Dark Not Always Black (Part 1)

Author: Queen Bee

Donghae POV

Oppaaaaa……gatchi gabsida…!!”

Mwo…..???” Teriakku saat melihat Yeorum tengah berlari mengejarku.

Gatchi gabsida……”

Palli waaa…”

Desah nafasnya tersengal setelah ia sampai sambil menahan tangan di lutut.

Oppa, waeire…? Kenapa kau meninggalkanku dan pulang duluan.” Rajuknya.

Miyanhae Yorum-a, tadi oppa lihat kapal Choi Ajeossi sudah merapat, mungkin eomma dan appa sudah pulang dan sedang menunggu kita.”

Ongguraeyo? Kalau begitu ayo cepat oppa.” Tariknya.

Gaja…” Balasku. Kamipun berjalan beriringan.

TAR!! Petir di siang hari dalam awan mendung yang sedari tadi menutupi langit mengejutkan kami. Sepertinya badai semalam belum akan berakhir.

Oppaaaa…” Yeorum menggenggam lenganku kuat.

“Kau takut?” Tanyaku.

Dia mengangguk.

“Kau tidak akan merasa takut lagi sekarang.” Ujarku sambil meraih tangannya. “Oppa akan selalu bersamamu.”

Yeorum tersenyum lalu menggenggam jari-jariku.

Tes…tes…tes…perlahan-lahan butiran hujan membasahi bumi.

Palli Yeorumbi.

Ne….”

Kami berlari dengan cepat. Perlahan-lahan semak belukar disekitar kami mulai basah. Hujan benar-benar lebat dan sepanjang jalan setapak ini tak ada tempat berteduh. Tiba-tiba…duk!

“Awwww….”

“Yeorum-a weire?”

Yeorum tersandung batu, dia meringis kesakitan.

Oppa.. apho…apho oppa…” Tangisnya.

Gokjonghajimarayo…gwaenchana. Irona.” Pintaku.

Yeorum mencoba berdiri. Tapi, “Aw…, apho oppa…”

Lututnya berdarah, dia tak mungkin kuat berjalan sampai ke rumah.

Gurae, naiklah, biar oppa menggendongmu.” Pintaku.

“Mmm…” Jawabnya sambil menyeka air mata. Sesekali isak tangis mirisnya menahan sakit terdengar di telingaku.

“Sudahlah, tak apa-apa hanya luka kecil. Nanti sampai di rumah eomma akan mengobati lukamu. Arachi?”

Ara oppa.”

Sunyi sesaat.

Oppa….” Panggil Yeorum lagi.

“Hm…”

“Kenapa eomma dan appa selalu meninggalkan kita dan pergi melaut?”

Waeyo? Kau tidak suka?”

Ong…aku hanya selalu merasa kesepian di rumah kalau tak ada eomma dan appa. Oppa juga akan pergi merajut jala sepulang sekolah. Sedangkan aku hanya sendirian memasak sambil menunggu semuanya pulang. Benar-benar sepi oppa.”

Aku berfikir sebentar.

Arayo, lain kali oppa akan merajut jala di rumah saja menemanimu.”

Guraeyo oppa?” Tanyanya girang dengan gerakan yang membuat aku hampir kehilangan keseimbangan.

Ne… Yeorum-a pegangan yang erat nanti kau bisa jatuh.”  Ingatku padanya.

Arasso oppa…” Yeorum mempererat rangkulannya ke leherku.

Oppa…”

Ne…”

“Aku tak ingin kau menjadi nelayan.”

Waeyo?”

Keunyang…apa oppa tidak merasa kalau menjadi anak nelayan seperti kita sangat kasihan. Apa oppa ingin anak-anakoppa juga kesepian seperti kita?”

“Lalu kau ingin oppa menjadi apa?” Ku hentikan langkahku untuk mengambil nafas. Yeorum berat juga, nafasku mulai tersengal, tapi kakinya pasti masih sakit. Ku pererat gendonganku.

“Aku ingin oppa menjadi polisi, atau tentara, dokter boleh juga. Pokoknya pekerjaan yang tidak membawa oppa ke laut. Atau oppa bisa jadi artis yang muncul di tivi, jadi aku bisa melihat oppa setiap hari di layar kaca, hehehehe…eottohke oppa?”

“Memangnya kau akan seumur hidup tinggal di sisi oppa?”

WaeyoOppa shireoyo?”

Ani…oppa akan senang sekali kalau kita bisa selalu bersama. Tapi kau juga nanti akan tumbuh jadi wanita dewasa, menikah dan punya anak. Kalian akan punya keluarga sendiri. Nah, saat itu kau harus mengurus dan menjaga mereka dengan baik. Apa kau akan membiarkan mereka kesepian seperti kita juga?”

Ani…aku akan menemani mereka, aku akan selalu bersama mereka.”

“Nah itu berarti kau akan berpisah dengan oppa.”

WaeyoOppakan bisa tinggal bersama kami. Aku akan menyiapkan sebuah kamar untuk oppa agar kita bisa tinggal bersama.”

“Lalu apa kau juga akan memboyong istri dan anak-anak oppa semua ke dalam rumahmu?” Tanyaku balik.

“Kalau maebunim tidak keberatan, mengapa tidak?”

“Ah maebunimmu nanti pasti akan keberatan.”

Waeyo oppa?”

Aku berhenti lagi sebentar mengambil nafas.

“Karena kami pasti akan kerepotan menambah satu lagi anak manja sepertimu.” Candaku, sambil tertawa.

“Ahh…oppa aku bukan anak manjaaaa…..”

Gurae, kalau begitu selalulah menjadi anak yang kuat, tegar, dan mandiri. Jangan selalu mengandalkan orang lain. Selagi masih ada oppa, eomma dan appa kau masih bisa berkeluh kesah, tapi kalau kami sudah tak ada kau harus lebih kuat Yeorum-a.Arasso?”

“Mm…arasso oppaGeunde…oppa…”

Ne…”

“Berjanjilah kalau kita akan selalu bersama selamanya.”

Aku terdiam. Maut, jodoh dan rezeki merupakan tiga hal yang tak pernah bisa diketahui kapan datangnya. Jika aku berjanji pada Yeorum lalu suatu hari aku tak menepati, bukankah itu akan menjadi sebuah kebohongan baginya. Apa yang harus kujawab? Haruskah aku mengiyakannya?

Oppa… Kenapa tidak menjawab?”

“Hm…..arasso.” Balasku dalam hujan yang membasahi kami berdua.

Beberapa meter menjelang sampai ke rumah, dari kejauhan kulihat banyak orang yang berkerumun.

“Donghae-ya…..!!!” Teriak Bibi Go. Sontak semua mata memandang ke arah kami. Bibi Go menangis, beberapa wanita lain juga menangis. Kuturunkan Yeorum dari punggungku perlahan.

Ahjuma, weire? Tanyaku cemas.

“Donghae-ya, Yeorum-a, eomma dan appa kalian ….. Eomma dan appa kalian….” Bibi Go bicara terputus-putus, tangisnya makin menjadi.

Weire ahjuma? Eomma, appa waeyo?” Tanyaku bingung.

Yeorum juga diam dalam kebingungannya.

“Yeorum-a, Donghae-ya, badai semalam telah menenggelamkan perahu yang eomma dan appa kalian tumpangi. Sampai tadi pagi orang–orang kampung dan beberapa nelayan desa beserta nelayan dari desa tetangga telah mencarinya. Namun sampai saat ini keduanya tak jua di temukan. Hanya perahu juragan Choi yang selamat beserta lima awaknya, yang lainnya juga tak ditemukan. Kami kira eomma dan appa kalian sudah meninggal, tenggelam bersama ombak yang menerjang perahu mereka semalam.” Bibi Go tetangga kami mengabarkan sambil memeluk Yeorum dalam tangisannya.

Mwo??? Anieyo… ahjuma, ahjuma no nungdamieyo?” Tanyaku meyakinkan diri. Tapi hanya gelengan kepala darinya dan orang-orang disekitar yang kudapatkan. Kakiku mundur beberapa langkah, kepalaku tertunduk lemas, lututku bergetar, aku tersungkur dalam hujan.

ANDWAEEEEEEEEEEEE………EOMMA, APPA…ANDWAEEEEE.” Teriakku.

☺☺☺☺☺

Namaku Lee Donghae. Adikku Lee Yeorum tiga tahun di bawahku, kami baru saja menyelesaikan sekolah menengah kami. Kami telah ditinggal pergi kedua orang tua kami yang bekerja sebagai nelayan beberapa waktu lalu. Seperti yang diberitakan, perahu eomma dan appa tergulung ombak ketika badai menerjang saat itu. Tak ada upacara kematian, tak ada pemakaman, ataupun abu yang bisa disebarkan. Jasad keduanya tak di temukan bersama beberapa nelayan lain yang melaut pada saat yang bersamaan. Ini adalah hal yang biasa terjadi di desa nelayan. Saat kalian turun ke laut, nyawa akan menjadi tak ada harganya, semua orang di desa ini paham sekali akan hal itu. Aku dan Yeorum hanya berusaha tegar untuk melewati hidup kami berikutnya.

Oppa, kita mau kemana?” Tanya Yeorum saat aku mengajaknya berkemas-kemas.

“Ke kota.” Jawabku pelan.

“Ke tempat siapa?” Tanyanya lagi.

Kuhentikan aktifitasku, aku menatapnya dalam. Matanya kecil seperti eomma dengan tulang pipi yang sedikit tinggi sepertiappa. Hidung kami sama, dengan senyum yang kata orang seperti senyum eomma. Memang gen eomma lebih banyak melekat pada kami di banding appa. Sungguh tak tega mengatakan, bahwa kami tak punya tujuan setelah sampai di kota. Aku memeluknya perlahan. Bau tubuh Yeorum seperti eomma, bahkan aku akan memeluknya lebih erat dalam tidur jika aku merindukan eomma danappa.

“Yeorum-a, oppa belum tahu kita akan ke tempat siapa. Karena seperti yang kau tahu kita tak punya saudara di sana. Tapioppa berjanji akan selalu menjagamu. Oppa percaya kita bisa mempunyai kehidupan yang lebih baik di sana.”

“Tapi aku takut oppa?”

Waeyo?”

“Aku takut jika kita sampai di kota, aku akan kehilanganmu oppa, seperti Bibi Go yang kehilangan putranya.”  Kecemasan tergambar jelas di wajahnya. “Oppa, jika kau tak ada, aku sudah tak punya siapa-siapa lagi. Lalu aku harus bagaimana?”

“Yeorum-a tenanglah, kau tak akan pernah kehilangan oppa, kita akan selalu bersama. Kau akan selalu oppa bawa kemana saja, gokjonghajimaseyo.” Pintaku sambil mendekapnya pelan.

Anak Bibi Go tetangga kami, tiga tahun yang lalu juga memutuskan merantau ke kota. Namun setelah beberapa bulan di sana dia dikerjai sekumpulan berandalan dan akhirnya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Ini menjadi berita yang menggemparkan desa. Awalnya para tetangga juga melarangku. Beberapa keluarga yang selama ini berhubungan baik dengan kami bersedia menampung Yeorum selama aku ke kota. Tapi untuk berapa lama? Sedangkan Yeorum tak ingin berpisah denganku, akupun tak tega membiarkan dia seorang diri. Ini semua pastilah berat untuknya. Aku telah bertekad tak ingin bergantung pada orang lain. Lagi pula aku berharap Yeorum bisa meneruskan sekolahnya, dan pendidikan di kota jelas jauh lebih baik dari di desa. Pertanyaanya, dengan apa Yeorum akan ku sekolahkan? Sedangkan uang untuk berangkat sekarang saja adalah hasil penjualan ikan eomma dan appa terakhir kali, yang jumlahnya juga tak banyak.

Aku melepas pelukanku sedikit, lalu menatapnya lagi. “Yeorum-a, oppa berjanji apapun yang terjadi kita akan selalu bersama selamanya.”

Yaksok?”

Aku mengagguk.

☺☺☺☺☺

Ibu kota yang menggiurkan, membuat lelaki tanggung sepertiku tergoda untuk mengadu nasib di bawah rengkuhanya. Menjauhi kapal api yang membawa kami meninggalkan desa,  dengan punggung menyandang ransel berisi beberapa helai pakaian, kami saling bergandengan tangan.

Yeorum tertidur dengan kepala menyandar di bahuku saat kami telah berada di dalam bis yang menuju pusat kota. Kelehan tersirat dalam lena tidurnya.

“Yeorum-a, irona…sudah sampai.” Aku membangunkannya ketika bis yang kami tumpangi berhenti di terminal terakhir.

“Oaaaahhhh…. Eodie oppa?” Tanyanya.

“Entahlah,  kita turun saja dulu.”

Ini sudah malam. Saat kami meninggalkan bis itu, lampu-lampu yang terang benderang dengan beraneka warna telah menghiasi Seoul. Lama kami berjalan tak tentu arah.

Eodigayo oppaHimdero oppa.” Yeorum mulai mengeluh.

Mianhae, oppa juga tak tahu kita akan kemana, tapi tenang saja Tuhan bersama eomma dan appa pasti akan melindungi kita.”

Yeorum menggosok-gosok matanya.

“Yeorum-a, ayo naik.” Kataku sambil berjongkok, setelah menurunkan ransel dari punggungku.

“Mmm…???”

“Ayolah, oppa tahu kau masih mengantuk. Biar oppa menggendongmu agar kau bisa tidur.” Pintaku dengan senyum yang tak mungkin dilihatnya.

Ne….” Yeorum merangkulkan lengannya  ke leherku.

Akhirnya setelah lelah berjalan dengan Yeorum yang terlelap di punggungku, aku berhenti di sebuah emperan toko. Kuletakkan dia hati-hati, lalu kualaskan tas yang tadi disandangnya sebagai bantal. Tak jauh, aku melihat seorang ahjuma yang menjual kue. Aku berjalan menuju wanita itu dan segera kembali.

“Yeorum-a, irona. Kau belum mengisi perutmu dengan apapun sejak kita pergi, makanlah ini. Oppa sudah membelikan kue ikan untuk kita.”

Yeorum mengucek-ucek matanya. Lalu mengambil sepotong kue ikan dari tanganku.

☺☺☺☺☺

Sudah berhari-hari berjalan mengitari Seoul yang katanya memiliki banyak lowongan pekerjaan ternyata hanya tipuan belaka. Dan, sudah dua hari ini aku dan Yeorum belum makan apapun juga. Kami hanya tidur di jalanan, saat toko-toko yang tidak buka 24 jam tutup, lalu paginya akan di usir si pemilik karena dianggap mengganggu aktifitas mereka. Malangnya, uang yang kami miliki sudah di copet saat hari ketiga kami sampai di ibu kota. Menjadi pengemis??? Tidak!! Aku tak serendah itu, aku masih kuat dan ingin bekerja menghidupi adikku. Tapi pekerjaan apa yang bisa kulakukan.

Oppaaa…baegophayo…” Yeorum memelas dengan air mata padaku. Kuraba keningnya, sepertinya dia demam. Debu jalanan, mengotori wajahnya yang ayu. Sisa air mata semalam meninggalkan bekas seperti anak sungai yang kering di pipinya. Semalaman dia menangis merindukan eomma dan appa. Kini akulah eomma dan appanya, aku tak akan membiarkan dia menderita. Kupeluk tubuh yang sudah jauh lebih kurus semenjak kami meninggalkan desa. Tapi aku tak tahu harus berbuat apa.

Tak jauh dari tempat kami menggelandang, kulihat sesosok ahjuma bertubuh tambun baru saja turun dari mobil mewah yang tak kuketahui mereknya. High heelsnya berdetak-detak, bulu topi di atas kepala berayun-ayun mengikuti langkah kakinya. Dia menuju toko kue yang tampak dari arah sini.

“Pelayan, bungkus ini, ini dan ini.” Katanya yang terdengar sangat jelas di telingaku. Mungkin deretan kue lezat yang menggiurkan hingga membuat air liur Yeorum menetes sedang di borongnya. Dia mengeluarkan dompet. Kupikir dia akan membayar dengan uang tunai, namun ahjoma itu hanya menarik sepotong kartu, lalu memberikannya pada pelayan itu.  Tapi aku jelas melihat lipatan-lipatan uang kertas  mengisi dompet mahalnya yang masih terbuka.

Sekelebat bayangan muncul dalam pikiranku.

“Donghae-ya, sesulit apapun hidup yang kau alami nantinya, jangan pernah melakukan perbuatan tercela. Kita boleh miskin harta, namun haruslah kaya jiwa.” Nasehat appa terakhir kali sebelum badai itu.

Oppa, bae gophayo….” Yeorum menatap mataku sayu.

Hatiku teriris-iris melihatnya. Kutarik nafasku dalam-dalam.

“Yeorum-a, gidariseyo, jangan kemana-mana, oppa akan segera kembali. Arachi?”

“Mmm….” Sahutnya dengan tatapan sayu.

Entah setan dari mana yang berbisik padaku. Tanpa pertimbangan aku menuju ke arah ahjoma itu, dan dengan cepat menyambar dompet, lalu berlari sekuat tenaga menjauhinya. Ya Tuhan, aku baru saja mencuri, bisik hatiku.

“Copet….copet…!!” Kudengar teriakan ahjoma itu, namun aku berusaha untuk tak perduli. Tapi aku salah perhitungan. Secepat semut yang mengerubungi gula, secepat itu pula orang-orang mengepung dan menyeretku ke kantor polisi.

Buk….buk…buk… Entah sudah berapa pukulan yang kuterima. Ini adalah pertama kalinya perbuatan hina ini kulakukan, dan aku langsung tertangkap. Para petugas itu menuduhku komplotan pencopet jalanan dan ingin membuatku mengaku dengan terus memukuliku. Tapi apa yang bisa kukatakan, aku tak tahu menahu tentang orang-orang yang mereka bicarakan.

Dalam dinginnya sel penjara, eomma datang padaku.

“Donghae-ya anakku sayang, bagaimana keadaanmu? Apa kalian berdua baik-baik saja?” Tanyanya. ”Eomma dan appasangat merindukan kalian.”

Eomma, aku dan Yeorum sangat merindukanmu, saaangaaat merindukamu.”

“Donghae-ya, eomma dan appa sangat sedih dan kecewa atas apa yang terjadi pada kalian. Eomma merasa malu untuk menemui Tuhan karena telah meninggalkan kalian dalam keadaan yang tak menyenangkan. Begitu singkat waktu kita untuk bersama namun hanya jalan keluar yang buruk yang bisa kau lakukan untuk bertahan  hidup bersama adikmu. Eomma benar-benar merasa bersalah telah meninggalkan kalian seperti sekarang.”

Eomma, mian…mianhae eomma, jongmal mianhae eomma. Aku berjanji tak akan pernah melakukan perbuatan itu lagi. Aku menyesal, sungguh-sungguh menyesal eomma.” Pintaku pada eomma.

Eommaku terus menangis sambil menggeleng.  Perlahan-lahan kabut tebal membuat jarak diantara kami. Seolah ada sebuah kereta tak terlihat yang menarik eomma pergi, beliaupun menghilang dari hadapanku.

Eomma…eomma.” Aku berusaha menggapainya namun sia-sia.

Akupun tersentak dari tidurku.

Eommaappa aku berjanji kalau aku tak akan pernah mengecewakan kalian berdua lagi. Bisik hatiku lirih.

Tiga hari dalam tahanan, dan entah siapa yang menjadi penjaminku, akhirnya aku keluar dari sel polisi itu.  Setelah membuat laporan, aku melangkah menghirup udara bebas kembali. Di ujung gang tiba-tiba seseorang menutup mataku, menyumpal mulutku, mengikat kaki dan tanganku. Aku mencoba untuk melawan, tapi percuma saja. Kudengar deru suara mobil, aku bisa merasakan kalau aku mulai bergerak meninggalkan tempat semula dan aku dibawa entah kemana.

“Buang dia!” Terdengar perintah seseorang. Tubuhkupun terguling. Aku tak tahu ini dimana, dan mengapa aku di bawa kemari. Tak perlu menunggu lama, hingga kurasa ada orang yang membopongku menjauhi tempat aku ditinggalkan tadi.

Saat mataku bisa bekerja dengan leluasa, aku telah berada di depan sebuah gedung tua yang terkungkung oleh deretan bukit disekitarnya. Tempat yang bersih dengan udara yang segar. Mereka yang tadi menemukanku, mendorongku tanpa suara untuk masuk ke dalam. Lorong-lorong tinggi dengan cahaya seadanya menjadi pemandangan saat aku dipaksa menuju ke sebuah ruangan gelap. Didudukkan di kursi besi yang dingin dengan borgol yang masih melingkar di pergelangan tangan, seolah-olah aku penjahat kelas kakap.

Kemudian seorang pria bertubuh kekar, berpakaian rapi dengan langkah tegap berjalan ke arahku dan duduk tepat di hadapanku. Raut wajahnya tidak menunjukkan kalau dia orang yang ramah.

“Nama?”

“Lee Donghae.”

“Umur?”

“Delapan belas.”

“Asal?”

“Mokpo.”

“Pekerjaan?”

Aku menggeleng.

“Pendidikan?”

“Aku baru menyelesaikan Senior High Schoolku.”

“Kau punya ijazah?”

Aku mengangguk.

Dia membuka rantai borgolku. Pria kekar tadi, sebutlah Mr. X bernegosiasi denganku. Cukup lama kami berdiskusi, iming-iming yang dijanjikannya sangat menarik.

Eottohke??” Tanyanya.

Aku terdiam.

“Bisakah kalian menjamin keamanan adikku?”

“Kami menyanggupinya.” Balas Mr. X.

Tergiur dengan tawarannya, aku mengagguk dan menyanggupi pekerjaan yang ditawarkan walau itu berbahaya.

“Jadi, kapan kau akan bergabung?” Tanyanya.

Resiko pekerjaan ini sangat tinggi. Aku hanya memiliki Yeorum seorang, dan aku tak ingin sesuatu terjadi padanya.

“Berikan aku waktu untuk mencari dan menempatkan adikku dengan aman.” Pintaku.

“Ok! Orangku, (dia menunjuk seseorang yang entah sejak kapan ada di belakangku) akan memberitahumu pertemuan berikutnya.”

Aku mengangguk, lalu dia menyuruhku keluar.

Sampai di depan bangunan tua itu, perlakuan yang sama kuterima kembali. Diangkut dengan deru mobil dan ditinggalkan di tempat aku diciduk awalnya. Untunglah itu tak jauh dari kantor polisi jadi aku masih bisa mengira-ngira posisiku. Aku melangkah melewati bangunan yang pernah menjadi penginapanku selama beberapa hari kemarin. Tapi, siapa itu? Ah Yeorum, kulihat dia duduk di depan pos penjagaan bersama seorang gadis.

Oppaaaa……” Teriaknya begitu dia melihatku. Kami berpelukan.

Oppa, mereka bilang kau telah pergi sedari tadi. Aku bingung tak tahu harus mencarimu kemana? Oppaa…aku cemas sekali kalau aku tak bisa bertemu kau lagi.” Tangisnya di pelukanku.

Yeorum, mianhae, oppa menyesal telah melakukannya.” Ucapku memohon.

Gwaenchana oppa, arasso.” Ucapnya saat dia melepaskan pelukanku.  “Oppa, ini Gaul Eonni yang menolongku kemarin.”

Aku merendahkan kepalaku sedikit sambil mengucapkan terima kasih.  Dia hanya tersenyum.

Gaja, jibe gayo.” Kata gadis itu.

Jibe???” Tanyaku bingung.

Ne oppa, Gaul Eonni bersedia menerima kita di rumahnya untuk sementara waktu.” Jelas Yeorum padaku.

Jinca?” Tanyaku tak percaya. Gadis yang dipanggil Gaul itu hanya tersenyum.

Aku tak punya pilihan, walau hati berat aku juga tak punya tujuan. Akhirnya aku melangkahkan kaki bersama mereka.

☺☺☺☺☺

“Masuklah.” Ujar Gaul setelah kami sampai di rumahnya.

Gomawo.” Balasku canggung.

Rumah Gaul adalah rumah atap di bagian atas sebuah rumah susun di area sempit yang cukup jauh dari pusat kota. Nasibnya tak jauh berbeda dengan kami. Orang tua sudah tak ada, saudara juga tak punya. Gaul bekerja sebagai pelayan toko kue di tempat pencurian yang kulakukan waktu itu. Dia melihat Yeorum menangis-nangis sambil terus memanggil namaku

“Aku hanya tinggal sendiri. Di sini ada dua kamar, aku akan sekamar dengan Yeorum, sementara kau bisa memakai kamar yang satunya lagi. Ayo kutunjukkan kamarmu.” Ajaknya.

Aku mengikuti langkahnya dengan Yeorum yang menggandeng lenganku. Gaul mengantarku memasuki sebuah ruangan kecil berukuran tiga kali empat.

“Kau pasti lelah, istirahatlah. Jangan sungkan-sungkan, anggap saja rumah sendiri. Kami akan membangunkanmu setelah menyiapkan makan malam.” Dia tersenyum. Sejujurnya senyuman itu telah menggetarkan hatiku.

Ne oppa, kamar mandinya ada disana, kalau oppa mau bersih-bersih dulu. Aku akan membantu eonni memasak.” Yeorum tertawa kecil lalu mengikuti Gaul menuju dapur. Gaul gadis yang baik hati, walau tak saling kenal, di tambah kasus yang kulakukan kemarin dia masih saja tetap bisa menerima kami.

☺☺☺☺☺

“Gaul-a, nomu-nomu gamsahamnida atas pertolongannya. Aku tak tahu harus bagaimana  membalas budimu.” Ujarku memulai pembicaraan kami di teras depan malam harinya.

Gwaenchana, aku senang kalian ada disini.”

“Soal kejadian kemarin, aku….” Aku bingung harus menjelaskannya.

Gwaenchana, aku tak mempersoalkannya, dan kau tak perlu mengungkitnya lagi. Aku percaya kau bukan orang seperti itu, lagi pula tidak semua yang gelap itu hitam.

Aku tertegun mendengar penuturannya. Yah, tidak semua yang gelap itu hitam, Gaul benar.

“Aku akan segera mencari pekerjaan, agar kami tak merepotkanmu, kemudian kami bisa pergi dari sini.”

“Kalian akan pergi?” Tanyanya.

“Kami tak mungkin selamanya menjadi bebanmu.” Balasku.

Gaul terdiam,wajahnya berubah murung.

“Donghae-ya, aku sadar kita bukan keluarga, dan aku juga tahu akan bagaimana pandangan tetangga tentang kita. Tapi….tidak bisakah kau dan adikmu tinggal bersamaku. Aku tak punya siapa-siapa lagi. Ketika Yeorum kubawa ke rumah ini, aku telah menjadikannya bagian dari hidupku, tentu saja kau sebagai oppanya juga kuterima dengan hati terbuka. Tapi jika kau berkata ingin pergi, aku merasa akan ada bagian yang hilang dari hidupku. Kuharap kau bisa mengerti.”

Aku tak membalas ucapannya. Dia segera meninggalkanku menuju kamar di tempat Yeorum kini terlelap. Setelah kejadian itu hubungan kami agak sedikit kaku.

Beberapa hari kemudian, seperti yang telah disepakati, aku melihat pria yang waktu itu dijanjikan akan menjemputku. Kuhampiri namun tidak langsung menyapanya. Kami berpapasan lalu dia setengah berbisik di sampingku. “Datanglah dua hari lagi saat tengah malam.”

Aku mengangguk, setelah dia menyelipkan sehelai kertas petunjuk lalu pergi kearah yang berlawanan denganku.

Aku kembali ke rumah. Ini sudah sore, Gaul sudah berganti shift melayani toko majikannya, dan kini ia bersama Yeorum sedang menyiapkan makan malam.

“Gaul-a.” Panggilku. “Aku ingin  bicara denganmu sebentar.”

Ne..” Jawab Gaul sambil membersihkan tangan pada celemek yang tersampir di bahunya. Adikku masih sibuk memotong-motong wortel. Aku mengajak Gaul menjauhi Yeorum.

“Gaul-a, aku tahu kau kecewa dengan ucapanku waktu itu. Tapi sungguh aku tak ingin merepotkanmu. Kami pendatang baru dalam hidupmu, dan aku tak berharap kalau kami akan menjadi beban bagimu.”

“Aku tak pernah mengaggap kalian sebagai beban.” Bantahnya.

Kutatap matanya, kami saling terdiam.

“Baiklah, kalau kau memang tak keberatan, aku dan Yeorum akan tetap bertahan di sini.”

Guraeyo?” Tanyanya tak percaya.

Aku mengagguk.

Gomawo Donghae-ya.” Kebahagiaan kini tergambar lagi di wajahnya.

“Aku yang harusnya berterima kasih.”

Chonmaneyo.” Sahutnya cepat.

“Satu lagi, aku sudah mendapatkan pekerjaan, dan selama beberapa waktu ini mungkin tidak bisa pulang. Setiap bulannya aku berjanji akan mengirimkan uang pada kalian, dan kuharap kau bisa menjaga Yeorum selama aku tak ada.”

Dia mengerinyitkan alis saat aku menyebut kata ‘uang’.

“Kenapa harus mengirim uang? Aku tak suka. Bagiku kalian adalah keluargaku. Kau tak perlu mengkhawatirkan Yeorum lagi. Aku akan berusaha semampuku.”

“Kalau kau menganggapku keluarga, maka kau harus mengijinkan aku membantu biaya hidup kita. Bukankah memang sepantasnya setiap anggota keluarga saling membantu?” Balasku.

Dia berfikir sebentar. “Baiklah, aku mengerti, aku akan sangat menghargai dukunganmu. Gomawo karena bersedia tinggal bersamaku.”

“Aku akan berangkat tengah malam secara diam-diam dua hari lagi. Aku tak ingin Yeorum mengetahuinya, karena mungkin saja adikku itu tak akan mengizinkanku meninggalkannya.”

“Memangnya apa pekerjanmu?”

“Sekarang ini aku belum bisa menjelaskannya, namun suatu hari aku pasti akan memberitahumu. Aku hanya ingin kau percaya padaku.” Aku mencoba untuk meyakinkannya.

“Baiklah, kau bisa mengandalkanku.”

“Maaf jika aku merepotkanmu.” Sesalku.

Ani, kau bisa percayakan Yeorum padaku.” Ujarnya.

Dua hari setelah itu aku berangkat seperti yang direncanakan. Dalam kegelapan malam saat menuruni tangga, dari lampu kamar mereka aku bisa melihat sosok Gaul mengantar kepergianku. Gomawo Gaul-a, bisik hatiku.

☺☺☺☺☺

Tiga tahun kemudian.

Ya…jebloskan dia ke dalam penjara!!!” Pria berseragam yang tadi menangkapku memerintahkan anak buahnya untuk membawaku ke ruangan dingin berjeruji besi. Persis seperti tiga tahun yang lalu. Pukulan, cacian, makian menemani hari-hariku selama interogasi. Tuduhan yang dilontarkan padaku kali ini adalah gembong pengedar narkotika. Hahahaha….cocok sekali mungkin. Rambut panjang berantakan, dengan jambang yang tak terurus, selain itu tubuh kurusku terkesan seperti seorang pemakai. Kurasa tuduhan itu masuk akal. Orang yang melihat pertama kali pasti juga akan langsung mencuirigaiku sebagai penjahat.

Mereka menangkapku di pasar kumuh saat aku sedang buang air kecil di sudut kios yang gelap. Mungkin memang ada yang baru bertransaksi, karena aku memang berpapasan dengan dua orang yang sekilas dapat kulihat wajahnya. Tapi…hei bukankah itu dia? Pria yang tadi?

Ya…kau gembel yang tadi di belakang kami ya?” Tanyanya.

Aku mengagguk. “ Huh…gara-gara kalian aku jadi tertangkap.” Balasku.

Pria itu berkulit putih, dengan baju tanpa lengan yang jelas kebesaran serta jins belel yang robek di bagian paha dan lutut. Tulang pipa terlihat di lehernya. Mengingat tubuh cekingnya yang amat sangat kurus. Jika ia adalah pengedar, mungkin dia juga pemakai, pikirku. Wajahnya tak jauh berbeda denganku, lebam dengan bengkak biru serta darah merah yang masih segar di bibirnya. Baru dipukuli juga.

“Hyukjae.” Ucapnya sambil mengangsurkan tangan dengan percaya diri.

“Fishy…” Balasku.

“Tenang saja, kita akan segera keluar.” Ujarnya.

“Kita?”

“Hm…aggap saja kita berteman sekarang.”

Aku hanya mengangguk tak percaya sambil menggaruk kepalaku yang gatal. Mungkin makhluk kecil yang disebut kutu juga sudah bersarang di sana.

Hyukjae benar, esoknya polisi yang berjaga hari itu meminta kami keluar tahanan.

“Apa ku bilang, mereka tak akan bisa menyentuh hyong.” Kata Hyuk yang kini melangkah dengan ringan. “No, odigayo?” Tanyanya padaku saat kami sudah di luar gerbang.

Aku menggeleng.

“Aku mengamati kau sudah menggelandang selama ini. Kupikir kau lumayan. Ikutlah denganku, hyong pasti tak keberatan menambah satu orang lagi.”

Aku tak menunjukkan minatku, namun aku juga tidak menolak. Hanya mengikuti arah kakinya melangkah.

☺☺☺☺☺

Beberapa bulan kemudian.

Kami berdiri berjauhan (aku dan Hyukjae) di bawah sebuah jembatan di pinggir Sungai Han. Riak air yang dihembus angin terdengar merdu di telingaku. Ini sudah dini hari, dan transaksi akan terjadi beberapa saat lagi. Dari kerlap-kerlip lampu jembatan aku bisa melihat Hyuk memainkan batangan korek api di mulutnya. Tubuhnya bersandar malas. Dia hanya memakai kaos tanpa lengan yang kebesaran (favoritnya). Yah ini sudah musim panas. Yeorum, apa yang sedang kau lakukan. Oppa sangat merindukanmu, bisik hatiku. Lalu anganku melayang.

==========================================================

Kenangan Donghae sepuluh tahun lalu.

“Oppa…palli wa!” Panggil Yeorum padaku

“Waeyo?” Tanyaku tergesa-gesa  keluar kamar.

“Tadaaa….” Yeorum mengangsurkan sebungkus gulungan harum manis berwarna merah jambu dari balik punggungnya padaku.

“Darimana kau mendapatkannya?” Tanyaku penasaran.

“Aku membelinya di pasar bersama appa tadi siang.”

“Mmm…, makanlah.” Ujarku.

“Ani…aku mau memakannya bersama oppa. Ja oppa kita duduk di teras sambil memandang laut dan langit musim panas, lalu mendoakan eomma dan appa supaya bisa pulang  dengan selamat dengan membawa tangkapan ikan yang baaanyak.” Cerocosnya sambil menarik paksa tanganku menuju beranda.

Aku hanya tersenyum geli melihat tingkahnya.

“Yeorum-a.”

“Ne…” Yeorum menoleh sambil terus mengemut harum manis di tangannya.

“Kalau sudah besar kau ingin jadi apa?” Tanyaku.

“Nanun?” Tanyanya balik.

Aku mengangguk, sambil mencomot harum manis  dalam plastik. Manis sekali.

“Akuuu…mau jadi orang kaya.”

“Waeyo?”

“Karena orang kaya punya banyak uang.”

“Ong…lalu uangnya akan kau apakan?”

“Aku akan belikan eomma dan appa rumah yang besar dan kapal yang besar, supaya eomma dan appa tak perlu bekerja lagi. Dan aku juga akan membelikan oppa motor yang  paling bagus, jadi oppa tak perlu meminjam sepeda Choi Ajeossi lagi untuk pergi menjahit jala ke desa sebelah. Kita sekeluarga bisa selalu berkumpul bersama. Eottohke oppa?”

“Guraeyo?”

“Hmm… Oahh…..” Yeorum mulai mengantuk, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Kau sudah mengantuk? Ayo kita masuk.”

“Ani, aku mau disini dulu bersama oppa.” Pintanya.

“Arasso.”

Bintang-bintang berkelap-kelip dengan indahnya, bulan purnama juga bersinar dengan terangnya. Eomma, appa semoga tangkapan kalian kali ini lebih banyak dari biasanya, doaku dalam hati.

Malam itu Yeorum tertidur nyenyak di bahuku.

==========================================================

“Ehem…ehem…” Hyuk memberi sinyal padaku. Seorang pria mendekatinya, lalu barang haram itu telah berpindah tangan ke pemiliknya yang baru. Kami segera meninggalkan tempat itu.

Esoknya.

“Hyukjae-ya, aku tidak akan bekerja dalam beberapa hari ini.”

Wae?”

“Aku ingin pulang sebentar.”

“Tapi pesanan kita sedang banyak.” Bantahnya.

“Ah…kau saja yang bekerja sendiri. Beberapa hari lagi adalah peringatan kematian orang tuaku. Aku ingin mengunjungi makam mereka.” Aku berbohong.

Arasso.” Dia mengakhiri pembicaraan kami. Lalu turun ke bawah.

Hyukjae, teman yang membawaku ke dalam dunia kelam ini. Dia mengenalkanku pada bosnya yang salah satu bandar besar narkotika di Seoul. Mereka mempercayaiku dan menerimaku sebagai bagian dari mereka. Sejak hari itu aku bergabung dengan sindikat yang masuk dalah daftar hitam target pencarian polisi saat ini.

Di luar perkiraanku, Hyukjae, walau awalnya hanya seorang kurir pengantar, namun tak pernah memakai barang haram itu untuk dirinya sendiri. Dia hanya bekerja untuk mendapatkan uang demi kebutuhan hidup. Dunia memang kejam. Hyuk juga tak punya siapa-siapa lagi. Appanya mati karena over dosis, eommanya yang juga pemakai tewas saat menyayat diri sendiri untuk mengatasi sakaunya karena tak sanggup untuk membeli barang itu.  Hyuk melihat semua itu didepan matanya. Sebenarnya Hyuk sangat benci pekerjaan ini, namun lilitan hutang yang ditinggalkan orang tuanya  membuat Hyuk nekad menjadi pengedar.

☺☺☺☺☺

 

Aku kembali ke toko kue tempat aku melakukan aksi pencopetanku yang pertama. Toko itu sudah sedikit berbeda, tapi aku tahu itu tempat yang sama. Mengulang kejadian yang dimainkan ajuma tambun, aku memesan sekotak cake besar yang berhiaskan cream dengan lingkaran stroberi yang menggiurkan. Tak lupa kutanyakan perihal Gaul. Namun ternyata Gaul sudah tak bekerja di sana lagi sejak setahun yang lalu.  Pelayan ini tak mengetahui kemana Gaul pergi, namun seorang pelayan senior memberitahuku alamat Gaul yang bisa di kunjungi. Aku bisa merasakan kedua pelayan tadi ketakutan saat menatapku.

Berbekal secarik kertas petunjuk, aku menyusuri jalanan mencari toko kue milik Gaul sendiri. Cukup lama berputar-putar di kawasan yang baru kali ini kulewati. Aku melihat papan toko bertuliskan “YEORUM CAKE”. Yeorum Cake? Mungkin ini maksudnya. Begitu kulongokkan kepala mengintip melalui etalase kaca, aku melihat seorang wanita memakai celemek berenda menyampingiku sedang menghias kue bundar penuh cream berlemak.

Kutarik bel yang  berada di depan pintu. Seorang gadis keluar dengan tergesa menuju kaca etalase tempat kue-kue dipamerkan.

Ne….ada yang bisa saya bantu ajossi?” Serunya ramah. “Yang istimewa di hari ini,  kami punya cake pelangi dengan strawberry di atasnya, puding cokelat serta…..” Gadis itu berhenti bicara saat dia menyadari kalau aku sedang memperhatikannya.

Mata itu, hidung itu, bibir itu, seperti lukisan ganda yang dulu pernah kulihat. Ini Yeorum, Yeorum nae dongsaeng. Yeorum yang kini sudah tumbuh besar dengan raut wajah yang mengingatakanku pada sosok wanita yang telah melahirkanku. Lama aku menatapnya. Bahkan air mata yang tumpah tak terasa telah menganak sungai.

Ajeossi…ajeossi…..?? Waeyo?” Panggilnya.

Bruk…. Kotak kue yang kubawa terjatuh, isinya mungkin sudah berantakan.

Dia tak mengenaliku. Tentu saja, aku juga sudah jauh berubah. Jambang lebat yang tumbuh di wajahku menyamarkan siapa aku.

TBC

Credit: http://elfalwayslovesuperjunior.wordpress.com/

Chingu ya, ff ini karya sahabatku, Queen Bee. Udh pernah publish di blog kami bersama. Jangan lupa tinggalkan kritik dan sarannya ya . Selamat membaca ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s