padaku!!!” ujarku lagi sambil memukul-mukul lengannya.
Rasa sesak di dadaku yang semakin menjadi-jadi semakin memaksa air mataku untuk mengalir hingga akhirnya pertahananku benar-benar runtuh. Saat ini sama seperti Kyu, aku tak sanggup lagi untuk memperdulikan keadaan yang ada di sekitarku. Aku hanya ingin menangis. Sudah begitu lama aku menahan semua ini. Dan aku yakin dengan menangis aku bisa merasa lega.

”Mianhae, jeongmal mianhae,” ujarnya tercekat. Suaranya terdengar seperti sedang menahan rasa sakit.

******
Kyuhyun POV

”Aniyo. Aku tak percaya padamu,” lirihnya sambil mendorong tubuhku sekuat tenaganya. Tapi aku tetap bertahan dan memeluknya dengan erat. Aku takkan melepaskannya sekalipun dia akan membenciku. Aku takut kalau aku melepaskannya dia akan benar-benar pergi dariku.

”Kalau kau mencintaiku kau tak mungkin melakukan semua ini. Kau tak mungkin menyakitiku sampai seperti ini. Kau takkan membiarkanku salah paham. Kau takkan mungkin sejahat ini padaku!!!” ujarnya lagi sambil memukul-mukul lenganku. Aku tahu dia benar-benar terluka mendengar pengakuanku. Dan ini sangat menyakitiku. Bukan karena dia akan membenciku karena semua ini, tapi lebih karena akulah yang menyakitinya.

”Mianhae, jeongmal mianhae,” ujarku tercekat, menahan rasa sakit di dadaku. Aku semakin mengeratkan pelukanku. Sementara Yeorum kini sudah berhenti memberontak. Dia hanya membenamkan wajahnya di dadaku dan menumpahkan tangisnya di sana.

”Ani, kita tak bisa seperti ini. Kita tak bisa bersama. Aku tak mau melukai Tae Hae. Kalian akan segera bertunangan,” ujarnya tiba-tiba melepaskan pelukanku.
Ucapannya memancing emosiku. ”DASAR BABO! Mengapa kau selalu begitu baik terhadap orang lain? Mengapa kau selalu menyakiti dirimu sendiri demi untuk menjaga perasaan orang lain?” bentakku marah dan dia hanya diam menatapku dengan ekspresi ketakutan.

”Ani! Pesta itu tidak ku rancang untuk pertunanganku dengan Tae Hae, tapi ku rancang sebagai pesta kejutan untukmu. Dan aku bermaksud menyampaikan perasaanku terhadapmu di pesta itu nanti,” ujarku kembali melunak.

”Ne,” ujar Tae Hae yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan ini. ”Kyu sudah menjelaskan semuanya padaku. Aku dan Kyu sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami dengan baik-baik. Awalnya aku sangat marah karena dia telah mempermainkan perasaanku selama ini. Dia menerima cintaku hanya untuk melihat reaksi gadis yang dicintainya. Tapi ketika aku tahu kalau gadis itu adalah kau, aku mengikhlaskannya. Setidaknya kami impas karena dulu secara tak sengaja aku juga pernah mencampakkannya. Dan telah membuatnya merasakan sakit hati selama bertahun-tahun karena perasaan dicampakkan itu. Rasanya itu sudah cukup untuk membalas perbuatannya,” ujar Tae Hae tersenyum penuh arti padaku dan Yeorum.

”Tapi cincin itu?” tanyanya lagi masih dengan keraguan di wajahnya.

”Aisssshhh….. mengapa kau jadi keras kepala seperti ini?” ujarku sedikit kesal dengan sikapnya itu.
Ku raih tangan Tae Hae dan kusandingkan dengan tangannya. ”Kau lihat?!” ujarku padanya. ”Jari kalian sama. Makanya aku mencobakannya di jari Tae Hae. Dan saat itu Tae Hae lah yang menemani kita memilih cincin tunangan. Bukan kau!” Dia mulai menangis lagi. Hari ini dia begitu mudah menangis. Berbeda dengan Yeorum yang ku kenal selama ini. Yeorum yang selalu tegar, kini terlihat rapuh dengan tangisannya.

”Mianhae,” ujarku sambil kembali memeluknya. Entahlah mengapa tiba-tiba terbersit rasa senang melihatnya rapuh seperti ini. Aku benar-benar merasa kalau dia sangat memerlukan perlindunganku.

”Nado saranghaeyo Kyuhyun~a, jeongmal saranghaeyo,” ujarnya pelan. Suaranya teredam di dalam dadaku dan terhalang oleh isak tangisnya. Tapi aku tetap dapat mendengarkannya. Dan itu membuatku merasa sangat lega.

”Kalau begitu kau tak boleh pergi meninggalkanku nanti malam,” ujarku tepat di telinganya.

”Mwo??? Apa maksudmu?” ujarnya, tiba-tiba melepaskan pelukanku dan berhenti menangis.

”Bukankah kau akan berangkat ke Paris jam tujuh malam ini? Changmin yang mengatakannya padaku,” ujarku bingung. Dan setelah itu aku mendengar seseorang tertawa dengan sangat puas di tengah-tengah ketegangan yang baru saja terjadi.

”Mianhae Kyu. Aku harus membohongimu untuk mengakhiri semua ini,” ujarnya di sela-sela tawanya. ”Aku sudah benar-benar tak tahan melihat sahabatku menderita lebih lama lagi karena kau. Setiap kali kau menyakitinya, dia selalu datang padaku dan menangis. Aku sangat tak tahan melihatnya. Jeongmal mianhae, Kyu.”

”Jadi kau menipuku?” ucapku menatap Changmin tak percaya dan dia mengangguk mantap.

”Aishhh!!!” ujarku kesal. ”Kau benar benar ingin membuatku mati muda ya??”

”Anggap saja kau sedang menebus dosamu, Kyu. Kau juga pernah membuat Yeorum berlari-lari di tengah malam buta kan? Jadi kalian impas,” ujarnya. Dia terlihat sangat puas sekali karena telah dengan sukses mengerjaiku.

”Ya sudahlah!” ujarku pasrah. “Tapi jika lain kali kau ulangi lagi, aku pasti akan membalasmu lebih sadis dari yang telah kau lakukan padaku!” ancamku.

“Hahaha…kau memang benar-benar evil, Kyu.” Tawanya kembali meledak dan membuatku bertambah kesal padanya.

“Tapi gomawo karena telah mengatakan segalanya padaku,” ujarku, akhirnya tersenyum padanya.

”Ok. Tapi mian juga atas memar di wajahmu itu,” ujarnya lagi dan aku hanya mengangguk padanya.

”Kyu, kau benar-benar harus lebih banyak belajar dariku tentang bagaimana caranya memperlakukan seorang wanita,” celetuk Donghae hyung yang membuat dia harus menerima jitakan keras dari Hyuk hyung.

”Jangan mengajarinya menjadi seorang pria penggombal sepertimu, Hae,” ujar Hyuk hyung membuat kami tersenyum.

”Benar-benar ajaib! Kenapa kami bisa memiliki seorang magnae sepertimu, Kyu??” ujar Leeteuk hyung sambil geleng-geleng kepala.

”Aku pikir akulah yang paling aneh di Super Junior ini. Ternyata keanehan Kyu jauh lebih ekstrim dibandingkan dengan keanehanku,” komentar Heechul hyung. ”Kalian lihat kan? Keanehan itu bukan hanya milik kami yang bergolongan darah AB,” ujar Heechul hyung lagi yang langsung di setujui oleh Yesung hyung.

******
1 Minggu kemudian

Yeorum POV

“Kau sudah mau berangkat?” suaranya di seberang telepon terdengar tak senang.

“Ne,” jawabku singkat.

“Apa sekarang sudah di bandara?” tanyanya lagi.

”Hmmm…” jawabku kali ini hanya dengan gumaman singkat.

”Mian tak mengantarmu. Aku menyesal sekali!” Nada bicaranya sama sekali tak terdengar seperti seorang yang sedang menyesal.

Aku menarik napas panjang. ”Tak apa. Aku bisa mengerti. Kau tak mungkin dengan leluasa datang ke bandara hanya untuk mengantar kepergian tunanganmu kan?” kali ini aku berbohong padanya. Mana mungkin aku tak apa-apa kalau orang yang aku cintai bahkan tak mau menemuiku di saat kami akan segera berpisah selama tiga tahun penuh. Sekalipun aku melarang yang lain untuk mengantarku, tapi sebenarnya aku sangat ingin dia ada di sini bersamaku walau sekedar untuk memberikan senyum perpisahan.

”Ani, bukan itu alasannya. Kalau cuma masalah fans, aku kan bisa menyamar untuk datang ke sana,” jawabnya.

”Lalu apa alasannya?” tanyaku pura-pura tak tahu

”Kau tahu alasannya!!!”

”Aku benar-benar tak tahu,” jawabku masih berbohong dengan harapan dia akan mengalihkan topik obrolan kami.

”Yeorum~a, kau tahu alasannya!!! Aku tak mengizinkanmu pergi ke Paris atau ke bagian menapun di dunia ini kalau tak bersamaku,” ujarnya sedikit meninggikan suaranya. Dia benar-benar tak berubah. Tetap Cho Kyuhyun-ku yang sangat egois.

”Kyu, kita sudah membicarakan masalah ini berkali-kali kan???” ujarku berusaha bersabar menghadapinya.

”Tapi keputusannya, aku tetap tak mengizinkanmu kan??” ujarnya keras kepala.

”Kyu, aku mohon, untuk sekali ini saja, mengertilah. Belajar mode adalah impianku,” pintaku.

”Aku mengerti! Tapi kan tidak harus ke Paris. Di Seoul juga banyak kok sekolah mode yang berkualitas. Aku takkan terbiasa kalau tak ada kau. Kau tega sekali padaku. Kita kan baru saja bertunangan satu minggu dan belum puas menikmati kebersamaan kita. Tapi sekarang kau sudah mau pergi,” rengeknya.

”Itu kan hanya sementara,” ujarku masih mencoba bersabar.

”IYA, MEMANG SEMENTARA. TAPI TIGA TAHUN ITU WAKTU YANG LAMA, YEORUM~A. CUKUP LAMA UNTUK MEMBUAT HATIMU BERUBAH!!!. BAGAIMANA KALAU KAU MENEMUKAN PRIA LAIN DI SANA??” Teriaknya marah. Aku menjauhkan sedikit ponselku dari telingaku agar suaranya tidak terdengar memekakkan di telingaku.

”Mwo!!! Kau tak percaya padaku??” ujarku dengan nada sedikit meninggi karena kesal dengan keegoisannya.

”A-aku bukannya tak percaya padamu. Tapi aku tak percaya dengan pria-pria yang ada di sekelilingmu nanti. Kau terlalu baik dan sangat mudah untuk disukai orang,” ujarnya kekanak-kanakan.

Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Kau hanya perlu percaya padaku dan abaikan yang lain!!!” ujarku mantap dan sejenak Kyuhyun kehilangan kata-katanya di seberang sana.

”B-bagaimana kalau aku membatalkan pertunangan kita karena pilihanmu itu? Apa yang akan kau lakukan? Kau akan tetap pergi atau tetap bersamaku?” Pertanyaannya benar-benar membuatku terkejut. Aku sangat kecewa karena dia bisa memikirkan kemungkinan itu untuk menahanku pergi.

”Aku akan memilih tetap bersamamu,” ujarku sedih.

”Kenapa kau lebih memilih bersamaku?” tanyanya lagi. Dia benar-benar manusia yang tak sensitif. Dia sama sekali tak menyadari kalau pertanyaan-pertanyaannya itu menyakitiku.

”Karena aku mencintaimu,” ujarku terluka. ”Tapi jika kau melakukannya….itu sama artinya kau menyakitiku, Kyu.”

”Aissshhh….kau pergilah!!! Segera raih impianmu itu dan segera kembali ke sisiku!!! Setelah itu kau takkan bisa ke mana-mana lagi. Kau harus tetap berada di sisiku!!!” Ujarnya kesal dan aku tersenyum bahagia mendengar ucapannya.

”Aisssshhh…Jinca!!! Mengapa aku semakin lemah di hadapanmu dan semakin sering mengalah padamu?” ujarnya masih dengan nada kesal.

”Itu karena sekarang kau mencintaiku!!!” jawabku.

”Dulu aku juga mencintaimu!!!”

”Tapi sekarang perasaanmu sudah tak terkekang seperti dulu. Sekarang kau bebas mengekspresikan perasaanmu terhadapku. Hatimu telah bebas!!” jawabku sembari tersenyum. Kemudian kami kembali terdiam karena kehabisan kata-kata. Suasana perpisahan kini semakin terasa. Aku benar-benar ingin memeluknya sekarang. Sayang sekali dia tak berada di dekatku.

”Aku akan sangat merindukanmu,” ujarku lirih berusaha menahan air mataku agar tak jatuh.

”Saranghaeyo….”

Tiba-tiba seseorang mengejutkanku dengan membisikkan kata ”saranghaeyo” tepat di telingaku. Aku membalikkan tubuhku ke arah orang itu. Orang itu memakai topi yang menutupi wajahnya dan kaca mata hitam. Sejenak aku terpaku menatapnya dan langsung menghambur ke dalam pelukannya ketika aku menyadari siapa dirinya.

”Kyuhyun~a…” panggilku. Suaraku teredam di dadanya. Air mata yang tadi ku tahan kini mengalir tanpa hambatan. Dan dia membiarkan aku menangis di dalam pelukannya beberapa saat.

”Pergilah!!! Segera wujudkan impianmu dan segera kembali padaku!!!” ujarnya saat melepaskan pelukannya dan menghapus air mataku dengan kedua tangannya.

”Gomawo,” hanya itu yang bisa ku katakan.

”Mianhae, telah bersikap egois terhadapmu,” ujarnya sambil menatapku lembut. Aku bisa melihat kesungguhan tentang apa yang dikatakannya dari tatapannya.

”Aniyo. Tak ada yang perlu aku maafkan. Aku tahu itu caramu untuk mencintaiku. Dan aku memakluminya.” Aku tersenyum padanya.

“Aishhh…seharusnya kita tidak hanya bertunangan. Seharusnya aku menikahimu sebelum kau berangkat ke Paris. Cincin pertunangan itu takkan cukup untuk mengikatmu agar kembali lagi ke sisiku setelah tiga tahun nanti,” ujarnya kembali menunjukkan sikap egoisnya. Dan senyumku semakin mengembang mendengar ucapannya.

”Kau mungkin tak bisa mengikatku secara fisik. Tapi kau telah mengikat hatiku. Dan itu jauh lebih cukup untuk membuatku kembali setelah tiga tahun nanti,” ujarku kembali menyusup ke dalam pelukannya.

THE END

SEVEN YEARS LOVE (Part 4)

Yeorum POV

 

Hari ini gladi resik untuk persiapan konser SM TOWN yang akan diadakan besok. Semua artis pendukung berlatih keras untuk memberikan penampilan terbaik bagi para fans mereka.

Ini sudah hari kedua sejak kejadian malam itu. Sampai saat ini aku masih menolak untuk bicara pada Kyuhyun. Aku benar-benar kesal karenanya.

Luka di kakiku sudah mulai sembuh walaupun masih meninggalkan sedikit rasa sakit saat aku berjalan. Kemarin Kyuhyun menyuruhku untuk tetap beristirahat di rumah karena luka itu cukup mengangguku.

Tepat jam 12 siang, akhirnya seluruh artis SM yang sejak tadi pagi berlatih, beristirahat. Dan Kyuhyun langsung menghampiriku yang sedang duduk di sudut ruangan.

”Bagaimana lukamu?” tanyanya. Aku tak menjawab pertanyaannya.

”Ya! Yeorum~a, aku sedang bertanya padamu,” ujarnya mulai kesal melihat kebungkamanku. ”Ya! Yeorum~a, aku kan sudah mengobati kakimu. Masa itu tidak juga bisa menghentikan aksi mogok bicaramu itu padaku.”

”Huh, kau pikir hal itu bisa menghapus kesalahanmu begitu saja?” omelku dalam hati.

Aku menatapnya dengan tatapan tak suka, seolah-olah aku mengatakan kalau aku masih sangat marah padamu. Kemudian aku bangkit dari tempat duduk. Dan pergi begitu saja.

”Ya! Yeorum~a….” suara Kyuhyun terputus. Aku sedikit penasaran mengapa dia tidak melanjutkan ucapannya. Jadi aku menoleh ke belakang. Ku lihat dia sedang bersandar ke dinding sambil memegang dadanya. ”Dia pasti sedang mempermainkanku lagi,” pikirku. Aku tak mau tertipu lagi olehnya. Ku balikkan kembali badanku dan bersiap-siap melangkah pergi. Tapi tiba-tiba Siwon oppa memanggilku. ”Ya! Yeorum~a, sepertinya Kyuhyun tak main-main kali ini. Sepertinya napasnya benar-benar sesak.”

Aku kembali menoleh ke arah Kyuhyun. Ku lihat Kyuhyun sekarang sudah terduduk di lantai. Tangannya memegang erat dadanya. Wajahnya pucat dan keringat mengalir deras di dahinya. Aku langsung berlari mendekatinya dengan panik.

”Kyuhyun~a, waeyo? Apa napasmu benar-benar sesak?” ujarku sembari mengusap keringat yang mengalir di dahinya dengan tanganku.

”Yeorum~a, alat bantu pernapasannya,” ujar Siwon oppa juga panik. Sementara member suju yang lain sudah mendekat ke tempat Kyuhyun berada.

”Tas Kyuhyun,” ujarku. Kemudian Donghae oppa memberikannya dengan sigap padaku.

Aku membuka tas itu dan mengaduk-ngaduk semua isinya, tapi aku tak menemukan apa yang aku cari. Aku baru ingat kalau tadi pagi Kyuhyun sendirilah yang mengemasi barang-barangnya. Aku tak mau membantunya karena aku masih marah padanya.

”Oppa, bagaimana ini? Alatnya tidak ada. Mungkin ketinggalan di dorm,” ujarku panik. Air mataku sudah mulai mengalir sekarang.

”Donghae~a, bantu naikkan Kyuhyun ke punggungku. Kita bawa dia ke rumah sakit,” ujar Siwon oppa kemudian.

Donghae oppa menaikkan Kyuhyun ke punggug Siwon oppa dengan dibantu oleh Sungmin oppa. Kemudian Siwon oppa berlari sekencang-kencangnya untuk membawa Kyuhyun ke rumah sakit dan aku beserta member suju lainnya mengikutinya dari belakang.

 

******

 

Hari ini adalah hari dimana konser SM TOWN diadakan. Suju tetap manggung tanpa Kyuhyun. Latihan keras yang dijalaninya selama seminggu ini  sia-sia sudah. Karena saat hari H-nya Kyuhyun justru harus terbaring di rumah sakit.

Aku menunggui Kyuhyun sejak kemarin. Aku tak mau beranjak sedikitpun dari sisinya. Rasa bersalah menyeruak di dadaku. Kalau seandainya aku tak mengabaikannya seperti kemarin, tak membiarkannya mengemasi sendiri barang-barangnya, pasti alat itu tidak akan tertinggal dan Kyuhyun takkan berada di rumah sakit sekarang.

Ku tatap wajahnya yang sedang tertidur pulas lekat-lekat. Sekalipun sudah siuman sejak tadi malam, tapi wajahnya masih pucat. Tarikan napasnya pun masih berat. Selang oksigen masih terpasang di hidungnya. Dan tiba-tiba matanya terbuka.

”Kyuhyun~a, kau sudah bangun. Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit?” tanyaku sambil mengamati wajahnya.

“Kau sudah mau bicara padaku? Apa sudah tidak marah lagi?” dia balik bertanya.

Seketika rasa bersalahku semakin menyesakkan dadaku. ”Kyuhyun~a, Mianhae. Jeongmal mianhae,” ujarku tertunduk di hadapannya. Air mataku kini mulai jatuh.

”Aishh… tak usah menangis. Aku baik-baik saja kok,” ujarnya panik melihat air mataku.

”Aku berjanji, mulai sekarang kalau aku marah padamu, aku takkan mengabaikanmu lagi. Aku aku akan tetap membantumu mengemasi barang-barangmu agar alat itu takkan ketinggalan lagi,” ucapku sedih.

”Jadi… kau masih berencana untuk marah padaku lagi?”

”Aku tak mungkin tidak marah padamu. Kau selalu membuatku kesal sepanjang waktu,” jawabku cepat.

”Terserah kau saja kalau begitu. Kalau kau masih marah padaku, itu memang nasibku,” ujarnya pasrah. ” Tapi kau duduklah. Jangan berdiri terus. Luka di telapak kakimu kan masih sakit.”

Aku duduk di samping tempat tidurnya dalam diam. Untuk beberapa lama kami tak saling bicara.

“Mianhae,” ujarnya tiba-tiba, mengagetkanku. Ini pertama kalinya Kyuhyun mengucapkan kata maaf padaku. Bukan… bukan hanya padaku. Ini pertama kalinya dia meminta maaf. Aku menatapnya tak percaya.

“Ne,” jawabku tak mengerti.

”Aku minta maaf untuk perkataanku waktu itu,” sambungnya lagi. ”Aku tak bermaksud memarahimu di depan umum. Saat itu aku hanya terkejut melihat apa yang kau lakukan.”

Kyuhyun menarik napasnya yang berat. ” Menonjok wajah orang….itu benar-benar perbuatan yang kasar dan sangat tidak sopan, terlebih kalau dilakukan seorang wanita. Dan yang semakin membuatku kecewa…kaulah orang yang melakukannya. Dalam pikiranku kau takkan pernah bisa melakukan hal seperti itu. Aku jadi menyalahkan diriku karena telah membawamu ke dunia yang seperti ini. Karena aku, kau harus menghadapi orang-orang seperti Jessica. Karena aku, hatimu yang dulu bersih menjadi ternoda. Mianhae….jeongmal mianhae.”

Aku terkejut mendengar penjelasannya. Ternyata dia bersikap seperti itu bukan karena membenciku. Tapi justru dia ingin melindungiku. Dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena hal itu.

Aku tak bisa mengatakan apapun. Aku hanya menundukkan kepalaku sedalam-dalamnya. Menyimpan rasa haruku atas apa yang telah dilakukannya untukku. Aku benar-benar merasa bodoh karena selalu salah mengartikan sikap dan perbuatannya. Aku selalu pikir bahwa aku sangat mengenalnya. Tapi pada kenyataannya, begitu banyak hal yang tak bisa ku pahami dari dirinya.

 

******

 

Hari ini akhirnya Kyuhyun dapat kembali mengikuti jadwal manggung suju. Mereka akan menjadi bintang tamu disebuah acara fashion show. Semua penonton begitu histeris saat mereka naik ke atas panggung. Dan seperti biasa, aku hanya melihat penampilan mereka dari balik panggung. Walupun sudah ratusan kali aku melihat performence mereka tapi aku tetap saja terkagum-kagum karenanya.

Tiba-tiba tak sengaja mataku menangkap sosok seseorang yang cukup ku kenal di barisan tengah penonton. Seorang wanita yang sangat anggun dan cantik. Wanita yang sudah beberapa tahun ini menghilang. Dan kini dia ada di sini, sedang menonton penampilan Kyuhyun.

”Kim Tae Hae,” bisikku pada diriku sendiri.

Seketika aku mengalihkan pandanganku ke arah Kyuhyun. Aku tak tahu apakah Kyuhyun sudah melihat kehadirannya atau belum. Tapi hal ini membuat perasaanku menjadi tak enak. Apa yang akan dilakukan Kyuhyun jika dia mengetahui kehadiran Tae Hae. Apakah dia akan marah, atau bahkan dia akan menerima Tae Hae kembali? Aku tak bisa memastikannya.

Saat penampilan suju berakhir Tae Hae langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan ruang pertunjukkan. Aku langsung berlari menuju ke luar dari pintu belakang untuk menyusulnya.

”Tae Hae,” panggilku saat kami berada di luar ruang pertunjukkan. Dan Tae Hae menoleh ke arahku.

Aku berjalan semakin dekat ke arahnya. ”Kau ke mana saja?” itu adalah pertanyaan pertama yang ke luar dari mulutku.

”Aku…” jawab Tae Hae gelisah.

”Mianhae,” ujarnya akhirnya. ”Jeongmal mianhae. Aku tak bermaksud mengganggunya. Aku hanya ingin melihatnya dari jauh.”

”Kau ke mana saja?’ aku mengulangi pertanyaanku. ”Kenapa waktu itu pergi begitu saja? Apa kau tahu kalau Kyuhyun mencarimu seperti orang gila?”

”Mianhae,” lagi-lagi dia meminta maaf. ”Keluargaku ada masalah. Kami harus pindah. Dan orang tuaku memberi tahu tentang masalah itu secara tiba-tiba sehingga aku tak sempat memberi tahu Kyu.”

Kemudian Tae Hae menceritakan secara detil tentang kondisi keluarganya saat itu. Perusahaan ayahnya bangkrut dan mereka harus ke luar dari rumah mereka karena rumah itu disita bank. Sebelumnya Tae Hae tak pernah tahu tentang masalah yang dihadapi keluarganya karena orang tuanya menutupinya darinya. Ketika dia tahu, dia dan orang tuanya sudah harus ke luar dari rumah mereka dan orang tuanya langsung memutuskan untuk kembali ke kampung halaman mereka untuk memulai segalanya dari awal lagi.

“Lalu mengapa tak menghubunginya setelah itu?” tanyaku lagi, masih tak puas dengan penjelasannya.

“Aku tak sanggup menghadapi kemarahan dan kebencian Kyuhyun terhadapku. Aku sangat mengenal Kyuhyun. Dia tidak akan mudah memaafkan kesalahan orang. Dan aku sangat mencintainya, Yeorum~a. Aku takkan sanggup menghadapinya,” ujarnya sembari menangis.

“Kalau begitu kau salah. Kau tak benar-benar mengenalnya. Dia sangat tak suka ketidakjujuran. Kalau saja kau menjelaskannya padanya, dia akan bisa memaklumimu,” ujarku kemudian.

”Aku tahu. Tapi aku terlalu pengecut. Aku begitu malu menceritakan kondisi keluargaku saat itu.”

”Yeorum~a,” tiba-tiba Kyuhyun memanggilku. Aku berbalik menghadapnya. Sejenak dia ingin mengatakan sesuatu padaku. Tapi kemudian ekspresi wajahnya berubah menjadi marah. Dia menatap tajam ke arah orang yang ada di belakangku.

Kyuhyun langsung membalikkan badannya dengan kasar dan berjalan kembali ke ruang ganti yang disediakan khusus untuk seluruh member suju. Dari ekspresinya tadi, aku tahu saat ini dia sedang sangat marah.

”Aku akan coba menjelaskannya padanya,” ujarku pada Tae Hae dan segera berlari mengejar Kyuhyun.

Berkali-kali aku berusaha untuk menjelaskan tentang Tae Hae kepada Kyuhyun. Dan tiap kali pula dia selalu memotong ucapanku. Bahkan di saat aku baru mengucapkan kalimat pertamaku. Dia sama sekali tak mau mendengarkan apapun tentang itu. Sampai akhirnya aku tak tahan lagi dengan keadaan ini.

Malam ini kami baru saja kembali ke dorm suju setelah mengisi acara di salah satu stasiun televisi. Kyuhyun langsung menghempaskan tubuhnya di sofa sementara member yang lain juga duduk di permadani tebal yang terletak tak jauh dari kami berada.

”Kyuhyun~a, aku sudah tak tahan lagi. Kau harus mendengarkanku!” ujarku langsung menarik tangannya agar dia mau bangkit dari sofa.

”Aku tak mau!” Dia menegaskan dengan nada dingin.

”HARUS!” aku memaksanya dan menarik tangannya sekuat tenagaku sampai dia berdiri. Ku dorong tubuhnya agar mau keluar dari dorm.

”Kau harus bicara padanya!” ujarku lagi, saat kami sudah berada di luar.

”Tidak!” ujarnya, memalingkan wajahnya dariku.

”Harus!” paksaku lagi dan dia tetap mengabaikanku.

Aku menarik napas panjang. ”Ku mohon,” ujarku sambil menatapnya lekat-lekat. ”Masalah kalian harus diselasaikan. Tidak baik kalau harus berakhir seperti ini.”

”Masalah kami sudah selesai saat dia pergi beberapa tahun silam. Aku sudah memutuskan semuanya,” ujar Kyuhyun keras kepala.

”Kyuhyun~a, dia sangat menderita. Dia benar-benar merasa bersalah padamu.”

Kyuhyun hanya diam tak menanggapiku.

”Kyuhyun~a, aku tahu kau sangat mencintainya. Jika tidak, kau tidak akan semarah ini padanya,” ujarku lagi dan dia masih tetap diam.

”Jika memang ingin mengakhirinya, setidaknya akhirilah dengan baik,” sekarang aku mulai membujuknya.

”Please….!” aku mengeluarkan usaha terakhirku. Kyuhyun menatapku dengan tatapan yang tak bisa ku mengerti.

”Mengapa kau lakukan semua ini untuknya?” ujarnya dingin padaku.

Aku tak dapat menjawab pertanyaan Kyuhyun. Aku sendiri juga tak mengerti mengapa aku melakukan semua ini. Menginginkan orang yang sangat kucintai untuk kembali bersama mantannya. Ini benar-benar sinting. Tapi aku benar-benar tak tahu cara lain agar Kyuhyun merasa bahagia. Ya… satu-satunya yang aku inginkan hanya melihatnya bahagia sekalipun harus menyakiti perasaanku sendiri.

”Apa kau benar-benar ingin aku kembali padanya? Apa kau akan bahagia kalau aku kembali padanya?” tanyanya lagi padaku. Kali ini aku bisa melihat kemarahan di matanya. Tapi aku tetap tak mengerti ke mana kemarahan itu ditujukan. Pada Tae Hae? atau padaku?.

Aku menatapnya, mencari maksud dari nada bicara yang terselip di balik pertanyaannya barusan.

”Apa kau akan senang jika aku melakukannya?” Aku masih tetap diam sementara dia menatapku tajam.

”Ne…” jawabku akhirnya, setelah beberapa lama. Aku dapat merasakan kehampaan merayapi hatiku saat jawaban itu meluncur dari mulutku.

Kyuhyun menarik napas panjang. “Baiklah jika itu yang kau inginkan. Besok aku akan bicara padanya,” ujar Kyuhyun dingin dan pergi begitu saja meninggalkanku yang masih tertegun sendirian.

******

“Anyeong,” sapaku ceria kepada seluruh member saat memasuki ruang santai dorm suju.

Hari ini seluruh member suju tak ada jadwal manggung ataupun latihan. Makanya semuanya dapat berkumpul di dorm dan menghabiskan waktu bersama. Ini sangat jarang terjadi. Sejak pertama debut benar-benar bisa dihitung dengan jari mereka bisa bersantai-santai seperti hari ini. Itupun waktu libur mereka hanya bisa dihabiskan di dalam dorm karena mereka sangat tak leluasa pergi ke tempat umum.

“Yeorum~a, kau datang juga. Bukankah hari ini libur?” ujar Donghae oppa heran melihat kehadiranku.

”Aaah… aku hanya merasa aneh bila tidak menghabiskan hariku bersama kalian. Ini kan sudah jadi kebiasaanku selama tiga tahun ini.” Aku mengedipkan mataku pada Donghae oppa.

”Lihatlah aku membawakan makanan untuk kalian,” ujarku lagi sambil menunjukkan bungkusan yang ku bawa dan meletakkannya di atas meja. Seluruh member langsung menyerbunya.

”Aku tak melihat Kyuhyun, apa dia belum bangun? Aishh makhluk pemalas itu, sudah sesiang ini masih juga belum bangun,” ujarku hendak pergi ke kamarnya.

”Oh, Kyuhyun ya? Dia sudah keluar sejak pagi tadi,” ujar Hyuk oppa saat aku baru saja akan melangkahkan kakiku.

”Sudah keluar sejak pagi?” tanyaku lagi kembali menghadap ke arah mereka.

”Ne. Kyuhyun pergi bersama Tae Hae.” Kali ini Kangin oppa yang menjawab pertanyaanku.

”Mwo….” ujarku terkejut. ”…Oooh,” tapi hanya itu yang dapat kuucapkan akhirnya.

Sejak malam saat aku berhasil membujuknya untuk menemui Tae Hae, aku tak tahu lagi bagaimana perkembangan masalah mereka. Aku tahu keesokan harinya Kyuhyun memang menemui Tae Hae seperti yang dia katakan padaku. Tapi dia tak pernah menceritakan hasil pertemuan mereka. Dan yang membuatku terkejut adalah hari ini mereka pergi ke luar bersama sejak pagi. Aku sungguh tak menyangka perkembangannya sudah sejauh ini. Apakah mereka pergi berkencan? Apakan mereka kembali bersama-sama lagi? Pertanyaan-pertanyaan itu sekarang berputar-putar di kepalaku.

Tiba-tiba suara bel berbunyi, membuyarkan semua lamunanku. Ryewooke oppa bangkit untuk membukakan pintu. Sejenak kemudian aku bisa mendengar langkah-langkah yang mendekat ke arah kami.

Wookie oppa muncul di ambang pintu, diikuti Kyuhyun dan juga ada Tae Hae bersamanya.

”Aaah.. kau sudah pulang,” ujar Kangin oppa. Nada suaranya jelas-jelas sedang menggoda Kyuhyun. ”Jadi ini orang yang bisa mebuatmu ke luar rumah pagi-pagi sekali?”

Tae Hae tersenyum mendengar komentar Kangin oppa. ”Choneun Tae Hae imnida.” Kemudian dia memperkenalkan dirinya kepada seluruh member suju.

”Ya! Yeorum~a, kau juga ada di sini? Mengapa kau tak istirahat saja di apartemenmu? Hari ini kan libur. Aish.. Kau ini memang benar-benar tak bisa memanfaatkan waktu luangmu,” ujar Kyuhyun padaku.

”Ne. Aku hanya mengantarkan makanan untuk para oppa. Aku juga sudah mau pulang kok,” ujarku buru-buru berpamitan.

”Yeorum~a,” suara Kibum oppa memanggil saat aku baru melangkah beberapa langkah. ”Biar oppa antar kau pulang.”

”Tak perlu oppa. Aku bisa pulang sendiri. Oppa beristirahatlah baik-baik,” ujarku menolaknya dengan halus. Sejenak mata kami beradu. Kibum oppa seolah-olah ingin mengatakan sesuatu melalui tatapannya. Akupun mencoba mengatakan bahwa aku baik-baik saja melalui tatapanku.

 

******

 

Sejak hari itu, Kyuhyun dan Tae Hae semakin akrab. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Tae Hae juga semakin sering mengikuti jadwal manggung suju.

Rasa sakit yang pernah ku rasakan tujuh tahun lalu, kini kembali menusuk-nusuk di hatiku saat melihat kebersamaan mereka. Bahkan lebih parah karena perasaanku terhadap Kyuhyun jauh lebih dalam sekarang. Aku tahu ini adalah kebodohanku sendiri. Akulah yang memaksa Kyuhyun untuk bertemu Dengan Tae Hae. Itu berarti akulah yang mendorong mereka untuk bersama lagi.

Karena kebersamaan mereka, akhir-akhir ini aku mulai memikirkan kembali rencana yang selalu ku tunda selama ini. Rencana untuk belajar mode di Paris. Kota impian yang selalu ingin ku kunjungi sejak lama. Aku mulai mencari-cari informasi tentang itu. Dan tentu saja semuanya tanpa sepengetahuan Kyuhyun. Aku hanya menceritakan rencanaku ini kepada Changmin. Dan seperti biasa dia selalu mendukung keputusanku apabila keputusan itu yang terbaik untuk hidupku.

 

******

 

Sejak hubungan Kyuhyun dan Tae Hae membaik, sikap Kyuhyun terhadapku semakin menyebalkan. Dia sering meninggalkanku, tak membawaku dalam banyak kegitan yang diikuti suju. Dia lebih sering menyuruhku istirahat di apartemenku. Kalaupun aku ikut, aku hanya bisa bengong menjadi orang tak berguna. Karena semua yang dibutuhkannya sudah ditangani oleh Tae Hae.

Hari inipun tak ada bedanya. Dia menyuruhku tetap tinggal di dorm. Dia hanya menyuruhku untuk menjemput kedua orang tuanya dan Ah Ra onnie yang nanti sore akan tiba dari Swiss.

Bukannya aku tak suka menjemput mereka. Tentu saja aku sangat senang dengan kedatangan paman dan bibi Cho serta Ah Ra onnie. Tapi kekesalanku lebih kepada bahwa hal ini sepertinya dilakukannya hanya agar aku tak mengganggu kedekatannya dan Tae Hae. Ditambah lagi dia sudah berencana akan mengadakan pesta di rumahnya dua hari mendatang yang juga bertepatan dengan hari ulang tahunku yang ke-23. Pesta ini dimaksudkan untuk menyambut kedatangan kembali paman dan bibi Cho serta Ah Ra onnie. Dan di pesta itu juga dia bermaksud memperkenalkan seorang yang spesial kepada keluarga dan seluruh teman terdekatnya.

Ku lirik jam tanganku. Waktu menunjukkan jam 3 lewat 40 menit. Ini berarti sudah waktunya kedatangan mereka, pikirku.

Ku arahkan pandanganku ke arah pintu kedatangan internasional dan tiba-tiba….

”YEORUM~A….” teriak seseorang memanggil namaku. Ku cari asal suara itu dan ku dapati Ah Ra onnie sedang berlari ke arahku sambil mendorong trolinya sekuat tenaganya dengan paman dan bibi Cho mengikutinya dari belakang.

”ONNIE….” aku balas berteriak dan ikut berlari ke arahnya. Setelah berada di dekatnya aku langsung memeluknya dengan erat begitupun dengannya. Setelah beberapa lama barulah kami saling melepaskan pelukan kami.

”Apa kabar dongsaengku yang cantik ini?” tanyanya sambil memegang kedua pipiku.

”Aku baik-baik saja onnie,” jawabku. ” Onnie…bogoshippo,” ujarku lagi dan kembali memeluknya.

”Nado bogoshippo dongsaeng,” balasnya sambil mengelus punggungku.

”Dan bagaimana dengan paman dan bibi?” Tiba-tiba paman dan bibi Cho sudah berada di dekat kami. “Apa kau juga merindukan kami?”

“Ahjuma, adjussi, tentu saja aku juga sangat merindukan kalian. Mana ada seorang anak yang tidak merindukan orang tuanya,” ujarku setelah melepaskan pelukan Ah Ra onnie dan berganti menggenggam tangan paman dan bibi Cho.

”Apa kau sehat?” tanya ahjumah lagi padaku.

”Ne,” jawabku. ”Apa ahjuma dan ahjussi menjaga kesehatan dengan baik selama di Swiss?” Aku menanyakan hal yang sama pada mereka.

”Aishh, kau ini tak pernah berubah. Selalu sangat perhatian. Benar-benar gadis yang baik,” ujar bibi Cho sambil mencubit gemas pipiku.

”Apa kau datang sendirian? Di mana anak manja itu?” tanya paman Cho padaku.

”Kyu tak bisa menjemput kalian. Dia sedang ada show di sebuah stasiun tv bersama member suju lainnya adjussi,” jawabku.

”Aishhh, anak itu! Bagaimana mungkin dia lebih mementingkan pekerjaannya daripada menyambut kedatangan keluarganya yang sudah bertahun-tahun tak bertemu,” ujar Ah Ra onnie geram.

”Onnie, masa onnie tidak tahu dengan kesibukan super junior?” ujarku menjelaskan.

”Sudahlah, tak perlu dipikirkan bocah itu. Aku ingin cepat sampai di rumah. Aku sudah benar-benar kangen dengan suasananya,” ujar Ah Ra onnie akhirnya.

”Kaza,” ajakku sambil mengambil alih troli barang yang tadinya di dorong oleh paman dan bibi Cho.

 

******

 

”Kyuhyun~a, coba lihat cincin ini,” ujar Tae Hae menunjuk sebuah cincin tunangan di dalam etalase.

Saat ini kami sedang berada di sebuah toko perhiasan di salah satu pusat perbelanjaan di kota Seoul dan aku benar-benar kesal pada Kyuhyun. Untuk apa dia memaksaku ikut kalau hanya untuk memilih cincin tunangan? Kan sudah ada Tae Hae? Yang akan memakainya kan Tae Hae bukan aku. Dia pasti lebih tahu cincin seperti yang dia inginkan. Lagipula dari tadi tak sekalipun mereka menanyakan pendapatku.

”Ku rasa ini terlalu berlebihan. Yang sederhana akan terlihat lebih manis,” ujar Kyuhyun mengomentari pendapat Tae Hae. Dan Tae Hae benar-benar aneh. Kalau dia menyukai cincin itu apa salahnya. Itu kan seleranya. Dia malah menurut begitu saja dengan keinginan Kyuhyun.

Dasar makhluk egois!” makiku dalam hati. Kemudian aku membiarkan mereka memilih sendiri. Aku hanya mengitari toko perhiasan itu tanpa ada rasa ketertarikan sedikit pun. Tapi tiba-tiba aku melihat sepasang cincin tunangan yang sangat sederhana di dalam etalase. Cincin itu hanya bertahtakan sebuah berlian kecil. Dan aku sangat menyukai cincin itu. Kalau saja ini pertunanganku, aku pasti akan memilih cincin ini untuk dipasangkan ke jari manisku. Aku tersenyum menertawakan pikiranku sendiri.

”Ada yang kau suka?” Tiba-tiba Tae Hae sudah ada di sebelahku.

”A-ani,” aku menggelengkan kepalaku dan tersenyum padanya.

”Tae Hae,” panggil Kyuhyun kemudian dan Tae Hae langsung mengalihkan perhatiannya kepada Kyuhyun lagi.

”Bagaimana kalau yang ini?” tanyanya kemudian menunjuk ke cincin yang ku lihat tadi.

Tae Hae mengangguk. ”Bagus,” ujarnya. ”Sederhana, tapi terlihat sangat manis.” Kemudian Kyuhyun meminta pelayang di toko itu untuk memperlihatkan cincin itu kepada mereka. Kyuhyun mencobakan cincin itu di jari manis Tae Hae.

”Sangat pas,” gumam Kyuhyun dengan ekspresi puas di wajahnya. Dan Kyuhyun langsung meminta pelayan untuk membungkusnya.

Sepulang dari membeli cincin Kyuhyun memintaku untuk pulang sendiri ke apartemenku. Dia bilang dia tak bisa mengantarku karena harus mengantar Tae Hae dan ada yang ingin mereka bicarakan secara pribadi. Aku menyanggupinya walaupun hatiku terasa sangat sakit karenanya.

Aku menyusuri jalan tanpa tahu harus ke mana. Yang jelas pikiranku sedang kacau sekarang. Besok, Kyuhyun bukan saja akan memperkenalkan Tae Hae pada kedua orang tuanya, tapi juga akan bertunangan dengannya. Dan tiba-tiba nama Changminlah yang terlintas dalam pikiranku saat itu. ”Ya…aku harus bertemu Changmin,” pikirku.

 

******

 

”Yeorum~a,” panggil Changmin saat kami sudah berada di atap gedung SM.

”Yeorum~a, ada apa?” katanya lagi saat melihat tak ada reaksi dariku. Dan akhirnya aku menggelengkan kepalaku.

”Tidak mungkin kau memaksaku meninggalkan latihanku bersama member DBSK yang lainnya kalau tak ada apa-apa,” ujarnya lagi.

”Aku sudah memutuskan bahwa aku benar-benar akan pergi ke Paris minggu depan,” ujarku tanpa memandang ke arahnya.

Changmin menghembuskan napasnya kuat-kuat. ”Apa keputusanmu itu berhubungan dengan Kyuhyun?” tanyanya kemudian.

”Dia akan melamar Tae Hae besok. Dia akan melamar Tae Hae tepat di hari ulang tahunku,” semburku tanpa bisa ku tahan dan aku mulai menangis sekarang.

”Memangnya siapa yang mengatakannya padamu,” tanyanya lagi mulai bingung karena tangisanku.

”Aku yang mengantar mereka membeli cincin tunangan mereka. Dan kau tahu….” ucapanku terputus-putus karena isak tangisku. ”…cincin yang mereka pilih itu adalah cincin yang diam-diam aku sukai,” Tangisku semakin kencang.

Changmin tak mengatakan apapun setelah penjelasanku. Dia hanya memelukku dan membiarkanku menangis di sana. Setelah tangisku reda barulah dia berbicara lagi.

”Apa kau yakin benar-benar akan pergi?” tanyanya.

Aku mengangguk. ”Aku akan memesan tiket pesawat untuk minggu depan.”

”Kalau kau rasa itu yang terbaik dan bisa membuatmu merasa lebih baik, pergilah!” ujarnya akhirnya.

Sejak awal aku tahu Changmin takkan pernah menghalangiku. Dia selalu akan mendukungku karena dia hanya menginginkan yang terbaik bagiku. Sebab itulah aku hanya mengatakan tentang keputusanku ini padanya.

To Be Continue….

SEVEN YEARS LOVE (Part 3)

Yeorum POV

Kami baru tiba di studio latihan SM sekitar jam 11 siang. Mulai hari ini sampai seminggu ke depan ada latihan bersama seluruh artis SM karena minggu depan akan diadakan konser SM TOWN di kota Seoul.

Aku mengamati seluruh member latihan dari pinggir ruangan. Juga ada anak DBSK dan SNSD di sana.

“Hei,” sapa seseorang mengagetkanku.

“Changmin ah, kau jahil sekali,” ujarku saat tahu siapa yang mengagetkanku.

“Lagian siang-siang kok bengong,” ujarnya sambil duduk di sebelahku.

“Bagaimana promo albumnya?” tanyaku.

“Sangat melelahkan,” jawabnya sambil menghembuskan napas kencang-kencang.

“Kami tak ada waktu istirahat. Dan satu hal yang membuatku sangat kesal, aku jadi sangat merindukan sahabatku yang satu ini,” ujarnya mengacak-ngacak rambutku. Aku berusaha menghindari jangkauan tangannya.

“Kau sendiri bagaimana? Apa Kyuhyun masih merepotkanmu?” tanyanya lagi.

“Bukan Kyuhyun namanya kalau dia tak merepotkanku.” Changmin tertawa mendengar jawabanku.

“Dan bukan Park Yeorum namanya kalau tak mau direpotkan oleh seorang tuan muda Cho Kyuhyun.”

Aku pun tertawa mendengar ucapannya. Kemudian ku edarkan pandanganku ke seluruh ruangan, tapi aku tak bisa menemukan Kyuhyun di sana.

“Mungkin dia ke luar sebentar,” ujar Changmin yang langsung bisa menebak siapa yang sedang ku cari. ” Sedetik saja kau tak melihatnya, kau akan langsung panik!”

“Kau ini! Aku cari dia dulu,” ujarku seraya berdiri.

Saat aku berdiri Jessica mendekatiku dan menghalangi jalanku.

“Tolong jangan menghalangi jalanku,” ujarku malas meladeninya.

“Kau pasti mau mencari Kyuhyun oppa kan? Apa kau tak bisa membiarkannya menarik napas lega sebentar saja? Kyuhyun oppa itu sudah terlalu sesak karena harus melihat tampangmu yang menyebalkan itu setiap saat,” ujarnya benar-benar sangat menyebalkan.

“Jess, sudahlah, jangan cari gara-gara,” Changmin mengingatkan.

“Changmin oppa juga membelanya? Aku sangat penasaran, apa sih daya tarik parasit ini sampai-sampai kalian semua membelanya?” ujarnya sambil mendekatkan wajah iblisnya ke wajahku.

“Cih… Parasit?” Aku menarik napas dalam-dalam. “Jess, jangan menguji kesabaranku. Aku sedang tak mau bertengkar denganmu.”

Aku hendak melangkahkan kakiku, tapi Jessica menghalangi ku lagi.

“Wae? Kau marah ku sebut sebagai parasit? Bukankah sebutan untuk orang yang makan, minum, dan tinggal gratis bertahun-tahun di rumah orang lain itu memang parasit?” ucapannya benar-benar membuat telingaku panas. Sekuat tenaga ku coba meredam emosiku yang mulai naik.

“Oh ya, bukan cuma itu. Kau itu juga pantas di sebut si pembawa sial. Bagaimana tidak? Orang-orang di sekelilingmu selalu mengalami nasib sial kan? Orang tuamu meninggal, dan….bukankah kecelakaan yang membuat Kyuhyun oppa seperti sekarang ini karena kau?”

Aku benar-benar tak mampu mengendalikan diriku lagi. Tanpa ku sadari tinjuku sudah melayang ke arah jessica dan menghantam keras wajahnya.

Changmin yang dari tadi berdiri di sampingku langsung menahanku. Sementara Jessica jatuh tersungkur di lantai dan menangis meraung-raung. Semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dan melihat ke arah kami.

“Sebaiknya kau jaga mulutmu itu. Jika tidak, kau akan sering mengalami hal seperti ini,” ujarku masih dengan dada naik turun karena menahan marah.

“YA, PARK YEORUM! APA YANG KAU LAKUKAN!” tiba-tiba sebuah suara yang sangat marah mengalihkan perhatianku. Kyuhyun berjalan menghampiriku dengan wajah merah padam.

“SEJAK KAPAN KAU MEMUKUL ORANG?” Tatapannya langsung menghujam ke mataku.

“Kyu, ini bukan salah Yeorum.” Changmin mencoba menjelaskan.

“Kau tak perlu membelanya!” ujarnya dingin kepada Changmin

“SEJAK KAPAN KAU BERUBAH MENJADI KASAR! KENAPA? KAU MAU MENJADI PREMAN YA? KAU BENAR-BENAR MENGERIKAN SEKARANG!” teriaknya kemudian kepadaku.

Ucapan Kyuhyun yang terakhir benar-benar menghantam tepat di ulu hatiku. Dia menganggapku wanita yang mengerikan sekarang. Aku bisa merasakan mataku mulai hangat karena air mata. Aku berusaha untuk menahannya agar tak jatuh. Walaupun aku tahu pasti Kyuhyun bisa melihatnya dengan jelas karena jarak wajah kami sangat dekat sekarang.

“Kyu, dengarkan dulu alasannya,” Changmin kembali mencoba menjelaskan sambil menahan bahu Kyuhyun dengan tangan kirinya. Tampak dia sedikit emosi menghadapi sikap Kyuhyun yang tak mau mendengarkan penjelasannya.

“TAK PERLU MEMBELANYA!” bentak Kyuhyun sambil menepiskan tangannya dengan kasar.

Changmin terlihat sangat marah saat ingin membalas ucapan Kyuhyun, tapi aku buru-buru menahannya. “Changmin ah, tak perlu menjelaskan apapun padanya. Tidak akan ada gunanya,” ujarku balik menatap marah kepada Kyuhyun. Kemudian aku pergi begitu saja meninggalkan studio latihan. Aku tak sanggup lagi membendung air mataku. Air mataku kini mengalir dengan derasnya.

Aku terus berlari. Aku tak tahu mau ke mana menyembunyikan diriku. Ada rasa sakit yang amat sangat di dadaku. Semua itu karena ucapan Kyuhyun tadi. Ucapannya benar-benar telah menyakiti perasaanku.

Akhirnya kakiku berhenti di taman yang berada di seberang gedung SM. Aku mendudukkan diriku di salah satu kursi yang ada di sana. Menyembunyikan wajahku di kedua telapak tanganku. Dan aku terus menangis.

Aku menangis cukup lama hingga akhirnya aku menurunkan kedua telapak tanganku yang tadi kugunakan untuk menutupi wajahku. Aku sangat terkejut saat mengetahui Changmin sudah duduk di sebelahku dan mengulurkan sapu tangannya padaku.

“Sudah baikkah?” tanyanya sambil mengamati wajahku. Aku mengangguk pelan.

“Ini yang kesekian kalinya kau menangis karena dia. Dan setelah ini kau pasti akan langsung memaafkannya,” ujarnya lagi.

“Kau terlalu mencintainya. Karena itulah kau menjadi sangat gampang disakiti olehnya.” Ada kemarahan yang bisa ku tangkap dari nada bicaranya.

Aku sibuk menghapus sisa air mataku dengan sapu tangan yang di berikan Changmin padaku. Aku bisa merasakan kalau mataku sekarang bengkak.

“Apa aku kelihatan sangat jelek?” tanyaku sembari tersenyum lemah padanya.

“Kau ini, dalam keadaan seperti ini saja masih bisa bercanda.” Changmin mengambil sapu tangannya dari tanganku dan membantuku membersihkan air mata yang masih tersisa di wajahku.

“Seharusnya kau menjelaskan sesuatu kepada Kyuhyun,” ujarnya lagi.

“Untuk apa? Apa dia akan percaya begitu saja padaku? Apa kau tidak lihat tadi? Dia memakiku di depan semua orang. Dia bilang aku sangat mengerikan,” ujarku kesal.

“Kami sudah bersama selama tujuh tahun. Aku mengenal setiap detil sifatnya. Seharusnya dia tahu kalau aku takkan mencari gara-gara dengan orang lain kalau bukan orang yang mencari gara-gara denganku.”

“Kau sangat kesal pada Kyuhyun ya?” Changmin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi taman yang kami duduki.

“Huh…. Bukan kesal lagi, tapi sangat kesal padanya. Dasar makhluk egois, dingin, dan suka menang sendiri!” makiku.

“Tapi kau tetap mencintainya kan? Dan kau takkan pernah memutuskan untuk pergi dari sisinya kan?” sindirnya tajam kepadaku.

Aku mengenal Changmin sekitar tiga tahun lalu. Saat itu Kyuhyun baru saja bergabung dengan suju sebagai member termuda. Dia orang yang sangat menyenangkan dan selalu bisa membuatku nyaman saat bicara padanya.

Entah sejak kapan persahabatan kami mulai terjalin. Yang jelas kami sudah sedekat ini saja. Changmin mengetahui semua tentang rahasia perasaanku terhadap Kyuhyun. Karena dia menganggap bahwa Kyuhyun tak pernah bersikap baik padaku, makanya dia sangat membenci Kyuhyun. Dan herannya Kyuhyun juga sangat tak menyukai Changmin.

Persahabatan kami terjalin apa adanya tanpa dibumbui oleh perasaan cinta. Mungkin karena inilah persahabatan kami bisa berjalan sangat natural. Walaupun terkadang Kyuhyun mencurigai bahwa hubungan kami lebih dari sekedar sahabat. Tapi masa bodohlah. Kyuhyun memang orang yang selalu curigaan kok. Lagipula bukan urusannya.

“Sudah siap untuk kembali ke sana?” tanya Changmin beberapa lama kemudian. Dan aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.

“Kaza,” ajaknya, lalu berdiri sambil menarik tanganku.

“Tunggu sebentar,” ucapku saat dia baru akan berjalan untuk meninggalkan tempat itu.

“Apa sisa air mataku sudah benar-benar bersih?” tanyaku padanya.

Changmin mengamati sebentar wajahku. “Oke,” ujarnya kemudian dan melanjutkan langkahnya sambil menggandeng tanganku.

******

Sejak saat itu aku mendiamkan Kyuhyun. Aku sangat kesal padanya. Bahkan dia tidak minta maaf  karena telah memakiku di depan umum. Aku tetap menjalankan tugasku seperti biasa. Tapi aku tak mau bicara padanya.

Ini hari ke tiga aku mendiamkannya. Kentara sekali dia mulai membuat ulah agar aku mau bicara lagi padanya. Tapi jangan harap sebelum dia meminta maaf padaku. Makhluk egois seperti dia perlu diberi pelajaran!

Malam ini aku pulang ke apartemen lebih awal. Jadwal kegiatan suju berakhir sekitar jam sembilan malam tadi. Jadinya aku bisa cepat-cepat beristirahat.

Aku mengambil desain jas yang ku buat untuk Kyuhyun yang sudah lama tertunda. Tanpa sepengetahuannya aku memang sering mendesainkan kostum untuknya. Hal ini diawali saat konser super show suju yang pertama dulu. Saat penampilan solonya, Kyuhyun diberi kostum yang sangat tidak disukainya. Perlu waktu lama untuk membujuknya agar mau mengenakan kostum itu.

Sejak saat itu sebisa mungkin aku selalu menyempatkan diri untuk membuatkan desain kostum manggung untuknya dan ku berikan ke bagian kostum. Sejauh ini Kyuhyun menyukainya. Dan insiden penolakan kostum seperti waktu itu tak pernah terjadi lagi.

Aku sebenarnya sudah tertarik dengan dunia mode sejak masih SMA. Aku suka sekali dengan tipe pakaian yang elegant namun tetap masih ada sentuhan kesederhanaan sehingga tak terkesan angkuh dan sombong. Dan tipe pakaian seperti itulah yang disukai Kyuhyun. Menurutku sih untuk menutupi sikap angkuh dan sombongnya yang sudah tak tertolong lagi itu.

Tiba-tiba ponsel yang tergeletak di sampingku berbunyi. Ku lirik layarnya, nama Kyuhyun tertera di sana. “Mau apa lagi dia?” pikirku. Aku sedang mogok bicara padanya, jadi ku abaikan saja.

Ponselku sudah berbunyi sebanyak lima kali. Dan semua panggilan dari Kyuhyun. Kemudian panggilan ke enam masuk dengan nama Kyuhyun masih tertera di layar. Aku bermaksud mengabaikannya, tapi tiba-tiba terlintas pikiran yang mengerikan di kepalaku. ”Bagaimana kalau Kyuhyun sakit?” ujarku pada diri sendiri. Akhir-akhir ini kesehatannya agak menurun.

Buru-buru ku angkat ponsel itu dan ku dekatkan ke telingaku.

”Yoboseo,” ujarku.

”Yeo…rum… Tolong cepat kemari.” Suara Kyuhyun terdengar sangat berat dan terputus-putus.

Seketika aku menjadi panik. ”Kyuhyun~a, kau kenapa? Apa dadamu sesak lagi?” tanyaku panik. Tapi tak ada jawaban dari seberang. Aku hanya mendengar tarikan napas yang sangat berat.

”Kyuhyun~a, bertahanlah. Aku segera ke sana,” ujarku langsung menutup telepon.

Tanpa pikir panjang ku raih tasku yang tergeletak di atas ranjang dan langsung berlari ke luar apartemenku. Tiba di pinggir jalan aku menyetop taksi yang melintas di depanku. Tapi tak ada yang mau berhenti dan memberikan tumpangan padaku. Akhirnya aku berlari ke halte bis terdekat. Beruntung sebuah bis jurusan ke arah dorm suju baru saja akan berangkat. Dan aku segera naik ke dalam bis.

Saat aku menyusuri lorong bangku di dalam bis, semua orang melihat ke arahku. Aku tak mempedulikan tatapan aneh mereka. Yang ada dalam pikiranku sekarang adalah bagaimana agar aku bisa segera sampai ke dorm suju dan melihat bagaimana keadaan Kyuhyun sekarang.

Akhirnya bis yang ku tumpangi berhenti di halte terdekat dorm suju. Aku segera turun dan aku langsung berlari di sepanjang trotoar. Halte itu cukup jauh dari dorm suju. Dan butuh sekitar 15 menit agar sampai ke sana. Aku tak menghiraukan tatapan aneh orang-orang yang berpapasan denganku. Aku juga tak menghiraukan rasa sesak yang menyeruak di dadaku. Keringatku mengalir deras bahkan di suhu yang hanya sekitar 10 oC yang menyelimuti kota Seoul sekarang. Untuk mengambil jarak tersingkat, aku memutuskan untuk melewati jalan di dalam taman yang ada di seberang dorm suju. Aku terus berusaha memacu langkahku secepat mungkin. Tapi tiba-tiba sebuah ranting tajam menusuk telapak kaki kiriku. Rasa sakitnya tak tertahankan. Aku berjongkok melihat keadaannya. Dan aku melihatnya berdarah. Ku cabut ranting yang menancap di sana. Baru saat itulah aku menyadari bahwa aku sama sekali tak memakai alas kaki. Tapi aku tak punya begitu banyak waktu untuk memikirkan semua itu. Kyuhyun membutuhkan pertolonganku. Kemudian aku langsung berlari lagi ke arah dorm.

Kini aku sampai di lobi dorm mewah itu. Aku langsung menuju ke elevator. Tapi ternyata elevatornya masih di lantai atas. Aku menunggu beberapa detik, elevator sialan itu tetap belum datang. Akhirnya aku memutuskan untuk lewat tangga darurat.

Sesampainya di lantai sebelas, tempat dorm suju berada, napasku tersengal-sengal. Sekuat tenaga aku memaksakan kakiku untuk tetap berlari. Akhirnya aku sampai di depan pintu kamar dorm suju. Ku tekan bel berkali-kali dengan tidak sabaran sampai akhirnya pintu itu terbuka.

”Yeorum-a, apa yang kau lakukan semalam ini di sini? Dan kenapa kau berantakan sekali?” tanya Eunhyuk oppa terheran-heran melihatku.

”Oppa, Kyuhyun mana?” tanyaku padanya dengan napas tersengal-sengal.

”Ada di kamarnya,” jawabnya bingung.

Aku langsung menerobos masuk ke dalam dorm, melewati ruang santai tempat di mana seluruh anak suju minus Kyuhyun masih berkumpul. Aku tak menghiraukan tatapan keheranan mereka. Aku terus berjalan lurus menuju kamar Kyuhyun.

”Kyuhyun~a…..” ujarku saat menerobos masuk ke kamarnya. Tapi betapa terkejutnya aku saat aku melihatnya dengan santainya sedang duduk manis di depan komputernya. Aku berjalan mendekatinya.

”Apa kau baik-baik saja?” tanyaku sambil menatapnya nanar.

”Apa aku terlihat seperti dalam keadaan tidak baik?” jawabnya santai.

”Ta-tapi…tadi di telepon…kau bilang….” ucapanku menggantung. Aku semakin tak mengerti apa sebenarnya yang sedang terjadi.

”Aaaah…itu. Tiba-tiba aku merasa lapar. Apa kau bisa memasakkan mie ramen untukku?” Dia masih bersikap santai, berlagak seperti tak terjadi apa-apa.

Aku terperangah mendengar jawabannya barusan. Aku mulai mengerti sekarang. Dia sedang mengerjaiku.

”KYUHYUN~A, KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN!!!” Aku berteriak marah sekali padanya. Sekarang dadaku benar-benar sesak karena ulahnya. Aku tak bisa berkata apa-apa lagi saking kesalnya. Akhirnya aku menumpahkan semua kekesalanku dengan menangis. Aku menangis sekencang-kencangnya hingga semua member suju yang lain terkejut dan menerobos masuk ke kamar Kyuhyun untuk melihat apa sebenarnya yang sedang terjadi.

”Apa yang terjadi?” tanya Leeteuk oppa heran.

Baik aku ataupun Kyuhyun tak menjawab pertanyaannya. Aku hanya terus saja menangis.

”Yeorum~a, jangan menangis seperti itu. Apa kau mau semua hyung ini mengira aku telah berbuat jahat padamu?” tanyanya tanpa rasa bersalah.

”KAU MEMANG JAHAT PADAKU!!!” teriakku sekuat-kuatnya. ”Apa yang ada dalam fikiranmu saat mempermainkanku? Apa kau tahu kalau aku berlari-lari seperti orang gila menuju kemari? Aku sampai lupa mengenakan sepatu saking cemasnya. Semua orang di jalan menatapku aneh. Tapi aku mengabaikan semua itu demi untuk segera sampai kemari dan menolongmu. Tapi apa…. kau hanya mempermainkanku. KAU BENAR-BENAR KETERLALUAN TUAN MUDA CHO KYUHYUN!!!” Aku terus menangis. Aku tak mempedulikan semua member yang coba membujukku sedangkan Heechul oppa sekarang sedang memarahi Kyuhyun karena ulahnya walaupun dia tak begitu mengerti dengan permasalahan di antara aku dan Kyuhyun.

Setelah beberapa lama menangis dan seluruh wajahku sudah sangat lengket karena air mata yang bercampur keringat, akhirnya aku beranjak dari tempatku. Para oppa juga sudah tak tahu lagi apa yang harus mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah ini dan mendamaikan kami. Kemudian aku pergi ke dapur. Memasakkan mie ramen untuk Kyuhyun. Sepanjang aku memasak, air mataku kembali mengalir kalau teringat kejadian barusan. Setelah masak, ku berikan mie ramen itu dengan kasar kepadanya tanpa bicara sepatah katapun. Kemudian aku duduk di sofa yang ada di seberangnya dan menolak menatap ke arahnya.

”Hei, hapus air matamu. Wajahmu kotor dan jorok sekali,” ujarnya sembari mengulurkan sapu tangannya padaku.

”APA PEDULIMU!!” bentakku. Aku segera berdiri dengan kasar dan bermaksud meninggalkan tempat itu ketika Kyuhyun bicara lagi padaku.

”Ya! Yeorum~a,” panggilnya

”ADA APA LAGI!!!” bentakku berbalik lagi kepadanya dan tanpa mempedulikan kasak-kusuk para oppa yang dari tadi menonton pertengkaran kami.

”Kemari!” perintahnya. Dalam posisi bersalah seperti ini saja dia masih bisa memerintahku seenak hatinya. Benar-benar menyebalkan.

“AKU TIDAK MAU MENDEKATI MAKHLUK MENYEBALKAN SEPERTIMU!!!” ujarku masih menggunakan volume suara di atas normal.

“Aishh…!!!” ujarnya, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan mendekatiku.

Tiba-tiba dia menggendong tubuhku. Sekuat tenaga aku berusaha untuk memberontak. Tapi dia tak menghiraukanku. Dia membawaku ke kamarnya dan mendudukkanku di atas tempat tidurnya. Kemudian dia pergi ke luar kamar lagi.

Aku mulai merasa waswas dengan sikapnya ini. Jangan-jangan dia mau mengerjaiku lebih parah lagi. Atau bahkan mungkin dia mau memperkosaku. Tidak… tidak…. aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Mana berani dia berbuat seperti itu di saat semua hyungnya ada di luar sana. Lagipula aku kenal betul kalau Kyuhyun tidak akan melakukan perbuatan hina itu bahkan kepada orang lain sekalipun. Apa lagi padaku.

Kyuhyun masuk lagi ke dalam kamar dengan membawa sebuah kotak putih. Dia duduk di pinggir tempat tidur dan menarik kaki kiriku ke arahnya.

Aku menepiskan tangannya dari kakiku dan menjauhkan kakiku darinya. ”Aishh… kalau tak diobati bisa infeksi,” ujarnya sambil kembali menarik kaki kiriku ke arahnya. Kemudian membersihkan lukaku dan mengobatinya.

”Sudah selesai,” ujarnya beberapa lama kemudian. Dia mengemasi isi kotak obat yang digunakannya untuk mengobatiku tadi dan meletakkannya di meja kecil di samping tempat tidurnya.

Aku baru mau bangkit dari tempat tidur saat dia langsung menahanku. ”Kau mau ke mana?” tanyanya.

”Aku mau pulang!” jawabku ketus.

”Malam ini kau tidur saja di sini. Aku akan pinjamkan kamarku untukmu. Atau kalau kau memaksa aku bisa mengantarmu pulang,” ujarnya lagi.

”Aku tidak mau tidur di kamarmu ataupun diantar pulang olehmu!” Aku membuang pandanganku darinya.

”Lalu kau mau apa?” tanyanya frustasi.

”Aku mau pulang ke apartemenku, tapi tidak denganmu. Aku bisa minta Kibum oppa mengantarku pulang kok.”

”Itu artinya kau akan menginap di sini malam ini….” ujarnya sembari memaksaku berbaring dan menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal yang hangat. ”….karena oppa kesayanganmu itu sekarang sedang tidak ada dan mungkin baru beberapa hari lagi dia akan pulang. Dia sedang ada syuting drama terbarunya di luar kota.”

Aku mencoba bangkit, tapi tangan Kyuhyun menahanku. ”Kalau kau berusaha bangkit lagi, aku bersumpah aku akan tidur di sampingmu dan memelukmu sampai pagi untuk menahanmu!” Kyuhyun mengancamku.

Aku langsung ketakutan mendengar ancamannya. Biasanya Kyuhyun bersungguh-sungguh kalau sudah mengancam. Akhirnya aku menarik selimut hingga menutupi kepalaku agar aku tak melihat wajahnya yang menyebalkan itu lagi.

To Be Continue….

SEVEN YEARS LOVE (Part 2)

Author              : Park Yeorum

FB                     : Bummie Viethree

Twitter             : @green_viethree

Email                 : bummie_viethree@yahoo.com

Yeorum POV

Flashback

Aku pertama kali mengenal Kyuhyun dan keluarganya sekitar tujuh tahun silam. Waktu itu aku baru berumur 16 tahun. Orang tua Kyuhyun adalah sahabat terdekat orang tuaku. Sejak orang tuaku meninggal aku harus meninggalkan tanah kelahiranku, Indonesia, untuk dititipkan kepada orang tua Kyuhyun. Keluarga mereka sangat baik padaku. Aku diperlakukan tidak bedanya seperti anak kandung.

Kyuhyun memang sudah seperti itu adanya sejak pertama aku mengenalnya. Ketus, dingin, dan ingin menang sendiri. Dia seperti punya dunianya sendiri. Jarang sekali memiliki teman. Tapi yang ku heran orang seperti dia mengapa bisa dieluh-eluhkan semua orang dimanapun dia berada. Ku akui dia cerdas dan sangat tampan. Tapi bagiku tak lebih dari itu. Hampir semua murid perempuan di sekolah kami menyukainya. Tapi bukan Kyuhyun namanya kalau tidak menaggapi mereka dengan dingin.

Awalnya aku sangat terganggu dengan sikapnya yang dingin dan ketus. Tapi lama kelamaan aku menjadi terbiasa. Aku tak mau cari masalah dengannya. Jadi ku hindari saja dia. Kalau tak benar-benar penting aku tak mau bicara padanya.

Sampai suatu hari sebuah kejadian mengubah segalanya. Saat itu aku mau menyeberang jalan. Tapi tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahku. Seketika aku jadi mati langkah. Aku tak beranjak dari tempatku berdiri. Sementara mobil yang lepas kendali itu tinggal beberapa meter di depanku. Kyuhyun yang melihat kejadian itu langsung berlari ke arahku dan mendorong tubuhku ke tepi jalan. Tapi malang, dia tak sempat menyelamatkan dirinya sendiri sehingga bagian depan mobil itu menghantam tubuhnya sebelum sang pengemudi berhasil mengerem. Dengan mataku sendiri aku melihat tubuh Kyuhyun terlempar beberapa meter sebelum mendarat keras di aspal. Aku langsung berlari mendekatinya. Aku melihat darah segar mengalir dari kepalanya. Setelah itu aku menangis histeris sambil memeluk tubuhnya.

Karena kecelakaan mengerikan itu, Kyuhyun mengalami koma selama sepuluh hari. Aku sangat merasa bersalah padanya. Karena untuk menyelamatkanku dia harus mengalami semua ini. Aku tak mau beranjak sedikitpun dari sisinya.

Setelah sepuluh hari Kyuhyun baru siuman. Tapi masalah baru muncul. Kyuhyun kesulitan bernapas. Kata dokter ini disebabkan karena Kyuhyun menderita pneumothorax sejak kecil dan kondisinya semakin diperparah dengan kecelakaan yang dialaminya.

Akhirnya tim dokter memutuskan untuk memasang sebuah pipa kecil ke saluran pernapasannya dengan jalan operasi untuk membantunya bernapas. Untunglah operasi ini berhasil. Tapi dokter mengingatkankan kami bahwa kondisi ini akan mempengaruhi Kyuhyun seumur hidupnya. Di saat-saat tertentu apabila terlalu lelah dan melakukan aktivitas yang terlalu berat dapat membuatnya kesulitan bernapas. Karena itu Kyuhyun akan selalu tergantung kepada alat bantu pernapasan.

Setelah hampir dua bulan di rawat di rumah sakit, Kyuhyun akhirnya diperbolehkan pulang. Sejak saat itu aku selalu membuntutinya kemanapun dia pergi. Aku juga menyiapkan semua yang dibutuhkannya. Aku mengingatkannya untuk minum obat, makan, bahkan minum susu.

Pada awalnya dia merasa sangat terganggu dengan ulahku dan dia semakin sering marah-marah padaku. Tapi aku tak menghiraukannya. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri kalau aku akan selalu menjaganya. Gara-gara kecelakaan itu aku seperti punya keterikatan padanya.

Karena aku tak pernah menuruti perintahnya untuk menjauh darinya, akhirnya Kyuhyun memilih diam dan membiarkanku membuntuti ke mana pun dia pergi. Aku tahu bukan karena dia menyukaiku. Dia hanya merasa terbiasa dengan kehadiranku.

Aku pun menjadi sangat terbiasa selalu berada di sisinya. Semakin aku mengenalnya, semakin aku menemukan sisi lain di dalam dirinya. Di balik sikapnya yang dingin dan ketus itu tersimpan sebuah pribadi yang mengagumkan. Dia tidak akan pernah bisa berpangku tangan apabila orang-orang yang ada di sekelilingnya mengalami kesulitan. Dia pernah memberikan semua uang jajannya kepada seorang anak penjual permen di jalanan lantaran anak tersebut tidak menggunakan alas kaki. Dan walaupun dia terlihat sangat manja, tapi dia sangat mencintai keluarganya, terutama ibunya. Kyuhyun takkan pernah bisa menolak permintaan ibunya. Dulu, sehabis kecelakaan, Kyuhyun diharuskan mengikuti terapi agar dia dapat berjalan dengan normal lagi. Karena terapi itu sangat menyakitkan, Kyuhyun paling tak suka menjalankannya. Berbagai macam cara sudah dilakukan untuk membujuknya agar mengikuti terapi itu, tapi semuanya percuma. Sampai akhirnya Cho ahjumma hanya bisa menangis saking frustasinya. Tak disangka, Kyuhyun langsung mengatakan ya saat malihat air mata ibunya. Mungkin hal inilah yang membuatku jatuh cinta padanya.

Waktu kelas 3 SMA, secara mengejutkan Kyuhyun menerima cinta salah seorang siswi di sekolah kami. Namanya Kim Tae Hae. Dia siswi tercantik di sekolah kami. Waktu itu Tae Hae lah yang nembak Kyuhyun duluan.

Itu pertama kalinya aku merasa patah hati. Terus terang aku sangat cemburu dengannya. Dia berani mengungkapkan perasaannya dan Kyuhyun menerimanya. Suatu hal yang tak mungkin terjadi pada diriku.

Inilah sulitnya menjadi orang Indonesia. Bundaku mengajarkanku untuk tidak bersikap agresif pada seorang laki-laki. Kata bunda, itu tidak baik. Bukan budaya orang timur. Laki-laki harus mengatakan perasaan mereka terlebih dahulu. Sungguh hal yang tak mungkin terjadi pada seorang Cho Kyuhyun yang angkuh dan sombong.

Lambat laun aku bisa mengikhlaskan kebersamaan mereka. Ada dua alasan sebenarnya. Yang pertama, ku lihat Kyuhyun bahagia bersamanya. Dan yang kedua, Tae Hae adalah gadis yang sangat baik. Jadi kupikir dia sangat layak untuk bersama Kyuhyun.

Tapi kebahagiaan Kyuhyun hanya bertahan selama beberapa bulan. Setelah itu, tanpa sebab dan kabar, Tae Hae menghilang begitu saja. Kyuhyun mencoba mencari ke rumahnya, tapi ternyata keluarganya juga pindah. Itu kali pertama aku melihat Kyuhyun sangat marah. Dia melemparkan semua perabotan yang ada di kamarnya. Membuat semua orang di rumah sangat khawatir karenanya.

Kyuhyun memang pemarah. Tapi dia tak pernah bersikap seperti itu selama ini. Biasanya kalau dia marah dia hanya akan bicara ketus dan kemudian dia akan mendiamkan semua orang dengan memasang wajah dinginnya. Aku bisa merasakan dia sangat terluka saat itu.

Butuh waktu lama bagi Kyuhyun untuk bersikap seperti biasa lagi sejak kejadian itu. Walaupun dia tak pernah mengungkitnya lagi, tapi aku tahu dia tak pernah melupakannya.

End of flashback…

******

“Hei, apa yang sedang kau lamunkan?” tiba-tiba jentikan jari seseorang membuyarkan lamunanku.

“Donghae oppa,” ujarku terkejut. “Apa acaranya sudah selesai?”

“Tuh kan, kau ngelamun.” Aku hanya nyengir menanggapi ucapannya.

“Kyuhyun mana, oppa?” tanyaku padanya.

“Ck ck ck… Yang ada di otakmu memang cuma Kyuhyun seorang,” jawabnya keheranan sambil mengeleng-gelengkan kepala.

“Kau sepertinya benar-benar jatuh cinta padanya ya?” ujar Donghae oppa membuatku kaget setengah mati.

“Oppa ngomong apa sih?” jawabku gugup. “Aku cuma tak mau dia marah-marah padaku lagi.”

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan untuk menghindari tatapan jahil Donghae oppa. Akhirnya aku menemukan sosok Kyuhyun sedang terduduk lemas di sebuah sofa di sudut ruangan. Aku langsung berpamitan kepada Donghae oppa dan pergi menghampiri Kyuhyun.

Betapa terkejutnya aku saat sudah berada di dekatnya dan dapat melihat wajahnya dengan jelas. Wajahnya tampak pucat.

“Kyuhyun~a, kau kenapa? Mengapa wajahmu pucat? Apa napasmu sesak lagi?” tanyaku panik.

“Aniyo,” ujarnya sambil menepiskan tanganku yang sedang meraba keningnya, memeriksa apakah dia demam. “Aku hanya kelaparan!”

“MWO!” ujarku terkejut. “Bagaimana bisa kau kelaparan? Apa kau tidak sarapan tadi pagi?”

“Kyu tidak makan atau minum apapun sejak tadi pagi,” Donghae oppa yang menjawab pertanyaanku. “Aku sudah berusaha memaksanya. Tapi sepertinya hanya kau satu-satunya orang yang bisa memaksanya. Usahaku gagal total.”

“Aishh…kau ini! Seharusnya kau tak berbuat begitu. Kau kan tahu sendiri dengan kondisi tubuhmu. Kau mau membuatku mati ketakutan ya?” omelku kesal sekaligus prihatin padanya.

“Kau tunggu di sini dulu. Aku akan membelikan makanan untukmu,” ujarku lagi dan segera berlari ke luar untuk membeli makanan untuknya.

Tak berapa lama aku kembali dengan dua bungkusan besar di kedua tanganku. Kibum oppa yang melihatku kerepotan membawanya, langsung membantuku.

“Aku tak jadi membelinya. Ternyata produser acara ini menyiapkan makan siang untuk kalian. Waktu aku ke luar tadi makanannya baru saja datang. Sebaiknya kalian segera makan. Sudah waktunya makan siang,” ujarku sambil meletakkan bungkusan di atas meja. Aku mengambil satu kotak dan memberikannya pada Kyuhyun.

“Ayo dimakan!” perintahku padanya. “Awas kalau kau sampai bertingkah seperti ini lagi!”

“Heh, kalau kau terus ngomel seperti itu, kau bisa membuat nafsu makanku hilang,” hardiknya.

“Ck ck ck. Dalam keadaan kelaparan seperti ini saja kau bisa tetap memiliki energi sebesar itu untuk marah-marah. Penyakitmu sudah benar-benar akut,” sindirku.

“Arasseo! Arasseo! Aku diam!” lanjutku kemudian saat dia melotot padaku dan hendak meletakkan makanannya kembali di atas meja.

“Benar-benar kekanak-kanakan,” omelku pelan. Kyuhyun menatapku tajam. “Oke, makanlah!” ujarku lagi sambil menjauh darinya dan duduk di sebelah Kibum oppa.

“Kau juga makan. Oppa tak mau adik kesayangan oppa ikut sakit.” Kibum oppa menyodorkan sekotak makanan kepadaku.

“Gomawo oppa,” ujarku tersenyum manis padanya dan mengambil makanan yang diberikannya padaku.

Seusai makan siang kami segera meluncur ke lokasi kegiatan berikutnya, pemotretan untuk sebuah majalah terbesar dari Cina sekaligus wawancara eksklusif.

Setelah pemotretan dan wawancara, Super Junior M yang terdiri dari Hangeng oppa, Donghae oppa, Ryewook oppa, Shiwon oppa, Kyuhyun, Zhou mi, dan Henry melanjutkan mengisi acara pembukaan sebuah hotel berbintang lima di kota Seoul. Sementara member yang lain juga pergi ke tempat aktivitas mereka masing-masing.

Acara pembukaan hotel itu baru selesai jam 11 malam. Dan kami baru tiba di dorm suju sekitar jam 12 malam.

Karena sangat kelelahan dan sempat kelaparan tadi siang, Kyu jadi muntah-muntah. Aku sangat panik dibuatnya. Aku memberinya obat penghilang rasa mual. Setelah satu jam barulah dia dapat tertidur.

“Apa dia sudah baikan?” tanya Donghae oppa saat aku ke luar dari kamar Kyuhyun.

“Sudah mendingan. Setidaknya dia sudah bisa tidur,” jawabku sambil duduk di samping Donghae oppa.

“Tadi pagi dia sangat panik karena kau datang terlambat. Dia sangat mengkhawatirkanmu. Dia pikir kau sakit. Berkali-kali dia mencoba menghubungimu, tapi ponselmu tidak aktif. Waktu kau tiba tadi pagi, dia baru saja mau menyusul ke apartemenmu.”

Aku terkejut sekaligus terharu mendengar cerita Donghae oppa. Ternyata dia tidak sarapan karena mencemaskanku. Ada rasa bersalah menyelip di hatiku. Aku terus mengomelinya sepanjang hari karena mengira dia sedang berulah padaku.

“Sebaiknya kau pulang sekarang. Sudah jam satu malam. Istirahatlah yang cukup malam ini. Besok kau bisa datang agak siang. Kita cuma ada jadwal latihan besok. Jadi bisa sedikit agak santai.”

“Tak perlu mengkhawatirkan Kyuhyun. Aku akan menjaganya untukmu,” tambahnya lagi saat melihat keraguan di wajahku.

“Baiklah oppa, aku pulang dulu.” Aku beranjak dari dudukku dan meraih tasku yang tergeletak di atas meja.

“Kalau kau mau, aku bisa mengantarkanmu dengan mobilku?” dia tersenyum jahil kepadaku.

“Terima kasih oppa. Sepertinya aku akan lebih aman kalau naik bis daripada diantar oppa,” ujarku, balas tersenyum padanya. Reputasi Donghae oppa dalam hal menyetir mobil sangat buruk. Selain memang tak begitu pandai menyetir ditambah dengan gaya menyetirnya yang suka seenaknya. Dulu dia dan Eunhyuk oppa pernah hampir mengalami kecelakaan karena ulahnya. Dan sejak kejadian itu tak seorangpun mau menaiki mobil yang dikendarainya, kecuali kalau orang itu memang sudah bosan hidup.

******

Aku benar-benar tak bisa tidur nyenyak. Bayangan wajah Kyuhyun yang pucat dan muntah-muntah tadi malam terus menghantuiku. Aku sangat mengkhawatirkan kondisinya. Karena itu hari ini pagi-pagi sekali aku sudah tiba di depan pintu dorm suju.

Ku tekan bel berkali-kali dengan tidak sabaran, tapi tak ada yang membukakan pintu untukku. Mereka pasti masih tidur, pikirku. Setelah hampir sepuluh menit, barulah ada yang membukakan pintu untukku.

Heechul oppa muncul di ambang pintu dengan tampang sangat kusut dan mata masih mengantuk.

“Ini kan baru jam setengah tujuh pagi. Mengapa kau datang sepagi ini? Bukankah jadwal latihannya hari ini jam 11 siang nanti?” ujarnya saat aku melewatinya.

“Tadi malam Kyuhyun muntah-muntah, oppa. Aku mau melihat keadaannya,” ujarku tanpa menghentikan langkahku.

Aku langsung menuju ke kamar Kyuhyun.  Ternyata dia masih tertidur pulas. Sepertinya dia lelah sekali. Ku dekati dia perlahan. Berusaha sebisa mungkin agar tak membuat suara berisik. Ku perhatikan wajahnya lekat-lekat. Sepertinya sudah membaik, pikirku. Hatiku jadi tenang karenanya. Kemudian aku keluar dari kamarnya.

Di luar kamar aku mendapati Heechul oppa tertidur kembali di sofa. Ku biarkan saja dia, sepertinya dia juga sangat lelah. Kemudian aku beranjak ke dapur. Aku bermaksud membuatkan bubur untuk Kyuhyun dan tak lupa sarapan pagi untuk member lainnya.

Tak lama kemudian aku bisa mendengar para member mulai bangun. Seketika dorm menjadi ramai dengan aktivitas pagi mereka.

“Hei Yeorum~a, pagi sekali kau datang?” ujar Kibum oppa terkejut dengan keberadaanku sepagi ini di dorm mereka.

“Pagi oppa,” sapaku ceria.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya mengamati kesibukanku.

“Aku sedang membuatkan sandwich untuk kalian,” jawabku masih berkutat dengan kesibukanku.

“Wah…kalau begitu aku harus segera mandi nih. Aku tak mau ketinggalan sarapan istimewa hari ini,” ujarnya, kemudian segera berbalik ke kamarnya untuk mandi.

Akhirnya pekerjaanku selesai. Aku langsung membawa sandwich buatanku ke ruang santai. Semua member sudah berkumpul di sana. Termasuk Kyuhyun. Dia duduk di sofa. Sepertinya baru saja bangun.

Sorak-sorai langsung menyambutku saat aku meletakkan nampan yang berisi sarapan untuk mereka. “Wah…pagi ini kita sarapan ala bule,” ujar Shindong oppa langsung mencomot jatah sandwich-nya dan diikuti oleh member yang lain.

“Kau belum mencuci mukamu ya?” ujarku pada Kyuhyun. “Aishhh…. Kau ini jorok sekali. Cuci muka sana! Setelah itu baru sarapan.”

Sedikit mengejutkan, kali ini dia tak membantah sedikitpun. Dia langsung beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi.

Sementara itu aku kembali ke dapur untuk menyiapkan bubur yang kumasak untuknya dan mengambilkan susu untuk semua member.

Saat aku kembali ke ruang santai, Kyuhyun sudah berada di sana lagi. Ku tuangkan susu ke dalam gelas dan ku ambil segelas untuk Kyuhyun. Kemudian ku berikan padanya bersama bubur yang ku buat tadi.

“Kenapa kau memberiku bubur?” protesnya. “Yang lain kan makan sandwich. Kalau begitu aku juga mau sandwich.”

“Apa kau lupa kalau tadi malam kau muntah-muntah? Kau harus makan bubur. Lagian kau yakin mau makan sandwich? Sejak kapan kau suka sayuran?” ujarku kesal.

Setelah aku menyebut-nyebut sayuran, Kyuhyun langsung berhenti protes dan dia mulai memakan bubur yang ku berikan padanya. “Dasar!” omelku pelan. Sementara member yang lain hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuannya.

“Apa perutmu masih mual?” tanyaku saat dia selasai makan. “Kalau masih mual, sebaiknya kau minum obat penghilang rasa mual lagi.”

“Perutku baik-baik saja,” ujarnya Sambil mengalihkan tatapannya dariku.

“Kau tidak sedang berbohong padaku kan?” selidikku sambil memaksanya untuk kembali menatapku.

“Aishh….kau ini, tidak percaya sekali kepadaku. Kalau ku bilang baik-baik saja, ya baik-baik saja!” Sifat garangnya muncul lagi.

“Ku rasa juga begitu. Kau memang benar-benar sudah baikan. Lihatlah sifat burukmu itu sudah muncul lagi,” sindirku.

To Be Continue…..

SEVEN YEARS LOVE (Part 1)

Author              : Park Yeorum

FB                   : Bummie Viethree

Twitter             : @green_viethree

Email   : bummie_viethree@yahoo.com

Note                            : FF ini punya arti yang cukup mendalam bagiku dimana saat aku menuliskan karakter Kyuhyun, aku seperti menuliskan karakterku sendiri. Selamat membaca …..^_^

 

 

Yeorum POV….

 

Aku berlari menuju dorm Super Junior. Aku terlambat! Hari ini Super Junior diundang dalam acara talk show di SBS TV. Dan karena tadi malam aku baru pulang ke apartemenku sekitar jam dua pagi, aku jadi bangun kesiangan.

“Ya Tuhan tolong selamatkan aku dari amukan macan,” aku bicara sendiri.

Akhirnya elevator yang ku naiki sampai di lantai 11. Ketika pintu lift terbuka secara otomatis, aku langsung disambut dengan dinding dorm yang penuh dengan coretan para fans mereka.

Aku berjalan menyusuri lorong sekitar lima menit lamanya hingga akhirnya aku tiba di depan pintu kamar dorm suju. Ku tekan belnya dan tak berapa lama pintu pun terbuka.

Kyuhyun berdiri di ambang pintu. Dari ekspresinya aku tahu kalau dia sedang marah.

“Kau dari mana saja?” hardiknya kemudian.

“Mianhae,” ujarku sambil melewatinya dan buru-buru masuk ke dalam dorm.

Di dalam seluruh member yang lain sudah siap untuk berangkat. “Mianhae,” ujarku sambil membungkukkan badan sebagai tanda permohonan maafku pada mereka.

“Sudahlah, tidak apa-apa. Kita masih keburu kok,” ujar Leeteuk oppa menenangkanku.

Aku meninggalkan mereka dan langsung menuju ke kamar Kyuhyun dengan dia masih mengikutiku dari belakang sambil marah-marah.

“Seharusnya kau datang lebih pagi agar semua orang tidak harus menunggumu,” omelnya di belakangku. Sementara aku sibuk memasukkan barang-barang keperluannya ke dalam tas.

“Aku kan sudah bilang mianhae. Apa itu tak cukup untuk membuatmu berhenti marah-marah?” ujarku mulai kesal. Tujuh tahun bersamanya, dia sama sekali tak berubah. Suka marah-marah dan bicara ketus. Aku juga tak mengerti kenapa aku mau saja waktu Cho ahjumma dan adjussi memintaku untuk menjadi asisten pribadinya.

“Bagaimana bisa kau memintaku berhenti marah-marah? Kau sudah membuat semua orang terlambat,” omelnya lagi.

Sekarang aku benar-benar kesal padanya. Ku balikkan tubuhku ke arahnya. Dan ku tatap dia dengan garang. “Kau pikir ini sepenuhnya salahku? Seharusnya kau bisa membereskan barang-barangmu sendiri. Tak perlu menungguku kan? Seharusnya kau tahu keperluan pribadimu sendiri. Tak perlu selalu aku yang menyiapkannya untukmu. Aku ini asisten pribadi, bukan baby sitter!” aku berteriak kepadanya.

“MWO!!” ujarnya gusar. “Kau pikir aku bayi?”

“Ya! Kau tak ubahnya seperti bayi. Bayi macan yang siap menerkam siapa saja. ARASSEO!!!” Aku benar-benar tak mau mengalah lagi padanya.

Kyuhyun baru saja mau membalas ucapanku ketika Leeteuk oppa masuk.

“Hei, kalian mau bertengkar sampai kapan? Kalau begini, kita benar-benar akan terlambat,” ujarnya melerai pertengkaran kami. Kemudian dia bicara padaku. “Apa sudah siap?” Dan aku hanya mengangguk. “Kalau begitu ayo berangkat,” ujarnya lagi sembari ke luar kamar. Aku mengikutinya dari belakang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kyuhyun. Aku sangat kesal padanya.

Sepanjang perjalanan Kyuhyun tak mau bicara padaku. Aku pun tak mempedulikan sikapnya. Dia memang selalu seperti itu kalau sedang marah padaku. Nanti juga dia akan menyerah kalau dia membutuhkan sesuatu.

Akhirnya kami sampai di SBS TV. Kami langsung menuju ruang ganti yang khusus disediakan untuk para member suju.

Aku membiarkan Kyuhyun menyiapkan dirinya sendiri. Aku mau lihat sampai berapa lama dia bisa bertahan tanpa bantuanku.

Aku menyibukkan diriku untuk membantu member yang lain. Daripada tak ada kerjaan, pikirku.

“Kenapa kau tak membantu Kyuhyun?” tanya Kibum oppa saat aku sedang membantunya memasangkan dasi.

“Coba kau lihat, dia kerepotan dengan dasinya. Sepertinya dia tidak akan bisa menyelesaikannya sendiri?” tambah Kibum oppa lagi.

“Biar saja oppa!” jawabku cuek. “Dia sedang ngambek padaku. Seperti anak kecil saja. Aku tak mau bicara padanya sebelum dia yang bicara duluan padaku.”

“Tumben?” Kibum oppa mengerutkan keningnya. “Biasanya kau paling tak tahan melihat dia kerepotan seperti itu.”

“Aku mau memberikan pelajaran padanya. Dia setiap hari merepotkanku. Aku selalu bekerja dengan baik kok. Sesekali melakukan kesalahan itu manusiawi. Tapi dia malah langsung marah-marah. Padahal selama ini aku selalu bersabar menghadapi sikapnya yang ketus dan mau menang sendiri itu,” ujarku kesal.

“Ya sudah, terserah kau saja,” ujar Kibum oppa sambil mengacak-acak rambutku.

“YA, YEORUM~A! APA YANG KAU LAKUKAN DI SANA? CEPAT KEMARI! BANTU AKU!” tiba-tiba suara Kyuhyun berteriak dari seberang ruangan. Aku memandang kesal ke arahnya sejenak dan kemudian kembali menghadap ke arah Kibum oppa.

“Sudah ku bilang kan, oppa. Dia tidak akan tahan lama mendiamkanku. Dasar manusia egois! Pura-pura tak butuh padahal butuh,” ujarku sembari menyelesaikan memasang dasi Kibum oppa.

“Sudah pergi sana!” perintah Kibum oppa padaku. “Jangan sampai dia semakin marah padamu.”

Aku meninggalkan Kibum oppa dan menghampiri Kyuhyun. “Ada perlu apa?” tanyaku ketus.

“Pasangkan dasiku!” perintahnya.

“Untuk apa aku membantu orang yang sedang marah padaku?” jawabku angkuh dan bersiap-siap untuk pergi dari tempat itu.

“Arasseo! Arasseo!” ujarnya tiba-tiba. “Aku tidak marah lagi padamu.”

Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kemudian buru-buru ku hapus senyum di wajahku agar dia tak melihatnya dan berbalik menghadapnya lagi dengan ekspresi datar.

“Tapi sepertinya, bukan seperti itu caranya minta bantuan pada orang lain?” Keinginan jahilku muncul. Aku mengambil kesempatan ini untuk membuatnya memohon kepadaku. Jarang-jarang aku mendapatkan kesempatan emas untuk mengerjainya.

“Arasseo! Arasseo! Yeorum~a tolong pakaikan dasiku,” ujarnya dengan manis.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya meminta tolong dengan sopan padaku. Ini benar-benar sangat jarang terjadi.

“Waeeee!!!” tanyanya tak suka.

“Kau seperti orang yang sedang kerasukan kalau bersikap manis seperti itu,” ujarku masih tertawa.

“Aku lakukan sendiri saja!” ujarnya kembali ngambek dan mau melangkah pergi.

Aku buru-buru menarik lengannya. “Sudahlah, biar aku membantumu. Kalau menunggumu menyelesaikannya sendiri, bisa-bisa suju tak jadi manggung,” ujarku seraya mulai memasangkan dasinya. Aku masih menahan senyum melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan sementara dia membuang muka dariku.

Akhirnya acara pun dimulai. Dibuka oleh penampilan suju yang menyanyikan lagu sorry-sorry. Aku menonton mereka dari belakang panggung. Mereka memang mengagumkan. Begitu kompak, sangat menghibur, dan penuh kasih baik pada semua fans mereka maupun di antara mereka sendiri. Bagiku mereka benar-benar ’miracle’.

Kemudian acara dilanjutkan dengan talk show. MC yang memandu acara itu mengajukan begitu banyak pertanyaan kepada semua member. Mulai dari yang sifatnya sangat umum sampai ke yang bersifat pribadi. Semua member yang lain menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh MC kecuali Kibum oppa. Dia hanya mau menjawab pertanyaan yang bersifat umum saja, sisanya dia hanya bungkam. Aku sangat mengenal oppa kesayanganku ini. Dia memang sangat sedikit bicara. Dan dia paling tidak suka kalau ditanya-tanya tentang masalah pribadi. Tak ada yang bisa membuatnya buka mulut kalau dia tak mau melakukannya. Tapi dia adalah orang yang sangat baik.

Sekarang tiba saatnya MC menanyakan tentang kehidupan cinta semua member. Mereka semua menjawabnya dengan malu-malu. Tapi di luar dugaan, tak seperti biasanya, Kibum oppa mau menjawab pertanyaan itu. Dia mengaku bahwa waktu SMA dulu dia pernah mengencani wanita yang sembilan tahun lebih tua darinya. Dan katanya saat itu dia berbohong tentang umurnya yang sebenarnya.

Aku sangat kaget dengan pengakuan Kibum oppa. Oh tidak….ternyata oppaku yang alim ini juga pernah berbuat nakal.

Sekarang giliran Kyuhyun yang menjawab. Seperti biasa dia menjawab dengan ekspresi datar. “Aku pernah jatuh cinta sekali sewaktu masih SMA,” jawabnya. “Dan aku rasa takkan ada yang kedua kalinya.”

Aku tahu persis siapa orang yang dimaksudnya. Satu-satunya orang yang berhasil membuatnya jatuh cinta hanyalah Kim Tae Hae.

To Be Continue…