Dark Not Always Black (Part 2)

Author: Queen bee

Donghae POV

Dia tak mengenaliku. Tentu saja, aku juga sudah jauh berubah. Jambang lebat yang tumbuh di wajahku menyamarkan siapa aku. Lama kami saling bertatapan, sampai…

Oppa…”

Oppa…???”

Oppa, benarkah kau itu oppa?” Tanyanya.

Akhirnya Yeorum menyadari siapa aku. Seketika itu dia segera berlari keluar pintu, menubruk lalu memelukku erat.

Oppa…bogo sippo…oppaaaaaaa…” Tangisnya pecah.

“Yeorum-a, bogo sippo. Oppa juga sangat merindukanmu. Jal jinaeso?” Walau tangisku tak bersuara, tapi air mata kerinduan ini juga telah membasahi rambut Yeorum yang kini telah tumbuh panjang, hitam, dan lebat.

“Yeorum-a, weire?” Keributan kecil kami terdengar oleh seseorang.

Tak ada jawaban.

Nuguya?” Tanya suara barusan.

“Donghae Oppa, eonni…Donghae Oppa.”

Aku menatap rupa gadis yang tadi kulihat. Dia tidak lagi bertambah tinggi, seragam putih dan topi khas seorang koki menutupi rambutnya. Tangannya masih memegang spet penghias kue dan di pipinya ada bubuk putih seperti tepung.

“Donghae-ya? Lee Donghae?” Dia berdiri mematung menatapku, ah….buliran-buliran air mata juga jatuh di pipinya. Itu Gaul. Aku bahagia sekali, orang-orang yang kucintai masih mengingat bahkan sangat merindukanku. Oh Tuhan sungguh hanya KAU yang tahu segalanya.

 

 

☺☺☺☺☺

Tok…tok…

Oppa……..Oppa……”

Tak ada jawaban.

Oppa….Donghae OppaIrona…!” Kudengar suara Yeorum dari balik pintu.

Oppaaaa….irona, buka pintu.” Rengeknya.

“Mm….ne arasseo.” Aku menggeliat sambil mengusap-usap mataku, lalu berjalan ke arah pintu.

Oppa, ayo mandi, sarapan sudah siap. Aku dan Gaeul Eonni menunggumu di bawah, setelah itu kita pergi bersama ya?”

Mwo? Eodiga?” Tanyaku.

Bimirul?” Balasnya sambil mengedipkan mata.

Wae?”

Oppa akan tahu nanti, cepatlah mandi, nanti kita terlambat.”

“Katakan dulu pada oppa, kita akan kemana.”

“Ah….tidak seru kalau oppa tahu sekarang. Palli wa oppaaaa, baegophayo!” Yeorum merajuk lagi. Dia masih belum berubah, sifat manja dan keras kepalanya masih sama. Aku tertawa sendiri dalam hati.

Setelah sarapan kami menuju halte terdekat, untunglah tidak ketinggalan bis. Gaeul duduk paling tepi di dekat jendela. Angin memainkan poni lurusnya, sementara kedua tangannya menggenggam keranjang bekal makan siang. Yeorum duduk sambil mengaitkan lengannya pada kami berdua. Dia terlihat sangat bahagia.

‘’Yeorum-a, malhaebwa, kita akan peri kemana?” Tanyaku masih penasaran.

“Mmm….ke sebuah tempat yang selalu ingin aku kunjungi bersama oppa.”

Eodie?”

Oppa cerewet, sebentar lagi oppa akan tahu. Arachi?” Bentaknya pura-pura marah padaku.

“Aisss….jincayo, aku hanya punya satu adik tapi galaknya sama dengan ibuku.” Balasku sambil memukul pelan keningnya.

“Aw….apho oppa?”

Jincayo?” Tanyaku sedikit cemas, kupikir aku telah menyakitinya.

Gojitmal, hehehe.” Dia menipuku.

Aku tersenyum melihat tingkahnya. Dia masih saja Yeorumku yang lucu. Kupeluk erat tubuh yang selama tiga tahun ini mengusik keinduanku. Yeorum adikku tersayang.

“Yeorum-a, saranghaeOppa tak tahu apa oppa masih bisa hidup, bila tak bisa melihatmu lagi. Oppa sangat merindukamu.” Ku pererat pelukanku.

Na doo saranghae oppa. Jangan tinggalkan aku dan Gaeul Eonni lagi.” Bisiknya.

Aku mengagguk, walau aku tahu itu masih belum mungkin akan terwujud dalam waktu dekat ini. Masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Kuharap semua segera berakhir.

Dari sudut mataku, aku bisa melihat Gaeul sedang mengusap air mata di wajah ayunya.

Tak lama bis berhenti, kami pun turun. Aku mengambil keranjang makanan yang di bawa Gaeul. Hmm…tempat apa ini?

Sebuah desa yang berada di tepi pantai. Desa nelayan kecil yang cukup jauh dari kota. Tempat ini mengingatkanku pada rumah kami juga eomma dan appa kami. Tak terasa setetes butiran bening membasahi pipiku.

Yeorum tak begitu saja membawaku ke tempat tujuannya. Dia memaksaku masuk ke sebuah barber shop, untuk merubah penampilanku. Sementara aku memotong rambut, mereka berdua berbelanja di toko sebelahnya. Dasar, wanita memang suka belanja!

Hanya memakan waktu 30 menit untuk membuang semua rambut liar tak terurus yang melekat di kepalaku. Akupun telah berubah.

Oppa, pakai ini!” Yeorum masuk sambil menyodorkan sebuah bungkusan.

Igossi mwoyeyo?” Tanyaku kembali.

Sonmul!”

Sonmul? Untuk apa?”

“Bukan untuk apa-apa. Pakailah oppa, kami ingin melihatmu.” Katanya lagi.

Mereka berdua memang kompak. Aku membuka bungkusan itu, ternyata satu stel pakaian. Saat keluar dari ruang ganti, keduanya tersenyum geli melihatku.

WaeyoIsanghae?” Tanyaku bingung.

Ani…charandaHandsomeoppa kau cocok sekali dengan pakaian itu. Selera Gaeul Eonni memang ok!” Ujar Yeorum sambil mengancungkan jempol. Yang di puji hanya tersipu-sipu malu.

“Itu hadiah dari Gaeul Eonni.” Tambah Yeorum lagi.

“Untuk apa?” Tanyaku pada Gaeul tak mengerti.

“Untuk kesediaanmu pulang kembali bersama kami.” Ujarnya.

Aku tak bisa berkata-kata. Ku tatap matanya dalam, ada ketulusan yang amat sangat terbaca di sana. Dia gadis yang istimewa, teristimewa di hatiku.

Oppa, eonni, gaja…” Yeorum membuyarkan lamunanku.

Kami (aku dan Gaeul) berjalan beriringan, sementara Yeorum mendahului beberapa langkah di depan .

“Kami selalu kemari bila Yeorum merindukan eomma, appa dan kau Donghae-ya.” Gaeul membuka pembicaraan.

Aku menatap Gaeul diam.

“Di awal kepergianmu, setiap malam dia selalu menangis di balik bantal. Aku tak tahu cara membujuknya. Suatu hari Yeorum memintaku mengantarnya kembali ke rumah kalian, Yeorum pikir kau kembali ke sana. Sayangnya aku tak tahu dimana kampung halaman kalian. Lagipula perjalanan ke sana sangat jauh dan aku tak mungkin meninggalkan pekerjaanku. Hingga suatu hari aku teringat seorang teman yang dulu pernah tinggal di desa ini, karena itu aku mengajak Yeorum kemari.”

“Pasti ini semua sulit bagimu?” Tanyaku merasa bersalah.

Ani, bukankah dulu sudah pernah kukatakan, bagiku Yeorum sudah seperti adikku. Aku akan berusaha membahagiakannya semampuku seperti janjku padamu.” Gaeul tersenyum padaku.

Gomawo Gaeul-a.” Balasku.

Oppa, eonni palli wa…..!!!” Teriak Gaeul yang sudah berdiri di atas sebuah batu karang terbesar diantara susunan karang di sana.

Arassooooo!!!!” Balasku sambil sedikt berlari meninggalkan Gaeul beberapa langkah.

Eonniiiii, palli waaaa!” Teriak Yeorum lagi.

Ne,arasseooo!” Gaeul sedikit berteriak.

Aku berhenti sesaat. Ku putar pandanganku menatap gadis yang selama ini telah menjaga adikku. Pipiku serasa terbakar, aku benar-benar telah jatuh hati. Kuhulurkan tanganku padanya. Dia tersenyum ragu, lalu menggandeng tanganku. Kamipun berlari-lari kecil bersama.

Laut biru menjadi hiasan mata kami. Tiga kapal besar  yang hanya berupa titik-titik kecil terlihat di kejauahan. Sementara perahu-perahu nelayan yang telah menepi berjejer di pinggir pantai. Para pedagang ikan mulai tawar-menawar dengan nelayan. Persis seperti pasar ikan di desa kami.

EOMMAAAAAAAAAAA……….APPAAAAAAAAA, na wassooooo! Uri Oppa, Lee Donghae Oppa wassoyoooooo. Nan haengbokesso, nomu-nomu haengboke…..” Yeorum berteriak kearah laut lepas.

Eommaaaaaaa…..appaaa….gokjonghajimaseyo, aku akan selalu menjaga oppa. Eomma, appa, saranghaeee.”

“Itulah yang selalu dilakukan Yeorum bila ia kemari. Dia akan berteriak sekuat-kuatnya untuk melepas kerinduan pada kalian. Tak jarang dia menangis sambil tertawa. Kesedihan dan kegalauan hatinya tentangmu akan segera sirna saat kami kembali kerumah. Dia sangat menyayangimu.” Jelas Gaeul padaku.

“Donghae Opppaaaaa saranghaeeeeee…..” Teriak Yeorum lagi.

Aku menatap punggung Yeorum. Angin laut menampar-nampar tubuhnya. Kudaki karang tinggi tempat Yeorum kini berdiri.

“Yeorum-a saranghaeeeeeeee…..” Teriakku membalasnya.

“Yeorum-a saranghaeeeeee……..” Gaeul juga ikut berteriak bersama kami.

 

☺☺☺☺☺

 

Seminggu waktu perjanjianku untuk beristirahat pada Hyukjae telah berakhir. Aku sangat bersyukur, Yeorum dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh Gaul. Dia benar-benar baik hati. Uang yang dikirimkan setiap bulan, walau tak banyak, dihemat Gaul untuk biaya sekolah Yeorum dan membeli toko kecil sebagai tempat usahanya sendiri.

Kini Yeorum telah tercatat sebagai salah satu mahasiswi di Universitas Seoul. Dia mengambil jurusan hukum, katanya dia ingin menjadi pengacara untuk membantu orang-orang yang lemah. Gaul mengisahkan kalau Yeorum sering teringat kasus pencurianku waktu itu, dan dia ingin suatu hari nanti bertindak sebagai pembela jika kejadian yang sama terulang kembali pada siapapun. Sepertinya luka itu sangat dalam baginya. Saat Yeorum ke kampusnya, aku bercerita banyak dengan Gaul di sela-sela kesibukannya tentang bagaimana mereka menjalani hidup selama aku pergi. Dia juga menanyakan lagi tentang pekerjaanku, aku hanya berkata, kalau suatu hari aku akan mengatakan semua padanya.

 

Sebelum pergi Gaul menambahkan beberapa helai pakaian ganti yang baru. Tak ada kata yang terucap setelah itu diantara kami. Tapi aku tahu, hatiku telah dimilikinya. Mereka berdua mengantarku sampai depan pintu toko. Yeorum mulai menangis lagi, namun Gaul berhasil meyakinkannya kalau aku akan kembali lagi.

Ya.. Lee Donghae…..ini waktunya untuk bekerja, fighting!!!!!” Teriakku pada diri sendiri.

 

☺☺☺☺☺

 

 

Ga-Eul POV

Belakangan ini banyak pesanan. Kuliah Yeorum juga sudah mulai sibuk, tak mungkin aku mengandalkannya untuk membantu di toko. Sebaiknya aku mencari anggota baru, pikirku sambil menempel sehelai kertas berisi pengumuman lowongan kerja. Mudah-mudahan hari ini bisa langsung dapat.

Beberapa hari kemudian, motor hijau berhenti di depan tokoku.

Tring…tring…tring…

Annyeong haseyo…” Sapa seorang pemuda padaku. “Nuna kemarin aku baca pengumuman di depan, katanya toko kue ini butuh pelayan ya?”

Ne…” Aku mengangguk. “Mau melamar?” Tanyaku balik.

Dia tersenyum sambil menyerahkan beberapa berkas-berkas padaku.

“Ayo ikut saya.” Ajakku. “Anjeuseyo… Guraeso…iremimuosimikka?” Tanyaku langsung.

“Kyuhyunimnida.”

“Kyuhyun ssi, langsung saja, mengapa kau ingin bekerja di tempatku?”

“Aku bosan dengan pekerjaan lamaku.”

“Memangnya apa yang kau lakukan sebelum ini?”

“Aku bern yanyi dari satu kafe ke kafe lainnya setiap malam, dan aku sudah jenuh menjadi seekor kelelawar.”

Guraeyo? Kalau begitu nyanyikan sebuah lagu untukku.”

“Apa dengan begitu aku bisa diterima?” Tanyanya.

“Mmmm…kalau itu bisa membuatku puas denganmu.”

“Assa…nuna, kau pasti akan menyukainya.”

niga useumyeon nado joha neon jangnanira haedo
neol gidaryeotdeon nal neol bogo sipdeon bam naegen beokchan haengbok gadeukhande
naneun honjayeodo gwaenchana neol bolsuman itdamyeon
neul neoui dwieseo neul neol baraboneun geuge naega gajin moksin geotman gata

Plok..plok..plok tepuk tanganku puas saat Kyuhyun ssi mengakhiri lagunya. Po tongan good person itu benar-benar sempurna dibawakannya.

Geureso…apa sekarang aku sudah diterima nuna?” Tanyanya.

“Dengan satu syarat.”

Mwo?”

“Kau sekali-kali harus bersedia menghibur pengunjung di toko kita. Eottohke?”

Mullonimnida nuna. Gamsahamnida.” Dia tersenyum senang.

 

Esoknya.

Eonniiiiiiii……apa eonni melihat handphoneku?” Tanya Yeorum masih dari atas tangga.

“Handphone??? Aniyo…di mana kau meletakkannya tadi?”

“Rasanya  di dekat meja kasir.” Yeorum menuruni tangga menuju ke arahku.

Gidariseyo, akan ku periksa.”

Tapi….

Ya……! Apa yang kau lakukan? Kenapa handphoneku ada padamu?” Yeorum berteriak kasar pada seseorang.

“Handphone??? Igo?? O…aku  main game.”

“Game??? Kau main game di handphoneku???”

Pria itu mengagguk.

Ya……kau tahu aku mencari-carinya sejak tadi, tapi kau malah bermain game dengan handphoneku. No nuguya???”

O…igo…igo…agassi.” Kyuhyun menyerahkan handphone Yeorum. “Mianhae…” Senyumnya.

Aku segera mendekati keduanya.

“Yeorum-a, ini Kyuhyun ssi pelayan baru kita. Eonni lupa bilang padamu semalam. Kau baru pulang setelah toko tutup dan Kyuhyun ssi juga sudah tidur. Eonni tahu kau sangat sibuk sekarang, dan kau tak mungkin selalu ada di toko setiap hari. Karena itu eonni mencari pegawai baru, kau tidak keberatankan?”

Yeorum menatapku sebentar lalu menggeleng.

Tring…Tring…Tring….. Ada tamu toko.

“ Gaul -a, annyeong, Yeorum-a annyeong….” Sapa seorang gadis seusiaku.

“Hana Eonnieannyeong.” Balas Yeorum.

“Hana-ya, wassoyoJamsimangidariseyo, aku ambil tas dulu ya.” Pintaku.

Hana, Kim Hana sahabatku. Dia bekerja di panti asuhan yang ada di sudut kota . Dulu kami sama-sama bekerja di toko kue, namun sejak Ibu Hana yang menjadi pengurus panti sakit-sakitan, Hana memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya.

Eonni, eodigayo?” Tanya Yeorum saat aku kembali dengan tas tanganku.

“Aku mau ke mal hari ini. Ada seminar kuliner di lantai tiganya. Mungkin akan pulang terlambat, karena sekalian akan berbelanja beberapa kebutuhan toko. Yeorum-a ada yang kau inginkan?”

Ani…” jawabnya sambil menggeleng.

Geuraeso, Kyuhyun-a toko kupercayakan padamu hari ini. Tolong dijaga dengan baik, dan jangan mengecewakan pelanggan kita, arasso?”

Arasseo, nuna. Gaseyo.” Balas pelayan baru kami.

Gyeseyo.” Balasku sambil melambaikan tangan.

Geu namja nuguya?” Hana bertanya padaku saat ia melihat Kyuhyun ssi.

“Pelayan baru kami. EottohkeChohahaeyo?” Tanyaku menggodanya.

“Hm…kkotminamieyo.” Hana tersenyum pada Kyuhyun ssi, sementara Kyuhyun hanya tersenyum sekilas lalu kembali meneruskan pekerjaannya.

Saat matahari mulai terbenam aku baru pulang ke toko, hari ini benar-benar melelahkan. Selain ada seminar, dan sedikit berbelanja, kali ini aku dan Hana saling berbagi cerita tentang namja yang kami suka. Hana bercerita tentang seorang pria yang menarik hatinya. Pria itu hanya datang sekali dalam sebulan dengan berpakaian rapi ke panti untuk menyerahkan sumbangan. Jumlahnya cukup banyak, dan dia adalah donatur tetap di panti yang dikelola Ibunya Hana.

Hana berharap pria itu menyukainya, hanya saja Hana tak berani mengutarakan perasaanya duluan Takut ditolak, lalu kecewa. Lagipula Hana tak tahu pria itu menyukainya atau tidak. Cinta bertepuk sebelah tangan. Seperti cintaku pada Donghae, yang aku juga tak pernah mengungkapkannya.

☺☺☺☺☺

Yeorum POV

Pelayan baru? Bagaimana pria seperti dia yang seenaknya bisa jadi pelayan di toko kami. Aneh? Apa eonni sudah terpikat padanya ya? A…batta, wajahnya yang tampan dan penuh pesona, pastilah eonni menerimanya karena itu, pasti! Mwo? Aku bilang apa? Wajah tampan? Penuh pesona? Oeeeekkk…bikin muntah saja.

 

Gaul Eonni dan Hana Eonni sudah pergi.

“Yeorum ssi.” Panggil pelayan baru itu saat aku hendak berangkat ke kampus. Aku meliriknya sekilas, lalu berlalu.

“Yeorum ssi.” Panggilnya lagi. Kudengar langkah kakinya mendekatiku. Apa lagi sih? Dasar pria suka cari perhatian, bilang saja kalau mau kenalan.  Bisikku dalam hati.

“Yeorum ssi.”

Neeeee….!!!!” Hardikku sebal. Dan kini dia sudah berdiri di sampingku sambil menutup kupingnya karena teriakankubarusan.

“Resleting rokmu belum terpasang.” Bisiknya di telingaku.

Mwo??” Ku raba bagian belakang bawahanku, benar saja belum terpasang. “Waaaaaa…eonniiiiiiii.” teriakku sambil naik lagi ke kamar. “Shiroooooo!!!!!!“

Sejak peristiwa naas terakhir aku agak sedikit menjauh darinya, habisnya aku malu bila mengingat kejadian itu. Aku hanya menjawab pendek-pendek pertanyaannya. Dan meminta eonni yang mengatakan keperluanku bila aku butuh sesuatu darinya. Seperti kali ini.

“Kyuhyun-a, bisakah kau mengantar Yeorum nanti siang ke pengadilan kota ? Tanya eonni padanya. Aku bersembunyi di dapur, mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Ahhh nuna, sepertinya tidak bisa. Bukankah kemarin kau memintaku ke pasar untuk membeli tepung, telur, dan cokelat. Persediaan kita sudah habis.” Balasnya.

Hufff…. Aku kecewa. Kalau begini aku harus ke pengadilan sendiri. Tugas dosenku kali ini ada-ada saja, aku harus mencatat berapa banyak kasus perjudian terjadi belakangan ini. Ahhhh….ajuma dan aejosi di sanakan tidak ramah. Bagaimana kalau aku nanti di marahinya? Bagaimana kalau nanti aku salah bicara? Atau salah masuk ruangan seperti terakhir kali aku kesana.Nan eottohke?

Tiba-tiba.

Ya..! Yeorum ssi!”

“Hoah…..” Aku mengelus dada. Si Kyuhyun ini tiba-tiba muncul di depanku. “Kau mengagetkanku saja.”

“Kenapa kau tidak bilang langsung kalau kau ingin aku mengantarmu nha? Kenapa harus Gaul Nuna yang menanyakannya? Merepotkan saja. Apa aku begitu menakutkan hingga kau tak berani bicara padaku?”

Ye…kau menakutkanku Kyuhyun ssi, seperti sekarang.” Jawabku cemas sambil bergerak mundur beberapa langkah darinya.

Mwo?” Kali ini dia yang menjauhiku, alisnya bertaut, dia tampak bingung.

“Kyuhyun ssi, aku malu kalau berbicara denganmu.”

Wae?”

Aku terdiam.Ku rasa wajahku memerah.

Arasso…arasso….karena kejadian waktu itukan?”

Tang!! Kupukul kepalaku pelan.Yah dia mengingatnya lagi.

“Ayo cepat, aku akan mengantarmu.”

Mwo?…Bukannya tadi kudengar kau menolak karena….”

“Ah sudahlah, kalau aku tak mengantarmu, Gaul Nuna bisa memotong gajiku. Kalau begitu impianku untuk beli game baru akan lama terwujudnya. Palli…palli…” Dia menarik tanganku keluar. Kami menuju motornya yang parkir di depan toko.

“Cepat naik!” Perintahnya setelah menyerahkan sebuah helm padaku.

Aku naik tergesa.

“Pegangan yang erat,” Katanya lagi.

Aku memegangi bajunya.

“Bukan begitu! Begini!” Dia menarik kedua tanganku melingkari pinggangnya. Ah…memalukan.

“Siap? Ayo berangkat! O…jamsi” Katanya. “Yeorum ssi aku, ini terlahir lebih dulu dari pada kamu. Tidak bisakah kau memanggilku oppa? “ Tanyanya.

Oppa?? Oakkkk…perutku mual mendengar apa yang baru dikatakannya.

Ya, kau tidak menjawab? Aku tidak mau mengantarmu.” Ancamnya.

Ye…ye…ye…arasso…op-pa.” Jawabku pelan dan penuh kejengkelan. Aku bisa melihat sedikit tawanya dari balik helm melaui kaca spion motornya. Dasar licik!!!

Dia mulai memainkan gas motornya dan tak…versneling motor itu ditekan, lalu tanpa aba-aba dia melaju meninggalkan toko.

“Eonnie annyong gyeseeeeeyooooooooo….” Teriakku. Kulihat eonniku tersayang hanya melambai dengan senyuman dari depan toko. Kyuhyun-a dasar kau ini.

——————-

Beberapa waktu kemudian.

Eonni…hari ini aku pulang agak terlambat. Eonni makan saja duluan, tak usah menungguku. Aku akan ke perpusatakaan.” Jelasku via ponsel.

Geuraeyo…arasso, jangan terlalu malam pulangnya,  josimae Yeorum-a.” Sahut eonniku dari seberang.

Click, telfon terputus.

Belakangan ini setelah mencari semua data-data di pengadilan aku akan segera ke perpustakaan kota demi menyelesaikan tugas yang diberikan dosenku. Benar-benar melelahkan. Tiga jam di perpustakaan tak terasa langit sudah gelap. Aku harus bergegas mengejar subway terakhir menuju rumahku, kalau tidak terpaksa pulang dengan taksi yang ongkosnya selangit untuk kantong mahasiswi sepertiku..

Aku berjalan secepat mungkin menuju perhentian bis. Sudah sepi, hanya beberapa pekerja lembur yang baru keluar kantor berseliweran. Mudah-mudahan aku belum ketinggalan bisnya. Doa hati kecilku.

Ya…agassi, mengapa kau begitu tegesa-gesa?” Tegur seseorang.

Tanpa kusadari dari arah depan tiga orang pria yang sepertinya tengah mabuk mendekatiku. Mereka mengepungku.

Agasasi, ayo bermain dulu dengan kami sebelum pulang.” Ujar salah satu dari mereka.

Mianhae, aku sedang tergesa-gesa.” Balasku sesopan mungkin.

“Kau mau kemana agassi, biar kami antar.” Tawar pria lain padaku.

Go-ma-wo, a-ku bisa sendiri.” Suaraku bergetar karena ketakutan.

Gokjongma…kami bukan orang jahat, jangan takut…” Kata pria satunya lagi. Mereka semakin mendekatiku. Keringat dingin mulai membasahi tanganku. Aku takut sekali.

“Jangan mendekat..!!!!! Atau aku….”

“Atau apa agassi…hehehehe….” Pria pertama yang berbadan paling besar semakin mendekatiku.

Pikiran buruk terlintas cepat dalam benakku. Eottohke…na eottohke…??? Aku berjalan semakin mundur. Ingin berteriak tapi tak ada siapa-siapa. Oh Tuhan…selamatkan aku. Bisik hatiku putus asa.

Agassii…agassii…” Tangannya nyaris menjangkau tubuhku.

“Aaaaaaah…… OPPPAAAAAAAA… Dowa juseyoooo…!!!!!” Teriakku.

Tiba-tiba sebuah motor datang dengan lampu depannya yang menyilaukan mata. Pengendaranya berhenti tepat di depanku. Motornya membuat jarak antara aku dan ketiga begundal tadi terpisah setengah meter. Pengendara motor itu masih dengan helm yang menutupi wajahnya, turun.

Ya…jangan berani hanya dengan wanita. Ayo maju!” Tantangnya.

Tak perlu menunggu lama, pertarungan tiga lawan satu itupun tak terelakkan. Penyelamatku, si pengendara motor terlihat lihai dalam berkelahi. Pukulan dan tendangannnya selalu tepat sasaran. Aku hanya bisa melihat sambil berteriak-teriak ketakutan. Tak lama, sepertinya pertarungan telah usai. Penyelamatku menang. Pengendara itu berbalik lalu berjalan ke arahku. Dia membuka helmnya, dan ternyata pengendara itu adalah si pelayan baru kami, Cho Kyuhyun Oppa. Ah…leganya, untung saja dia datang tepat waktu. Tunggu dulu….ah…dari arah belakang, begundal yang berbadan paling besar itu berdiri lalu berjalan cepat menuju Kyu Oppadan…trassssshhhh….belati kecil tertancap di pinggang Kyuhyun Oppa.  Darah segar mengalir membasahi kaos putih yang dipakainya. Kyuhyun Oppa rubuh seketika.

Opppaaaaa…!” Jeritku histeris.  Para begundal itu melihatku menjerit langsung lari meninggalkan lokasi.

Oppaaa……” Panggilku lagi. Aku panik, segera berlari menghampirinya.

Kyu Oppa…gwaenchana?” Tanyaku.

Dia hanya tersenyum mengangguk. Kupeluk erat tubuhnya. Kuambil ponselku langsung kuhubungi polisi dan ambulance. Tak lama kami sampai di rumah sakit. Para ganhosanim mendorong  Kyu Oppa dengan ranjang beroda menuju IGD. Aku langsung menghubungi Gaul Eonni mengabarkan kejadiannya. Eonni segera menuju ke tempatku.

Satu setengah jam lamanya Kyu Oppa di dalam ruang operasi. Tusukan belati itu merobek daging pinggulnya yang nyaris mengenai ginjal. Kyu Oppa masih belum sadar dari bius jahit yang dilakukan para eusanim untuk merapatkan kembali lukanya. Aku cemas, kalau-kalau Kyu Oppa bertambah parah. Setelah dibawa ke ruang perawatan, Kyu Oppa masih belum sadarkan diri, bahkan hingga keesokan paginya. Aku dan Eonni menungguinya semalaman.

Hingga fajar menyingsing, Kyu Oppa masih belum menunjukkan kalau dia sudah baikan. Eonni memutuskan untuk pulang mengambil pakaian ganti untukku dan Kyu Oppa. Aku berdiri menatap wajah pucatnya.

Oppa, cepatlah sadar, aku cemas sekali.”

Kyu Oppa masih tak bergeming.

Chebal oppa, sadarlah, kalau kau begini terus kau membuatku semakin takut.”

Masih tak ada reaksi.

Oppa…” Air mataku mulai menetes. “Jangan diam seperti mayat begini. Jawab aku oppa! Aku tak ingin kehilanganmu, aku tak akan membiarkan kau pergi, aku tak ingin kau meninggalkanku. Apa yang harus kukatakan pada keluargamu kalau mereka datang? Aku akan dituduh sebagai penyebab kematianmu. Polisi akan meyelidiki kasus ini, sementara keluargamu akan menuntutku, dan hidupku akan berakhir di dalam penjara.Oppaaaaaa palli wa, irona.

Oppa, kalau kau sembuh aku berjanji akan membuatkan sarapan untukmu setiap hari. Aku akan membangunkanmu setiap pagi, aku juga akan membelikan PS3 yang kau inginkan, oppaChebal oppa, sadarlah…”

Jongmal???” Sebuah suara yang sangat kukenal mengagetkanku.

Ong…oppa, kau sudah sadar? Oppa, gomawo….” Tanpa sadar aku memeluknya.

Ne…aku sudah sadar dari tadi, kau saja yang tidak tahu.  Saat aku melihat dunia kau malah berurai air mata. Dasar cengeng, seperti bayi saja. Sudah…sudah, lepaskan pelukanmu, kau membuatku tak bisa bernafas.” Ujarnya jengah.

Aku tersadar kalau aku tengah memeluknya.

Mwo??? Sudah sadar dari tadi?” Aku menghapus air mataku cepat.

Dia mengagguk, sambil berusaha bangun untuk duduk, lalu menyandarkan punggung di kepala tempat tidur.

“Berarti kau mendengar semua ucapanku?”

“Hm… Kau akan membangunkanku, membuatkanku sarapan pagi dan membelikan PS3.”

“Ah…..memalukan.” Ujarku sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ini yang kedua.

Geurae, karena kau sudah berucap janji, kalau begitu harus segera dipenuhi. Kau sudah berhasil membangunkanku dengan tangisanmu. Sekarang aku mau sarapan, bawakan sandwich tanpa sayuran dan segelas jus jeruk panas, arasso!”

Mwo?” Dasar evil, seruku dalam hati.

Waeyo? Tidak mau melakukannya?”

Ani…” Aku menggeleng.

“Kalau begitu cepatlah pergi, naga Yeorum-a, baegophayo…..hehehehe.”

Arasso.” Balasku kesal, si pelayan ini, kalau tidak karena pertolongannya semalam yang membuatku merasa bersalah, aku tak akan mau menyiapkan sarapan untuknya. Aku melangkah pergi.

“Ah….kenapa aku berucap janji seperti tadi? Dasar babo!” Aku bicara sendiri sambil melangkah di lorong-lorong rumah sakit.

Beberapa hari kemudian Kyu Oppa sudah kembali lagi ke rumah. Lukanya sudah kering dan dia sudah bekerja seperti sedia kala. Kini, demi keamananku, Kyu Oppa selalu mengantar dan menjemputku pergi dan pulang kuliah. Semakin mengenalnya aku semakin merasa kalau dia pria yang istimewa, istimewa di hatiku.

Meskipun begitu, keegoisannya dalam memperlakukanku tetap sama. Memaksaku memakai helm tertutup seperti ninja, lalu menarik paksa tanganku untuk memeluk punggungnya. Sejujurnya aku suka saat harus memeluk punggungnya. Punggung yang hangat dan lebar, terasa sangat hangat dan nyaman.  Punggung ini mengingatkanku saat Donghae Oppa menggendongku sepulang sekolah. Bila bersamanya aku selalu merasa tenang, aman dan bahagia. Kyuhyun Oppa, mungkinkah aku telah  jatuh cinta padamu?

☺☺☺

Donghae POV

Onul bam, arah jam tiga pelabuhan, samping kapal tongkang, 0200. Pesan Hyukjae untukku melalui secarik kertas yang ditinggalkannya sebelum pergi. Yah…siang hari bila tak sedang ‘bekerja’ Hyuk akan ke pasar tradisional, mengangkati peti-peti barang pedagang, sebagai kuli kasar. Ya begitulah, aku dan Hyuk menutupi jati diri kami.

Ada kalanya Hyuk berpakaian rapi sekali, dalam sebulan. Membawa amplop putih lalu menuju ke suatu tempat.  Aku pernah diajaknya. Dia pergi ke….ahhhh kalian tak akan percaya orang seperti kami bisa melakukannya. Hyuk pergi ke panti asuhan di luar kota . Hehehe…. Saat kutanyakan, inilah jawabannya.

“Ini sebagai bentuk penebusan dosaku atas ‘pekerjaan’ utama yang kulakoni. selama ini. Kau tahu aku selalu merasa dikejar bayangan hitam setiap kali selesai bertransaksi. Namun perjanjianku dengan bos kita membuatku tak mungkin meninggalkan kegelapan ini. Kau tahu, barang haram seperti itu kebanyakan hanya dinikmati oleh mereka, orang sinting yang merasa tak diperhatikan. Dan aku tak ingin anak-anak yang telah ‘terbuang’ di panti asuhan merasa kalau mereka tak diperhatikan.”

“Hmmmm…..”

“Aku tahu banyak ketidakadilan terjadi, namun tak seharusnya keburukan dunia ini membuat kita tenggelam dan kalah bersamanya. “

“Aneh sekali, kau ingin menjadi malaikat, namun kau menjalankan pekerjaan sebagai setan?” Ejekku.

“Ah….kau ini. Memangnya setan tidak bisa menjadi malaikat?”

“Memang tidak!!!!”

Ya, no weire?!!!”

Arasso, hahaha…. aku tahu. Justru karena kita bukan malaikat, juga bukan setan maka kita berada di jalan ini.”

“Apa maksudmu?”

“Jika kita adalah malaikat, maka yang kita lakukan hanyalah kebaikan-kebaikan dan kebaikan, tidakkah kau pikir itu membosankan?”

Hyuk mengangguk.

“Jika kita adalah setan, itu juga mengerikan. Setiap hari hanya berbuat kejahatan, kejahaan dan kejahatan. Rasanya seperti yang kita lakukan sekarang. Berlumpur dosa dan dikejar bayangan kegelapan.”

Sekali lagi dia mengangguk.

“Namun poin pentingnya, justru karena kita adalah manusia. Manusia sempurna yang dilengkapi hati sebagai teman bicara. Jadi kita bisa memutuskan apa yang terbaik yang akan kita lakukan.”

“Lalu kenapa kau mau menjalankan pekerjaan ini?” Tanyanya balik.

“Karena tak ada pilihan lain.” Jawabku sambil tersenyum. Dia balas tersenyum mengejekku.

“Fishy-a, menurutmu apa mungkin orang seperti kita bisa kembali ke jalan yang benar dan dapat diterima masyarakat?”

Wae? Kau ingin menjadi malaikat sekarang?” Tanyaku lagi. “Atau karena kau menyukai pengurus panti yang baru itu? Kulihat kau selalu tersenyum saat menceritakan tentangnya, dan senyummupun tak pernah redup saat menatap wajahnya. Jangan-jangan kau menyukainya, ya?” Ledekku.

Hyuk tersenyum lagi. “Mungkin.” Jawaban pendek yang keluar dari bibirnya.

“Aku mengerti kalau untuk yang satu ini.”

Hyuk menerawang.  “Kadang aku ingin berlari menjauhi kota ini. Bersembunyi di tempat yang tak seorangpun mengenalku. Lalu memulai hidup dari awal lagi.”

Dark not always blackchingu. Percayalah, suatu hari akan datang cahaya yang akan menerangi kegelapanmu. Dan tidak semua orang di luar sana berfikiran sempit seperti bayangan kita.” Aku tersenyum  sambil menepuk-nepuk punggung bahunya.

Ne, arasso. O…sudah waktunya, gaja!”

Malam itu adalah misi yang kesekian kalinya kami lakukan. Tak terasa sudah hampir empat tahun kegelapan ini kumainkan.

Rindu pulang, akhirnya aku meminta izin pada Hyuk untuk sekali lagi ‘mengunjungi makam orang tuaku’.  Oh…kepulangan kali ini aku mendapat tamu tak diundang yang memang datang sesekali mencariku. Pergerakan mereka memang rapi dan teliti hingga bisa menemukan tempat Gaul dan Yeorum segera saat aku mengunjungi keduanya. Dia berpura-pura sebagai pelanggan, dan aku datang sebagai pelayan.

“Tolong bungkus sepuluh potong short cake, dengan strawberry diatasnya. Mr. X mencarimu. Di tempat biasa.” Itu menu yang dipesannya.

Aku mengagguk.

Pulang dari mengunjungi Mr. X dengan terkejutnya aku menemukan Hyukjae di rumah.

“Donghae-ya, temanmu berkunjung” Gaul memberitahu. Aku bisa merasakan wajahku pucat pasi. Apa dia mengikutiku? Sebiasa mungkin aku berusaha mengatasi keterkejutanku.

Gomawo, Gaul -a. Hyukjae-ya, kita bicara diatas.” Tarikku.

Hyuk terkejut dengan cara penyambutanku. Tapi dia tetap mengikuti langkahku sampai ke atap.

“Bagaimana kau bisa ada di tempat ini?” Tanyaku penuh emosi sambil menarik kerah bajunya.

“Tenang teman, aku tak mengatakan apapun tentang, yah kau tahu apa yang kumaksud. Dan sekarang tolong lepaskan tanganmu, TUAN FISHY! Kau ingin membunuhku.” Balasnya.

Aku baru menyadari kalau aku hampir mencekiknya..

“Aku tahu kau ingin menyembunyikan ini dari keluargamu. Aku pulang dari panti asuhan yang tak jauh dari sini, lalu tadi aku melihatmu keluar dari toko ini dengan pakaian pelayan. Kemudian aku masuk dan memesan segelas kopi serta kue yang enak. Aku berbincang sedikit dengan wanita itu, kukatakan padanya kalau aku temanmu. Hanya itu saja.”

“Aku tahu aku telah berbohong padamu. Karena aku tak ingin keluargaku terlibat dalam urusan ini. Kau mengerti??” Aku membela diri.

Arasso, arasso…kau bisa percaya padaku untuk hal ini.”

“Huh, seberapa banyak orang di dunia kita yang bisa dipercaya?” Sindirku.

“Entahlah, mungkin sebaiknya tidak percaya pada siapapun. Tapi untuk hal yang satu ini kau bisa percayakan padaku.”

Kreeek…, kami menoleh bersamaan. Pintu penghubung atap dengan ruangan bawah terbuka.

“Donghae-ya, ajaklah temanmu makan, aku sudah menyiapkannya. Yeorum juga sudah menunggumu di bawah.” Gaul menghentikan pembicaraan kami.

Ne, kakak ipar kami akan segera turun.” Hyuk memberi jawaban. Gaul tersenyum. Saat berpaling ke arahku, Hyuk masih tersenyum mencibir sambil mengangkat bahu. Menyebalkan.

————————

“Hyukjae Oppa, benarkah kau teman oppaku?” Tanya Yeorum di meja makan.

“Tentu saja, kalau tidak bagaimana bisa aku mengenalnya? Waeyo?”

Keunyang, oppa tak pernah membawa seorang teman ke rumah sebelum ini. Kau teman oppa dari mana?” Tanya Yeorum lagi sambil terus menatap Hyuk penasaran.

“Tentu saja teman kerjanya.” Jawab Hyuk santai sambil terus menyuap makanannya.

Guraeyo? Lalu apa pekerjaan kalian?” Pertanyaan Yeorum tepat sasaran.

“Uhuk…uhuk…” Hyuk tercekat. Yeorum segera mengambilkan air.

Gwaenchana oppa?” Tanyanya pada Hyuk.

Hyuk masih terbatuk-batuk.

“Yeorum sudahlah, tanyanya nanti saja. Makan dulu. Kau telah menganiaya Hyukjae Oppa.”

Yeorum merengut dengan gaya khasnya memonyongkan bibir. “Akukan penasaran saja. Oppa tak pernah memberitahukan padaku dan eonni apa pekerjaan oppa, jadi aku ingin tahu.” Yeorum mulai ingin adu pendapat denganku.

Gwaenchana, akan oppa beritahu.” Ujar Hyuk setelah menguasai diri.

Guraeyo oppa? Jadi apa pekerjaan kalian?”

“Kemarikan telingamu…” Pinta Hyuk pada Yeorum. Yeorum dengan semangat menuruti.

Wesss….wess…wes…

Mwo?? Pedagang ikan? Oppa kau berjualan ikan? Ah…aku tak percaya.”

“Pedagang ikan?”Lirikku pada Hyuk.

“Aw…” Hyuk menyenggol kakiku. Matanya mendelik ke arahku. ”Ne…bukankah kau tak ingin oppa jadi nelayan, makanyaoppa jualan ikan.” Aku menggosok-gosok tungkai kakiku, sakit. Si Hyukjae itu malah tersenyum sambil mengunyah makanannya.

“Sudah…sudah, diteruskan makannya. Yeorum nanti saja bertanyanya. Oppa-oppakan masih ada disini. Nanti kau bisa bertanya sepuasnya, arasso?” Gaul menengahi perbincangan kami.

Hyuk ternyata sangat cepat dekat dengan dua wanita yang kusayangi. Bahkan Yeorum mengaggapnya sebagai oppakedua. Hyuk juga meminta izin padaku untuk sesekali berkunjung kemari. Di depan mereka bagaimana bisa aku menolaknya. Aku hanya tersenyum dengan sedikit mengancam agar jangan berbuat yang aneh-aneh.

Saat sedang berbincang-bincang menghabiskan buah yang dikupaskan Gaul dan Yeorum, seorang pria masuk.

“Kyuhyun ssi, ayo bergabung.” Ajak Gaul.

Ne, gomabsumnida nuna.” Balasnya ramah. Kyuhyun mengambil posisi disebelah Yeorum. Yeorumpun mengangsurkan sepotong apel yang telah dikupas Gaul padanya.

Nuguya?” Tanyaku.

“Oh, ini pelayan yang kuceritakan kemarin. Kyuhyun ssi pulang sebentar ke kampung halamannya, karena itulah aku memintamu menjadi pelayanku untuk sementara waktu menggantikannya.”

“O…dia juga tinggal di sini?” Tanyaku lagi.

Ne, di kamar belakang yang dulu dijadikan gudang itu.”

Arasso… Lain kali jangan terlalu mudah membawa orang asing ke rumah.” Nasehatku pada Gaul . Kyuhyun ssi melirikku sesaat, lalu meneruskan makannya lagi.

Annyeong haseyo…” Kini seorang wanita yang datang.

“O…Hana Eonni, palli wa.” Yeorum mengajak wanita yang baru masuk itu  bergabung dengan kami. Wanita itu dipersilahkan Kyu duduk dibangkunya, sementara Kyu mencari kursi yang lain.

Tringg…! Garpu buah yang sedang dipegang Hyuk jatuh. Dia menendang-nendang kakiku lagi.

Waeyo?” Tanyaku jengkel. Bibirnya mengarah pada wanita yang baru datang itu. Matakupun mengamati dengan cermat. Astaga ternyata wanita itu pengurus panti yang ditaksir Hyuk.

“Hana-ya, perkenalkan, ini Donghae, oppanya Yeorum, dan ini Hyukjae sahabatnya. Donghae-ya, Hyukjae-ya, kenalkan ini Kim Hana sahabatku.”

Annyeong haseyo Hana ssi.” Sapa Hyuk padanya sambil berdiri. Aku juga berdiri memberi salam. Hyuk langsung salah tingkah, mukanya merah menahan malu sekaligus senang.

“O…annyeong haseyo Donghae ssi, Hyukjae ssi. Kita bertemu lagi.”

“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Gaul pada kami.

Ne…Hyukjae ssi adalah pria yang kuceritakan waktu itu.”

“O…begitu. Kita semua punya garis jodoh yang dekat ternyata. Anjeuseoyo.” Gaul meminta kami bertiga duduk kembali.Hari ini semua tertawa bahagia.

Malam itu Hyuk menginap bersama kami. Kami berlima duduk-duduk di atap menunggu mata lelah dan ingin terpejam. Anak baru itu, Kyuhyun, kurasa aku telah salah menilainya. Dia cukup sopan. Dan aku menangkap sesuatu yang ganjil atas sikap Yeorum padanya. Apa Yeorum menyukainya? Ahh…akan kutanyakan nanti pada Gaul .

Saat itu aku melihat pria yang baru tadi siang menemuiku terlihat mondar-mandir di bawah, ku harap Hyuk tak melihatnya.

“ Gaul , Yeorum masuklah, sudah malam. Yeorum bukankah kau besok ada jadwal kuliah pagi, jangan tidur terlalu malam.” Aku berkata sambil menyampirkan jaket menutupi kaos oblongku.

Ne oppa arasso.” Jawaban Yeorum.

“Kau mau kemana?” Tanya Hyuk..

“Aku keluar sebentar.” Balasku

 

TBC

Credit: http://elfalwayslovesuperjunior.wordpress.com/

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s